Public Relation and Personal Selling

Hubungan Masyarakat (Public Relation)

Pengertian public relation

Definisi public relation adalah usaha yang direncanakan secara terus-menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya. Pendapat ini menunjukkan bahwa public relation dianggap sebuah proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antara organisasi dan pihak luar organisasi (Coulsin-Thomas, 2002).

Pengertian public relation adalah: Interaksi dan menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan untuk kedua belah pihak, dan merupakan profesi yang profesional dalam bidangnya karena merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi dengan secara tepat dan dengan secara terus menerus karena public relation merupakan kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan (Maria, 2002, p.7).

Hal ini didukung oleh pendapat Alma yang mengatakan bahwa “public relation adalah kegiatan komunikasi yang dimaksudkan untuk membangun citra yang baik terhadap perusahaan” (2002, p.145). Sedangkan Marston mengatakan “public relation adalah suatu perencanaan dengan menggunakan komunikasi persuasif untuk mempengaruhi persepsi masyarakat” (1999, p.1). Scholz (1999,p.2) mengatakan bahwa “public relation adalah suatu perencanaan yang mendorong untuk mempengaruhi persepsi masyarakat melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial berdasarkan suatu komunikasi timbal balik untuk mencapai keuntungan pada kedua belah pihak”.

Tujuan Public Relation

Jefkins (2003, p.54) mendefinisikan dari sekian banyak hal yang bisa dijadikan tujuan public relation sebuah perusahaan, beberapa diantaranya yang pokok adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengubah citra umum di mata masyarakat sehubungan dengan adanya kegiatan-kegiatan baru yang dilakukan oleh perusahaan.
  2. Untuk meningkatkan bobot kualitas para calon pegawai.
  3. Untuk menyebarluaskan suatu cerita sukses yang telah dicapai oleh perusahaan kepada masyarakat dalam rangka mendapatkan pengakuan.
  4. Untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas, serta membuka pangsa pasar baru.
  5. Untuk mempersiapkan dan mengkondisikan masyarakat bursa saham atas rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru atau saham tambahan.
  6. Untuk memperbaiki hubungan antar perusahaan itu dengan masyarakatnya, sehubungan dengan telah terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan kecaman, kesangsian, atau salah paham di kalangan masyarakat terhadap niat baik perusahaan.
  7. Untuk mendidik konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan.
  8. Untuk meyakinkan masyarakat bahwa perusahaan mampu bertahan atau bangkit kembali setelah terjadinya suatu krisis.
  9. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi resiko pengambilalihan oleh pihak lain.
  10. Untuk menciptakan identitas perusahaan yang baru.
  11. Untuk menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas dan partisipasi para pimpinan perusahaan organisasi dalam kehidupan sosial sehari-hari.
  12. Untuk mendukung keterlibatan suatu perusahaan sebagai sponsor dari suatu acara.
  13. Untuk memastikan bahwa para politisi benar-benar memahami kegiatan-kegiatan atau produk perusahaan yang positif, agar perusahaan yang bersangkutan terhindar dari peraturan, undang-undang, dan kebijakan pemerintah yang merugikan.
  14. Untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan riset yang telah dilakukan perusahaan, agar masyarakat luas mengetahui betapa perusahaan itu mengutamakan kualitas dalam berbagai hal.

Fungsi Public Relation

Menurut Maria (2002, p.31), “public relation merupakan satu bagian dari satu nafas yang sama dalam organisasi tersebut, dan harus memberi identitas organisasinya dengan tepat dan benar serta mampu mengkomunikasikannya sehingga publik menaruh kepercayaan dan mempunyai pengertian yang jelas dan benar terhadap organisasi tersebut”. Hal ini sekedar memberikan gambaran tentang fungsi public relation yaitu:

  1. Kegiatan yang bertujuan memperoleh itikad baik, kepercayaan, saling adanya pengertian dan citra yang baik dari publik atau masyarakat pada umumnya.
  2. Memiliki sasaran untuk menciptakan opini publik yang bisa diterima dan menguntungkan semua pihak.
  3. Unsur penting dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik, sesuai harapan publik, tetapi merupakan kekhasan organisasi atau perusahaan. Sangat penting bagaimana organisasi memiliki warna, budaya, citra, suasana, yang kondusif dan menyenangkan, kinerja meningkat, dan produktivitas bisa dicapai secara optimal.
  4. Usaha menciptakan hubungan yang harmonis antara organisasi atau perusahaan dengan publiknya, sekaligus menciptakan opini publik sebagai efeknya, yang sangat berguna sebagai input bagi organisasi atau perusahaan yang bersangkutan.

Dapat disimpulkan bahwa public relation lebih berorientasi kepada pihak perusahaan untuk membangun citra positif perusahaan, dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya karena mendapatkan opini dan kritik dari konsumen. Tetapi jika fungsi public relation yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau perusahaan, dan suasana kerja yang kondusif, serta peka terhadap karyawan, maka diperlukan pendekatan khusus dan motivasi

dalam meningkatkan kinerjanya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa fungsi public relation adalah memelihara, mengembangtumbuhkan, mempertahankan adanya komunikasi timbal balik yang diperlukan dalam menangani, mengatasi masalah yang muncul, atau meminimalkan munculnya masalah (Black, 2002).

 

Personal Selling

Personal selling adalah komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya.

Sifat-sifat personal selling antara lain :

  • Personal confrontation, yaitu adanya hubungan yang hidup, langsung, dan interaktif antara 2 orang atau lebih.
  • Cultivation, yaitu sifat yang memungkinkan berkembangnya segala macam hubungan, mulai dari sekedar hubungan jual beli sampai dengan suatu hubungan yang lebih akrab.
  • Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan pelanggan untuk mendengar, memperhatikan, dan menanggapi.

Oleh karena sifat-sifat tersebut maka metode ini mempunyai kelebihan antara lain operasinya lebih fleksibel karena penjual dapat mengamati reaksi pelanggan dan menyesuaikan pendekatannya, usaha yang sia-sia dapat diminimalkan, pelanggan yang berminat biasanya langsung membeli, dan penjual dapat membina hubungan jangka panjang dengan pelanggannya. Namun karena menggunakan armada penjual yang relatif besar, maka metode ini biasanya mahal. Di samping itu, spesifikasi penjual yang diinginkan perusahaan mungkin sulit dicari. Meskipun demikian, personal selling tetaplah penting dan biasanya dipakai untuk mendukung metode promosi lainnya.

Aktivitas personal selling memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut :

  1. Prospecting, yaitu mencari pembeli dan menjalin hubungan dengan mereka.
  2. Targeting, yaitu mengalokasikan kelangkaan waktu penjual demi pembeli.
  3. Communicating, yaitu memberi informasi mengenai produk perusahaan kepada pelanggan.
  4. Selling, yakni mendekati, mempresentasikan dan mendemonstrasikan, mengatasi penolakan, serta menjual produk kepada pelanggan.
  5. Servicing, yakni Memberikan berbagai jasa dan pelayanan kepada pelanggan.
  6. Information gathering, yakni melakukan riset dan intelijen pasar.
  7. Allocating, yaitu menentukan pelanggan yang akan dituju.

Penjual yang ditugaskan untuk melakukan personal selling harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

  1. Salesmanship

Penjual harus memiliki pengetahuan tentang produk dan menguasai seni menjual, seperti cara mendekati pelanggan, memberikan presentasi dan demonstrasi, mengatasi penolakan pelanggan, dan mendorong pembelian.

  1. Negotiating

Penjual harus mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi tentang syarat-syarat penjualan.

  1. Relationship marketing

Penjual harus tahu cara membina dan memelihara hubungan baik dengan para pelanggan.

Berdasarkan tugas dan posisinya, penjual dapat diklasifikasikan menjadi enam macam tipe, yaitu :

  1. Deliverer (driver sales person), yaitu penjual yang tugas utamanya mengantar produk ke tempat pembeli.
  2. Order getter, yaitu penjual yang mencari pembeli atau mendatangi pembeli (sifat kerjanya di luar).
  3. Order taker, yaitu penjual yang melayani pelanggan di dalam outlet (sifat kerjanya di dalam).
  4. Missionary sales people (merchandiser, retailer), yaitu penjual yang ditugaskan untuk mendidik/melatih dan membangun goodwill dengan pelanggan atau calon pelanggan. Misalnya melatih wiraniaga perantara, menjelaskan program promosi perusahaan kepada perantara.
  5. Technical specialist (technician), yaitu penjual yang harus memiliki atau memberikan pengetahuan teknis kepada pelanggan.
  6. Demand creator, yaitu penjual yang harus memiliki kreativitas dalam menjual produk (tangible dan intangible).

Strategi marketing yang perfect tentu sudah membekali tim yang secara langsung dalam proses personal selling dengan antisipasi lapangan dan taktik membujuk yang relevan, sopan dan efektif. Namun masyarakat tetap saja boleh menolak, karena secara umum budaya, kemampuan dalam masyarakat mampu mempengaruhi keputusan

Di bawah ini ada 5 alasan utama kenapa masyarakat menolak produk atau layanan anda:

  1. Harga

Harga merupakan faktor penting dalam pengambilan keputusan penolakan sebuah produk. Memang harga bisa dikompromi, secara umum kompromi ada 2, pertama kompromi teradap harga, wujudnya diskon, namun diskon bukanlah faktor utama pelangkap harga. Kedua pola pembayaran, kredit 1. Sd 3 kali atau 1.sd 3 bulan,merupakan bentuk toleransi terhadap harga, dan secara umum kredit 3 bulan dari sisi perusahaan mungkin tidak secara langsung mengurangi harga, namun secara perputaran uang sebenernya menambah beban efektitas perputaran modal, return of investment. Selain harga juga dipengaruhi oleh 4 faktor lainnya

  1. Loyalitas pada pemasok lama

Ketika dalam proses penawaran yang bersifat personal selling, maka uji coba produk langsung merupakan langkah yang baik dalam strategi memarketing kanproduk. Karena masyarakat terkadang lebih nyaman dengan pemasok lama yang proses transaksi terbukti dalam sekian waktu. Loyalitas terhadap pemasok lama merupakan tantangan yang nyata saat ini, kecuali barang adalah benar-benara baru dan belum lama diketahui oleh masyarakat. Strategi lain dilapangan berikut kejutan, bahwa anda sebagai pemasok kedua tetap dapat memberikan layanan sebaik pemasok sebelumnya plus bonus yang ditambahkan, bonus tidak harus uang.

  1. Tak mampu membuat keputusan

Sales yang paham betul akan kaedah-kaedah personal selling sangat memahami bahwa ketika menawarkan kepada masyarakat sering terjadi penolakan sesaat karena tidak mampunya calon pelanggan untuk memutuskan, untuk itu jangan terlalu memaksa, dan ada kesan mengejar, cobalah dengan mencari tahu kemungkinan pelaung pertemuan kedua, ketiga baik dengan mengkoleksi no hp,email, alamat rumah dan sahabatnya.

  1. Faktor Produk yang kurang kompetitif

Banyak produk yang ditawarkan ke masyarakat adalah produk inovasi yang hebat, namun bukan produk yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Produk yang hebat adlah produk yang mampu bersaing saat ini dank an dating, kenapa karena tolak ukur kompetensi barang di era sekarang adalah pembuktian, visualisasi dan penjelasan teknis. Untuk itu jika produk anda masih baru atau belum popular, maka pahamilah kualifikaasi teknis dan speknya, agar dengan memahami 2 hal tersebut mampu jadi alas an untuk membujuk, selain dari fisik barang tersebut. Misal produk obat herbal, bahwa anda paham ganggang di Afrika adalah yang terbaik karena steril dan jauh dari pemukiman,sedang ganggang Indonesia kurang steril. Dari ruang kontroversi itu ketika anda menjual obat dari bahan ganggang,maka sales sudah mempunyai 2 senjata, dan kondisi akan berbeda jika hanya mengetahui bsatu hal yaitu bahwa ganggang Afrika adalah yang terbaik. Produk yang kurang kompetitif, bisa dikamuflase dengan faktor lain yang kompetitif walau itu sekedar informasi tambahan.

  1. Tidak menyukai perusahaan, sistem dan penjualnya

Ketika sebuah perusahaan menerapkan strategi marketing dengan memproduksi susu yang berbeda-beda sampai 5 produk susu, maka ketika salah satu produk bermasalah dan terbukti membuat masyarakat resah maka kemungkinan 4 produk lainnya akan memancing respon dari masyarakat, dan bisa saja respon itu negative, takut memkonsumsi 4 lainnya.

 

Penulis : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

 

Referensi :

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/PR%20and%20Personal%20selling/Hubungan%20masyarakat%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.mht

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/PR%20and%20Personal%20selling/Pengertian%20Manajemen%20Hubungan%20Masyarakat.mht

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/PR%20and%20Personal%20selling/Artikel_%20Definisi%20Humas_PR.mht

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/PR%20and%20Personal%20selling/Strategi%20Hubungan%20Masyarakat.mht

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/PR%20and%20Personal%20selling/PERSONAL%20SELLING%20_%20Forum%20Positif%20dari%20Dahlanforum.mht

 

 

 

Ujian Tengah Semester Marketing Communication

Pengertian Marketing Communication

Menurut Djaslim Saladin dan Yevis Marti Oesman (1991; 194)

Komunikasi Pemasaran adalah kombinasi dari penjualan tata muka, periklanan, promosi penjualan, publisitas dan hubungan masyarakat yang membantu pencapaian tujuan perusahaan.

Djasmin Saladin (2001; 123)

Komunikasi Pemasaran adalahaktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi dan membujuk atau mengingatkan pasan sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.

Komunikasi Pemasaran menurut Sofyan Assauri (1996:243)

“Kombinasi strategi yang paling baik dari unsurunsur pnomosi tersebut, maka untuk dapat efektifnya promosi dilakukan oleh suatu perusahaan, perlu ditentukan terlebih dahulu peralatan atau unsur promosi apa saja yang sebaiknya digunakan dan bagaimana pengkombinasian unsur-unsur tersebut agar hasilnya dapat optimal”.

William G. Nickels dalam bukunya Marketing Communication and Promotion (1984) mendefinisikan komunikasi pemasaran sebagai berikut: proses pertukaran informasi yang dilakukan secara persuasif sehingga proses pemasaran dapat berjalan secara efektif dan efisien (Purba, dkk, 2006: 126).

Menurut Paul Smith , Chris Berry dan Alan Pulford

Komunikasi Pemasaran adalah hubungan sistematis antara sebuah bisnis dan pasarnya, dimana pelaku pasar memasang beberapa ide-ide yang luas, desain-desain, pesan-pesan, media, potongan-potongan, bentuk-bentuk dan warna-warna, keduanya untuk mengkomunikasikan ide-ide dan untuk merangsang persepsi khusus tentang produk dan layanan-layanan oleh individual masyarakat yang telah dikumpulkan atau disatukan kedalam sebuah target pasar.

 

Peran penting Marketing Communication untuk sebuah Produk

Tugas  utama dari perusahaan yang berorientasi pada pasar adalah membangun dan mempertahankan relasi atau hubungan dengan pelanggannya.  Sebuah hubungan pemasaran mencakup hal penciptaan, pemeliharaan dan pemerkayaan hubungan untuk jangka panjang dengan pelanggan maupun pihak – pihak berkepentingan lainnya. Untuk keperluan itu, dibutuhkan komunikasi pemasaran. Rancangan komunikasi pemasaran seyogiannya terpadu secara tepat. Dalam artian dapat mengkoordinasikan seluruh elemen promosi yang digunakan dan seluruh kegiatan pemasaran lainnya, sehingga semua kegiatan dan elemen pemasaran yang digunakan dapat menyampaikan pesan yang sama kepada pelanggan.

American Association of Advertising Agencies mendefinisikan komunikasi pemasaran sebagai : ‘ sebuah konsep yang bertujuan memberikan nilai tambah pada sebuah perencanaan yang komprehensif  yang mampu mengevaluasi peran strategis  dari berbagai alat komunikasi, dengan maksud memberikan kejelasan konsistensi dan dampak komunikasi yang optimal”. Selaras dengan definisi di atas, komunikasi pemasaran bertujuan mengarahkan seluruh kegiatan pemasaran dan aktivitas promosi yang dilakukan agar memiliki konsistensi, kemanunggalan dalam pesan dan citra yang disampaikan kepada pelanggan. Dengan demikian apa saja yang dikatakan dan dikerjakan oleh perusahaan akan mengkomunikasikan pesan dan positioning yang sama kepada pelanggan.

  1. Konsumen dapat diberitahu atau ditunjuk bagaimana dan mengapa sebuah produk digunakan oleh orang seperti apa, dan dimana serta kapan.
  2. Konsumen dapat belajar tentang siapa yang membuat produk dan apa yang dipertahankan perusahaan dan merek.
  3. Konsumen dapat diberikan satu insentif atau imbalan untuk percobaan atau penggunaan.

Dengan menggunakan marketing communication tools yang tepat, perusahaan selaku komunikator dapat memperkenalkan serta memasarkan barang atau jasanya  kepada konsumen selaku komunikan. Oleh karena itu, perencanaan dan pemilihan marketing communication tools menjadi penting sebab tools tersebut merupakan perantara komunikasi perusahaan dalam memasarkan dan mengenalkan barang atau jasa mereka.

Setiap program atau kegiatan komunikasi pemasaran diimplementasikan, maka akan muncul efek dari tindakan komunikasi itu. Efek tersebut terjadi setelah penerima (receiver) menerima pesan yang telah melalui serangkaian proses. Setiap individu penerima pesan akan mengalami efek yang berbeda-beda, seperti penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu informasi mengenai suatu produk atau jasa tertentu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju akan pentingnya menggunakan suatu produk atau jasa tertentu), perubahan keyakinan, perubahan perilaku (dari tidak bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membelinya), dan sebagainya.

Karena efek itulah, maka para komunikator pemasaran akan mencari strategi tertentu agar komunikasi yang dilakukannya dapat menghasilkan efek yang diinginkan. Seperti yang diungkapkan oleh Deddy Mulyana (2003) bahwa ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Hal ini berarti, para komunikator pemasaran memilih strategi tertentu dalam menyampaikan pesan mengenai produk atau jasa yang mereka wakili berdasarkan bagaimana para konsumen yang menjadi target market yang menerima pesan akan merespons.

Pemilihan Media dalam Marketing Communication

Setelah menentukan materi pesan dan sumber yang menyampaikan pesan, pemasar dapat merencanakan media komunikasi pemasaran.  Adapun langkah-langkah  yang perlu dilakukan ketika merencanakan dan memilih media komunikasi pemasaran, adalah :

  1.  Menganalisa sisuasi atau kondisi saat ini. Pemasar perlu mereview ulang sekaligus menilai keberhasilan dari program komunikasi pemasaran yang telah atau tengah dijalankan. Apakah program komunikasi pemasaran saat ini sudah mencapai sasaran ? Apakah dana yang telah dibelanjakan sudah efisien ? Perlukah dilakukan perubahan dalam program komunikasi pemasaran saat ini ? Bagaimana dengan program komunikasi pemasaran pesaing utama ? Garis besarnya, pemasar harus memperoleh gambaran yang jelas  dan utuh atas performa program komunikasi pemasaran yang sudah atau tengah dijalankan.
  2. Menyusun perencanaan pemasaran.  Dalam hal ini, pemasar menentukan tujuan pemasaran, segmen sasaran, strategi produk dan elemen pemasaran lainnya, termasuk didalamnya positioning produk. Tujuan dari langkah kedua ini adalah untuk menegaskan arah darikegiatan yang akan dikerjakan.
  3. Dari positioning produk yang telah ditentukan, pemasar mengembangkan materi pesan, tema, hingga penetapan tujuan spesifik dari tiap media komunikasi pemasaran yang hendak digunakan.
  4. Berdasarkan dari hasil kerja langkah ketiga, pemasar memilih di antara sekian jenis media komunikasi pemasaran  yang akan digunakan dan dianggap dapat menyuarakan materi pesan yang telah dirumuskan. Dalam memilih media, harus dipertimbangkan secara cermat citra atau image yang dapat tercipta melalui penggunaan media komunikasi pemasaran dimaksud. Bukan itu saja, pemasar yang memutuskan untuk menggunakan lebih dari satu jenis media  komunikasi, harus dapat memastikan seluruh media yang digunakan akan secara serempak menyuarakan pesan yang sama  atau istilahnya “single  voice”. Dengan  “single voice”, audiens sasaran yang terekspose oleh pesan dari serangkaian media yang berbeda tetap dapat menangkap arti pesan secara manunggal.

Memilih media tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Pemasar perlu menyeleksi lebih lanjut kelas-kelas media yang ada. Misalkan perusahaan berketetapan menggunakan media iklan untuk mengkomunikasikan produknya. Maka perusahaan harus dapat menentukan beriklan melalui majalah, radio, televisi, atau koran.  Kunci utama untuk melakukan hal ini hanyalah perumusan positioning dan pesan yang jelas.

  1. Langkah terakhir adalah memonitor dan mengendalikan seluruh kegiatan komunikasi. Untuk keprluan ini, pemasar  harus menetapkan suatu standar baku. Misalkan bila sebuah perusahaan menggunakan iklan, maka untuk memonitor iklan yang telah terpasang perusahaan perlu merekam jumlah atau frekwensi respon yang diterima selama kurun waktu 1 minggu atau 1 bulan setelah iklan terpasang. Data yang terekam merupakan basis yang baik untuk menentukan langkah   /tindakan ke depan, sehingga usaha yang telah dikerjakan sebelumnya tidak menjadi sia-sia belaka.

Memilih media yang tepat merupakan dalam rangka membuat pelanggan menjadi tahu, paham, menentukan sikap, dan membeli produk yang dihasilkan perusahaan. Adapun yang dimaksud dengan media adalah saluran penyampaian pesan komersial kepada khalayak sasaran. Media tersebut dapat berupa surat kabar, majalah, TV, radio, media luar ruang, iklan transit, dan direct mail. Pemilihan setiap media dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti produk, jenis pesan, pasar sasaran, luas dan jenis distribusi, anggaran, strategi iklan pesaing, serta keunggulan dan kekurangan media itu sendiri. Selain itu pemilihan media juga tergantung pada tujuan pengiklanan, yang merupakan pintu gerbang dari seluruh kegiatan dalam program pengiklanan.

Pendekatan ini menyarankan agar sasaran tujuan periklanan adalah mempengaruhi struktur sikap. Tujuan-tujuan periklanan dapat berupa penyataan-pernyataan berikut :

  • Mempengaruhi kekuatan yang paling berpengaruh dalam pemilihan kriteria untuk mengevaluasi merek dari kelas produk tertentu.
  • Menambah karakteristik pada hal-hal yang dianggap menonjol pada kelas produk.
  • Mengubah persepsi terhadap merek perusahaan pada beberapa karakteristik produk tertentu yang menonjol atau penting.
  • Mengubah persepsi terhadap merek-merek yang bersaing pada beberapa karakteristik produk tertentu yang menonjol atau penting.

Grenn Marketing dalam Komunikasi Pemasaran

Green marketing merupakan konsep yang makin menarik bagi akademisi, praktisi, pembuat aturan publik, konsumen serta masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Alasan mengapa konsep ini menjadi sangat penting untuk diaplikasikan oleh perusahaan merupakan alasan sederhana yang sudah diketahui sejak dahulu, yaitu keterbatasan sumberdaya.

Dalam literatur ekonomi dinyatakan, bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan alat pemenuhan kebutuhan atau sumber daya yang terbatas. Sumberdaya yang ada didunia, baik sumberdaya alam ataupun bukan, jumlahnya terbatas. Eksploitasi sumberdaya yang semena-mena dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya menurunkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

Dari sudut pandang pemasar sendiri, keterbatasan sumberdaya membuat perusahaan mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Konsep green marketing merupakan suatu alternatif yang dapat digunakan pemasar dalam melaksanakan aktivitas pemasaran dengan memanfaatkan sumberdaya yang terbatas secara efisien dan efektif.

Definisi Green Marketing

v  Susan Ward, mengatakan bahwa Green Marketing itu merujuk pada proses menjual produk atau jasa berdasarkan pada keuntungan lingkungannya

v  Polinsky (1994), Green Marketing adalah Konsistensi dari semua aktifitas yang mendesain pelayanan dan fasilitas bagi kepuasan kebutuhan dan keinginan manusia, dengan tidak menimbulkan dampak pada lingkungan alam.

v  Jacquelyn Ottman, berpendapat bahwa Green Marketing itu adalah Pertimbangan lingkungan yang diintegrasikan ke dalam semua aspek pemasaran pengembangan produk baru, dan komunikasi serta seluruh kunci.

v  Green marketing adalah konsep strategi pemasaran produk oleh produsen bagi kebutuhan konsumen yang peduli lingkungan hidup. Dapat juga berarti konsep strategi pemasaran produk produsen yang peduli lingkungan hidup bagi konsumen.

v  Green marketing adalah suatu cara pengiklanan yang mempromosikan kepekaan lingkungan kepada calon pembeli.

Manfaat Penerapan Green Marketing Bagi Perusahaan

Sementara menurut Polonsky (1994) ada lima alasan bagi organisasi atau perusahaan untuk menerapkan konsep green marketing. Pertama organisasi dapat menggunakan konsep green marketing untuk memanfaatkan peluang dalam mencapai tujuannya. Kedua organisasi percaya bahwa mereka memiliki kewajiban moral untuk lebih bertanggungjawab secara sosial. Ketiga Badan pemerintah melalui peraturan yang dikeluarkannya memaksa perusahaan untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keempat aktivitas lingkungan yang dilakukan pesaing memaksa perusahaan untuk merubah aktivitas pemasaran lingkungan mereka. Terakhir adalah factor biaya yang diasosiasikan dengan pemborosan pembuangan, atau mengurangi penggunaan material yang membuat perusahaan merobah perilaku mereka.

  1. Faktor Peluang
  2. Faktor Tanggung Jawab Sosial
  3. Faktor Tekanan Pemerintah
  4. Faktor Persaingan
  5. Faktor Biaya atau Keuntungan

Contoh produk yang menggunakan green marketing

Carrefour “Green Bag”

Sudah sejak Mei 2007 saya menulis mengenai “Solusi Sampah Plastik Kita” dimana sampah plastik kita yang sangat banyak dan juga menyumbat saluran air, tanggul dan malah yang ekstrim merusak turbin PLTA di waduk adalah kantong plastik belanja atau kita sebut kantong kresek karena bunyinya srek kesrek kesrek.  Carefour menerapkan Tas Hijau bagi pelanggannya.Pelanggan dapat menggunakan tas tersebut pada saat berbelanja, sehingga pelanggan tidak akan mendapatkan barang belanjaannya dibungkus oleh plastik pada umumnya, dan pelanggan disarankan untuk membawanya kembali jika ingin berbelanja. Tas ini tidak berikan secara gratis kepada pelanggan, pelanggan diminta untuk membeli dengan harga berkisar antara Rp.2000 sampai dengan Rp.10.000 per tas. Uniknya tas hijau tersebut dilengkapi oleh fasilitas garansi yang diberikan oleh pihak carefour, dimana jika rusak maka pelanggan dapat menukarkan dengan tas yang masih layak pakai pada retail-retailnya. Dengan hal ini maka Carrefour pun dapat turut mengurangi penggunaan kantong plastik belanja dan diharapkan kantong ini pun dapat dipakai untuk belanja di tempat lain. Kadang malah karena alasan berat atau kemauan dari pelanggan kantong di dobel.

Go Green Go Paperless

Go Green ala Excelcomindo dengan menerapkan slogan Go Green Go Paperless, dimana para pelanggan Xplor (produk pasca bayar yang diluncurkan oleh Excelcomindo Pratama) tidak akan mendapatkan tagihan secara fisik, melainkan diubah kedalam bentuk e-bill (yaitu melalui website resmi Exelcomindo atau dapat dikirim melalui email pelanggan). Namun jika pelanggan menginginkan tagihan tersebut pelanggan bisa mendapatkannya dengan syarat pelanggan membayar Rp.10.000 setiap bulannya. Program ini dilakukan oleh Exelcomindo Pramata sebagai wujud partisipasi perusahaan yang sejak 29 Desember 2009 berganti nama menjadi PT. XL Axiata, Tbk dalam menjaga kelestarian lingkungan seperti yang tertera pada surat edaran yang ditujukan oleh pelanggan Xplor yang berisi : “Pernahkan anda berhitung, berapa lembar kertas yang kita gunakan dalam sehari ? dan tahukah anda, bahwa untuk menghasilkan 1 rim kertas HVS, dibutuhkan waktu selama 5 tahun untuk membesarkan sebuah pohon ? dalam rangka mendukung gerakan GO GREEN GO PAPERLESS, XL mengajak anda untuk ikut berpartisipasi menjadi kelestarian lingkungan, dengan mengurangi pemakaian kertas dengan cara mengalihkan tagihan fisik menjadi tagihan elektronik melalu email dan website….. (masih bersambung)”. (Dikutip dari http://news.okezone.com/).

Aspek Budaya dalam Marketing Communication

Nilai, keyakinan, gagasan, kebiasan, tindakan dan simbol yang dipelajari oleh para anggota masyarakat tertentu dikenal dengan istilah budaya. Budaya berperan penting dalam memberikan identitas dan pedomen bagi setiap individu mengenai perilaku yang bisa diterima dan yang tidak bisa diterima. Budaya diperoleh melalui pembelajaran. Bila budaya bersifat 100% bawaan atau hanya karena insting, maka setiap orang akan berperilaku sama. Orang di berbagai belahan dunia tidak berperilaku secara seragam dan perilakunya tidak bisa diprediksi secara akurat. Oleh sebab itu, terdapat keaneka ragam budaya yang masing-masing memilki batas-batas tertentu. Batas-batas tersebut tidak brsifat kaku, namun bisa berubah seiring dengan adaptasi dengan adaptasi dan penyesuaian yang dilakukan para anggota masyarakat terhadap teknologi baru, kebijakan pemerintah, perubahan nilai, dan demografis.

Budaya diturunkan dari generasi ke generasi. Proses ini berlangsung melalui keluarga, agama, pendidikan, dan media. Saluran perilaku dan keyakinan sosial ini berperan besar dalam memberikan konsisitensi, stabilitas dan arah. Selain itu, budaya memiliki berbagai aspek. Aspek-aspek yang berkaitan langsung dengan komunikasi pemasaran antara lain: nilai dan keyakinan yang berhubungan dengan simbol, seperti bahasa dan estetika; institusi dan kelompok, seperti keluarga, rekan kerja, pendidikan, media, dan agama; dan nilai-nilai yang menurut Hofstede (1990) mencerminkan inti budaya.

  • Simbol. Bahasa, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan, memungkinkan anggota masyarakat untuk melakukan dialog dan bertukar pikiran. Estetika, dalam bentuk desain dan warna, membentuk bagian intergral dari pengemasan, promosi penjualan, dan periklanan.
  • Institusi dan kelompok. Berbagai institusi yang membantu pembentukan struktur masyarakat dan budaya tertentu memberikan wahana komunikasi dan pelestarian budaya.
  • Nilai. Salah satu riset yang paling berpengaruh dalam literatur pemasaran global menyangkut aspek budaya adalah penelitian yang dilakukan Hofstede (1985, 1990). Penelitian Hofstede berhasil mengidentifikasi beberapa dimensi budaya. Dimensi pertama berkaitan dengan dimensi individul.

Faktor yang Menjadikan Iklan Efektif

Menurut Anda, faktor terpenting apakah dalam membuat suatu iklan yang efektif? Mungkin ada yang menjawab bahwa copy writing adalah faktor yang sangat penting dalam suatu iklan. Alasannya, karena orang/calon konsumen akan mengetahui apa sebenarnya maksud dari suatu iklan, menjual apa, menawarkan apa, atau iklan itu mempromosikan apa. Sayangnya banyak orang atau perusahaan yang hingga kini menghabiskan banyak uang dan waktu untuk membuat suatu iklan namun tidak mampu menghasilkan sesuatu yang positif dalam meningkatkan pemasaran produk atau jasa.

Salah satu faktornya karena belum mengetahui dengan lebih baik faktor-faktor penting apa yang harus dipertimbangkan dalam membuat suatu iklan yang efektif. Tapi, tak perlu risau lagi, dengan menggunakan urutan yang berikut ini bisa membantu kita dalam membuat suatu bentuk iklan dengan hasil yang lebih efektif. Ada empat hal yang sangat mendasar dalam membuat suatu iklan yang efektif (saya urutkan dari nomor empat):

  • Copy Writing. Suatu bentuk kesatuan berupa tulisan yang bisa menerangkan atau menjelaskan produk atau jasa yang ditawarkan.
  • Headline. Merupakan salah satu faktor penting agar iklan kita bisa menarik dan memberikan hasil yang optimal tentunya.
  • Irresistible Sensational Offer. Maksudnya pengondisian melalui iklan tersebut, jika seseorang tidak mau membeli produk atau jasa yang kita tawarkan,secara logis mereka akan mengalami kerugian besar.
  • Sudah sampaikah iklan kita ke target market yang telah ditentukan? Suatu iklan yang mempunyai copy writing, headline, dan irresistible sensational offer tetapi tidak bisa sampai ke target market yang telah ditentukan maka sia-sialah iklan tersebut. Setelah Anda mengetahui apa saja yang terpenting dalam membuat suatu iklan yang efektif, yang juga penting dilakukan kemudian adalah PRAKTIK.

Faktor-faktor lain dapat ditinjau sebagai berikut :

  1. Penetapan tujuan dan respon komunikasi
  2. Penentuan sasaran komunikasi (target audiens)
  3. Rancangan pesan dan media komunikasi
  4. Pengembangan promotional mix
  5. Penyusunan anggaran
  6. Evaluasi dan pengendalian komunikasi

 

Etika dalam Marketing Communication

Norma merupakan standar perilaku yang diharapkan dan dipelihara masyarakat atau organisasi profesional. Adapun nilai merupakan konsepsi kolektif masyarakat mengenai apa yang penting dan diinginkan sesuai moral yang tepat. Nilai juga berfungsi sebagai kriteria untuk mengevaluasi tindakan-tindakan pribadi kita sendiri dan orang lain. Sebagai pemasar, harus diakui bahawa kita tidak hanya melayani oraganisasi kita tetapi juga bertindak sebagai pelayan masyarakat dalam menciptakan, melaksanakan dan memfasilitasi transaksi yang merupakan bagian dari perekonomian yang lebih besar. Dalam perannya ini, pemasar diharapkan untuk memiliki norma-norma etika profesional dan nilai-nilai etis yang ditunjukan oleh tanggung jawab kita terhadap stakeholder (misalnya pelanggan, karyawan, investor, rekan kerja, dll)

Norma Etika

Sebagai pemasar, kita harus:

ü  Tidak membahayakan, ini berarti secara sadar kita menghindari tindakan berbahaya atau kelalaian dalam mewujudkan standar etika yang tinggi dan mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku dalam pilihan yang kita buat.

ü  Tingkat kepercayaan yang tinggi. Ini berarti seorang pemasar harus berjuang untuk terus jujur dan adil dalam memerikan kontribusi terhadap efektivitas proses pertukaran serta menghindari penipuan dalam desain produk, harga, komunikasi, dan pengiriman/distribusi.

ü  Berpegang pada nilai-nilai etika. Ini berarti dalam menjalin hubungan dan meningkatkan kepercayaan pada konsumen, seorang pemasar harus memiliki nilai-nilai: kejujuran, tanggung jawab, keadilan, respek, transparan, dan memiliki tanggung jawab sosial.

Nilai Etika

Kejujuran – Sebagai pemasar, kita harus memiliki kejujuran dalam berhubungan dengan pelanggan dan stakeholder. Untuk tujuan itu, seorang pemasar harus :

  • Berusaha untuk menjadi jujur pada setiap situasi dan kondisi
  • Memenuhi nilai produk yang dijanjikan saat menawarkan produk
  • Berdiri dibelakang produk jika produk mereka gagal untuk memberikan manfaat sesuai yang dijanjikan

Tanggung Jawab

Menerima konsekuensi dari keputusan pemasaran dan strategi. Untuk tujuan itu, seorang pemasar harus :

  • Mengupayakan melayani kebutuhan pelanggan
  • Hindari penggunaan paksaan terhadap semua stakeholder
  • Mengakui adanya kewajiban sosial terhadap masyarakat
  • Memiliki komitmen pelayanan terbaik kepada, manula, anak-anak, masyarakat miskin yang buta haruf serta penyandang cacat
  • Pertimbangkan kepedulian terhadap lingkungan dalam setiap kebijakan yang kita ambil

Keadilan

Mampu meyeimbangkan antara kebutuhan dari pembeli dan kita sebagai penjual. Untuk tujuan ini, seorang pemasar harus :

  • Mempresentasikan produk dengan cara yang jelas dalam penjualan, iklan dan bentuk komunikasi lainnya, termasuk di dalamnya menghindari promosi palsu, menyesatkan ataupun menipu
  • Menghindari manipulasi dan taktik penjualan yang dapat mengancam kepercayaan pelanggan
  • Menolak untuk melakukan “permainan harga”
  • Menghindari partisipasi dalam konflik kepentingan
  • Berusaha untuk melindungi informasi prbadi/rahasia dari pelanggan, karyawan dan mitra

Respek

ü  Menghargai martabat dasar manusia dari semua stakeholder. Untuk itu, seorang pemasar harus :

  • Menyadari adanya perbedaan individu dan menghindari stereotip pada pelanggan berdasarkan suku, agama, ras, jenis kelamin dan orientasi seksual dengan cara yang negatif dan tidak manusiawi
  • Mendengarkan kebutuhan pelanggan dan membuat semua upaya yang wajar untuk memantau dan meningkatkan kepuasan mereka secara berkelanjutan
  • Melakukan segala upaya untuk memahami dan memperlakukan dengan hormat pembeli, pemasok, perantara, dan distributor dari semua budaya
  • Mengakui kontribusi orang lain seperti konsultan, karyawan, dan rekan kerja dalam upaya pemasaran
  • Perlakukan setiap orang termasuk pesaing kita seperti perlakuan yang kita inginkan

Transparansi

Memiliki semangat keterbukaan dalam operasi pemasaran. Untuk tujuan itu, seorang pemasar harus :

  • Mengupayakan untuk berkomunikasi dengan jelas dengan semua konstituen atau stakeholder
  • Menerima kritik yang membangun dari pelanggan atau pimpinan/pemangku kepentinagn lainnya
  • Jelaskan dan tentukan aksi yang tepat mengenai risiko produk atau layanan, yang dapat mempengaruhi persepsi pelanggan yang membeli produk kita
  • Mengungkapkan daftar harga dan persyaratan pembiayaan sesuai harga yang tersedia

Citizenhip

Memiliki tanggung jawab sosial, hukum, dan kemanusiaan kepada stakeholder. Untuk itu, seorang pemasar harus:

  • Memiliki program CSR yang berkelanjutan
  • Mengupayakan untuk peduli pada lingkungan ekologis dalam proses promosi pemasaran

 

Tanggung jawab utama bagi perilaku etis adalah ditangan setiap orang yang berada dalam berbagai peran komunikasi pemasaran. Integritas mungkin merupakan konsep vital dalam sifat manusia. Walaupun sulit mencari definisi yang tepat, integritas menghindarkan kita melakukan penipuan terhadap orang lain atau mempunyai perilaku tak bermoral. Karenanya, komunikasi pemasaran sendiri terlepas dari masalah etis atau tidak etis – tingkat integritas yang ditunjukan oleh praktisi komunikasilah yang menentukan apakah perilaku mereka bersifat etis atau tidak etis ( Shimp: 2000)

Shimp dalam bukunya periklanan dan promosi mengatakan bisnis dapat menankan kebudayaan yang etis atau tidak etis dengan membangun ethical core values untuk memadukan perilaku komunikasi pemasaran. Dua core value yang akan terus berlaku dalam meningkatkan perilaku etis adalah:

  1. memperlakukan konsumen dengan rasa hormat, perhatian, dan kejujuran – seperti halnya bagaimana anda ingin anda dan keluarga anda diperlakukan
  2. memperlakukan lingkungan seolah olah sebagai milik anda pribadi

Shimp juga menyarankan kepada perusahaan agar dapat mendorong perilaku komunikasi pemasaran yang etis kepada para pegawai dengan mengaplikasikan serangkaian tes berikut ini ketika berhadapan dengan masalah etika : bertindak sebagaimana Anda ingin orang lain bertindak terhadap Anda (The Golden Rule). hanya melakukan tindakan yang dianggap pantas oleh panel obyektif yang terdiri dari kolega professional anda (The Profesional Ethic). selalu bertanya “apakah saya merasa nyaman menjelaskan tindakan ini melalui televise kepada khalayak umum?” (the TV test)

Memang tidak mudah untuk pemecahan masalah etika karena salah satu sifatnya yang kadang masih menimbulkan dilematis, tetapi penulis mencoba untuk menawarkan solusi yang bisa direnungkan dan ditelaah secara bersama-sama. Alternative tersebut antara lain:

  1. Sebelum memutuskan untuk merealisasikan program komunikasi pemasaran yng dijalankan maka perlu mempertimbangkan mengenai motif, tujuan, akibat, pihak terkena, berapa banyak orang yang terkena tindakan itu, besarnya resiko dibandingkan manfaat, keadaan psikis pelaku, tingkat intelegensia untuk menentukan sejauh mana pelaku menyadari tindakannya dan akibat dari tindakannya, dan seterusnya dan seterusnya.
  2. regulasi yang jelas dengan tidak mengabaikan kepentingan berbagai pihak
  3. lebih mementingkan kepentingan jangka panjang bagi para pebinis dan marketer khususnya

contoh :

Seringkali Pelanggaran yang terjadi adalah berupa penampilan iklan yang superlative, yaitu memunculkan produk sebagai yang terbaik atau termurah. Iklan superlative ini acapkali dibumbui kecenderungan menjatuhkan pesaing di pasaran. “Jika semua bilang baik, termurah, ini akan membingungkan masyarakat dan pelanggan,”. Oleh karena itu dibawah ini terdapat salah satu iklan yang dinilai kurang etis yaitu “Iklan XL versi gorila tidak etis. Pada iklan tersebut disebutkan bahwa “nggak usah mikir”. Dari situ kan sudah sangat kontradiktif dengan bagaimana seharusnya konsumen menjadi cerdas, yaitu memilih terlebih dahulu produk mana yang layak dan tepat dikonsumsi,”. Serta iklan XL versi gorila yang memiliki tagline “Pasti Termurah” juga tidak wajar. Alasannya iklan itu tidak memberikan keterangan seberapa murah atau bukti dari sebuah lembaga independen “Kata-kata Termurah itu sebenarnya sudah melanggar Undang-Undang (UU) No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kalau mereka punya bukti termurah, seharusnya diberitakan secara matematis atau menggunakan badan independen. Pelanggaran UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bisa dikenakan sanksi maksimal penjara selama dua tahun atau denda sebesar Rp 2 miliar. “Kalau terbukti bersalah maka hal ini merupakan kejahatan korporat atau corporate crime. Sebaiknya BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) menanggapi serius iklan-iklan seperti ini agar tidak membingungkan konsumen dan masyarakat,”

Disusun oleh : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, S.E.,MM. 

 

 

 

Journal of Advertising Research

Journal of Advertising Research

Definisi Iklan

Ada tiga istilah yang umum dipakai di indonesia untuk menyebut advertising, yaitu: reklame, advertensi, dan iklan.reklame berasal dari bahasa belanda yang dieja sebagai reclame.kata itu juga berasal dari bahasaperancis reclamare. Advertensi berasal dari bahasa belanda advertentie yang juga mengacu pada bahasa inggris advertising.Sedangkan iklan yang umum dipakai dalam bahasa Melayu berasal dari bahasa Arab i’lan atau i’lanun secara harfiah berarti informasi.

Banyak definisi diberikan bagi kata ‘periklanan’, akan tetapi salah satu yang paling sederhana dengan harapan agar kita tidak berdebat soal ini. Periklanan adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan pembuat barang, atau pemasok jasa dengan masyarakat banyak atau sekelompok orang tertentu yang bertujuan untuk menunjang upaya pemasaran. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan gambar, suara atau kata-kata, gerak atau bau yang disalurkan melalui media atau secara langsung. Berdasarkan pengertian ini maka ‘Biro Iklan’ adalah lembaga usaha yang memberikan jasa periklanan bagi siapa yang membutuhkan baik perorangan, perusahaan pembuat barang atau pemasok jasa bahkan pemerintah. Oleh karena bentuk pelayanan periklanan meliputi berbagai jenis kegiatan maka dilihat dari skala usahanya ada berbagai ukuran sebuah biro iklan.

Iklan bukanlah barang baru dalam sejarah perekonomian di Indonesia. Di Perpustakaan Nasional tersimpan bukti sejarah yang menunjukkan bahwa iklan telah ada sejak koran beredar di Indonesia lebih dari 100 tahun yag lalu (Renald Kasali, 1995: 7). Secara sederhana, menurut Rachmadi (1993: 36) iklan adalah pesan atau penawaran suatu produk atau jasa yang ditujukan kepada khalayak lewat media. Pemasang iklan menggunakan pesan itu untuk mendapatkan keuntungan yaitu dengan mempersuasikan calon konsumen sedemikian rupa sehingga calon konsumen akan melakukan apa yang diharapkan pemasang iklan, atau membeli produk atau jasa sesuai yang ditawarkan.

Tujuan Iklan

Renald Kasali (1995: 159) menjabarkan tujuan suatu iklan yang dibangun atas empat komponen sebagai berikut.

  1. Aspek perilaku, yakni tindakan-tindakan yang diharapkan pada calon pembeli seperti: pembelian percobaan, mengunjungi toko, mengambil percontoh, atau meminta info lebih lanjut.

  2. Sikap yang diharapkan. Hal ini menyangkut sikap atau keistimewaan produk.

  3. Kesadaran. Dalam pengembangan produk-produk baru di pasaran, merebut calon pembeli adalah tugas utama periklanan.

  4. Posisioning, membentuk citra agar bisa diterima secara homogen.

Sedangkan Philip (dalam Darmadi, 2003: 9), tujuan periklanan dapat dilihat dari sudut pandang perusahaan. Tujuan periklanan ini berkaitan dengan sasarannya sebagai berikut.

  1. Iklan bertujuan untuk memberikan informasi (informative) kepada khalayak tentang seluk beluk suatu produk.

  2. Iklan digunakan untuk membujuk (persuasive), dilakukan dalam tahap kompetitif. Dalam hal ini, perusahaan melakukan persuasi tidak langsung dengan memberikan informasi tentang kelebihan produk yang dikemas sedemikian rupa sehingga menimbulkan perasaan menyenangkan yang akan mengubah pikiran orang untuk melakukan tindakan pembelian.

  3. Iklan bertujuan untuk mengingatkan (reminding), yaitu untuk menyegarkan informasi yang pernah diterima masyarakat. Iklan jenis ini bertujuan untuk meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka melakukan pilihan benar.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa iklan memiliki beberapa tujuan yaitu: memberikan informasi, membujuk, serta mengingatkan atas produk yang telah diiklankan. Perilaku dan perubahan sikap juga merupakan tujuan akhir atas penayangan sebuah iklan. Pembelian akan produk yang diiklankan menjadi harapan para pembuat iklan.

Manfaat Iklan 

Iklan memiliki beberapa manfaat bagi khalayak ramai. Menurut Dendi Sudiana (1986: 6) iklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk atau membangkitkan kesadaran akan merk (brand awareness), citra merk (brand image), citra perusahaan (corporate image), membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan, memberikan informasi, dan lain-lain. Tujuan akhir komunikasi periklanan yang diharapkan tentunya untuk menciptakan respons perilaku di pasaran. Renald Kasali (1995: 16) mengemukakan manfaat iklan bagi pembangunan msyarakat dan ekonomi, sebagai berikut.

    1. Iklan memperluas alternatif bagi konsumen. Dengan adanya iklan, konsumen dapat mengetahui adanya berbagai produk, yang pada gilirannya menimbulkan adanya pilihan.

    2. Iklan membantu produsen untuk menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya.

    3. Iklan membuat orang kenal, ingat, dan percaya.

 Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa iklan memiliki beberapa manfaat yaitu: memberikan pilihan untuk konsumen memilih beragam produk, membantu produsen memberikan kepercayaan kepada konsumen serta membuat konsumen mengenal lalu mengingat dan percaya akan produk yang diiklankan hingga akhirnya membeli produk tersebut. 

Sebuah proses komunikasi akan dapat berjalan dengan baik dan lancar, apabila dalam pembuatan iklan mempertimbangkan elemen-elemen yaitu:

    1. Atention (perhatian): apa yang disajikan oleh pengiklan mampu menarik perhatian khalayak atau masyarakat misalnya bahasa yang digunakan atau produk barang tersebut manarik.

    2. Interest (minat): pengiklan hendaknya teliti membuat bagaimanakah minat masyarakat terhadap barang yang diiklankan. Hal ini didasarkan pada masa atau era yang ada pada saat itu.

    3. Demand (kebutuhan/keinginan): pengiklan mampu melihat kebutuhan atau keinginan masyarakat pada waktu itu. Apakah barang atau jasa yang ditawarkan sesuai dengan keinginan atau seperti apa yang diharapkan masyarakat.

    4. Action (tindakan): iklan yang ditampilkan mampu mempengaruhi calon pembeli sehingga dengan sendirinya akan muncul tindakan konsumen untuk memutuskan apakah akan membeli atau tidak (Rachmadi, 1993: 34).

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ketahui elemen-elemen apa saja yang harus dipertimbangkan, agar iklan yang dibuat merupakan proses komunikasi yang berjalan dengan baik dan lancar. Untuk maksud tersebut, pengiklan diharapkan dapat mengelaborasi berbagai elemen yang ada.

Metode Penelitian

a. Metode yang digunakan untuk mengukur tingkat awareness iklan pada tahap posttesting kebanyakan melalui metode survey dengan menyebarkan kuesioner kepada beberapa responden. Selain mengukur tingkat awareness, juga untuk mengukur brand attribute, perceived quality, kejernihan dan pemahaman pesan, ketertarikan untuk menindaklanjuti pesan, dan sebagainya termasuk keserasian penempatan iklan di media, yang biasanya terangkum dalam sebuah kegiatan bernama consumer’s dipstick. Namun demikian, metode focus group discussion juga sering digunakan untuk penggalian informasi yang lebih dalam dari konsumen.

b. Teknik statistik yang akan dilakukan adalah Goodness-of-Fit Test yang merupakan salah satu varian Chi-Square Test. Tes ini berfungsi untuk menguji hipotesis dengan dua atau lebih kemungkinan ketegori. Eksperimen yang dimaksud ialah multinomial experiment. Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan pada Goodness-of-Fit Test ini.

c. Efektifitas Iklan diukur dengan Metode Epic Model

Efektivitas iklan dapat diukur dengan menggunakan Epic model, Darmadi Durianto

(2003). Epic model yang dikembangkan oleh AC Nielsen, salah satu perusahaan peneliti

pemasaran terkemuka di dunia, Epic Model dan mencakup empat dimensi kritis yaitu empati,

persuasi, dampak dan komunikasi (Empathy, Persuasion, Impact and communications – EPIC) berikut akan dipaparkan dimensi – dimensi dalam Epic model.

Referensi Advertising Research

Adapun beberapa referensi mengenai penelitian iklan di indonesia seperti berikut :

STUDI MENGENAI EFEKTIFITAS IKLAN TERHADAP CITRA MEREK MASKAPAI GARUDA INDONESIA

Farida Indriani, Dini Hendiarti

Abstract

Pemberian informasi yang dilakukan melalui iklan dapat merebut dan mempertahankan pangsa pasar dalam kondisi persaingan yang kompetitif seperti saat ini. maka iklannya harus dibuat seefektif mungkin, kreatif, menarik agar merek produk atau jasa dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini diterapkan pada iklan maskapai Garuda Indonesia yang menunjukan adanya masalah efektifitas dalam periklanan yang dilakukan Garuda Indonesia karena ternyata lebih banyak orang yang lebih ingat iklannya dibandingkan mereknya. Selain itu adanya ketimpangan pada minat beli bagi masyarakat Indonesia, bahwa masyarakat masih memilih menggunakan maskapai selain Garuda Indonesia meskipun masyarakat tetap beranggapan bahwa maskapai Garuda Indonesia tetap maskapai yang terbaik. Model penelitian ini menggunakan enam hipotesis yaitu semakin tinggi kreatifitas iklan maka semakin tinggi efektifitas iklan, semakin tinggi kreatifitas iklan maka semakin tinggi daya tarik iklan, semakin tinggi daya tarik iklan maka semakin tinggi efektifitas iklan, semakin tinggi efektifitas iklan maka semakin tinggi citra merek, semakin tinggi efektifitas iklan maka semakin tinggi minat beli, semakin tinggi citra merek maka semakin tinggi minat beli. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah non probability sampling yaitu metode purposive sampling, dimana sampel dipilih dengan syarat-syarat yang dipandang memiliki ciri-ciri esensial yang relevan dengan penelitian. Responden yang digunakan sebanyak 110 responden yaitu pelanggan dan calon pelanggan Maskapai Garuda Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah The Structural Equation Modeling (SEM). Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa model tersebut dapat diterima.

  • JURNAL PENELITIAN ANALISIS PEMAKAIAN GAYA BAHASA PADA IKLAN PRODUK KECANTIKAN PERAWATAN KULIT WAJAH DI TELEVISI

  • FAKTOR-FAKTOR SISTEM INTERAKSI YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS IKLAN ONLINE

Ilham Aji Pratomo dan Dadan Hardianto

Abstrak

Penelitian ini mengkhususkan pada efektifitas iklan online dengan memanfaatkan sudut pandang ilmu sistem interaksi atau lazim disebut human-computer interaction. Pendekatan yang dipergunakan dalam pengukuran efektifitas adalah jumlah klik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang berkaitan dengan ilmu sistem interaksi yang mempengaruhi efektifitas tersebut. Metode yang dipergunakan adalah metode kuantitatif dengan populasi civitas akademika Universitas Indonesia. Setelah melakukan penelitian ini, peneliti menemukan bahwa faktor-faktor tersebut berpengaruh besar terhadap efektifitas iklan online sesuai dengan pendekatan jumlah klik yang diterapkan pada penelitian ini

  • ANALISIS EFEKTIVITAS IKLAN SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI PEMASARAN PERUSAHAAN PERCETAKAN DAN PENERBITAN PT RAMBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE EPIC MODEL

YUDI FAROLA BRAM

ABSTRAK

This research entitled Analysis of Commercial Effectiveness as One of Printing and Publishing Company’s Marketing Strategies of of PT Rambang by using EPIC Model Method was aimed at investigating the effectiveness of PT Rambang’s Advertisement by using an analysis based on EPIC Model (Empathy, Persuasion, Impact dan Communication). The Object this research was the customers of PT. Rambang who ever saw, heard, or read PT Rambang’s ads especially those who lived in Palembang city. There were 300 respondents involved in this research The sampling technique used was convinience sampling with survey method. The effectiveness of PT Rambang’s advertisement could be seen from dimensions of Empathy, Persuasion, Impact dan Communication with crossed tabulation analysis and linier regression in which the measuring rod was the selling volume. Reviewed from the EPIC dimensions, it was found that PT Rambang’s ads were effective enough to influence customers living in Palembang city. Among the four dimensions, communication was the most dominant factor which can be seen from figure 4.1.2. (PT Rambang’s EPIC Model Ads on printed media). Based on linier regression analysis, it was found that commercial expenditure had significantly affected the selling volume of PT Rambang. Therefore, it was suggested that the information delivered through advertisements on printed media could give information about the products offered to its customers or prospective customers.

  • SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH

Oleh : Ali Murtadha M Arifin

ABSTRAKSI

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tujuan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut.Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah).

Conclusion :

Berdasarkan beberapa referensi mengenai penelitian terhadap tema iklan sudah sanagt sering dilakukan oleh beberapa peneliti khususnya di Indonesia. Sejumlah peneliti biasanya mengulas tentang sudut pandang akan efektivitas atau pengukuran suatu iklan terhadap produk yang diiklankan. Memang pada dasarnya apabila kita melihat bahwa iklan sebagai salah satu aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan merupakan suatu pembahasan yang menarik untuk diteliti, terlebih dengan sangat berkembangnya dunia informasi serta teknologi dalam negeri menjadi salah satu alasan pemasar menggunakan iklan sebagai media pemasaran, lain hal juga dikarenakan adanya peningkatan kesadaran konsumen dengan aktivitas pemasaran seperti iklan. Peningkatan ini tidak lepas dari perkembangan industri media yang telah berlangsung sejak dua dekade ini. Tumbuhnya pemancar komersial di segenap penjuru tanah air, masing-masing dengan gaya dan cara pendekatan yang berbeda. Terbitnya puluhan majalah-majalah baru mulai dari yang bersifat umum hingga majalah yang khusus bicara soal rambut, mobil, konstruksi dan komputer. Terbitnya surat kabar yang berdomisili di ibu kota negara, ibu kota propinsi atau ibu kota kabupaten, masing-masing dengan garapan berita yang beda ruang lingkupnya.

Selain itu Seiring berkembangnya pendidikan ilmu ekonomi telah banyak memberi dorongan bagi pertumbuhan kualitas perusahaan periklanan di Indonesia. Kehadiran modal asing dan kegiatan memproduksi barang-barang yang berasal dari luar negeri telah menghadirkan kegiatan pemasaran global yang dampaknya sangat menentukan kemampuan para pakar pemasaran di sebuah biro iklan dalam berbicara pada tingkat pengetahuan pemasaran yang bersifat internasional. Adanya pilihan yang diberikan oleh industri media dan tantangan untuk menemukan rancangan media yang efektif dan terjangkau oleh biaya periklanan yang disediakan oleh perusahaan pemakai jasa iklan, serta riset dan penelitian yang dilakukan oleh perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang jasa riset telah ikut memberikan masukan yang sangat menunjang kualitas pelayanan jasa perencanaan media. Fakta ini telah memberi warna khusus bagi kegiatan periklanan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan secara tepat arah dan terukur. Serta sekarang terdapat Istilah ‘Social Marketing’ yang kini menjadi kawasan baru para pakar periklanan yang menerjuni kegiatan periklanan non-komersial yang tidak kurang pentingnya bagi Indonesia dewasa ini. Ada yang terlibat dalam kegiatan menunjang marketing produk-produk yang distribusinya sangat terbatas, akan tetapi ada yang terlibat dengan kegiatan marketing produk yang tersebar luas dan dikonsumsi oleh orang yang lebih banyak. Oleh sebab itu penenlitian tentang media iklan menjadi salah satu alternatif bagi perusahaan atau masyarakat tentang pengungkapan beberapa hala yang berkaitan dengan perusahaan maupun masyarakat sebagai konsumen.

Penulis : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, S.E, M.M

Daftar Pustaka :

file://localhost/I:/markom%20bahan/STUDI%20MENGENAI%20EFEKTIFITAS%20IKLAN%20TERHADAP%20CITRA%20MEREK%20MASKAPAI%20GARUDA%20INDONESIA%20_%20Indriani%20_%20JURNAL%20SAINS%20PEMASARAN%20INDONESIA.mht

file://localhost/I:/markom%20bahan/makalah%20dan%20skripsi_%20DEFINISI%20PERIKLANAN.mht

Pelaksanaan Trust Based Relationship Pada Cafe Auto Mobil Lamborghini, Jakarta (2000) – 8071

Analisis Hubungan Antara Kepercayaan Terhadap Wiraniaga Dengan Keputusan Pembelian Konsumen Pada PT. Seri Jaya Maju gemilang (2000) – 8075

Kebijakan Pengemasan Minyak Pelumas Mesran Super Di Pertamina (2000) – 9002

Pelaksanaan Keputusan Utama Pemasaran Internasional Pada PT. Adetex Dalam Memasarkan Produk Tekstil Ke Jepang (2000) – 9003

Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Bonus Dalam kemasan (2001) – 8076

Analisis Faktor-Faktor Yang Menggerakkan Konsumen Untuk Mengunjungi Situs Web Indosatnet Pada PT. Indosat Di jakarta (2000) – 8021

Pelaksanaan Pengembangan Jasa Homecare Pada Rumah Sakit Islam Jakarta Timur (2001) – 8024

Faktor-Faktor Yang Membangun Relationship Marketing Melalui Complain Handling Pada Auto 2000 Cabang Pluit (2000) – 8022

Analisis Iklan yang dinilai Kurang Etis

Analisis iklan yang dinilai kurang etis

Hal yang menjadi sorotan masalah iklan adalah sejauh mana komitmen moral atau etika bisnis yang dimiliki perusahaan dalam mempertanggungjawabkan materi atau isi pesan yang disampaikan kepada masyarakat. Hal ini sangat penting mengingat produk dipasaran sangat banyak jumlahnya, dan pengetahuan konsumen tentang produk lebih banyak didapat dari informasi produsen.Dalam hal berbagai produk yang sejenis tidak mustahil produsen tertentu tergoda untuk memanipulasi informasi sehingga produknya mempunyai daya tarik yang lebih besar bagi para konsumen. Etika bisnis dalam mengkampanyekan produk kepada khalayak sasaran memang penting dipahami oleh pihak produsen. Hal ini agar masyarakat tidak merasa tertipu oleh sajian – sajian iklan yang “bombastis” yaitu khalayak mendapat informasi yang sebanarnya dari produk yang diiklankan. Secara umum tradisi beriklan yang sehat yang dapat mendorong terwujudnya citra produk dicirikan oleh tiga aspek penting yaitu:

Etis

Berkaitan dengan kepantasan, Apakah iklan itu pantas untuk ditayangkan? secara etika memang iklan harus ah memuat sesuatu yang jujur tapi bukan berarti lalai dengan ke-etis-an iklan tersebut.

Estetis

Estetis berkaitan dengan kelayakan, kepada siapa iklan itu ditujukan siapa target marketnya, siapa target audiennya, kapan iklan terebut harus ditayangkan. Produsen rokok selalu menayangkan iklannya pada waktu-waktu dimana anak kecil sudah tidur. Ya.. Memang harus demikian, karena iklan itu hanya ditujukan untuk orang dewasa.

Estetika

Berkaitan dengan keindahan, seni. Selain etis, estetis iklan juga harus mengandung daya tarik seni, estetika. Agar iklan itu mach, dan tidak membosankan selain itu iklan dengan estetika yang baik, juga akan mengundang daya tarik khalayak (desire) untuk memperhatikan iklan tersebut dan kemudian melakukan action membeli dan menggunakan produk tersebut

Seringkali Pelanggaran yang terjadi adalah berupa penampilan iklan yang superlative, yaitu memunculkan produk sebagai yang terbaik atau termurah. Iklan superlative ini acapkali dibumbui kecenderungan menjatuhkan pesaing di pasaran. “Jika semua bilang baik, termurah, ini akan membingungkan masyarakat dan pelanggan,”. Oleh karena itu dibawah ini terdapat salah satu iklan yang dinilai kurang etis yaitu “Iklan XL versi gorila tidak etis. Pada iklan tersebut disebutkan bahwa “nggak usah mikir”. Dari situ kan sudah sangat kontradiktif dengan bagaimana seharusnya konsumen menjadi cerdas, yaitu memilih terlebih dahulu produk mana yang layak dan tepat dikonsumsi,”. Serta iklan XL versi gorila yang memiliki tagline “Pasti Termurah” juga tidak wajar. Alasannya iklan itu tidak memberikan keterangan seberapa murah atau bukti dari sebuah lembaga independen “Kata-kata Termurah itu sebenarnya sudah melanggar Undang-Undang (UU) No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kalau mereka punya bukti termurah, seharusnya diberitakan secara matematis atau menggunakan badan independen. Pelanggaran UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bisa dikenakan sanksi maksimal penjara selama dua tahun atau denda sebesar Rp 2 miliar. “Kalau terbukti bersalah maka hal ini merupakan kejahatan korporat atau corporate crime. Sebaiknya BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) menanggapi serius iklan-iklan seperti ini agar tidak membingungkan konsumen dan masyarakat,”

Target Pasar produk XL

Strategi pemasaran XL ditujukan untuk mengubah citra Perseroan yang selama ini memiliki citra ‘mahal’ menjadi terjangkau, muda, dinamis, trendi dan sangat memahami kebutuhan pelanggan. XLXL siap dan mampu untuk memenuhi semua kebutuhan pelanggan. mampu menyediakan berbagai kebutuhan pelanggan, baik layanan dasar yang berbiaya rendah ataupun layanan dengan berbagai nilai tambah. Didukung dengan jalur distribusi serta cakupan jaringan yang luas, Distribusi XL adalah suatu produk penyedia layanan telekomunikasi yang berada di Indonesia. Produk produk dari XL in sendiri lebih banyak difokuskan kepada seluruh kalangan atau seluruh segmentasi pasar. Dari mulai kalangan menengah keatas dengan produk dari XL yang bernama XL. Bebas. Dan XL juga mencoba merambah kalangan tingakt menengah kebawah dengan produknya yang bernama XL JEMPOL.

Bila dilihat secara menyeluruh. XL melakukan pemasaran dengan cara mengambil strategi pengembangan solusi korporat di bawah bendera Business Solutions. XL juga mengambil segmentasi pasar secara menyeluruh dari pasar tingkat bawah hingga para pengguna layanan 3G.

Strategi pemasaran lainna dari XL dilakukan dengan memaikkan dan juga menambah gerai-gerai XL hingga keplosok2 kota yang terpencil sekalipun. Hal ini dimaksudkan agar semakin banyak para pengguna mengenal produk-produk yang ditawarkan oleh XL itu sendiri. Dengan cara ini maka dapat dipastikan bahwa XL dapat meraup lebih banyak pelanggan bahkan sampai kepada pelanggan kelas bawah.

Dan selain itu pula produk-produk XL lebih banyak menawarkan produknya dengan tariff yang sangat murah, sehingga dapat dipastikan bahwa hal ini dapat membuat banyak orang tertarik untuk mengginaka produk 2 dari xl tersebut.

Promosi yang dilakukan oleh XL yang lain adalah promosi Business Solutions yang dilakukan melalui berbagai media nasional dan juga melalui sejumlah pameran atau seminar.

Jadi bila dilihat kembali strategi pemasaran yang diambil oleh XL tersebut sangan signifikan terlihat, dan bila dilihat dari kenyataan yang ada, seluruh kerja keras XL tampak terbayarkan karna tampak menduduki posisi teratas dalam perang tariff antara para penyedia layanan telekomunikasi dewasa ini

Menentukan Target dan Segmentasi

Dalam rangka memuaskan konsumen, perusahaan perlu mengetahui keinginan dan hal-hal yang dibutuhkan konsumen yang menjadi target pemasarannya terutama mengenai faktor-faktor yang paling dominan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam memilih operator Global System Mobile (GSM) prabayar. Untuk dapat mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan pelanggan tersebut maka diperlukan riset pasar. Dari kondisi diatas, diperlukan suatu studi atau penelitian mengenm tingkat kepentingan (harapan) dan tingkat performansi (kenyataan / persepsi) konsumen akan kualitas layanan yang diinginkannya. Kualitas layanan merupakan hal yang penting dan perlu untuk diperhatikan dan ditingkatkan layanannya dalam rangka memuaskan pelanggan dan untuk dapat bersaing secara kompetitif dengan operator GSM prabayar lainnya.

Dengan demikian perlu adanya evaluasi yang dapat menjadi masukan dari pelanggan operator GSM prabayar guna memperoleh segmentasi pasar yang tepat dan bisa menetapkan target pasar yang tepat. Dalam riset pasar, berbagai penelitian haruslah dilakukan agar memperoleh informasi apa saja untuk mengetahui kepuasan pelanggan, segmentasi pasar, positioning dan target pasar. Sedangkan untuk mengetahui atribut atribut

yang memenuhi tingkat kepuasan pelanggan digunakan metode Performance Importance Chart (IP Diagram). Diharapkan metode tersebut dapat digunakan untuk merumuskan suatu strategi pasar yang berdasar segmentasi dan target untuk meningkatkan kualitas layanan dari perusahaan.

 

Penulis : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, S.E., M.M.

 

Daftar Pustaka

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/cocomaje_%20Tugas%20Etika%20Bisnis%202%20(Contoh%20kasus%20Bisnis%20Yang%20Tdk%20Beretika).mht

http://blogs.unpad.ac.id/TettyHerawaty/?p=15

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/YLKI_%20Iklan%20XL%20Tidak%20Etis%20-%20www.inilah.com.mht

PENGUKURAN KESENJANGAN HARAPAN PELANGGAN DAN KINERJA JASA PERAWATAN PERALATAN PT. X

Oleh : Albertur Widiyanto

 

ABSTRACT

Since agreement of asean Free Trade Area (AFTA) approved by Indonesian Government, rising awareness of new business competitor from foreign country. As Government strategic business of Indonesia, Pertamina began to Perform new business development in order to anticipate global market of oil and petrochemical, one of the improvement, was split the maintenance department from refinery business as strategic business unit in oil refineries maintenance, named PT. Elnusa Petro Teknik (PT.EPT-3). As a New entity of Company, PT. EPT needs to Learn in real business for two years in Plaju refinery. The study reported in this thesis was a descriptive research, which carry out through Survey among employees who working in operation Departement. Sample used in this Study were 100 employees. Samples of the employees included senior supervisor, Day supervisors, supervisors and operators. The data was subsequently analyzed by utilizing frequency distribution factor and regression analysis and visual mapping. Result of this study showed that majority of the customers (84,83%) were not satisfied with the service provided. The customers level of satisfaction was positively affected by the service quality, price of the product/service and quality of product/service. Among those dimensions, service quality performed the dominant factor of customer satisfaction. The level of service quality was positifely affeceted by five dimension of service quality: among those dimensions responsiveness performed the dominant factor of service quality. Based on the finding of this study, further investigation is needed on the internal of marketing aspects, specially all employees should be more aware to customers satisfaction and supply chain of spareparts to be supporting all field maintenance activities. Further research is required to be conducted in order to monitoring customer satisfaction and service quality.

Key words : Customers’ perception, Service quality, Customers’ satisfaction

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tahun 2003 adalah tahun dimana akan dilaksanakan area perdagangan bebas ASEAN atau AFTA (Asean Free Trade Area), adalah sistem perdagangan bebas “hambatan”, system yang belum sepenuhnya dapat dilakukan oleh pelaku bisnis di Indonesia, terutama perusahaan milik Negara, badan uasaha milik Negara (BUMN) yang mbertahun-tahun memegang hak monopoli perdagangan komoditi tertentu. Penandatanganan perjanjian pelaksanaan AFTA di tahun 2003 oleh pemerintah Indonesia telah membangunkan “tidur panjang” BUMN untuk segera berbenah diri menyongsong sistem perdagangan yang sangat mungkin masih asing yaitu: sistem perdagangan bebas. Beberapa BUMN segera melakukan restrukturisasi, diversifikasi usaha, kerjasama Operasi (KSO), dan kiat-kiat lainnya, agar segera dapat siap bertarung di tahun 2003 dengan usaha sejenis dari Negara ASEAN lainnya. Salah satu kiat yang dilakukan adalah memisahkan kegiatan-kegiatan yang selama ini menyatu, menjadi suatu strategic Business Unit, sehingga tidak membebani bisnis utama, dapat mandiri, dan memberikan kontribusi pemasukkan. Salah satu BUMN melakukan kiat memisahkan fungsi pemeliharaan dan perawatan dalam kegiatan produksi menjadi strategic business unit. Badan usaha baru tersebut berbentuk perseroan terbatas, diberi keleluasaan usaha seperti layaknya perseroan terbatas swasta.

 

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Sampai sejauh manakah kesenjangan (discrepancy)/ gap antara kinerja (performance) dengan harapan (expectation) pelanggan PT-X, sebagai salah satu tolak ukur tingkat kepuasan pelanggan?
  2. Variabel manakah yang dominan mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan persepsi pelanggan atas jasa layanan PT-X?
  3. Apakah variable-variabel keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan berwujud, secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepuasan pelanggan ?

 

Landasan Teori

Kepuasan Pelanggan

Dalam Era Globalisasi saat ini persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik pasar domestik (nasional) maupun pasar internasional (global). Untuk memegangkan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya. Memberikan kepuasan kepada pelanggan merupakan tujuan dari setiap usaha. Hari ini karena konsumen akan memberikan bisnis berulang kepada perusahaan dan menjadi saluran yang efektif bagi perusahaan. Untuk itu perusahaan harus selalu berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan. Dengan demikian dalam jangka panjang produk perusahaan akan tetap disukai konsumen karena dapat memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Perusahaan harus berorientasi pada kepuasan konsumen, baru setelah itu pada keuntungan, karena keuntungan merupakan efek samping dari kepuasan konsumen. Kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai berikut:

  1. Menurut Philip Kotler adalah: Tingkat perasaan seseorang setelah memban-dingkan

kinerja atau hasil yang dia rasakan dibandingkan dengan harapan (Susanto A.B., 1999, halaman 52).

  1. Menurut day (dalam Tse dan Wilton, 1998) menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian / diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya (Tjiptono, 2000, halaman 146).

Harapan Pelanggan

Menurut Olson dan Dover (dalam Zeithaml et al, 1993) harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk, yang dijadikan standar atau acuan dalam menilai kinerja produk (barang atau jasa). Menurut Zeithaml et al., 1993 mengemukakan model konseptual mengenai harapan pelanggan terhadap jasa ditunjukkan oleh gambar 2.2 (Tjiptono, 2000, halaman 62). Harapan pelanggan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Enduring Service Intensifiers
  2. Personal Need
  3. Transitory Services Intensifiers.
  4. Perceived Service Alternatives
  5. Self-Perceived Service Role
  6. Situasional Faktors
  7. Explisit Service Promise
  8. Implisit Service Promise
  9. Word-of-Mouth (Rekomendasi/saran orang lain)
  10. Past Experience

Determinan Kualitas Jasa

Menurut pakar pemasaran Parasuraman, Zeithaml, dan Berry; yang dikutif oleh Oleiver (1997); juga oleh Tjiptono (2000), terdapat sepuluh factor yang menentukan kualitas jasa (Tjiptono, 2000, halaman 69) :

1. Reability mencakup dua hal pokok, yaitu koefisien kerja (Performance) dan kemampuan untuk dipercaya (dependability). Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat semenjak saat pertama (right the first time). Selain itu juga berarti perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya.

2. Responsivenass, yaitu kemampuan atau kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan.

3. Competence, artinya setiap orang dalam suatu perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu.

4. Access, meliputi kemudahan untuk dihubungi dan ditemui.

5. Courtesy, meliputi sikap sopan santun, respek, perhatian dan keramahan.

6. Communication, artinya memberikan informasi kepada pelanggan dalam bahasa yang dapat dipahami, dan selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.

7. Credibility, yaitu sifat jujur dan dapat dipercaya.

8. Security, yaitu aman dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.

9.Understanding/ Knowing the customer, yaitu usaha untuk memahami kebutuhan pelanggan.

10.Tangibles, bukti fisik dari jasa, berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan, referensi dari jasa.

 

Kerangka Konseptual Penelitian

Dari landasan teori tersebut diatas disusun kerangka konseptual untuk penelitian ini dimana kepuasan atau ketidakpuasan pengguna jasa ditentukan oleh kualitas jasa, kualitas produk barang dan suku cadang, serta harga yang harus dibayar oleh pengguna jasa PT. X. Kualitas jasa ditentukan oleh kesenjangan antara jasa yang diharapkan oleh pengguna jasa dengan jasa yang diproduksi oleh PT. X. jasa yang diharapkan oleh pengguna jasa dipengaruhi oleh: komunikasi dari mulut kemulut, kebutuhan personal, pengalaman masa lalu, penguat daya tahan jasa, janji secara eksplisit jasa, penguat jasa yang tidak kekal, alternative jasa yang dirasakan, penguat peranan jasa yang dirasakan sendiri, dan factor-faktor situasional. Jasa yang diperoleh oleh pengguna jasa dipengaruhi oleh: penyampainan jasa, spesifikasi kualitas jasa, dan komunikasi eksternal

kepada pelanggan. Jasa yang diharapkan dan jasa yang diperoleh oleh pelanggan diukur dimensi keandalan, daya tanggap, keyakinan, empati dan keberwujudannya.

 

KESIMPULAN

Kinerja produkjasa PT-X yang diberikan ke pelanggan berdasarkan data persepsi-pelanggan belum dapat memenuhi seluruh harapan (expectation)- nya. karena :

a)        88% pelanggan menyatakan tidak puas, dan 84% menyatakan kinerjajasa tidak baik.

b)        Semua kesenjangan dari lima dimensi kualitas jasa menunjukkan negatif.

c)         Tanda konstanta pada persamaan garis regresi berlawanan dengan tanda variabel

d)        bebas dimensi kualitas jasa maupun kepuasan pelanggan.

e)        Dari 19 (sembiIan belas) indikator yang diukur hanya terdapat 4 (empat) indikator yang

f)          dapat memenuhi harapan pelanggannya, sedangkan 8 (delapan) indikator menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan, karena jauh dari harapan pelanggannya.

Kepuasan Pelanggan sebagai fungsi dari Dimensi Kinerja Jasa, lebih baik dalam menjelaskan Kepuasan Pelanggan daripada garis regresi Kepuasan Pelanggan sebagai fungsi dari Kualitas Jasa.

Dari penelitian ini diperoleh indikasi kuat, bahwa PT – X perlu meningkatkan kinerja agar siap memasuki pasar globaljasa perawatan kilang.

 

SARAN – SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, kepada PT – X disarankan sebagai berikut:

  1. Agar tetap mempertahankan : pelanggan mudah memperolah layanan jasa; membina pekerja agar memiliki attitude yang baik; memberikan pelatihan bagi pekerja sesuai dengan penugasannya; selalu menggunakan perkakas kerja yang baik agar efisien dan efektif.
  2. Meningkatkan kinerja yang menjadi kelemahan PT – X yaitu : mempercepat pengadaan suku cadang dan jasa yang bermutu; membina pekerjanya agar selalu menjaga kebersihan tempat kerja; meyakinkan pelanggan dengan melaksanakan Total Quality Control agar pelanggan yakin hasil kerja berkualitas tinggi; membina pekerja agar selalu melaksanakan consumer satisfaction; melaksanakan pembinaan sehingga hasil kerjanya rapi dan bersih; melaksanakan just in time; melaksanakan pembinaan tenaga planner agar profesional; menggunakan suku cadang berstandar internasional.
  3. Untuk dapat memasuki pasar global PT – X tidak cukup hanya melakukan 4P (Product, Price, Promotion, Place) tetapi perlu ditambahkan 3P (People, Physical evidence, Process) karena bisnis PT – X meliputi barang dan jasa.

 

Penulis : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, S.E.,M.M

 

Daftar Pustaka

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=jurnal%20pengukuran%20komunikasi%20pemasaran%20pdf&source=web&cd=3&ved=0CC0QFjAC&url=http%3A%2F%2Fdigilib.unsri.ac.id%2Fdownload%2FJurnal%2520Vol_%25201%2520-Widiyanto.pdf&ei=8vhmT5XrJsyHrAeg7a29Bw&usg=AFQjCNFTmxfJS7cly8u4YNZPngVoXN5F4g

Mengukur Efektivitas Integrated Marketing Communication

Komunikasi Pemasaran Terpadu (Integrated Marketing Communications) adalah sebuah konsep sederhana bahwa semua bentuk komunikasi dan pesan secara hati-hati terkait bersama-sama yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pasar dan proses untuk mengelola hubungan pelanggan yang mendorong nilai merek (ekuitas merek). Manfaat IMC yaitu dapat menciptakan keunggulan kompetitif, meningkatkan penjualan dan keuntungan, menghemat uang dan waktu. IMC mengikat komunikasi seluruh pelanggan dan membantu mereka bergerak melalui berbagai tahap proses pembelian. Organisasi secara simultan mengkonsolidasikan citra, mengembangkan dialog dan memelihara hubungan dengan pelanggan. Kemampuan untuk mempertahankan pelanggan untuk hidup adalah keunggulan kompetitif yang kuat.

IMC juga meningkatkan keuntungan melalui peningkatan efektivitas. Jadi, IMC dapat meningkatkan penjualan dengan peregangan pesan di beberapa alat komunikasi untuk menciptakan jalan lebih bagi pelanggan untuk menjadi sadar, tertarik dan akhirnya melakukan pembelian.  IMC membuat pesan lebih konsisten dan karena itu lebih kredibel. Proses Integrated Marketing Communications Sebagai Pendekatan Efektif dan Komprehensif Promosi merupakan salah satu hal penting dalam proses IMC. Ada banyak cara untuk mempromosikan produk/jasa perusahaan/organisasi melalui berbagai kegiatan Promotion Mix. Usaha-usaha promosi yang yang dilakukan harus bisa melalui tahapan konsep AIDDA :

  • Menarik perhatian audience/calon konsumen ( Attention )
  • Menciptakan ketertarikan pada diri audience/calon konsumen ( Interest )
  • Membangkitkan hasrat audience/calon konsumen ( Desire )
  • Mendorong pembuatan keputusan ( Decission )
  • Menetapkan dan memutuskan tindakan untuk memuaskan hasrat dan merealisasikan keputusan yang sudah dibuat ( Action )

Sebuah proses IMC yang efektif melalui tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Identify the target audience, mengidentifikasi target audience, dengan mengacu kepada hasil market research dan data sekunder lainnya.
  2. Determine the communications objectives, menetapkan tujuan dan sasaran komunikasi.
  3. Designs the messaging content, merancang isi pesan yang paling tepat bagi target audience dan sasaran/tujuan yang ditetapkan. Efektivitas peyampaian pesan, menentukan sukses tidaknya IMC.
  4. Select the means for communications, memilih cara komunikasi ( termasuk pemilihan media komunikasi )
  5. Define the mix of media, budget and priorities, menetapkan media-media yang akan digunakan, anggaran prioritas.
  6. Measure the effectiveness of the efforts, mengukur efektivitas usaha yang dilakukan. Selain itu terdapat beberapa komponen dari

Komunikasi Pemasaran Terpadu diantaranya yaitu advertising, direct marketing, publicity/public relation, dan sales promotion.

  1. Advertising, periklanan merupakan elemen penting dari bauran komunikasi pemasaran. Sederhananya, iklan mengarahkan pesan pada sejumlah besar orang dengan komunikasi tunggal. Dalam hal ini adalah media massa seperti televisi, koran, majalah, radio, baliho, dan lain-lain.
  2. Public Relation, kehumasan atau public relation (PR) merupakan fungsi manajemen yang mengevaluasi perilaku masyarakat, mengidentifikasikan prosedur dan menyesuaikannya dengan kepentingan masyarakat umum serta kemudian menjalankannya untuk mendapatkan pemahaman dan penerimaan dari masyarakat. PR mempunyai tujuan yang lebih luas dari publisitas karena tujuan utamanya adalah mengupayakan dan menjaga reputasi positif dari produk atau perusahaan. Bentuk penerapan PR antara lain :
    1. Publikasi khusus
    2. Perisipasi dalam kegiatan masyarakat
    3. Penggalangan dana
    4. Sponsorship dan event dan lain – lain.
    5. Personal selling,  seorang penjual menjual produk individu, layanan atau solusi kepada klien. Wiraniaga sesuai manfaat menawarkan mereka dengan kebutuhan spesifik dari klien. Hari ini, penjualan pribadi mencakup pengembangan hubungan klien lama.   Interaksi ini memberikan fleksibilitas dimana penjual dapat melihat atau mendengar respon atau reaksi dari calon pembeli dan menyesuaikannya dengan pesan penjualannya.
    6. Direct Marketing, pemasaran langsung adalah pendekatan saluran bebas untuk distribusi dan / atau komunikasi pemasaran. Jadi sebuah perusahaan mungkin memiliki strategi berurusan dengan pelanggan secara langsung, dalam arti bahwa kesepakatan tersebut dilakukan langsung antara produsen dan pelanggan. Perangkat utama Penjualan Langsung adalah iklan yang bersifat respon langsung (direct response) dimana produk dipromosikan melalui iklan dan mendorong konsumen untuk langsung membeli dari perusahaan / pabrik (bukan melalui toko atau distributor). Umumnya berupa pencantuman formulir pemesanan di iklan, ajakan untuk menelpon saat itu juga atau penggunaan kupon dengan waktu terbatas. Contoh : direct mail, Telemarketing, online tools dan direct  selling.
    7. Sales Promotion, promosi penjualan adalah setiap inisiatif yang dilakukan oleh organisasi untuk mempromosikan peningkatan penjualan, penggunaan atau percobaan produk atau jasa (inisiatif yaitu yang tidak tercakup oleh unsur-unsur lain dari komunikasi pemasaran atau bauran promosi). Promosi penjualan bervariasi.

Berikut adalah beberapa contoh populer kegiatan promosi penjualan:

  1. Buy-One-Get-One-Free (BOGOF) – yang merupakan contoh dari promosi diri melikuidasi.
  2. Customer Relationship Management (CRM) insentif seperti bonus poin atau uang dari kupon. Ada banyak contoh dari CRM, dari bank untuk supermarket.
  3. Media baru. Website dan ponsel yang mendukung promosi penjualan.
  4. Merchandising.
  5. Diskon.
  6. Sampling.
  7. Voucher dan kupon.

Lalu bagaimana mengukur efektivitas IMC? Efektivitas IMC ini sangat penting terutama bagi manajemen karena dalam prosesnya IMC banyak menguras biaya yang tidak sedikit.  Efektifitas IMC  bisa dilihat dari business outcomes (1) dan communication outcomes (2). Business outcomes dilihat melalui proses valuasi konsumen dalam pasar yang telah diidentifikasi berdasarkan estimasi terhadap investasi konsumen (ROCI – Return on Customer Investment).  Estimasi financial atau business outcomes prediction tersebut kemudian diverifikasi dan dievaluasi atas beberapa point sepanjang waktu untuk melihat efektivitas program IMC.  ROCI seringkali disamakan dengan persentase loyalitas customer yang melakukan re-consumption atau kalkulasi continuous buying atas produk dari customer.

ROCI merupakan kalkulasi dari hasil financial atas program IMC yang berfokus pada loyalitas pelanggan.  ROCI dapat dihitung berdasarkan continuous buying yang dilakukan oleh pelanggan berdasarkan metode customer profit dan sales growth. Jadi misalnya, seperti contoh Rinso di atas. Misalnya, business outcomes nya adalah 8 dari 10 dari ibu Indonesia menggunakan Rinso. Dari kedelapan ibu Indonesia ditargetkan berapa customer profit dan sales growth yang diharapkan, yang ujung-ujungnya merefleksikan  pola continuous buying customer.  Pola continuous buying ini yang bisa menunjukan loyalitas customer akibat melihat IMC Rinso yang dilanjutkan menjadi attitude customer untuk membeli dan terus membeli Rinso. Karena bagi kedelapan ibu Indonesia tadi, Rinso adalah satu-satunya sabun cuci yang mendukung kreativitas anak-anaknya (walaupun mungkin banyak sabun cuci merek lain yang kualitasnya tidak kalah bagus daripada Rinso).

Itu ROCI yang merupakan kategori business outcomes yang TANGIBLE.  Lalu ada juga yang disebut communication outcomes yang INTANGIBLE, melalui pengukuran brand equity.  Brand Equity pada dasarnya adalah ukuran untuk mengetahui brand performance.  Intinya adalah customer impact dan asset related (Reid, Luxton, Mavodo, 2005).  Brand Equity pada dasarnya meliputi pengukuran atas perubahan kesadaran (awareness) pelanggan, asosiasi pelanggan, sikap pelanggan, perasaan pelanggan dan pengalaman pelanggan.  Buat mudahnya, jika kita sudah punya komunitas untuk pelanggan atas produk kita, kita bisa melakukan survey pelanggan untuk mengukur elemen-elemen di atas.

Penulis : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, S.E,. MM.

 

Daftar Pustaka :

http://en.wikipedia.org/wiki/Integrated_marketing_communications

http://integrated-marketing-communications.blogspot.com/2008/11/proses-integrated-marketing.htm

http://mhs.blog.ui.ac.id/dennie.atika/2011/01/04/manajemen-periklanan-proses-promosi-ipod/

http://ghondy.files.wordpress.com/2011/09/ipod-nano.jpg

http://ghondy.files.wordpress.com/2011/09/ipodad.jpg

 

 

Mengukur Brand Equity (Ekuitas Merek)

Brand Equity (Kekuatan Suatu Merek )

Menurut Susanto dan Wijanarko (2004), dalam menghadapi persaingan yang ketat, merek yang kuat merupakan suatu pembeda yang jelas, bernilai, dan berkesinambungan, menjadi ujung tombak bagi daya saing perusahaan dan sangat membantu dalam strategi pemasaran. Keller (1993) juga menyatakan bahwa brand equity adalah keinginan dari seseorang untuk melanjutkan menggunakan suatu brand atau tidak. Pengukuran dari brand equity sangatlah berhubungan kuat dengan kesetiaan dan bagian pengukuran dari pengguna baru menjadi pengguna yang setia.

Beberapa pengertian brand equity adalah:

  • Susanto dan Wijanarko (2004), ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu barang atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan.
  • East (1997), “Brand equity or brand strength is the control on purchase exerted by a brand, and, by virtue of this, the brand as an asset that can be exploited to produce revenue”. (Artinya ekuitas merek atau kekuatan merek adalah kontrol dari pembelian dengan menggunakan merek, dan, kebaikan dari merek, merek sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan).
  • Kotler dan Armstrong (2004), “Brand equity is the positive differential effect that knowing the brand name has on customer response to the product or service” (Artinya ekuitas merek adalah efek diferensiasi yang positif yang dapat diketahui dari respon konsumen terhadap barang atau jasa).

Jadi brand equity adalah kekuatan suatu brand yang dapat menambah atau mengurangi nilai dari brand itu sendiri yang dapat diketahui dari respon konsumen terhadap barang atau jasa yang dijual.

 

 

Manfaat Pengukuran Ekuitas Merek:

  • Hasil pengukuran dapat digunakan sebagai benchmark terhadap market leader dan atau kompetitor lain.
  • Hasil pengukuran dapat dijadikan guidance untuk penyusunan strategi komunikasi pemasaran
  • Membantu dalam pelaksanaan manajemen perusahaan

Menurut Soehadi (2005), kekuatan suatu merek (brand equity) dapat diukur berdasarkan 7 indikator, yaitu:

  • Leadership: kemampuan untuk mempengaruhi pasar, baik harga maupun atribut non-harga.
  • Stability: kemampuan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.
  • Market: kekuatan merek untuk meningkatkan kinerja toko atau distributor.
  • Internationality: kemampuan merek untuk keluar dari area geografisnya atau masuk ke negara atau daerah lain.
  • Trend: merek menjadi semakin penting dalam industri.
  • Support: besarnya dana yang dikeluarkan untuk mengkomunikasikan merek.
  • Protection: merek tersebut mempunyai legalitas.

Menurut Susanto dan Wijanarko (2004) yang mengadaptasi teori Aaker, brand equity dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori:

  1. Brand awareness

Ada 4 tingkatan brand awareness yaitu:

  1. Unaware of brand (tidak menyadari merek)

Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek, dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.

Ada 4 indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh konsumen aware terhadap sebuah brand antara lain:

  1. Recall yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek apa saja yang diingat.
  2. Recognition yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut termasuk dalam kategori tertentu.
  3. Purchase yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan suatu merek ke dalam alternatif pilihan ketika akan membeli produk/layanan.
  4. Consumption yaitu seberapa jauh konsumen masih mengingat suatu merek ketika sedang menggunakan produk/layanan pesaing
  5. Brand recognition (pengenalan merek)

Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat seorang pembeli memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian.

  1. Brand recall (pengingatan kembali terhadap merek)

Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk.

  1. Top of mind (puncak pikiran)

Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan orang tersebut dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang paling banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada di dalam benak konsumen.

  1. Perceived quality

Didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan maksud yang diharapkan.

  1. Brand association

Adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah produk. Asosiasi ini tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterikatan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya.

  1. Brand loyalty

Merupakan ukuran kesetiaan seorang pelanggan pada sebuah merek. Loyalitas memiliki tingkatan sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

  1. Other proprietary brand assets

Adalah hal-hal lain yang tidak termasuk dalam 4 kategori diatas tetapi turut membangun brand equity (pp. 127-134).

Sedangkan menurut Kim dan Kim (2004), brand equity meliputi 4 hal, antara lain loyalitas merek, perceived quality, citra merek, dan brand awareness.

Membangun dan Mengelola Ekuitas Merek. Pada tahun 1989 dalam makalahnya Mengelola Ekuitas Merek, Peter H. Farquhar menguraikan tiga tahap yang diperlukan dalam rangka untuk membangun merek yang kuat:

  • Pendahuluan – memperkenalkan produk berkualitas dengan menggunakan strategi merek sebagai platform dari yang untuk peluncuran produk masa depan. Sebuah evaluasi positif oleh konsumen adalah penting.
  • Elaborasi – membuat merek mudah diingat dan mengembangkan penggunaan ulangi. Harus ada sikap merek diakses, yaitu, konsumen dengan mudah harus ingat evaluasi positif nya merek.
  • Fortifikasi – merek harus membawa gambar yang konsisten dari waktu ke waktu untuk memperkuat tempatnya di benak konsumen dan mengembangkan hubungan khusus dengan konsumen. Ekstensi merek lebih lanjut dapat membentengi merek, tetapi hanya dengan produk-produk terkait memiliki kecocokan yang dirasakan dalam benak konsumen.

Bauran pemasaran harus fokus pada membangun dan melindungi ekuitas merek. Sebagai contoh, jika merek diposisikan sebagai produk premium, kualitas produk harus konsisten dengan apa yang konsumen harapkan dari merek, harga jual rendah tidak boleh digunakan bersaing, saluran distribusi harus konsisten dengan apa yang diharapkan dari sebuah merek premium , dan kampanye promosi harus membangun asosiasi konsisten. Akhirnya, ekstensi berpotensi dilutif yang konsisten dengan persepsi konsumen merek harus dihindari. Ekstensi juga harus dihindari jika merek inti belum cukup kuat

Penulis : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, S.E,. MM.

 

Daftar Pustaka :

http://id.wikipedia.org/wiki/Merek

http://mamikikeyu.wordpress.com/2011/06/04/brand-equity/

http://en.wikipedia.org/wiki/Brand_equity

http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/07/konsep-dan-pengukuran-ekuitas-merek.html

http://id.shvoong.com/business-management/marketing/2171558-definisi-pengertian-dan-manfaat-ekuitas/

 

 

 

Definisi Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

Sejarah Komunikasi

Sejarah komunikasi Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti ‘sama’.Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another).

Pada awalnya, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis.Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi.Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, komunikasi transaktif|transaktif, komunikasi bertujuan|bertujuan, atau komunikasi tak bertujuan|tak bertujuan.

Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut. Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industrialisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri.

Komponen komunikasi

Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah

• Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.

• Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.

• Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.

• Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain

• Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.

 

Proses komunikasi

Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya. media (channel) alat yang menjadi penyampai pesan dari komunikator ke komunikan. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.

Model Komunikasi

Model-model komunikasi. Dari berbagai model komunikasi yang sudah ada, di sini akan dibahas tiga model paling utama, serta akan dibicarakan pendekatan yang mendasarinya dan bagaimana komunikasi dikonseptualisasikan dalam perkembangannya.

• Model Komunikasi Linear. Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication. Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel). Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model). Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci: sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver). Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalam proses komunikasi.

• Model Interaksional. Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.

• Model transaksional. Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun 1970. Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi. Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi. Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melalukan proses negosiasi makna.

Konsep Integrated Marketing Komunikasi

IMC (Integrated Marketing Communication) adalah sebuah konsep dari perencanaan komunikasi pemasaran yang memperkenalkan nilai tambah dari rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin komunikasi—misalnya periklanan umum, respon langsung, sales promotion, dan PR—dan mengombinasikan disiplin-disiplin ini untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan dampak komunikasi yang maksimal. Secara sederhana-nya IMC dapat diartikan sebagai “Proses dari pengelolaan customer relationships yang menggerakkan brand value.” Sedangkan secara spesifik, IMC dapat diartikan sebagai “proses yang mempunyai fungsi bersilang dalam menciptakan dan memelihara hubungan yang menguntungkan dengan customer dan stakeholder lainnya dengan mengontrol dan mempengaruhi secara strategis semua pesan yang terkirim kepada kelompok ini serta menggerakkan dialog dengan maksud tertentu kepada mereka.”

Integrated Marketing Communication (IMC) adalah satu dari sekian proses yang tersedia guna membina hubungan dengan customer. Apa yang membedakan IMC dengan proses customer-centric lainnya adalah dasar dari proses tersebut adalah komunikasi, yang merupakan jantung dari semua hubungan, dan juga merupakan proses yang sirkuler. Seperti yang sudah disebutkan diatas, konsep dasar dari IMC adalah komunikasi. Dengan komunikasi ini, IMC berusaha untuk memaksimalkan pesan positif dan meminimalkan pesan negatif dari suatu brand, dengan sasaran menciptakan dan menyokong brand relationship. Untuk membangun hubungan jangka panjang, IMC juga digunakan untuk membangun dan memperkuat brand. Brand relationship yang positif juga akan menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai dari pemegang saham perusahaan tersebut.

Semakin banyaknya istilah IMC yang dipakai oleh para praktisi dan pakar pendidikan, namun tidak ada istilah yang benar-benar disetujui tentang apakah IMC itu? Tapi ada dua ide pokok mengenai IMC:

• Komunikasi pemasaran yang bersifat one-voice. Maksudnya adalah, walaupun elemen komunikasi pemasaran yang digunakan berbeda-beda dalam meraih konsumen namun semua itu harus dapat dikoordinasi dengan cara yang tepat oleh berbagai organisasi dan agensi yang bekerja pada elemen-elemen yang berbeda tersebut

• Komunikasi yang berintegrasi. Komunikasi disini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan brand awareness atau pencitraan produk yang baik saja, namun juga harus dapat menimbulkan hasil penjualan yang baik.

Filosofi imc dalam perspektif pemasaran dan komunikasi. Perspektif Komunikasi. Lagi, seperti yang sudah diuraikan diatas, fondasi yang penting dari IMC merupakan komunikasi—pengiriman dan penerimaan pesan. Seperti halnya kita berkomunikasi dengan teman, kita secara sadar ataupun tidak, menggunakan kata-kata, aksi, gerak tubuh, bahkan mimik muka tertentu. Ketika kita berkomunikasi dengan ortu atau guru, mungkin strategi komunikasi kita akan cenderung serius. Tetapi jika kita berkomunikasi dengan sahabat, pesan yang disampaikan mungkin akan lebih fleksibel, dan bahkan terkesan konyol. Tetapi, walaupun kita mengirimkan berbagai jenis pesan kepada berbagai jenis orang, semua isi pesan yang datang dari kita mempunyai konsistensi yang membuat penerimanya tahu bahwa pesan ini datang dari kita, bukan dari orang lain. Dalam IMC pun, konsistensi juga diperlukan agar brand image dapat menancap kuat dalam benak konsumen.

Dalam prakteknya, IMC tidak jauh berbeda dengan hubungan personal. Memilih suatu brand, sama halnya dengan memilih teman. Kita mempunyai banyak pilihan yang harus dipertimbangkan. Terkadang kita lebih memilih berteman dengan orang yang biasa-biasa saja tapi pengertian dibandingkan dengan orang yang populer tapi egois, bukan? Sama halnya IMC dari perspektif komunikasi, kadang pilihan kita terhadap suatu brand tergantung dari apa yang dikomunikasikannya kepada kita. Misalnya: kita memilih bank X karena tagline-nya yang berbunyi “melayani dengan senyum” disertai dengan pelayanan dari teller-nya yang benar-benar ramah dan dengan senyuman. Bahkan menurut penelitian dari customer yang meninggalkan brand tertentu, 70 persen-nya mengatakan bahwa alasan mereka meninggalkan brand itu bukan karena produk/jasanya yang kurang memuaskan, tetapi dikarenakan bagaimana cara mereka memperlakukan customer kurang memuaskan.

Perspektif Pemasaran. Untuk mengerti IMC, kita harus memahami pengertian dasar dari pemasaran, karena fungsi-fungsi IMC sendiri berada dibawah payung pemasaran. Seperti halnya pemasaran, IMC sendiri merupakan konsep sekaligus proses. Dalam konsepnya, IMC menciptakan customer dan brand equity; sedangkan dalam prosesnya me-manage hubungan jangka panjang dengan customer. Dalam IMC, kita memadukan fungsi-fungsi pemasaran seperti advertising, personal selling, sales promotion, PR, dsb. guna menciptakan dan memelihara suatu brand relationships. Untuk menciptakan suatu brand relationships yang baik, maka diperlukan penciptaan brand message yang baik pula. Sekali lagi, untuk menciptakan brand message yang baik itu, maka fungsi-fungsi pemasaran harus berjalan terpadu dan tidak saling kontradiksi. Misalnya: ketika kita mengiklankan produk parfum untuk kalangan wanita elit, maka pengemasan parfumnya harus dibuat dengan kesan mewah juga. Nah, ketika brand relationship terpelihara dengan baik, maka dengan sendirinya customer akan memilih brand kita, dan akan meningkatkan penjualan serta meraih untung kelak. Secara otomatis, dengan IMC itulah, maka tujuan dari pemasaran, yakni supaya customer mengenal dan mau membeli produk kita, telah tercapai.

Konsep dasar pengembangan berbagai program imc

1. DIRECT MARKETING. Disaat perusahaan ingin berhubungan langsung dengan customer tanpa melalui retailer, maka digunakanlah direct-response marketing, seperti: close-loop, interactive, database-driven messaging system yang menggunakan banyak jenis media untuk menciptakan respon behavioral. Direct marketing merupakan salah satu fungsi IMC yang terdiri dari front-end dan back end operations. Front-end menyusun harapan-harapan dari konsumen yang mencakup the offer (yakni segala sesuatu yang nyata maupun tidak dijanjikan oleh perusahaan guna mencapai perilaku customer yang diinginkan perusahaan, misal: penawaran harga khusus, garansi, dll), the database (mendapatkan data customer-nya dan menggunakan data itu untuk penawaran selanjutnya) dan the response (memberikan respon yang baik terhadap customer, misal: dengan membuat toll-free-line untuk layanan customer) sedangkan back end berusaha mempertemukan harapan konsumen dengan produk, mencakup fulfillment (yakni membuat produk atau informasi yang diminta oleh konsumen cocok, efektif dan tepat waktu).

2. SALES PROMOTION. Sales promotion merupakan istilah singkat dari penawaran nilai tambah yang dirancang untuk menggerakkan dan mempercepat respons dari customer. Contoh dari nilai tambah itu sendiri adalah “kesempatan untuk memenangkan hadiah”, potongan harga (seperti diskon 20 %, sale 50 % off, dsb.), produk ekstra (seperti “isi teh kotak 30% lebih banyak”), sample gratis dan premiums (misalnya beli rinso dapat piring cantik). Pada konsepnya, Sales promotion digunakan untuk memotivasi customer agar melakukan aksi dengan membeli produk yang dipicu dengan adanya penawaran produk dalam jangka waktu terbatas.

3. PUBLIC RELATIONS/MPR. PR dalam konsepsi IMC melakukan pekerjaan yang sangat luas dan beragam, tidak hanya bertugas men-track opini publik saja, tetapi juga bertugas me-manage corporate brand dan menjaga reputasinya. Lalu MPR merupakan salah satu fungsi PR yang digunakan sebagai media tanpa bayar untuk menyampaikan brand information guna mempengaruhi calon customer atau customer secara positif. MPR sendiri lebih fokus kepada customer atau calon customer dan melengkapi strategi marketing yang lain dengan 4 cara: (1) meningkatkan kredibilitas brand message; (2) menyampaikan message sesuai targetnya berdasarkan aspek demografis, psikografis, etnik atau khalayak secara regional; (3) mempengaruhi opinion leader atau trendsetter yang berpengaruh; (4) melibatkan customer dan stakeholder lainnya pada event spesial.

4. PERSONAL SELLING. Personal Selling adalah komunikasi dua arah dimana seorang penjual menjelaskan fitur dari suatu brand untuk kepentingan pembeli. Dalam Personal Selling, dilibatkan komunikasi yang sifatnya tatap muka dan kegiatannya pada sekaramg ini terfokus pada pemecahan masalah dan penciptaan nilai bagi customer (lebih dikenal sebagai partnership) Dimensi dari partnership ini adalah, seorang salesperson harus memahami customer-nya dengan baik. Personal selling sendiri merupakan bagian dari direct marketing, namun perbedaan dasarnya adalah dalam personal selling, perusahaan yang dijembatani salesperson berinteraksi secara tatap muka dengan customer.

5. ADVERTISING. Advertising merupakan “Suatu bentuk dari presentasi non-personal dan promosi dari suatu ide, barang atau jasa yang tidak gratis (berbayar) dan dilakukan oleh sponsor (perusahaan) yang teridentifikasi. Karakteristik dari iklan sendiri adalah bersifat non-personal, komunikasi satu arah, ada sponsor (khalayak yang peduli), dan bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku. Biasanya advertising itu dipakai ketika suatu perusahaan ingin mengubah customer dari unaware, menjadi aware terhadap suatu brand.

6. PUBLICITY. Publicity sendiri merupakan salah satu jasa yang disediakan oleh Public Relations Firm maupun Advertising Agency. Publicity timbul untuk membantu menangkap perhatian publik dan membedakan tiap-tiap perusahaan tersebut dari perusahaan-perusahaan lain yang menjadi saingannya. Publicity dalam MPR berarti memeproleh penyebutan nama merek di media massa dalam cara-cara yang berbeda, waktu dan tempat sesering mungkin sehingga menjadi top-of mind awareness. Walaupun PR menawarkan kredibilitas yang lebih besar dalam membangun publicity, namun advertsing dapat menawarkan awareness dan kontrol yang lebih besar. Lalu untuk beberapa alasan, maka sejumlah perusahaan menyampaikan pesan PR mereka lewat advertising.

7. EVENTS/SPONSORSHIP. Event marketing adalah situasi yang signifikan atau peristiwa promosional yang mempunyai fokus utama untuk menangkap perhatian dan melibatkan customer dalam event tersebut. Perusahaan dan organisasi-organisasi non-profit menggunakan events dengan beberapa alasan, yaitu: untuk melibatkan sasaran khalayak, untuk mengasosiasikan sebuah brand dengan aktivitas, gaya hidup atau orang-orang tertentu, untuk meraih sasaran khalayak yang sulit dijangkau, untuk meningkatkan brand awareness dan untuk menyediakan platform yang baik bagi brand publicity. Sponsorship adalah dukungan finansial kepada suatu organisasi, orang, atau aktivitas yang dipertukarkan dengan publisitas merek dan suatu hubungan. Sponsorship dapat membedakan sekaligus meningkatkan nilai suatu merek. Beberapa pedoman yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam memilih sponsorship: target khalayak, penguatan citra merek, dapat diperpanjang, keterlibatan merek, biaya yang efektif dan sponsor lainnya.

8. INTERACTIVE MARKETING. Interactive marketing disini lebih tertuju kepada bagaimana suatu perusahaan mampu atau tidak berkomunikasi dengan customer-nya atau mampu memberikan solusi yang baik, yang terkait dengan penggunaan produk. Dalam hal ini interactive marketing juga terkait dengan customer relationship management.

Internet Sebagai Media Komunikasi

Beberapa fenomena dan kelebihan internet sebagai media informasi dan komunikasi dibandingkan dengan media lain. Mudah cepat dan murah dengan jangkauan global, hal ini didukung dengan fakta bahwa untuk menjangkau pengguna sebanya 60 juta orang Butuh 30 tahun untuk radio, Butuh 15 tahun untuk televisi, Butuh 3 tahun untuk Web. Informasi apapun bisa dicari di Web dengan mesin pencari : Yahoo, Google, Altavista, dll. Bermunculan perusahaan sudah membangun situs Web. Situs komersial tumbuh paling cepat. Bermunculan situs media online ( berbaris media cetak maupun yang tidak : Kompas Cyber Media, Detik, Satunet, CNN, dll ). Melalui e-mail, dengan biaya murah dan kini sudah menjadi identitas “wajib” bagi pelaku bisnis. Sarana interaktif untuk mewujudkan bisnis melalui internet : sales inquiry, order, registrasi klien, dll

Kegiatan komunikasi begitu penting aplikasinya dalam kehidupan seharihari. Secara aplikatif, komunikasi memiliki banyak sekali bentuk. Dewasa ini, berkat makin majunya teknologi, komunikasi telah berkembang dan berubah bentuknya. Media-media komunikasi sudah makin maju, dan mampu memberikan pelayanan dan fungsi-fungsi yang lebih efektif dan efisien dalam berkomunikasi. Salah satu media yang mampu melakukan hal ini adalah komputer. Melalui komputer, kini individu dapat mengakses internet. Internet adalah suatu jaringan yang memungkinkan individu-individu untuk saling berhubungan dan mengadakan kontak melalui komputer. Internet mampu mengatasi hambatan jarak dan waktu yang dahulu dirasakan untuk berkomunikasi. Sama seperti komunikasi secara langsung, diasumsikan bahwa komunikasi melalui internet juga dipengaruhi oleh faktor-faktor, seperti faktor-faktor individu.

Dari berbagai sumber, ditemukan pula terdapat faktor-faktor yaitu anonimitas, kesamaan, dan kecemasan pribadi yang dirasa berhubungan dengan komunikasi melalui internet. Sebagai suatu kegiatan komunikasi, komunikasi melalui internet juga memiliki banyak tujuan dalam aplikasinya. Salah satu tujuan tersebut adalah menjalin suatu hubungan dengan orang lain, atau yang disebut juga hubungan akrab. Hubungan akrab atau intimasi sendiri dapat dilihat dari adanya selfdisclosure serta rasa peduli dan sayang antar individu, dan merupakan salah satu wujud hasil dari kegiatan berkomunikasi. Skripsi ini bertujuan untuk mengidentifikasi deskrpsi hubungan antara faktor-faktor baik faktor individu ataupun faktor lainnya terhadap komunikasi melalui internet. Skripsi ini juga bertujuan untuk mengetahui deskripsi hubungan antara komunikasi yang terjadi melalui internet dengan intimasi yang terbentuk.

Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan penelitian di warung internet di sepanjang jalan Babakan Raya, Kabupaten Dramaga. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan dilakukan kepada 65 orang responden. Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor individu yang berhubungan dalam penggunaan internet sebagai media komunikasi. Hubungan tersebut terlihat dari deskripsi penggunaan aplikasi komunikasi di internet sebagai wujud penggunaan internet sebagai media komunikasi, dengan karakteristik individu, yakni jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan pekerjaan pengguna internet. Selain itu, dari data yang telah dikumpulkan, diketahui bahwa sifat anonimitas pengguna internet tergolong tinggi dalam penggunaan internet sebagai media komunikasi, adapun tingkat kesamaan dan tingkat kecemasan komunikasi yang dirasakan pengguna internet diketahui tergolong rendah. Dilihat dari polanya, hasil data tingkat anonimitas, kesamaan, dan kecemasan komunikasi tersebut berhubungan dan berpotensi menjadi penyebab rendahnya tingkat penggunaan internet secara umum.

Hasil yang mengejutkan ditemukan dari hasil data mengenai hubungan akrab. Dalam penelitian, hubungan akrab dilihat dari tiga faktor, yakni keakraban, kepercayaan, serta kepedulian dan kasih sayang. Sehubungan dengan hasil sebelumnya, hasil data mengenai keterbukaan dan kepercayaan diketahui rendah, hal ini sesuai dengan teorinya dimana bila tingkat anonimitas tinggi, dan tingkat kesamaan rendah, dapat disimpulkan tingkat kontak dan interaksi melalui internet adalah rendah, sehingga tidak dapat menciptakan keterbukaan dan kepercayaan dari diri pengguna internet kepada orang lain, namun hasil tingkat kepedulian dan rasa sayang pengguna ternyata tergolong tinggi. Semua hasil tersebut ternyata sesuai dengan Henline (2006) yang menyatakan bahwa dalam berkomunikasi melalui internet, bisa terjadi apa yang disebut keakraban palsu, dimana keakraban palsu dapat timbul saat seseorang melakukan kontak atau interaksi melalui internet, dan merasakan keakraban, tapi tidak benar-benar mengenal siapa lawan bicaranya.

Ditulis Oleh : Tomas Setya Wahyu B

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

Daftar Pustaka

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/bahan%20marcomm/Komunikasi%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.mht

http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69/

file://localhost/I:/markom/Pengertian%20Komunikasi%20«%20Catatan%20Kuliah.htm http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69/

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/bahan%20marcomm/SEJARAH%20PERKEMBANGAN%20TEKNOLOGI%20KOMUNIKASI%20–%20Bag%20Dua%20«%20MEDIA%20PENDIDIKAN.mht

file://localhost/C:/Users/acer/Documents/KULIAH/SEMESTER%206/MARCOMM/bahan%20marcomm/Komunikasi%20Pemasaran%20Terpadu%20-%20Kuliah%20Online%20Komunikasi.mht

http://wss-id.org/blogs/febiyanti_dwi_maharani_sby/archive/2007/09/24/internet-sebagai-media-komunikasi.aspx

http://lelakitulen.blogspot.com/2007/08/perkembangan-ilmu-komunikasi-di.html

http://buyuangblogger95.blogspot.com/2011/04/perkembangan-media-komunikasi-dari-masa.html

http://vickydyaz.blog.com/perkembangan-media-komunikasi/

file://localhost/I:/markom/Perkembangan%20Teknologi%20Komunikasi%20»%20Blog%20Archive%20»%20Telekomunikasi%20di%20Indonesia.%20Maju%20atau%20Mundur.htm

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!