Keberhasilan E-Commerce

April 18th, 2021

JD.ID

Industri ritel online di Indonesia masih sangat kecil porsinya dibanding offline. Tapi, justru di situlah potensinya. Tidak heran, banyak pemain lokal menjajal peruntungannya di sektor e-commerce. Pemain asing pun ekspansi ke Indonesia, negara dengan populasi besar lebih dari 250 juta penduduk. Angka itu juga yang membuat e-commerce asal Tiongkok JD.com datang ke Indonesia kemudian menggunakan domain .ID menjadi JD.ID untuk area bisnisnya di sini. Pangsa pasar JD.com saat ini memang baru 18,6% dibanding Tmall yang 61,4%. Namun, pendapatan mereka pada kuartal pertama 2016 mampu mengalahkan platform e-commerce milik Jack Ma tersebut. Pemasukan JD.com tumbuh 47% atau hampir mencapai US$8,4 miliar. Sementara, jumlah konsumennya naik 73% dari 97 juta menjadi 169 juta orang.

“Populasi besar akan berpengaruh kepada basis pengguna kami. Selain itu, ekonomi Indonesia tumbuh dengan baik. Populasi penduduk usia muda juga cukup besar. Itulah alasan-alasan mengapa kami membuka bisnis di sini. Industri e-commerce Indonesia pun masih sangat muda, sehingga kami rasa timing-nya sangat bagus,” ujar Heru Kurnadi, Head of Business Development JD.ID. Di negeri asalnya JD.com adalah pesaing utama Tmall milik Alibaba. Padahal, jika ditilik soal populasi, India lebih besar populasinya dibanding Indonesia. Menurut Heru, kesamaan visi dan terutama hubungan antara Tiongkok dan Indonesia menjadi pertimbangan. Sementara, negara dengan populasi tidak terlalu besar seperti Malaysia dan Thailand misalnya belum masuk pertimbangan JD.com untuk berbisnis.

Alasan bahwa industri e-commerce di Indonesia masih muda boleh jadi alasan paling spesifik. Heru mengatakan, walau sudah banyak bertebaran e-commerce di Indonesia, ia tidak menganggapnya sebagai kompetitor. Industri ini baru mulai dan belum menunjukkan aroma kompetisi antar e-commerce. Jadi, semua pemain di sektor ini masih dalam tahap bersama-sama membesarkan. Tapi, di situlah potensinya. Di saat pangsa pasarnya masih kecil ini, dan Heru merasa tepat bagi JD untuk masuk ke Indonesia.

Platform online JD.ID kian mengukuhkan konsistensinya sebagai salah satu e-commerce besar di Indonesia. Meski bukan ritel daring pertama di Indonesia, perusahaan ini diyakini paling unggul dalam inovasinya di bidang teknologi. Beberapa waktu lalu, JD.ID mengembangkan sejumlah proyek seperti JD.ID Virtual. Program pertama ini bahkan diteruskan dengan menggaet ritel fesyen dan kecantikan seperti Lunadorii sebagai upaya mempermudah cara berbelanja konsumen. Memanfaatkan area publik seperti stasiun, JD.ID Virtual memasang puluhan banner dengan gambar pelbagai produk kebutuhan harian. Bermodal barcode di setiap produk pada banner, konsumen tinggal menunggu barang pesanan tiba di lokasi yang diinginkan.

“Komitmen kami yang lain adalah soal pengiriman barang sampai tujuan. Kami ingin tunjukan kami punya servis sesuai dengan yang kami janjikan. Jika kami katakan akan kirim dalam waktu tiga hari, kami akan berusaha untuk memenuhinya. Maka dari itu, penting bahwa kami menargetkan untuk memiliki armada pengiriman sendiri,” sambung Heru.

Namun, paling anyar adalah JD.ID X. Perusahaan itu membuka gerai offline pertamanya di Indonesia. Gerai ini menjadi gerai pertama dengan memanfaatkan teknologi seperti artificial intelligent technology. Dari gerai ini, tidak ada penggunaan uang tunai sebagai alat pembayaran. Konsumen cukup menghubungkan kartu kredit atau go-pay dengan akun JD.ID. Setelahnya, setiap barang belanjaan akan dipotong secara otomatis dengan waktu sekitar 5 – 10 detik. Hal ini disebut sebagai salah satu inovasi terbaik JD.ID mengungguli para e-commerce lain.

Head of Corporate Business Development JD.ID Andrew You mengatakan perusahaannya berbeda dengan pemain e-commerce lainnya dengan lebih memperhatikan pengalaman pelanggan. Kemunculan JD.ID X disebut sebagai salah satu bukti kemajuan e-commerce dibandingkan para kompetitor. Menurutnya dengan mengedepankan pengalaman konsumen, perusahaan lebih paham bagaimana karakteristik dan keinginan konsumen saat berbelanja. Perilaku konsumen juga menentukan produk apa saja yang perlu ditonjolkan untuk pelanggan di berbagai platform mulai dari platform online, JD.ID X hingga JD.ID Virtual. “Kami melakukan berbagai kemajuan untuk memudahkan konsumen bertransaksi. Anda dapat melihat bagaimana sebenarnya kami mempelajari bukan tentang penjualan, tetapi seberapa banyak waktu yang dihabiskan orang untuk setiap item produk,” katanya belum lama ini.

Di sisi lain perubahan cara berbelanja ini juga mengharuskan sinergi baik online maupun offline. Andrew menyebut kedua faktor ini tidak dapat ditinggal begitu saja karena menimbulkan pengalaman berbeda. “Kita tidak bisa meletakkan semuanya pada online saja. Pada akhirnya platform online itu penting. Akan tetapi kita juga harus mempelajari apa yang sedang terjadi di kehidupan nyata,” terangnya. Andrew menambahkan dengan kehadiran ragam model cara berbelanja, perusahaan berusaha untuk mengedukasi masyarakat terkait teknologi yang dihadirkan. Pada akhirnya JD.ID ingin menunjukkan cara berbelanja baru bagi masyarakat Tanah Air. Ditambah dengan kemunculan teknologi terbaru memberi gambaran terhadap teknologi berbelanja masa depan. Salah satu kunci utama kesuksesan bisnis JD.ID di Indonesia adalah karena perusahaan merupakan pelopor aktivitas belanja melalui ponsel, dan secara konsisten memfokuskan bisnisnya untuk menghadirkan pengalaman berbelanja melalui ponsel yang mudah untuk pengguna.

TOKOPEDIA

Tokopedia didirikan William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada tahun 2009. Platform belanja online ini digolongkan sebagai situs customer to customer (C2C) karena memfasilitasi semua orang tanpa terkecuali untuk berjualan maupun berbelanja online di marketplace digitalnya.Pencapaian terbesar Tokopedia dalam setahun belakangan adalah dari pendanaan Rp16 triliun yang didapat dari SoftBank Vision Fund dan Alibaba Group. Investasi itu membuat nilai ekonomi alias valuasi Tokopedia melonjak hingga Rp102,2 triliun, menjadikannya sebagai perusahaan rintisan dengan valuasi terbesar yang ada di Indonesia.

CNN Indonesia menyatakan bahwa Tokopedia memimpin pasar belanja online di Indonesia, berdasarkan data SimilarWeb kategori Marketplace di Indonesia. Dari data tersebut, selama periode Januari 2021, platform anak bangsa tersebut memimpin dengan traffic share sebesar 32,04 persen, dengan jumlah kunjungan 129,1 juta. Porsi kunjungan melalui mobile mendominasi sebesar 62,7 persen, sedangkan dari desktop 37,3 persen. Rata-rata durasi kunjungan 6 menit 37 detik.

Kunci kesuksesan Tokopedia diperoleh dengan selalu (1) mempertahankan Inovasi dan terus menjalankannya. Pasalnya, Tokopedia percaya, dengan inovasi itu bisa membuat mereka lebih maju dan memantapkan langkah ke depan dan menggapi target.(2) Tidak berhenti belajar, Meskipun sudah sukses dan melejit, Tokopedia tidak pernah berhenti belajar. karena bukan hanya manusia yang perlu belajar, perusahaan juga. Selain itu, belajar dari perusahaan lainnya yang telah memiliki pengalaman juga bukan langkah yang salah, justru dengan itu bisa membuat Tokopedia memiliki tolok ukur buat mengembangkan jaringan bisnis. (3) Mendukung Bisnis Kecil, dalan menjalankan bisnis tentu tidak lepas dari peran pihak lain. Begitu juga dengan Tokopedia. Dengan banyaknya para pebisnis dalam berbagai skala, termasuk bisnis kecil, Tokopedia mampu menjadi salah satu pasar online terbesar di Indonesia.

Meskipun telah meraih kesuksesan, Tokopedia masih berkomitmen untuk membangun lebih banyak inovasi. Dengan begitu, Leontinus berkata, perusahaannya dapat membantu lebih banyak bisnis lewat platform mereKA.

Sumber:

https://teknologi.bisnis.com/read/20190507/84/919723/jd.id-unggulkan-teknologi-sebagai-pengalaman-baru-berbelanja.

https://iprice.co.id/trend/insights/analisis-2-kunci-sukses-perusahaan-e-commerce-top-indonesia-yang-bisa-kita-pelajari/