Tugas Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-5

1.Rizca Amalia Resmi                115040200111164
2.Sausanil Afaf                          115040200111166
3.Rizky Anggraeni P                  115040201111214
4.Riza Anissatul Firiana             11504020111125

1.      Metode survei tanah menggunakan dua pendekatan utama, yaitu pendekatan sintetik dan analitik. Jelaskan persamaan dan perbedaan kedua pendekatan tersebut.

Dalam pendekatan sintetik dilakukan pengamatan di lapang terlebih dahulu,kemudian dilakukanpengelompokan satuan peta sebanyak keragaman yang ada sedangkan dalam pendekatan analitik landskep dibagi ke dalam tubuh alami berdasarkan karakteristikeksternal seperti landform,vegetasi dan  tanah permukaan.Setelahitu dilakukan penentuan karakteristik tanah pada masing – masing satuan tersebut melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah. Jadi dapat dikatakan bahwa perbedaan dan persamaan pendekatan sintetik dan analitik  adalah:

  • Persamaan

Merupakan suatu pendekatan yang dilakukan yang bertujuan untuk membagi permukaan tanah sebagai suatu ‘kontinum’ ke dalam satuan-satuan tertentu dalam membuat peta tanah.

  • Perbedaan
  1. Pendekatan sintetik
  1. Synthetic approach, mengamati, mendiskripsi dan mengkalsifikasikan profil-profil tanah (pedon) pada beberapa lokasi di daerah survei. Kemudian membuat  (mendeleniasi) batas di sekitar daerah yang mempunyai profil tanah yang serupa (mempunyai taksa tanah yang serupa), sesuai dengan kriteria klasifikasi yang digunakan.
  2. Umumnya digunakan pada daerah yang tidak memiliki foto udara, daerah yang besar atau luas dan berskala besar.
  3. Teknik pelaksanaan biasanya menggunakan metode survei grid.

2. Pendekatan Analitik

  1. Analictical approach, membagi kontinum atas persil-persil atau satuan-satuan berdasarkan pada pengamatan perubahan dalam sifat-sifat tanah ‘eksternal’ (sifat bentang alam), melalui intreprestasi foto udara, yang diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang disebut.
  2. Umumnya digunakan pada daerah yang berskala kecil.
  3. Teknik pelaksanaan biasanya menggunakan metode fisiografi.

 

  • Berikan contoh kedua pendekatan tersebut

Jawab:

–          Pendekatan sintetik di terapkan pada daerah dengan tingkat prediksi rendah (low predictabilitry) yaitu petunjuk eksternal tidak membantu memisahkan tanah yang berbeda.

 

2.      Dalam menyiapkan survei tanah dengan menggunakan pendekatan analitik, apa saja yang harus dilakukan?

Yang harus dilakukan adalah melakukan foto udara terlebih dahulu, yang kemudian diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang dibuat tersebut. Dan pada teknik pelaksanaannya menggunakan metode fisiografi, yaitu dengan menentukan batas (mendeleniasi) satuan fisiografi atau wujud lahan (landform) terlebih dahulu sebelum ke lapangan.

Dalam pendekatan analitik ,pertama lanskep dibagi kedalam tubuh tanah ‘alami’,berdasarkan karakteristikeksternal seperti landform,vegetasi dan  tanah permukaan.Setelahitu dilakukan penentuan karakteristik tanah pada masing – masing satuan tersebut melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah. Pendekatan analitik berasal dari kata ‘analisis’ yang berarti membagi tubuh tanah ‘alami’ yang didasarkan pada sifat – sifat eksternal. Dengn demikian tahapan dalam pendekatan ini adalah:

–          Membagi lanskep ke dalam komponen – komponen sedemikian rupa yang diperkirakan akan memiliki tanah yang berbeda

–          Melakukan kharakterisasi satuan –satuan yang dihasilkan melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah dilapang.

3. Lihat pada peta landform Pujon dan sekitanya di bawah. Gambaran relief wilayah     tersebut disajikan pada peta di bawahnya (peta relief)

a. Diskusikan apakah pendekatan yang akan dipakai, jelaskan alasannya.

Kami akan menggunakan pendekatan analitik karena kami belum bisa menentukan komponen atau titik pada peta dengan baik. Oleh karena itu untuk membatu perlu dilakukan pengamatan terlebih dahulu terhadap wilayahnya.

b. Jika akan melakukan survei tanah pada skala 1:25.000 plot pengamatan Saudara jika:

  – menggunakan grid kaku

Dalam metode grid kaku, jarak pengamatan dibuat secara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segiempat seluruh daerah survey. Pengamatan tanah dilakukan dengan pola teratur, jarak pengamatan tergantung dari skala peta. Pada peta semi detail ( 1 : 25.000 ) dengan luas lahan 4.600 ha dan jumlah titik yang ideal adalah 184 titik, maka luas tiap 1 cm2 pada peta mewakili 25 ha di lahan sebenarnya.

kaku-1

kaku-2

– menggunakan grid bebas

Dalam metode grid bebas, jarak pengamatan tidak perlu samadalam dua arah, namun tergantung pada fisiografi daerah survey. Jika terjadi perubahan fisiografi yang menyolok dalam jarak dekat, perlu pengamatan lebih rapat,sedangkan landform relatif seragam makajarak pengamatan dapat dilakukan berjauhan, dengan demikian dapat disimpulkan  Kerapatan pengmatan disesuaikan dengan kebutuhan skala survei serta tingkat kerumitan pola tanah di lapangan. Metode ini biasanya dilaksanakan pada skala 1:12.500 sampai dengan 1: 25.000.Pelaksanaan survei ini diiawali dengan analisis fisiografi melalaui interpretasi foto udara secara detail.

bebas-1

bebas-2

– menggunakan pendekatan fisiografis dengan menggunakan key area dan transek.

fis-1

fis-2

Tugas Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-4

Nama :Sausanil Afaf

NIM : 115040200111166

Kelas :N

1.      Meneruskan pengayaan bahan kajian seperti yang dituliskan pada minggu kedua.

  • Key Area

Merupakan daerah kunci yang yang digunakan untuk mempelajari tanah secara lebih detail daripada peta final, menyusun legenda sementara, membuat korelasi antara SPT dengan citra foto, dan untuk mengumpulkan data SDL (pola tanam, LU, produksi, dosis pupuk dan lainnya secara lebih lengkap.

  • Transek

Merupakan daerah pewakil sederhana dalam bentuk jalur atau rintisan, yang mencangkup satuan landform, sebanyak mungkin.

  • Pendekatan sintetik

Pengamatan dilakukan dilapang terlebih dahulu kemudian dikelompokkan berdasarkan kisaran sifat tertentu.

  • Pendekatan analitik

Lansekap didelineasi berdasarkan pembeda alami berdasarkan karakteristik eksternal (bentuk lahan: batuan, relief, dan lereng) baru dilakukan pengamatan dilapang.

 

2. Kerjakan bahan diskusi pada slide no 4 di bahan kuliah minggu 3

1. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?

untuk memudahkan perhitungannya dan memperkirakan perbesaran dalam keadaan yang sebenarnya di bandingkan dengan skala peta. Untuk ukuran SPT dibawah 0,4 terlalu kecil untuk didelineasi.

2. Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000?

Dibenarkan, karena jika kita memperbesar skala peta tersebut, penampakan yang digambarkan pada peta tersebut semakin kecil dan sempit ukurannya.Sehingga dengan hal tesebut maka detail pengamatan data yang dilakukan pada pengambilan data tersebut semakin sedikit. Sebaliknya apabila kita mengecilkan skala peta, semakin luas areal kenampakkan permukaan bumi yang tergambar dalam peta dan semakin banyak pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu.

 

3.      Skala peta
a.  Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2 pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di
bawah?

b. Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah? -. Eksplorasi (1: 1000.000)

  • Eksplorasi (1:1000.000)

L. Sebenranya   = 0.8cm2 x (1.000.000)2

                         = 0.8 x 1012 cm2

= 0.8 x 104 ha

 

  • Tinjau (1:250.000)

L. Sebenarnya   = 0.8 cmx (250.000)2

= 0.8 x 625 x 108

= 500 x 10cm = 500 ha

 

  • Semi detil (1:50.000)

L. Sebenarnya   = 0.8 cmx (50.000)2

= 20 x 108  cm

                                      = 20 ha

 

  • Detil (1:25.000)

L. Sebenarnya   = 0.8 x 625 x 106

= 500 x 10cm

= 5 ha

 

  • Sangat Detil (1:5 000)

L. Sebenarnya    = 0.8 cmx (5000)2

= 20 x 10cm2

                                      = 20-1 ha

Tugas Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-3

Nama :Sausanil Afaf

NIM : 115040200111166

Kelas : N

1.    Beberapa Istilah yang Perlu Dipahami

  • Satuan Peta

Satuan lahan yang sistem fisiografi atau bentuk lahannya sama yang dibedakan satu sama lain di lapangan oleh batas-batas alami dan dapat digunakan sebagai satuan evaluasi lahan. Satuan peta merupakan batas sesungguhnya (merupakan tubuh tanah alami).

Satuan peta benar-benar ada di alam serta dapat dilihat dan diraba. Satuan yang dihasilkan berupa tubuh lahan yang memiliki cirri-ciri tertentu yang dibedakan dengan lainnya oleh batas-batas alami, ditempat terjadinya perubahan cirri-ciri yang paling cepat kearah lateral. Satuan peta tidak sama dengan satuan taksonomi tanah.

  • Satuan Taksonomi Tanah

Merupakan sekelompok tanah dari sustu sistem klasifikasi tanah yang masing-masing diwakili oleh suatu profil tanah yang disebut central concept + kisaran variasinya di sekitar konsep sentral tersebut.

Satuan taksonomi tanah menentukan suatu selang tertentu dari sifat-sifat tanah dalam kaitannya dengan selang sifat tanah secara total dalam suatu sistem klasifikasi tanah tertentu.

  • Satuan Peta Tanah

Satuan peta tanah yaitu dimana kelompok lahan atau tanah yang memiliki karakteristik yang sama. Satuan peta terdiri dari kumpulan semua deliniasi tanah yang ditandai oleh simbol, warna, nama atau lambing yang khas pada suatu peta.

Satuan Peta Tanah dibagi menjadi 2, yaitu:

1. SPT Sederhana (Simple Mapping Unit)

  • Hanya mengandung 1 satuan tanah
  • Terdapat tanah lain yang disebut inklusi
  • Pada survey tanah detil daerah relating seragam
  • Satuan Peta Tanah ini disebut konsosiasi

2. SPT Majemuk (Compound Mapping Unit)

Digunakan pada survey tinjau atau survey lainnya yang berskala lebih kecil dan pada daerah yang rumit atau heterogen, terdiri dari lebih dari 2 satuan tanah yang berbeda, dan dibedakan atas asosiasi dan kompleks.

 

  • Inklusi
    Inklusi merupakan delineasi satuan peta tanah hampir selalu mengandung satuan tanah lain yang tidak disebutkan dalam nama satuan peta tersebut. Inklusi tersebut terlalu kecil untuk didelineasi tersendiri, atau kadang-kadang memang tidak teramati dengan metode survey yang dilakukan. Inklusi dapat berupa tanah yang serupa atau tanah yang tidak serupa dengan tanah yang disebut sebagai nama satuan peta tersebut.
  • Konsosiasi
    Konsosiasi didominasi oleh 1 satuan tanah dan tanah-tanh yang mirip (similar soil). Minimal 50 % dari pedon-pedon yang ada dalam SPT tersebut=tulis dalam  yang SPT, dan pedon-pedon atau tanah-tanah yang berbeda, harus < 25%, 15% atau 10% tergantung sifatnya, diantaranya:
  1. Jika tanah yang berbeda tersebut lebih baik dari tanah utamanya, diperkenankan 25%
  2. Jika tanah yang berbeda tersebut bersifat sebagai pembatas untuk penggunaannya, maksimum 15%
  3. Jika tanah yang berbeda tersebut sifatnya sangat kontras dan merupakan faktor pembatas yang berat, maksimum 10%.
  • Asosiasi

Merupakan sekelompok tanah yang berhubungan secara geografis, tersebar dalam suatu satuan peta menurut pola tertentu yang dapat diduga, tetapi karena kecilnya skala peta tanah-tanah tersebut tidak disajikan dalam Satuan Peta Tanah tersendiri.

 

 

  • Kompleks tanah

Merupakan sekelompok tanah yang berbaur satu dengan yang lainnya tanpa ada pola tertentu atau tidak beraturan. Meskipun ada komponen tanah yang berasosiasi secara geografis, tetapi tidak dapat dipisahkan kecuali pada tingkat amat detil. Satuan peta tanah dikatakan kompleks jika komponen utama dalam satuan peta tersebut tidak dapat menjadi satuan peta tersendiri jika dipetakan pada skala 1: 24.000.

  • Kelompok tak dibedakan ( Undifferenti-ated groups)

Terdiri dari 2 tanah yang secara geografis tidak selalu berupa konsosiasi tetapi termasuk dalam satuan peta yang sama karena untuk penggunaan dan pengelolaannya sama atau mirip. Tanah-tanah tersebut dimasukkan ke dalam satuan peta yang sama karena sama-sama punya sifat: berlereng, terjal, berbatu, terpengaruh banjir dan lainnya.

  • Seri Tanah

Merupakan sekelompok tanah yang memiliki cirri dan perilaku serupa, berkembang dari bahan induk yang sama dan punya sifat-sifat dan susunan horizon, terutama dibagian bawah horizonolah, dan sama dalam regim lengas dan regim suhu tanah.

  • Fase Tanah

Pembagian lebih lanjut dari seri tanah sesuai dengan cirri-ciri penting bagi pengelolaan atau penggunaan lahan. Fase dapat digunakan pada kaegori lainnya seperti family, sub-grup maupun ordo.

  • Soil Variant

Merupakan tanah-tanah yang sangat mirip dengan seri yang sudah ditemukan, tetapi berbeda dalam beberapa sifat penting.

  • Deliniasi

Merupakan penarikan titik-titik atau pengabungan titik-titik hasil observasi survey tanah yang memiliki sifat tanah yang sama.

  • Grid Kaku

Merupakan metode yang diterapkan pada survey tanah setil sampai dengan sangat detil, dimana tidak tersedia foto udara. Dalam metoda ini, pengamatan dilakukan dalam pola teratur pada interval titik pengamatan yang berjarak sama dalam kedua arah. Sangat cocok diterapkan pada daerah-daerah dimana posisi pemeta sukar ditentuka dengan pasti.

  • Grid Bebas

Merupakan metoda perpaduan antara grid kaku dan fiografi. Survei ini bisa dikatakan detil sampai detil yang kemampuan foto udara dianggap terbatas, dan ditempat-tempat yang orientasi lapangan cukup sulit. Pengamatan lapangna yang diperlukan tidak perlu sama dalam 2 arah tetapi tergantung keadaan fipigrafi.

  • Fisiografik

Merupakan metoda dengan menggunakan bantuan foto udara yang berkualitas cukup tinggi. Sangat efektif pada survey tanah berskala < 1: 25.000 . Hampir semua batas satuan peta diperoleh dari IFU, sedangkan kegiatan lapangan hanya untuk mengecek batas satuan peta dan mengidentifikasi sifat dan cirri tanah masing-masing satuan peta. Pengamatan dilakukan ditempat-tempat tertentu pada masing-masing satuan peta.

  • Pixel

Banyaknya titik-titik dalam 1mm, sehingga jika semakin banyak titik semakin besar gambar yang dihasilkan maka gambar tidak pecah.

 

2. Beberapa bentuk peta rupa bumi, peta geologi, peta tanah, dan peta penggunaan lahan masing-masing daerah

1. Peta Rupa Bumi

peta-rupa-bumi-300x212

judul: Peta Rupa Bumi Kabupaten Blora
tahun terbit: 2008
Pembuat peta: Peta Rupabumi Digital Indonesia
skala dan sistem proyeksi: 1:25.000
lokasi: Jawa Tengah

2. Peta Geologi

peta-geologi-300x196

judul: Peta Geologi Kabupaten Pacitan

tahun terbut: 1992

pembuat peta: Peta Geologi Lembar Pacitan, Ponorogo, Surakarta

skala: 1:100.000

lokasi: Kabupaten Pacitan

3. Peta Tanah

Peta-tanah-jombang

Judul           : Peta Jenis Tanah Kabupaten Jombang; Tahun Penerbitan: 2000;

Pembuat Peta: BAPPEDA Kabupaten Jombang dengan Magister Manajemen Agribisnis UGM

Skala dan Sistem Proyeksi             : 1:25.000 dan silinder

Lokasi Keberadaan Peta Tersebut : Kabupaten Jombang

4. Peta Penggunaan Lahan

penggunaan-lahan-2

Judul           : Peta Penggunaan Lahan di Kabupaten Jombang

Tahun Penerbitan: 2000

Pembuat Peta: BAPPEDA Kabupaten Jombang dengan Magister Manajemen Agribisnis UGM

Skala dan  Sistem Proyeksi            : 1:25.000 dan silinder

Lokasi Keberadaan Peta Tersebut : Kabupaten Jombang

tugas Survei Tanah dan Evaluasi Lahan M-2

1. Ada beberapa istilah dalam kuliah ini, dalam kuliah minggu 1 dan 2 ada beberapa istilah yang perlu pemahaman, berikan penjelasan (definisi dan penjelasannya), misalnya:

  • Peta Tanah

Peta tanah adalah suatu peta yang menggambarkan penyebaran jenis-jenis tanah disuatu daerah. Peta ini dilengkapi degan legenda yang secara singkatmenerangkan sifat-sifat tanah dari masing-masing satuan peta. Peta tanah biasanya disertai dengan “Laporan Pemetaan Tanah” yang menerangkan lebih lanjut sifat-sidan kemampuan tanah yang digambarkan dalam peta tanah tersebut. Walaupun pada dasarnya peta ini dibuat untuk tujuan pertanian, namun tidak menutup kemungkinan untuk dimanfaatkan dalam bidang-bidang lain seperti halnya dalam bidang engineering.

  • Skala peta

Skala Peta adalah perbandingan antara jarak  di lapangan dengan jarak di peta. Skala merupakan perbandingan  jarak tertentu pada peta dengan jarak itu di lapangan. Umumnya penempatan skala peta diletakan tepat di bawah judul peta dengan ukuran lebih kecil. Skala peta dapat dinyatakan dalam 3 cara, yaitu:

– Skala angka (numerical scale) atau skala pecahan

– Skala inch – mile

Skala grafis (graphic scale), yaitu skala yang digambar dalam bentuk garis yang dibagi dalam unit-unit yang sama panjang.

  • Delineasi batas tanah (Soil delineation)

Suatu bagian landsekap yang ditunjukan oleh suatu batas yang tertutup pada suatu peta tanah yang menentukan suatu areal tertentu,suatu bentuk tertentu, dan suatu lokasi tertentu dari suatu atau lebih komponen tanah ditambah inklusi,dan atau areal sisa.

  • Poligon

Poligon adalah serangkaian titik-titik yang dihubungkan dengan garis lurus sehingga titik-titik tersebut membentuk sebuah rangkaian (jaringan) titik atau poligon. Pada pekerjaan pembuatan peta, rangkaian titik poligon digunakan sebagai kerangka peta.

  • Satuan Peta (Map unit)

Suatu konsep kelompok dari satu sampai banyak delineasi yang diidentifikasikan dengan nama yang sama dalam survey Tanah yang menunjukan areal landskap yang sama terdiri dari satu jenis komponen tanah yang sama ditambah inklusi.

  • Satuan Peta Tanah

Atas dasar komposisi satuan-satuan tanah yang ada di dalam satuan lahan yang digunakan sebagai satuan pemetaan,  maka dikenal 3 macam staun pemetaan tanah (SPT) yaitu :

Konsosiasi

Satuan pemetaan tanah konsosiasi didominasi oleh satuan tanah dan tanah yang serupa  (similiar soil unit). Dalam konsosiasi paling tidak memmpunyai 50% satu satuan tanah yang sama dan 25% satuan tanah yang serupa. SPT konsosiasi diberinama sesuai dengan satuan tanah yang dominan. Satuan tanah lain yang tidak sejenis dan serupa maksimal  mempunyai persentase 25%. Dua satuan tanah dikatakan sebagai tanah yang serupa apabila mereka hanya berbeda pada satu atau duua kriteria yang menyebabkan keduanya diklasifikasikan kedalam kelompok yanng berbeda. Secara uumum satuan satuan tanah yanng serupa mempunyai potensi yang hampir sama. Sedangkan dua satuan tanah dikatakan tidak serupa apabila keduanya mempunyai perbedaan yang tegas dan lebih dari tiga kriteria yang meenyebabkan keduanya diklasifikasikan ke dalam kelompok yang berbeda. Satuan-satuan tanah  yang tidak serupa mempunyai potensi terhadap penggunaan tertentu yang berbeda secara tegas.

Asosiasi

SPT jenis ini mengandung dua atau lebih satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam pennamaan SPT dan mempunyai komposisi yang hampir sama. Satuan-satuan tanah penyusun SPT ini tidak dapat dipisahkkan satu sama lain kedalam  SPT SPT yang berbeda karena keterbatasan skala pemetaan. SPT asosiasi dalam skala pemetaan yang lebih besar dapat dipisahkan kedalam SPT-SPT konsosiasi yang berbeda.

Kompleks

SPT ini mirip dengan SPT asosiasi karena terdapat dua atau lebih satuan-satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam penamaan SPT, demikian juga komposisi masing-masing satuan tanahnya serupa dengan SPT asosiasi. Persebaran satuan tanah yang ada pada SPT ini tidak mengikuti pola tertentu sehingga dalam skala pemetaan yang lebih besar, satuan-satuan tanah yang menyusunnya tetap tidak dapat dipisahkan satu sama lain

  • Legenda

Legenda adalah keterangan dari simbol-simbol yang merupakan kunci untuk memahami peta.

  • Foto udara

Foto udara atau peta foto adalah Peta foto didapat dari survei udara yaitu melakukan pemotretan lewat udara pada daerah tertentu dengan aturan fotogrametris tertentu.

  • Stereoskop

Stereoskop adalah alat untuk pengamatan tiga dimensional atas foto udara yang bertampalan. Inti dari stereoskop ini adalah terdiri dari lensa, atau kombinasi antara lensa, cermin, dan prisma. Dalam interpretasi citra, stereoskop menjadi ala utama untuk foto udara atau citra tertentu lainnya yang dapat menimbulkan perwujudan tiga dimensional.

 

2.   Buat halaman yang berisi resume bahan kajian kuliah minggu pertama, yang berisi penjelasan (definisi dan penjelasannya) .

Dari pertemuan minggu pertama diberikan penjelasan mengenai apa itu survei tanah dan evaluasi lahan,selain itu diajarkan juga mengenai peta skala besar dan peta skala kecil. Dimana semakin besar nilai perbandingan maka peta tersebut adalah peta dengan skala besar.

Definisi dari istilah-istilah yang muncul pada materi pertama ini , yaitu :

  • Survei      tanah adalah penelitian tanah di lapangan dan di laboratorium, yang di      lakukan secara sistematis dengan metode-metode tertentu terhadap suatu daerah      (areal) tertentu, yang ditunjang oleh informasi dari sumber-sumber lain      yang relevan.
  • Evaluasi      lahan adalah proses pengukuran, pencatatan, dan pengumpulan keterangan      mengenai suatu areal tanah untuk mengevaluasi kegunaannya.
  • Satuan      peta tanah yaitu dimana kelompok lahan atau tanah yang memiliki      karakteristik yang sama.
  • Legenda      peta  merupakan pengidentifikasian satuan peta serta memberikan      informasi tentang satuan-satuan yang terdapat dalam suatu peta tanah      dimana yang dilambangka dengan berbagai macam bentuk symbol.
  • Foto      udara yaitu dimana pengambilan gambar atau foto melalui udara atau angkasa      dengan menggunakan alat satelit.
  • Peta      tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah      dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi.      Setiap peta tanah digambarkan garis-garis batas tanah-tanah yang dijumpai      di lapangan. Dalam setiap peta tanah selalu berisikan lebih dari satu      satuan peta tanah.
  • Skala      Peta adalah dimana menunjukkan perbandingan jarak antara dua tempat titik      pada peta, dengan jarak sebenarnya di lapangan.
  • Delineasi batas tanah yaitu dimana merupakan batasan-batasan tanah atau gars-garis batah tanah yang ada di lapangan.

 

3. Setiap minggu akan muncul istilah-istilah baru dari bahan kajian yang diberikan, tambahkan pada halaman tersebut.

  • Grid adalah penetuan titik yang diterapkan pada survei tanah dengan memperhatikan kedetailan tertentu.
  • Inklusi adalah satuan tanah lain yang terlalu kecil untuk didelineasi tersendiri atau tidak teramati dengan metode survei yang dilakukan sehingga di dalam Legenda Peta Tanah namanya tidak muncul.
  • Glay adalah warna tanah yang keabuan karena tergenang air yang sangat lama.
  • Redoxymorphyl adalah suatu bentuk tanah yang disebabkan proses reduksi dan oksidasi contohnya di daerah Lamongan.
  • Kontur adalah garis khayal untuk menggambarkan semua titik yang mempunyai ketinggian yang sama diatas atau dibawah permukaan laut.
  • Monolit adalah merupakan contoh tanah tidak terganggu yang diawetkan dan sengaja dibuat sebagai alat bantu visual untuk pengajatan tentang sifat-sifat dan jenis tanah.

SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN 2

kelompok

  1. RIZCA AMALIA RESMI                       (115040200111164)
  2. SAUSANIL AFAF                                       (115040200111166)
  3. RISKY ANGGRAENI PUSPITASARI   (115040201111214)
  4. RIZA ANISSATUL FITRIANA                (115040201111254)

1. Tanah sebagai  suatu individu, berbeda dengan  dunia hayati, yang setiap individunya punya ciri tersendiri. Tiap spesies punya kisaran sifat yang  sempit, sehingga mudah dibedakan satu dengan lainnya. Jelaskan!

Tanah memiliki batas-batas tertentu yang dimiliki dan berbagai macam jenis yang mana setiap masing-masing individu tanah memiliki karekteristik/ sifat yang berbeda. Tetapi perbedaan dari sifat-sifat tersebut relatif sempit antara tanah yang satu dengan yang lainnya, sehingga dari berbagai macam tanah di dunia ini dapat dibedakan dan dikelompokkan sesuai dengan sifat-sifat yang dimilikinya.

Jenis tanah sendiri merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman karena perbedaan jenis  tanah  mempengaruhi sifat-sifat dari  tanah  tersebut. Untuk memahami hubungan antara jenis  tanah, diperlukan pengetahuan yang mampu mengelompokkan tanah  secara sistematik sehingga dikenal banyak sekali sistem klasifikasi yang berkembang. Untuk mempelajari hubungan antar jenis  tanah  maka sistem klasifikasi tanah dibagi menjadi sistem klasifikasi alami dan sistem klasifikasi teknis. Klasifikasi teknis yakni klasifikasi  tanah  yang didasarkan atas sifat-sifat  tanah  yang mempengaruhi kemampuan untuk  penggunaan tertentu. Misalnya, untuk menanam tanaman semusim. Tanah  diklasifikasikan atas dasar sifat-sifat tanah  yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman semusim seperti kelerengan, tekstur, pH dan lain-lain. Sedangkan dalam praktiknya untuk mempelajari jenis  tanah  yang digunakan adalah sistem klasifikasi alami.

Klasifikasi ini memberikan gambaran dasar terhadap sifat fisik, kimia dan mineralogi tanah  yang dimiliki masing-masing kelas dan selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan bagi berbagai penggunaan tanah.

2. Jelaskan definisi tanah ! Pasir pantai apakah termasuk dalam definisi tanah? Mengapa?

  • Definisi Tanah

Tanah adalah akumulasi tumbuhan  alam yang bebas dan menduduki sebagian besar lapisan atas permukaan bumi. Ada empat lapisan dari tanah yakni, lapisan tanah atas (topsoil), lapisan tanah bawah (subsoil), lapisan batuan induk terlapuk (regalith) dan lapisan batuan induk (bedrock).

Definisi tanah secara mendasar dikelompokkan dalam tiga definisi, yaitu:

(1)Berdasarkan pandangan ahli geologi (Berdasarkan pendekatan Geologi)

Tanah didefiniskan sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

(2)Berdasarkan pandangan ahli ilmu alam murni(berdasarkan pendekatan Pedologi)

Tanah didefinisikan sebagai bahan padat (baik berupa mineral maupun organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu.

(3)Berdasarkan pandangan ilmu pertanian(berdasarkan pendekatan Edaphologi)
Tanah didefinisikan sebagai media tempat tumbuh tanaman.

Selain ketiga definisi diatas, definisi tanah yang lebih rinci diungkapkan ahli ilmu tanah sebagai berikut:

“Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan hara ke akar tanaman; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (baik berupa senyawa organik maupun anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial, seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologisberfungsi sebagai habitat dari organisme tanah yang turut berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif bagi tanaman; yang ketiganya (fisik, kimiawi, dan biologi) secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman sayur-sayuran, tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan.

  • Pasir pantai apakah termasuk dalam definisi tanah?

Pasir pantai bukanlah tanah karena pasir pantai tidak memiliki ciri-ciri seperti tanah yang diantaranya memiliki  horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan, pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alam. Pada proses pembentukan tanah juga dipengaruhi oleh lima faktor yaitu bahan induk, organisme hidup, topografi, iklim dan waktu. Namun pasir pantai sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti air laut dari pantai tersebut. Pasir terbentuk dari dari bahan-bahan mineral penyusun bebatuan.  Mineral dasar pembentuk pasir berupa kuarsa. Kuarsa adalah kristal silikon dioksida bentuk heksagonal. Beberapa jenis pasir hampir 99 persen tersusun atas materi kuarsa ini.

3. Jelaskan apa yang  dimaksud dalam Gambar 2 !  (continuum, soilscape, polypedon dll. )

 stela

Pada gambar di atas menunjukkan tentang :

  • Continuum  (kontinum) :  proses pertukaran dalam kesinambungan interaksi antar komponen tanah dan kelangsungan segala reaksi tanah.
  • Soil scape  :  gabungan dari beberapa polipedon yang mempunyai sifat berbeda antara sifat polipedon yang satu dengan polipedon yang lainnya.
  • Pedon  :  tubuh tanah 3 dimensi, dan didefinisikan sebagai  jumlah minimal bahan yang bisa disebut tanah, ukuran berkisar 1 – 10 m3.
  • Polypedon  (polipedon)  :  beberapa pedon yang mempunyai sifat dan ciri sama digabungkan.
  • Soil Profil  (profil tanah) :  Irisan  atau  penampang tegak tanah yang menampakan semua horizon sampai ke bahan induk; dalam profil tanah, bagian yang mengandung akar tanaman atau dipengaruhi oleh akar tanaman disebut solum.
  • Soil Agregat  (agregat tanah) :  agregat tanah merupakan gabungan dari partikel-partikel tanah yang tidak mempunyai bentuk yang jelas.

4. Tanah sebagai  satuan 3-D, perlu disajikan dengan  cara ‘multifactorial’ dalam bentuk peta tanah. 2-D digambarkan pada peta tanah, sedangkan dimensi vertikal + sifat-sifat internalnya, disajikan dalam legenda peta.  Maksudnya apa?

Tanah merupakan suatu objek yang berbentuk  3 dimensi. Hal ini  karena di  dalam tanah terdapat suatu profil tanah yang di dalamnya terdapat horison-horison yang menjadi ciri  dari  tanah  tersebut. Keadaan tanah di  suatu daerah  dengan daerah lainnya  tentunya berbeda. Hal seperti ini dapat menjadi suatu informasi yang dapat disajikan dalam gambar (peta tanah) di berbagai wilayah. Penyajian ini tidak hanya berupa keadaan tanah dan topografi di suatu daerah saja, melainkan harus mengikutsertakan  berbagai macam faktor penting mengenai keadaan tanah di wilayah tersebut.  Peta tanah  secara fisik dapat disajikan dalam bentuk 2 dimensi sesuai keadaan topografinya dan perbandingan luasan berdasarkan  skala. Sedangkan faktor-faktor yang berada didalamnya, seperti keadaan tekstur, struktur, kelembaban, konsistensi, dan lainnya yang berkaitan dengan taksa tanah dari wilayah dalam peta tanah tersebut dapat  disajikan dalam bentuk legenda. Biasanya faktor-faktor tersebut  disajikan dapat berupa  tanda  atau  warna tertentu, dan lainnya. Legenda peta ini  memiliki fungsi untuk mempermudah  seseorang  dalam  membaca suatu peta tanah dan memberikan informasi tentang satuan-satuan tertentu yang terdapat di dalam peta tanah.

5. Jelaskan pengertian peta tanah. Untuk membuat peta tanah, peta apa saja yang

diperlukan sebagai dasar/ penunjang? Mengapa?

  1. Peta tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi.
  2. Umumnya, suatu peta dasar diperlukan  sebagai acuan dalam membuat suatu peta tanah. Peta dasar yang biasa digunakan adalah peta topografi.  Peta topografi  digunakan  sebagai dasar karena apabila akan membuat suatu peta tanah, harus mengetahui keadaan nyata dari suatu objek wilayah secara 3 dimensi terlebih dahulu.  Jika  keadaan topografi suatu wilayah berbeda, maka keadaan atau kondisi suatu tanah juga akan berbeda. Bentuk suatu muka bumi (topografi) berbeda-beda antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, begitu pula keadaan tanahnya. Oleh karena itu diperlukan peta topografi sebagai dasar apabila membuat suatu peta tanah. Peta topografi dapat diperoleh melalui foto udara (skala besar) dan citra satelit (skala kecil).

6. Apa yang dimaksud dengan  Poligon di dalam peta tanah? Bagaimana membuatnya?

Poligon adalah serangkaian titik-titik yang dihubungkan dengan garis lurus sehingga titik-titik  tersebut membentuk sebuah rangkaian (jaringan) titik atau poligon. Fungsi poligon sendiri ada 2 yaitu sebagai keperluan kerangka peta, syaratnya harus memiliki titik–titik yang cukup baik, dalam arti menjangkau semua wilayah, dan sebagai titik-titik pertolongan untuk  mengambil detail lapangan. Pada pekerjaan pembuatan peta, rangkaian titik poligon digunakan sebagai kerangka peta, yaitu merupakan jaringan titik-titik yang telah tertentu letaknya di tanah yang sudah ditandai dengan  patok, dimana semua benda buatan manusia seperti jembatan, jalan raya, gedung maupun benda-benda alam seperti danau, bukit, dan sungai akan diorientasikan. Kedudukan benda pada pekerjaan pemetaan biasanya dinyatakan dengan sistem koodinat kartesius tegak  lurus (X,Y) di bidang datar (peta), dengan sumbu X menyatakan arah timur  –  barat dan sumbu Y menyatakan arah utara  –  selatan. Koordinat titik-titik poligon harus cukup teliti mengingat ketelitian letak dan ukuran benda-benda yang akan dipetakan sangat tergantung pada ketelitian dari kerangka peta.

Menurut bentuknya, poligon dibedakan menjadi dua yaitu :

1.)    Poligon Terbuka

Poligon terbuka adalah suatu poligon dimana titik awal dan titik akhirnya berbeda. Jenis-jenis poligon terbuka adalah :

  1. Poligon terbuka terikat sempurna
  2.  Poligon terbuka terikat sepihak
  3. Poligon terbuka tidak terikat

2.)    Poligon Tertutup

Poligon tertutup adalah suatu poligon dimana titik awal dan titik akhirnya mempunyai posisi yang sama atau berhimpit, sehingga poligon ini adalah suatu rangkaian tertutup.

Cara Membuat Poligon

a. Pengukuran Polygon Terbuka Bebas

1.  Siapkan catatan, daftar pengukuran dan buat sket lokasi areal yang akan diukur.

2.  Tentukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik.

3.  Dirikan pesawat di atas titik P1  dan lakukan penyetelan alat sampai didapatkedataran.

4. Arahkan pesawat ke arah utara dan nolkan piringan sudut horisontal dan kunci kembali dengan memutar skrup piringan bawah.

5. Putar teropong dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat sudut horisontalnya yang sekaligus sebagai sudut azimuth.

6. Dengan posisi pesawat tetap di atas titik P1, putar pesawat 180° searah jarum jam,kemudian putar teropong 180° arah vertikal dan arahkan teropong ke titik P2.

7.  Lakukan pembacaan sudut horisontal.

8.  Pindah pesawat ke titik P2 dan lakukan penyetelan alat.

9.  Arahkan pesawat ke titik P3, baca dan catat sudut horisontalnya (bacaan biasa untuk bacaan muka).

10.  Lakukan pembacaan sudut luar biasa pada titik P2.

11. Putar teropong pesawat searah jarum jam dan arahkan ke titi P1. Baca dan  catat sudut horisontalnya, baik bacaan biasa maupun luar biasa.

12. Dengan cara yang sama, lakukan pada titik-titik polygon berikutnya sampai P akhir.

13.  Lakukan pengukuran jarak antar titik dengan meteran.

14.  Lakukan perhitungan sudut pengambilan b, sudut azimuth dan koordinat masing-masing titik.

15.  Gambar hasil pengukuran dan perhitungan.

b.      Pengukuran Polygon Tertutup

  1. Siapkan catatan, daftar pengukuran dan buat sket lokasi areal yang akan diukur
  2. Tentukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik.
  3. Dirikan pesawat di atas titik P1dan lakukan penyetelan alat sampai didapat kedataran.
  4. Arahkan pesawat ke arah utara dan nolkan piringan sudut horisontal dan kunci kembali dengan memutar skrup piringan bawah.
  5. Putar teropong dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat sudut horisontalnya yang sekaligus sebagai sudut azimuth.
  6. Dengan posisi pesawat tetap di atas titik P1, putar pesawat 180° searah jarum jam kemudian putar teropong 180° arah vertikal dan arahkan teropong ke titik P2.
  7. Lakukan pembacaan sudut horisontal.
  8. Putar teropong pesawat dan arahkan di titik P akhir dan lakukan pembacaan sudut horisontal pada bacaan biasa dan luar biasa.
  9. Dengan cara yang sama, lakukan pada titik-titik polygon berikutnya hingga kembali ke titik P1.=
  10. Lakukan pengukuran jarak antar titik dengan meteran.
  11. Lakukan perhitungan sudut pengambilan b, sudut azimuth dan koordinat  masing-masing titik.
  12. Gambar hasil pengukuran dan perhitungan.

7.    Apa yang dimasud dengan taksa tanah?

Takson (Taksa): Suatu kelas pada tingkat taksonomik  (pengelompokkan) tertentu, atau kelas pada  kategori tertentu.  Taksa tanah merupakan satuan yang diperoleh dari menentukan suatu selang sifat tertentu dari sifat – sifat tanah yang didefinisikan oleh suatu sistem klasifikasi tanah. Taksa tanah juga dapat  diartikan sebagai pengelompokan  suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik. Hal ini berhubungan dengan peta tanah karena soil taxonomy bisa digunakan untuk satuan sistem klasifikasi tanah , masing – masing diwakili oleh suatu profil tanah. Peta tanah dapat semakin terlihat jelas dan detai dengan soil taxonomy.

 8. Dalam legenda Peta Tanah terdapat istilah konsosiasi, asosiasi atau kompleks. Jelaskan. Beri ilustrasi dengan gambar, sehingga perbedaan ketiganya jelas!

Atas dasar komposisi satuan-satuan tanah yang ada di dalam satuan lahan yang digunakan sebagai satuan pemetaan, maka dikenal 4 macam satuan pemetaan tanah (SPT) yaitu :

  •  Konsosiasi

Satuan pemetaan tanah konsosiasi didominasi oleh satuan tanah dan tanah yang serupa (similiar soil unit). Dalam konsosiasi paling tidak memmpun yai 50% satu satuan tanah yang sama dan 25% satuan tanah yang serupa. SPT konsosiasi diberinama sesuai dengan satuan tanah yang dominan. Satuan tanah lain yang tidak sejenis dan serupa maksimal mempunyai persentase 25%. Dua  satuan tanah dikatakan sebagai  tanah yang serupa apabila mereka hanya berbeda pada satu atau dua kriteria yang menyebabkan keduanya diklasifikasikan kedalam kelompok yanng berbeda. Secara umum satuan satuan tanah yang serupa mempunyai potensi yang hampir sama. Sedangkan dua satuan tanahdikatakan tidak serupa apabila keduanya mempunyai perbedaan yang tegas dan lebih dari tiga kriteria yang menyebabkan keduanya diklasifikasikan ke dalam kelompok yang berbeda. Satuan-satuan tanah yang tidak serupa mempunyai potensi terhadap penggunaan tertentu yang berbeda secara tegas.

stela2

  • Asosiasi

SPT jenis ini mengandung dua atau lebih satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam pennamaan SPT dan mempunyai komposisi yang hampir sama. Satuan-satuan tanah penyusun SPT ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain kedalam SPT -SPT yang berbeda karena keterbatasan skala pemetaan. SPT asosiasi dalam skala pemetaan yang lebih besar dapat dipisahkan kedalam SPT -SPT konsosiasi yang berbeda.

stela3

  •  Kompleks

SPT ini mirip dengan SPT asosiasi karena terdapat dua atau lebih  satuan-satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam penamaan SPT, demikian juga komposisi masing-masing satuan tanahnya serupa dengan SPT asosiasi. Persebaran satuan tanah yang ada pada SPT ini tidak mengikuti pola tertentu sehingga dalam skala pemetaan yang lebih besar, satuan-satuan tanah yang menyusunnya tetap tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

stela4

9.    Beri contoh  single value map. Cari di internet. Mengapa peta tersebut dikatakan

bukan peta tanah?

stela5

Sebab, peta tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik budaya dari permukaan bumi.Pada peta tanah digambarkan garis-garis batas (delineasi) tanah-tanah yang dijumpai di lapangan.Garis batas tersebut berupa polygon-poligon yang digambarkan pada peta tanah yang lazim disebut satuan peta tanah (SPT).Sedangkan pada gambar diatas menginformasikan sebatas peta keseluruhan dan tidak menggambarkan kondisi tanah serta informasi yang menyangkut dengan keadaan tanah maupun taksonomi tanah.

10. Apa yang dijelaskan dalam Gambar ini?

stela6

Pada gambar pertama (paling atas) merupakan survei tanah metode grid-kaku (Rigid Grid). Metode ini diterapkan pada survei tanah detail sampai dengan sangat detail, dimana tidak tersedia foto udara. Walau tersedia foto udara kemungkinan memiliki kualitas yang tidak cukup baik untuk dijadikan penunjang. Seperti pada gambar pertama, terdapat titik-titik  yang beraturan dengan jarak yang sama. Metode ini cocok digunakan jika posisi pemeta sulit ditentukan. Pada gambar kedua (tengah) merupakan survei tanah metode Grid Bebas (Adapted Grid Survey). Metode ini merupakan gabungan dari metode grid kaku dan metode fisiografik. Metode ini digunakan pada survei detail sampai dengan semi-detail yang kemampuan foto udara dianggap terbatas dan di tempat-tempat yang memiliki orientasi lapangan cukup sulit. Pengamatan tetap dilakukan pada setiap titik-titik yang terdapat  pada gambar. Metode ini cocok diterapkan oleh penyurvei yang belum banyak memiliki pengalaman survei tanah. Lalu pada gambar ketiga (paling bawah) merupakan survei tanah metode fisiografik. Metode ini cocok pada survei tanah yang memiliki skala kurang dari 1 : 25.000 dan tersedia foto udara yang berkualitas cukup tinggi. Pengamatan pada metode ini dilakukan pada tempat-tempat tertentu pada masing-masing satuan peta.

 

11. Sebutkan berbagai macam peta tanah berdasarkan skala peta yang digunakan di Indonesia. Bandingkan nama peta-peta tersebut  dengan  nama yang digunakan di Amerika, Kanada, Inggeris dan negara lainnya. Cari dr internet.

Peta tanah berdasarkan skala peta yang digunakan di Indonesia:

1.  Peta Tanah Bagan (Skala 1 : 2.500.000 atau lebih kecil); fungsi dari peta ini untuk memperoleh gambaran umum sebaran tanah secara nasional.

2.  Pata Tanah Eksplorasi (Skala 1 : 1.500.000  –  1 : 5.000.000); gambaran sebaran tanah secara umum untuk penyusunan atlas nasional dan tidak untuk keperluan praktis karena informasi tentang sifat-sifat tanah sangat minim.

3.  Peta Tanah Tinjau (Umumnya skala 1 : 250.000); peta ini dapat menggambarkan daerah-daerah yang berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih lanjut.

4.  Peta Tanah Semi Detil (1 : 50.000); peta ini dapat memberikan informasi tentang potensi pertanian serta penggunaannya untuk berbagai bentuk pengelolaannya.

5.  Peta Tanah Detil (Skala 1 : 10.000  –  1 : 25.000); peta tanah detil berfungsi untuk proyek-proyek khusus misalnya proyek trasmigrasi, rencana pengairan, kebun percobaan dan sebagainya.

6.  Peta Tanah Sangat Detil (Skala >1 : 10.000); peta ini untuk penelitian khusus.

Misalnya percobaan pertanian, untuk mempelajari variabilitas respon tanaman terhadap pemupukan atau perlakuan tertentu.

Peta tanah berdasarkan skala peta di Kanada:

bvkj

12.  Apa yang dimaksud dengan luas minimum yang masih dapat disajikan pada peta? Mengapa perlu ada batasan tersebut?

Luas minimum yang masih dapat disajikan pada peta merupakan batas luas terkecil yang bisa peta itu tampilkan.  Jika luas minimum peta yang dapat disajikan semakin kecil lagi maka luas sebenarnya dari wilayah pada peta tersebut semakin besar. Semakin besar luas wilayahnya maka informasi yang diperoleh akan menjadi kurang teliti.

13.  Untuk peta tanah di Indonesia,  berapa satuan luas tersebut? Masing-masing kelompok agar menghitung berapa luasnya di lapangan pd skala yg berbeda.

stela7

Gambar diatas merupakan gambar sebuah wilayah dengan skala 1:50.000. Perhitungan dengan sistem grid adalah sebagai berikut:

L = (Jumlah Kotak x Luas 1 Kotak dalam cm²) x (Penyebut Skala)²

L = (6 x (1 cm x 1 cm)) x (50.000)²

L = (6 x 1 cm²) x 2.500.000.000 cm²

L = 6 cm² x 2.500.000.000 cm²

L = 15.000.000.000 cm²

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari

L = 150.000.000 dm²

L = 1.500.000 m²

L = 15.000 dkm²

L = 150 hm²

L = 1,5 km²

 

14. Jika anda melakuakan survei tanah di daerah pada Gb.3, metode survey apa yang akan anda gunakan? Mengapa?

Catatan: Daerah tertutup vegetasi(hutan), relative datar,garis putih pada foto adalah sungai.

stela8

Metode survei yang akan digunakan ialah metode survei tanah grid bebas. Metode survei grid bebas merupakan  gabungan dari metode grid kaku dan metode fisiografik.  Metode ini dipilih karena daerah survei tertutup vegetasi hutan sehingga agak sulit dalam melakukan survei. Selain itu, metode ini juga dapat menentukan titik pengamatan yang lebih bebas daripada survei tanah metode grid. Penentuan titik pengamatan harus memperhatikan prosedur-prosedur seperti berada jauh dari lokasi penimbunan sampah, tanah galian atau bekas bangunan, atau kuburan atau bahan-bahan lainnya. Lalu terutama dengan keadaan wilayah yang tertutup vegetasi hutan ini akan menyulitkan dalam pembuatan profil tanah karena adanya perakaran. Sisi dari profil tanah juga harus bersih dan tidak ternaungi agar tidak terjadi kekeliruan dalam interpretasi.

survei tanahdan evaluasi lahan

Nama : Sausanil Afaf

NIM : 115040200111166

  1. Peta skala besar adalah penggunaan angka pada peta yang mengunakan perbandingan yang semakin kecil, dan semakin banyak jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan per satuan luasan tertentu.
  2. peta-gresikPeta skala kecil penggunaan angka pada peta yang mengunakan perbandingan yang semakin besar, dan semakin sedikit  jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan per satuan luasan tertentu.

skala kecil 1

 

–  Beri Contoh masing – masing

a. Skala besar : 1 : 5000 – 1 : 250.000 (Peta   Sebagian Provinsi Jawa Tengah)

b. Skala kecil : 1 : 500.000 – 1 : 1.000.000 (Peta Provinsi Jawa Barat)

– Apa saja yang berbeda?

Dari skala tersebut dapat ditemukan perbedaan berupa perbandingan angka; jumlah pengamatan; macam pengamatan; belokan, lekukan dan lebar sungai serta anak sungai yang sangat jelas tergambar pada peta skala besar.

2. Survei Tanah Bertujuan UMUM dan KHUSUS?

  1. Survei tanah bertujuan umum ditujukan untuk memberikan data sebagai dasar interpretasi untuk berbagai penggunaan yang berbeda, bahkan beberapa dari penggunaan tersebut belum diketahui.
  2. Survei tanah bertujuan khusus dilakukan apabila tujuannya telah diketahui sebelumnya dan bersifat spesifik, misalnya untuk irigasi, reklamasi lahan atau penanaman jenis tanaman tertentu seperti teh, tebu atau tanaman lainnya.

–  Beri Contoh masing- masing

Contoh Survei tanah bertujuan umum : meliputi pembuatan peta pedologi yang menyajikan sebaran satuan-satuan tanah yang ditentukan menurut morfologi serta data sifat fisik, kimia, dan biologi.

Contoh Survei tanah bertujuan khusus : survei yang dirancang untuk perkebunan sawit, sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk merencanakan tujuan lain, misalnya untuk perkebunan teh atau sawah irigasi.

–  Apa kelebihan dan kekurangan masing – masing

Kelebihan Survei tanah bertujuan umum adalah berisikan evaluasi lahan yang tidak hanya mencakup berdasarkan karakteristik satuan tanah saja, melainkan juga berdasarkan faktor-faktor fisik, ekonomi dari sosial lainnya yang berkaitan. Sedangkan kekurangannya adalah belum bisa menyatakan secara terfokus mengenai fungsi atau guna lahan yang sedang di survei.

Kelebihan Survei tanah yang bertujuan khusus adalah memiliki isian evaluasi lahan yang lebih khusus dan lebih fokus pada lahan yang sedang di evaluasi. Dan dengan survei tanah bertujuan khusus ini dapat memudahkan penyurvei dalam mengembangkan lahan tersebut. Sedangkan kekurangannyaadalah ketidakmampuannya dalam memenuhi semua tujuan atau keperluan.

  1. Siapa saja pengguna survei tanah?

Rossiter (2000), mencoba memerinci beberapa pengguna survei tanah, seperti yang di uraikan berikut ini :

–          Pengelola Lahan,yaitu petani,peternak,pengelola hutan dan pengelola perkebunan.Kelompok ini akan memutuskan apa yang sebaiknya di lakukan untuk lahannya, misalnya untuk apa dan bagaimana sistem penggelolaanya yang tepat.

–          Penyuluh lapangan,kelompok ini bertugas memberikan penyuluhan kepada pengelolaan yang lahan.

–          Industri jasa yang berhubungan dengan penggunaan lahan, misalnya lembaga pemberi kredit,bank,dan kelompok investor. Kelompok ini memfasilitasi penggunaan lahan dan membutuhkan informasi apakah lahan tersebut akan menghasilkan dan menguntungkan secara ekonomi.

–          Perencana penggunaan lahan pedesaan lahan pedesaan dan perkotaan. Kelompok perencana ini merekomendasikan atau memfasilitasi jenis-jenis penggunaa lahan tertentu di daerah lahan yang berbeda.

–          Lembaga pengendali penggunaan lahan, merupakan kelompok perencana penggunaan lahan dengan kewenangan khusus untuk mengatur penggunaan lahan. Sebagi contoh, di Belanda jumlah pupuk kandang yang boleh di berikan setiap hektar di tentukan oleh jenis tanah untuk menghindari polusi air tanah.

–          Badan otoritas pajak, di beberapa negara,pajak atas lahan di dasarkan pada produksi potensi lahan. Semakin subur tanah semakin tinggi pajak yang harus di bayar oleh pemilik lahan tersebut.

–          Pakar dalam bidang rekayasa, ahli-ahli dalam bidang rekayasa memerulkan hasil surevei tanah untuk menentukan apa yang harus di perhatikan dalam pembangunan gedung , jalan maupun pipa-pipa saluran minyak dan gas bumi agar tidak mudah mengalami korosi.

–          Pengelola lingkungan yang menggunakan tanah sebagai unsur ekologi landskap. Hasil  survei tanah dapat menunjukan lokasi-lokasi dalam suatu daerah yang memiliki resiko tinggi jika di gunakan untuk kepentingan tertentu.

–          Peneliti, mengkaji tanggapan lahan terhadap pengguna lahan dan strategis pengelolaannya.Termasuk dalam kelompok ini adalah peneliti pada plot percobaan yang berharap bahwa satuan  tanah yang berbeda akan memberikan tanggapan ( respon ) yang berbeda pula terhadap macam penggeloalaan yang di terapkan.

4. Pertanyaan apa saja yang bisa dijawab dari hasil survei tanah?

Menurut Rooster (2000) pertanyaan yang dapat dijawab dari hasil survei tanah adalah:

  1. Menyimpulkan keseluruhan daerah kajian
    1. Apa taksa tanah yang dijumpai di daerah yang dikaji?
    2. Bagaimana proporsi masing-masing kelas yang ada di daerah tersebut?
    3. Berapa persen dari daerah tersebut yang diduduki oleh tanah dengan sifat-sifat tertentu?

Kelompok pertanyaan pertama ini memerlukan pengambilan contoh secara statistik (pada satu titik atau daerah) dan tidak memerlukan peta serta dapat memberikan informasi di tingkat nasional. Yang dikehendaki adalah informasi tentang sebaran geografis tanah.

  1. Pada lokasi tertentu (pada suatu daerah yang dipilih)
    1. Apa taksa tanah pada lokasi tersebut?
    2. Bagaimana sifat tanah pada lokasi tersebut?
    3. Bagaimana pola spasial dari kelas tanah pada dan di sekitar lokasi tersebut?
    4. Bagaimana pola spasial dari sifat-sifat tanah pada atau di sekitar lokasi tersebut?

Kelompok pertanyaan kedua ini memerlukan peta dalam pengambilan contoh selain itu dapat memberikan informasi di tingkat yang lebih spesifik. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang akan dirancang penggunaan lahannya.

  1. Memiliki lokasi daerah yang diinginkan
    1. Dimana lokasi taksa tertentu di daerah tersebut dapat dijumpai?
    2. Dimana lokasi tanah-tanah yang memiliki sifat-sifat tertentu dapat dijumpai?
    3. Dimana sifat tanah dengan pola spasial tertentu dapat dijumpai?

Kelompok pertanyaan ketiga ini harus dijawab oleh pihak perencana atau pengguna lahan yang akan menggunakan lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan.

5. Ada Berapa kategori dalam Soil Taxonomy. Apa kaitannya dengan Peta Tanah?

Sifat – sifat penciri untuk berbagai kategori dalam taksonomi tanah (Sumber: Hardjowigeno, 2003; Soil Survey Staff, 2003). Dalam sistem Taksonomi Tanah USDA, terdapat 6 kategori yang tersusun secara berhiraki yaitu :

  • Ordo : Proses pembentukan tanah seperti yang ditunjukkan oleh ada tidaknya horizon penciri serta jenis (sifat) horizon penciri yang ada. (12 taksa).
  • Subordo :  Keseragaman genetik, misalnya ada tidaknya sifat – sifat tanah yang berhubungan dengan pengaruh air, rezim lengas tanah, bahan induk utama, pengaruh vegetasi, tingkat dekomposisi bahan organic. (64 taksa).
  • Grup  : kesamaan jenis, susunan dan perkembangan horizon, kejenuhan basa, suhu lengas, tanah ada tidaknya lapisan-lapisan penciri lain seperti fragipan, duripan, dll. (317 taksa).
  • Sub-grup : 1. Sifat – sifat inti dari grup (tipik), 2. Sifat – sifat tanah peralihan ke group, sub-ordo atau ordo lain, 3. Sifat – sifat tanah peralihan ke bukan tanah. (> 1400. taksa).
  • Famili :  Sifat – sifat penting untuk pertanian atau bidang rekayasa (keteknikan). Sifat yang sering digunakan sebagai pembeda antara lain adalah : sebaran besar butir, susunan mineral liat, kelas aktivitas tukar kation, rezim suhu tanah. (>8000. Taksa).
  • Seri : Jenis dan susunan horizon, warna, tekstur, struktur, konsistensi, reaksi tanah, sifat – sifat kimia dan mineralogi masing – masing horizon (di Amerika> 19.000 taksa).

Kaitannya dalam peta tanah yaitu, dalam pembentukan suatu area lahan atau tanah pasti memiliki asal usul bahan pembentuknya. Sehingga bisa diketahui jenis tanah yang ada melalui 6 kategori yang ada, atau dengan kata lain melalui proses pembentukan tanah tersebut, sehingga dapat mengklasifikasikan tanah, data deskripsi minipit dan atau profil tanah disertai data iklim seperti rezim lengas tanah dan rezim suhu tanah pada suatu lokasi daerah yang disurvei.

6.Cari contoh peta tanah dan peta evaluasi lahan dari internet. Apa yang berbeda? Mana yang lebih bermanfaat bagi:

 

  1. Petani
  2. Peneliti
  3. Konsultan perkebunan
  4. Mahasiswa

Contoh peta tanah

ID4001_1SO

 

Peta tanah adalah suatu peta yang menggambarkan penyebaran jenis-jenis tanah disuatu daerah. Peta ini dilengkapi degan legenda yang secara singkat menerangkan sifat-sifat tanah dari masing-masing satuan peta. Tujuan pemetaan tanah adalah melakukan pengelompokan tanah ke dalam satu satuan peta tanah yang masing-masing mempunyai sifat-sifat yang sama. Masing-masing satuan peta diberi warna yang sedapat mungkin sesuai dengan warna tanah yang sesungguhnya. Peta tanah biasanya disertai dengan “Laporan Pemetaan Tanah” yang menerangkan lebih lanjut sifat-sidan kemampuan tanah yang digambarkan dalam peta tanah tersebut.

Contoh peta evaluasi lahan

Untitled

 

Peta evaluasi lahan adalah peta yang fungsinya memberikan gambaran yang jelas terhadap tujuan khusus. Contoh peta ini adalah peta guna lahan, peta batas wilayah dan sebagainya.

Perbedaan peta tanah dan evaluasi lahan adalah:

Peta tanah memperlihatkan distribusi taksa tanah dan berkaitan dengan kenampakan fisik permukaan bumi, sedangkan peta evaluasi lahan memperlihatkan peta tata guna lahan dan berkaitan dengan batas wilayah dan guna lahan.

  1. Untuk petani yang sesuai adalah peta tanah karena peta ini memang dibuat untuk tujuan pertanian, di dalam peta tanah diterangkan mengenai kemampuan dan karakteristik tanah tersebut sehingga dapat mengetahui jenis komoditas yang cocok ditanam pada tanah tersebut.
  2. Untuk peneliti yang sesuai adalah peta tanah dan peta evaluasi lahan, disesuaikan dengan jenis penelitian yang akan dilaksanakan. Kedua peta ini dapat memberikan informasi dengan jelas.
  3. Untuk konsultan perkebunan yang sesuai adalah peta evaluasi lahan, karena perkebunan mencakup wilayah yang luas, maka diperlukan pengaturan tata letak yang sesuai.
  4. Untuk mahasiswa yang sesuai adalah peta tanah dan peta evaluasi lahan, karena dua peta ini bisa memberikan informasi yang jelas untuk tujuan pembelajaran.

Cari contoh deskripsi profil tanah (dr Internet), yang lengkap dengan data hasil analisis tanahnya (data laboratorium).
Tiap kelompok beda Ordo Tanah : (Kel: 1. Inceptisol, 2, Vertisol, 3. Mollisol, 4. Alfisol, 5. Andisol, 6. Ultisol, 7. Oxisol, 8. Spososol, 9. Histosol, 10. Entisol.

Penyidikan Profil Tanah Alfisol

No. Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Jeluk mempan atau Solum Tanah

Kedalamam regolit

Gleisasi

Ketegasan batas horizon

  1. Lap I dan Lap II
  2. Lap II dan Lap III
  3. Lap III dan Lap IV

Bentuk Batas Horizon

  1. I dan II
  2. II dan III
  3. III dan IV

Perakaran

a. Jumlah

Lapisan I

Lapisan II

Lapisan III

Lapisan IV

b. Ukuran

Lapisan I

Lapisan II

Lapisan III

Lapisan IV

> 90 cm (dalam)

> 200 cm (sangat dalam)

Bebas

Jelas

Baur

Jelas

Bergelombang

Baur

Rata Miring

Sangat Banyak

Banyak

Cukup Banyak

Sedikit

Halus

Sedang

Kasar

Kasar

Sumber : Laporan Sementara

C.     Sifat-Sifat Fisika Tanah

Tabel 1.3. Sifat Fisika Tanah

No Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Sumber Laporan Sementara

7.

Tekstur Tanah

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Struktur Tanah

  1. Tipe

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

  1. Ukuran

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

  1. Derajat

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

Konsistensi

c.   Kering

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

Warna

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Aerasi Draenasi

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Permebilitas

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Penetrometer

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV
Cl (Clay Loam)

Cl (Clay Loam)

Sc (Shandy Clay)

Sc (Shandy Clay)

Crumb

Sub Angular Blocky

Angular Blocky

Angular Blocky

Halus

Sedang

Kasar

Kasar

Lemah

Sedang

Kuat

Kuat

Lunak

Agak Keras

Keras

Sangat Keras

7,5 YR 5/3 (Brown)

7,5 YR 4/6 (Strong Brown)

7,5 YR 4/4 (Brown)

7,5 YR 3/4 (Dark Brown)

Jelek

Jelek

Sedang

Agak Baik

Cepat

Cepat

Agak Cepat

Agak Cepat

2,5 kgf/cm2

3,8 kgf/cm2

4,5 kgf/cm2

4,5 kgf/cm2

D.     Sifat-sifat Kimia Tanah

Tabel 1.4 Sifat Kimia Tanah

No. Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

Kemasaman

a. pH H2O

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

b. pH KCl

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

Bahan Organik

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Kapur CaCO3

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Konkresi Mn

  1. Letak
  2. Jenis
  3. Ukuran
  4. Kelimpahan
5

5

5 – 6

5 – 6

5

5

5 – 6

6

Sangat Tinggi

Tinggi

Cukup Tinggi

Sedang

Nihil

Sedang

Sedang

Nihil

Sangat Tinggi

Tinggi

Cukup Tinggi

Sedang

Sumber : Laporan Sementara

Gambar 1.1 Penampang tegak profil tanah di daerah sukosari

Soil Taxonomy adalah Alfisol.

  1. A.         Penyidikan Profil Tanah

Profil tanah merupakan penampang vertikal tanah yang terdiri dari lapisan solum  dan lapisan bahan induk. Profil tanah yang kami amati memiliki ukuran panajang 150 cm dan lebar 150 cm. Adapun pembuatan profil tanah harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  • Membuat penampang melintang tanah secara Vertikal pada tanah yang diusahakan alami atau belum mengalami perubahan akibat ulah manusia.
  • Kedalaman penampang setidaknya + 100 cm dengan tidak terkena sinar matahari langsung.
  • Tiap kali pengamatan harus dalam keadaan baru, yaitu dengan cara mengerupus dengan cangkul.

Untuk menentukan batas lapisan tanah ada tiga cara yaitu dengan melihat langsung perbedaan warnanya, dengan menusuk-menusuk dan memukul – mukul tanah dengan gagang pisau. Dari hadil identifikasi diperoleh ternyata profil V memiliki empat lapisan dengan ketegasan tanah profil I dan profil II jelas, untuk lapisan II dan lapisan III baur, dan untuk lapisan III dan lapisan IV jelas sedangkan untuk untuk batas lapisannya lapisan I dan lapisan II gelombang, lapisan II dan III berombak III dan IV berbentuk rata miring.

Gleisasi adalah kondisi dimana tanah telah mengallami penggenangan atau jenih air sehingga suasana lebih reduktif. Di daerah penelitian yang diamati  mempunyai gleisasi bebas hal ini disebabkan karena keadaan rea praktikum tidak tergenang air sehingga bahan berupa tegal dengan kedalaman > 20m  atau > 200 cm sehingga tergolong kedalaman regolit sangat dalam.

Adapun perakaran pada masing-masing lapisan tanah yaitu lapisan I mempunyai jumlah perakaran sangat banyak dengan ukuran halus, pada lapisan II mempunyai jumlah perakaran banyak dengan ukuran sedang, pada lapisan III  perakaran cukup banyak dengan ukuran kasar dan pada lapisan IV perakaran sedikit dengan ukuran kasar. Semakin dalam lapisan maka semakin sedikit jumlah perakarannya. Banyak sedikitnya jumlah perakaran bergantung pada adanya kondisi udara air zat hara dalam tanah selain itu kondisi perakaran juga berkaitan dengan konsistensi tanah.

  1. B.           Sifat Fisika Tanah

Sifat fisika tanah adalah sifat yang data dilihat secara fisik antara lain stuktur tanah, konsistensi, warna, aerasi dan drainasi, permibilitas dan penetrometer.

Tektur tanah merupakan perbandingan relatif tiga fraksi – fraksi tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara farksi liat, debu dan pasir. Pengamatan tekstur tanah dengan mengunakan indera perasa yaitu dengan membasahi sedikitkemudia tanah dibentuk bola dengan dikepal- kepal jika tidak dapat berarti termasuk golongan pasir. Setelah itu tanah dibentuk pita ditekan-tekan ibu jari dan telunjukpabila tidak dapat termasuk pasir geluh, jika dapat maka termasuk kelas geluh (<2,5 cm), (2,5 – 5 cm) lempeng bergeluh, (> 5 cm) kelas lempung. Dari hasil pengamatan lapang diperoleh hasil yaitu pada lapisan I dan lapisan II memiliki tekstur Clay Loam (Geluh Berlempung) dan pada lapisan III dan lapisan IV memiliki tekstur Sandy Clay (lempung bergeluh). Tekstur tanah menentukan tata air tanah berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan air tanah. Semakin liat tekstur tanah maka semakin semkin lambat dalam proses penyerapan air, begitu pula sebaliknya semakin tinggi persentase pasir maka semakin besar pori daiantara partikel-partikel tanah sehingga semakin memperlancar gerakan udara.

Cara menentukan struktur tanah ialah dengan mengambil gumpala tanah, dipecah dengan jari pecahan tersebut merupakan agregat kemidian ditentukan tipe ukuran dan derajat. Tipe berarti bentuk dan susunan agregat sedangkan derajat adalah menentukan lamanya agregat. Dari hasil pengamatan diperoleh struktur tanah pada lapisan I bertipe crumb dengan ukuran halus dan derajat lemah, lapisan II bertipe sub angular dengan ukuran halus dan derajat sedang sdangkan lapisan III dan lapisan IV memiliki tipe yang sama yaitu angular blocky dengan ukuran kasardan derajat halus.

Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah terhadap pertumbuhan bentuk atau perpecahan, keadaan ini ditentukan oleh sifat kohesi dan adhesi. Cara menetukan konsistensi tanah yaitu dengan meremas memijit atau menekan tanah dalam berbagai kandungan seperti basah lembab dan kering diantara ibu jari dan telunjuk. Pengamatan disesuaikan kondisi lapangan sebenarnya apakah basah, lembab, kering. Pengamatan disesuaikan kondisi lapangan sebelumnya dimana kondisi lapangan kering pada lapisan I diperoleh hasil lunak, lapisan II agak keras, lapisan III keras, lapisan IV sangat keras hal ini dikarenakan tahan terhadap tekanan dan mudah dipatahkan dengan tangan.

Sifat fisik yang paling jelas dan yang paling mudah ditentukan adalah warna tanah dimana warna tanah dapat digunakan untuk

  1. Menaksir tingkat kesuburan
  2. Menentukan Jenis dan kadar BO
  3. Keadaan aerasi dan draenasi
  4. Tingkat perkembangan tanah
  5. Kadar air tanah dan adanya bahan-bahan tertentu.

Warna tanah ditentukan oleh Munsell Sort Colour Chart (MSCC), warna tanah dalam MSCC dinyatakan dalam 3 satuan yaitu hue, value, dan chroma. Dalam pembentukan warna tanah perlu diperhatiakan

    1. Tanah harus lembab
    2. Terlindung dari Sinar Matahari
    3. Tanah ditaruh dilubang kertas MSCC
    4. Tanah tidak boleh mengkilap kecuali pada warna bidang struktur.

Untuk Lapisan I mempunyai warna 7,5 YR 5/4 (brown) dengan kata lain memmiliki Hue 7,5 YR; Value 5/; dan Chroma /4. Lapisan II mempunyai warna 7,5 YR 4/6 (Strong brown) dengan kata lain Hue 7,5 YR; Value 4/; dan Chroma /6. Lapisan III mempunyai warna 7,5 YR 4/4 (brown) dengan memiliki Hue 7,5 YR; Value 4/; dan Chroma /4. Lapisan IV mempunyai warna 7,5 YR 3/4 (Dark Brown) dengan Hue 7,5 YR; Value 3/; dan Chroma /4.

Aerase dan draenase merupakan sifat tanah yang erat kaitannya dengan kemampuan tanah dalam penyediaan air dan udara. Drainase menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lama dan seringnya jenis air. Untuk pengamatan digunakan reagen KCNS dan K3Fe (CN)6. Dalam bereaksi dengan KCNS akan terbentuk warna merah, sedangkan reaksi dengan K4Fe(CN)6 akan membentuk warna biru. Apabila warna merah lebih dominan dibandingkan warna biru, berarti aerase dan draenasenya baik, begitu pula sebaliknya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pada lapisan I dan II mempunyai aerasi dan draenasi jelek, lalu pada lapisan III memiliki aersi dan draenase sedang dan yang terakhir pada lapisan IV memiliki aerase dan draenase agak baik.

Permebilitas tanah adalah lewatnya air tanah di dalam profil tanah setelah melewati proses inflrasi dari air hujan yang jatuh ke bumi atau air dari sumber lain. Permebilitas sangat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Tanah dengan kandungan lempung tinggi akan menyebabkan permebilitas terhambat dan bila berpasir justu sebaliknya permebilitas yang didapatkan dari hasil pengamatan lapisan I dan II memiliki permebilitas cepat, sedangkan untuk lapisan III dan IV memiliki tingkat permiabilitas yang agak cepat, hal ini di karenakan kandungan lempung lebih banyak dari lapisan I dan Lapisan II.

Uji penetrometer atau uji kekerasan tanah digunakan sebagai alat untuk mengetahui daya mekanik/topang tanah. Caranya dengan mula-mula cincin geser pembaca daya topang digeser ke belakang sampai patok (terbaca 0). Batang tusuk kemudian ditusukkan ke dalam tanah secara tegak hingga ujungnya masuk sedalam tanda batas. Pada waktu ditusukkan inilah cincin geser pembaca terdorong ke depan dan terhenti pada saat penusukan juga terhenti. Makin keras tanahnya, cincin geser pembaca makin jauh teredorong ke depan. Satuan yang digunakan adalah kgf/cm2. Dari hasil pengamatan dilapangan didapatkan data bahwa pada lapisan I uji penetrmeternya 2,5 kgf/cm2 yang artinya tanah lembek, lapisan II 3,8 kgf/cm2yang artinya tanah cukup kuat untuk menahan beban, dan lapisan III dan lapisan IV memiliki daya topang sama-sama 4,5 kgf/cm2 yang artinya cukup mampu untuk menahan beban yang berat seperti traktor.

  1. C.          Sifat Kimia Tanah

Hal-hal yang perlu diamati dalam analisis kimia tanah adalah pH tanah, kandungan BO, kadar kapur (CaCO3) dan konkresi Mn.

pH tanah digunakan untuk mengetahui aktvitas organisme, ketersediaan hara, keracunan dan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi tanah tersebut. Penentuan pH tanah dapat dilakukan secara elektronik dan kalorimetrik, baik laboratorium maupun lapangan. Elektrometrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH. Sedangkan pada praktikum ini pH tanah ditentukan dengan pH stick. PH aktual dianalisis dengan cara mencampurkan tanah dengan air (H2O), sedangkan pH potensial diukur dengan cara mencampurkan tanah dengan KCl. Dari hasil pengamatan pH H2O diketahui bahwa pH tanah pada lapisan I dan lapisan II adalah 5 sedangkan untuk lapisan III dan lapisan IV pH 5-6. pH KCl untuk lapisan I sebesar 5, lapisan II sebesar 5, lapisan III sebesar 5 – 6  dan untuk lapisan IV pH sebesar 6. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pH KCl lebih tingi dari pH H2O. Hal ini diakibatkan karena pada tanah alisol terjadi pencucian basa-basa dalam tekstur dan struktur tanah, sehingga Solusi yang digunakan untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan pengapuran mengingat daerah ini tidak ada kadar kapurnya.

Bahan organik merupakan akumulasi seresah tumbuhan dan hewan yang telah mati dan telah terombakkan oleh jasad hidup tanah. Penentuan jumlah bahan organik secara kualtatif yaitu dengan mengamati banyaknya percikan atau buih yang timbul setelah massa tanah ditetesi dengan H2O2 10%. Dari hasil pengamatan kandungan BO pada lapisan I sangat tinggi, pada lapisan II tinggi, serta pada lapisan III cukup tinggi dan pada lapisan IV sedang. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pada proses pembentukan horizon, BO akan terakumulasi di lapisan atas kemudian mengalami pencucian sehingga semakin ke bawah kandungan BO semakin sedikit.

Kadar kapur (CaCO3) dalam tanah dapat ditentukan dengan cara menetesi tanah dengan HCl 10%. Diukur secara relatif jelas tidaknya cara membuihnya kapur di tanah dengan tetesan HCl tadi. Tanah pada lapisan I dan lapisan IV tidak mengandung kapur karena tidak terjadi percikan sedangkan untuk tanah lapisan II dan III terdapat kandungan kapur dengan kadar sedang.

Konkresi merupakan konsentrasi lokal senyawa kimia yang berupa butir atau batang yang keras. Konkresi terjadi akibat adanya proses oksidasi-reduksi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya konkresi dilakukan pengambilan sample tanah tiap lapisan dan kemudian ditetesi dengan H2O2, jika timbul percikan maka pada lapisan tersebut terdapat konkresi Mn, Konkresi pada hasil pengamatan ditemukan pada lapisan I konkersinya sangat tinggi, lapisan II konkresinya tinggi, lapisan III cukup tinggi, dan lapisan IV sedang.

 

KLASIFIKASI, JENIS, DAN SIFAT CACING TANAH

Klasifikasi Secara Umum

Dalam bahasa Inggris cacing sering disebut dengan istilah worm, vermes, dan helminth. Cacing, dalam kerajaan binatang termasuk hewan invertebrata atau tanpa tulang belakang. Cacing diklasifikasikan kedalam tiga phylum, yaitu Platyhelminthes, Aschelminthes (Nemathelminthes), dan Annelida (Listyawan, et.al. 1998).

Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang berbentuk pipih, ada yang parasit dan ada yang tidak. Platyhelminthes dibagi dalam tiga kelas yakni Turbelaria, Trematoda dan Cestoda. Kelompok Turbelaria umumnya hidup bebas dan tidak bersifat parasit. Contohnya adalah cacing planaria dan microstomum. Di alam, planaria merupakan hewan indikator perairan yang tidak tercemar. Kelompok Trematoda dan Cestoda umumnya bersifat parasit. Contoh dari kelompok Trematoda adalah cacing Fasciola hepatica (cacing hati), Eurytrema pancreaticum (cacing kelenjar pankreas), dan Schistosoma japonicum (cacing pembuluh darah). Sementara itu contoh dari kelompok Cestoda adalah cacing pita (Taenia saginata dan T. solium) (Listyawan, et.al. 1998).

Phylum Aschelminthes terbagi menjadi dua kelas yaitu Nematoda dan Rotifera. Cacing dari phylum ini berbentuk silindris. Nematoda umumnya bersifat parasit, contohnya adalah cacing yang hidup di usus mamalia seperti Ascharis lumbricoides, A. suum, dan Ancylostoma duodenale (Listyawan, et.al. 1998).

Phylum yang terakhir yaitu Annelida, yaitu cacing yang bersegmen seperti cincin. Phylum ini terbagi menjadi tiga kelas yaitu Polychaeta, Hirudinea, dan Oligochaeta. Polycaheta merupakan kelompok cacing yang memiliki banyak seta atau sisir di tubuhnya, contohnya adalah Nereis dan Arenicola. Sedangkan contoh dari kelompok Hirudinea adalah lintah dan pacet (Hirudo medicinalis dan Haemadipsa zeylanica). Kelas terakhir dari phylum Annelida adalah Oligochaeta dimana cacing tanah termasuk di dalamnya (Listyawan, et.al. 1998).

Jenis-jenis Cacing Tanah

Cacing tanah oleh beberapa praktisi dikelompokan berdasarkan warnanya yaitu kelompok merah dan kelompok abu-abu. Kelompok warna merah antara lain adalah Lumbricus rubellus (the red woorm), L. terestris (the night crawler), Eisenia foetida (the brandling worm), Dendroboena, Perethima dan Perionix. Sedangkan kelompok abu-abu antara lain jenis Allobopora (the field worm) dan Octolasium (Listyawan, et.al. 1998). Pada dasarnya cacing tanah adalah organisme saprofit, bukan parasit dan tidak butuh inang. Ia murni organisme penghancur sampah.

Jenis cacing yang umum dikembangkan di Indonesia adalah L. rubellus. Cacing ini berasal dari Eropa, ditemukan di dataran tingi Lembang – Bandung oleh Ir. Bambang Sudiarto pada tahun 1982. Dilihat dari morfologinya, cacing tersebut panjangnya antara 80 – 140 mm. Tubuhnya bersegmen-segmen dengan jumlah antara 85 – 140. Segmentasi tersebut tidak terlihat jelas dengan mata telanjang. Yang terlihat jelas di bagian tubuhnya adalah klitelum, terletak antara segmen 26/27 – 32. Klitelum merupakan organ pembentukan telur. Warna bagian punggung (dorsal) adalah coklat merah sampai keunguan. Sedangkan warna bagian bawah (ventral) adalah krem. Pada bagian depan (anterior) terdapat mulut, tak bergigi. Pada bagian belakang (posterior) terdapat anus (Listyawan, et.al. 1998).

Sifat Cacing Tanah

Cacing tanah tidak dapat dibedakan jenis kelaminnya karena cacing bersifat hermaprodit alias dalam satu tubuh terdapat dua alat kelamin, jantan dan betina. Namun cacing tanah tidak dapat melakukan perkawinan sendirian. Untuk kawin ia membutuhkan pasangan untuk pertukaran sperma (Simandjuntak, 1982).

Cacing tanah merupakan hewan nokturnal dan fototaksis negatif. Nokturnal artinya aktivitas hidupnya lebih banyak pada malam hari sedangkan pada siang harinya istirahat. Fototaksis negatif artinya cacing tanah selalu menghindar kalau ada cahaya, bersembunyi di dalam tanah. Bernafasnya tidak dengan paru-paru tetapi dengan permukaan tubuhnya. Oleh karena itu permukaan tubuhnya selalu dijaga kelembabannya, agar pertukaran oksigen dan karbondioksida berjalan lancar.

Usia cacing tanah bisa mencapai 15 tahun, namun umur produktifnya hanya sekitar 2 tahun. Cacing dewasa yang berumur 3 bulan dapat menghasilkan kokon sebanyak 3 kokon per minggu. Di dalam kokon terdapat telur dengan jumlah antara 2 – 20 butir. Telur tersebut akan menetas menjadi juvenil (bayi cacing) setelah 2 – 5 minggu. Rata-rata hidup cacing adalah 2 ekor perkokon. Cacing akan menjadi dewasa dan siap kawin wetelah berumur 2 – 3 bulan (Maskana, 1990).

Dalam pertumbuhannya, pertambahan berat cacing sampai berumur satu bulan adalah sekitar 400 persen, 1 – 2 bulan 300 persen, dan 2 –3 bulan 100 persen. Dalam satu siklus (3 bulan) 1 kg induk cacing menghasilkan 6 kg cacing. Dalam 1 kg cacing terdapat sekitar 2000 ekor. Sedangkan berat keringnya adalah sekitar 20 persen dari berat basah (Maskana, 1990).