• Tugas Pengemasan Bu Hindun

    Date: 2013.05.28 | Category: Uncategorized | Tags:

    Nama : Riska Safitri M

    NIM : 105100301111059

    Kelas : F

    BAB I PENDAHULUAN

     

    1.1  Latar Belakang

    Singkong merupakan Produk Pertanian yang cocok untuk di jadikan unit bisnis karena manfaat yang di peroleh komoditi tersebut cukup banyak dan bermanfaat melihat pangsa pasar yang cukup menggiurkan atas bahan baku singkong. Singkong (Manihot esculenta) yang di kenal juga ketela pohon atau Umbi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya di kenal luas sebagai makanan pokok penghasil Karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Keberadaan Singkong (Manihot esculenta) pada awalnya banyak ditemukan tumbuh liar di hutan, kebun sendiri, bahkan tumbuh disembarang tempat. Sejalan dengan permintaan pasar yang terus meningkat, maka beberapa singkong dibudidayakan di Indonesia. Sebagai bahan makanan, singkong memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan makanan lainnya. Kelebihan singkong terletak pada kandungan karbohidrat, lemak, Protein, kalori, fosfor dan cita rasanya yang lezat.

    Segmentasi pasar khususnya makanan erat kaitannya dengan penilaian konsumen terhadap keamanan produk dan nilai fungsionalnya untuk kesehatan. Kripik singkong (Cassava Chip) merupakan salah satu alternatif olahan pangan yang menyehatkan (healthy foods). Selain itu kripik singkong memiliki umur simpan yang relatif lama sampai berbulan-bulan, sehingga mempunyai prospek ekonomi yang bagus. Sebenarnya, prospek pengembangan usaha singkong di Indonesia cukup menjanjikan. Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat dalam mengonsumsi singkong juga semakin meningkat dan terus meningkat dari tahun ke tahun . Hal ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin memilih gaya hidup sehat secara vegetarian. Dari segi bisnis, usaha singkong sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan waktu panen singkong yang relatif singkat yakni 1 – 5 bulan. Peluang pasar singkong tidak terbatas pada singkong segar saja, tetapi meliputi produk olahan seperti singkong siap saji, kripik singkong, dan lain sebagainya.

    Dengan melihat begitu baiknya pertumbuhan bisnis wirausaha ini, mulai dari perencanaan usaha sampai dengan proses realisasi usaha ini serta peluang besar produk dapat di eksport ke luar Negeri, maka kami ingin membuka proyek industri pangan berbasis singkong dengan spesifik produk berbentuk kripik singkong dengan lapis coklat dan keju.

     

    1.2  Tujuan

    Produk yang kami buat bertujuan untuk menambah nilai guna dari singkong yang merupakan jenis umbi-umbian khas dari Indonesia. Dengan mengangkat bahan baku pangan khas Indonesia dan menggunakan teknologi baru produk yang kami produksi akan menghasilkan produk yang menjanjikan pasar sehingga dalam jangka waktu yang lama dapat diekspor ke luar negri yang tentunya akan menambah devisa negara.

     

    1.3 Visi dan Misi

    Visi :

    Menjadi UKM yang unggul, terkemuka dan terdepan dalam menghasilkan produk yang berkualitas.

    Misi :

    • Memberikan layanan dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh konsumen
    • Meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan
    • Menciptakan kondisi inovasi produk dari bahan baku singkong menjadi makanan moderen
    • Meningkatkan nilai tambah bagi tanaman singkong itu sendiri
    • Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola UKM yang baik

     

     

     

     

     

     

     

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

     

    2.1 Singkong

    Ketela pohon, ubi kayu, atau singkong (Manihot utilissima) adalah perdu tahunan tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Perdu, bisa mencapai 7 meter tinggi, dengan cabang agak jarang. Akar tunggang dengan sejumlah akar cabang yang kemudian membesar menjadi umbi akar yang dapat dimakan. Ukuran umbi rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari klon/kultivar. Bagian dalam umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat meracun bagi manusia. Umbi ketela pohon merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionina (Cereda, 2006).

     

    2.2 Coklat

    Cokelat adalah sebutan untuk hasil olahan makanan atau minuman dari biji kakao (Theobroma cacao). Cokelat pertama kali dikonsumsi oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Dengan bentuk, corak, dan rasa yang unik, cokelat sering digunakan sebagai ungkapan terima kasih, simpati, atau perhatian bahkan sebagai pernyataan cinta. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia, selain sebagai cokelat batangan yang paling umum dikonsumsi, cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin. Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol (Atkinson, 2010).

     

    2.3 Keju

    Keju adalah sebuah makanan yang dihasilkan dengan memisahkan zat-zat padat dalam susu melalui proses pengentalan atau koagulasi. Proses pengentalan ini dilakukan dengan bantuan bakteri atau enzim tertentu yang disebut rennet. Hasil dari proses tersebut nantinya akan dikeringkan, diproses, dan diawetkan dengan berbagai macam cara. Dari sebuah susu dapat diproduksi berbagai variasi produk keju. Produk-produk keju bervariasi ditentukan dari tipe susu, metode pengentalan, temperatur, metode pemotongan, pengeringan, pemanasan, juga proses pematangan keju dan pengawetan. Umumnya, hewan yang dijadikan sumber air susu adalah sapi. Air susu unta, kambing, domba, kuda, atau kerbau digunakan pada beberapa tipe keju local. Makanan ini dikenal di seluruh dunia, namun diduga pertama kali dikenal di daerah sekitar Timur Tengah. Meskipun tidak dapat dipastikan kapan keju pertama kali ditemukan, menurut legenda keju pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pengembara dari Arab (Gisslen, 2007).

     

    2.4 Aluminium foil

    Aluminium foil adalah bahan kemasan berupa lembaran logam aluminum yang padat dan tipis dengan ketebalan <0.15 mm. Kemasan ini mempunyai tingkat kekerasan dari 0 yaitu sangat lunak, hingga H-n yang berarti keras. Semakin tinggi bilangan H-, maka aluminium foil tersebut semakin keras. Ketebalan dari aluminium foil menentukan sifat protektifnya. Jika kurang tebal, maka foil tersebut dapat dilalui oleh gas dan uap. Pada ketebalan 0.0375 mm, maka permeabilitasnya terhadap uap air = 0, artinya foil tersebut tidak dapat dilalui oleh uap air. Foil dengan ukuran 0.009 mm biasanya digunakan untuk permen dan susu, sedangkan foil dengan ukuran 0.05 mm digunakan sebagai tutup botol multitrip (Syarief, 2009).

     

    2.5 Plastik

    Kemasan plastik saat ini mendominasi industri makanan di Indonesia, menggeser penggunaan kemasan logam dan gelas. Hal ini disebabkan karena kelebihan dari kemasan plastik yaitu ringan, fleksibel, multiguna, kuat, tidak bereaksi, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal), dapat diberi warna dan harganya yang murah. Kelemahan dari plastik karena adanya zat monomer dan molekul kecil dari plastik yang mungkin bermigrasi ke dalam bahan pangan yang dikemas. Plastik sering dibedakan dengan resin, karena antara plastik dan resin tidak jelas perbedaannya. Secara alami, resin dapat berasal dari tanaman seperti balsam, damar, terpentin. Oleoresin dan lain-lain. Teapi kini resin sintesis sudah dapat diproduksi misalnya selofan, akrilik seluloid, formika, nilon, fenol formaldehida resin dan sebagainya (Miltz, 2003).

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III PEMBAHASAN

     

    3.1 Identifikasi Produk

    UKM CEMARA merupakan UKM yang memproduksi berbagai jenis camilan khas daerah Lampung yang berbasis singkong. Salah satu unggulan dari produk UKM ini adalah keripik singkong. Keripik singkong ini dipasarkan dengan nama “KRETZ” Keunggulan dari keripik ini yaitu diproduksi dengan berbagai macam rasa seperti rasa coklat, melon, stroberi, keju serta ada juga yang rasa pedas. Selain itu dari segi bentuk keripik ini berbeda dengan keripik singkong pada umumnya yaitu dengan irisan singkong yang panjang seperti stik dengan balutan krim dengan rasa yang berbeda beda. Keripik singkong “”KRETZ” dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini :

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Gambar 1 : Keripik singkong “KRETZ”

     

    Untuk kemasan produk terdiri dari kemasan primer dan tersier. Kemasan primer produk keripik singkong “KRETZ”  terbuat dari bahan aluminium foil, sedangkan kemasan tersier terbuat dari bahan kertas karton atau kardus. Harga dari produk keripik singkong ”KRETZ” beraneka ragam, berkisar antara Rp 5.000,00 sampai Rp 15.000 tergantung dari isi kemasan produk.

     

     

    3.1.1 Segmentasi, Targeting dan Positioning

    –       Segmentasi :

    Rata-rata penggemar berat makanan pedas adalah kalangan remaja atau anak muda. Ini menjadikan sebagai target pasar  yang sangat potensial, dengan cara menawarkan keripik singkong rasa pedas. Di samping itu, menyediakan varian rasa yang lain seperti keripik singkong keju, coklat, strobery dan melon yang tentunya sangat renyah dan sedap untuk dijadikan sebagai makanan ringan atau camilan yang cocok untuk kalangan menengah ke bawah dengan harga yang terjangkau.

    –       Targeting:

    UKM “CEMARA” mentargetkan konsumen berusia muda dan konsumen yang senang dengan camilan.

    –       Positioning:

    Produk keripik singkong “KRETZ” di benak konsumen merupakan produk yang unik, sulit didapatkan, dan memiliki berbagai macam rasa.

     

    3.1.2 Analisis Lingkungan Eksternal

    Faktor-faktor yang menjadi peluang (opportunity) dan ancaman (treats) bagi perusahaan :

    1. Peluang ( Opportunity)

    Dari kondisi yang ada maka dapat diketahui bebetapa peluang yang dihadapi oleh UKM “CEMARA“ antara lain :

    a)        Komposisi penduduk Indonesia yang beraneka ragam, hal ini akan mempengaruhi pola konsumsi.

    b)        Pertumbuhan ekonomi.

     

    2. Ancaman (Threats)

    Ada beberapa variable yang mempengaruhi kelangsungan hidup UKM “CEMARA“, yang menjadi ancaman antara lain :

    a)        Perubahan teknologi, akan memberikan ancaman bagi perusahaan terutama dalam persaingan penggunaan teknologi. Melalui teknologi perusahaan pesaing dapat meningkatkan produk bermutu dan kapasitas produk yang besar serta tingkat efisiensiyang lebih tinggi. Hal ini berpengaruh besar bagi perusahaan “CEMARA”. Jika tidak memperhatikan dan menyesuaikan teknologi yang dipakai maka perusahaan tersebut akan jauh tertinggal dengan perusahaan lain yang menggunakan teknogi modern.

    b)        Persaingan dengan perusahaan keripik singkong yang lain. Di Lampung perusahaan yang memproduksi keripik singkong cukup banyak dari perusahaan yang bertskala kecil samapi perusahaan yang berskala besar.

    c)        Kelangkaan bahan baku dan kenaikan harga. Untuk itu perusahaan perlu mengantisipasi hal tersebu dengan mencari daerah sentra produksi bahan baku singkong. Selain itu juga perusahaan memiliki perkebunan singkong sendiri untuk bahan baku.

     

    3.1.3 Analisis Lingkunan Internal.

    Faktor-faktor yang menjadi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dalam memproduksi dan memasarkan produknya.

    1. Kekuatan ( strength)

    Faktor-faktor yang menjadi kekuatan keripik singkong adalah “ Kre-NyezZ “ adalah :

    a)        Kualitas produk (quality), untuk mempertahankan mutu keripik singkong , perusahaan melakukan beberapa cara antara lain pengawasan mutu mulai dari pemilikan bahan baku, pengolahan sampai penjualan sehingga produk yang dihasilkan akan sergam baik ukuran, bentuk , warna, rasa dan kerenyahan.

    b)        Bahan baku, bahan baku yang digunakan dalam produksi keripik singkong dengan menggunakan bahan baku alami, baik bahan baku utama maupun bahan baku penolong.

    c)        Merek dagang (brand), UKM “ CEMARA” dalam meningkatkan fase penjualan salah cara yang dilakukan adalah dengan memberikan merek dagang atau label pada kemasannya, hal ini dimaksudkan identifikasi produk yang ada di pasar . Selain itu akan sangat berguna bagi pembeli karena produk tersebut bisa dikenal. Dengan pemberian label juga berguna untuk melindungi produk ditiru oleh perusahaan lain.

    d)       Kemasan (packaging), pada dasarnya kemasan atau pembungkus suatu produk mempunyai arti penting, karena kemasan tidak hany digunakan sebagi pelindung terhadap produk, tetapi juga digunakan untuk dapat menyenangkan dan menarik konsumen. Hal ini juga dilakukan oleh UKM “CEMARA” dalam rangka meningkatkan penjualan.

    e)        Pelayanan (services). Keberhasilan pemasaran produk sangat ditentukan pula oleh baik tidaknya pelayanan yang diberikan oleh suatu perusahaan dalam memasarkan produknya. Demikian halnya apa yang dilakukan oleh UKM “CEMARA” misalnya dengan memberkan garansi produk yang rusak dalam pengangkutan dan lain-lain.

    f)          Harga produk (product price). Agar produk cepat dipasarkan tentunya berkaitan dengan harga yang ditetapkan oleh perusahaan. UKM “CEMARA” dalam menetapkan harga sudah emberikan harga yang pantas karena juga memperhatikan harga ditingkat pesaing.

     

    2. Kelemahan (weakness) :

    a)        Teknologi yang dipakai. UKM “CEMARA“ masih menggunakan teknologi yang sangan sederhana mulai pengupasan sampai penggorengan.

    b)        Kapasitas produksi dan promosi masih kurang sehingga penjual produk kurang maksimal.

     

    Untuk lebih jelasnya disajikan dalam matrik SWOT berikut :

     

     

     

     

    Tabel Matrik SWOT

     

     

    Eksternal

     

     

     

    Internal

    Peluang/Opportunities ( O)

    • Komposisi penduduk, jumlah penduduk dari tahun ke tahun semakin bertambah.
    • Pertumbuhan ekonomi
    • Daerah pemasaran yang masih luas, dimana
    • permintaan pasar
    Ancaman/Threat (T)

    • Perubahan teknologi
    • Persaingan pada perusahaan yang sejenis

     

     

    Kekuatan/Strength (S)

    • Mutu ukuran dan bentuk seragam
    • Diferensiasi produk dengan berbagai jenis rasa dan

    Penampilan yang unik.

    • Bahan baku dengan menggunakan bahan baku alami

     

    Strategi (S – O )

    • Diversifikasi ukuran, kemasan dan bentuk
    • Diferensiasi produk diprbanyak
    • Menampilkan beberapa produk yang dihasilkan pada setiap kemasan
    • Memberikan insentif berupa bonus potongan produk kepada pelanggan dan penyalur
    • Memperluas jaringna distributor keluar kota dan daerah
    Strategi ( S – T )

    • Mempertahankan mutu produk
    • Mempertahankan harga produk
    • Memperbaiki teknologi dengan

    cara menngganti peralatan yang tidak layak

    • Meningkatkan servis atau pelayanan yang memuaskan.
    Kelemahan/Weaknesses (W)

    • Kapasitas produksi rendah kurang memenuhi permintaan pasar.
    • Teknologi yang digunakan masih rendah
    • Promosi masih rendah dan

    jarang dilakukan.

     

     

    Strategi ( W – O )

    • Meningkatkan kapasitas

    produksi

    • Meningkatkan efisiensi

    produk

    • Meningkatkan pasar dengan perluasan produk pasar dan promosi

     

    Strategi ( W- T)

    • Memperkuat modal untuk memperbaiki teknologi yang sudah ada
    • Promosi dilakukan pada daerah yang belum dimasuki
    • Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja
    • Mencari bahan baku ke daerah lain di luar kota Lampung

     

     

     

     

    3.1.4 Existing Brand Identity

    Singkong ditemukan melimpah diberbagai wilayah di Indonesia. Tanaman Singkong dapat tumbuh subur didaerah tropis seperti Indonesia. Singkong mengandung karbohidrat tinggi dan dimanfaatkan sebagai makanan pokok sumber energi. Namun, seiring perkembangan zaman, singkong banyak diolah menjadi berbagai macam panganan seperti keripik singkong. Awalnya masyarakat hanya membuat satu rasa original dari keripik singkong, namun semakin banyaknya produsen yang kreatif membuat berbagai keripik singkong dengan aneka rasa, membuat persaingan pun semakin ketat.

    Sekarang ini, keripik singkong banyak dibuat dengan rasa pedas, asin, dan manis. Produsen keripik singkong rasa pedas yang terkenal diantaranya Maicih dan Karuhun. Keripik singkong merek tersebut mengeluarkan varian rasa pedas berlevel yang mempunyai tingkat kepedasan berbeda. Di kota Lampung sendiri, banyak merek-merek panganan keripik yang terkenal diantaranya adalah keripik pisang kembang aneka yen yen, keripik pisang suseno, dan lain-lain. Keripik pisang tersebut dijual dengan aneka rasa seperti coklat, kopi, keju, melon, moka, dan lain-lain. Keripik aneka rasa yang banyak terjual di Lampung yaitu keripik pisang, padahal singkong juga banyak tersedia di Lampung. Keripik singkong yang terkenal di Lampung hanya sedikit, seperti keripik singkong balado cap salam. Keripik singkong cap salam pun hanya menjual keripik dengan rasa balado. Oleh karena itu, UKM Cemara mencoba memberikan varian rasa manis pada keripik singkong KRETZ yang diproduksi.

     

    3.2 Formulasi Rancangan, Perencanaan dan Strategi Brand

    3.2.1 Projected Brand Identity

    Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Merek biasanya terdiri dari nama, logo dan seluruh elemen visual lainnya seperti gambar, tipografi, warna, dan simbol. Dalam aplikasi transaksi penjualan pada toko, maupun pasar swalayan keberadaan suatu sistem identifikasi merek produk sangat diperlukan baik untuk database toko maupun kelancaran pada saat pelanggan melakukan pembelian barang. Sistem scanning barcode selama ini dirasa cukup efektif dalam hal tersebut. Alternatif lain untuk mengidentifikasi produk dengan cara mengenali produk dari bentuk dan warna, logo dan merek produk dengan sistem berbasis Image Processing.

    UKM Cemara mengambil merek dagang yaitu KRETZ (baca : Kress) pada produk keripik singkong aneka rasa ini. Nama KRETZ diambil dari kata krenyes atau yang berarti renyah. UKM Cemara mengambil nama tersebut dengan tujuan agar konsumen mudah mengingat nama dari produk keripik singkong kami, karena bunyi dari keripik yang renyah atau krenyes. Gambar yang ada pada kemasan berupa gambar keripik singkong dengan warna background kemasan disesuaikan dengan rasa keripik, misalkan merah muda untuk rasa strawberry, coklat untuk rasa coklat, kuning untuk rasa keju, hijau untuk rasa melon, dan merah untuk rasa pedas. Kemasan keripik singkong dikemas dengan kemasan plastik berada di bagian depan, dan alumunium foil di bagian belakang. Plastik digunakan agar produk dapat terlihat dari luar dan dapat menarik minat konsumen. Alumunium foil digunakan karena memiliki kenggulan seperti daya simpan lebih tahan lama, tahan cuaca, dan tidak mudah sobek. Ini dilakukan karena UKM Cemara ingin memberikan yang terbaik dan juga ingin bersaing dengan kompetitor – kompetitor yang sudah besar. Kemasan plastik yang trasparan atau standart plastik dan alumunium pouch dapat menjaga kualitas dan kerenyahan dari keripik singkong. Pada kemasan produk KRETZ juga terdapat komposisi pembuatan keripik singkong, kode produksi yang menunjukkan tanggal atau waktu saat produk tersebut diproduksi, exp produksi yang menunujukkan tanggal berapa produk tersebut tetap bisa dikonsumsi, dan kode halal.

     

    3.2.2 Marketing Mix

    1. Product

    Produk camilan pada saat ini umumnya didominasi rasa asin dan pedas, namun UKM Cemara mengkhususkan produknya pada kudapan ringan dengan rasa manis dari berbagai variasi rasa seperti rasa keju, coklat, melon, strawberry khas Lampung. UKM Cemara juga menambahkan rasa pedas pada produknya dikarenakan akhir-akhir ini banyak beredar keripik singkong pedas. Produk yang ditawarkan oleh UKM Cemara adalah produk keripik bernama KRETZ (baca : krenyes). Diferensiasi yang membedakan produk UKM Cemara dengan produk lain yang sejenis adalah keripik singkong yang dibaluri dengan berbagai variasi rasa dalam bentuk krim atau cair, karena kebanyakan keripik singkong aneka rasa tersebut ditaburi dengan bubuk rasa.

     

    2. Price

    Pengelola UKM Cemara menetapkan harga yang sama untuk konsumen, sehingga agen dari UKM Cemara mendapatkan margin profit yang merata. Jika terdapat penjual yang menjual dengan harga lebih tinggi, maka dipastikan bahwa produk yang dijual bukan produk dari UKM Cemara asli. Harga jual keripik singkong KRETZ berbagai rasa yaitu Rp 5.000,- , Rp 10.000,-. Sedangkan untuk area di luar Lampung, penetapan harga untuk keripik KRETZ yaitu Rp 15.000,-.

     

    3. Place

    Produk keripik Kre-NyeZz merupakan produk UKM dengan skala sedang. Tempat penjualan produk ini masih terpusat di Lampung, kota asal pembuatan keripik singkong ini. Oleh karena itu, pengelola membuat saluran pemasaran yang berbeda yaitu dengan menyediakan agen distribusi yang melakukan penjualan dengan berpindah-pindah tempat atau nomaden. Perpindahan tempat berjualan tersebut diinformasikan melalui akun media sosial twitter dan facebook.

     

    4. Promotion

    Promosi merupakan salah satu cara yang digunakan oleh pemasar untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Strategi promosi yang digunakan oleh UKM Cemara yaitu dengan menggunakan jasa agen yang menjual produk kami ke pusat perbelanjaan, sekolah, berbagai event, dan di tepi jalan dengan menggunakan mobil. Promosi juga dilakukan dengan penyebaran brosur-brosur diberbagai wilayah. Selain itu, promosi dilakukan dengan menggunakan basis e-commerce menggunakan Twitter dan Facebook sebagai sarana promosi. E-commerce berarti bahwa perusahaan menawarkan atau memfasilitasi penjualan produk secara online.

     

    3.2.3 Visual Design

     

    Gambar 2. Kemasan kripik KRETZ , UKM “Cemara”

    Sedangkan lambing UKM Cemara kami yaitu :

    Gambar 3. Lambang UKM cemara

    3.2.4 Massage Design & Planning

                Warna sejak lama bisa memberikan pengaruh terhadap psikologi, emosi serta cara bertindak manusia. Warna juga menjadi bentuk komunikasi non verbal yang bisa mengungkapkan pesan secara instan dan lebih bermakna yang sering digunakan para marketer atau komunikasi visual yang handal untuk tujuan branding, sales/penjualan serta marketing perusahaan. Setiap warna memancarkan panjang gelombang energi yang berbeda dan memiliki efek yang berbeda pula. Dengan menggunakan berbagai nuansa warna pada materi promosi, branding, marketing, corporate identity serta logo perusahaan dapat membawa harmoni, stabilitas, keseimbangan dan peningkatan penjualan yang mengagumkan.

    Berikut makna warna dan logo UKM CEMARA :

    Warna merah muda : Merah muda adalah warna yang fleksibel dikombinasikan dengan semua warna. UKM kami memilih mengkombinasikan warna merah muda dengan merah yang memberikan kesan pada konsumen unik dan semangat untuk membeli prduk kami.

    Warna biru : biru adalah warna yang memberikan kesan spiritual, kedamaian dan kebijaksanaan. Dengan menggunakan warna biru UKM CEMARA dapat memberikan kesan damai dan tidak mengada-ada (tidak membohngi konsumen) mengenai produk KKRETZ kami.

    Warna coklat : Coklat adalah warna bumi, memberikan kesan hangat, nyaman dan aman. Namun selain itu, coklat juga memberikan kesan sophisticated dan mudah diingat, sehingga kami berharap produk kami.

    Sedangkan gambar coklat, keju, melon, strawberry dan pedas untuk menginformasikan rasa dari keripik KRETZ.  Logo cemara digunakan karena naman UKM kami yaitu UKM cemara.

     

    3.3 Implementasi Brand Planning

    Nama produk atau perusahaan merupakan suatu hal yang sederhana akan tetapi sangat bermakna dalam promosi perusahaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor penunjang kesuksesan perusahaan adalah pengelolaan brand atau merk yang tepat.  Pada umumnya, persepsi konsumen bukan terhadap suatu produk tetapi terhadap suatu brand atau merk. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk mengelola merk yang kita miliki dan menjadikannya sebagai brand equity.

    Tujuan implementasi brand planning diantaranya yaitu :

    1. Memahami konsep brand management & brand equity dari UKM yang didirikan
    2. Mampu mengevaluasi brand atau merk UKM
    3. Mampu melakukan perencanaan media untuk brand equity untuk kedepannya
    4. Mampu melakukan perencanaan promosi untuk brand development

    Dengan implementasi brand planning UKM kami akan melakukan evaluasi terhadap respond dan tanggapan konsumen mengenai brand management & brand equity jika hasil evaluasi perlu adanya perbaikan, maka kami akan melakukan perbaikan baik berupa penilaian, kualitas, brand atau merek atau pun inovasi dari produk.

     

    3.4 Monitoring

    Monitoring merupakan evaluasi terhadap produk yang telah diproduksi dan dipasarkan. Dibandingkan dengan model – model evaluasi yang lain, evaluasi produk memiliki kelebihan antara lain: lebih komprehensif, karena objek evaluasi ini tidak hanya pada hasil semata tapi juga mencakup konteks, masukan (input), proses maupun hasil. Selain kelebihan, evaluasi produk  juga memiliki kekurangan, antara lain penerapan model ini dalam bidang pembelajaran dikelas mempunyai tingkat keterlaksanaan yang  kurang tinggi  jika adanya modivikasi. Hal ini dapat terjadi karena untuk mengukur konteks, masukan maupun hasil dalam arti luas akan melibatkan banyak pihak yang  membutuhkan waktu dan biaya lebih.

    Evaluasi atau monitoring ini dapat dilakukan dengan memberikan awereness dan penghargaan kepada tenaga kerja jika selama satu tahun hasil kinerja mereka memuaskan. Sedangkan terhadap pelanggan atau konsumen yang loyalitas terhadap produk kita, dapat dilakukan dengan memberikan bonus atau pun harga diskon yang lebih. Dengan demikian pelanggan merasa lebih dihargai.

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Atkinson, C. 2010. The Chocolate and Coffee Bible. Hermes House. New Jersey.

     

    Cereda, M.P. 2006. Linamarin – The Toxic Compound of Cassava. Journal of Venomous Animals and Toxins (online). Vol 2 (1): 6-12.

     

    Gisslen, Wayne (2007). Professional Cooking. John Wiley & Sons, Inc. New York.

     

    Miltz, J. 2003. Food Packaging. In : Handbook of Food Engineering, D.R.Heldman and D.B.Lund (Ed). Marcel Dekker, Inc. New York.

     

    Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 2009. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.