• Resume: APLIKASI BAGAN KENDALI PROSES BERDASARKAN TINGKAT RESIDU CHLORAMPHENICOL PADA DAGING RAJUNGAN DI PT. MINA GLOBAL MANDIRI, PURWAKARTA

    Date: 2012.05.27 | Category: Uncategorized | Tags:

    Nama : Riska S

    NIM : 105100301111059

    Kel : 13

    kelas : E

    TUGAS RESUME JURNAL MANMUT

    1. Profil Perusahaan

    —  PT. Mina Global Mandiri merupakan perusahaan persero yang bergerak di bidang industri pengolahan hasil laut (seafood industry). PT. Mina Global Mandiri berdiri pada awal tahun 2005 dan mulai beroperasi pada bulanAgustus 2005. Berdirinya PT. Mina Global Mandiri diprakarsai oleh dua orang yang sangat berpengalaman di dunia bisnis pengolahan hasil laut, yaitu Bapak Triyanto dan Bapak Iwan P Sarbini. chloramphenicol pada produk akan berdampak kerugian terhadap produsen.Selain produk tersebut tidak dapat lolos ekspor, produk yang mempunyai residu tinggi akan diproses ulang dan akan menyebabkan biaya produksi menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu perusahaan sangat memperhatikan tingkat residu chloramphenicol sehingga dicari mutu daging rajungan yang kadar chloramphenicol-nya sangat rendah.

    DIAGRAM SEBAB AKIBAT

    Dr. Kaoru Ishikawa telah mengembangkan metode sederhana untuk menampilkan dalam bentuk grafis penyebab untuk setiap permasalahan mutu. Metode ini dinamakan diagram sebab akibat, atau diagram Ishikawa, atau biasa disebut dengan diagram tulang ikan (Pyzdek, 2001).

    METODOLOGI

    A. KERANGKA PEMIKIRAN

    Penelitian ini dilakukan untuk mengaplikasikan sistem pengendalian proses terhadap karakteristik mutu produk akhir dari pengalengan rajungan berdasarkan hasil analisis residu antibiotik chloramphenicol di PT. Min Global Mandiri. Penelitian dimaksudkan untuk mengevaluasi proses guna mencegah tingkat residu antibiotik chloramphenicol pada produk akhir dar produk rajungan kaleng supaya tidak melebihi standar yang telah ditetapkan. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk menentukan faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi tingginya tingkat residu pada produk akhir.

    B. PENETAPAN BAGAN KENDALI

    Data untuk penetapan bagan kendali merupakan data sekunder. Data sekunder ini meliputi data yang diambil dari hasil analisis yang dilakukan oleh laboran di laboratorium PT. Mina Global Mandiri.

    C. PENETAPAN DIAGRAM SEBAB AKIBAT

    Diagram sebab akibat yang dibuat digunakan untuk mengetahui faktor-faktor internal perusahaan yang dapat menjadi peluang penyebab tingginya residu antibiotik chloramphenicol. Diagram sebab akibat ini disusun dengan cara observasi dan wawancara. Observasi dan wawancara dilakukan dengan cara mewawancarai pekerja pabrik, laboran, manajer quality control, bagian pengadaan bahan baku, plant manager, direktur operasional dan manajer produksi. Teknik brainstorming tidak dilakukan dikarenakan kesibukan masing-masing individu terhadap pekerjaannya.

    DIAGRAM FISHBONE 

    Diagram sebab akibat

    Diagram sebab akibat disusun berdasarkan hasil dari brainstroming. Faktor utama yang telah disepakati sebagai penyebab terdapatnya residu chloramphenicol di atas batasspesifikasi pada produk akhir adalah metode analisis chloramphenicol, pekerja pabrik, dan bahan baku. Faktor-faktor utama tersebut mempunyai faktorfaktor pendukung lainnya. Keterkaitan antar faktor utama dengan faktor pendukung digambarkan dengan diagram sebab akibat.

    Hasil

    —  PT. Mina Global Mandiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan hasil laut. Untuk saat ini produk yang dihasilkan berupa daging rajungan yang dikalengkan dan melalui proses pasteurisasi. Salah satu karakteristik mutu yang menentukan produk yang dihasilkan perusahaan adalah kadar residu chloramphenicol. Perusahaanmemberikan spesifikasi terhadap produk akhir yaitu memiliki batas residu antibiotikchloramphenicol sebesar <0,25 ppb meskipun standar yang ditetapkan oleh perdagangan internasional adalah sebesar <0,30 ppb (Commision Decision:2003/181/EC). Hal ini dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan sebagai tindakan preventif supaya kadar residu tidak terlalu berdekatan dengan standar yang ditetapkan oleh standar internasional. Jika terdapat produk yang melebihi standar perusahaan maka dilakukan proses ulang dengan cara pencampuran ulang bahan baku. Hal ini menyebabkan makin tingginya biaya produksi dan pihak perusahaan merugi.