Rss

Archives for : Gradien Mediatama

Mr Subase

covermr

Judul: Mr Subase

Tagline: Boss Vintage di Era Modern

Penulis: eVe

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 224 halaman

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2013

ISBN: 9786028260749

cooltext1660180343

Kenapa harus Mr. Subase?

Begini ceritanya. Saya ngefans banget sama Supermen. Bagi saya Supermen adalah manusia terhebat yang hanya bisa ditandingin sama Spidermen, Wonderwoman, Megalomen, atau Satria Baja Hitam. Saya berharap, suatu saat kelak, semua jagoan ini bakal berkumpul kemudian bersatu padu melawan Shinchan. Huahahhaha. TAROHAN! Pasti menang Sinchan!

Ups, balik lagi ke Mr. Subase.

Gak tau kenapa, saya suka banget ama nama manusia yang terdiri dari tiga suku kata. Yang saya amatin, para jagoan dan orang tersohor dunia itu namanya terdiri dari tiga suku kata. Contohnya ya itu tadi, Su-per-men. Yang terkenal di Indonesia, Soe-har-to. Terus di dunia, ada O-ba-ma. Semuanya pake tiga suku kata. Kalaulah Supermen adalah manusia terkuat di hati saya, so’ saya percayakan nasib Boss terlucu di kantor saya pada sebuah nama panggilan sayang, “SU-BA-SE”.

Call him, Mr. Subase!

“Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu, yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase.”

cooltext1660176395

Bekerja adalah hal yang lumrah dilakukan seseorang yang telah cukup umur sebagai tenaga siap kerja. Ketika bekerja, mereka mendapatkan gaji/upah sebagai bentuk apresiasi kerja keras mereka dalam tiap satuan waktu tertentu. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi seseorang yang mendapatkan warisan segunung yang tak habis hingga turunan keseribu.

Ketika bekerja, terkadang pekerja dihadapkan pada rekan kerja yang beraneka macam sifat. Ada yang menyenangkan, menyebalkan, optimis, ataupun oportunis. Tak terkecuali dengan atasan yang jabatannya lebih tinggi. Selayaknya manusia biasa, mereka juga memiliki sifat yang beraneka rupa. Keseharian bersama rekan kerja membuat hari-hari bekerja menjadi lebih berwarna.

Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu unik, konyol, gaptek yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase. (hal. 13)

Ada banyak kisah yang disuguhkan dalam buku 224 halaman ini. Rata-rata emang fokus pada hal lucu, konyol, dan ajaibnya kelakuan sang Boss (dalam hal ini Mr. Subase menjadi Direktur Utama), baik dalam hal yang menyangkut pekerjaan ataupun tidak. Salah satu kisah yang menarik adalah kebiasaan Mr. Subase ketika pipis di dalam WC kantor.

“Jawaban lo hampir betul, Mang! Model pipisnya Mr. Subase kayak anak bayi, doi buka semua celananya, dari celana panjang sampe celana dalemnya dibuka dan digantung di pintu kamar mandi, dannnnn… gak ditutup mennnn!” (hal. 85)

Ada lagi cerita tentang Mr. Subase yang latah mengikuti hal trendi dari seorang Komisaris kantor. Niat hati ingin mencari tahu sambil memuji, Mr. Subase malah dibikin keki ama sang komisaris. Malum sepertinya Mr. Subase ini adalah orang yang sudah tidak cocok mengikuti perkembangan tren.

Mr. Subase kecele. Terlalu berusaha cari perhatian memang bisa membuat kita justru jatuh terhempas. Sakit, bokkk. (hal. 105)

Selain Mr. Subase, ada juga Boss yang lain bernama Mrs. Hana sebagai pemegang kuasa keuangan perusahaan. Beliau ini disinyalir adalah orang tajir. Maklum saja, karena bekerja di kantor Mr. Subase bukanlah pekerjaan primer. Beliau memiiki usaha butik yang cukup sukses juga.

Tiap Sabtu ama Minggu pagi, mata saya disejukkan ama puluhan apartemen yang wara-wiri di layar tivi. Belum lagi pembahasan pusat perbelanjaan yang lagi melego jualannya dengan harga yang katanya murah. Kayaknya tontonan tivi kayak gitu khusus buat orang yang tiap hari mandi uang. Yang setiap harinya kerjaannya membungkus emas batangan. Yang lulurannya pake platina. Yang kontak lens matanya terbuat dari berlan. (hal. 147)

Jadi ceritanya, Mrs. Hana ingin membeli (atau memesan) kuburan untuk keluarganya kelak ketika telah meninggal. Sampe milih yang di depan danau lho (ajegilee). Ada lagi kisah cukup unik saat semua orang kantor hendak jalan-jalan ke Jogja. Mr. Subase yang sangat excited sampe jadi lebay untuk urusan datang ke stasiun saat kereta berangkat jam delapan.

“Hooooo… jangan mepet-mepet datangnya, nanti kamu terlambat! Hoooo… datang aja jam 6, dua jam sebelum berangkat! Yah… yah!” (hal. 206)

30 cerita pendek di buku ini selalu menyangkut-pautkan tingkah ajaib sang Boss (mayoritas sih Mr. Subase yang diceritakan). Saya suka cara penulisan eVe. Sangat mengalir dan tidak dibuat-buat untuk menimbulkan kelucuan. eVe adalah salah satu penulis perempuan yang saya rasa cukup sukses mengusung tema humor dalam tulisannya.

Diksi yang sangat pas membuat tiap kalimat bisa saya nikmati dengan nyaman. Tidak seperti penulis humor pada umumnya yang terkesan “maksa” biar bisa lucu. Mr. Subase yang diceritakan juga membuat saya gemes dan mikir sebenarnya kerjaan beliau ini ngapain kok bisa jadi Dirut.

Kelemahan yang saya temukan hanyalah: typo. Ada banyaak broo! Saking banyaknya, saya males nulisin ulang hehehe. Saya mencatat ada 11 kesalahan penulisan dalam buku ini. Itupun yang saya anggap parah dan mengganggu. Belum termasuk kesalahan penulisan tanda baca, pemenggalan kata, penulisan nama artis, penulisan nama tempat, dan penggunaan ejaan kata berbahasa Inggris. Namun karena tidak terlalu mengganggu saat membaca, jadi saya biarkan saja.

Saya juga suka buku ini yang terdiri dari bagian depan yaitu pengenalan tokoh; bagian tengah adalah cerita lika-liku kehidupan Mr. Subase; dan bagian akhir sebagai kisah penutup. Meskipun tidak berhubungan satu sama lain, hal ini membuat saya puas membaca buku ini sampai akhir. So, buku ini cocok dibaca siapa saja. Karena percayalah, berbagai sifat orang ada di dunia ini. Bahkan, orang ajaib kelakuannya juga bisa menjadi Direktur kok.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Anak Kos Dodol

coveranak

Judul: Anak Kos Dodol

Tagline: Catatan Mahasiswa Gokil van Djokja

Seri: Anak Kos Dodol #1

Penulis: Dewi “dedew” Rieka

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2009

ISBN: 9789791550161

cooltext1660180343

“Benar2 nyata. Benar2 dodol. Tapi juga benar2 bermakna. Buku harian yang memberi tawa ‘n perenungan” – Ken Terate, Penulis Teenlit, Djokdja

“Pengalaman ngekos emang selalu seru! So buku ini bisa jadi ‘bacaan nostalgia’ yang asyik buat yang pernah ngekos, bisa juga jadi ‘bacaan menyenangkan’ buat yang ingin tau dunia kos lahir-batin, tapi bisa juga jadi ‘bacaan bimbingan’ cara ngekos yang baik dan benar buat yang ingin ngekos! Jadi mari kita ngekos bareng-bareng eh sory, maksudnya mari kita nikmati isi buku ini!” – Boim Lebon, Penulis Cerita Anak & Remaja, Produser TV, Jakarta

“Asli, kocak banget! Nih buku pasti bikin semua anak kos terkenang-kenang masa hepi, pas bokek, bebas merdeka en nonton VCD malam pertamanya! Hehehe… Kudu dibaca!” – Afny Yuniandari, Karyawati Swasta, Penghuni kos 5 tahun, Bekasi

“Seger banget. Awalnya, aku pikir bakal ngebosenin eh ternyata malah jadi ga bisa berhenti baca. Bikin gue mupeng, pengen ngekos bareng cewek-cewek dodol! Hohoho.” – Adhika Putra R, Dokter Muda Unpad, Jomblo Bahagia, Bandung

cooltext1660176395

Usia remaja hingga dewasa muda, biasanya pernah mengalami masa-masa ngekos. Baik dalam rangka menuntut ilmu saat sekolah/kuliah ataupun ketika memasuki dunia kerja. Ngekos banyak dipilih karena tidak terlalu ribet daripada ngontrak rumah. Saya aja udah empat tahun ngekos sejak saya masih mahasiswa baru.

Buku ini mengangkat tema bagaimana seru dan dodolnya dunia perkos-kosan kaum hawa di kota pelajar, Yogyakarta. Penulis seakan ingin memberi kesan bahwa ngekos itu tidak selalu identik dengan kelaparan, irit, dan sengsara tapi juga bisa dibawa hepi dan terkadang membawa pengalaman unik yang baru.

Karena ada 33 cerita, jadi saya ambil beberapa saja ya yang berkesan. Kisah pertama adalah cerita tentang adanya desas-desus hantu/setan di kosnya Mbak Dewi. Namanya kos-kosan cewek, pasti jadi panik dan takut gara-gara isu itu. Untuk menghalau rasa takut, mereka tidur bareng-bareng bak ikan pindang dijemur.

Untuk bisa tidur pulas dalam suasana seperti itu, dibutuhkan keahlian khusus. (hal. 19)

Kisah agak sedikit mellow dan inspiratif berjudul “Ulang Tahun ke-20” karena bercerita tentang dampak negatif dari sesuatu hal yang tidak penting. Ceritanya anak kos ingin memberi kejutan pada Kayla yang berulang tahun. Celakanya, keisengan itu berujung maut dan memberikan dampak traumatis pada penghuni kos.

Tiba-tiba, gadis itu menginjak pecahan telur dan… gubrak! (hal. 27)

Ada lagi cerita berjudul “Balada Beasiswa Kita” seakan-akan penulis sedang menyindir para beasiswa hunter (dan beasiswa taker) yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan beasiswa tanpa melihat kondisi dirinya yang bisa dikatakan sangat jauh dari kata miskin (alias kaya raya). Padahal orang yang jauh lebih membutuhkan masih ada di sekitarnya.

“Aku sudah berusaha keras, Ret… mencari surat keterangan tak mampu itu, aku sampai direndahkan petugas. Kulengkapi semua persyaratan. Masya Allah, aku tak mendapatkan beasiswa itu, Ret… padahal aku butuh sekali untuk kuliah lapangan,” isaknya pilu. (hal. 44)

Yang tak kalah menarik adalah kisah berjudul “Mbah Dukun? Nyai Peramal?” yang mencoba mengangkat fenomena ramalan yang melanda anak kos. Namanya anak muda, masih suka yang seru-seruan sekaligus bermanfaat (ada gak ya?). Ramalan terasa sebagai salah satu keisengan yang bisa dijadikan jalan keluar. Kalau ramalannya baik, hati senang. Tapi kalau ramalannya buruk, jadi was-was juga.

Hmm… kenapa ya pada berbondong-bondong ke peramal, apakah dengan datang pada mereka menimbulkan rasa aman? Memuaskan keingintahuan kita? Padahal Tuhan adalah sang pemiliki kebenaran dan semua bermuara pada kehendak Dia. (hal. 90)

33 cerita yang dimuat dalam 191 halaman ini terasa cukup banyak (ralat, banyak banget) menurut saya. Tidak adanya keterkaitan satu cerita dengan cerita lain membuat buku ini asik dibaca mau dari cerita manapun. Sesuai blurb diatas, buku ini cukup cocok sebagai media nostalgia, media cerminan diri, ataupun gambaran ngekos seperti apa.

Kekurangannya? Sorry to say, but I’ve found a lot of weaknesses (from my point of view, of course). Mulai dari gaya bercerita. Baiklah saya tau setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing. Tapi cara penulisan Mbak Dewi Rieka ini menurut saya: sangat lebay banget. Mulai dari “ciee”, “bo!”, “apaseeeeh?”, “maksud loe?” dan sebagainya yang disisipkan ke berbagai kalimat di buku ini. Menurut saya kata-kata seperti itu tidak penting dan mengganggu kenyamanan saya saat membaca. Alih-alih membuat terpingkal, saya justru jengkel sendiri saat membacanya.

Pada beberapa cerita, terdapat ending atau akhir yang jelas. Yah meskipun tidak semuanya mengandung pesan moral, tapi setidaknya ada akhirnya lah. Tapi beberapa cerita malah ada yang ngegantung. Aduh niat nulis cerita nggak, sih? Saya tipikal orang yang menyukai akhir yang jelas (terserah mau hepi atau tidak).

Dari segi humor, saya tidak merasa lucu tuh. Paling mentok nyengir, itupun bisa dihitung jari. Karena sependapat saya, kalau perempuan menulis genre humor, jatohnya jadi garing. Kedodolan para penghuni yang diceritakan disini malah tidak membuat saya tertawa, tapi mengernyitkan dahi gara-gara enggak tahu kocaknya dimana.

Di halaman terakhir, sempat disinggung sebenarnya tulisan di buku ini adalah postingan di blog pribadi penulis *cmiiw. Tapi apakah memang tidak ada proses editing? Saya tahu mungkin jika diedit akan mempengaruhi orisinalitas tulisan, tapi mosok ya penulisan huruf yang benar bisa mempengaruhi? Karena saya banyak sekali menemukan typo dimana-mana. Saya tidak mencatat semuanya sih.

By the way, penulisan “Djokdja” terasa agak aneh buat saya. Saya agak heran kenapa buku ini bisa sampai tiga seri (kalau tidak salah) bahkan muncul komiknya juga. Apakah mungkin karena buku ini bukan my cup of tea, saya cowok yang tak bisa mengerti dunia kosan cewek, atau entahlah. Euphoria yang terasa bombastis (pada jaman dahulu) itu menurut saya kok terlalu dibesar-besarkan. But anyway, kalau mau baca tulisan cukup menghibur dunia kos-kosan cewek, boleh lah melirik buku ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

ga-gi-gu giGi

covergagigu

Judul: ga-gi-gu giGi

Tagline: Dunia Dukun Pergigian, Kisah Unjuk Gokil Mahasiswa Kedokteran Gigi

Penulis: Lia Indra Andriana

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah halaman: 168 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9786028260084

cooltext1660180343

*kisah-kisah gokil bikin meler… tentang rahasia dunia pergiGian yang bikin ngakak*

inilah daftar kelakuan unik + menarik dari pasien-pasien yang datang ke klinik FKG:

  1. Setelah duduk di dental chair, langsung buka mulut. Padahal operatornya (mahasiswa/dokter) saat itu mau tanya-tanya dulu apa… *hobi, shio, dan ukuran sepatunya, ehh maksudnya apa keluhannya.
  2. Bahkan sebelum si operator selesai melakukan tanya jawab tentang keluhannya itu (kapan sakitnya, udah minum obat belum, gimana rasa sakitnya, dll), si pasien yang kebanyakan enggak sabar langsung nunjuk-nunjuk ke giGinya yang bermasalah: ’Ini lho dok *suara ga jelas soalnya sambil buka mulut, yang ini’.
  3. Menelan air yang seharusnya dibuat kumur. *halah, tau aja klo harga minuman sekarang lagi mahal :)
  4. Duduk menyilangkan kaki di dental chair sambil ngedip-ngedipin mata. Kayak playboy katro siap maen catur di pos hansip.
  5. Dandan sebelum foto. Dikiranya ini mau photobox, padahal kan foto rontgen giGi doang :)

cooltext1660176395

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “gigi”? Kalo saya sih, teringat sang gigi emas yang harganya mahal *uhuk*. Lantas, ketika melihat buku yang mengangkat tentang dunia sang maestro gigi a.k.a (calon) dokter gigi, saya tertarik sekali. Apalagi genre yang diangkat adalah nonfiksi komedi. Saya penasaran hal konyol apa yang bisa terjadi dalam dunia dokter gigi yang terkesan mahal (biayanya) itu.

Novel ini mengangkat dunia para calon alias mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang serba konyol dan mengundang tawa. Ada 35 cerita unik menggelitik yang penulis hadirkan dalam masa-masa ia menempuh pendidikan dokter spesialis itu. Karena tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, jadi saya ambil beberapa yang mengesankan saja ya.

Adalah kisah nomer 3 berjudul “FKG: Fakultas Keliling Gang”. Ketika membaca judul ini, kening saya berkerut heran. Apakah saat ini FKG sudah berganti nama berdasarkan SK Menteri Kesehatan? Oh ternyata tidak. Jadi disebutkan demikian dikarenakan para mahasiswa FKG yang sedang praktik diwajibkan mencari calon pasien yang bermasalah dengan giginya. Salah satu caranya dengan berkeliling gang demi gang perkampungan untuk mencari calon pasien. Mudah? Tentu tidak. Ternyata orang yang bermasalah dengan giginya itu sangat sedikit. Kalaupun ada, pasti jaim enggan diperiksa (gratis) sok-sok sehat-sehat aja.

Hopeless deh… Padahal jelas-jelas gigi depannya lubang item-item. Ini mah sama aja dengan pencuri lagi pegang barang curian tapi enggak ngaku. (Hal. 23)

Gilee niat bener gitu lho. Beda dengan dokter umum yang saya rasa lebih beragam penyakit yang dikeluhkan sehingga lebih mudah dapet pasien. Lha ini, nyari pasien yang bermasalah dengan gigi, terlebih ketidakpercayaan dengan status yang masih mahasiswa, membuat sulitnya dobel.

Yang cukup menarik lagi adalah kisah kesepuluh berjudul “Dia Naksir Enggak, Ya? Bawa ke Dokter!!!”. Baiklah saya akui saya terkesan dengan ini karena bisa menjadi salah satu tips bagi saya yang jomblo untuk mengetahui gebetan saya demen ama saya atau enggak. Salah satunya dengan dibawa ke dokter (dalam hal ini dijelaskan klinik FKG sebagai contoh). Dibaca-baca sih, masuk akal juga. Tapi masalahnya, bagaimana saya ngajak gebetan yang saya sendiri juga masih malu-malu kucing untuk dibawa ke dokter.

Bila dijelaskan secara medis, begini: saat seseorang memiliki perasaan naksir, kerja jantung akan meningkat karena adanya produksi adrenalin yang lebih. (hal. 53)

Tuh kan berguna banget penjelasannya. Bisa segera dipraktekin nih *uhuk*. Berbagai kisah lainnya juga cukup menarik untuk diikuti. 33 cerita yang lain rata-rata mengenai pengalaman menggelikan ketika sedang ko-ass, ujian praktik dengan PPDGS, dan trivia-trivia terselubung tentang dunia pergigian.

Di bagian awal buku, penulis sudah menegaskan bahwa penulisan “gigi” diubah menjadi “giGi” untuk menghindari adanya salah persepsi dengan group band Gigi yang telah beken di Indonesia. Jadi emang bukan gara-gara typo. Secara umum tidak ada masalah sih untuk penulisan.

Melihat covernya yang unyu, saya langsung kepincut melihat gigi-gigi yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Ada gigi susu, gigi berkawat, karang gigi, hingga gigi emas. Alangkah gembiranya jika gigi saya bisa seunyu cover itu *atau malah menyeramkan*

Nilai plus yang bisa saya kemukakan adalah benar-benar bisa membuka mata saya bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia ini *asek*, termasuk para calon dokter gigi. Saya sih menganggap image mereka itu pinter, rajin, cerdas, dan serius. Tetapi setelah membaca lika-liku kehidupan mahasiswa kedokteran gigi di buku ini, kayaknya di FKG sering dapet kejadian konyol deh hehehe.

Selain itu, saya mengapresiasi sekali informasi-informasi perihal kedokteran gigi (dan istilah medis) yang sangat-sangat berguna bagi orang awam seperti saya untuk memahaminya. Setidaknya, saya tidak perlu bayar kuliah puluhan juta tiap semester untuk mengetahui istilah dan teknis pelaksanaan mengenai dunia kedokteran.

Saat membaca keterangan di bagian belakang buku, tertulis ini merupakan novel non fiksi bergenre komedi. Aduh, saya langsung pesimis. Bukannya apa-apa, saya selalu cenderung gak yakin dengan penulis perempuan yang mengusung genre komedi. Saya rasa pasti akan lucu yang nanggung alias bikin ketawa-tapi-bingung-gak-jelas. Tapi akhirnya saya tetap membeli novel ini untuk membuktikan bahwa underestimate saya keliru. Dan ternyata…benar.

Memang sih disini komedi atau hal konyol yang disajikan cukup banyak. Sampai 35 cerita lho dalam halaman yang kurang dari 200. Itu merupakan jumlah bab yang banyak sekali menurut saya. Benar saja, setiap cerita “hanya” disajikan rata-rata tiga hingga empat halaman. Paling banyak enam halaman dan paling sedikit dua halaman saja. Belum lagi gara-gara karikatur tiap cerita yang memakan hampir satu halaman sendiri, menjadi penggalan kisah yang sangat nanggung.

Sehingga sungguh amat disayangkan, saya tidak bisa menikmati kelucuan novel ini. Karena ya itu tadi, perempuan itu sebagian besar ketika menulis genre komedi malah akan membuat garing (ini murni opini saya lho). Jadi ya gitu, kurang lebih satu jam saya baca, paling mentok saya cuman nyengir. Itupun bisa dihitung jari.

Akhir kata, buku ini cocok dibaca semua umur (yang sudah bisa membaca tentunya) karena humornya yang ringan (terlalu ringan sampai garing kalo menurut saya) serta beragamnya cerita sehingga tidak membosankan. Dari buku ini sedikit banyak juga bisa memberikan gambaran mengenai dunia perkuliahan Fakultas Kedokteran Gigi yang tidak hanya kaku dan serius, tapi bisa menghadirkan pengalaman menggelikan.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus