Rss

Archives for : GagasMedia

Unforgiven

coverunforgiven

Judul: Unforgiven

Sub Judul: Hantu Rumah Hijau

Penulis: Eve Shi

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 262

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9797807304

cooltext-blurb

Kaylin tak percaya ada hantu di rumah hijau yang katanya angker. Tak ada yang perlu ditakuti dari rumah tua dan kusam itu.

Namun, sejak rumah kosong itu kedatangan penghuni baru yang misterius, semua berubah.

Tiba-tiba, suara jeritan mengerikan dan suara lirih tangis tengah malam itu terasa sangat nyata di telinga Kaylin. Bau anyir darah tercium dari rumah itu. Sang penghuni baru seakan-akan membangkitkan hantu-hantu yang ada di sana.

Kaylin ingin menarik ucapannya, tetapi terlambat. Sosok itu semakin mendekat, dengan kepala hampir putus….

cooltext-review

Saya cukup jarang menemui (dan membaca) buku bertema horror yang ditulis oleh penulis lokal. Seringnya sih menikmati nuansa horror dalam balutan film hollywood di bioskop. Nah, ternyata ada juga salah satu buku fiksi horror yang cukup banyak disebut-sebut dalam dunia perbukuan lokal. Tak ada salahnya saya mencoba untuk membaca buku seperti ini.

Cerita dibuka oleh percakapan dua orang anak SMA bernama Kaylin dan Rico (yep, that’s me! LOL!) yang dalam perjalanan pulang sekolah menuju kediaman mereka di sebuah komplek perumahan. Obrolan yang awalnya biasa saja menjadi cukup mencekam ketika Kaylin menyebut-nyebut rumah hijau, rumah terbesar dan terluas di komplek itu, menyimpan berita bahwa sering terdengar tangisan dari dalam rumah. Mendengar hal itu, Rico hanya menggumam tak menaruh kepercayaan pada omongan sahabatnya itu.

Tak disangka, obrolan mereka di senja kala itu menjadi cikal bakal teror yang mulai menghantui hidup mereka berdua. Mulai dari Kaylin, ia melihat sebuah tangan misterius yang kurus dan bebercak gelap menggapai gagang pintu rumahnya serta televisi yang tiba-tiba mati. Mencoba berpikir positif, Kaylin hanya menganggap hal itu sebuah halusinasi belaka akibat dirinya yang kelelahan.

Sedangkan Rico mulai mengalami kejadian misterius pula. Berbeda dengan Kaylin, ia mendapati sesosok misterius sedang menonton televisi – yang tentu saja bukan salah sau anggota keluarganya – tanpa ada tanda-tanda kehdupan serta ada tangan misterius yang kotor dan dingin menekan tangan Rico saat ia akan mematikan saklar lampu. Dan seperti Kaylin, ia hanya berpikir itu merupakan imajinasi yang berlebihan.

Sayangnya, kejadian misterius tak hanya sampai disitu. Cherie, adik Kaylin mengalami malapetaka di kamar mandinya sendiri akibat ulah si hantu wanita misterius yang meneror Kaylin. Bahkan Cherie sampai dibawa ke rumah sakit akibat kepalanya membentur lantai. Tak pelak hal ini membuat Kaylin berapi-api ingin menyelesaikan urusan paranormal ini. Mengetahui kejadian aneh tak hanya menimpa dirinya, Rico bersedia ikut membantu.

Urusan ini tidak semudah mereka selesaikan dalam hitungan hari. pasalnya, awal mula teror ini adalah ketika kakek Kaylin, Pak Iswar, dan kakek Rico, Pak Ferdi yang bersahabat dengan kakek pemilik rumah hijau, Pak Theo. Akibat suatu tragedi berdarah puluhan tahun yang lalu, hantu wanita yang bernama Eris menuntut balas pada keluarga Kaylin, sedangkan hantu pria bernama Markus mengusik kehidupan keluarga Rico.

Berbagai misteri yang menyelimuti rumah hijau dan isinya saling berkaitan satu demi satu dan menyebabkan misteri ini tidak mudah diselesaikan. Lantas, apa yang menyebabkan Markus dan Eris rela menunggu puluhan tahun untuk menuntut balas? Sebenarnya apa yang terjadi pada ketiga kakek yang bersahabat baik itu? Apakah semua akan berakhir pada halaman terakhir buku ini? Silakan membaca sendiri ya.

Well, saya cukup menyukai buku ini. Pertama, karena buku ini membuat saya berdebar ketika membacanya. Entahlah apakah imajinasi saya terlalu kuat membuat tulisan buku ini menjadi seram saat dibayangkan atau pilihan kata yang pas oleh penulis. Pokoknya membaca buku ini serasa menonton film horor. Kedua, tokoh utama pria bernama lengkap Rico Novarda. Hahaha aduh subjektif sekali. Tapi beneran kok, deskripsi si Rico yang berkacamata ini terasa saya buanget XD

Rico sendiri, kalau ia mau sombong, tidak standar-standar amat. Tingginya lumayan, 175 sentimeter. Tampangnya tidak mirip seleb mana pun, tapi jauh dari butut. Setidaknya, menurut Rico sendiri. (halaman 24)

Penjabaran betapa seramnya kondisi rumah hijau dan tentu saja, kedua hantu misterius turut menyumbang debar dada ini *halah. Saya baru pertama kali sih menjumpai deskripsi sosok makhluk halus yang berdasarkan penulisannya bisa saya bayangkan sendiri bagaimana rupa aslinya. Dan well, itu bukan hal yang menyenangkan untuk dibayangkan. Tapi justru inilah yang membuat buku ini sukses menjadi buku horror.

Satu yang membuat saya kurang menikmati buku ini dengan maksimal adalah mengenai latar tempat. Maafkan kalau saya terlewat membacanya, tapi saya rasa lokasi cerita Kaylin dan Rico ini dibuat benar-benar seperti sebuah tempat di negeri antah berantah yang tidak jelas. Awalnya ketika membaca nama sekolah Kaylin & Rico yaitu Primavera High, saya mengasumsikan setting-nya adalah di luar negeri, bukan Indonesia. Apalagi mengingat nama-nama tokoh buku ini juga rada kebarat-baratan.

Eh tetapi, ada Pak Herman yang menjabat sebagai ketua RT. Oke saya mungkin cupu, tetapi apakah diluar negeri juga ada RT? Kalaupun ada, mosok ya namanya Pak RT? Menurut saya hal ini jadi membingungkan pembaca, setidaknya saya sendiri. Latar tempat bisa mengungkapkan segalanya, mulai dari budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan berbagai istilah yang umum digunakan di lokasi tertentu. Jika penulis lebih greget menuliskan setting lokasi dengan lebih jelas, bisa jadi cerita horor ini bisa lebih dinikmati.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Jomblo

P

Judul: Jomblo

Sub Judul: Sebuah Komedi Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 211

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Kedua Puluh, 2013

ISBN: 9789797806859

cooltext1660180343

Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Yang satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.

Yang satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.

Yang satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.

Yang satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

Maret – Adaptasi Buku ke Film

cooltext1660176395

Jomblo itu mungkin bagi sebagian orang adalah status diri yang cukup menyedihkan. Sebagian lain beranggapan jomblo adalah suatu pilihan yang bertanggungjawab. Saya tidak akan membahas jomblo berdasarkan norma agama ataupun nilai sosial. Yang jelas, status jomblo pasti pernah dialami sebagian besar masyarakat Indonesia.

Saya tidak tahu kapan dan siapa yang mencetuskan istilah jomblo. Namun julukan bagi seseorang yang tidak memiliki kekasih ini lebih booming pada kalangan anak muda antara usia sekolah hingga bangku kuliah. Terkadang status jomblo bisa dijadikan lelucon, tetapi seringkali jomblo sangat membuat hati gundah gulana #uhuk #bukancurcol.

Begitu pula yang dialami oleh empat sahabat berjenis kelamin laki-laki bernama Agus Gurniwa, Doni Suprapto, Olfiyan Iskandar, dan Bimo. Sebagai mahasiswa teknik sipil UNB angkatan 96 (gile saya ngerasa muda banget!), sebuah universitas yang minim kaum hawa, menyebabkan mereka dengan bangga menyandang status jomblo. Akibatnya demi memperluas area pencarian jodoh, mereka sengaja bertandang ke kampus tetangga, UNJAT, agar memperoleh akses kepada kaum hawa yang lebih baik.

Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain. (Hal. 5)

Sebelumnya saya beri tahu ya, jika kamu menginginkan novel cerita romansa anak muda yang baik-baik dan berbudi luhur nan terpuji, maka kamu tidak perlu repot-repot membaca novel ini. Soalnya keempat orang geng jomblo ini datang ke UNJAT selain ngecengin cewek-cewek, juga dalam rangka menemani Bimo membeli … ganja.

Bener kok kamu ngak salah baca. Kalau sebagian besar novel dengan tokoh anak kuliahan didominasi sifat rajin dan pintar, disini sudah diawali dengan Bimo, sang anak rantau dari Yogyakarta, yang doyan ngemil (?) ganja. Bimo ini anaknya meskipun sangar dan pengguna aktif barang haram tersebut, pengalamannya dalam urusan cinta masih nol besar.

Berbeda dengan Bimo, Agus Gurniwa adalah seorang pemuda Sunda yang menjunjung tinggi logat tanah kelahirannya dalam setiap percakapan. Sayangnya, kehidupan cintanya tidak bisa mencapai puncak tertinggi alias krik krik krik. Namun semua tak berlangsung lama. Berkat permintaan kakaknya membeli keju di pasar, ia bertemu kawan masa sekolahnya dulu bernama Rita Sumantri. Sudah bisa diduga akhirnya Agus dan Rita memasuki tahap pacaran gara-gara keju #terimakasihkeju

“…Kamu yang dulu celananya sering digantungin di tiang bendera kan?” (Hal. 24)

Mari sejenak melupakan Agus. Selanjutnya ada Olfiyan Iskandar yang biasa dipanggil dengan Olip. Dia yang berasal dari Aceh ini sebenarnya mirip-mirip Bimo sih dalam urusan asmara. Hanya saja, sebenarnya Olip sudah memiliki tambatan hati sejak dua tahun yang lalu. Gadis pujaannya ini bernama Asri.

Yang jadi masalah adalah, Olip ini orangnya sangaaaaaaat takut kenalan dengan Asri. Boro-boro Asri kenal, tahu ada spesies bernama Olip di kampusnya juga enggak. Yasudah otomatis Olip hanya bisa memandangi keelokan paras Asri yang anggun dan kalem setiap hari rabu di Kantin Tengah (kenapa rabu dan kantin apa itu? Baca sendiri yee)

Olip kembali konsentrasi pada bidadari paginya. (Hal. 42)

Konflik pertama dialami oleh Bimo. Sudah saya katakan kemampuan Bimo berinteraksi dengan cewek bagaikan anak balita yang diminta lompat indah di kolam renang. Sebuah telepon salah sambung di kos Bimo membuka gerbang perkenalan Bimo dengan seorang gadis.

Gadis yang mengaku bernama Febi ini memiliki suara yang lembut dan sesuai dambaan Bimo. Merasa tidak cukup hanya bercakap selama beberapa minggu melalui telepon SAJA, Bimo mengajak Febi ketemuan. Setelah beberapa kali menolak, Febi akhirnya setuju. Sayangnya pertemuan Febi dan Bimo sungguh diluar dugaan.

Oh iya ketinggalan satu orang lagi. Dia bernama Doni Suprapto. Sebenarnya paras Doni lumayan ganteng dan dari golongan cukup berada. Sayangnya kebiasaan free sex dan enggan berkomitmen dengan perempuan membuatnya betah menyendiri. Ia merasa hubungan dengan cewek tidak perlu terikat. Yang penting sama-sama senang, yasudah.

Merasa kasihan dengan Bimo, akhirnya Doni mengajaknya ke sebuah acara di diskotek untuk memberi pelajaran tata cara berkenalan dengan cewek. Agus ikut serta namun Olip tidak bergabung karena sedang diare (ahelah penyakit sejuta umat anak kos banget).

Disana mereka bertemu dengan seseorang yang sangat familiar. Ternyata dia adalah Asri yang berpenampilan jauh berbeda dibanding saat di kampus (ya iyalah, mosok ya ke diskotek pakai kemeja dan bawa ransel). Merasa ini adalah kesempatan berkenalan dengan Asri agar Olip lebih mudah untuk berhubungan, mereka bertiga mendatangi Asri dan kawan-kawannya.

Agus melihat sebuah pemandangan yang tidak dia percayai. Dia melihat Doni menggamit Asri dan hilang di balik pintu keluar. (Hal. 104)

Di sisi lain, Agus merasa hubungannya dengan Rita menjadi tidak sehat. Ratu drama, posesif, dan semaunya sendiri membuat Agus merasa tertekan. Padahal sifat keibuan dan kalem yang dimiliki Rita adalah hal yang membuat Agus tergila-gila pada awalnya. Sayangnya, Agus tidak bisa menahan dan akhirnya berselingkuh dengan Lani, anak teknik industri angkatan 96, tanpa sepengetahuan Rita (ya iyalah mana aja selingkuh bilang-bilang zzz).

Sementara itu, setelah tiga tahun berdiam diri tanpa langkah apapun, Olip akhirnya mencoba berkenalan dengan Asri di hari rabu di Kantin Tengah #teteup. Entah terlalu gugup atau terlalu semangat, Asri menjadi enggan berdekatan dengan Olip. Sebuah jawaban telak bahkan diberikan Asri pada Olip yang akhirnya membuat Olip tak berkutik. Jawaban apakah itu? Lantas, bagaimana akhir kisah asmara dan persahabatan Doni, Agus, Bimo, dan Olip? Silakan baca bukunya deh.

Sebenarnya inti kisah masing-masing tokoh pria di buku ini sangat lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan anak muda. Bimo adalah potret seorang pria cupu yang tidak memiliki pengalaman interaksi apapun terhadap lawan jenis. Agus adalah representasi seorang pemuda yang jenuh dengan hubungan pacaran dan mengambil jalan keluar singkat.

Doni merupakan tipe anak muda doyan hura-hura dan seks bebas yang menganggap komitmen dengan perempuan adalah hal yang sangat merepotkan. Sedangkan Olip adalah seorang secret admirer yang betah berlama-lama mengagumi gadis pujaan tanpa inisiatif memulai perkenalan. Meskipun begitu, rasa persahabatan mereka cukup erat kok.

Kalau boleh saya berkomentar, sebenarnya masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka berempat sangat biasa dan tidak bombastis amat. Bahkan pertemuan Asri dan Lani di toilet terasa kaku, dipaksakan, dan terlalu kebetulan. Oh iya, tindakan Agus wara-wiri memakai kostum ayam demi Lani juga terasa sangat janggal bagi saya, baik alasan maupun tujuannya.

Saya juga merasa konflik setiap tokohnya hanya diselesaikan sekilas tanpa ada keberlanjutan yang lebih jauh. Penyelesaian urusan Lani dan Agus di restoran yang diakhiri dengan ciuman bibir juga membuat saya mengernyit. Haloo, itu restoran masih ada di Indonesia lho ya. Kalau mau cipokan mbok ya jangan di tempat umum #ehsaranapaini.

Ketika sudah mencapai halaman terakhir, saya agak kecewa. Memang urusan asmara dan persahabatan mereka berempat sudah bisa dikatakan terselesaikan. Tetapi tidak tuntas penyelesaiannya. Saya sangat berharap ada epilog tentang kehidupan selanjutnya para tokohnya. Oh iya selain itu yang pasti, gaya hidup tokoh-tokohnya yaitu free sex, drugs, dan minuman keras di diskotek bukan perilaku yang patut dicontoh generasi muda ya.

Namun beberapa kekurangan diatas tertolong oleh gaya penulisan yang kocak dan menghibur. Celetukan dan kalimat-kalimat tidak penting membuat suasana tulisan menjadi segar dan tidak membosankan. Berkali-kali saya dibuat ngakak dengan serpihan-serpihan banyolan penulis pada beberapa sisi tulisan. Tapi meskipun begitu, penulis tetap berhasil menyampaikan inti setiap bagian cerita dengan baik hingga halaman terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Resensi ini saya posting dalam rangka Baca Bareng BBI. Tema bulan Maret 2015 adalah buku yang diangkat menjadi film. Buku Jomblo karya Adhitya Mulya ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 2006 dengan pemain-pemain muda (pada masa itu) antara lain Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono, Christian Sugiono, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Saphira, Karenina, dan Richa Novisha. Berikut ini trailer filmnya.

Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Mitzy Christina dari SinemArt adalah produser film ini. Para pemainnya juga berhasil menghidupkan tokoh dalam novel dengan baik (tidak seperti kebanyakan artis jaman sekarang yang cuman modal tampang doang tapi kualitas akting zzzz). Meskipun kocak dan penuh adegan menggelitik, pesan dan makna dalam film ini tersampaikan dengan baik sesuai novelnya. Apalagi Rianti Cartwiright sangat cantik #aduh #gagalfokus.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=rsgV48WdMvI[/youtube]

Karya layar lebar hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo ini meraih nominasi beberapa ajang penghargaan film, antara lain: nominasi Festival Film Indonesia 2006 untuk Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik; nominasi Festival Film Jakarta 2006 kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terpilih, Pemeran Pembantu Wanita Terpilih, Penulis Skenario Asli Terpilih, Penata Musik Terpilih, dan Penata Suara Terpilih; nominasi MTV Indonesia Movie Awards 2006 kategori Most Favorite Actor, Most Favorite Rising Star, Most Favorite Heart Melting Moment, Best Crying Scene, Best Director, dan Best Movie of The Year.

Saking suksesnya novel dan film ini, bahkan RCTI menayangkan Jomblo The Series (yang saya tidak ingat pernah menontonnya) pada tahun 2007 namun dihentikan penayangannya di tengah jalan karena masalah rating. Padahal tanggapan dari para netizen yang saya baca pada suka loh. Kemudian sempat ditayangkan ulang pada November 2014 lalu (yang saya juga enggak pernah nonton heheheh).

Men’s Guide to Style

covermen

Judul: Men’s Guide to Style

Sub Judul: Tip Dasar Tampil Maksimal

Penulis: Titoley Yubilate Tako

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: xx + 137

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9789797807078

cooltext1660180343

Tanda-tanda jika pakaianmu telah fit, sesuai bentuk tubuhmu.

  • Menunjang bentuk tubuh sehingga terlihat lebih menarik.
  • Tetap bisa bernapas lega sekalipun bajumu terlihat slim.
  • Saat bercermin, you feel good about yourself.
  • Teman kerjamu memuji penampilanmu.

Tip memilih jeans

Jika kakimu pendek dan kurus, maka skinny cut bisa menjadi pilihan utama karena memberikan kesan langsing dan lebih tinggi. Jika kamu tinggi – baik kurus ataupun gendut – straight leg cut merupakan pilihan yang tepat karena dapat menyeimbangkan proporsi badan agar kamu tidak terlihat sangat tinggi.

Ada banyak hal sederhana yang perlu kamu perhatikan demi penampilan terlihat maksimal. Tak hanya soal fashion, kamu juga perlu memperhatikan urusan grooming, serta mengetahui aturan-aturan dasar tentang style. Buku ini memberikan banyak tip men’s style yang praktis. Setiap pembahasan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, plus dilengkapi dengan ilustrasi dan foto fashion.

Men’s Guide to Style akan membantumu memahami dasar style dengan baik. Tentunya, kamu akan tampil maksimal dan penuh percaya diri!

“It’s so exciting! Kami bisa berkolaborasi memvisualisasikan buku panduan basic yang begitu cemerlang dikemukakan oleh Tito.” – ADIBA MUSAWA, editor in chief Yess! Magazine

“Men’s Guide to Style bukan hanya buku tentang cara berpakaian, tetapi memberikan banyak informasi dasar tentang menswear, secara umum. Buku ini ringan dan terstruktur sehingga mudah untuk dibaca.” – JESSY ISMOYO, kontributor Nylon Magazine Indonesia

cooltext1660176395

Saya mau buat pengakuan dulu. Saya ini orangnya cenderung cuek dengan penampilan. Saya bukanlah tipikal pria metroseksual yang dandy dalam berpenampilan. Ditambah kondisi paras wajah yang kurang mempesona dan badan yang tidak proporsional alias gendut juga membuat saya tambah males berpenampilan aneh-aneh. Bisa dikatakan, yang penting saya nyaman berpakaian juga udah cukup.

Nah, pria-pria seperi saya inilah yang penulis coba untuk sadarkan. Pada bagian kata pengantar sudah disinggung bahwa sesungguhnya style itu genderless. Seringkali orang-orang, termasuk saya, berpikiran bahwa dunia fashion dan style hanyalah monopoli kaum perempuan. Sedangkan kaum adam tidak cocok berkutat dengan dunia tersebut. Padahal sesungguhnya perempuan dan laki-laki harus tetap memperhatikan penampilan agar terlihat menarik di mata orang lain.

Buku ini terdiri dari enam bagian. Saya kupas satu-satu ya. Bagian pertama berjudul Basic Rules of Style. Pada bagian ini, penulis mengajak pembaca untuk berkenalan dengan dunia –yang katanya – milik perempuan, yaitu fashion dan style. Ternyata, kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Jadi fashion bisa disebut dengan tren, sesuatu yang ramai dibicarakan pada waktu tertentu. Sedangkan style bersifat personal milik individu.

Fashion atau tren datang dan pergi begitu saja, tetapi style tetap untuk selamanya. (hal. 3)

Buku ini memang sudah berfokus tentang style sebagai kepribadian, bukan fashion yang hanya sesaat. Pada bagian pertama  ini, saya dijelaskan tentang aturan dasar memilih pakaian. Salah satunya adalah ukuran. Jelas lah ya, kan setiap orang memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Akibatnya pakaian yang dikenakan juga bermacam-macam ukurannya.

Penulis menekankan tentang konsep fit alias pas. Dan salah satu tip yang diberikan penulis kepada setiap pria untuk menciptakan “fit” tersebut paling mengejutkan bagi saya adalah: miliki tailor langganan. Batin saya saat membacanya: “He? Saya ke tukang jahit? Duh apaan deh ini maksudnya.” Namun kemudian seakan menjawab saya, penulis memberikan penjelasan yang lengkap perihal pentingnya memiliki tailor.

Kemudian pada bagian kedua berjudul Basic of Staples, saya diajak setingkat lebih tinggi mengenai hal-hal terkait pakaian yang wajib dimiliki seorang pria. Penulis menyebutnya sebagai investasi. Well, bukan hanya tanah dan bangunan saja. Bahkan pakaian pun juga perlu diinvestasikan.

Kita mungkin sering mendengar bahwa salah satu tip style terbaik adalah memadupadankan high and low pieces. (hal. 22)

Jujur saya belum pernah denger tuh hehehe. Nah jadi bagian kedua ini mengupas bagian pakaian apa yang bisa menjadi investasi berpenampilan. Sehingga pengeluaran saat membeli pakaian juga tidak akan sia-sia. Bahkan penulis juga memberikan sejumput tip mengenai belanja pakaian bagi seorang pria. Ada bagian tentang penampilan rapi saat melamar kerja lho.

Selanjutnya bagian ketiga adalah How to Wear. Bagian ini memiliki sub bagian paling banyak diantara bagian yang lain. Bisa saya katakan bagian inilah inti buku ini. jadi setelah mengenal konsep dasar style dan memiliki item wajib pakaian, di bagian tiga ini saya dijelaskan do’s and dont’s terkait berpakaian.

Meminjam istilah from head to toe, bagian ketiga ini dikupas satu persatu tentang cara mix and match, cara pemakaian dan perawatan kemeja, kaus, celana, jaket, hingga kaus kaki dan sandal. Meskipun sangat banyak, penulis menyampaikannya dengan mudah dan diselipi humor. Hal ini membuat saya nyaman membacanya satu persatu. Part paling menarik bagi saya adalah tentang 7 fashion item yang wajib dihindari.

Sepatu sandal karet. Terutama sepatu sandal yang memiliki desain gelembung aneh di bagian depan. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa jeleknya penampilanmu saat memakainya. (hal. 95)

Huahahaha. Meskipun penulis tidak sebut merek, saya bisa langsung tahu sandal apa yang dimaksud. Selain sandal itu, ada enam lainnya yang membuat saya terbelalak karena kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Deskripsi tentang masing-masing fashion item wajib juga membuka wawasan saya tentang bagaimana cara memperlakukan pakaian agar lebih awet dan tidak rusak.

Bagian keempat adalah Grooming. Awalnya saya mikir ini berisi tip menuju pelaminan (kan groom artinya mempelai pria kan? #krikkrik). Eh ternyata groom ada arti lain yaitu perawatan. Yak benar, setelah bagian sebelumnya sudah dijelaskan perawatan pakaian, bagian ini mengupas tentang perawatan fisik pria, meliputi rambut, kulit, wajah, gigi, mulut, dan kaki.

Kalau kamu yang berpikir jika penampilan tidak perlu diperhitungkan, maka kamu mungkin bisa berhenti membaca buku ini. Namun, bagi mereka yang menginginkan kulit sehat dan segar serta karier yang gemilang untuk waktu yang lama, terapkan tiga rutinitas berikut. (hal. 107)

Tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan sebaik apapun, jika wajahnya kucel dan jerawatan, pasti jadi nggak menarik lagi. Hal inilah yang menjadikan perawatan fisik sangat dibutuhkan untuk menunjang penampilan yang mempesona. Bahkan ada penjelasan tentang macam-macam parfum yang saya juga baru tahu kalau parfum itu ada beraneka jenis.

Bagian kelima adalah Perawatan Pakaian. Bagian ini mengupas serba-serbi mencuci dan menyetrika. Salah satu part paling penting adalah mengenai 22 simbol perawatan pakaian yang tertera pada label pakaian. Jujur lagi, saya baru tahu arti masing-masing simbol dari buku ini. Bahkan cara mengatur lemari pakaian juga sempat disinggung.

Keluarkan pakaian yang sudah tidak pantas dipakai, entah karena kekecilan atau tidak trendi lagi, dan sumbangkan. (hal. 121)

Bagian ini memang cukup singkat. Namun informasi yang diberikan cukup padat dan tidak berbelit-belit. Selain itu, ada juga section khusus tentang aturan dasar mengatur isi koper atau backpack saat akan traveling. Cukup berguna sih apabila ada pekerjaan dinas keluar kota atau ingin liburan keluar negeri.

Akhirnya bagian terakhir adalah Belajar Tentang Style. Bagian ini menyuguhkan tip memperkaya ilmu tentang style. Mulai dari menentukan style icon, referensi website tentang style yang bagus, yang kemudian ditutup dengan definisi beberapa istilah asing yang disebutkan dalam buku. Bagian ini seolah-olah berisi pesan dari penulis agar pembaca memperdalam ilmu style lebih luas dari berbagai referensi, bukan hanya berhenti setelah membaca buku ini.

Membangun sense of style bukanlah sesuatu hal yang bisa dicapai hanya dalam semalam. (hal. 133)

Satu kata yang bisa saya gambarkan untuk buku ini: informatif. Bagaimana tidak, semua hal-hal mendasar tentang penampilan seorang pria dikupas habis. Saya yang awalnya adalah orang yang cuek tentang penampilan, menjadi termotivasi memperbaiki penampilan setelah membaca buku ini. Tidak ekstrim sampai operasi plastik dan menyewa designer, namun cukup memaksimalkan isi lemari baju.

Buku ini sangat membantu saya dalam berpenampilan dasar agar bisa tampak lebih menarik. Sayangnya, salah satu kesalahan fatal yang saya rasa menganggu adalah kurangnya ilustrasi. Saya ambil contoh tentang jenis jeans yaitu straight leg jeans, boot jeans, slim jeans, dan skinny jeans. Meskipun dijelaskan, saya butuh gambar asli yang menunjang penjelasan tersebut. Dan gambar yang saya maksud adalah foto asli jeans, bukan gambar karikatur jeans. Hal ini juga berlaku bagi fashion item lainnya.

Saya pribadi merasa, beberapa halaman yan menampilkan model dengan outfit dasar sudah bagus. Tapi agak mubazir aja satu halaman hanya diisi satu gambar orang saja dengan caption yang sedikit. Alangkah lebih baik gambar model itu berukuran kecil tapi banyak dan menyebar di halaman lain. Saya sadar kalau mau banyak gambar, saya bisa membeli majalah fashion. Tapi majalah fashion itu kan sudah tingkat expert. Sedangkan saya hanya ingin berbagai hal dasar di buku ini bisa ditunjang dengan gambar yang cukup. Pokoknya saya kecewa dengan minimnya gambar dalam buku ini.

Selain itu mengenai glosarium alias definisi istilah fashion. Pada bagian kata pengantar, penulis sudah berujar bahwa apabila pembaca bingung dengan berbagai istilah bahasa Inggris terkait fashion, sudah disediakan kamus di akhir buku. Tapi saya lagi-lagi kecewa dengan glosarium yang bisa dikatakan “ngirit bingit”. Sebut saya cupu dan kuper, tapi saya berharap berbagai istilah fashion yang digunakan – sesederhana apapun – bisa dijelaskan artinya. Bukankah segmen buku ini kebanyakan pria yang masih buta style and fashion?

Pada akhirnya, buku ini memang sangat membantu bagi kaum pria yang cuek tentang penampilam. Soalnya kalau pria metroseksual dandy yang baca buku ini, pasti akan mencemooh karena ilmunya sudah jauh lebih tinggi. Sedangkan pria cuek penampilan akan merasa bahwa sudah saatnya berpenampilan baik dan menarik. Selain bisa meningkatkan rasa percaya diri, penampilan yang menarik sudah pasti akan memberikan persepsi menarik dari orang lain. So, let’s change our outfit!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Gege Mengejar Cinta

covergege

Judul: Gege Mengejar Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 228 halaman

Terbit Perdana: November 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, November 2004

ISBN: 9789793600437

cooltext1660180343

Mana yang seseorang akan pilih? Mereka yang dia cintai? Atau mereka yang mencintainya? Ini adalah sebuah pertanyaan penting yang entah kenapa orang tidak pernah cukup peduli untuk kaji dan tanyakan pada diri sendiri. Buku ini bercerita tentang Gege. Pria yang akhirnya dihadapkan dengan pertanyaan itu.

“…saya mendapatkan novel ini benar-benar berbeda. Ide-idenya mengalir unprecedented dan menghanyutkan, suatu originalitas yang sulit didapatkan hari ini. Saya suka pendekatannya terhadap klimaks yang chaotic seperti fireworks in the fair ground. Beginilah penulis muda seharusnya, smart, playful, dan explosive.” – Jose Poernomo – Produser & Sutradara Film

cooltext1660176395

Jatuh cinta berjuta rasanya. Banyak yang merasakan manis ketika cintanya mendapat balasan yang sama, namun tak sedikit pula yang harus menelan rasa pahit ketika pujaan hati menolak untuk bersama. Cinta juga sangat identik dengan pengorbanan dan perjuangan. Semakin besar cinta seseorang, maka semakin besar pula perjuangan dan pengorbanan yang sanggup untuk dilakukan.

Begitu pula dengan Gege, tokoh utama dalam novel ini. Pada usia telah mencapai 27 tahun, ia bekerja sebagai seorang produser dalam sebuah radio di Jakarta. Suatu hari, Program Director radio alias atasan Gege, mengumumkan sebuah informasi dari Asosiasi Radio Jakarta terkait penyambutan hari kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangka menyambut ulang tahun Indonesia ke-59, sebuah dewan juri akan menilai secara kualitatif, radio mana yang paling mampu menyambut kemerdekaan. (hal. 12)

Gege sebagai sang produser acara, didaulat untuk membuat sebuah acara radio yang bisa membawa Radio Hertz menjadi juara. Akhirnya ide yang dilaksanakan adalah mengenai sandiwara radio. Karena menyewa pengisi suara yang bagus cukup mahal, maka Gege berinisiatif melibatkan rekan-rekan kerjanya dalam sandiwara ini. Tak terkecuali Tia, sang gadis di kantor yang ehm, naksir Gege. Tia ini orangnya gengsi pake banget. Termasuk urusan menyatakan cinta. Bahkan dalam hal ngedeketin aja dia punya alasan jitu.

“Cowok beda Ge, sama cewek. Cowok memang pada kodratnya mempermalukan diri dan usaha untuk kenalan, ngejar cewek.” (hal. 32-33)

Gege tentu saja sebagai seorang cowok, yang merupakan spesies yang dianggap tidak kurang peka, tidak menyadari apa yang Tia rasakan. Justru ia larut dalam pengerjaan sandiwara radio karena cinta lamanya datang kembali. Ya benar, gadis pujaan Gege, sejak SMP hingga SMP, tetangga depan rumahnya, yang menghilang begitu lama, kembali muncul di hadapan Gege. Tentu saja Gege tak menyia-nyiakan hal tersebut dan mencoba mendekati Caca, sang gadis itu. Bahkan kemungkinan terburukpun ia hiraukan.

“Setidaknya gua tahu dan gua masih bisa nunggu.” (hal. 89)

Sinting? Yah mungkin saja. Namanya juga orang jatuh cinta. Dan Tia juga melakukan pengorbanan untuk Gege. Mulai dari mengganti kacamata dengan soft lens, meluruskan rambut (yang akhirnya jadi kribo), sampai dandan menarik agar Gege menyadari perasaannya. Namun apa daya, gengsi telah mengalahkan perjuangannya.

Sulitnya jadi perempuan. Gengsi adalah kulit kedua mereka. Kulit yang mengikat mereka meraih takdir yang sebenarnya jauh lebih luas. Yang sebenarnya dapat membuat mereka mendapatkan apa yang benar-benar mereka mau. (hal. 102)

Di saat Tia sibuk menebar tanda-tanda yang tak kunjung disadari sang pujaan hati, Gege justru sukses pedekate dengan Caca. Bahkan keduanya bisa dikatakan tahu-sama-tahu tentang perasaan masing-masing. Namun untuk berkata jujur, Gege masih belum sanggup.

Anehnya wanita. Selalu menuntut kejujuran dari pria tapi akan lari jika kejujuran itu datang terlalu cepat atau jika sang wanita belum cukup kuat atau nyaman menerimanya. (hal. 153)

Lantas, bagaimana kelanjutan kisah drama percintaan Gege, Tia, dan Caca? Silakan baca sendiri deh. Soalnya seru banget. Karena sang penulis piawai menempatkan segi humor dan serius dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Tokoh-tokoh figuran, meskipun tidak tampil sebanyak Gege, Tia, dan Caca, mereka tetap memiliki karakter yang kuat.

Selain itu, saya menyukai banyaknya dialog yang dilakukan antar tokoh. Hal ini membuat saya tidak bosan membacanya. Kan ada ya tuh, novel yang menarasikan segala tindak tanduk sang tokoh sampai panjang lebar. Saya justru menyukai sifat, karakter, dan perilaku tokoh disampaikan melalui dialog. Istilahnya kalau tidak salah showing than telling.

Oh iya, banyak sekali catatan kaki (footnotes) yang bertebaran dalam buku ini. Alih-alih sebuah informasi tambahan tentang kutipan yang dimaksud, justru catatan kaki ini semacam perasaan atau pemikiran atau pembelaan penulis ketika pembaca sampai pada kata/kalimat yang dimaksud. Banyak catatan kaki yang lebih lucu dibanding teks di novelnya sendiri hehehe.

Saya juga suka karakter para tokoh utama yang kuat. Saya bisa merasakan sakitnya Tia ketika mengetahui Gege mendamba Caca, saya juga bisa mengerti alasan Gege masih menunggu Caca sekian lama, dan saya juga bisa memahami perasaan Caca yang bahagia dicintai Gege. Hal inilah yang membuat novel ini sangat bagus untuk dinikmati.

Kekurangannya saya rasa ketika ada dialog yang melibatkan beberapa tokoh (lebih dari dua), saya tertukar-tukar siapa yang berkata begini, siapa yang ngomong begitu. Karena penulis hanya meuliskan tanda kutip saja, tanpa disertai siapa tokoh yang berbicara. Tapi kalau dicantumkan juga malah mengganggu yak. Typo sih ada beberapa, namun karena terlanjur asik mengikuti cerita, jadi saya abaikan deh hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Manusia Setengah Salmon

covermanusia

Judul: Manusia Setengah Salmon

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: viii + 264 halaman

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9789797805319

cooltext1660180343

Nyokap memandangi penjuru kamar gue. Dia diam sebentar, tersenyum, lalu bertanya, ‘Kamu takut ya? Makanya belom tidur?’

‘Enggak, kenapa harus takut?’

‘Ya, siapa tahu rumah baru ini ada hantunya, hiiiiii…,’ kata Nyokap, mencoba menakut-nakuti.

‘Enggak takut, Ma,’ jawab gue.

‘Kikkikikiki.’ Nyokap mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan ngisep lem sewaktu hendak photobox. ‘Kikikikikiki.’

‘Aku enggak ta—’

‘KIKIKIKIKIKIKIKI!’ Nyokap makin menjadi.

‘Ma,’ kata gue, ‘kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa dateng lho.’

‘JANGAN NGOMONG GITU, DIKA!’ Nyokap sewot. ‘Kamu durhaka ya nakut-nakutin orang tua kayak gitu! Awas, ya, kamu, Dika!’

‘Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa.’

Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sembilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.

cooltext1660176395

Another book of Raditya Dika. Saya cenderung menyukai banyolan dan guyonan dalam tulisan Dika. Terasa segar (air mineral kali ah) dan menghibur. Usianya yang masih belum terlalu tua juga sedikit banyak bisa membuat kejadian-kejadian masa kini menjadi bahan tulisannya. Termasuk pada buku Manusia Setengah Salmon ini.

Ada 19 bab di buku ini yang Dika suguhkan. Ada yang lucu, ada yang mellow, ada pula yang absurd dan nggak jelas. Karena nggak mungkin saya ulas satu persatu, jadi saya tuliskan beberapa saja ya. Salah satu kisah yang menurut saya cukup menarik adalah yang berjudul “Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat”. Pada cerita ini, Dika yang mengalami putus cinta menjadi tahu apa esensi dari kenangan masa lalu.

Harga diri lebih penting daripada sakit hati. (hal. 22)

Putus cinta memang menyakitkan. Namun di cerita tersebut Dika menyelipkan sebuah pesan moral mengenai arti dari merelakan. Lain hal pada kisah berjudul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” yang menurut saya lucu sekaligus menyentuh. Alkisah Dika yang melanjutkan studi ke Belanda mengalami fase “ingin mandiri” dengan mencoba mengacuhkan segala perhatian nyokapnya yang terus menghubungi Dika tiap jam.

Memang perut gue ini perut belalang kupu-kupu, kalau siang makan nasi kaau malam minum susu. (hal. 117)

Pada kisah tersebut Dika seakan ingin mengingatkan pada jutaan orang yang (mengaku) dewasa yang masih memiliki orang tua bahwa sesungguhnya perhatian orang tua itulah yang sesungguhnya amat berharga. Karena kita tak akan tahu kapankah orang tua akan pergi meninggalkan kita…ke dunia yang berbeda.

Pada kisah lain berjudul “Tarian Musim Kawi”, Dika menceritakan tentang curhat sahabatnya, Trisna, yang menjadi jomblo perak karena pada usia menginjak 25 tahun belum pernah berpacaran. Ingin membantu, Dika mengusulkan Trisna mencari (calon) pasangan melalui Twitter.

Timeline Twitter seseorang menunjukkan sifat asli orang tersebut. (hal. 151)

Saya sangat sependapat sih dengan bahasan Dika pada kisah ini. Karena tidak dapat dipungkiri di era serba modern (termasuk munculnya social media) bisa menunjukkan jati diri asli seseorang. Trisna yang merasa tertarik dengan usul Dika pun juga begitu. Lantas, berhasilkah Trisna mendapatkan pasangan hanya bermodalkan timeline?

Cerita yang cukup memilukan hadir pada judul “Lebih Baik Sakit Hati”. Bukannya apa-apa, di kisah ini Dika menceritakan mengenai pengalamannya sakit gigi akibat gigi geraham bungsunya mulai tumbuh. Tak tanggung-tanggung, ia musti rela disuntik dan dioperasi demi menyembuhkan giginya. Sakit? Tentu saja. Bahkan ia membandingkan dengan rasa sakit hati yang pernah ia alami.

Orang yang bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya menjadi dewasa. (hal. 204)

Bab penutup berjudul “Manusia Setengah Salmon” seakan menjadi kesimpulan dari segala macam bab galau dan mellow yang dikisahkan pada bab-bab sebelumnya. Pada akhir penutup ini, Dika seakan kembali menegaskan bahwa perpindahan adalah sebuah hal yang lumrah terjadi.

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. (hal 255)

Ketika menutup buku ini, saya merasa puas. Dalam artian saya menemukan sebuah hal baru pada gaya tulisan Dika. Meskipun guyonan dan candaan masih dipertahankan, namun saya bisa merasakan pesan moral ataupun kutipan menyentuh di buku ini. Pada buku ini saya juga mengetahui bahwa Dika bukan hanya piawai dalam menyusun tulisan komedi nan menggelitik, namun juga sukses mengingatkan saya tentang pelajaran hidup.

Sayangnya, kelebihan diatas justru menjadi bumerang. Saya jadi kurang menyukai semua bab bertema lucu yang diletakkan selang-seling dengan bab bertema mellow. Memang sih mungkin tujuannya agar pembaca bisa sedikit refreshing pada bab yang lucu setelah menikmati mellow-nya bab sebelumnya. Tapi saya justru merasa aneh. Ibarat lagi makan kue bolu dan rempeyek (aduh, maafkan pemilihan yang absurd ini), saya harus berganti-ganti kedua makanan tersebut tiap lima detik. Enak? Tentu tidak. Saya jauh lebih setuju jika buku ini full bab bertema mellow. Sisi-sisi komedi sebagai identitas Dika cukup diselipkan dalam bab-bab itu saja. Tak perlu disendirikan.

But overall, saya suka dengan buku ini. Meskipun kadar komedinya tidak terlalu dominan, saya justru mendapat sebuah pemahaman baru mengenai secuil pengalaman hidup. Dika yang masih muda juga sanggup menghadirkan tulisan yang bisa dinikmati kawula muda. Good job!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Radikus Makankakus

coverradikus

Judul: Radikus Makankakus

Tagline: Bukan Binatang Biasa

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 232 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, 2007

ISBN: 9789797801663

cooltext1660180343

Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget.

‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’

‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan.

‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu.

‘Sukro,’ gue manggil.

‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut.

‘Kamu kacang apa manusia?’

‘Hah? Maksudnya?’

‘Engga, habis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’

‘Ma-manusia, Kak.’

‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya.

‘MANUSIA, KAK!’

Satu kelas hening.

RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus) berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib.

Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB.

Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.

cooltext1660176395

Raditya Dika bukanlah orang asing dalam dunia buku non fiksi komedi di Indonesia. Karya fenomenal Kambing Jantan mengantarkannya sebagai salah satu penulis yang cukup berkompeten di Indonesia. Beberapa buku juga ia hasilkan setelah Kambing Jantan. Buku Radikus Makankakaus ini adalah buku ketiganya. Garis besarnya masih sama dengan pendahulunya, yaitu menceritakan pengalaman-pengalaman unik dan absurd Dika dalam bahasa komedi lugas dan cenderung blak-blakan.

Ada 17 cerita yang disajikan di buku ini. Ada yang cukup membekas dalam sanubari, ada pula yang berlalu begitu saja tanpa arti. Jadi saya ulas yang cukup memorable saja ya. Salah satunya cerita berjudul “Balada Badut Mabok”. Pada cerita pertama ini, Dika bermaksud melakukan penelitian dengan menjadi badut.

Gak beberapa lama kemudian, anak-anak itu udah ada di samping kaca mobil gue. Kepala gue ditoyor-toyor. Tangan-tangan butek item mereka nyolok-nyolok idung gue. (hal. 12)

Ternyata menjadi badut bukanlah hal yang mudah. Lantas bagaimana kelanjutan penelitian Dika? Ada lagi kisah berjudul “Arti Hidup?” merupakan salah satu cerita yang sedikit mellow dan inspiratif. Mengambil waktu saat Dika masih SMA, ada seorang guru bernama Ibu Irfah. Meskipun Dika nakal bagai setan, beliau tetap care pada Dika.

Kamu masih punya waktu untuk berubah. Kamu pasti mau kan lulus SPMB, masuk UI? Kamu belajar yang bener dari sekarang. Jangan bandel kayak gini. Kasihan tahu, orang tua kamu. Mulai semester depan, perbaiki ya? (hal. 94)

Ibu Irfah adalah salah satu potret guru yang pasti dicintai oleh murid-muridnya, tak terkecuali Dika yang menulis kisah ini. Meskipun tidak meninggalkan ocehan komedi, kisah ini bisa dibilang kisah paling memorable bagi saya pribadi. Karena juga meninggalkan pertanyaan dalam diri saya sendiri.

Kisah yang cukup unik berjudul “Guruku Seperti Macan”. Jadi ceritanya Dika yang udah kuliah dan lagi libur, diminta menjadi guru/tentor pada LBB yang dimiliki nyokapnya. Meskipun “hanya” mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kelas 1 SMP dan 3 SMP, itu cukup membuatnya ketar-ketir.

Ngebayangin anak-anak SMP zaman sekarang, kayaknya mereka udah brutal banget. Gak ada yang tau betapa ganas ataup betapa bandelnya mereka. Apalagi, film-film sekarang ini banyak yang menggambarkan anak-anak sekolah ngomong makin kasar, makin suka ngerjain, makin binal. (hal. 107)

Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Tayangan televisi nasional sekarang banyak yang tidak mendidik generasi muda. Apalagi sinetron-sinetron sampah selalu berlalu-lalang di layar kaca. Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran Dika sebelum mengajar (calon) siswanya. Perbedaan generasi terkadang menimbulkan perbedaan perangai. Dahulu santun, sekarang bisa tak tahu malu. Yang tadinya sopan, bisa jadi sekarang suka ngomong kasar.

Secara umum sih saya suka buku ini. Sebenernya buku ini sudah punya sejak lama. Cuman baru bisa nulis review sekarang. Ciri khas Dika dalam tulisan komedi sepertinya sudah tak bisa dipungkiri. Apalagi kodratnya sebagai laki-laki menjadi lebih bebas dalam menulis. Tidak seperti kebanyakan penulis perempuan yang mengusung tema komedi malah jadinya garing.

Namun yang disayangkan, saya kurang bisa menikmati seluruh komedi yang dituliskan, khususnya tulisan-tulisan yang mencela orang lain. Terlepas maksudnya hanya bercanda atau tidak, tidak sepatutnya menghina orang lain sebagai bahan kelucuan. Mau itu kenyataan ataupun hanya guyonan, humor dengan menghina orang itu amat sangat basi banget. Bahkan ada salah satu tulisan berikut ini:

‘ASTAGFIRULOH!!!’ salah satu orang masih menjerit kayak orang gila. (hal. 65)

Hah? Apa? Mengucap istighfar (meskipun penulisannya kurang tepat) dikatain orang gila? Kok saya rasanya agak tersinggung ya ketika membacanya. Saya tau kok maksudnya hanya bercanda. Namun bercanda dengan membawa-bawa SARA itu enggak bagus lho, IMHO. Ada lagi yang seperti ini:

Gak taunya nih orang melihara ikan di bak mandi! Gila. (hal. 156)

Dih, ini Dika alay banget sih cuman liat ikan doang. Pake ngatain gila lagi. Emang sih, kayaknya dia baru tau ikan itu fungsinya buat makan jentik nyamuk demam berdarah. Tapi please, piara ikan di bak mandi masih lebih waras dibandingkan tidak melakukan apa-apa demi mencegah demam berdarah. Hih!

Akhirnya, buku ini masih layak baca kok meskipun ada beberapa kekurangan. Saya rasa masih belum ada penulis komedi di Indonesia (yang karyanya udah saya baca) yang bisa mengalahkan Raditya Dika dalam menulis komedi. Hanya saja, saya rasa Dika harus mencoba mengubah konteks komedinya tanpa membawa-bawa SARA dan celaan pada orang lain agar humor yang ia sajikan bukan hanya menghibur semata, namun juga cerdas.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Metro

covermetro

Judul: Metro

Penulis: Gola Gong

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Mei 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2005

ISBN: 9789793600710

cooltext1660180343

Jakarta. Kota metropolitan yang sudah terlanjur dicap dengan kehidupan masyarakatnya yang glamour, egois, individualis dan materialistis. Dengan gaya metroseksual, sebagian orang Jakarta tidak peduli dengan kehidupan sosial di sekitarnya. Karena itu, Gola Gong tergugah untuk menyampaikan pesan moral tersebut melalui novel terbarunya, METRO.

Novel beraromakan kekerasan jalanan, yang kuat nuansa islaminya. Bercerita tentang tokoh bernama Baron, petinju yang juga petarung bebas. Dia hidup di lingkungan yang penuh dengan maksiat. Tiba-tiba saja dia melihat bulan sabit dan bintang serta mendengar alunan suara adzan. Pertanda apakah itu?

Metro, sebuah novel yang mempertanyakan jiwa sosial, jati diri, dan solidaritas kita di tengah masyarakat hedonis.

cooltext1660176395

Sisi lain ibukota sepertinya masih menarik dijadikan tema cerita oleh para penulis lokal. Setidaknya kesan glamour, mewah, dan gemerlapan yang digantikan kekerasan dan kekelaman bisa memberikan nuansa baru dalam memandang kota meropolitan dalam sebuah cerita. Karena sesungguhnya segala sesuatu memiliki sisi yang baik dan buruk.

Baron sebagai seorang petinju sekaligus petarung bebas juga seperti itu. Meskipun ia memiliki “pekerjaan” yang sanggup memenuhi kebutuhannya, ia masih merasa tersesat. Khususnya dalam sebuah pandangan mengenai agama.

Baginya agama adalah urusannya dengan Tuhan. (hal. 3)

Bagaimana tidak, ia mendapati bulan sabit dan bintang di langit sore namun kekasihnya, Kirana, tidak melihat hal yang sama. Baron menjadi bingung sekaligus penasaran. Pertanda apakah itu. Karena menurutnya agama bukanlah prioritasnya dalam menjalani hidup. Lagipula Kirana berhasil menjadikannya model produk minuman sehingga penghasilannya lebih dari cukup dibandingkan menjadi petinju dan petarung bebas saja.

Meski Baron adalah seseorang yang keras dan tak segan menghajar lawannya saat pertandingan, ia justru sangat hobi membaca buku. Seems weird, huh? Hal ini membuatnya menjadi idola orang-orang, bahkan ibu-ibu juga tak segan meminta foto bersama.

Sangat jarang seorang petinju profesional, petarung bebas, dan chief security di sebuah tempat hiburan gila pada buku! (hal. 23)

Ketika menjelang pertarungannya dengan Landung, ia mendapati preman terminal, Yopi, kalah dalam pertandingan. Merasa iba, Baron membawanya ke rumah sakit dan membantu pengobatannya. Hal inilah yang membuat Baron menjadi semakin terlihat bukan petarung biasa. Bahkan ketika mengantar Yopi pulang, Baron sempat tertegun melihat keadaan sekitarnya.

Baginya, orang-orang kecil yang mengais rezeki di kerasnya Jakarta itulah, yang menopang kehidupan Jakarta. (hal. 58)

Lantas bagaimana kelanjutan pertarungan Baron dengan Landung? Lantas apa makna bulan sabit dan bintang yang dilihatnya? Apa yang terjadi kemudian dengan hubungan asmaranya? Dan yang lebih penting, siapa sebenarnya Baron itu? Silakan baca sendiri ya.

Ketika membaca novel yang tipis (banget) ini saya tidak berekspektasi macam-macam. Sebisa mungkin saya membaca tanpa beban dan menikmati kata demi kata yang tertulis. Sosok Baron menurut saya adalah pribadi yang langka hampir imajiner. Apalagi jika bukan karena kebiasaannya membaca buku yang berbeda jauh dengan pekerjaannya sebagai petarung. Inilah salah satu poin plus untuk novel ini.

Kekurangannya bagaimana? Ehm, ada beberapa hal sih. Saya bingung kenapa ini novel singkat banget. Mungkin akan lebih baik kisah Baron ini disebut cerpen daripada novel. Selain itu? Endingnya menggantung. Argh! Saya jadi kesal saat membaca halaman terakhir. Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang tidak terjawab, bahkan hingga kata paling akhir.

Novel ini juga menyisipkan berbagai kutipan dan informasi yang berfungsi sebagai trivia saat membaca kisahnya. Namun saya pribadi amat jauh lebih menyukai sumber atau info tersebut dijadikan catatan kaki di halaman yang bersangkutan, dibandingkan meletakkan semuanya di halaman belakang yang merepotkan saya bolak balik halaman. Akhirnya trivia keempat dan seterusnya tidak saya pedulikan lagi.

Anyway, kalau membutuhkan bacaan ringan dan tipis, novel (atau cerpen?) ini bisa dijadikan selingan. Konflik yang minim dan tidak terlalu berat membuatnya mudah untuk dipahami. Apalagi alurnya yang maju dan sedikit menguak kehidupan Jakarta bisa memberikan sedikit pandangan mengenai apa yang terjadi di sebuah kota metropolitan ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Kedai 1002 Mimpi

cover1002

Judul: Kedai 1002 Mimpi

Penulis: Valiant Budi @vabyo

Penerbit: GagasMedia

Jumlah halaman: 384 halaman

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9789797807115

cooltext1660180343

Konon, kalau tidak mengerti, harus bertanya.

Giliran banyak bertanya, diancam mati.

Bisa jadi, kalau mengerti harus mati.

Pernahkah kau terluka dan meminta pertolongan, tapi mereka malah mengira kau mengada-ada?

Terkadang memang lebih baik bungkam, tapi izinkan jemari ini yang memberi tahumu.

Karena ternyata, tidak ada akhir yang bahagia, selama memang belum selesai dan selayaknya tenteram.

Kedai 1002 Mimpi.

Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.

Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.

Salam damai,

Valiant Budi Vabyo

cooltext1660176395

VABYO IS BACK!!! Setelah sukses dengan kisah pengalaman pahit nan nyelekit ketika menjadi TKI Arab Saudi di buku Kedai 1001 Mimpi, kini ia kembali dengan novel yang sedikit nyerempet judulnya dengan pendahulunya. Jadi konsepnya, novel ini berisi kisah-kisah yang ia alami selepas pulang dari negara tempat ia bekerja dahulu. Ia berkisah mengenai kehidupan yang ia jalani setelah pengalaman “mengesankan” sempat menghampiri kesehariannya.

Novel ini dibuka dengan kisah detik-detik Vabyo menuju tanah air Indonesia dalam rangka kebebasannya. Tetapi tak semudah yang dibayangkan. Ada saja beberapa keparnoan yang dirasakan. Mulai dari takutnya paspor dicuri kondektur bus demi kepentingan pengecekan identitas, petugas imigrasi yang terlihat galak dan mengintimidasi, teror bom dalam bus yang ditumpanginya menuju bandara, hingga kesewotan perlakuan “khusus” TKI di bandara Indonesia.

Mati adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. (hal. 2)

Kehidupan di Bandung, kampung halaman Vabyo berawal biasa-biasa saja. Setelah menyandang pensiunan barista Sky Rabbit, ia berencana mencari penghasilan tambahan (selain royalti buku sebelumnya). Pucuk dicinta ulam tiba. Vabyo sukses dengan sebuah boyband. Bukan, bukan menjadi anggota yang jejogetan berkaos V-neck. Tetapi menjadi penulis lirik lagu yang dibawakan boyband itu.

Selain berkecimpung dengan lagu-lagu boyband, Vabyo juga memanfaatkan keahliannya dalam racik meracik aneka kopi dengan membuka cafe baru di Bandung. Cafe ini dinamakan Warung Ngebul yang minim filosofi hahaha. Pendirian cafe ini bersama kakak Vabyo, Vanvan. Ternyata, animo masyarakat sungguh tinggi. Entah karena terpikat Vabyo di novel 1001, atau murni karena rasa dan suasana warung hehheehe.

Berburuk sangka adalah kegiatan pengganggu hidup nomor dua setelah diare tapi nggak ada air di kamar mandi. (hal. 32)

Kehidupan yang happy ternyata tidak sampai di ending. Selain mendapat kecaman, teror lewat dunia maya, hingga dianiaya orang tak dikenal mengendarai motor menjadi makanan sehari-hari. Oh iya kebiasaan ganti ban mobil gara-gara dirusak oknum tak bertanggungjawab juga masuk dalam kesehariannya.

Dunia maya memungkinkan kita jadi siapa saja, berkata apa saja, mencintai dan menyakiti tanpa henti. Ada yang membuat rindu, ada yang tak henti mengganggu. (hal. 42)

Sekali dua kali tak masalah, namun akhirnya Vabyo gerah dan melaporkan kepada pihak berwajib. Meskipun akhirnya Vabyo & Vanvan mengetahui salah satu pelakunya, di novel ini tidak disebutkan. Sepertinya nama baik sang pelaku masih bisa terjaga.

Mungkin ada pemahaman baru ‘teman dekat’ di era digital ini. Begitupun dengan ‘berantem’ atau ‘dibully’. Seperti layaknya tidak sempat membalas mention atau email sudah tercap ‘sombong’ tanpa maaf. (hal. 101)

Di lain hari, demi menyegarkan pikiran, Vabyo pergi ke Eropa untuk berlibur sekaligus ketemuan dengan Teh Yuti. Tempat ketemuannya di depan Menara Eiffel lagi. Gimana gak romantis coba (meski dijelaskan ternyata di Eiffel banyak sampah *ew). Selain itu ia juga menjalani sesi meditasi yang entah kenapa jadi mengharu biru akhir-akhirnya.

Orang sering menyangka bermeditasi adalah mengosongkan pikiran. Padahal yang benar adalah biarkan pikiranmu menjelajah. Amati apa yang kita lihat dalam benak. (hal. 180)

Seperempat terakhir buku, penulis bercerita tentang mimpinya yang lain di negara yang berbeda; Italia dan Inggris. Oh iya, ada juga bonus blog yang judulnya Durian dan Mangga. Disini penulis mengibaratkan dua pihak yang saling mempertahankan prinsip masing-masing namun cenderung menyalahkan pihak lainnya. Yang menjadi favorit saya adalah surat cinta untuk Vabyo dan resep-resep ciamik sentuhan Arab yang bisa langsung dicoba.

Pertama kali saya mengetahui Vabyo adalah melalui buku Kedai 1001 Mimpi. Penulis dan bukunya yang fenomenal ini membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan perihal pengalamannya menjadi TKI di negara Timur Tengah itu. Secara umum novel ini berisi bagaimana teror-teror kerap menghantuinya baik di dunia maya maupun dunia nyata dengan bumbu kenangan masa-masa selama menjadi TKI di Bahrain yang belum diceritakan di buku pertamanya. Di buku ini, penulisnya lebih dewasa dan legowo dalam memandang situasi, terlebih ketika sang Ayah sakit.

Ayah bukan bapak terbaik di dunia. Tapi aku juga bukan anak tersoleh yang bisa Ayah banggakan. Dan bisa jadi, justru karena itu kami dipasangkan. (hal. 270)

Oh iya tulisan mengenai penilaian plus-minus yang saya beberkan selanjutnya ini sangat subjektif ya. Dan saya mau tidak mau jadi membandingkan dengan buku pendahulunya. Jadi maafkan dengan beberapa poin yang agak gimana-gimana hehehe. Covernya menarik dengan sentuhan tulisan kapur di papan tulis yang berwarna-warni. Tetapi jika dibandingkan dengan 1001, saya lebih suka yang lama. Sepertinya roh Arab bisa saya rasakan di buku 1001.

Mengenai isi, saya sangat sangat lebih suka buku pendahulunya. Bukan berarti saya bahagia meembaca kisah memilukan penulis yang sepatutnya tidak pernah terjadi. Tapi gimana ya, ketika baca buku 1002 ini saya rasa semuanya serba nangung. Misalnya tentang flashback-nya, tentang terornya, tentang liburannya, seolah hanya disajikan sepenggal dengan penggalan yang lain tercecer entah dimana. Setiap bab terasa terlalu cepat untuk berakhir. Berbeda dengan buku 1001 yang saya rasa sangat pas dalam mengakhiri cerita.

Saya agak risih dengan tulisan yang dalam satu paragraf membentuk rima. Bukannya apa-apa, tapi saya jadi serasa membaca puisi/pantun dan hilang “rasa” novelnya. Selain itu, karikatur yang menghiasi buku ini membuat saya jengah. Kalau tidak boleh dikatakan jelek, saya katakan agak “sederhana”. Saya jauh lebih menikmati apabila tidak ada karikatur. Ataupun jika memang terpaksa ada, seharusnya mengadopsi gambar manga Jepang saja. Saya lebih bisa merasakan sosok “manusia” dalam goresan manga daripada karikatur di buku ini.

Tetapi, bukan berarti buku yang kedua kurang nendang, saya ikut emosi juga kok pas baca teror-teror yang dialami sang penulis. Tak jarang saya tersenyum ketika membaca potongan kata mutiara di buku ini. Secara umum novel ini bisa dinikmati siapa saja. Namun akan lebih cocok dibaca usia remaja hingga dewasa agar bisa lebih memahami kejamnya dunia yang penulis hadirkan di buku ini.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus