Rss

Archives for : DAR! Mizan

Why Not? Fiqih Itu Asyik

coverfiqih

Judul: Why Not? Fiqih Itu Asyik

Sub Judul: Dari Kitab Tebal, Jenggot Panjang, Sampai Beda Mazhab

Seri: Penuntun Remaja

Penulis: Herry Nurdi

Penerbit: DAR! Mizan

Jumlah Halaman: 174 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789797520779

cooltext1660180343

Seperti sebuah jejaring laba-laba, Islam menempatkan posisi satu ilmu dengan ilmu lainnya saling berkaitan. Dan titik dari segala ilmu itu, seperti jejaring laba-laba pula, ada di tengah dan menjadi poros segala, dan itu adalah Allah.

Dari rangkaian tersebut, fiqih menempati posisi yang begitu vital dan mampu mengantarkan seorang Muslim, menemukan satu dari seribu jalan setapak menuju hakikat. Sebab, fiqih akan membuat kita paham atas rangkaian ilmu pengetahuan yang memang saling bertautan.

cooltext1660176395

Saya adalah seorang muslim. Terlahir dari keluarga muslim dan hidup di lingkungan (mayoritas) muslim. Tetapi sebagai seorang muslim, saya sadar betul bahwa ilmu tentang agama saya sendiri saja saya tidak begitu ahli. Memang sih pada tingkat sekolah dasar hingga menengah (bahkan perguruan tinggi), saya mendapatkan pelajaran tentang Agama Islam. Tapi pendidikan Islam tidak cukup hanya disampaikan dalam ± 12,5 tahun, seminggu sekali pula.

Saya juga ikut dalam kegiatan di TPQ di desa saya. Tapi memang masih kurang sih ilmunya (apalagi jika dibandingkan ilmu fisika, biologi, kimia dan lain-lain yang begitu intens penyampaiannya di sekolah). Oleh karena itu, buku-buku bertemakan Islam menjamur di Indonesia. Mungkin dikarenakan mayoritas masyarakatnya beragama Islam, membuat buku bernuansa Islami juga mudah ditemui di pasaran. Setidaknya, buku-buku ini bisa membantu saya yang masih cetek ilmu agama ini bisa mendalami mengenai agama saya sendiri.

Salah satu buku yang saya baca tentang agama Islam adalah buku berjudul Fiqih Itu Asyik hasil tulisan Herry Nurdi. Sang penulis berusaha menyampaikan hal tentang fiqih, yang awalnya saya anggap sebagai sebuah ilmu yang “berat” dan membuat “pusing”, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Buku ini terdiri atas lima bagian utama. Bagian pertama yaitu berjudul “Kenapa Fiqih?” menceritakan tentang apa itu fiqih. Saya diajak penulis untuk berkenalan dengan fiqih. Anggapan saya tentang ilmu fiqih hanyalah ilmu tentang agama Islam saja ternyata kurang tepat.

Fiqih, sejatinya juga seperti ilmu filsafat, sebuah pengetahuan tentang reason. Sebuah pencarian tentang alasan dan dasar. (Hal. 26)

Ternyata meskipun hulunya adalah Islam, tetapi fiqih juga bisa bermuara di bidang ilmu pengetahuan, bahkan ilmu perdagangan dan pemerintahan. Setelah berkenalan dengan fiqih, pada bagian kedua berjudul “Sebelum Hukum Ditetapkan”, saya diajak untuk perjumpa dengan berbagai hukum yang ada dalam Islam. Seperti wajib, sunnah, makruh, mubah, haram, sahih, dan bathil. Pada bagian ini pula penulis menjelaskan dengan cukup sederhana mengenai empat sumber hukum utama, yaitu: Al-Quranulkarim, hadis/Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, ijma para ulama (kesepakatan bersama para alim & para mujtahid atas hal itu), serta qiyas atau analogi.

Seorang yang telah melakukan kebohongan atau ketidakjujuran, namanya akan ditulis dengan tinta atau tanda tertentu yang menyatakan si fulan pernah berbohong atau tidak jujur. (Hal. 60)

Bagian ketiga berjudul “Fiqih Praktis, Fiqih Asyik” menjelaskan tentang bagaimana seharusnya bahasa fiqih dalam kehidupan saat ini. Penulis mengaku bahwa pada zaman dahulu, ilmu fiqih dipelajari dengan sangat “berat”. Mulai dari kalimat yang puanjang, ratusan kata, berbagai catatan kaki di kitab kuning yang tak kalah panjang lebarnya. Bahkan penulis juga tidak menyangkal ia sempat puyeng mempelajari hal itu. Tetapi intinya seharusnya fiqih itu disampaikan dengan mudah dan tidak dipersulit. Di sub bab terakhir bagian ketiga ini penulis juga berkisah tentang sebuah film Hollywood yang cukup berkaitan dengan ilmu fiqih.

Bagaimana bisa belajar dengan senang, fiqih bukan dunia ilmu yang murung dan gloomy. (Hal. 94)

Setelah berkenalan dengan fiqih dan implementasinya, saya diajak berkenalan dengan empat ulama ahli fiqih sepanjang masa pada bagian “Berdiri Di Atas Pundak Para Raksasa” di urutan keempat. Beliau-beliau ini adalah penghulu dari Ahlu Sunnah wal Jamaah. Ada yang tahu? Yak benar, beliau adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Setiap ulama ahli fiqih dituliskan cukup jelas dan sederhana dengan menitikberatkan tentang pengalaman setiap ulama ahli fiqih saat menuntut ilmu.

Ia adalah alim yang memilih menjadi awam. Hal ini menunjukkan, betapa rendah hati imam yang satu ini. (Hal. 112)

Bagian terakhir adalah bagian penutup berjudul “Menengahi Pertikaian”. Jujur, saya merasa kecewa saat sudah di bagian akhir ini. Bukan kecewa karena isinya menjemukan, justru karena isinya yang menarik minat saya, saya jadi kecewa kenapa buku ini harus berakhir dengan cepat. Pada bagian ini, saya tertarik dengan cerita Rasulullah tentang nasib buruk yang akan menimpa umatnya di masa depan nanti. Jujur saja, saya amat sangat membenarkan tentang cerita tersebut telah terjadi pada kehidupan saat ini.

Makna lain fiqih adalah pemahaman. Artinya, memahami adalah proses yang paling penting dalam pendalaman ilmu fiqih. (Hal. 149)

Pada akhirnya, saya menyukai buku ini. Awalnya saya berpikiran bahwa kalimat dan penulisan dalam buku ini akan cenderung berat dan menekan penuh kemampuan berpikir saya. Namun ternyata saya salah besar. Penulis menuliskannya dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Saya yang masih cetek ilmu agama ini aja bisa paham, tentu masyarakat yang lebih pintar akan lebih mudah memahaminya. Tak jarang penulis menyelipkan sedikit humor sebagai ice breaking setelah memaparkan hal yang cukup berbobot.

Segmen buku ini memang untuk remaja. Tetapi bukan berarti yang dewasa dilarang membacanya. Bahkan untuk menarik perhatian remaja, banyak diselipkan karikatur-karikatur lucu yang mendukung tulisan yang berkaitan. Diharapkan karikatur ini bisa sedikit memberi gambaran tentang maksud dari sang penulis.

Kekurangannya apa ya. Oh iya, ada kesalahan kesalahan layout atau tata letak paragraf pada halaman 38. Seharusnya ada di halaman selanjutnya, tapi entah kenapa tertera di halaman 38 itu. Saya jadi bingung sendiri awalnya. Ada beberapa typo juga sih. Tapi karena saya menikmati isi bukunya, saya jadi tidak sempat mencatat typo nya sebelah mana saja.

Dan terakhir, ada buuuanyaaak sekali nama-nama Arab yang ada di buku ini. Mulai dari para ulama fiqih, sahabat Rasulullah, hingga orang-orang di masa modern yang menjadi rujukan penulis dalam membangun tulisannya. Selain nama yang sebelumnya sudah familiar, saya tidak bisa mengingat nama siapa saja yang disebut saking banyaknya. Tapi ini bukan kekurangan bukunya sih ya. Hanya karena saya aja yang belum tahu hehehe. Kesimpulannya, buku ini recommended deh.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus