Rss

Archives for : Buku Non Fiksi

The Naked Traveler

covertnt1

Judul: The Naked Traveler

Sub Judul: Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia

Penulis: Trinity

Penerbit: C | publisihing

Jumlah Halaman: xii + 282

Terbit Perdana: Juni 2007

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, Juli 2009

ISBN: 9789792439366

cooltext-blurb

Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi “backpacker” yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang “harus” dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat traveling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.

Happy traveling!

“Sebuah karya yang sangat personal, jarang terungkap tapi sarat informasi.” – Wien Muldian, pustakawan, pekerja literasi, dan pelancong

“Penuh petualangan, berwawasan, informatif, sering kali lucu…. Merupakan titik kebangkitan bagi yang dunia traveling-nya hanya bermula di Bogor dan berakhr di Bali.” – Daniel Ziv, penulis buku Jakarta Inside Out, Sutradara film dokumenter Jalanan

“Tulisannya spontan, jujur dan personal banget, lengkap dengan pikiran-pikiran liarnya…. Penting buat referensi kalau mau jalan-jalan ke daerah-daerah non-turistik yang seru itu.” – Edna C. Pattisina, wartawan Kompas yang suka jalan-jalan

“It was great pleasure, and even greater fun to read through Trinity’s anecdotes from her travels throughout the World.” – Laszo Wagner, hardcore backpacker asal Hongaria, salah satu penulis buku Lonely Planet.

cooltext-review

Traveling atau jalan-jalan merupakan kegiatan yang lumrah dilakukan orang-orang. Umumnya orang-orang melakukan traveling dalam rangka refreshing melepas penat pada saat liburan. Tujuan traveling juga ada yang dekat ataupun jauh dari tempat tinggal. Jika berbicara traveling dalam konteks liburan, tentu yang dimaksud biasanya berwisata ke tempat-tempat terkenal dan banyak turis yang ikut traveling disana. Hal ini pula yang dialami oleh Trinity, sang penulis buku ini.

Trinity adalah potret seorang mbak-mbak kantoran (pada masa itu) yang hobi jalan-jalan alias traveling. Sayangnya, ia tidak bisa seenak udel traveling dalam rangka wisata akibat pekerjaan rutinnya sebagai karyawati. Oleh sebab itu, ia menyisipkan hal-hal berbau rekreasi meskipun ia melakukan perjalanan dinas ke daerah lain. Lambat laun, pengalamannya dalam hal traveling sudah cukup banyak dan ia bersedia berbagi melalui buku ini.

Buku ini terdiri atas tujuh bagian atau bisa saya katakan sebagai bab yang memiliki tema sendiri-sendiri. Setiap bagian terdiri atas beberapa cerita. Bagian pertama adalah Airport yang mengisahkan berbagai pengalaman Trinity dalam dunia per-bandara-an. Bagian ini terdiri dari delapan cerita, namun favorit saya adalah kisah berjudul Pilih Makan Rendang atau KKN. Jadi dalam kisah ini dituliskan tentang pengalaman Trinity melewati bagian penitipan bagasi. Sayangnya, ada beberapa bandara yang tidak memperbolehkan satu dan lain hal dibawa masuk kedalam pesawat karena alasan khusus.

Saya jadi merasa beruntung karena pernah meloloskan 5 kg rendang ke Amsterdam gara-gara punya Om yang kerjanya di airport situ. Hehe, KKN boleh, dong! (Halaman 18)

Bagian kedua berjudul Alat Transportasi dengan sepuluh cerita. Saya suka dengan kisah berjudul Kumbang, Pantat, dan Kentut yang menyoroti kendaraan pribadi Trinity, sebuah mobil kijang yang dinamai Kumbang. Si Kumbang ini sudah sangat lama menemani keseharian Trinity. Sampai-sampai Kumbang dirasa memiliki nyawa karena membuat repot Trinity disaat yang tidak tepat.

Hah, ternyata ban mobil tadi adalah ban Kumbang yang lepas! Saya langsung turun mengejar si ban yang terus menggelinding… dan akhirnya ban tersebut nyebur ke sungai! (Halaman 62)

Life Sucks! adalah judul bagian ketiga yang terdiri dari sebelas cerita. Bagian ini menyuguhkan berbagai pengalaman Trinity yang menyebalkan akibat suatu hal yang membuat emosi jiwa. Favorit saya adalah Sial atau Tolol? Yang membuat saya tertawa karena kesialan Trinity yang tak kunjung reda (ups, maaf ya Mbak hehe). Salah satu kesialan itu adalah jalanan yang macet parah padahal ia sedang mengejar penerbangan terakhir hanya karena ada kegiatan warga.

Untuk antisipasi, saya pernah berangkat dari Salatiga 4 jam sebelum keberangkatan naik pesawat terakhir dari Semarang. Tak dinyana, jalan macet berat karena ditutup, berhubung ada pawai dalam rangka perayaan 17 Agustus-an! Duh, Indonesia banget! (Halaman 92)

Bagian keempat adalah Tips yang berjumlah 13 cerita dengan isi tips dan trik dari Trinity seputar jalan-jalan. Berbagai hal disampaikan Trinity dengan kocak sehingga menjadikan tips nya tidak wajib untuk dilakukan, namun akan membantu kenyamanan perjalanan jika dilaksanakan. Salah satunya kisah berjudul Manfaat Teman (Nemu di) Jalan yang mengupas tentang suka duka melakukan traveling bersama teman, baik teman yang sudah dikenal ataupun teman yang baru dijumpai. Meskipun terkadang sial, Trinity tidak kapok traveling bersama orang baru sesama backpacker.

Tapi apa daya, tidak semua teman berhobi sama, tidak semua teman mempunyai waktu libur yang sama, dan yang paling sering terjadi adalah tidak semua teman mempunyai jumlah tabungan yang sama. (Halaman 123)

Sok Beranalisa merupakan judul bagian kelima yang terdiri atas sembilan cerita. Jadi bagian ini merupakan sebuah riset sederhana dan agak ngawur seorang Trinity tentang berbagai hal. Mulai dari orang negara mana yang paling cakep hingga keberadaan pekerja seks komersial di berbagai negara. Bagian ini saya nikmati karena Trinity menyebutnya sebagai “ayam” dan disampaikan dengan ringan tanpa maksud menghina profesi tersebut. Cerita ini berjudul Ayam Bakpau Bukan Bakpau Ayam.

Di Thailand, ayamnya membingungkan. Ayamnya memang ayam banget, tapi susah membedakan antara ayam betina atau ayam jantan karena banyak sekali kaum transeksual yang cantiknya melebihi wanita beneran. (Halaman 180)

Lanjut pada bagian keenam yang berjudul Adrenaline. Sepertinya bagian ini adalah cerita yang hampir semuanya berazaskan wisata alias rekreasi. Trinity yang demen dengan hal-hal yang menantang dan mendebarkan mengungkapkannya dalam sembilan cerita lepas. Saya menyukai cerita yang berjudul Thai Message. Ehm, saya enggak salah nulis kok. Tapi Trinity menulis demikian karena menyesuaikan penulisan salah kaprah di Thailand sana. Seperti judulnya, ia menceritakan tentang pengalaman Trinity dipijat alias massage di negara Gajah Putih tersebut.

Kamar yang sunyi ini bau dupa, lampunya sangat minim alias remang-remang, dan semua orang berbaring dengan mata merem melek – suasana yang “mencekam” ini bagaikan pesta opium di benak saya. (Halaman 213)

Bagian terakhir alias ketujuh berjudul Ups! yang mengutarakan berbagai hal konyol yang ditemui Trinity selama traveling. Favorit saya adalah kisah berjudul Pilipina, Filipina, atau Pilifina? yang membahas tentang kesulitan orang negara itu melafalkan huruf P dan F sehingga sering terbalik. Ketidak tahuan Trinity menjadikannya lelucon bagi warga asli negara itu akibat pelafalannya yang dianggap salah. Sayangnya, meskipun salah, Trinity tidak hanya sekali mengalami kejadian sial seperti itu.

Tuh, kan! P & F itu ternyata sudah menjadi epidemi nasional! Huahaha! Pantas saja, mereka sendri menyebut nama negaranya bisa menjadi 3 versi: Pilipina, Filipina, atau Pilifina. (Halaman 271)

Awalnya saya membaca buku ini hanya iseng. Saat itu kakak saya membeli buku ini dan diletakkan sembarangan. Karena tidak ada buku lain, akhirnya saya baca juga deh (saat itu, pada jaman dahulu kala). Ternyata buku ini asik banget! Trinity menulis dengan gamblang, apa adanya, dan sangat subjektif berdasarkan pengalamannya traveling kemana-mana. Ia tidak berusaha menyampaikan segala sesuatu yang positif saja, namun juga tidak serta merta mengungkapkan sisi negatif suatu hal tanpa ada alasan.

Saya suka dengan selera humor Trinity yang khas namun tidak meninggalkan sakit hati (setidaknya saya yang membaca). Misalkan saat ia terjebak macet akibat pawai, ia justru mengungkapkan kesialannya itu tanpa menyalahkan pihak manapun. Sehingga saya yang membaca juga jadi ikut tertawa padahal Trinity mengalami kesulitan akibat budaya negeri sendiri.

Sayangnya, buku ini menjadi terasa nanggung banget apabila dijadikan sebuah panduan traveling ke suatu tempat. Pengalaman yang diceritakan Trinity dalam buku ini memang sangat buanyak banget. Namun ia menceritakan langsung pada inti hal yang menarik tanpa ada intermezo mengenai lokasi ataupun perjalanan yang dilakukan. Hal ini mengakibatkan buku ini hanya cocok dijadikan hiburan dan tidak cocok jika dijadikan panduan berwisata (eh atau memang buku ini memang demikian ya?) Selain itu, ada berbagai tempat yang disebutkan Trinity namun saya tidak tahu dimana persisnya padahal lokasi itu ada di Indonesia. Apabila dijabarkan sedikit lebih rinci mungkin akan lebih baik.

Ketika sedang menceritakan negara lain, Trinity tanpa sadar (atau memang sadar?) kerap membandingkan dengan negara Indonesia. Namun, apabila Trinity mengungkapkan kekurangan Indonesia dibandingkan negara lain, ia tetap cinta dengan negaranya sendiri melalui statement di bagian lain ataupun di cerita yang bersangkutan. Hal ini saya apresiasi karena memang tidak mudah membanggakan kelebihan Indonesia tanpa mau menerima hal buruk negeri sendiri. Jika bukan warga negaranya sendiri, siapa lagi?

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Indonesia X-Files

coverindonesiax

Judul: Indonesia X-Files

Sub Judul: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno Sampai Kematian Munir

Penulis: dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F

Penerbit: Noura Books

Jumlah Halaman: xxiii + 334

Terbit Perdana: Juni 2013

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Juli 2014

ISBN: 9786027816602

cooltext1660180343

“Kamu gila. Ngelawan arus. Pulang tinggal nama entar.” Begitu yang terlontar dari kolega dr. Abdul Mun’im Idries, ketika akhir 1993, dokter forensik ini berani menjadi saksi ahli kasus pembunuhan Marsinah. Kala itu, santer diyakini pejuang buruh ini dihabisi oknum militer—ketika militer paling ditakuti dengan penculikan senyapnya. Tapi berani-beraninya Mun’im mengusik tentara.

Lalu, apa yang dihadapi Mun’im dan fakta apa yang ia temukan ketika harus terjun pada detik-detik mencekam Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi? Bagaimana analisis forensiknya terkait pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priuk, Tragedi Beutong Ateuh, dan sebagainya?

Mun’im dalam buku ini membongkar arsip, membeberkan fakta-fakta mengejutkan, mengungkap sejumlah nama tabu, di samping berbagi kisah dan cara ilmiah (kedokteran) forensik dalam membongkar kriminalitas dan kejahatan di negeri ini.

“Buku ini merupakan rekaman dokter Mun’im Idries sebagai rekaman ‘voice of the voiceless’ – rekaman suara dari yang tidak lagi bersuara.” – Prof. Dr. O.C. Kaligis, S.H., M. H.

Februari: Buku Profesi

cooltext1660176395

Penegakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat memang mutlak diperlukan. Perbuatan baik dan buruk yang membaur jadi satu harus dipisahkan ketika perbuatan buruk tersebut sudah mengganggu kenyamanan bahkan merenggut korban jiwa. Selain polisi yang sudah seharusnya mengurusi hukum dan turunannya, ada sebuah profesi yang tak kalah penting: bagian forensik.

Bagi para penggemar kisah-kisah detektif, misteri, dan kriminal sepertinya sudah agak mengenal tentang profesi inni. Namun lika-liku dan sepak terjangnya dalam pencarian kebenaran suatu kasus yang telah terjadi, sepertinya belum banyak diketahui orang awam. Oleh karena itu, dr. Abdul Mun’im Idries sebagai seorang dokter spesialis forensik ingin berbagi kisah dan pengalamannya dalam buku ini.

Buku Indonesia X-Files terdiri atas enam bab yang berbeda-beda. Masing-masing terdiri dari beberapa sub bab yang berkaitan dengan judul bab. Saya beri cuplikan satu-satu ya. Bab pertama adalah Menyibak Fakta-Fakta Tersembunyi. Sesuai sub judul buku ini, ada sebelas kasus populer Indonesia sepanjang sejarah (yang masih belum tuntas pengerjaannya hingga kini) yang coba diungkap penulis melalui kacamata seorang ahli forensik.

Kasus yang cukup menarik perhatian saya adalah mengenai kematian sang proklamator Indonesia. Saya sih bukan penggemar dunia sejarah, tetapi saya juga sedikit mengetahui tentang misteri kematian presiden pertama Indonesia ini yang bisa dikatakan mendadak dan tiba-tiba. Ada berbagai versi mengenai kematian Bung Karno yang dikebumikan di kota kelahiran saya ini.

Bung Karno, selain tidak mendapat perawatan medis yang memadai untuk penyakit ginjal dan jantung, ditambah dengan kurangnya atensi serta dihilangkannya eksistensi beliau selama menjalani masa tahanan rumah, tak perlu diragukan merupakan keadaan yang bermuara pada kematian. (Hal. 45)

Selain itu, kasus yang tak kalah misteriusnya adalah kematian seorang aktivis HAM di Indonesia, Munir Said Thalib. Siapa sih yang belum pernah mendengar nama beliau ini? Berbagai gerakan mengenai hak asasi manusia sering dilakukan di bumi Indonesia. Meskipun beliau juga satu almamater kampus dengan saya, kematiannya masih diliput misteri hingga saat ini. Bahkan penyelesaian kasusnya juga masih jalan di tempat.

Saat pertemuan pertama tim untuk pertama kalinya, saya melihat pertemuan itu tidak serius menangani kasus Munir. (Hal. 87)

Bab kedua berjudul Kasus-Kasus Kedokteran Forensik, Serangkaian Kisah Membongkar Kejahatan. Setelah mengungkap beberapa fakta dari kasus-kasus populer, penulis mencoba mengajak pembaca berkenalan dengan dunia forensik. Mulai dari autopsi, bedah mayat, hingga perkiraan waktu kejadian dan sebab kematian. Ternyata saya baru tahu beberapa prosedur sebelum dilakukan bedah mayat.

Bedah mayat forensik diperlukan guna membantu tegaknya keadilan dan kebenaran di antara umat manusia. (Hal. 107)

Selain itu, ada bagian menarik lain yaitu mengenai isu tentang malapraktik. Cukup menarik sih mengingat kasus malapraktik sempat terjadi beberapa kali di Indonesia. Itupun yang muncul ke permukaan dan diulas media massa, bagaimana dengan malapraktik yang adem ayem tanpa tersorot kamera?

Perlu diketahui bahwa untuk mengetahui apakah seorang dokter telah melakukan penyimpangan atau tidak, tergantung dari pelbagai faktor, di antaranya kondisi dan fasilitas setempat serta standarisasi pendidikan yang diperoleh dari perguruan tinggi di mana dokter tersebut mendapatkan keahlian. (Hal. 149)

Lanjut ke bab ketiga berjudul Mengungkap Kejahatan Narkoba. Sudah jelas yah dari judulnya, penulis memaparkan berbagai hal yang bisa diungkap dari kematian seorang pengguna narkotika. Seperti yang sudah diketahui, Indonesia masuk dalam zona darurat narkoba. Penyalahgunaan zat terlarang itu memang sangat meresahkan.

Sebenarnya yang membuat narkoba wajib diberantas adalah efek perbuatan dan kondisi yang dilakukan oleh penggunanya. Namun selain narkoba, ada lagi sebuah bahan lain yang hampir sama dampaknya dengan narkoba. Apa itu? Minuman keras. Pasti ingat dong dengan berita miras oplosan yang menewaskan beberapa orang. Nah kedua zat berbahaya ini dipaparkan penulis dalam konteks forensik.

Melihat dampak negatif dari minuman keras dan mudah serta murahnya harga minuman keras bila dibandingkan dengan morfin, heroin, ganja, atau ekstasi, sebenarnya minuman yang mengandung alkohol haruslah lebih diwaspadai. (Hal. 175)

Setelah itu, saya diajak menyelami bab keempat berjudul Membongkar Kekerasan Seksual dan Kejahatan terhadap Anak. Pasti ingat juga dong dengan berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak yang heboh beberapa saat yang lalu. Anak-anak memang masih polos dan belum mengerti tentang hal “dewasa” seperti hubungan seksual.

Selain bercerita tentang pedofilia, penulis juga menulis tentang kasus bayi tertukar, aborsi, hingga pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dua kasus terakhir cukup membuat saya terhenyak sih. Karena disadari atau tidak, menghilangkan nyawa bayi atau janin yang tidak bersalah sungguh perbuatan yang tidak pantas.

Suatu kenyataan hidup yang ironis: kaum wanita yang biasanya digambarkan sebagai makhluk yang lembut, halus perasaannya, ternyata juga potensial sebagai pelaku pembunuhan. (Hal. 238)

Bab kelima adalah Kedokteran Forensik Sebagai “Pisau” Ilmiah bercerita tentang sekelumit penafsiran yang bisa ditarik setelah dokter ahli forensik melakukan pemeriksaan dari korban tindak kejahatan. Ada yang tentang hasil visum, kematian mendadak, hingga identifikasi korban. Membaca bagian ini, saya baru tahu bahwa sangat panjang proses penarikan kesimpulan dari sebab kematian. Belum lagi penyidikan dan pengusutan kasus yang panjang pula. Mungkin ini alasannya berbagai kasus bisa sangat lama penyelesaiannya.

Fokus dari kriminologi pada saat ini agaknya memang hanya terbatas pada si pelaku/tersangka pelaku kejahatan, bukan kepada efek atau akibat yang ditimbulkan oleh kejahatan itu sendiri. (Hal. 278)

Akhirnya buku ini ditutup dengan bab terakhir berjudul Pembunuhan Sadis, Amukan Massa, dan Kematian Tokoh. Bab ini sebenarnya agak-agak mirip dengan bab satu sih, tetapi kasus yang diangkat tidak sepopuler di bab satu. Kasus yang cukup mencengangkan bagi saya di bab ini adalah kasus mutilasi mayat menjadi 13 bagian.

Si pembunuh tak hanya memotong-motong jasad korban secara sistematis, sempat pula menyayat dan mengupas seluruh daging dari tulang korbannya! (Hal. 300)

Awalnya, saya menganggap buku ini selayaknya buku-buku yang beredar di pasaran tentang pengungkapan fakta-fakta kasus populer di Indonesia. Namun yang membuat saya tertarik membacanya setelah lama ditimbun adalah penulisnya yang berprofesi sebagai dokter spesialis forensik. Penggunaan kacamata yang berbeda saat memandang kasus membuat buku ini spesial.

Saya menyukai buku fiksi dengan genre detektif-detektifan. Nah, kalau di buku seperti itu sebuah kasus selesai ketika sang detektif menyebut si A adalah pelaku. Ya sudah, the end, gitu doang. Tetapi sesungguhnya dibalik detektif yang menyebut pelaku itu, ada berbagai macam tahapan yang perlu dilakukan, khususnya pada bagian forensik.

Jujur, saya hanya sedikit mengetahui berbagai kasus yang disuguhkan di buku ini, baik kasus yang menjadi topik utama sub bab maupun kasus yang menjadi printilan alias sekilas info semata. Selain kasus tersebut terjadi pada tahun-tahun lampau (kebanyakan pada era orde baru), kekurang pedulian saya dengan dunia kriminal di masa lalu juga membuat saya cupu tentang kasus-kasus ini.

Belum lagi berbagai nama tokoh-tokoh terkemuka Indonesia yang lagi-lagi saya kurang mengenal karena mereka-mereka “biasa” nampang bukan di panggung jagat hiburan tanah air. Sebenarnya kalau saya tahu rupa tokoh yang disebutkan, mungkin saya bisa lebih bisa membayangkan tentang kasus yang diceritakan. Tapi yah, itu kan kelemahan dari sisi pembacanya ya hehehe.

Kalau kelemahan dari buku ini sendiri, saya sangat menyayangkan tentang pemaparan penulis. Setelah menutup buku ini, saya jadi agak bingung tentang definisi “mengungkap” fakta. Banyak bagian-bagian yang penulis mengakhirinya dengan ngegantung alias tidak selesai. Saya jadi geregetan dan terlontar “Lho, gini doang? Terus itu gimana jadinya?” berkali-kali. Ibarat kata lagi haus, tapi cuma disuguhi gambar jus jeruk doang, jadinya nanggung gitu. Di dalam buku ini penulis juga sering menggunakan kata “pelbagai” di berbagai kalimat. Saya tahu sih artinya apaan, namun saya kurang terbiasa saja saat membacanya.

Selain itu, berbagai istilah dari dunia kriminal, forensik, dan medis bercampur aduk jadi satu. Penulis mungkin terlalu semangat memaparkan konteks, namun melupakan definisi istilah asing bagi orang awam macam saya ini. Ada cukup banyak istilah yang penulis berikan penjelasan secukupnya, tetapi tidak sedikit pula berbagai istilah yang dibiarkan begitu saja sampai-sampai saya jadi males googling untuk tahu artinya saking banyaknya istilah itu.

Terlepas dari perlunya glosarium atau catatan kaki tentang istilah kurang populer, buku ini isinya bagus kok. Dunia forensik yang awalnya saya ketahui hanya periksa sana periksa sini di TKP, ternyata mengandung beragam kegiatan yang tidak mudah. Berbagai kasus yang diceritakan juga menambah wawasan bagi pembaca yang sebelumnya kurang mengetahui. Siapa tahu setelah membaca buku ini, pembaca bisa menyelami lebih lanjut tentang dunia forensik demi penegakan hukum yang lebih baik. Semoga.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Men’s Guide to Style

covermen

Judul: Men’s Guide to Style

Sub Judul: Tip Dasar Tampil Maksimal

Penulis: Titoley Yubilate Tako

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: xx + 137

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9789797807078

cooltext1660180343

Tanda-tanda jika pakaianmu telah fit, sesuai bentuk tubuhmu.

  • Menunjang bentuk tubuh sehingga terlihat lebih menarik.
  • Tetap bisa bernapas lega sekalipun bajumu terlihat slim.
  • Saat bercermin, you feel good about yourself.
  • Teman kerjamu memuji penampilanmu.

Tip memilih jeans

Jika kakimu pendek dan kurus, maka skinny cut bisa menjadi pilihan utama karena memberikan kesan langsing dan lebih tinggi. Jika kamu tinggi – baik kurus ataupun gendut – straight leg cut merupakan pilihan yang tepat karena dapat menyeimbangkan proporsi badan agar kamu tidak terlihat sangat tinggi.

Ada banyak hal sederhana yang perlu kamu perhatikan demi penampilan terlihat maksimal. Tak hanya soal fashion, kamu juga perlu memperhatikan urusan grooming, serta mengetahui aturan-aturan dasar tentang style. Buku ini memberikan banyak tip men’s style yang praktis. Setiap pembahasan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, plus dilengkapi dengan ilustrasi dan foto fashion.

Men’s Guide to Style akan membantumu memahami dasar style dengan baik. Tentunya, kamu akan tampil maksimal dan penuh percaya diri!

“It’s so exciting! Kami bisa berkolaborasi memvisualisasikan buku panduan basic yang begitu cemerlang dikemukakan oleh Tito.” – ADIBA MUSAWA, editor in chief Yess! Magazine

“Men’s Guide to Style bukan hanya buku tentang cara berpakaian, tetapi memberikan banyak informasi dasar tentang menswear, secara umum. Buku ini ringan dan terstruktur sehingga mudah untuk dibaca.” – JESSY ISMOYO, kontributor Nylon Magazine Indonesia

cooltext1660176395

Saya mau buat pengakuan dulu. Saya ini orangnya cenderung cuek dengan penampilan. Saya bukanlah tipikal pria metroseksual yang dandy dalam berpenampilan. Ditambah kondisi paras wajah yang kurang mempesona dan badan yang tidak proporsional alias gendut juga membuat saya tambah males berpenampilan aneh-aneh. Bisa dikatakan, yang penting saya nyaman berpakaian juga udah cukup.

Nah, pria-pria seperi saya inilah yang penulis coba untuk sadarkan. Pada bagian kata pengantar sudah disinggung bahwa sesungguhnya style itu genderless. Seringkali orang-orang, termasuk saya, berpikiran bahwa dunia fashion dan style hanyalah monopoli kaum perempuan. Sedangkan kaum adam tidak cocok berkutat dengan dunia tersebut. Padahal sesungguhnya perempuan dan laki-laki harus tetap memperhatikan penampilan agar terlihat menarik di mata orang lain.

Buku ini terdiri dari enam bagian. Saya kupas satu-satu ya. Bagian pertama berjudul Basic Rules of Style. Pada bagian ini, penulis mengajak pembaca untuk berkenalan dengan dunia –yang katanya – milik perempuan, yaitu fashion dan style. Ternyata, kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Jadi fashion bisa disebut dengan tren, sesuatu yang ramai dibicarakan pada waktu tertentu. Sedangkan style bersifat personal milik individu.

Fashion atau tren datang dan pergi begitu saja, tetapi style tetap untuk selamanya. (hal. 3)

Buku ini memang sudah berfokus tentang style sebagai kepribadian, bukan fashion yang hanya sesaat. Pada bagian pertama  ini, saya dijelaskan tentang aturan dasar memilih pakaian. Salah satunya adalah ukuran. Jelas lah ya, kan setiap orang memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Akibatnya pakaian yang dikenakan juga bermacam-macam ukurannya.

Penulis menekankan tentang konsep fit alias pas. Dan salah satu tip yang diberikan penulis kepada setiap pria untuk menciptakan “fit” tersebut paling mengejutkan bagi saya adalah: miliki tailor langganan. Batin saya saat membacanya: “He? Saya ke tukang jahit? Duh apaan deh ini maksudnya.” Namun kemudian seakan menjawab saya, penulis memberikan penjelasan yang lengkap perihal pentingnya memiliki tailor.

Kemudian pada bagian kedua berjudul Basic of Staples, saya diajak setingkat lebih tinggi mengenai hal-hal terkait pakaian yang wajib dimiliki seorang pria. Penulis menyebutnya sebagai investasi. Well, bukan hanya tanah dan bangunan saja. Bahkan pakaian pun juga perlu diinvestasikan.

Kita mungkin sering mendengar bahwa salah satu tip style terbaik adalah memadupadankan high and low pieces. (hal. 22)

Jujur saya belum pernah denger tuh hehehe. Nah jadi bagian kedua ini mengupas bagian pakaian apa yang bisa menjadi investasi berpenampilan. Sehingga pengeluaran saat membeli pakaian juga tidak akan sia-sia. Bahkan penulis juga memberikan sejumput tip mengenai belanja pakaian bagi seorang pria. Ada bagian tentang penampilan rapi saat melamar kerja lho.

Selanjutnya bagian ketiga adalah How to Wear. Bagian ini memiliki sub bagian paling banyak diantara bagian yang lain. Bisa saya katakan bagian inilah inti buku ini. jadi setelah mengenal konsep dasar style dan memiliki item wajib pakaian, di bagian tiga ini saya dijelaskan do’s and dont’s terkait berpakaian.

Meminjam istilah from head to toe, bagian ketiga ini dikupas satu persatu tentang cara mix and match, cara pemakaian dan perawatan kemeja, kaus, celana, jaket, hingga kaus kaki dan sandal. Meskipun sangat banyak, penulis menyampaikannya dengan mudah dan diselipi humor. Hal ini membuat saya nyaman membacanya satu persatu. Part paling menarik bagi saya adalah tentang 7 fashion item yang wajib dihindari.

Sepatu sandal karet. Terutama sepatu sandal yang memiliki desain gelembung aneh di bagian depan. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa jeleknya penampilanmu saat memakainya. (hal. 95)

Huahahaha. Meskipun penulis tidak sebut merek, saya bisa langsung tahu sandal apa yang dimaksud. Selain sandal itu, ada enam lainnya yang membuat saya terbelalak karena kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Deskripsi tentang masing-masing fashion item wajib juga membuka wawasan saya tentang bagaimana cara memperlakukan pakaian agar lebih awet dan tidak rusak.

Bagian keempat adalah Grooming. Awalnya saya mikir ini berisi tip menuju pelaminan (kan groom artinya mempelai pria kan? #krikkrik). Eh ternyata groom ada arti lain yaitu perawatan. Yak benar, setelah bagian sebelumnya sudah dijelaskan perawatan pakaian, bagian ini mengupas tentang perawatan fisik pria, meliputi rambut, kulit, wajah, gigi, mulut, dan kaki.

Kalau kamu yang berpikir jika penampilan tidak perlu diperhitungkan, maka kamu mungkin bisa berhenti membaca buku ini. Namun, bagi mereka yang menginginkan kulit sehat dan segar serta karier yang gemilang untuk waktu yang lama, terapkan tiga rutinitas berikut. (hal. 107)

Tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan sebaik apapun, jika wajahnya kucel dan jerawatan, pasti jadi nggak menarik lagi. Hal inilah yang menjadikan perawatan fisik sangat dibutuhkan untuk menunjang penampilan yang mempesona. Bahkan ada penjelasan tentang macam-macam parfum yang saya juga baru tahu kalau parfum itu ada beraneka jenis.

Bagian kelima adalah Perawatan Pakaian. Bagian ini mengupas serba-serbi mencuci dan menyetrika. Salah satu part paling penting adalah mengenai 22 simbol perawatan pakaian yang tertera pada label pakaian. Jujur lagi, saya baru tahu arti masing-masing simbol dari buku ini. Bahkan cara mengatur lemari pakaian juga sempat disinggung.

Keluarkan pakaian yang sudah tidak pantas dipakai, entah karena kekecilan atau tidak trendi lagi, dan sumbangkan. (hal. 121)

Bagian ini memang cukup singkat. Namun informasi yang diberikan cukup padat dan tidak berbelit-belit. Selain itu, ada juga section khusus tentang aturan dasar mengatur isi koper atau backpack saat akan traveling. Cukup berguna sih apabila ada pekerjaan dinas keluar kota atau ingin liburan keluar negeri.

Akhirnya bagian terakhir adalah Belajar Tentang Style. Bagian ini menyuguhkan tip memperkaya ilmu tentang style. Mulai dari menentukan style icon, referensi website tentang style yang bagus, yang kemudian ditutup dengan definisi beberapa istilah asing yang disebutkan dalam buku. Bagian ini seolah-olah berisi pesan dari penulis agar pembaca memperdalam ilmu style lebih luas dari berbagai referensi, bukan hanya berhenti setelah membaca buku ini.

Membangun sense of style bukanlah sesuatu hal yang bisa dicapai hanya dalam semalam. (hal. 133)

Satu kata yang bisa saya gambarkan untuk buku ini: informatif. Bagaimana tidak, semua hal-hal mendasar tentang penampilan seorang pria dikupas habis. Saya yang awalnya adalah orang yang cuek tentang penampilan, menjadi termotivasi memperbaiki penampilan setelah membaca buku ini. Tidak ekstrim sampai operasi plastik dan menyewa designer, namun cukup memaksimalkan isi lemari baju.

Buku ini sangat membantu saya dalam berpenampilan dasar agar bisa tampak lebih menarik. Sayangnya, salah satu kesalahan fatal yang saya rasa menganggu adalah kurangnya ilustrasi. Saya ambil contoh tentang jenis jeans yaitu straight leg jeans, boot jeans, slim jeans, dan skinny jeans. Meskipun dijelaskan, saya butuh gambar asli yang menunjang penjelasan tersebut. Dan gambar yang saya maksud adalah foto asli jeans, bukan gambar karikatur jeans. Hal ini juga berlaku bagi fashion item lainnya.

Saya pribadi merasa, beberapa halaman yan menampilkan model dengan outfit dasar sudah bagus. Tapi agak mubazir aja satu halaman hanya diisi satu gambar orang saja dengan caption yang sedikit. Alangkah lebih baik gambar model itu berukuran kecil tapi banyak dan menyebar di halaman lain. Saya sadar kalau mau banyak gambar, saya bisa membeli majalah fashion. Tapi majalah fashion itu kan sudah tingkat expert. Sedangkan saya hanya ingin berbagai hal dasar di buku ini bisa ditunjang dengan gambar yang cukup. Pokoknya saya kecewa dengan minimnya gambar dalam buku ini.

Selain itu mengenai glosarium alias definisi istilah fashion. Pada bagian kata pengantar, penulis sudah berujar bahwa apabila pembaca bingung dengan berbagai istilah bahasa Inggris terkait fashion, sudah disediakan kamus di akhir buku. Tapi saya lagi-lagi kecewa dengan glosarium yang bisa dikatakan “ngirit bingit”. Sebut saya cupu dan kuper, tapi saya berharap berbagai istilah fashion yang digunakan – sesederhana apapun – bisa dijelaskan artinya. Bukankah segmen buku ini kebanyakan pria yang masih buta style and fashion?

Pada akhirnya, buku ini memang sangat membantu bagi kaum pria yang cuek tentang penampilam. Soalnya kalau pria metroseksual dandy yang baca buku ini, pasti akan mencemooh karena ilmunya sudah jauh lebih tinggi. Sedangkan pria cuek penampilan akan merasa bahwa sudah saatnya berpenampilan baik dan menarik. Selain bisa meningkatkan rasa percaya diri, penampilan yang menarik sudah pasti akan memberikan persepsi menarik dari orang lain. So, let’s change our outfit!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Why Not? Fiqih Itu Asyik

coverfiqih

Judul: Why Not? Fiqih Itu Asyik

Sub Judul: Dari Kitab Tebal, Jenggot Panjang, Sampai Beda Mazhab

Seri: Penuntun Remaja

Penulis: Herry Nurdi

Penerbit: DAR! Mizan

Jumlah Halaman: 174 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789797520779

cooltext1660180343

Seperti sebuah jejaring laba-laba, Islam menempatkan posisi satu ilmu dengan ilmu lainnya saling berkaitan. Dan titik dari segala ilmu itu, seperti jejaring laba-laba pula, ada di tengah dan menjadi poros segala, dan itu adalah Allah.

Dari rangkaian tersebut, fiqih menempati posisi yang begitu vital dan mampu mengantarkan seorang Muslim, menemukan satu dari seribu jalan setapak menuju hakikat. Sebab, fiqih akan membuat kita paham atas rangkaian ilmu pengetahuan yang memang saling bertautan.

cooltext1660176395

Saya adalah seorang muslim. Terlahir dari keluarga muslim dan hidup di lingkungan (mayoritas) muslim. Tetapi sebagai seorang muslim, saya sadar betul bahwa ilmu tentang agama saya sendiri saja saya tidak begitu ahli. Memang sih pada tingkat sekolah dasar hingga menengah (bahkan perguruan tinggi), saya mendapatkan pelajaran tentang Agama Islam. Tapi pendidikan Islam tidak cukup hanya disampaikan dalam ± 12,5 tahun, seminggu sekali pula.

Saya juga ikut dalam kegiatan di TPQ di desa saya. Tapi memang masih kurang sih ilmunya (apalagi jika dibandingkan ilmu fisika, biologi, kimia dan lain-lain yang begitu intens penyampaiannya di sekolah). Oleh karena itu, buku-buku bertemakan Islam menjamur di Indonesia. Mungkin dikarenakan mayoritas masyarakatnya beragama Islam, membuat buku bernuansa Islami juga mudah ditemui di pasaran. Setidaknya, buku-buku ini bisa membantu saya yang masih cetek ilmu agama ini bisa mendalami mengenai agama saya sendiri.

Salah satu buku yang saya baca tentang agama Islam adalah buku berjudul Fiqih Itu Asyik hasil tulisan Herry Nurdi. Sang penulis berusaha menyampaikan hal tentang fiqih, yang awalnya saya anggap sebagai sebuah ilmu yang “berat” dan membuat “pusing”, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Buku ini terdiri atas lima bagian utama. Bagian pertama yaitu berjudul “Kenapa Fiqih?” menceritakan tentang apa itu fiqih. Saya diajak penulis untuk berkenalan dengan fiqih. Anggapan saya tentang ilmu fiqih hanyalah ilmu tentang agama Islam saja ternyata kurang tepat.

Fiqih, sejatinya juga seperti ilmu filsafat, sebuah pengetahuan tentang reason. Sebuah pencarian tentang alasan dan dasar. (Hal. 26)

Ternyata meskipun hulunya adalah Islam, tetapi fiqih juga bisa bermuara di bidang ilmu pengetahuan, bahkan ilmu perdagangan dan pemerintahan. Setelah berkenalan dengan fiqih, pada bagian kedua berjudul “Sebelum Hukum Ditetapkan”, saya diajak untuk perjumpa dengan berbagai hukum yang ada dalam Islam. Seperti wajib, sunnah, makruh, mubah, haram, sahih, dan bathil. Pada bagian ini pula penulis menjelaskan dengan cukup sederhana mengenai empat sumber hukum utama, yaitu: Al-Quranulkarim, hadis/Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, ijma para ulama (kesepakatan bersama para alim & para mujtahid atas hal itu), serta qiyas atau analogi.

Seorang yang telah melakukan kebohongan atau ketidakjujuran, namanya akan ditulis dengan tinta atau tanda tertentu yang menyatakan si fulan pernah berbohong atau tidak jujur. (Hal. 60)

Bagian ketiga berjudul “Fiqih Praktis, Fiqih Asyik” menjelaskan tentang bagaimana seharusnya bahasa fiqih dalam kehidupan saat ini. Penulis mengaku bahwa pada zaman dahulu, ilmu fiqih dipelajari dengan sangat “berat”. Mulai dari kalimat yang puanjang, ratusan kata, berbagai catatan kaki di kitab kuning yang tak kalah panjang lebarnya. Bahkan penulis juga tidak menyangkal ia sempat puyeng mempelajari hal itu. Tetapi intinya seharusnya fiqih itu disampaikan dengan mudah dan tidak dipersulit. Di sub bab terakhir bagian ketiga ini penulis juga berkisah tentang sebuah film Hollywood yang cukup berkaitan dengan ilmu fiqih.

Bagaimana bisa belajar dengan senang, fiqih bukan dunia ilmu yang murung dan gloomy. (Hal. 94)

Setelah berkenalan dengan fiqih dan implementasinya, saya diajak berkenalan dengan empat ulama ahli fiqih sepanjang masa pada bagian “Berdiri Di Atas Pundak Para Raksasa” di urutan keempat. Beliau-beliau ini adalah penghulu dari Ahlu Sunnah wal Jamaah. Ada yang tahu? Yak benar, beliau adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Setiap ulama ahli fiqih dituliskan cukup jelas dan sederhana dengan menitikberatkan tentang pengalaman setiap ulama ahli fiqih saat menuntut ilmu.

Ia adalah alim yang memilih menjadi awam. Hal ini menunjukkan, betapa rendah hati imam yang satu ini. (Hal. 112)

Bagian terakhir adalah bagian penutup berjudul “Menengahi Pertikaian”. Jujur, saya merasa kecewa saat sudah di bagian akhir ini. Bukan kecewa karena isinya menjemukan, justru karena isinya yang menarik minat saya, saya jadi kecewa kenapa buku ini harus berakhir dengan cepat. Pada bagian ini, saya tertarik dengan cerita Rasulullah tentang nasib buruk yang akan menimpa umatnya di masa depan nanti. Jujur saja, saya amat sangat membenarkan tentang cerita tersebut telah terjadi pada kehidupan saat ini.

Makna lain fiqih adalah pemahaman. Artinya, memahami adalah proses yang paling penting dalam pendalaman ilmu fiqih. (Hal. 149)

Pada akhirnya, saya menyukai buku ini. Awalnya saya berpikiran bahwa kalimat dan penulisan dalam buku ini akan cenderung berat dan menekan penuh kemampuan berpikir saya. Namun ternyata saya salah besar. Penulis menuliskannya dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Saya yang masih cetek ilmu agama ini aja bisa paham, tentu masyarakat yang lebih pintar akan lebih mudah memahaminya. Tak jarang penulis menyelipkan sedikit humor sebagai ice breaking setelah memaparkan hal yang cukup berbobot.

Segmen buku ini memang untuk remaja. Tetapi bukan berarti yang dewasa dilarang membacanya. Bahkan untuk menarik perhatian remaja, banyak diselipkan karikatur-karikatur lucu yang mendukung tulisan yang berkaitan. Diharapkan karikatur ini bisa sedikit memberi gambaran tentang maksud dari sang penulis.

Kekurangannya apa ya. Oh iya, ada kesalahan kesalahan layout atau tata letak paragraf pada halaman 38. Seharusnya ada di halaman selanjutnya, tapi entah kenapa tertera di halaman 38 itu. Saya jadi bingung sendiri awalnya. Ada beberapa typo juga sih. Tapi karena saya menikmati isi bukunya, saya jadi tidak sempat mencatat typo nya sebelah mana saja.

Dan terakhir, ada buuuanyaaak sekali nama-nama Arab yang ada di buku ini. Mulai dari para ulama fiqih, sahabat Rasulullah, hingga orang-orang di masa modern yang menjadi rujukan penulis dalam membangun tulisannya. Selain nama yang sebelumnya sudah familiar, saya tidak bisa mengingat nama siapa saja yang disebut saking banyaknya. Tapi ini bukan kekurangan bukunya sih ya. Hanya karena saya aja yang belum tahu hehehe. Kesimpulannya, buku ini recommended deh.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Miminlicious

covermiminlicious

Judul: Miminlicious

Sub Judul: Tak Ada Mimin yang Tak Retak

Penulis: Jacob of @divapress01

Penerbit: DIVA Press

Jumlah Halaman: 212 halaman

Terbit Perdana: Januari 2015

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Januari 2015

ISBN: 9786022558002

cooltext1660180343

Alkisah….

Setelah menonton Twilight, seorang pemuda jadi rajin berkaca. Dia mematut-matut diri, mulai dari rambut, warna kulit, hingga biseps dan trisepnya. Lama kemudian, dia bergumam, “Hih! Kok nggak mirip si Jacob, sih!”

Sejak itu, dia pun terobsesi… dan muncul dalam jagat maya melalui akun @divapress01. Kehadirannya selalu dinanti followers. Banyak yang tergila-gila, nggak sedikit yang iri hati. Ototnya dari kawat, biar jempolnya bisa ngeladenin pertanyaan-pertanyaan followers yang ajaib. Tulangnya dari besi… *Ish! Ini MinCob apa Gatotkaca.

Siapakah Jacob sebenarnya?

Sebuah fanpage dan akun eksis karena dukungan para followers. Jadi, seajaib apa pun seorang followers, seorang admin ditutntut memiliki kesabaran dalam rangka melayani mereka. Kita akan kuak bersama bagaimana keseharian Jacob, seorang admin yang baru naik daun *juga naik darah karena tiap hari dikerjain followers.

cooltext1660176395

Pada jaman modern saat ini, internet bukanlah hal yang sulit untuk diakses kebanyakan orang. Selain mencari berbagai informasi, internet juga menawarkan sebuah hal baru yaitu media sosial. Jika setengah abad lalu orang-orang harus menempuh jarak cukup jauh dan bertatap muka jika ingin berbincang, sekarang cukup dengan update status ataupun nge-twit sudah bisa bercengkrama dengan orang lain di belahan bumi yang lain.

Media sosial, sebut saja twitter dan facebook, pada awalnya hanya digunakan oleh individu. Namun seiring perkembangan jaman, berbagai perusahaan ataupun instansi, bahkan berjualan produk juga bisa dituangkan dalam media sosial. Meskipun menyandang nama sebuah lembaga, akun tersebut tetap dioperasikan oleh seseorang. Orang ini biasa disebut dengan administrator (biasa disingkat admin). Kalau boleh saya katakan sih, admin ini adalah seorang operator yang menjalankan akun suatu lembaga itu.

Dalam dunia perbukuan, akun media sosial tentu dimiliki oleh penulis dan pembaca. Tidak heran karena mereka berdiri sebagai diri mereka sendiri. Bagaimana dengan penerbit? Ternyata penerbit tak mau kalah. Beberapa penerbit juga memiliki akun media sosial yang dalam kesehariannya dioperasikan oleh seorang admin. Lain penerbit, lain pula akunnya. Hal ini otomatis membuat adminnya juga beda *yaiyalah. Salah satu penerbit dengan admin yang “berbeda” adalah penerbit DIVA Press dengan akun @divapress01.

Admin media sosial penerbit ini dijuluki MinCob, MinLev, dan (dulu ada) MinDah. Ibarat kepribadian dan perbedaan karakter tiap orang, para followers akun ini (yang berjumlah ribuan) juga memiliki “keunikan” tersendiri. Oleh karena itu, salah satu admin akun penerbit DIVA, MinCob, bermaksud berbagi tentang hal-hal “berbeda” itu selama menjadi admin.

Begitulah anak jaman sekarang. Saking kreatifnya, ada lho yang bercita-cita ingin menjadi seorang admin fanpage atau grup komunitas di media sosial. (Hal. 4)

Buku ini terdiri atas delapan bagian utama yaitu Bagian Pengantar, Bagian berjudul “Dunia Mimin” dari satu sampai enam, serta Bagian Penutup dan Terima Kasih. Pada bagian Dunia Mimin 1 dengan sub judul Takkan Lari Admin Dikejar, MinCob bercerita tentang obrolannya dengan beberapa followers (yang sudah disamarkan namanya).

Bukan obrolan biasa dan penuh kewajaran, melainkan obrolan yang awalnya biasa namun kemudian justru bikin keki dan emosi jiwa. Saya rasa baik MinCob ataupun sang follower juga sama emosinya (dalam hal yang berbeda, tentu saja). Bagian ini sukses bikin saya ngakak sih. Soalnya apa ya, kalau saya jadi MinCob, pasti udah minus umur saya ngeladenin follower yang kudet gitu. Hih!

Lu cerewet banget ya Min, kayak corong stasiun! (Hal. 35)

Bagian Dunia Mimin 2, memiliki sub judul Rupa-Rupa Kak Nita. Sejenak meninggalkan ocehan MinCob, saya diajak berkenalan dengan keseharian Kak Nita. Bagi yang belum tahu, Kak Nita ini adalah orang yang bertanggungjawab dengan segala kepentingan orang-orang yang ingin memesan buku DIVA Press.

Karena Kak Nita bisa dijangkau melalui nomor telepon, maka percakapan dan obrolan “tidak biasa” juga disajikan dari hasil SMS dan telepon yang Kak Nita alami. Karena itu, bagian Kak Nita ini jadi cukup panjang. Agak takjub sih saya, kok ya ada para (calon) pemesan buku yang ngeselin begitu.

Masak penerbit kok nggak tahu jadwal dan rute bus malam. *tutup telepon* (hal. 61)

Selanjutnya, saya diajak ke bagian Dunia Mimin 3, dengan sub judul Admin Baik vs Mimin @divapress01 Slebor. Sudah sempat saya singgung diawal, admin itu ada berbagai macam. Alih-alih menjadi admin yang baik dan penuh semangat kehangatan demi para followers-nya, admin @divapress01 ini justru mendobrak pakem dengan menjadi admin yang ehm “unik”.

Segala keunikan dan betapa slebor-nya kata-kata admin ini (khususnya dalam twitter) disajikan dengan membandingkan tulisan admin baik dan admin slebor. Lucu sih, soalnya saya nggak ngira aja admin yang membawa nama lembaga justru berkelakuan begini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, ini justru menjadi nilai plus admin @divapress01 yang slebor ini.

Admin-admin slebor macam merekalah yang entah kenapa malah digilai oleh follower dengan jumlah follower yang ngehit sampai ratusan ribu. (Hal. 76)

Setelah berkenalan dengan Kak Nita, saya diajak berkenalan dengan Mas Dion. Pada bagian Dunia Mimin 4 dengan sub judul Proposal Oh Proposal ini, diceritakan beberapa keganjilan-keganjilan yang dialami Mas Dion selama bertanggungjawab menangani program buku gratis DIVA Press. Sekedar informasi, DIVA Press memiliki sebuah program bernama #AksiSejutaBukuGratis yang diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia.

Jadi intinya pihak perpustakaan yang berminat, bisa mengirimkan proposal pengajuan untuk mendapat buku gratis. Apabila sudah acc, voila! 100 eksemplar buku gratis dari DIVA Press sudah bisa dibawa ke perpustakaan tersebut. Nah, pengalaman Mas Dion menghadapi para (calon) pemohon inilah yang memenuhi bagian ini. Saya juga tidak menyangka ada orang-orang yang saking kudet-nya jadi tidak memahami prosedur yang ada *pukpuk Mas Dion*.

Buset itu tulisannya kecil-kecil, hemat bahan banget, spasinya setengah sentimeter dengan font Calibri dikebiri. (Hal. 120)

Setelah dibuat nyengir-nyengir membaca empat Dunia Mimin tadi, pada Dunia Mimin 5 dan 6 memiliki konsep yang hampir sama. Di Dunia Mimin 5, MinCob (atau MinLev juga?) membagikan pertanyaan-pertanyaan penting-nggak penting dari followers, yang kemudian dijawab juga dengan absurd oleh MinCob. Sedangkan bagian Dunia Mimin 6, perbedaannya adalah MinCob membagikan jawaban dari pertanyaan followers yang aslinya itu nggak direspon.

Pada umumnya sih, saya menyukai konsep buku ini. Seorang admin @divapress01 slebor berbagi tentang kesehariannya. Sedikit banyak hal ini bisa membuat para non-admin, khususnya followers, menjadi tahu tentang dunia admin. Tidak selamanya menjadi admin itu enak. Namun bukan berarti menjadi admin itu selalu menguras emosi. Yang penting bagaimana tetap enjoy dalam menjalani pekerjaan itu.

Layout dan tata letak yang sangat cantik, plus beberapa karikatur unyu di beberapa halaman, membuat buku ini rame. Tulisan MinCob saja sebenarnya sudah lucu. Namung dengan adanya panel-panel unyu dan selipan nggak penting dalam pojok-pojok tulisan membuat saya sering nyengir saat membacanya.

Sayangnya, saya kecewa dengan bagian Dunia Mimin 5 dan 6. Sebenarnya lucu-lucu aja sih membaca pertanyaan absurd followers sekaligus jawaban tambah absurd dari MinCob. Tetapi jumlah halaman yang sangat banyak (sekitar 83 halaman) membuat saya bosan. Sorry to say, bahkan saya tidak bisa menyelesaikan buku ini sekali duduk karena sudah keburu males dengan seabrek pertanyaan-jawaban absurd itu. Alhasil, tehnik skip-skip-skip saya lakukan.

Tapi besoknya saya baca lagi bagian ini. Ternyata, kalau sedikit dan tidak dibaca dalam waktu yang sama, saya justru dapet lucunya. Tapi kalau langsung dibaca semua sampai habis dalam satu waktu? Zzzz. Berarti sekitar 39% buku ini hanya berisi ocehan itu. Padahal kalau dibanyakin Dunia Mimin 1, 2, 3, ataupun 4, tentu buku ini lebih menarik.

Hidup itu perjuangan, penuh cobaan, dan butuh kesabaran, sesabar MinCob @divapress01 jawab pertanyaan-pertanyaan absurd para followers. (Hal. 141)

Pada bagian terakhir buku ini, saya justru lebih mendapat feel-nya. Tentang ucapan MinCob kepada para kontributor a.k.a followers yang sudi nama akunnya dicantumkan dalam halaman terima kasih. Selain itu juga ada halaman Tentang Penulis mengenai asal-usul MinCob. Lantas, siapakah MinCob itu? Sampai kata terakhir dalam buku ini pun masih belum terjawab. Yang jelas, MinCob akan tetap berusaha menjadi sahabat pembaca dalam mengarungi dunia perbukuan saat ini. Nice book, MinCob!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Manusia Setengah Salmon

covermanusia

Judul: Manusia Setengah Salmon

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: viii + 264 halaman

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9789797805319

cooltext1660180343

Nyokap memandangi penjuru kamar gue. Dia diam sebentar, tersenyum, lalu bertanya, ‘Kamu takut ya? Makanya belom tidur?’

‘Enggak, kenapa harus takut?’

‘Ya, siapa tahu rumah baru ini ada hantunya, hiiiiii…,’ kata Nyokap, mencoba menakut-nakuti.

‘Enggak takut, Ma,’ jawab gue.

‘Kikkikikiki.’ Nyokap mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan ngisep lem sewaktu hendak photobox. ‘Kikikikikiki.’

‘Aku enggak ta—’

‘KIKIKIKIKIKIKIKI!’ Nyokap makin menjadi.

‘Ma,’ kata gue, ‘kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa dateng lho.’

‘JANGAN NGOMONG GITU, DIKA!’ Nyokap sewot. ‘Kamu durhaka ya nakut-nakutin orang tua kayak gitu! Awas, ya, kamu, Dika!’

‘Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa.’

Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sembilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.

cooltext1660176395

Another book of Raditya Dika. Saya cenderung menyukai banyolan dan guyonan dalam tulisan Dika. Terasa segar (air mineral kali ah) dan menghibur. Usianya yang masih belum terlalu tua juga sedikit banyak bisa membuat kejadian-kejadian masa kini menjadi bahan tulisannya. Termasuk pada buku Manusia Setengah Salmon ini.

Ada 19 bab di buku ini yang Dika suguhkan. Ada yang lucu, ada yang mellow, ada pula yang absurd dan nggak jelas. Karena nggak mungkin saya ulas satu persatu, jadi saya tuliskan beberapa saja ya. Salah satu kisah yang menurut saya cukup menarik adalah yang berjudul “Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat”. Pada cerita ini, Dika yang mengalami putus cinta menjadi tahu apa esensi dari kenangan masa lalu.

Harga diri lebih penting daripada sakit hati. (hal. 22)

Putus cinta memang menyakitkan. Namun di cerita tersebut Dika menyelipkan sebuah pesan moral mengenai arti dari merelakan. Lain hal pada kisah berjudul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” yang menurut saya lucu sekaligus menyentuh. Alkisah Dika yang melanjutkan studi ke Belanda mengalami fase “ingin mandiri” dengan mencoba mengacuhkan segala perhatian nyokapnya yang terus menghubungi Dika tiap jam.

Memang perut gue ini perut belalang kupu-kupu, kalau siang makan nasi kaau malam minum susu. (hal. 117)

Pada kisah tersebut Dika seakan ingin mengingatkan pada jutaan orang yang (mengaku) dewasa yang masih memiliki orang tua bahwa sesungguhnya perhatian orang tua itulah yang sesungguhnya amat berharga. Karena kita tak akan tahu kapankah orang tua akan pergi meninggalkan kita…ke dunia yang berbeda.

Pada kisah lain berjudul “Tarian Musim Kawi”, Dika menceritakan tentang curhat sahabatnya, Trisna, yang menjadi jomblo perak karena pada usia menginjak 25 tahun belum pernah berpacaran. Ingin membantu, Dika mengusulkan Trisna mencari (calon) pasangan melalui Twitter.

Timeline Twitter seseorang menunjukkan sifat asli orang tersebut. (hal. 151)

Saya sangat sependapat sih dengan bahasan Dika pada kisah ini. Karena tidak dapat dipungkiri di era serba modern (termasuk munculnya social media) bisa menunjukkan jati diri asli seseorang. Trisna yang merasa tertarik dengan usul Dika pun juga begitu. Lantas, berhasilkah Trisna mendapatkan pasangan hanya bermodalkan timeline?

Cerita yang cukup memilukan hadir pada judul “Lebih Baik Sakit Hati”. Bukannya apa-apa, di kisah ini Dika menceritakan mengenai pengalamannya sakit gigi akibat gigi geraham bungsunya mulai tumbuh. Tak tanggung-tanggung, ia musti rela disuntik dan dioperasi demi menyembuhkan giginya. Sakit? Tentu saja. Bahkan ia membandingkan dengan rasa sakit hati yang pernah ia alami.

Orang yang bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya menjadi dewasa. (hal. 204)

Bab penutup berjudul “Manusia Setengah Salmon” seakan menjadi kesimpulan dari segala macam bab galau dan mellow yang dikisahkan pada bab-bab sebelumnya. Pada akhir penutup ini, Dika seakan kembali menegaskan bahwa perpindahan adalah sebuah hal yang lumrah terjadi.

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. (hal 255)

Ketika menutup buku ini, saya merasa puas. Dalam artian saya menemukan sebuah hal baru pada gaya tulisan Dika. Meskipun guyonan dan candaan masih dipertahankan, namun saya bisa merasakan pesan moral ataupun kutipan menyentuh di buku ini. Pada buku ini saya juga mengetahui bahwa Dika bukan hanya piawai dalam menyusun tulisan komedi nan menggelitik, namun juga sukses mengingatkan saya tentang pelajaran hidup.

Sayangnya, kelebihan diatas justru menjadi bumerang. Saya jadi kurang menyukai semua bab bertema lucu yang diletakkan selang-seling dengan bab bertema mellow. Memang sih mungkin tujuannya agar pembaca bisa sedikit refreshing pada bab yang lucu setelah menikmati mellow-nya bab sebelumnya. Tapi saya justru merasa aneh. Ibarat lagi makan kue bolu dan rempeyek (aduh, maafkan pemilihan yang absurd ini), saya harus berganti-ganti kedua makanan tersebut tiap lima detik. Enak? Tentu tidak. Saya jauh lebih setuju jika buku ini full bab bertema mellow. Sisi-sisi komedi sebagai identitas Dika cukup diselipkan dalam bab-bab itu saja. Tak perlu disendirikan.

But overall, saya suka dengan buku ini. Meskipun kadar komedinya tidak terlalu dominan, saya justru mendapat sebuah pemahaman baru mengenai secuil pengalaman hidup. Dika yang masih muda juga sanggup menghadirkan tulisan yang bisa dinikmati kawula muda. Good job!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Radikus Makankakus

coverradikus

Judul: Radikus Makankakus

Tagline: Bukan Binatang Biasa

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 232 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, 2007

ISBN: 9789797801663

cooltext1660180343

Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget.

‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’

‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan.

‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu.

‘Sukro,’ gue manggil.

‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut.

‘Kamu kacang apa manusia?’

‘Hah? Maksudnya?’

‘Engga, habis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’

‘Ma-manusia, Kak.’

‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya.

‘MANUSIA, KAK!’

Satu kelas hening.

RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus) berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib.

Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB.

Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.

cooltext1660176395

Raditya Dika bukanlah orang asing dalam dunia buku non fiksi komedi di Indonesia. Karya fenomenal Kambing Jantan mengantarkannya sebagai salah satu penulis yang cukup berkompeten di Indonesia. Beberapa buku juga ia hasilkan setelah Kambing Jantan. Buku Radikus Makankakaus ini adalah buku ketiganya. Garis besarnya masih sama dengan pendahulunya, yaitu menceritakan pengalaman-pengalaman unik dan absurd Dika dalam bahasa komedi lugas dan cenderung blak-blakan.

Ada 17 cerita yang disajikan di buku ini. Ada yang cukup membekas dalam sanubari, ada pula yang berlalu begitu saja tanpa arti. Jadi saya ulas yang cukup memorable saja ya. Salah satunya cerita berjudul “Balada Badut Mabok”. Pada cerita pertama ini, Dika bermaksud melakukan penelitian dengan menjadi badut.

Gak beberapa lama kemudian, anak-anak itu udah ada di samping kaca mobil gue. Kepala gue ditoyor-toyor. Tangan-tangan butek item mereka nyolok-nyolok idung gue. (hal. 12)

Ternyata menjadi badut bukanlah hal yang mudah. Lantas bagaimana kelanjutan penelitian Dika? Ada lagi kisah berjudul “Arti Hidup?” merupakan salah satu cerita yang sedikit mellow dan inspiratif. Mengambil waktu saat Dika masih SMA, ada seorang guru bernama Ibu Irfah. Meskipun Dika nakal bagai setan, beliau tetap care pada Dika.

Kamu masih punya waktu untuk berubah. Kamu pasti mau kan lulus SPMB, masuk UI? Kamu belajar yang bener dari sekarang. Jangan bandel kayak gini. Kasihan tahu, orang tua kamu. Mulai semester depan, perbaiki ya? (hal. 94)

Ibu Irfah adalah salah satu potret guru yang pasti dicintai oleh murid-muridnya, tak terkecuali Dika yang menulis kisah ini. Meskipun tidak meninggalkan ocehan komedi, kisah ini bisa dibilang kisah paling memorable bagi saya pribadi. Karena juga meninggalkan pertanyaan dalam diri saya sendiri.

Kisah yang cukup unik berjudul “Guruku Seperti Macan”. Jadi ceritanya Dika yang udah kuliah dan lagi libur, diminta menjadi guru/tentor pada LBB yang dimiliki nyokapnya. Meskipun “hanya” mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kelas 1 SMP dan 3 SMP, itu cukup membuatnya ketar-ketir.

Ngebayangin anak-anak SMP zaman sekarang, kayaknya mereka udah brutal banget. Gak ada yang tau betapa ganas ataup betapa bandelnya mereka. Apalagi, film-film sekarang ini banyak yang menggambarkan anak-anak sekolah ngomong makin kasar, makin suka ngerjain, makin binal. (hal. 107)

Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Tayangan televisi nasional sekarang banyak yang tidak mendidik generasi muda. Apalagi sinetron-sinetron sampah selalu berlalu-lalang di layar kaca. Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran Dika sebelum mengajar (calon) siswanya. Perbedaan generasi terkadang menimbulkan perbedaan perangai. Dahulu santun, sekarang bisa tak tahu malu. Yang tadinya sopan, bisa jadi sekarang suka ngomong kasar.

Secara umum sih saya suka buku ini. Sebenernya buku ini sudah punya sejak lama. Cuman baru bisa nulis review sekarang. Ciri khas Dika dalam tulisan komedi sepertinya sudah tak bisa dipungkiri. Apalagi kodratnya sebagai laki-laki menjadi lebih bebas dalam menulis. Tidak seperti kebanyakan penulis perempuan yang mengusung tema komedi malah jadinya garing.

Namun yang disayangkan, saya kurang bisa menikmati seluruh komedi yang dituliskan, khususnya tulisan-tulisan yang mencela orang lain. Terlepas maksudnya hanya bercanda atau tidak, tidak sepatutnya menghina orang lain sebagai bahan kelucuan. Mau itu kenyataan ataupun hanya guyonan, humor dengan menghina orang itu amat sangat basi banget. Bahkan ada salah satu tulisan berikut ini:

‘ASTAGFIRULOH!!!’ salah satu orang masih menjerit kayak orang gila. (hal. 65)

Hah? Apa? Mengucap istighfar (meskipun penulisannya kurang tepat) dikatain orang gila? Kok saya rasanya agak tersinggung ya ketika membacanya. Saya tau kok maksudnya hanya bercanda. Namun bercanda dengan membawa-bawa SARA itu enggak bagus lho, IMHO. Ada lagi yang seperti ini:

Gak taunya nih orang melihara ikan di bak mandi! Gila. (hal. 156)

Dih, ini Dika alay banget sih cuman liat ikan doang. Pake ngatain gila lagi. Emang sih, kayaknya dia baru tau ikan itu fungsinya buat makan jentik nyamuk demam berdarah. Tapi please, piara ikan di bak mandi masih lebih waras dibandingkan tidak melakukan apa-apa demi mencegah demam berdarah. Hih!

Akhirnya, buku ini masih layak baca kok meskipun ada beberapa kekurangan. Saya rasa masih belum ada penulis komedi di Indonesia (yang karyanya udah saya baca) yang bisa mengalahkan Raditya Dika dalam menulis komedi. Hanya saja, saya rasa Dika harus mencoba mengubah konteks komedinya tanpa membawa-bawa SARA dan celaan pada orang lain agar humor yang ia sajikan bukan hanya menghibur semata, namun juga cerdas.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Mr Subase

covermr

Judul: Mr Subase

Tagline: Boss Vintage di Era Modern

Penulis: eVe

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 224 halaman

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2013

ISBN: 9786028260749

cooltext1660180343

Kenapa harus Mr. Subase?

Begini ceritanya. Saya ngefans banget sama Supermen. Bagi saya Supermen adalah manusia terhebat yang hanya bisa ditandingin sama Spidermen, Wonderwoman, Megalomen, atau Satria Baja Hitam. Saya berharap, suatu saat kelak, semua jagoan ini bakal berkumpul kemudian bersatu padu melawan Shinchan. Huahahhaha. TAROHAN! Pasti menang Sinchan!

Ups, balik lagi ke Mr. Subase.

Gak tau kenapa, saya suka banget ama nama manusia yang terdiri dari tiga suku kata. Yang saya amatin, para jagoan dan orang tersohor dunia itu namanya terdiri dari tiga suku kata. Contohnya ya itu tadi, Su-per-men. Yang terkenal di Indonesia, Soe-har-to. Terus di dunia, ada O-ba-ma. Semuanya pake tiga suku kata. Kalaulah Supermen adalah manusia terkuat di hati saya, so’ saya percayakan nasib Boss terlucu di kantor saya pada sebuah nama panggilan sayang, “SU-BA-SE”.

Call him, Mr. Subase!

“Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu, yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase.”

cooltext1660176395

Bekerja adalah hal yang lumrah dilakukan seseorang yang telah cukup umur sebagai tenaga siap kerja. Ketika bekerja, mereka mendapatkan gaji/upah sebagai bentuk apresiasi kerja keras mereka dalam tiap satuan waktu tertentu. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi seseorang yang mendapatkan warisan segunung yang tak habis hingga turunan keseribu.

Ketika bekerja, terkadang pekerja dihadapkan pada rekan kerja yang beraneka macam sifat. Ada yang menyenangkan, menyebalkan, optimis, ataupun oportunis. Tak terkecuali dengan atasan yang jabatannya lebih tinggi. Selayaknya manusia biasa, mereka juga memiliki sifat yang beraneka rupa. Keseharian bersama rekan kerja membuat hari-hari bekerja menjadi lebih berwarna.

Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu unik, konyol, gaptek yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase. (hal. 13)

Ada banyak kisah yang disuguhkan dalam buku 224 halaman ini. Rata-rata emang fokus pada hal lucu, konyol, dan ajaibnya kelakuan sang Boss (dalam hal ini Mr. Subase menjadi Direktur Utama), baik dalam hal yang menyangkut pekerjaan ataupun tidak. Salah satu kisah yang menarik adalah kebiasaan Mr. Subase ketika pipis di dalam WC kantor.

“Jawaban lo hampir betul, Mang! Model pipisnya Mr. Subase kayak anak bayi, doi buka semua celananya, dari celana panjang sampe celana dalemnya dibuka dan digantung di pintu kamar mandi, dannnnn… gak ditutup mennnn!” (hal. 85)

Ada lagi cerita tentang Mr. Subase yang latah mengikuti hal trendi dari seorang Komisaris kantor. Niat hati ingin mencari tahu sambil memuji, Mr. Subase malah dibikin keki ama sang komisaris. Malum sepertinya Mr. Subase ini adalah orang yang sudah tidak cocok mengikuti perkembangan tren.

Mr. Subase kecele. Terlalu berusaha cari perhatian memang bisa membuat kita justru jatuh terhempas. Sakit, bokkk. (hal. 105)

Selain Mr. Subase, ada juga Boss yang lain bernama Mrs. Hana sebagai pemegang kuasa keuangan perusahaan. Beliau ini disinyalir adalah orang tajir. Maklum saja, karena bekerja di kantor Mr. Subase bukanlah pekerjaan primer. Beliau memiiki usaha butik yang cukup sukses juga.

Tiap Sabtu ama Minggu pagi, mata saya disejukkan ama puluhan apartemen yang wara-wiri di layar tivi. Belum lagi pembahasan pusat perbelanjaan yang lagi melego jualannya dengan harga yang katanya murah. Kayaknya tontonan tivi kayak gitu khusus buat orang yang tiap hari mandi uang. Yang setiap harinya kerjaannya membungkus emas batangan. Yang lulurannya pake platina. Yang kontak lens matanya terbuat dari berlan. (hal. 147)

Jadi ceritanya, Mrs. Hana ingin membeli (atau memesan) kuburan untuk keluarganya kelak ketika telah meninggal. Sampe milih yang di depan danau lho (ajegilee). Ada lagi kisah cukup unik saat semua orang kantor hendak jalan-jalan ke Jogja. Mr. Subase yang sangat excited sampe jadi lebay untuk urusan datang ke stasiun saat kereta berangkat jam delapan.

“Hooooo… jangan mepet-mepet datangnya, nanti kamu terlambat! Hoooo… datang aja jam 6, dua jam sebelum berangkat! Yah… yah!” (hal. 206)

30 cerita pendek di buku ini selalu menyangkut-pautkan tingkah ajaib sang Boss (mayoritas sih Mr. Subase yang diceritakan). Saya suka cara penulisan eVe. Sangat mengalir dan tidak dibuat-buat untuk menimbulkan kelucuan. eVe adalah salah satu penulis perempuan yang saya rasa cukup sukses mengusung tema humor dalam tulisannya.

Diksi yang sangat pas membuat tiap kalimat bisa saya nikmati dengan nyaman. Tidak seperti penulis humor pada umumnya yang terkesan “maksa” biar bisa lucu. Mr. Subase yang diceritakan juga membuat saya gemes dan mikir sebenarnya kerjaan beliau ini ngapain kok bisa jadi Dirut.

Kelemahan yang saya temukan hanyalah: typo. Ada banyaak broo! Saking banyaknya, saya males nulisin ulang hehehe. Saya mencatat ada 11 kesalahan penulisan dalam buku ini. Itupun yang saya anggap parah dan mengganggu. Belum termasuk kesalahan penulisan tanda baca, pemenggalan kata, penulisan nama artis, penulisan nama tempat, dan penggunaan ejaan kata berbahasa Inggris. Namun karena tidak terlalu mengganggu saat membaca, jadi saya biarkan saja.

Saya juga suka buku ini yang terdiri dari bagian depan yaitu pengenalan tokoh; bagian tengah adalah cerita lika-liku kehidupan Mr. Subase; dan bagian akhir sebagai kisah penutup. Meskipun tidak berhubungan satu sama lain, hal ini membuat saya puas membaca buku ini sampai akhir. So, buku ini cocok dibaca siapa saja. Karena percayalah, berbagai sifat orang ada di dunia ini. Bahkan, orang ajaib kelakuannya juga bisa menjadi Direktur kok.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Seniormoon

coversenior

Judul: Seniormoon

Tagline: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu!

Penulis: Airra Nugie

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: x + 278 halaman

Terbit Perdana: Maret 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2009

ISBN: 9786028066358

cooltext1660180343

Merasa senior kamu galak? Tunggu sampai baca buku ini.

“Lu tau sendiri kan, kalo kita ini sering ngusilin adik-adik kelas.”

“Iya. Terus?”

“Nah itu. Sekarang kita daftar ke IPDN yang budaya senioritasnya keras banget. Itu artinya kita mengantarkan diri ke karma kita sendiri.”

“Apa sih maksud lu? Gue nggak ngerti.”

“Pokoknya, entar di IPDN kita bakal dapet balesan kayak apa yang sering kita lakukan dulu ke anak-anak baru.”

Seniormoon: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu! adalah buku tentang senioritas. Di mulai dari Nugie menjadi senior yang membabat habis-habisan juniornya, sampai masuk IPDN di mana Nugie dibabat habis oleh seniornya, dan di dalamnya diisi oleh pemahaman Nugie tentang arti “kekuasaan” yang sesungguhnya.

cooltext1660176395

Indonesia adalah sebuah negara yang menerapkan pendidikan formal bertingkat. Maksudnya mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Setiap tingkat pendidikan memiliki lama masa belajar yang bervariasi. Ada yang dua tahun, tiga tahun, empat tahun, enam tahun, dan tak hingga yang berujung DO (drop out). Sehingga lahirlah istilah kakak kelas-adik kelas ataupun kakak tingkat-adik tingkat pada setiap masa pendidikan tersebut. Istilah tersebut ditinjau dari waktu pertama kali mengenyam pendidikan dan masa studi.

Disadari atau tidak, istilah tersebut juga sering melahirkan sebutan juniorsenior pada lingkungan sekolah ataupun kuliah. Julukan tersebut seringkali didengungkan ketika masa orientasi siswa/mahasiswa baru. Idealnya, senior mengayomi junior dan junior menghormati senior. Namun kenyataannya, ada saja pihak yang menyalahgunakan predikat itu. Hal inilah yang diangkat Nugie dalam bukunya ini.

Paskibra, biarpun tugasnya cuma mengibarkan bendera setiap upacara, tapi pembinaan mental mereka jauh lebih menyeramkan daripada yang lain. (hal. 16)

Buku non-fiksi ini dibuka dengan kisah keisengan Nugie saat masa SMA yang selalu mengincar adik kelasnya. Mulai dari saat MOS hingga pembinaan ekstrakurikuler. Sebenarnya maksud Nugie dan kawan-kawan hanyalah usil ngerjain junior baru. Tapi mungkin hal ini justru balik memberi mereka pelajaran…..dari guru BP. Sepak terjang Nugie ngerjain junior hanya sebagai pembuka kisah. Setelah lulus SMA, ia terancam tak bisa menggapai cita-citanya menjadi sarjana karena terhalang biaya. Tak menyerah, ia mencoba peruntungan pada sebuah lembaga pendidikan yang gratis biaya, yaitu IPDN.

Saat berhasil menjadi anggota IPDN, Nugie bersyukur bukan kepalang. Akhirnya cita-citanya melanjutkan sekolah tanpa merepotkan kedua orang tuanya berhasil. Namanya anak baru (junior), Nugie masih beradaptasi pada berbagai hal yang ditemuinya di kampus. Kisah cerita dalam IPDN inilah yang menghiasi sebagian besar halaman buku ini.

Nambah lagi satu pengetahuanku tentang larangan di IPDN. Pertama dilarang senyum, kedua dilarang cengengesan, dan yang ketiga dilarang makan dan minum sambil berdiri, mungkin lebih baik ngupil pakai jempol kaki. (hal. 102)

Di IPDN, para Muda Praja (sebutan untuk mahasiswa tingkat/tahun pertama) juga menjalani kuliah. Karena kegiatan yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat, saat kuliah berlangsung adalah waktu yang terpaksa dikorbankan untuk tidur melepas lelah.

Hah, gimana negara mau maju, kalau calon pamongnya saja pada tidur pas jam kuliah. (hal. 145)

Masih ingat kasus penganiayaan senior kepada junior IPDN (dulu namanya STPDN) yang mengakibatkan tewasnya junior tersebut beberapa tahun silam? Hal inilah yang dialami Nugie. Setidaknya ia tidak sampai meregang nyawa. Teror bermula ketika Nugie sedang jaga malam. Ia memergoki tiga orang laki-laki sedang merokok dan (sepertinya) menggunakan narkoba.

Kemudian mataku ditutup saputangan. Mereka menyeret tubuhku ke dinding. Aku dipukuli. Beramai-ramai. Aku tersungkur. Mereka menendang dan menonjok perutku dengan membabi buta. Entah berapa kali aku dipukuli, ditendang, dan ditampar. Yang jelas aku merasa sekujur tubuhku hancur seketika. Sakit tak terperi. (hal. 157)

Membaca bagian itu, emosiku tersulut. Itukah sikap calon abdi negara yang kelak memimpin negeri ini? Sekumpulan pengecut yang tak sudi kesalahannya terbongkar. Diri ini merasa tak ikhlas uang pajak rakyat Indonesia digunakan untuk membiayai kuliah ketiga berandalan itu. Selain itu, ada juga sebuah agenda yang cukup memprihatinkan di IPDN (pada saat itu, entah saat ini masih ada atau tidak), namanya kumpul kontingen.

Kegiatan malam yang berisi dengan pemukulan dari senior kepada para junior satu kontingennya tanpa kecuali. Semua pasti mendapat jatah ditonjok perut atau ditendang. Walaupun kita nggak punya salah, tapi pasti pukulan atau tendangan itu akan kita dapatkan. Kegiatan itu sudah turun-temurun dilakukan. Ilegal, tapi tidak pernah ada tindakan dari pihak kampus. Tidak jarang, banyak korban berjatuhan setelah kegiatan ini selesai. (hal. 165)

WTF?! Darah serasa mendidih saat membacanya. Inilah salah satu hal yang membuat saya tidak respek kepada institusi pendidikan bersistem seperti ini. Bagaimana bisa kampus tidak mengambil tindakan? Apakah mau nunggu sampai semua penghuni kampus mati mengenaskan? Sepertinya korban yang tewas beberapa tahun silam karena penganiayaan senior disana juga akibat acara tak berguna ini.

Bunga belum punya pacar, itu artinya aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pacarnya. Tapi aku masih ragu untuk mengatakan semuanya. (hal. 182)

Sepertinya Nugie tidak ingin pembacanya larut dalam amarah. Ia menghadirkan sejumput kisah cintanya di IPDN. Ya, Bunga adalah seorang gadis asal Riau yang memikat hatinya. Bagian ini terasa sebuah oase diantara gurun penderitaan IPDN yang penulis ceritakan.

Secara keseluruhan, saya suka buku ini. Bukannya menyukai penderitaan yang Nugie alami. Namun lebih kepada rasa salut karena penulis bersedia membagi catatan hitam kehidupannya saat menjadi bagian kampus besar IPDN. Keberanian yang patut diacungi jempol. Tidak banyak orang yang mau membeberkan kisah dibalik gerbang megah kampus tersebut.

Karena buku ini adalah personal literature, saya bisa mengerti apa yang dirasakan penulis ketika mendapat tindakan penganiayaan, baik dalam konteks kurikulum/sistem kampus maupun “keisengan” senior. Saya adalah orang yang anti kekerasan. Apalagi kekerasan di sebuah lembaga pendidikan yang dilakukan oleh senior kepada junior.

Nugie berani membeberkan boroknya IPDN dengan cukup jelas (semoga kegiatan penganiayaan dengan alasan apapun seperti itu saat ini sudah musnah). Meskipun tidak semuanya, namun saya sudah memiliki cukup gambaran kehidupan IPDN di masa lalu. Oh iya, kisah cintanya dengan Bunga juga menarik untuk diikuti. Saya bisa merasakan ketika seusianya pastilah bahagia-bahagia-agak-salting saat pengen mengungkapkan cinta hehehe.

Kekurangannya menurut saya adalah nuansa humor pada bagian awal-awal terasa berlebihan. Baik secara tulisan reka kejadian ataupun berbagai hal absurd tak penting. Mungkinkah karena editor buku ini adalah Raditya Dika? Entahlah. Namun, agak ke tengah hingga halaman terakhir, humor yang ditulis sudah bisa dikondisikan porsinya dan membuat saya nyaman membaca.

Kisah yang dialami penulis dan dituliskan di buku ini terasa sangat miris dan membuat hati ini teriris (yes, I make a rhyme!). Budaya perploncoan memang harus dibumihanguskan dari lembaga pendidikan manapun. Terlebih lagi perploncoan yang dibarengi dengan penyiksaan fisik. Bagaimana bisa seorang peserta didik menjadi termotivasi menuntut ilmu apabila selalu dibayangi siksaan fisik ataupun “keisengan” senior.

Buku ini membuka pikiran saya bahwa tak selamanya kakak tingkat/kakak kelas adalah orang yang patut dijadikan teladan. Terkadang beberapa dari mereka tak lebih dari sekedar manusia pengecut tak memiliki hati nurani. Yang jelas, dalam menghadapi situasi sesulit apaun, kita masih memiliki Tuhan yang senantiasa membantu hamba-Nya yang selalu dekat kepada-Nya. Ingatlah, bahwa setelah hujan masalah akan ada pelangi kebahagiaan yang muncul. Buku ini cocok dibaca usia remaja hingga usia senja karena bisa membuka pikiran serta banyak terselip pesan moral menyejukkan hati.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Anak Kos Dodol

coveranak

Judul: Anak Kos Dodol

Tagline: Catatan Mahasiswa Gokil van Djokja

Seri: Anak Kos Dodol #1

Penulis: Dewi “dedew” Rieka

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2009

ISBN: 9789791550161

cooltext1660180343

“Benar2 nyata. Benar2 dodol. Tapi juga benar2 bermakna. Buku harian yang memberi tawa ‘n perenungan” – Ken Terate, Penulis Teenlit, Djokdja

“Pengalaman ngekos emang selalu seru! So buku ini bisa jadi ‘bacaan nostalgia’ yang asyik buat yang pernah ngekos, bisa juga jadi ‘bacaan menyenangkan’ buat yang ingin tau dunia kos lahir-batin, tapi bisa juga jadi ‘bacaan bimbingan’ cara ngekos yang baik dan benar buat yang ingin ngekos! Jadi mari kita ngekos bareng-bareng eh sory, maksudnya mari kita nikmati isi buku ini!” – Boim Lebon, Penulis Cerita Anak & Remaja, Produser TV, Jakarta

“Asli, kocak banget! Nih buku pasti bikin semua anak kos terkenang-kenang masa hepi, pas bokek, bebas merdeka en nonton VCD malam pertamanya! Hehehe… Kudu dibaca!” – Afny Yuniandari, Karyawati Swasta, Penghuni kos 5 tahun, Bekasi

“Seger banget. Awalnya, aku pikir bakal ngebosenin eh ternyata malah jadi ga bisa berhenti baca. Bikin gue mupeng, pengen ngekos bareng cewek-cewek dodol! Hohoho.” – Adhika Putra R, Dokter Muda Unpad, Jomblo Bahagia, Bandung

cooltext1660176395

Usia remaja hingga dewasa muda, biasanya pernah mengalami masa-masa ngekos. Baik dalam rangka menuntut ilmu saat sekolah/kuliah ataupun ketika memasuki dunia kerja. Ngekos banyak dipilih karena tidak terlalu ribet daripada ngontrak rumah. Saya aja udah empat tahun ngekos sejak saya masih mahasiswa baru.

Buku ini mengangkat tema bagaimana seru dan dodolnya dunia perkos-kosan kaum hawa di kota pelajar, Yogyakarta. Penulis seakan ingin memberi kesan bahwa ngekos itu tidak selalu identik dengan kelaparan, irit, dan sengsara tapi juga bisa dibawa hepi dan terkadang membawa pengalaman unik yang baru.

Karena ada 33 cerita, jadi saya ambil beberapa saja ya yang berkesan. Kisah pertama adalah cerita tentang adanya desas-desus hantu/setan di kosnya Mbak Dewi. Namanya kos-kosan cewek, pasti jadi panik dan takut gara-gara isu itu. Untuk menghalau rasa takut, mereka tidur bareng-bareng bak ikan pindang dijemur.

Untuk bisa tidur pulas dalam suasana seperti itu, dibutuhkan keahlian khusus. (hal. 19)

Kisah agak sedikit mellow dan inspiratif berjudul “Ulang Tahun ke-20” karena bercerita tentang dampak negatif dari sesuatu hal yang tidak penting. Ceritanya anak kos ingin memberi kejutan pada Kayla yang berulang tahun. Celakanya, keisengan itu berujung maut dan memberikan dampak traumatis pada penghuni kos.

Tiba-tiba, gadis itu menginjak pecahan telur dan… gubrak! (hal. 27)

Ada lagi cerita berjudul “Balada Beasiswa Kita” seakan-akan penulis sedang menyindir para beasiswa hunter (dan beasiswa taker) yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan beasiswa tanpa melihat kondisi dirinya yang bisa dikatakan sangat jauh dari kata miskin (alias kaya raya). Padahal orang yang jauh lebih membutuhkan masih ada di sekitarnya.

“Aku sudah berusaha keras, Ret… mencari surat keterangan tak mampu itu, aku sampai direndahkan petugas. Kulengkapi semua persyaratan. Masya Allah, aku tak mendapatkan beasiswa itu, Ret… padahal aku butuh sekali untuk kuliah lapangan,” isaknya pilu. (hal. 44)

Yang tak kalah menarik adalah kisah berjudul “Mbah Dukun? Nyai Peramal?” yang mencoba mengangkat fenomena ramalan yang melanda anak kos. Namanya anak muda, masih suka yang seru-seruan sekaligus bermanfaat (ada gak ya?). Ramalan terasa sebagai salah satu keisengan yang bisa dijadikan jalan keluar. Kalau ramalannya baik, hati senang. Tapi kalau ramalannya buruk, jadi was-was juga.

Hmm… kenapa ya pada berbondong-bondong ke peramal, apakah dengan datang pada mereka menimbulkan rasa aman? Memuaskan keingintahuan kita? Padahal Tuhan adalah sang pemiliki kebenaran dan semua bermuara pada kehendak Dia. (hal. 90)

33 cerita yang dimuat dalam 191 halaman ini terasa cukup banyak (ralat, banyak banget) menurut saya. Tidak adanya keterkaitan satu cerita dengan cerita lain membuat buku ini asik dibaca mau dari cerita manapun. Sesuai blurb diatas, buku ini cukup cocok sebagai media nostalgia, media cerminan diri, ataupun gambaran ngekos seperti apa.

Kekurangannya? Sorry to say, but I’ve found a lot of weaknesses (from my point of view, of course). Mulai dari gaya bercerita. Baiklah saya tau setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing. Tapi cara penulisan Mbak Dewi Rieka ini menurut saya: sangat lebay banget. Mulai dari “ciee”, “bo!”, “apaseeeeh?”, “maksud loe?” dan sebagainya yang disisipkan ke berbagai kalimat di buku ini. Menurut saya kata-kata seperti itu tidak penting dan mengganggu kenyamanan saya saat membaca. Alih-alih membuat terpingkal, saya justru jengkel sendiri saat membacanya.

Pada beberapa cerita, terdapat ending atau akhir yang jelas. Yah meskipun tidak semuanya mengandung pesan moral, tapi setidaknya ada akhirnya lah. Tapi beberapa cerita malah ada yang ngegantung. Aduh niat nulis cerita nggak, sih? Saya tipikal orang yang menyukai akhir yang jelas (terserah mau hepi atau tidak).

Dari segi humor, saya tidak merasa lucu tuh. Paling mentok nyengir, itupun bisa dihitung jari. Karena sependapat saya, kalau perempuan menulis genre humor, jatohnya jadi garing. Kedodolan para penghuni yang diceritakan disini malah tidak membuat saya tertawa, tapi mengernyitkan dahi gara-gara enggak tahu kocaknya dimana.

Di halaman terakhir, sempat disinggung sebenarnya tulisan di buku ini adalah postingan di blog pribadi penulis *cmiiw. Tapi apakah memang tidak ada proses editing? Saya tahu mungkin jika diedit akan mempengaruhi orisinalitas tulisan, tapi mosok ya penulisan huruf yang benar bisa mempengaruhi? Karena saya banyak sekali menemukan typo dimana-mana. Saya tidak mencatat semuanya sih.

By the way, penulisan “Djokdja” terasa agak aneh buat saya. Saya agak heran kenapa buku ini bisa sampai tiga seri (kalau tidak salah) bahkan muncul komiknya juga. Apakah mungkin karena buku ini bukan my cup of tea, saya cowok yang tak bisa mengerti dunia kosan cewek, atau entahlah. Euphoria yang terasa bombastis (pada jaman dahulu) itu menurut saya kok terlalu dibesar-besarkan. But anyway, kalau mau baca tulisan cukup menghibur dunia kos-kosan cewek, boleh lah melirik buku ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Kedai 1002 Mimpi

cover1002

Judul: Kedai 1002 Mimpi

Penulis: Valiant Budi @vabyo

Penerbit: GagasMedia

Jumlah halaman: 384 halaman

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9789797807115

cooltext1660180343

Konon, kalau tidak mengerti, harus bertanya.

Giliran banyak bertanya, diancam mati.

Bisa jadi, kalau mengerti harus mati.

Pernahkah kau terluka dan meminta pertolongan, tapi mereka malah mengira kau mengada-ada?

Terkadang memang lebih baik bungkam, tapi izinkan jemari ini yang memberi tahumu.

Karena ternyata, tidak ada akhir yang bahagia, selama memang belum selesai dan selayaknya tenteram.

Kedai 1002 Mimpi.

Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.

Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.

Salam damai,

Valiant Budi Vabyo

cooltext1660176395

VABYO IS BACK!!! Setelah sukses dengan kisah pengalaman pahit nan nyelekit ketika menjadi TKI Arab Saudi di buku Kedai 1001 Mimpi, kini ia kembali dengan novel yang sedikit nyerempet judulnya dengan pendahulunya. Jadi konsepnya, novel ini berisi kisah-kisah yang ia alami selepas pulang dari negara tempat ia bekerja dahulu. Ia berkisah mengenai kehidupan yang ia jalani setelah pengalaman “mengesankan” sempat menghampiri kesehariannya.

Novel ini dibuka dengan kisah detik-detik Vabyo menuju tanah air Indonesia dalam rangka kebebasannya. Tetapi tak semudah yang dibayangkan. Ada saja beberapa keparnoan yang dirasakan. Mulai dari takutnya paspor dicuri kondektur bus demi kepentingan pengecekan identitas, petugas imigrasi yang terlihat galak dan mengintimidasi, teror bom dalam bus yang ditumpanginya menuju bandara, hingga kesewotan perlakuan “khusus” TKI di bandara Indonesia.

Mati adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. (hal. 2)

Kehidupan di Bandung, kampung halaman Vabyo berawal biasa-biasa saja. Setelah menyandang pensiunan barista Sky Rabbit, ia berencana mencari penghasilan tambahan (selain royalti buku sebelumnya). Pucuk dicinta ulam tiba. Vabyo sukses dengan sebuah boyband. Bukan, bukan menjadi anggota yang jejogetan berkaos V-neck. Tetapi menjadi penulis lirik lagu yang dibawakan boyband itu.

Selain berkecimpung dengan lagu-lagu boyband, Vabyo juga memanfaatkan keahliannya dalam racik meracik aneka kopi dengan membuka cafe baru di Bandung. Cafe ini dinamakan Warung Ngebul yang minim filosofi hahaha. Pendirian cafe ini bersama kakak Vabyo, Vanvan. Ternyata, animo masyarakat sungguh tinggi. Entah karena terpikat Vabyo di novel 1001, atau murni karena rasa dan suasana warung hehheehe.

Berburuk sangka adalah kegiatan pengganggu hidup nomor dua setelah diare tapi nggak ada air di kamar mandi. (hal. 32)

Kehidupan yang happy ternyata tidak sampai di ending. Selain mendapat kecaman, teror lewat dunia maya, hingga dianiaya orang tak dikenal mengendarai motor menjadi makanan sehari-hari. Oh iya kebiasaan ganti ban mobil gara-gara dirusak oknum tak bertanggungjawab juga masuk dalam kesehariannya.

Dunia maya memungkinkan kita jadi siapa saja, berkata apa saja, mencintai dan menyakiti tanpa henti. Ada yang membuat rindu, ada yang tak henti mengganggu. (hal. 42)

Sekali dua kali tak masalah, namun akhirnya Vabyo gerah dan melaporkan kepada pihak berwajib. Meskipun akhirnya Vabyo & Vanvan mengetahui salah satu pelakunya, di novel ini tidak disebutkan. Sepertinya nama baik sang pelaku masih bisa terjaga.

Mungkin ada pemahaman baru ‘teman dekat’ di era digital ini. Begitupun dengan ‘berantem’ atau ‘dibully’. Seperti layaknya tidak sempat membalas mention atau email sudah tercap ‘sombong’ tanpa maaf. (hal. 101)

Di lain hari, demi menyegarkan pikiran, Vabyo pergi ke Eropa untuk berlibur sekaligus ketemuan dengan Teh Yuti. Tempat ketemuannya di depan Menara Eiffel lagi. Gimana gak romantis coba (meski dijelaskan ternyata di Eiffel banyak sampah *ew). Selain itu ia juga menjalani sesi meditasi yang entah kenapa jadi mengharu biru akhir-akhirnya.

Orang sering menyangka bermeditasi adalah mengosongkan pikiran. Padahal yang benar adalah biarkan pikiranmu menjelajah. Amati apa yang kita lihat dalam benak. (hal. 180)

Seperempat terakhir buku, penulis bercerita tentang mimpinya yang lain di negara yang berbeda; Italia dan Inggris. Oh iya, ada juga bonus blog yang judulnya Durian dan Mangga. Disini penulis mengibaratkan dua pihak yang saling mempertahankan prinsip masing-masing namun cenderung menyalahkan pihak lainnya. Yang menjadi favorit saya adalah surat cinta untuk Vabyo dan resep-resep ciamik sentuhan Arab yang bisa langsung dicoba.

Pertama kali saya mengetahui Vabyo adalah melalui buku Kedai 1001 Mimpi. Penulis dan bukunya yang fenomenal ini membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan perihal pengalamannya menjadi TKI di negara Timur Tengah itu. Secara umum novel ini berisi bagaimana teror-teror kerap menghantuinya baik di dunia maya maupun dunia nyata dengan bumbu kenangan masa-masa selama menjadi TKI di Bahrain yang belum diceritakan di buku pertamanya. Di buku ini, penulisnya lebih dewasa dan legowo dalam memandang situasi, terlebih ketika sang Ayah sakit.

Ayah bukan bapak terbaik di dunia. Tapi aku juga bukan anak tersoleh yang bisa Ayah banggakan. Dan bisa jadi, justru karena itu kami dipasangkan. (hal. 270)

Oh iya tulisan mengenai penilaian plus-minus yang saya beberkan selanjutnya ini sangat subjektif ya. Dan saya mau tidak mau jadi membandingkan dengan buku pendahulunya. Jadi maafkan dengan beberapa poin yang agak gimana-gimana hehehe. Covernya menarik dengan sentuhan tulisan kapur di papan tulis yang berwarna-warni. Tetapi jika dibandingkan dengan 1001, saya lebih suka yang lama. Sepertinya roh Arab bisa saya rasakan di buku 1001.

Mengenai isi, saya sangat sangat lebih suka buku pendahulunya. Bukan berarti saya bahagia meembaca kisah memilukan penulis yang sepatutnya tidak pernah terjadi. Tapi gimana ya, ketika baca buku 1002 ini saya rasa semuanya serba nangung. Misalnya tentang flashback-nya, tentang terornya, tentang liburannya, seolah hanya disajikan sepenggal dengan penggalan yang lain tercecer entah dimana. Setiap bab terasa terlalu cepat untuk berakhir. Berbeda dengan buku 1001 yang saya rasa sangat pas dalam mengakhiri cerita.

Saya agak risih dengan tulisan yang dalam satu paragraf membentuk rima. Bukannya apa-apa, tapi saya jadi serasa membaca puisi/pantun dan hilang “rasa” novelnya. Selain itu, karikatur yang menghiasi buku ini membuat saya jengah. Kalau tidak boleh dikatakan jelek, saya katakan agak “sederhana”. Saya jauh lebih menikmati apabila tidak ada karikatur. Ataupun jika memang terpaksa ada, seharusnya mengadopsi gambar manga Jepang saja. Saya lebih bisa merasakan sosok “manusia” dalam goresan manga daripada karikatur di buku ini.

Tetapi, bukan berarti buku yang kedua kurang nendang, saya ikut emosi juga kok pas baca teror-teror yang dialami sang penulis. Tak jarang saya tersenyum ketika membaca potongan kata mutiara di buku ini. Secara umum novel ini bisa dinikmati siapa saja. Namun akan lebih cocok dibaca usia remaja hingga dewasa agar bisa lebih memahami kejamnya dunia yang penulis hadirkan di buku ini.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Cado-Cado Kuadrat

covercado2

Judul: Cado-Cado Kuadrat

Tagline: Dokter Muda Serba Salah

Seri: Cado-Cado #2

Penulis: Ferdiriva Hamzah

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: xii + 188 halaman

Terbit Perdana: Juli 2010

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Agustus 2010

ISBN: 9786028066709

cooltext1660180343

Pernah satu saat ketika menolong seorang ibu melahirkan, aku dan Budi megang toa serta spanduk bertuliskan: “Ayo, Ibu! Kamu bisa!” Sementara itu, Evie lompat-lompat dan jumpalitan di depan si Ibu kayak cheerleader, lengkap dengan pompomnya, sambil ikutan teriak-teriak, “Ayooo, Ibu bisaaa!!! Tarik napassss!!! Doroooonggg!!! Doroooooonggg!!!”

Ibu yang sedang menjalani persalinan itu saking terharunya melihat usaha kami sampe teriak, “Doook! Huf…huf…huf…. Aduuuh… huf… huf… huf… dorong… dorong, saya jadi pengen pup! … Huf… huf…huf!”

Tiba-tiba… Prrrooootttt!!! Si Ibu beneran pup! Alhasil, aku, Budi, dan Evie dihukum PPDS untuk membersihkan lantai kamar bersalin.

Ketemu lagi sama dokter dodol, Ferdiriva, yang akan membuat kalian jumpalitan ketawa lewat tulisannya. Banyak pengalaman lucu dibagi sama Riva, sewaktu ko-ass atau pendidikan lanjut mahasiswa kedokteran dulu. Mulai dari nanganin pasien yang ngejedot-jedotin stetoskop ke kepalanya sendiri, sampai dia sendiri yang ngejedot-jedotin kepalanya ngehadapin dosen.

A must read book bagi kalian yang ingin tahu susahnya jadi dokter. Riva, dengan serial CADO-CADO ini sukses membuat saya menunggu karya dia berikutnya. Keep it coming, Bro! – Adhitya Mulya, penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta

Sumpah deh! Lucu dan keren cerita-cerita di buku ini! I love it, Doc! – Nycta ‘Jeng Kelin’ Gina, dokter/artis

cooltext1660176395

Saat lihat buku ini di rak toko buku, pertama terpikir adalah ini buku teks kedokteran. Otak saya kalo nyangkut dunia kedokteran itu udah capek duluan. That’s not my world banget *ahem. Pasti isinya sudah di luar kepala semua alias gak paham huahaha. Oke back to review.

Buku ini sebenarnya adalah buku kedua setelah Cado-Cado. Saya yang saat itu entah tidak ngeh atau emang cupu, gak beli edisi pendahulunya dulu. Ah nasi emang udah jadi bubur, biarlah. Di buku ini ada sepuluh cerita dalam 188 halaman. Dan lagi-lagi karena keterbatasan waktu *uhuk* jadi saya hanya bahas beberapa aja yang membekas di benak ya hehehe. Ada sebuah kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Bedah: (Amit-Amit Jadi) Dokter Cabul” sebagai kisah keempat. Membaca judulnya aja saya udah mesem duluan.

Seorang dokter itu selalu diharapkan untuk berpikir super-cepat, atau super-super-duper cepat, soalnya pekerjaannya kan menyangkut keselamatan orang. (hal. 69)

Lantas, apa hubungannya dengan dokter cabul? Ternyata, si Riva ini sedang ujian pada bagian ilmu bedah. Ternyata sistem ujiannya adalah sang calon dokter diberi tanggung jawab memeriksa seorang pasien yang nantinya akan diambil alih oleh dokter ahli bedah ketika sudah selesai. Sang pasien bernama Angel ini kayaknya emang secantik namanya ya *keplak*

Keluhan yang diderita Angel ini ternyata adalah adanya benjolan di (maaf) payudara. Yak benar, di bagian itu. Seperti biasanya, dokter kan selalu memeriksa dengan seksama bagian yang menjadi keluhan melalui duo indra (penglihatan dan peraba). Bisa terbayang kan bagaimana sikap Riva ketika menghadapi keluhan Angel? Hehehe.

Ada lagi kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Kesehatan Anak: Gagal Sok Cool” yang awalnya saya pikir ceritanya unyu-unyu khas anak kecil. Lah, apa hubungannya kecoa dengan bagian kesehatan anak? Oh ternyata (kok jadi kayak judul ftv di Tr*nsTV) kamar jaga di ko-ass anak itu sangat jorok sehingga sering mengundang kecoa-kecoa berdatangan. Dan Riva terlalu takut untuk menghadapinya sendirian.

Ada satu hal yang selalu aku harapkan nggak akan pernah menggangguku di saat jaga malam, juga nggak akan pernah membuatku keringat dingin saat melihatnya. Mayat? Bukan. Hantu? Bukan. TAPI… KECOA! (hal. 122)

Dengan bangga, saya menobatkan buku ini sebagai salah satu terbitan Bukuné yang terbaik. Karena saya sukses ketawa ngakak saat membaca berbagai kisahnya. Awalnya saya heran, buku teks kedokteran kok letaknya di deretan buku humor, jadi penasaranlah saya ini. Saat baca blurb di belakang buku, wah kok kayaknya seru. Bayangin aja, image para dokter (termasuk mahasiswa kedokteran, versi saya) itu kan elegan, higienis, pinter, dan sebagainya. Tapi, buku ini sukses bikin image itu hancur lebur.

Ternyata calon dokter juga manusia. Mereka kadang (sering, di buku ini) melakukan hal-hal bego dan lucu dalam kesehariannya. Mereka tidak selalu kaku dan saklek kok. Mereka juga bisa ngocol dan gokil. Apalagi namanya status masih mahasiswa ya, belom jadi dokter beneran, masih aja tetep nyinyirin dokter di rumah sakit yang bikin merinding disko.

Banyak sekali cerita-cerita kocak di buku ini. Namun, tenang saja. Meskipun banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan medis, bagi pembaca (saya khususnya) yang amat sangat awam sekali dengan dunia dokter, jadi tidak terlalu kesulitan untuk mengerti. Karena ada penjelasan di awalnya dengan bahasa yang mudah dipahami. But overall, buku ini sukses bikin citra dokter itu tidak selalu kaku sodara-sodara. Kalo bicara cocoknya sih, buku ini pantas dibaca remaja hingga dewasa. Humornya yang segar dan tidak kaku bisa jadi hiburan tersendiri.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Babi Ngesot

coverbabi

Judul: Babi Ngesot

Sub Judul: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: viii + 240

Terbit Perdana: April 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2008

ISBN: 9786028066105

cooltext1660180343

Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’

‘Apa?’

‘Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’

‘Tapi, Ngga?’

‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahkan gue.

Daripada kehilangan nyawa, gue ikutin saran mereka. HAP! Gue pencet idungnya Mbak Minah. Kita semua terdiam untuk beberapa saat. Semua menunggu efek yang datang dari mencet idung orang kesurupan. Apakah setannya akan keluar? Apa yang akan terjadi setelah ini?

Ternyata,

gak ngefek.

‘Kok nggak ngaruh?’ tanya gue.

Ami, yang emang expert soal kesurupan, langsung teriak, ‘YA IYALAH!!!! JEMPOL KAKINYA TAU YANG DIPENCET, BUKAN IDUNG!’

Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang adalah kumpulan cerita pendek pengalaman pribadi Raditya Dika, penulis Indonesia terbodoh saat ini. Simak tujuh belas cerita aneh-tapi-nyata Raditya di buku ini, termasuk kalang kabut digencet kakak kelas, dihantuin setan rambut poni, sampai perjuangan menyelamatkan keteknya yang sedang ‘sakit’

cooltext1660176395

Ini merupakan buku keempat Raditya Dika setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radikus Makankakus. Saya sedikit heran juga saat membaca judul novel ini. Apakah suster ngesot telah melakukan hubungan terlarang dengan babi ngepet? Ataukah kedua bayi babi ngepet yang baru lahir telah dipotong demi memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia? Saya tidak tahu.

Anyway, novel ini memuat 17 cerita gokil dan konyol khas Raditya Dika. Karena tidak mungkin saya menceritakan kesan-kesan saya membaca semua ceritanya, jadi saya ambil acak saja ya. Soalnya di buku ini tidak ada yang tidak saya sukai. Semua sukses menorehkan kesan mendalam di sanubari hati saya *apasih*

Sebuah cerita berjudul “Ketekku, Bertahanlah!” adalah salah satu kisah yang menggelikan sekaligus menjijikkan. Jadi saya ketawa sambil agak-agak jijik gitu. Jadi disini diceritakan bahwa Dika mulai (atau telah lama) terserang hypochondria, yaitu ketakutan abnormal seseorang atas kesehatan diri sendiri. Terutama kekhawatiran dirinya terkena penyakit serius.

Di bawah ketek gue ada tonjolan kecil. ‘Tonjolan apa ini? Perasaan kemarin kok gak ada,’ pikir gue. (hal. 109)

Parno yang semakin menjadi membuatnya mencari tahu secara absurd di internet. Merasa tak mendapat jawaban pasti, akhirnya Dika meluncur ke dokter. Setelah sesi interview *dikira wawancara kerja* dengan dokter, akhirnya Dika menceritakan kronologis masalah keteknya. Ternyata dokter memberikan jawaban yang membuat Dika ternganga lebar.

Ada lagi cerita yang mengusung judul cover yaitu “Babi Ngesot” sebagai kisah dua terakhir. Jadi Dika rencananya mau pelihara tuyul sebagai jalan pintas mendapatkan uang berlimpah. Ternyata tuyul itu ada berbagai jenis spesies, yaitu tuyul profesional, tuyul enterprise, dan tuyul maestro. Dari berbagai deskripsinya sih, sepertinya tuyul merupakan pekerjaan menjanjikan di masa depan *setelah mati*

Gue selalu seneng sama anak kecil. Tuyul, dalam beberapa hal, seperti anak kecil, kan? (hal. 224)

Sepertinya mengasosiasikan tuyul dengan anak kecil adalah hal yang salah. Yaiyalah, wong kemudian Dika melaporkan dengan gembira rencananya memelihara tuyul kepada sang kekasih. Bagaimana reaksi pacarnya ketika mendengar rencana tersebut? Hmm asik deh pokoknya.

Raditya Dika kayaknya udah gak perlu diragukan lagi gaya nulisnya. Selalu gokil dan kocak parah. Sebenarnya sih kejadian yang diceritakan adalah hal yang biasa dan lumrah dialami setiap orang. Namun kalau umumnya orang lain menceritakan dengan “biasa” hanya sekitar 2-3 halaman, Raditya Dika bisa memanjangkan hingga 15 halaman lebih dengan dominasi humor. Inilah yang membuat Dika berbeda dengan penulis yang lain.

Di buku ini juga diselingi dengan komik mini 1 halaman untuk tiap cerita. Well, ini sangat membantu saya membayangkan keadaan yang diceritakan. Berkali-kali saya ketawa ngakak pas baca. Karena tak jarang komik ini lebih lucu daripada tulisan narasi yang ada. Sehingga seolah-olah narasi dan komik ini saling melengkapi satu sama lain bagai sejoli.

Perihal judul Babi Ngesot, seperti yang saya sebutkan diawal, saya awalnya ngira ada kawin silang antara babi ngepet dengan suster ngesot akibat perselingkuhan terlarang di dunia supranatural. Tapi ternyata kok gak ada ya. Bahkan di kisah yang berjudul sama dengan cover, sang babi ngesot tidak dijelaskan dengan banyak. Ujung-ujungnya jadi tuyul. Jadi agak gak sinkron gitu.

Overall, novel ini bisa sangat menghibur ketika kesedihan melanda hati. Apalagi humor yang disajikan sangat Indonesia banget celetukan dan pilihan katanya. Tetapi bisa juga setelah membaca novel ini menjadi makin stress karena tulisan Dika yang super gokil. Setiap lapisan masyarakat bisa membaca buku ini kok.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Marmut Merah Jambu

covermarmut

Judul: Marmut Merah Jambu

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: vi + 222 halaman

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9786028066648

cooltext1660180343

… Momennya lagi pas banget, pikir gue. Seperti yang Ara tadi anjurkan lewat telepon, ini adalah saatnya gue bilang ke Ina kalau gue sangat menikmati malam ini.

‘Tau gak sih, Na,’ kata gue sambil menyetir, memberanikan diri untuk bicara. ‘Gue seneng banget hari ini.’

‘Seneng kenapa?’ tanya Ina.

‘Seneng, soalnya,’ kata gue, berhenti bicara sebentar dan menengok ke kiri untuk melihat muka Ina. Gue masang muka sok ganteng. Gue natap mukanya dengan jelas, memasang mata nanar, berkata dengan sungguh-sungguh, ‘Seneng… soalnya… hari ini akhirnya… gue bisa pergi sama-’

‘AWAS!!!!’ jerit Ina memecahkan suasana.

BRAK! Mobil gue naik ke atas trotoar. Mobil masih melaju kencang, dan di depan ada pohon gede. Ina ngejerit, ‘Itu pohon! ITU ADA POHON, GOBLOK!’

‘AAAAAAAAHHHH!’ jerit gue, kayak cewek disetrum. Lalu gue ngerem dengan kencang. Ina teriak lepas. Suasana chaos.

Marmut Merah Jambu adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebagian besar dari tiga belas tulisan ngawur di dalamnya adalah pengalaman dan observasi Raditya dalam menjalani hal paling absurd di dunia: jatuh cinta.

cooltext1660176395

Sebuah rasa yang dirasakan setiap makhluk hidup di dunia, termasuk manusia. Sebuah pengalaman hidup manusia yang mungkin tak hanya sekali bagi sebagian orang. Sebuah rasa yang tidak dapat dipikirkan oleh otak, namun dapat dirasakan oleh hati. Apakah rasa itu? Cinta. Raditya Dika mencoba untuk mengangkat sebuah perasaan universal sejuta umat dalam novel ketiganya. Itulah sebabnya judul novel kali ini menyinggung merah jambu. Sebuah warna yang khas dengan peasaan cinta, terlebih pada pengalaman jatuh cinta.

Novel dibuka dengan pengalaman Dika – dan beberapa temannya – yang jatuh cinta kepada seorang gadis saat masih duduk di bangku SMP. Layaknya remaja ABG yang mash awam dengan keberanian mengungkapkan perasaan, mereka bertiga hanya bisa melakukan hal yang umum dilakukan: jatuh cinta diam-diam. Mulai dari memandang dari kejauhan, menelpon tapi tidak bersuara, dan lain lain.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya melamun dengan tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali semua perbuatan yang tidak mereka lakukan dulu. (hal. 14)

Bab pertama ini sukses besar menyindir dan menusuk hati saya dalam dunia perjombloan kronis yang hanya bisa memendam perasaan kepada orang yang disukai. Saya tidak menampik bahwa yang dituliskan Dika dalam berbagai kalimat di bab pembuka ini sungguh benar adanya. Tapi ternyata Dika tidak larut dalam kata dan kalimat puitis mengharu-biru. Ia tetap dengan celetukan kocak dan humor khas Indonesia dalam beberapa kisah selanjutnya.

Kisah yang berjudul “Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari” adalah salah satu kumpulan tips yang diberikan Dika dalam menghadapi kaum perempuan. Di bagian ini semuanya dikemas dengan lucu namun masih terselip beberapa fakta yang benar adanya. Dibagian ini kemungkinan banyak para gadis dan non-gadis diluar sana yang tersindir dengan tulisan Dika yang ini. Namun mungkin para kaum adam juga sedikit merasa makjleb saat membaca tips ini.

Cowok menjadi budak cewek pas malem minggu. Karena sebagai seorang cowok, kita diharuskan untuk selalu menghabiskan malam minggu bersama pacar kita. Dan ketika kita punya rencana lain, si cewek akan membuat cowoknya memilih antara rencana lain itu atau dirinya. (hal. 100)

Kisah terakhir yang ada di novel ini berjudul sama seperti cover, yaitu “Marmut Merah Jambu”. Disini dibeberkan apa latar belakang Dika menulis novel yang mengangkat tema jatuh cinta, terutama tentang pengalamannya jatuh cinta-pacaran-putus yang ia alami selama ini. Alih-alih meletakkan bagian ini di awal novel, namun Dika menempatkannya di akhir. Sehingga kisah ini berhasil menutup rangkaian cerita novel di buku ini dengan sangat manis.

Gue memulai buku ini dengan berusaha memahamiapa itu cinta melalui introspeksi kedalam pengalaman-pengalamangue. Dan di halaman terakhir ini, gue merasa…tetap gak mengerti, sama seperti gue memulai halaman pertama. (hal. 218)

Pada dasarnya, novel ini menjelaskan sebuah perasaan jatuh cinta yang selalu dirasakan setiap orang minimal sekali dalam hidupnya. Dengan adanya novel ini, Dika berharap agar pembaca bisa lebih mengerti esensi jatuh cinta serta dapat memahami mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam jatuh cinta. Termasuk mengetahui bahwa jatuh cinta tak hanya selalu berbunga-bunga, namun bisa pula pahit tak terkira. Tetapi setiap hal tersebut bisa dilihat secara positif dengan sentuhan humor.

Menurut saya pribadi, tulisan Dika tidak ada yang membosankan. Maksudnya tiap buku ada hal kocak lain yang disajikan, sehingga ciri khas dan sensasi yang berbeda bisa dirasakan ketika membacanya alias tidak hanya sekedar berlalu begitu saja. Ketika membaca judul buku ini yaitu marmut merah jambu, bisa saya tebak isinya tidak jauh-jauh dari cinta. Di buku ini, tiap cerita ada semacam benang merah yang menghubungkan, yaitu jatuh cinta dan segala hal merah jambu itu tadi. Ada kalanya cerita tersebut dibuka dengan konyol, namun lambat laun malah mengharu biru.

Saya rasa kisah yang berjudul “Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari” agak kurang pas bila dibandingkan dengan kisah yang lain. Saya sesungguhnya suka sekali dengan part ini. Tetapi maksud saya, bagian ini terkesan meng-underestimate cewek (dan cowok juga sih). Bukankah dalam jatuh cinta (dan proses selanjutnya) tidak perlu berkeluh kesah dengan yang ada? Katanya cinta, kok masih menggerutu aja.

Selain itu saya rasa Dika sangat tidak cocok dengan genre yang menye-menye seperti yang diusung novel ini. Image yang saya berikan kepadanya adalah sosok yang gokil dan kocak dalam bercerita. Saya sangat bersyukur sense of humor yang tersaji di buku ini masih mendominasi dibandingkan romansanya. Sehingga tidak mengurangi minat saya untuk menghabiskan novel ini hingga bagian terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

ga-gi-gu giGi

covergagigu

Judul: ga-gi-gu giGi

Tagline: Dunia Dukun Pergigian, Kisah Unjuk Gokil Mahasiswa Kedokteran Gigi

Penulis: Lia Indra Andriana

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah halaman: 168 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9786028260084

cooltext1660180343

*kisah-kisah gokil bikin meler… tentang rahasia dunia pergiGian yang bikin ngakak*

inilah daftar kelakuan unik + menarik dari pasien-pasien yang datang ke klinik FKG:

  1. Setelah duduk di dental chair, langsung buka mulut. Padahal operatornya (mahasiswa/dokter) saat itu mau tanya-tanya dulu apa… *hobi, shio, dan ukuran sepatunya, ehh maksudnya apa keluhannya.
  2. Bahkan sebelum si operator selesai melakukan tanya jawab tentang keluhannya itu (kapan sakitnya, udah minum obat belum, gimana rasa sakitnya, dll), si pasien yang kebanyakan enggak sabar langsung nunjuk-nunjuk ke giGinya yang bermasalah: ’Ini lho dok *suara ga jelas soalnya sambil buka mulut, yang ini’.
  3. Menelan air yang seharusnya dibuat kumur. *halah, tau aja klo harga minuman sekarang lagi mahal :)
  4. Duduk menyilangkan kaki di dental chair sambil ngedip-ngedipin mata. Kayak playboy katro siap maen catur di pos hansip.
  5. Dandan sebelum foto. Dikiranya ini mau photobox, padahal kan foto rontgen giGi doang :)

cooltext1660176395

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “gigi”? Kalo saya sih, teringat sang gigi emas yang harganya mahal *uhuk*. Lantas, ketika melihat buku yang mengangkat tentang dunia sang maestro gigi a.k.a (calon) dokter gigi, saya tertarik sekali. Apalagi genre yang diangkat adalah nonfiksi komedi. Saya penasaran hal konyol apa yang bisa terjadi dalam dunia dokter gigi yang terkesan mahal (biayanya) itu.

Novel ini mengangkat dunia para calon alias mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang serba konyol dan mengundang tawa. Ada 35 cerita unik menggelitik yang penulis hadirkan dalam masa-masa ia menempuh pendidikan dokter spesialis itu. Karena tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, jadi saya ambil beberapa yang mengesankan saja ya.

Adalah kisah nomer 3 berjudul “FKG: Fakultas Keliling Gang”. Ketika membaca judul ini, kening saya berkerut heran. Apakah saat ini FKG sudah berganti nama berdasarkan SK Menteri Kesehatan? Oh ternyata tidak. Jadi disebutkan demikian dikarenakan para mahasiswa FKG yang sedang praktik diwajibkan mencari calon pasien yang bermasalah dengan giginya. Salah satu caranya dengan berkeliling gang demi gang perkampungan untuk mencari calon pasien. Mudah? Tentu tidak. Ternyata orang yang bermasalah dengan giginya itu sangat sedikit. Kalaupun ada, pasti jaim enggan diperiksa (gratis) sok-sok sehat-sehat aja.

Hopeless deh… Padahal jelas-jelas gigi depannya lubang item-item. Ini mah sama aja dengan pencuri lagi pegang barang curian tapi enggak ngaku. (Hal. 23)

Gilee niat bener gitu lho. Beda dengan dokter umum yang saya rasa lebih beragam penyakit yang dikeluhkan sehingga lebih mudah dapet pasien. Lha ini, nyari pasien yang bermasalah dengan gigi, terlebih ketidakpercayaan dengan status yang masih mahasiswa, membuat sulitnya dobel.

Yang cukup menarik lagi adalah kisah kesepuluh berjudul “Dia Naksir Enggak, Ya? Bawa ke Dokter!!!”. Baiklah saya akui saya terkesan dengan ini karena bisa menjadi salah satu tips bagi saya yang jomblo untuk mengetahui gebetan saya demen ama saya atau enggak. Salah satunya dengan dibawa ke dokter (dalam hal ini dijelaskan klinik FKG sebagai contoh). Dibaca-baca sih, masuk akal juga. Tapi masalahnya, bagaimana saya ngajak gebetan yang saya sendiri juga masih malu-malu kucing untuk dibawa ke dokter.

Bila dijelaskan secara medis, begini: saat seseorang memiliki perasaan naksir, kerja jantung akan meningkat karena adanya produksi adrenalin yang lebih. (hal. 53)

Tuh kan berguna banget penjelasannya. Bisa segera dipraktekin nih *uhuk*. Berbagai kisah lainnya juga cukup menarik untuk diikuti. 33 cerita yang lain rata-rata mengenai pengalaman menggelikan ketika sedang ko-ass, ujian praktik dengan PPDGS, dan trivia-trivia terselubung tentang dunia pergigian.

Di bagian awal buku, penulis sudah menegaskan bahwa penulisan “gigi” diubah menjadi “giGi” untuk menghindari adanya salah persepsi dengan group band Gigi yang telah beken di Indonesia. Jadi emang bukan gara-gara typo. Secara umum tidak ada masalah sih untuk penulisan.

Melihat covernya yang unyu, saya langsung kepincut melihat gigi-gigi yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Ada gigi susu, gigi berkawat, karang gigi, hingga gigi emas. Alangkah gembiranya jika gigi saya bisa seunyu cover itu *atau malah menyeramkan*

Nilai plus yang bisa saya kemukakan adalah benar-benar bisa membuka mata saya bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia ini *asek*, termasuk para calon dokter gigi. Saya sih menganggap image mereka itu pinter, rajin, cerdas, dan serius. Tetapi setelah membaca lika-liku kehidupan mahasiswa kedokteran gigi di buku ini, kayaknya di FKG sering dapet kejadian konyol deh hehehe.

Selain itu, saya mengapresiasi sekali informasi-informasi perihal kedokteran gigi (dan istilah medis) yang sangat-sangat berguna bagi orang awam seperti saya untuk memahaminya. Setidaknya, saya tidak perlu bayar kuliah puluhan juta tiap semester untuk mengetahui istilah dan teknis pelaksanaan mengenai dunia kedokteran.

Saat membaca keterangan di bagian belakang buku, tertulis ini merupakan novel non fiksi bergenre komedi. Aduh, saya langsung pesimis. Bukannya apa-apa, saya selalu cenderung gak yakin dengan penulis perempuan yang mengusung genre komedi. Saya rasa pasti akan lucu yang nanggung alias bikin ketawa-tapi-bingung-gak-jelas. Tapi akhirnya saya tetap membeli novel ini untuk membuktikan bahwa underestimate saya keliru. Dan ternyata…benar.

Memang sih disini komedi atau hal konyol yang disajikan cukup banyak. Sampai 35 cerita lho dalam halaman yang kurang dari 200. Itu merupakan jumlah bab yang banyak sekali menurut saya. Benar saja, setiap cerita “hanya” disajikan rata-rata tiga hingga empat halaman. Paling banyak enam halaman dan paling sedikit dua halaman saja. Belum lagi gara-gara karikatur tiap cerita yang memakan hampir satu halaman sendiri, menjadi penggalan kisah yang sangat nanggung.

Sehingga sungguh amat disayangkan, saya tidak bisa menikmati kelucuan novel ini. Karena ya itu tadi, perempuan itu sebagian besar ketika menulis genre komedi malah akan membuat garing (ini murni opini saya lho). Jadi ya gitu, kurang lebih satu jam saya baca, paling mentok saya cuman nyengir. Itupun bisa dihitung jari.

Akhir kata, buku ini cocok dibaca semua umur (yang sudah bisa membaca tentunya) karena humornya yang ringan (terlalu ringan sampai garing kalo menurut saya) serta beragamnya cerita sehingga tidak membosankan. Dari buku ini sedikit banyak juga bisa memberikan gambaran mengenai dunia perkuliahan Fakultas Kedokteran Gigi yang tidak hanya kaku dan serius, tapi bisa menghadirkan pengalaman menggelikan.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus