PENGAPLIKASIAN PENELITIAN KOMUNIKASI BERDASARKAN PARADIGMA

PUTRI AINUN FIRDAUS

ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Paradigma dapat diartikan sebagai cara pandang, perspektif, dan pendekatan. Perbedaan penggunaan paradigma mempengaruhi penggunaan metode dan alat dalam penelitian komunikasi. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan mengenai definisi paradigma, perbedaan positivistik, konstruksivistik, dan kritis berdasarkan perbedaan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Selain itu, penulisan artikel ini juga menjelaskan mengenai bagaimana pengaplikasian dari paradigma-paradigma tersebut dalam penelitian komunikasi.

PARADIGMA KOMUNIKASI

Menurut Ardial H. (2014), terdapat beberapa konsep paradigma, yaitu :

  1. Multiparadigma

Paradigma diperkenalkan pertama kali oleh Thomas Kuhn (Zamroni dalam Ardial, 2014). konsep paradigma yang diperkenalkan oleh Khun dalam buku “TheStructure of Scientific Revolution” (1962). Khun menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan terjadi karena revolusi, bukan terjadi secara kumulatif. Ilmu pengetahuan pada periode tertentu didominasi oleh paradigma, yaitu pandangan mendasar mengenai pokok masalah, tetapi para ilmuan pada saat itu kurang menganggap serius masalah penyimpangan-penyimpangan (anomalies) dari paradigma tersebut. Setelah terlalu banyak penyimpangan, maka akan ada revolusi pengetahuan dan muncul paradigma baru sebagai pemecah persoalan. Jadi pengertian paradigma menurut Khun adalah suatu model untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Masterman dalam Ardial (2014)  merumuskan tiga tipe paradigma, yaitu paradigma metafisik, paradigma sosiologis, dan paradigma kontruk. Menurut Ritzer dalam Ardial (2014), paradigma merupakan pandangan mendasar yang bersumber dari para ilmuan tentang hal yang menjadi persoalan yang harusnya dipelajari sebagai disiplin ilmu pengetahuan.

Menurut Ardial (2014), paradigma adalah suatu jendela yang digunakan peneliti untuk melihat bagaimana dunia. Peneliti dapat memahami dan menafsirkan sesuatu secara objektif yang didasari oleh suatu acuan berupa asumsi-asumsi, konsep-konsep, dan kategori-kategori khusus. Perbedaan paradigma membuat berbedaan kesimpulan antara satu peneliti dengan peneliti yang lain.

Disiplin ilmu pengetahuan sosial dapat menggunakan berbagai paradigma atau disebut multiparadigma. Setidaknya terdapat tiga paradigma, yaitu paradigma faktasosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Menurut Ardial (2014), terdapat kelebihan dan kekurangan paradigma. Kelebihan paradigma adalah dapat memungkinkan kepada kita untuk segera bertindak. Sedangkan kekurangan paradigma adalah masih terdapat asumsi tersembunyi di luar paradigma. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa paradigma penelitian merupakan model atau pandanga atau pola pikir yang dapat menjelaskan berbagai variabel yang diteliti, serta menjelaskan hubungan antar masing-masing variabel. Paradigma membantu penelitian berjalan cepat dan terarah.

  1. Hubungan antara paradigma, teori, dan metodologi

Ardial (2014) menjelaskan hubungan antara paradigma, teori, dan metodologi adalah ketika seorang meneliti harus memulai dari suatu paradigma, maka peneliti akan mengtahui pendekatan apa yang akan digunakan, sehingga paradigma menjadi roh pendekatan teoritis selama penelitian berlangsung. Pemilihan paradigma berpengaruh terhadap teori yang akan digunakan terutama grand theory. Pemilihan grand theory akan mempengaruhi jenis metode penelitian yang akan digunakan.

  1. Perspektif komunikasi

Kajian komunikasi selalu diwarnai dengan multiparadigma (Ardial, 2014). Mengkaji komunikasi harus konsisten terhadap perspektif apa yang dianut. Beberapa perspektif komunikasi, yaitu: 1. Perspektif Mekanistis. Perspektif mekanistik adalah perspektif paling lama, paling banyak, dan paling luas dianut sampai saat ini. Menurut Trenholm dalam Ardial (2014), perspektif mekanistik mengandung tiga asumsi, yaitu: pertama, fungsi mekanistik berjalan linier dan satu arah. Kedua, perspektif ini mengandung arti unsur-unsur dari sistem mekanistik adalah unsur-unsur material yang terdapat dalam waktu dan ruang. Ketiga, cara yang paling efektif dalam melakukan penelitian adalah dengan memisahkan dan mengamati setiap subunitnya. 2. Perspektif Psikologis. Asumsi perspektif psikologis yang pertama adalah manusia bergerak bebas dalam medan stimulus yang mereka serapdan hasilkan. Kedua, persepsi terhadap stimulus yang muncul bersifat selektif dan organisme mempunyai pilihan dalam memberikan respons terhadap stimulus yang mereka pilih. Ketiga, manusia dapat memberikan respons terhadap stimulus secara selektif dan mampu memberikan respon di masa depan atas pengalaman di masa lalu. (Ardial, 2014). 3. Perspektif Interaksionis. Ardial (2014) menjelaskan bahwa asumsi dari perspektif interaksionis adalah komunikasi berlangsung melalui penciptaan simbol-simbol bersama. Komunikasi dipahami sebagai suatu sistem perilaku. Fokus kajiannya berupa perilaku interaktif, sistem, eksistensi, struktur, dan fungsi. Perspektif Pragmatis. Perspektif pragmatis memberikan fokus pada pola komunikasi yang digunakan oleh individu untuk saling berinteraksi dan mempengaruhi (Moris dalam Ardial, 2014). asumsi pertama dari perspektif pragmatis adalah hubungan komunikasi adalah unsur dari sistem. Kedua, perilaku tidak dihasilkan oleh individu, melainkan oleh pelaku lain. Ketiga, untuk memahami suatu sistem komunikasi, harus dilakukan pengamatan mengenai rangkaian perilaku dan didapatkan pola-pola yang menandai sistem tersebut. Penelitian menggunakan perspektif pragmatis masih terbilang baru  dan masih agak jarang. Sebagai suatu teori, perspektif ini mencerminkan aliran yang paling baru dalam studi komunikasi manusia.

FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN

Filsafat dan ilmu mempunyai titik singgung dalam mencari kebenaran. Ilmu bertugas melukiskan dan filsafat bertugas menafsirkan fenomena semesta, kebenaran berada disepanjang pemikiran, sedangkan kebenaran ilmu berada disepanjang pengalaman. Tujuan befilsafat menemukan kebenaran yang sebenarnya (Bahrum, 2013).

Syukurdi (2015) menyatakan bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan memiliki kaitan yang erat dan tak terpisahkan. Filsafat adalah mother of science atau ibu segala ilmu. Segala ilmu terapan yang ada dan berkembang saat ini lahir dari pemikiran-pemikiran filsuf yang kemudian melahirkan berbagai macam cabang ilmu.

Bahrum (2013) menyatakan bahwa ilmu berhubungan dengan landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membahas apa yang ingin diketahui mengenai teori tentang “ ada “ dengan perkataan lain bagaimana hakikat obyek yang ditelaah sehingga membuahkan pengetahuan. Epistemologi membahas tentang bagaimana proses memperoleh pengetahuan. Dan aksiologi membahas tentang nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Dengan membahas ketiga unsur ini manusia akan mengerti apa hakikat ilmu itu.

KAJIAN FILSAFAT DALAM ILMU KOMUNIKASI

Menurut Kriyantono (2012), kajian filsafat dalam ilmu komunikasi adalah sebagai berikut:

  1. KAJIAN ONTOLOGI
  • Actional Theory atau Rules Theory. Individu menciptakan makna, mempunyai maksud dan mempunyai atau menentukan pilihan nyata. Orang-orang berperilaku berbeda dalam situasi berbeda karena aturan berubah dari satu situasi ke situasi lainnya. Perilaku manusia merupakan hasil atau akibat dari pilihan bebas. Orang membuat aturan sosial yang mengatur interaksi mereka. Bukan “covering laws” karena mereka menilai bahwa perilaku individu tidak seluruhnya ditentukan oleh lingkungan. Disebut teori-teori yang fokus pada kepentingan praktis (practical necessity). Keberadaan manusia tidak dapat diukur dengan pendekatan ilmu eksak, karena manusia dianggap berbeda dengan fenoena alam. Hubungan manusia dan realitas lebih bersifat alami dan berdasarkan pengalaman subjektif individu sehingga persepsi individu yang khas dan berbeda-beda perlu dikaji.
  • Nonactional Theory atau Covering Laws. Perilaku pada dasarnya ditentukan oleh dan respon pada biologi dan lingkungan. “Covering Laws” biasanya dipandang cocok untuk tradisi ini; interpretasi aktif oleh individu tidak dianggap. Ada relasi yang terpadu antara dua atau lebih objek. Contoh: ketika A terjadi maka B terjadi. Ini adalah pernyataan sebab-akibat yang menjelaskan hubungan antara A dan B. Disebut juga teori-teori yang fokus pada sebab?akibat (causal necessity). Proses komunikasi, dengan demikian, dipahami sebagai proses sebab-akibat, ada peristiwa yang didahului peristiwa lainnya.
  • System Theory. Teori-teori sistem menegaskan bahwa perilaku manusia, termasuk proses komunikasi, merupakan bagian dari sebuah system. Contoh: keluarga adalah system dari relasi keluarga, lebih dari sekedar anggota-anggota secara individual. Pernyataan ini menjelaskan kompleksitas polapola komunikasi dalam keluarga. Fokus pada hubungan logis antara komponenkomponen system yang memiliki baik causal ataupun practical necessity dan merupakan pendekatan teoritis yang paling umum.
  1. KAJIAN EPISTEMOLOGI
  • Beberapa ilmuwan percaya bahwa semua pengetahuan muncul dari pengalaman. Kita mengobservasi dunia dan karena itu mengenalnya. Tipe “pengetahuan” ini muncul dari mekanisme berpikir yang inheren dalam diri dan persepsi. Contoh: bukti kuat menyatakan bahwa anak-anak tidak belajar bahasa secara keseluruhan dari kegiatan mendengarkan orang bicara. Tetapi, anak-anak membangun bahasa dengan cara menggunakan “innate models” (bawaan lahir) untuk mengetest apa yang mereka dengar.
  • Mentalisme (rationalisme): pengetahuan timbul dari kekuatan pikiran manusia. Posisi ini menempatkan kepercayaan fundamental (ultimate faith) pada penalaran manusia. Empirisme: menyatakan bahwa pengetahuan timbul dalam persepsi kita saat mengalami dunia dan melihat apa yang sedang terjadi. Konstruktivisme: menyatakan bahwa orang-orang menciptakan pengetahuan agar berfungsi pragmatis dalam kehidupan. Orang memproyeksikan dirinya kepada apa yang dialaminya. Kaum konstruktivis percaya bahwa fenomena dalam dunia dapat dikonseptualisasikan ke dalam berbagai cara, pengetahuan menjadi sesuatu yg berperan penting bagi seseorang untuk merekayasa dunia. Konstruktivisme sosial: menyatakan bahwa pengetahuan adalah produk dari interaksi simbolik dalam kelompok?kelompok sosial. Dengan kata lain, realitas adalah sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dan merupakan produk kehidupan kelompok dan budaya.
  • Para kaum holistik menyatakan bahwa pengetahuan sangat berhubungan dan bekerja sebagai sebuah sistem, dibuat dari generalitas dan pemahaman yang tidak dapat dibagi-bagi. Kaum Analis percaya bahwa pengetahuan muncul dari pemahaman tentang bagaimana bagian-bagian beroperasi secara terpisah. Mereka tertarik dalam memisahkan, mengkategorikan dan menganalisis komponen-komponen yang berbeda yang bersama-sama membentuk pengetahuan.
  • Beberapa filosof percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui sesuatu kecuali kita menyatakannya dengan jelas. Pengetahuan dengan demikian dilihat sebagai sesuatu yang eksplisit. Beberapa yang lain mengklaim bahwa pengetahuan adalah tersembunyi, bahwa orangorang mengoperasikan pengetahuan pada sensibilitas dasar yang tidak disadari dan mereka mungkin tidak dapat mengeskpresikannya. Pengetahuan yg demikian dikatakan sebagai tacit (bawah sadar).
  1. KAJIAN AKSIOLOGI
  • Ilmuwan klasik menganggap bahwa teori-teori dan riset adalah bebas nilai, ilmu pengetahuan bersifat netral, berupaya mendapat fakta sebagaimana tampak dalam dunia nyata. Jika pandangan pribadi ilmuwan tercampur, maka menghasilkan ilmu yg bias.
  • Posisi lain dalam isu ini adalah ilmu pengetahuan adalah tidak bebas nilai. Kaum tradisional menganggap penelitian harus dilakukan tanpa campur tangan peneliti sehingga dapat akurat. Tetapi, muncul kritik bahwa tidak ada metode yang benar-benar bebas dari distorsi. Contoh: metode eksperimen selalu memengaruhi bagaimana partisipan bereaksi yang berbeda dalam reaksi keseharian mereka.
  • Para ilmuwan tradisional menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab terhadap caracara penggunaan pengetahuan ilmiah. Sementara yang lain menganggap bahwa pengetahuan ilmiah sangat bersifat instrumentalis atau mempunyai tujuan. Pengetahuan dapat dikendalikan dan menguatkan penyusunan kekuatan dan kuasa di masyarakat. Karena itu ilmuwan bertanggung jawab membantu perubahan di masyarakat.

PARADIGMA PENELITIAN KOMUNIKASI

Paradigma penelitian adalah sistem kepercayaan dasar atau pandangan dunia yang membimbing seorang peneliti. Fungsi paradigma dalam penelitian tidak hanya dalam hal memilih metode, namun juga dalam menentukan cara-cara fundamental secara ontologis dan epistemologis. Guba dan Lincoln membagi empat kategori paradigma penelitian sosial (terutama penelitian kualitatif), yakni, positivisme, post-positivisme, teori kritis, dan konstruktivisme (naturalistik) (Denzin dan Lincoln, dalam Halik, 2018). Keempat paradigma tersebut mewarnai teori dan penelitian ilmu-ilmu sosial yang berkembang hingga saat ini. Perbandingan dan perbedaan di antara paradigma tersebut mendorong dinamika kemajuan ilmu sosial secara khusus, terutama dalam menjawab perkembangan ilmu-ilmu eksakta dengan kemajuan teknologinya.

Margaret dalam Halik (2018) mengidentifikasi tiga jenis pendekatan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, yakni positivistis-naturalistis, humanistisinterpretatif, dan pendekatan yang bersifat evaluatif. Meskipun dikenal berbagai pendekatan ilmu-ilmu sosial, namun pendekatan penelitian humanis-interpretiflah yang dianggap memiliki paradigma komunikasi. Pendekatan positivistis menggunakan paradigma kerja. Pendekatan evaluatif merupakan pendekatan khusus untuk ilmu-ilmu tindakan yang kritis-emansipatoris, penghayatan, prosesproses subjektif, dan makna.

Habermas dalam Halik (2018) memperkenalkan praksis “komunikasi,” dalam penelitian sosial yang dapat mengungkapkan berbagai hal menyangkut hubungan antarmanusia sebagai hubungan antarsubyek sosial untuk mencapai pemahaman timbal balik. Praktek-praktek sosial, politik, dan kultural dalam masyarakat, dipandang termasuk dalam praksis komunikasi. Penelitian dengan orientasi praksis mengacu pada tingkah laku, tindakan, perbuatan-perbuatan, pelaksanaan-pelaksanaan, dan kegiatan-kegiatan manusia. Para pelaku sosial berinteraksi, melangsungkan diskursus, dan menggunakan sarana-sarana simbolis untuk saling memahami, seperti bahasa, tindakan, mimik, isyarat, karya kultural, dan seterusnya.

Penelitian sosial berfungsi menjelaskan, membenarkan, mengeritik, atau memahami makna atas realitas sosial yang ada. Tindakan-tindakan manusia yang bersifat simbolik menunjukkan dinamika yang sangat cepat dan plural. Diperlukan cara pandang yang memungkinkan untuk menjelaskan dinamika tersebut secara menyeluruh dan utuh. Bagi Habermas, paradigma evaluatif-kritislah yang paling memungkinkan untuk mengungkapkan fakta-fakta sosial secara komprehensif dan memberikan penjelasan yang menempatkan manusia pada posisi yang selayaknya. Pendekatan evaluatif menyangkut sejenis metode khusus bagi ilmu-ilmu tindakan yang kritis-emansipatoris (Halik, 2018).

PENGERTIAN MASING-MASING PARADIGMA

  1. PARADIGMA POSITIVISTIK

Paradigma positivistik bisa dikatakan sebagai paradigma tardisi lama bersifat tradisional. Untuk memahami paradigma positivistik tidak hanya berada pada displin analitis melainkan pada aliran sintesis yang bertujuan untuk menghubungan fenomena-fenomena sosial yang terjadi. Secara historis bahwa paradigma positivistik muncul sejak abad ke 19 yang dibawa oleh Auguste Comte pada teori hukum tiga tahap yaitu teologis, metafisik dan positivistik. Pada pola pemikiran positivistik mengalami kemanjuan dibawa dan dikembangkan oleh Emile Durkehim pada kajianya yaitu fakta sosial (Durkheim, dalam Irwan, 2018). Pengembangan paradigma positivistik Durkehim juga menjelaskan bahwa suatu ilmu yang mandiri harus mampu menganalisis dan mendefinisikan lahan pengamatan serta mampu untuk menyusun teori sosiologi itu sendiri. Pemahaman tersebut bagi Durkehim berada pada konsep fakta sosial. Fakta sosial yang dimaksud oleh

Durkehim bahwa menggunakan pada konsep status perkawinan, usia, pendapatan ekonomi, agama dan sebagainya. Kajian sosiologi fakta sosial yang dimaksud untuk melihat variabelvaribel atau konsep-konsep yang memiliki ciri-ciri tentunya bisa diukur oleh sipeneliti. Bagi Durhkeim bahwa data yang telah diobservasi mampu untuk menjadi kriteria objek dan mampu untuk diukur secara ilmiah (Irwan, 2018).

Selain itu, Durkehim dalam melihat paradigma positivistik bahwa terlihat pada teorinya yaitu bunuh diri. Konsep bunuh diri yang dikemukakan oleh Durkehim bahwa bagaimana caranya kasus bunuh diri dihubungkan dengan kasus yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Sehingga Durkehim melihat kasus bunuh diri dari pada faktor kondisi sosial secara kolektif yang menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri dan menganalisis ada 4 jenis bunuh diri yang dikemukakan oleh Durkehim. Keempat faktor tersebut menurut Durkehim ada dua fakta sosial yang menyebabkan bunuh diri yaitu sistem integerasi dan regulasi. Untuk pemahaman tersebut Durkehim mengatakan integrasi merujuk kepada kuat atau lemahnya hubungan antar individu dalam kehidupan masyarakat dan Durkehim menjelaskan semakin tinggi tingkat integrasi maka semakin rendah tingkat bunuh diri.

Menurut Irwan (2018) paradigma positivistik mengambarkan fenoemena yang terjadi dalam kehidupan tidak terbatas dan untuk menyederhankan gejala sosial yang terjadi maka diperlukan statistik sebagai landasan dalam menyimpulkan data yang diperoleh di lapangan ketika penelitian berlangsung. Paradigma postivistik menyatakan kriteria kebenaran dalam penelitian terdapat diaspek validitas, reabilitas, dan objektivitas. Pada aspek validitas internal sangat terkait dengan alat atau insrumen yang digunakan oleh peneliti untuk melakukan pengumpulan data dan mengkaji gejala sosial. Alat sebagai landasan dalam menentukan kegiatan penelitian dari hasil yang bersifat keseluruhan atau generalisasikan dari aspek eksternal ketika penelitian konsistensi dari instrumen penelitian yang dilakukan selama proses penelitian. Untuk itu, tingkat selanjutnya pada paradigma positivistik bahwa objektif mengambarkan dengan menjaga jarak dan objek penelitian sehingga data yang didapatkan benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara pemikiran sehat.

Paradigma positivistik terus mengalami peningkatan dan keterbukaan terhadap data yang telah dapat dilapangan. Pokok utama dalam memahami paradigma positivistik yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menjelaskan fenoemna yang terjadi. Tentunya berlandasan kepada keteraturan dan perubahan dalam masyarakat untuk menghasilkan suatu ilmu pengetahuan ilmiah yang baru dari kecamata kajian sosiologi. Penyusunan paradigma tersebut berlandasan pokok permasalhan yang akan dikemukakan. Fenomena yang diasumsikan dapat menjawab persolan dalam perspektif kajian sosiologi tentunya berada pada paradigma positivistik.

  1. PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK

Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana (Erianto, 2011). Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara.

Konsep mengenai konstruktivisme diperkenalkan oleh sosiolog interpretif, Peter L. Berger bersama Thomas Luckman. Paradigma konstruktivisme memandang realitas kehidupan sosial bukanlah sebagai realitas natural, tetapi hasil dari konstruksi. Konsentrasi analisis pada paradigma konstruktivis adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi dan dengan cara apa konstruksi tersebut dibentuk (Eriyanto, 2011).

Sejarah konstruktivisme dapat dirunut pada teori Popper yang membedakan alam semesta ke dalam tiga bagian. Pertama, dunia fisik atau keadaan fisik. Kedua, dunia kesadaran atau mental atau disposisi tingkah laku. Ketiga, dunia dari isi objektif pemikiran manusia, khususnya pengetahuan ilmiah, puitis, dan seni. Bagi Popper, objektivisme tidak dapat dicapai pada dunia fisik, melainkan selalu melalui dunia pemikiran manusia. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi konstruktivisme yang tidak hanya menyajikan batasan baru mengenai keobjektifan, melainkan juga batasan baru mengenai kebenaran dan pengetahuan manusia (Erianto, 2011).

Konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epistemologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material. Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Konstruktivisme menolak pengertian ilmu sebagai yang “terberi” dari objek pada subjek yang mengetahui. Unsur subjek dan objek sama-sama berperan dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Dengan demikian paradigma konstruktivis mencoba menjembatani dualisme objektivisme-subjektivisme dengan mengafirmasi peran subjek dan objek dalam konstruksi ilmu pengetahuan (Erianto, 2011).

  1. PARADIGMA KRITIK

Schleiermacher dan Dilthey (dalam Halik, 2018) menggariskan bahwa untuk dapat mengungkap realitas masyarakat secara utuh, peneliti perlu menggunkan cara empati psikologis, yakni peneliti harus mampu masuk ke dalam isi teks-sosial sampai “mengalami kembali” pengalaman-pengalaman pelaku sosialnya. Di samping itu juga mempelajari bagaimana proses teks sosial tersebut terbentuk. Bagaimana seorang peneliti menemukan kaitan-kaitan antara proses-proses mental pelaku sosial dan bagaimana semua itu diproduksi dalam bentuk pranatapranata atau teks sosial. Di samping itu, kesenjangan waktu setiap teks sosial juga perlu mendapat perhatian peneliti. Menurut Gadamer, teks-sosial harus ditafsirkan secara kreatif produktif dengan keterbukaan terhadap masa kini dan masa depan. Peneliti sosial tidak hanya memproduksi teks-sosial, tetapi juga menafsirkannya secara kreatif.

Terdapat paling tidak tiga unsur hakiki dari pelaku sosial menurut Halik (2018) yang terkandung dalam teks-sosial, yakni: (1) Pengalaman, merupakan unsur-unsur subjektif dalam penghayatan internal pelaku sosial, misalnya hasrat, cita-cita, harapan, pengertian, pandangan, gerak hati, dan seterusnya (2) Ungkapan, merupakan ekspresi sosial yang berwujud tingkah laku, gerak-gerik, pranata-pranata, karya seni, tulisan, organisasi, dan seterusnya. (3) Pemahaman, menyangkut pemahaman pelaku teks-sosial dan pemahaman peneliti. Pemahaman bersifat dialektis dan merupakan inti dari penafsiran hermeneutis yang juga merupakan inti dari praksis komunikasi.

Tradisi teori kritis memberi kontribusi penting bagi perkembangan penelitian komunikasi dewasa ini. Menurut Ibrahim (dalam Halik, 2018), penelitian-penelitian komunikasi kritis menunjukkan konsepsi yang berbeda mengenai antarrelasi berbagai elemen dalam kehidupan sosial, seperti masyarakat, negara, pasar (ekonomi), komunikasi, dan budaya. Penelitian yang menggunakan tradisi kritis merujuk pada paradigma pemikiran kritis yang dikembangkan dalam berbagai bidang keilmuan. Meskipun demikian, menurut Littlejohn dan Foss (dalam Halik, 2018), variasi pemikiran kritis memiliki tiga karakter utama, yakni: Pertama, tradisi kritis berusaha memahami sistem baku yang diterima masyarakat begitu saja (taken-for-garanted), termasuk struktur kekuasaan dan kepercayaan atau ideologi yang dominan dalam masyarakat. Namun, tradisi kritis memberi perhatian utama pada kepentingan siapa yang dilayani oleh struktur kekuasaan yang ada. Tradisi kritis mempertanyakan kelompok masyarakat mana yang boleh dan tidak dibolehkan untuk berbicara, apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan, dan pihak mana yang memeroleh keuntungan dari sistem yang berlaku dalam masyarakat.

Kedua, tradisi kritis tertarik untuk menunjukkan adanya suatu bentuk penindasan sosial dan memberi alternatif suatu pengaturan kekuasaan. Tradisi kritis berupaya mendukung emansipasi dan terwujudnya masyarakat yang bebas dan terpenuhi kebutuhannya. Tradisi kritis memahami adanya penindasan dan mengambil langkah untuk menghapus ilusi dan janji-janji yang diberikan oleh suatu ideologi atau kepercayaan dan bertindak untuk mengatasi penindasan kekuasaan.

Ketiga, tradisi kritis berusaha memadukan antara teori dan tindakan. Teori yang bersifat normatif hendaklah dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat untuk mendorong terjadinya perubahan yang lebih baik. Penelitian dalam tradisi kritis berupaya menunjukkan persaingan dan benturan antar kepentingan serta berupaya mengatasi benturan konflik kepentingan tersebut dengan lebih mengedepankan kepentingan kelompok yang marginal dalam masyarakat. Patti Lather memandang bahwa ilmu sosial kritis tidak hanya memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan dan distribusi resources, tetapi juga berupaya membantu menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam kehidupan. Di samping itu, menurut Lather, ilmu sosial kritis memiliki keterikatan moral untuk mengeritik status quo dan membangun masyarakat yang lebih adil (Muhadjir, dalam Halik, 2018).

Penelitian dengan paradigma kritis mengungkapkan dan menganalisis realitas sosial dengan mempersoalkan ketimpangan relasi sosial yang ada. Penelitian kritis ditopang oleh perspektif teori kritis dengan asumsi-asumsi yang dikonstruksinya. Menurut Littlejohn seperti yang diuraikan Mulyana (dalam Halik, 2018), setiap tahap penelitian memengaruhi dan dipengaruhi tahap lainnya. Pengamatan antara lain ditentukan oleh teori dan selanjutnya teori juga ditentukan oleh perspektif. Suatu teori dituntut untuk konsisten dengan perspektifnya, dan metode serta teknik penelitian harus konsisten dengan teorinya, dan sekaligus juga dengan perspektif yang digunakan. Dengan demikian, antara perspektif, teori, dan metode penelitian membentuk garis kontinum yang mensyaratkan relevansi, konsistensi, dan sistematis. Perspektif teori kritis menjadi landasan pijakan bagi langkah-langkah penelitian kritis agar dapat mewujudkan tujuan emansipatorisnya.

Paradigma kritis adalah paradigma ilmu pengetahuan yang meletakkan epistemologi kritik marxisme dalam seluruh metodologi penelitiannya. Paradigma kritis diinspirasikan dari teori kritis dan terkait dengan warisan marxisme dalam seluruh filosofi pengetahuannya. Teori kritis pada satu pihak merupakan salah satu aliran ilmu sosial yang berbasis pada ide-ide Karl Marx dan Engels (dalam Halik, 2018). Penelitian dalam paradigma kritis memandang realitas tidak berada dalam harmoni tapi cenderung dalam situasi konflik dan pergulatan sosial.

PARADIGMA POSITIVISTIK

  1. Aspek Ontologis

Kriyantono (2012) menyatakan bahwa terdapat realitas yang nyata dan diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal (keseluruhan) meskipun kebenaran mengenai pengetahuan tersebut hanya sebatas probabilistik. Realitas dipandang dapat diukur dengan standar tertentu, dapat dilakukan generalisasi, dapat diukur dengan standar tertentu, dan terbebas dari konteks ruang dan waktu (berlaku umum, kapan pun). pendekatan ini dapat disebut pendekatan objektif atau pendekatan positif karena mengikuti kaidah-kaidah tertentu. Sebagai contoh: apabila ada buah yang jatuh dari pohon, paradigma ini akan beranggapan bahwa pasti akan jatuh ke bawah. Karena ada aturan umum yang berlaku universal, yaitu apabila benda jatuh maka akan tertarik ke int ibumi (Kriyantono, 2015).

Paradigma ini berasumsi bahwa realitas berada di luar dunia subjektif ilmuan (terpisah dengan individu) karena bagi paradigma ini realitas bersifat objektif (Kriyantono, 2012). periset harus menjaga jarak dengan realitas yang diriset supaya tidak ada unsur penilaian subjektif (kepentingan pribadi). Contoh: untuk mengukur konsep “stategi”, periset tidak diperbolehkan memberikan definisi strategi kepada responden karena dapat mempengaruhi pemikiran dan jawaban responden. Oleh karena itu, periset harus mampu menyesuaikan penggunaan kata yang sesuai dengan responden.

Dapat diukur dengan standart tertentu, digeneralisasi dan bebas dari konteks ruang dan waktu (Kriyantono, 2012). Paradigma ini biasanya menggunakan instrumen kuesioner. Kuesioner merupakan kaidah universal yang mampu mewakili realitas yang diteliti. Kuesioner perlu diadakan uji  validasi dan reliabilitas, karena merupakan hukum objektif (Kriantono, 2015).

  1. Aspek Epistemologis

Terdapat realitas objektif sebagai suatu realitas yang eksternal di luar diri ilmuwan dan ilmuwan harus menmbuat jarak sejauh mungkin dengan objek peelitian untuk menghindari penilaian subjektif (Kriyantono, 2012). tujuan untuk mempelajari realitas adalah untuk menerapkan, menguji atau membuat hukum/kaidah yang bersifat universal tentang realitas yang diriset. Penjelasan dari Kriyantono, R. (2015) bahwa orang yang diteliti bernama objek riset (merupakan objek sehingga bersifat pasif). Maksud dari bersifat pasif adalah hanya merespon pertanyaan dalam kuisioner.kuesioner dianggap sebagai kaidah atau hukum universal yang mewakili realitas yang diteliti. Sebagai hukum objektif, kuesioner harus diuji validitas dan reliabilitasnya.

  1. Aspek Aksiologis

Nilai, etika, dan pilihan moral harus berada di luar penelitian (Kriyantono, 2012). Peneliti tidak diperbolehkan untuk mempengaruhi pendapat dari responden.

Peneliti berperan sebagai disenterested scientist, peneliti menjalankan fungsi dengan hanya mengambil fakta yang sudah ada tanpa harus merasa empati dengan masyarakat yang ingin diteliti (Erianto, 2011). Sebagai contoh, apabila peneliti ingin meneliti pada suatu desa, maka peneliti tidak harus tinggal di desa itu untuk menanyakan hal yang ingin diketahui, karena bisa menggunakan instrumen kuesioner.

Tujuannya untuk eksplanasi, prediksi, dan control realitas (Kriyantono, 2015). Paradigma ini terletak pada bagaimana periset mencoba mengobjektifkan pikiran (yaitu teori-teori). Paradigma ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai kejadian dan fenomena yang terjadi. Selain itu juga bertujuan untuk memprediksi hal atau fenomena yang kemungkinan bisa terjadi. Paradigma positivistik juga bertujuan sebagai kontrol suatu realitas.

PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK

  1. Aspek Ontologi

Paradigma ini menganggap bahwa realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Kriyantono, 2012). Contoh: apakah pohon yang tumbang di hutan menimbulkan bunyi? Jawabannya “belum tentu”. bisa jadi yang ditanya tidak berada di hutan pada saat pohon jatuh atau tumbangnya hanya setengah sehingga tertahan oleh pohon lain atau kebetulan di bawah pohon tumbuh semak belukar yang banyak sehingga efek bunyi berkurang (Kriyantono, 2015).

Realitas adalah hasil konstruksi mental dari individu pelaku sosial sehingga realitas dipahami secara beragam dan dipengaruhi oleh pengalaman, konteks dan waktu. Realitas merupakan hasil konstruksi individu, maka realitas periset adalah satu kesatuan tak terpisah. Individu adalah subjek memaknai realitas. Contoh: saat mengukur atau memaknai konsep sikap, periset memberi kebenasan individu yang diriset untuk mengekspresikan secara bebas konstruksinya dengan sikap. Kemudian periset mendialogkan konstruksi konstruksi tentang sikap dari berbagai individu untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang berlaku pada culture-sharing tertentu, yaitu di antara para subjek riset (Kriyantono, 2015).

  1. Aspek Epistimologi

Pemahaman terhadap suatu realitas atau temuan penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Ilmuwan dan objek atau realitas yang diteliti merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan (Kriyantono, 2012).

  1. Aspek Aksiologi

Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti dianggap sebagai passionate-participant, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial (Erianto, 2011). peneliti tidak bisa hanya tinggal mengambil realitas yang riil, tetapi konstruksi atas realitas. Setiap orang memiliki pemaknaan dan konstruksi yang berbeda sehingga peneliti harus menempatkan dirinya di tengah keanekaragaman pandangan tersebut.

Tujuannya untuk rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti (Erianto, 2011). Tujuan riset adalah memfasilitasi terjadinya dialog konstruksi-konstruksi yang beragam dari individu-individu. Memungkinkan periset bertindak sebagai partisipan dalam proses konstruksi realitas. Secara metodologi, disebut kualitatif dimana pembuktian kebenaran mengutamakan empati dan interaksi dialogis antara periset dan subjek riset untuk merekonstruksi realitas yang diriset. Tidak dikenal istilah responden atau objek riset. Lebih menggunakan istilah informan atau partisipan atau subjek riset, karena ketiga ini merepresentasikan sifat aktif dari individu dalam memaknai realitas (Kriyantono, 2015). Wawancara mendalam  dan observasi langsung di lapangan memungkinkan periset dan subjek riset berinteraksi dialektis memaknai realitas. Periset adalah instrumen itu sendiri yang memilih, menyusun, dan menentukan pertanyaan yang didialogkan dengan subjek riset.

PARADIGMA KRITIK

  1. Aspek Ontologi

Realitas yang teramati (virtual reality) merupakan realitas semu yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik (Kriyantono, 2012). pendekatan kritis menganggap bahwa realitas yang diamati hanyalah realitas yang ada di permukaan (di kulit). realitas yang sebenarnya dalahrealitas yang masih tersembunyi dan berada di dalam (bisa jadi karena disembunyikan). realitas semu dapat terjadi karena dibentuk oleh proses sejarah dan konsentrasi kekuatan di masyarakat dalam berbagai bidang (Kriyantono, 2015). Contoh: tayangan televisi yang sekarang menonjolkan realitas “orang kaya, rumah,danmobil mewah” adalah realitas semu yang menggambarkan orang Indonesia, yang didominasi oleh kelompok menengah dan miskin. Realitas semu dibentuk oleh kekuatan-kekuatan dominan yang ingin mengampanyekan simbol-simbol “kemakmuran dan kemewahan” di mayarakat.

  1. Aspek Epistemologi

Hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti selalu dijembatani oleh nilai nilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value-mediated Findings (Kriyantono, 2012). pengaruh filsafat rasionalisme terhadap riset kualitatif adalah terletakpada saat analisis dan interpretasi fakta-fakta di lapangan. Rasio sebagai sumber pengetahuan tampak saat perisetberteori termasuk menghubungkan dengan situasi historis dari fakta-fakta tersebut. Analisisndan interpretasi ini mesti mendalam dan holistiksehingga dapat menjelaskan realitas (Kriyantono, 2015). pengaruh empirisme pada riset kualitatif tampak pada saat periset terjun langsung ke lapangan untuk menggali data. Periset memberikan kesempatan luas subjek riset untuk mengekpose pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Sementara filsafat idealis maupun humanistis memengaruhi riset kualitatifkarena memungkinkan periset mendialogkan proses-proses mental yang ada dalamdirinya (berpikir, emosi-emosinya, pengalaman-pengalamannya) dengan proses mental dari subjek risetnya.

  1. Aspek Aksiologi

Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari penelitian. Peneliti menempatkan diri sebagai intektual transformasi, advokat dan aktivis (Kriyantono, 2012). periset dalam pendekatan kritis berupaya untuk mempromosikan nilai-nilai untuk pencerahan masyarakat melalui kritik-kritik sosial (Kriyantono, 2015). Ilmuwan menawarkan pandangan-pandangan transformasi sosial dan aktivis perubahan. Tujuan dari penelitian menggunakan paradigma kritis adalah untuk kritik sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment (Kriyantono, 2012).

APLIKASI PARADIGMA DALAM PENELITIAN KOMUNIKASI

1. PENGAPLIKASIAN PARADIGMA POSITIVISTIK

Riset yang dilakukan oleh Yan Jin dan Glen Cameron (2006). keduanya merisettentang bagaimana membangun skala untuk mengukur sikap public relation sehingga dapat mengetahui tingkat akomodasi yang dapat dilakukan public relations dalam menjalin relasi publik. Untuk itu, perisit menelusuri berbagai literatur di bidang krisis komunikasi, manajemen konflik, dan public relations. Dari literatur eviw ini, peneliti mampu mengkompilasi 54 item skala. Ke 54 skala ini juga pernah digunakan oleh beberapa periset lainnya, misalnya untuk meriset sikap dan strategi manajemen konflik atau mengukur strategi Public Relations. Periset mengundang sebuah kelompok yang yang terdiri dari lima fakultas dan mahasiswa Ph.D. Public Relations untuk uji validitas isi skala. Setiap penguji diberikan definisi tertulis dari 54 item calon skala. Kemudian, penguji diminta memberikan penilaian apakah masing masing definisi merepresentasikan sikap dengan jelas, sedang, atau tidak dapat merepresentasikan sikap. Setelah itu, hasil uji validitas ini masih diuji lagi dengan melakukan dua kali survey terhadap beberapa praktisi Public Relations (Kriyantono, 2015).

2. PENGAPLIKASIAN PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK

Judul: Pengaruh iklan politik pemilu di media massa pada sikap pemilih pemula di Sidoarjo

Latar belakang masalah

Fenomena iklan juga melanda partai politik di Indonesia. Dalam pemilu 2004, parpol berlomba memasang iklan di media massa untuk menarik simpati khalayak. Misalnya iklan PDIP dengan moncong putih, iklan PAN yang menampilkan penggusuran, iklan PBR yang menampilkan KH. Zainuddin MZ. Diharapkan iklan iklan tersebut dapat mempersuasi khalayak untuk memilih parpol yang beriklan.

Perumusan masalah

Pokok permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana opini subjek penelitian tentang iklan politik pemilu?

Bagaimana pengaruh iklan parpol di media massa dalam memengaruhi sikap dan perilaku pemilih pemula di wilayah Sidoarjo?

Tujuan penelitian

Penelitian bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran iklan politik di media massa dalam memengaruhi sikap dan perilaku pemilih pemula.

Manfaat penelitian

  1. Diharapkan dapat mengembangkan kajian studi Ilmu Sosial yaitu menggunakan media massa sebagai media periklanan.
  2. Diharapkan dapat memberi masukan bagi para pembuat iklan agar dapat merancang iklan dengan baik.

METODOLOGI

Metode Peneltitian, Subjek Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisa

3.  PENGAPLIKASIAN PARADIGMA KRITIK

Riset yang dilakukan oleh Judy Motion dan Kay Weaver (2005) tentang pengintegrasian analisis political economy dan analisis discourse untuk menguji kampanye life science network di selandia baru (New Zeland). Riset ini mengkaji pentingnya konteks konteks sosiopolitik dimana public relation beroprasi dan diskursus diskursus yang diproduksinya untuk memengaruhi pihak lain. Periset mengaplikasikan tiga tahapan metode, yaitu: Pertama, merumuskan pertanyaan: kondisi politik dan ekonomi apa yang mendukung produksi kampanye New Zeland Life Science Network dan kepentingan siapa saja yang direpresentasikan dalam kampanye? Strategi diskursus apa yang digunakan dalam kampanye? Bagaimana kampanye itu berusaha memengaruhi opini publik dan/atau agenda publik?. Kedua, riset menginvestigasi struktur struktur politik dan ekonomi dan kondisi kondisi power dan kepemilikan yang melatarbelakangi kampanye. Ketiga, riset mencakup analisis teks teks kampanye New Zeland Life Science Network, seperti bagaimana diskursus dalam teks dihandle secara strategik, apakah diskursus diskursus itu diatur diatur dalam hierarki kredibilitas yang jelas untuk mendorong audience lebih memilih. Periset dalam posisi untuk menyimpulkan bagaimana diskursus kampanye berupaya memengaruhi opini publik dan bagaimana kampanye merepresentasikan suatu hegemonic power dan kebenaran. Riset ini membantu memahami peran public relations dalam memengaruhi perubahan sosial dalam masyarakat demokratis. Diskursus dapat diartikan sebagai sistem sistem kemungkinan untuk menciptakan pengetahuan, terkait dengan game of truth, aturan aturan yang eksplisit yang membentuk apa yang dianggap sebagai pengetahuan dan siapa yang dapat berbicara atau membicarakan pengetahuan (Kriyantono, 2015).

SIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disipulkan bahwa paradigma dapat diartikan sebagai cara pandang, perspektif, dan pendekatan. Setiap paradigma memiliki fokus, instrumen, dan tujuan penelitian masing-masing. Pemilihan penggunaan paradigma mempengaruhi hasil dari suatu penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Ardial, H. 2014. Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Bahrum. 2013. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Sulesana. Vol 8. No 2. Yayasan Pendidikan Ujung Pandang.

Erianto. 2011. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.

Halik, Abdul. 2018. Paradigma Kritik Penelitian Komunikasi (Pendekatan Kritis-Emansipatoris dan Metode Etnografi Kritis).  Jurnal Tabligh. Vol 19. No 2. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenadamedia Group.

Kriyantono, Rachmat. 2012. Etika & Filsafat Ilmu Komunikasi. Malang : UB Press.

Kriyantono, Rachmat. 2015. Public Relations, Issue, & Crisis Management. Jakarta: Prenadamedia Group.

Irwan. 2018. Relevansi Paradigm Positivistik Dalam Penelitian Sosiologi Pedesaan. Jurnal Ilmu Sosial. Vol 17. No 1. Persatuan Guru Seluruh Indonesia.

Syukurdi. 2015. Filsafat Ilmu Komunikasi Islam. Analitica Islamica. Vol 4. No 2. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.