dosen 2.0 dan mahasiswa 1.0 (1)

Sebelum saya membaca tulisan mas romi satria wahono tentang dosen 2.0 dan tulisan beliau tentang kebutuhan bahasa manusia dalam pengajaran, saya sempat membongkar-bongkar ulang tulisan saya tentang surat untuk civitas akademika dalam rangka narsis 1.0. Kok ya ndilalah beliau menulis sesuatu yang senada meskipun dalam perspektif saya untuk tulisan kali ini tidak cukup berimbang dikarenakan hanya pada terfokus pada “kewajiban” dosen saja.

Namun demikian, jika dilihat disitus beliau, sebenarnya beliau juga telah banyak mengulas tentang arah dan gerak mahasiswa versi beliau. Semacam kebutuhan ke-entrepreneur-an mahsiswa dsb. So.. adalah hal yang cukup mengejutkan juga ketika mas romi yang dulu hanya berada di ranah-ranah pendidikan menengah atas dan sederajat, sekarang ke arah para pendidik di dunia pendidikan. He3x. Menarik sepertinya melihat itu semua sebagai sebuah diskursus dalam “mendidik para pendidik”.

Sementara di kampus sayah yang kecil ini, juga mulai gelisah terhadap pola pendidikan (baca : pembinaan) ke rekan-rekan muda yang baru masuk, maka sepertinya kegundahan ini akan terus meradang menerjang dari kumpulannya yang terbuang.. (..semacam penyair khairil anwar). Eniwei dan busway, kebutuhan akan perubahan pendidikan yang fundamental sepertinya memang diperlukan.. berikut ini sedikit kata-pengantar (calon) skripsi sayah. (yang kebetulan dianggep tidak ilmiah menurut rekan-rekan sesama mahasiswa dikafet) :

….

Sebagai landasan konstitusional, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

Bentuk pencerdasan dengan metodologi pendidikan yang ada selama ini masih berbasiskan Pedagogy. Berdasarkan asal kata, paeido dan gogeo; dari paedo yang berarti anak kecil dan gogeo yang berarti memimpin. Sehingga secara keseluruhan berarti, “memimpin anak kecil”. Sistem pendidikan ini sudah dirasakan sejak dari Taman Kanak-kanak sampai dengan pendidikan yang terjadi di tingkatan-tingkatan diatasnya.

Sistem tersebut mendominasi bentuk pendidikan yang ada secara umum, hingga Malcolm Knowles , (24 April 1913 sampai dengan 27 November 1997) mencoba mengembangkan pola pendidikan orang dewasa (adult-education). Hingga pada tahun 1833 Alexander Kapp seorang pendidik asal Jerman mencetuskan nama Andragogy sebagai nama umum terhadap pola pendidikan orang dewasa ini.

Malcolm Knowles memiliki 4 postulat dasar tentang pendidikan ini :

  1. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pendidikan mereka. Hal ini merupakan bagian dari konsep pembentukan diri dan motivasi belajar.
  2. Pengalaman dan termasuk di dalamnya adalah kesalahan memberikan landasan bagi aktifitas pembelajaran. Hal ini berhubungan erat dengan pengalaman.
  3. Seorang yang telah dewasa lebih tertarik pada pembelajaran yang berhubungan langsung dengan pekerjaan mereka ataupun kehidupan pribadi mereka. Hal ini berhubungan dengan kesiapan untuk belajar.
  4. Pendidikan orang dewasa lebih difokuskan pada penyelesaian masalah.

Mengingat umur rata-rata mahasiswa yang tidak bisa dikatakan sebagai anak kecil lagi, maka metodologi pedagogy haruslah ditinjau ulang dan menengok sejenak ke metodologi andragogy yang lebih mendewasakan mahasiswa serta membantu melangkahkan kaki mahasiswa ke arah cita-cita pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melihat sekian postulat diatas serta perkembangan teknologi perangkat keras, maka adalah hal yang sangat dibutuhkan bila metodologis andragogy akan diterapkan, maka diperlukan sebuah wahana dan alat untuk memperkuat element problem-solving dari sebuah pembelajaran matakuliah di perguruan tinggi.

….

Dan secara itu latar belakang sekripsi sayah belum di setujui (karena belum diajukan he3x.) maka ketimbang disensor oleh KKDK (ketua kelompok dosen keahlian) saya, maka sayah submit ajah disini. Itung2 narsis 2.0 mode on. he3x.

So.. dalam perspektif tentang keinginan punya suheng (guru/dosen) yang baik, saya cukup sepakat dengan perspektif mas romi di blog beliau (yg juga di kirim ke detikinet.com). Namun demikian, apakah kondisi mahasiswa sekarang sudah cukup siap dengan bentuk dosen 2.0 ? Atau.. jangan-jangan sekali lagi, mari kita paksakan bentuk pendidikan 2.0 kepada para mahasiswa sekarang yang dalam kacamata rekan saya (untuk sementara sayah rahasiakan nama beliau, karena cukup dekatnya beliau dengan salah satu partai.. -apa hubungannya hayoo..- he3x) dianggap menye-menye.

Namun demikian bisa jadi hipotesa untuk mem-andragogy-khan sistem pendidikan saat ini, bisa merupakan kenyataan yang memang harus dilakukan. Dengan konstruksi BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara) di kampus negeri, maka :

  • biaya pendidikan akan meninggi,
  • asumsi bahwa “kenaikan gizi akibat tingkat ekonomi yang tinggi menyebabkan meningkatnya hormon otak” para calon peserta didik,
  • menyebabkan kualitas peserta didik juga meningkat.

(tidak seperti sayah yang sangat ndak cerdas sampai detik ini… -bukan karena kurang gizi, tapi gara2 emang sayah hanya tau bahwa banyak hal yang sayah ndak tau- he3x.).

Dengan naiknya kualitas peserta didik (sekaligus naiknya harga masuk ? he3x.), maka adalah hal yang wajar bila “minimal” mendapat pola pendidikan yang “berbeda” dengan kakak2x mereka terdahulu.

Weiks.. kok terkesan satire nan sarkastik ya ?

Tapi suwer.. sayah beneran setuju. Bukan sarkastik nan satire (vice a versa). Bener2 menunggu sebuah masa dimana para pendidik dan peserta didik seperti keluarga.
Bisakah dibayangkan disebuah universitas, seorang mahasiswa memohon do’a restu agar bisa menjawab soal-soal ujian akhir semester ? (sementara disebuah mtsn tempat saya bekerja dulu, hal ini adalah hal biasa..). Sementara di sebuah sesi lain, dengan santai, ketika saya bekerja atau siapapun pendidik yang lain sedang beraktifitas, maka akan muncul pertanyaan : “lagi ngapain pak ?“.

Jangankan bertanya, lha wong menyapa dosen kita saja, kadang hal ini sudah tidak terjadi lagi ? Bahkan jika bisa, seharusnya universitas menyiapkan sebuah jalan khusus dosen, dan sebuah jalan khusus mahasiswa agar tidak saling bertemu. Hanya b

oleh bertemu di ruang kuliah saja. He3x. (nah.. ini baru satire nan sarkastik..).

Semoga saja.. kondisi mahasiswa 1.0 tidak lagi seperti itu. Semoga dengan mewujudnya dosen 2.0 maka, mahasiswanya juga 2.0. Semoga ketika dosen 2.0 nge-blog, maka mahasiswanya juga menulis blog, bukan lagi membuka friendster dan mencoba mencari tahu temannya-kawan dan sahabatnya-teman yang cakep2 untuk dijadikan hiasan “teman” mereka di “temanster” masing2. He3x.


bersambung setelah acara “makar” selesai dilakukan. he3x.

Leave a Comment