Kelompok Etnis, Struktur Sosial dan Budaya Kuno Asa Tenggara

Keragaman etnis, budaya dan bahasa di Asia Tenggara sama sekali bukan fenomena baru. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan keragaman ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Masa prasejarah susah untuk direkonstruksi. Menghubungkan jejak-jejak masyarakat yang telah lama punah dengan penduduk masa kini adalah persoalan lain. Tengkorak kepala dapat didentifikasi dari kelompok tertentu tetapi benda itu tidak bisa memberitahu kita bahasa apa yang digunakannya.

Pola-pola yang sama dalam upacara pemakaman di daerah-daerah berbeda menunjukkan hubungan komunikasi dan ikatan budaya, namun kita tidak dapat memastikan apakah kelompok orang yang berbeda ini memiliki keterkaitan atau hanya sering melakukan kontak. Selain itu, teori-teori ilmiah tentang migrasi ke Asia Tenggara dan perpindahan antarpenduduk di kawasan itu telah sangat banyak berubah selama setengah abad terakhir. Semua itu membentuk ulang pemahaman kita mengenai gambaran prasejarah yang lebih luas.

Asia Tenggara History

 

Etno Sejarah Asia Tenggara

Peninjauan rumpun-rumpun bahasa primer bermanfaat untuk melakukan pendekatan terhadap mozaik etnis Asia Tenggara. Bahasa dan etnis tidak selalu tumpang tindih. Seiring berjalannya waktu, individu dan kelompok dapat mengubah bahasa serta identitas etnis.

Semua bahasa “asli” Asia Tenggara-kecuali yang ditemukan di pulau-pulau paling timur Indonesia-dapat digolongkan ke dalam salah satu dari lima rumpun bahasa yaitu Austroasia,Austronesia,Tai,Tibet-Burma dan Hmong-Mien. Bahasa Austroasia yang sering disebut Mon-Khmer mencakup bahasa Vietnam dan Kamboja (Khmer),termasuk bahasa Mon(yang biasa digunakan di sebagian Myanmar dan Thailand) dan bahasa-bahasa dari beberapa kelompok etnis yang tersebar di dataran tinggi Vietnam, Laos, Kamboja, dan Thailand.

Sebaliknya, bahasa Austronesia(Melayu-Polinesia) banyak ditemukan di Asia Tenggara kepulauan-kecuali bahasa melayu yang digunakan di Thailand selatan, Semenanjung Malaysia dan Singapura, beberapa kelompok di dataran tinggi Vietnam Tengah dan Selatan serta Kamboja timurlaut. Hampir semua bahasa yang digunakan di Indonesia dan Filipina termasuk dalam kelompok ini.

Rumpun bahasa Tai-kadang disebut Tai-kadai-mencakup wilayah sabuk yang membentang dari kedua sisi perbatasan Cina-Vietnam hingga Assam di India timur laut. Bahasa ini meliputi bahasa nasional Thailand, Laos(termasuk bahasa yang digunakan oleh beberapa kelompok penduduk dataran tinggi yang terdapat di negara-negara tersebut),Vietnam dan Myanmar.

Rumpun bahasa Tibet-Burma, bahasa yang digunakan di dataran tinggi Asia Tenggara sebelah utara. Terakhir, rumpun bahasa Hmong-Mien (sebelumnya disebut Miao-Yao) digunakan oleh keturunan imigran Cina yang menetap di dataran tinggi Vietnam, Laos, dan Thailand selama kurang lebih satu abad terakhir.

Penduduk paling awal Asia Tenggara adalah kelompok pemburu dan peramu. Mereka tidak bercocok tanam melainkan hidup dengan mengandalkan hasil buruan dan hasil laut saja. Kemajuan dating bersaman dengan diperkenalkannya sistem pertanian selama abad ke-3 SM. Penting untuk ditekankan di sini bahwa “perbatasan” antara Cina dan Asia Tenggara saat itu jauh lebih ke utara daripada yang ada sekarang.

Selain itu, dalam banyak hal Cina Selatan masa kini di selatan Sungai Yangzi memiliki ikatan etnis, bahasa dan budaya yang lebih dekat dengan Asia Tenggara. Persebaran sistem pertanian padi adalah proses yang panjang dan lambat, yang berlangsung selama berabad-abad. Tidak ada bukti bahwa para pemburu dan peramu segera meninggalkan kegiatan mencari makanan untuk beralih menjadi petani.

Cendekiawan sepakat bahwa hampir semua bahasa yang saat ini digunakan di Asia Tenggara dapat dilacak mundur ke akar-akarnya yang jauh di suatu tempat di Cina Selatan. Mungkin saja pengetahuan dan praktik pertanian menyebar dari kawasan Sungai Yangzi bersama para leluhur bahasa-bahasa Asia Tenggara ketika penuturnya bergerak ke selatan.

Keberadaan dua rumpun bahasa, Austronesia dan Austroasia,dapat dihubungkan dengan migrasi. Bangsa penutur Austronesia diyakini berasal dari pesisir tenggara Cina yang kemudian bergerak ke Taiwan. Kemungkinan, sekitar 4000-5000 tahun yang lalu orang Austronesia mulai melaut, melakukan salah satu migrasi terbesar dalam sejarah. Banyak dari penduduk yang sudah ada di pulau-pulau itu terasimilasi, baik secara budaya maupun bahasa, ke dalam populasi migran meski di beberapa tempat dan terutama di Pulau Papua-mereka tetap terpisah.

Di wilayah Asia Tenggara daratan, penutur Austroasia tampil menjadi kelompok dominan, mengadopsi sepenuhnya budaya dan bahasa penduduk setempat. Kronologi migrasi orang Austroasia ke Asia Tenggara masih belum jelas. Pada akhir periode prasejarah, mayoritas penduduk Asia Tenggara telah menggunakan salah satu dari dua rumpun bahasa ini.

Pada awal masehi di Asia Tenggara juga terdapat penutur bahasa Tibet-Burma yang terkonsentrasi di wilayah yang sekarang menjadi Myanmar. Pada abad ke-13 pola distribusi kelompok etnis dan rumpun bahasa di seluruh Asia Tenggara kurang lebih telah seperti sekarang ini dengan beberapa pengceualian penting.

Pertama, etnis Vietnam yang peradabannya bermula di wilayah delta Sungai Merah secara bertahap menyebar ke selatan melalui migrasi. Kedua, selama beberapa abad terakhir mayoritas pendatang baru ini adalah etnis Hmong atau Yao. Ketiga, kedatangan pemerintahan colonial membawa migrasi etnis India dan Cina dalam skala besar ke berbagai tempat di wilayah Asia Tenggara. Sampai saat ini, mereka tetep tergolong minoritas.

Kebudayaan

Kebudayaan dataran rendah Asia Tenggara mendapat pengaruh sangat kuat dari luar kawasan Asia Tenggara. Pada dasarnya, Asia Tenggara masa lalu adalah dunia lelembut(makhluk halus). Pada suatu masa,kepercayaan terhadap roh-dikenal sebagai animism-ada di semua masyarakat dalam sejarah. Meskipun demikian, animisme tetap menjadi kekuatan yang dominan di tempat lain.

Makhluk halus dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis. Pertama, “penunggu” yang merupakan jenis paling umum. “Penunggu” dipercaya menetap di lokasi tertentu seperti gunung,gua,sungai,pohon atau batu. Kedua, arwah leluhur. Penghormatan terhadap sesepuh(masih hidup) dan leluhur(sudah meninggal) umum ditemukan dalam kebudayaan Asia Tenggara. Tingkat keterlibatan leluhur dalam kehidupan sehari-hari keturunan mereka bervariasi sesuai kebudayaannya masing-masing.

Ketiga, “dewa pelindung” yaitu makhluk halus yang bertanggung jawab melindungi unit social tertentu seperti keluarga,desa,kota kecil,kota besar atau bahkan seluruh negara. Secara umum, monoteisme baru dating ke Asia Tenggara bersama persebaran agama islam dan Kristen.

Dua perhatian terpenting kebudayaan primordial Asia Tenggara adalah kesuburan-baik pertanian maupun manusia-dan perlindungan dari bahaya. Setiap kebudayaan mengenal berbagai roh jahat yang menggangu kehidupan manusia. Sistem kepercayaan animism ini dirangkai dalam dua unsur utama:tabu dan sesaji.

Tabu adalah langkah beserta cara-cara yang ditempuh agar tidak menyinggung perasaan makhluk halus tertentu. Desa biasanya memiliki seorang atau beberapa orang “spesialis” untuk melakukan ritual atau berkomunikasi dengan makhluk halus ketika diperlukan. Salah satu ciri khas kebudayaan Asia Tenggara,walaupun tidak hanya ada di sana, adalah pentingnya perempuan “spesialis” dan paranormal.

Perempuan sepertinya sudah sangat lama menikmati hubungan erat dengan dunia lelembut. Pada banyak kasus,makhluk halus itu sendiri adalah perempuan dewi-dewi padi yang disebutkan sebelumnya atau Ibu-Ibu suci(thanh mau) etnis Vietnam dan dewi terpenting etnis Cham, Po Nagar. Kekerabatan dan keluarga besar adalah hal penting bagi seluruh masyarakat Asia Tenggara.

Orang Barat yang biasanya hanya menyebut “saudara laki-laki”, “saudara perempuan”, “paman”, “bibi” dan semacamnya akan terkejut melihat banyaknya istilah Asia Tenggara yang digunakan untuk menyebut anggota keluarga. Penggunaan istilah yang berbeda untuk menunjuk pembicara dan pendengar mencerminkan kesadaran akan adanya perbedaan tingkat yang halus mengenai usia dan status yang ditemukan dalam banyak kebudayaan di Asia Tenggara.

Patrilineal adalah sistem kekerabatan pada garis keturunan ayah di Asia Tenggara. Sedangkan matrilineal adalah sistem kekerabatan pada garis keturunan ibu di Asia Tenggara. Bilaterial adalah garis keturunan ayah dan ibu sama pentingnya.

Struktur Sosial dan Politik

Dalam berbagai kelompok masyarakat, keluarga diorganisasi menjadi klan atau garis keturunan di masyarakat Asia Tenggara. Perlu dicatat bahwa dalam banyak kebudayaan di Asia Tenggara, nama keluarga merupakan penemuan yang relative baru, kecuali di kalangan etnis Vietnam dan etnis Kristen Filipina sejak abad ke-16. Klan dan garis keturunan seringkali merupakan bentuk utama organisasi social di bawah tingkat desa. Tidak semua orang Asia Tenggara mempunyai riwayat tinggal di desa, tetapi desa merupakan unit social-politik paling umum.

Sifat, struktur dan luas desa-desa di Asia Tenggara sangat bervariasi. Mereka bisa jadi memiliki satu kepala desa yang biasanya berasal dari keluarga atau klan terkuat dalam komunitas tesebut. Selama periode pramodern,sejumlah etnis di Asia Tenggara tidak memiliki struktur di atas tingkat desa. Desa bersifat otonom dan tidak tunduk pada kekuasaan seorang penguasa luar.

Konteks Asia Tenggara, umumnya berbicara tentang raja dan kerajaan ketika membahas etnis-etnis yang sudah terkena pengaruh budaya dari luar Asia Tenggara. Para cendekiawan biasanya menyebut masyarakat yang dipimpin oleh kepala suku sebagai “pesukuan”(chiefdom). Oleh karena itu, kepemimpinan dan kekuasaan dalam kelompok masyarakat Asia Tenggara selalu bersifat personal. Kerajaan-kerajaan kuno Asia Tenggara menunjukkan banyak kelemahan dan permasalahan yang sama dengan pendahulunya.

Dataran Tinggi, Rendah, Hutan dan Padang Rumput, Daratan dan Lautan

Setiap negara di Asia Tenggara, kecuali singapura yang urban, dicirikan oleh minimal satu dari tiga perbedaan pokok demografi. Pertama, antara penduduk dataran rendah dengan penduduk yang tinggal di bukit biasanya disebut “orang gunung”. Kedua, antara penduduk yang tinggal di permukiman tetap biasanya tinggal di hutan dan bertahan hidup dari hasil buruan.

Ketiga, antara populasi kecil di beberapa negara terkosentrasi dan bergantung pada laut untuk mencari nafkah namun tetap tinggal di daratan. Tetapi juga ada etnis. Etnis-etnis yang tinggal di dataran tinggi,hutan atau di atas kapal di sepanjang pesisir tergolong kaum minoritas dan kemudian disebut “penduduk pribumi”. Di sebagian besar wilayah daratan Asia Tenggara,para penutur Austroasia(mon-khmer) merupakan “penghuni tertua”. Periode pra-Austroasia adalah zaman batu.

Burma

Etnosejarah berbagai kelompok di Burma penuh dengan spekulasi. Leluhur etnis mayoritas Burma berasal dari Tibet. Persis seperti pendahulu mereka yaitu etnis Pyu. Baik etnis Pyu maupun Burma adalah penduduk dataran rendah. Mereka menguasai kota dan kerajaan yang mendominasi catatan sejarah Burma. Dataran tinggi Burma dihuni berbagai kelompok etnis penutur bahasa Tibet- Burma atau Mon-Khmer dan etnis Shan yang merupakan penutur Tai sekaligus penganut Buddha Theravada.

Penduduk tertua wilayah Burma modern adalah etnis Wad an Palaung. Beberapa minoritas Burma terpenting lainnya adalah penutur Tibet- Burma. Kelompok mayoritas di dataran tinggi adalah etnis Shan. Etnis Shan memiliki struktur social-politik paling berkembang di antara etnis-etnis dataran tinggi Burma. Kelompok penting lainnya yang ditemukan di dataran tinggi Burma adalah Karen.

Kamboja

Kasus di kamboja sangat ertolak belakang karena penduduk dataran rendah dan dataran tingginya berasal dari etnis Mon-Khmer yang sama. Di kamboja, minoritas dataran tinggi ini terkosentrasi di daerah timur laut. Salah satu minoritas terbesar,etnis Kuy yang menetap di perbatasan Thai. Dataran tinggi di wilayah timur laut adalah rumah bagi populasi kecil etnis Jarai dan Rhade. Di daerah-daerah dataran rendah Kamboja terdapat pula kantong-kantong etnis muslim Cham,juga etnis Lao di sepanjang perbatasan utara.

Negeri Thai

Para penutur Tai muncul, mendominasi daerah-daerah dataran rendah Thailand dan Laos, mempengaruhi sistem politik dan budaya di kedua wilayah itu. Dua area di wilayah daratan Asia Tenggara menjadi lokasi pergeseran penduduk yang paling signifikan.

Keduanya adalah Laos dan Thailand Utara modern. Wilayah Thailad ini diyakini pernah dihuni etnis Mon dan Lawa-etnis Lawa juga termasuk kelompok penutur Mon-Khmer. Laos memiliki populasi penutur Mon-Khmer yang beragam. Kelompok-kelompok penutur Mon-Khmer ini adalah keturunan penduduk asli Laos modern.

Vietnam

Daerah-daerah dataran tinggi di Vietnam timur laut pada dasarnya adalah bagian dari negeri Tai dengan dua kelompok utamanya, Thai Hitam dan Putih. Walaupun rakyat Vietnam menggunakan bahasa Mon-Khmer, umumnya diyakini bahwa akar budaya pra-Cinanisasi mereka sama dengan etnis Tay dan Nung. Kelompok etnis paling terkenal adalah E-de(Rhade) dan Gia-rai(Jarai).

Orang Gunung “Terbaru”

Pola permukiman yang disebutkan di atas sudah ada selama kurang lebih 1.000 tahun terakhir. Jauh lebih tua dibandingkan hampir semua kelompok masyarakat selain etnis Tai. Lima kelompok utama adalah Hmong, Yao(Mien), Lahu, Lisu dan Akha.

Sebagai pendatang terbaru, mereka terpaksa menetap di daratan tertinggi yang bisa dihuni yaitu dia atas daerah yang dihuni para penutur Mon-Khmer atau Tai dataran tinggi. Komunitas Kristen dapat ditemukan dalam kelima kelompok ini, terutama etnis Hmong.

Negeri Kepulauan

Bahasa Melayu beserta hampir semua bahasa asli Indonesia dan Filipina termasuk keluarga Austroasia. Keragaman etnis di negeri kepulauan ini sangat besar, termasuk perbedaan tegas antara berbagai kelompok yang ada dalam konteks kebudayaan dan ceruk ekologinya.

Istilah “Melayu” sendiri sangat cair dan telah digunakan pada waktu berbeda untuk menyebutkan kelompok-kelompok berbeda yang menjadi penutur bahasanya masing-masing. Kelompok penutur Austroasia lainnya biasa disebut “senoi”. Sejarah Asia Tenggara tidak bisa diceritakan dengan sekadar mengulas seputar masyarakat dataran rendah yang tinggal di kota besar, kota keil dan pedesaan.

Sebagian besar kelompok yang tinggal di luar daerah dataran rendah berinteraksi dan menjalin kontak dagang dengan penduduk dataran rendah. Upaya untuk merekonstruksi sejarah multietnis yang harus mempertimbangkan peran dan signifikan kelompok-kelompok yang menghuni ceruk-ceruk ekologi berbeda adalah tugas paling menantang yang dihadapi para sejarawa Asia Tenggara masa kini.