Paradigma Penelitian Komunikasi & Aplikasinya

Nada Elvaretta Hafiza

Ilmu Komunikasi

Universitas Brawijaya

Dalam tulisan ini saya akan membahas macam-macam paradigma dalam penelitian komunikasi. Paradigma tersebut adalah Paradigma Positivistik, Konstruktivistik dan Kritis. Tujuan setiap penelitian khususnya pada ilmu komunikasi adalah mendapatkan pengetahuan atas penelitiannya. Paradigma itu sendiri merupakan sebuah cara pandang seseorang  terhadap dirinya dan lingkungannya yang tentunya akan berpengaruh pada pola pikirnya, caranya bersikap dan juga bertingkah laku.

A. Paradigma

Sebagai suatu konsep, istilah paradigma sudah lama dikenal, tetapi pada zaman modern ini, untuk pertama kali istilah paradigma diperkenalkan oeh Thomas Kuhn (Zamroni, 1988:21-23). Paradigma menurut Kuhn (Lubis, 2016: 166) secara umum adalah beberapa contoh praktik ilmiah aktual yang diterima seperti: hukum, teori, aplikasi dan instrumen yang diterima bersama, sehingga merupakan model yang dijadikan sebagai sumber dan tradisi-tradisi yang kokoh dalam riset-riset ilmiah khusus. Konsep paradigma yang dikenalkan Kuhn dalam bukunya “The structure of scientific Revolution” (1962) ini kemudian dipopulerkan dalam teori sosial oleh Robert Friedrichs (1970).

Dengan demikian paradigma merupakan terminology yang diperkenalkan Kuhn sebagai model pengembangan ilmu pengetahuan. Sayangnya, sesuai dengan kritikan Zamroni (1988:21), Kuhn tidak merumuskan dengan jelas apa yang dimaksudkannya dengan paradigma tersebut. Istilah tersebut digunakan tidak kurang atas 21 cara yang berbeda. Kemudian, Msterman mencoba mengenalkannya menjadi tiga tipe paradigma, yaitu : paradigma metafisik (metaphysical paradigm), paradigma sosiologis (sociological paradigm), dan paradigma konstruk (construct paradigm). Berikutnya, Robert friedrichs pada 1970 berhasil merumuskan paradigma itu secara disipin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) yang semestinya dipelajari.

Selanjutnya berdasarkan pemahaman paradigma diatas, George Ritzer membuat pengertian paradigma yang lebih jelas. Menurut Ritzer, paradigma adalah pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan. Dengan demikian, paradigma merupakan alat bantu bagi ilmuwan dalam merumuskan apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang harus dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.

Dengan kata lain, paradigma dapat dinyatakan sebagai suatu jendela dimana peneliti akan menyaksikan dunia. Dengan jendela itu, para peneliti akan memahami dan menafsirkan secara objektif berdasarkan kerangka acuan yang terkandung dalam paradigma tersebut, baik itu konsep-konsep, asumsi-asumsi, dan kategori-kategori tertentu. Dengan alasan ini maka masing-masing peneliti akan berbeda dala menggunakan paradigma, meski mengkaji satu fenomena yang sama, akhirnya mereka membuat simpulan yang berbeda pula.

Kriyantono (2015) mengatakan paradigma mempunyai padanan kata dengan istilah pendekatan, perspektif, cara pandang (worldview). Pendekatan adalah falsafah yang mendasari suatu metodologi riset. Riset merupakan sarana inovasi untuk mengembangkan suatu ilmu pengetahuan. Menurut Suriasumantri (2001: 119), “Metodologi berasal dari kata metodos (cara, teknik atau prosedur) dan logos (ilmu). Jadi, metodologi adalah ilmu yang mempelajari prosedur atau teknik

Paradigma merupakan serangkaian keyakinan dasar yang membimbing tindakan. Paradigma tentang metodologi diperlukan karena komponen di dalamnya adalah komponen ontologi, epistemologi, dan aksiologi untuk melakukan pembedaan antarmetodologi pada tataran metateoretis beradasarkan paparan Lincoln & Guba (2000) ; Schwandt (2000) dalam Agusta (2012: 7).

Dalam Ardinal (2014) Paradigma merupakan perspektif umum, suatu cara menjabarkan berbagai maalah dunia nyata yang kompleks. Paradigma akan berguna bagi praktisi untuk menjelaskan kepada mereka apa yang penting, sah dan yang menjadi masalah. Paradigma juga bersifat normatif, memberitahukan kepada praktisi apa yang harus dikerjakan tanpa harus memahami terlebih dahulu eksistensinya dan epistemologinya.

Paradigma memiliki kelebihan dan kelemahan, Adapun kelebihannya, dapat memungkinkan kepada kita agar segera bertindak. Kelamahannya, tindakan kita itu masih ada yang tersembunyi

Di luar asumsi dan paradigma. Macam-macam paradigma menurut Kriyantono (2014) yaitu paradigma positivistik, interpretif/konstruktivis, dan kritis (advocacy/participatory) :

  1. Paradigma Positivistik

Kriyantono (2015) menjelaskanbahwa realitas dipandang sebagai sesuatau yang nyata, diatur oleh hukum-hukum yang bersifat objektif dan universal. Karenanya, realitas dapat diukur dengan standar tertentu, dapat digeneralisasikan, dan bebes dari konteks dan waktu (berlaku umum, kapan pun). Karena mengikuti hukum atau kaidah tertentu, maka pendekatan ini juga disebut pendekatan positif (yang saat ini sedang berlaku) yang menjadi guidebagi seseorang dalam memaknai realitas.

Nasrullah (2014) menjelaskan jenis penelitian yang terkait dengan paradigma ini bisa digunakan dalam penelitian kualitatif maupun kuantitif. Namun kecenderungan paradigma ini digunakan dalam penelitian bersifat kuantitatif, dengan menggunakan eksperimen, survey dan statistik. Dalam positivistic objek (populasi dan/atau sampel) dari penelitian dilihat apa adanya dan peneliti menggunakan pengukuran numerik untuk memahami realitas sosial. Tujuan utama yaitu untuk membuktikan atau menyangkal hipotesis dan akhirnya untuk menetapkan simpulan yang cenderung mengeneralisasikan. Jadi, paradigma Positivistik ini memandang proses komunikasi ditentukan oleh pengirim (source-oriented). Berhasil atau tidaknya sebuah proses komunikasi bergantung pada upaya yang dilakukan oleh pengirim dalam mengemas pesan, menarik perhatian penerima ataupun mempelajari sifat dan karakteristik penerima untuk menentukan strategi penyampaian pesan.

Teknik yang digunakan dalam penelitian dengan paradigma ini yaitu melihat gejala yang tampak atau dapat diukur dan diklasifikasikan. Tujuan utama dari ilmu sosial positivistik yaitu untuk menjelaskan hubungan kausal antara fenomena yang dapat diamati, baik itu sebab, akibat, perbandingan, maupun melihat pengaruh dari variable. Hasil penelitian diperoleh dari proses deduktif: mengunmpulkan fakta dari gejala yang muncul dan menguji gejala itu untuk menghasilkan hipotesis atau prediksi. Penelitian sosial positivistik didasarkan pada pengukuran yang objektif dan tidak intuisi atau penilaian subjektif. Data statistik kuantitatif atau tindakan peristiwa diamati, benda dan perilaku. Dalam proses penelitian, paradigma positivistik didasarkan pada pengukuran yang objektif dan bukan intuisi atau penilaian (anggapan) subjektif.

Istilah positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar 1825). Positivisme berakar pada empirisme, prinsip filosofik tentang positivisme dikembangkan pertama kali oleh empiris Inggris Francis Bacon (sekitar 1600). Tesis positivisme adalah: bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sejarah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta, menolak segala penggunaan metode diluar yang digunakan untuk menelaah fakta.

Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari paham ontologi yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Upaya penelitian dalam hal ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan.

Realitas bersifat objektif karena realitas berada diluar diriatau terpisah dengan individu. Umtuk memperoleh pengetahuan tentang realitas, periset harus menjaga jarak dengan realitas yang di risetnya dan tidak memberikan penilaian subjektif (bias pribadi). Dalam pendekatan ini, periset berperan sebagai ilmuwan yang tidak memiliki kepentingan atas realitas yang diriset. Tujuan mempelajari realitas adalah untuk menerapkan, menguji atau membuat hukum/kaidah universal tentang realitas yang di riset. Karenanya, secara metodologi, pembuktian kebenaran dilakukan dengan cara deduksi melalui eksperimen atau survey dengan analisis kuantitatif.

Paradigma positivisme menurut beberapa pendapat yaitu komunikasi merupakan sebuah proses linier atau proses sebab akibat yang mencerminkan upaya pengirim pesan untuk mengubah pengetahuan penerima pesan yang pasif (Ardianto, 2009).

Penelitian sosial positivistic didasarakan  pada pengukuran yang objektif dan bukan intuisi atau penilaian atau anggapan subjektif saja. Terdapat beberapa teori yang termasuk dalam paradigma positivistik diantaranya yaitu, Teori Agenda Setting dan Teori Kulitivasi (Cultivation Theory).

  1. Teori Agenda Setting

Teori ini muncul pada awalnya dari penelitian tentang pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1968. Teori Agenda Setting ini dicetuskan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Mereka menuliskan bahwa audiens tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar atri penting diberikan pada suatu isu atau topik dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut. Misalnya, dalam merefleksikan apa yang dikatakan oleh para kandidat dalam sebuah kampanye politik atau pemilu, media masa terlihat dan sangat menentukan mana topic yang penting dan yang tidak. Dengan kata lain, media massa itu dapat menetapkan  sebuah agenda kampanye tersebut. Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan-perubahan kognitif individu ini merupakan salah satu bentuk aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. Model uses and gratification telah di kritik karena terlalu melebih-lebihkan rasionalitas dan aktivitas komunikan, serta melupakan karakteristik stimuli(rakhmat, 2004:68). Model ini juga telah mempercepat keruntuhan mode jarum hipodemik, akan tetapi dengan fokus penelitian yang telah bergeser. Efek pada sikap dan pendapat bergeser kepada efek kesadaran dan juga pengetahuan dari efek afektif menjadi efek kognitif. Media masa tidak hanya menyediakan informasi bagi audiens, tetapi juga dengan informasi itu media mempengaruhi khalayak.

  1. Teori Kultivasi

Teori ini merupakan salah satu teori komunikasi massa yang dikembangkan oleh George Gerbner dan Larry Gross dari University of Pennsylvania. Teori kultivasi ini berasal dari beberapa proyek penelitian skala besar berjudul ‘Indikator Budaya’. Tujuan dari proyek Indikator Budaya ini adalah untuk mengidentifikasi efek televisi pada pemirsa. Gerbner dan Stephen Mirirai mengemukakan bahwa televisi sebagai media komunikasi massa telah dibentuk sebagai simbolisasi lingkungan umum atas beragam masyarakat yang diikat menjadi satu, bersosialisasi dan berperilaku.

  1. Paradigma Konstruktivis/Interpretif

Christine Daymon & Immy Holloway (2011); Lawrence Neuman (2006); Wimmer & Dominick (2011), menyebut interpretif dengan ciri-ciri yang sama dengan ciri-ciri konstruktivis yang digunakan oleh Egon G. Guba & Yvonna S. Lincoln (1994). Gerald Cupchik (2001) juga menyebut interpretif secara bergantian dengan konstruktivis. Teori Interpretif atau sama dengan konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya.  Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009:107).

Pendekatan ini memandang realitas sebagai konstruksi individu-individu. Kebenaran realitas bersifat relatif dan berlaku dalam konteks dan waktu yang spesifik. Karena realitas dihasilkan oleh konstruksi individu, maka realitas dimaknai beragam yang dipengaruhi latar belakang sosial, ekonomi, budaya individu tersebut. Pemahaman atas relitas yag diteliti adalah hasil interaksi antara individu dengan dan individu lainnya. Karena realitas merupakan hasil konstruksi individu, maka realitas dan periset adalah satu kesatuan tak terpisah. Individu-individu adalah subjek memaknai realitas.

Karenanya, tujuan riset adalah memfasilitasi terjadinya dialog konstruksi-konstruksi yang beragam dari individu-individu. Dalam studi komunikasi, paradigma konstruksionis ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Ia sering dilawankan dengan paradigma positivis atau paradigma transmisi.

Paradigma Konstruktivis menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dengan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek (komunikan/decoder) sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosial.

Ada beberapa teori yang terdapat dalam lingkup paradigma Kontruktivisme ini, diantaranya yaitu Uses And Grafications Theory dan Teori Interaksionisme Simbolik.

  1. Uses And Grafications Theory

Yaitu suatu pendekatan yang lebih berorientasi pada studi khalayak dan jamak digunakan pada penelitian yang berkaitan dengan khalayak. Teori Kegunaan dan Gratifikasi/kepuasan (Uses and Gratification Theory) pertama kali di rumuskan oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch(1974). Teori ini menyatakan bahwa seseorang secara aktif mencari media tertentu dan muatan (isi) tertentu untuk menghasilkan kepuasan (atau hasil) tertentu. Pendekatan teori Uses and Gratifications ini memandang bahwa khalayak adalah khalayak aktif yang memiliki kesadaran mental dalam mengkonsumsi informasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Misalnya, seseorang merupakan sekelompok konsumen aktif yang secara sadar menggunakan media dengan memilih media yang tepat untuk memenuhi kebutuhannya  dalah hal informasi atau yang lainnya, baik  personal maupun sosial yang diubah menjadi motif-motif tertentu.

  1. Paradigma Kritis

Paradigma Kritis menurut Gunter (2000:6) berasal dari pemikiran Karl Marx dan gagasan yang muncul tentang perjuangan kelas sosial. Seperti Konstrukivistik, paradigma kritis mengisi kekosongan paradigma positivistik dalam kegagalan melihat di balik fenomena sosial. Namun, paradigma kritis menambahkan dimensi sosio-ekonomi dan politik untuk mengidentifikasi motif yang selaras dengan kekuatan politik dan sosio-ekonomi yang dominan di masyarakat. Pada saat yang sama, para peneliti paradigma kritis juga mengkritik paradigma konstrutivistik yang memandang realitas dengan terlalu subjektif dan relativis.

Pendekatan kritis memandang realitas yang teramati hanyalah realitas yang ada di permukaan (di kulit) dan bersifat semu. Realitas ini berbeda dari realitas yang sebenarnya terjadi. Realitas yang sebenarnya ini adalah realitas yang ada di dalam dan masih tersembunyi (bisa jadi karena disembunyikan). Realitas semu ini dapat terjadi karena dibentuk oleh proses sejarah dan kontestasi kekuatan di masyarakat dalam berbagai bidang. Dalam pendekatan kritis berupaya untuk mempromosikan nilai-nilai untuk pencerahan masyarakat melalui kritik-kritik sosial. Periset bertindak sebagai seorang advokat, ilmuwan yang menawarkan pandangan-pandangan transformasi sosial (transformative intellectual) dan aktivis perubahan (changing the world).

Tujuan utama penelitian kritis ini yaitu untuk mengungkapkan, menjelaskan, dan memahami struktur kekuasaan dan hubungannya dalam masyarakat. Media, termasuk fenomena yang terjadi di media siber, diidentifikasi sebagai sumber yang memiliki kekuatan untuk melakukan control sosial yang dikendalikan oleh elite sosial, budaya dan politik. Artinya, melalui medialah nilai-nilai tertentu, keyakinan dan pendapat disebarluaskan. Lewat media pula kelas sosial tertentu mempertahankan posisi mereka dalam masyarakat. Pandangan kritis melihat bahwa realitas sosial memiliki beberapa lapisan dan setiap lapisan ini ada struktur atau mekanisme tertentu.

Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Ada dua kelompok besar pendekataan yaitu objektif dan subjektif. Terdapat karakteristik pendekatan kualitatif yaitu, menggunakan latar alamiah, menggunakan manusia sebagai instrument utamanya, menggunakan metode kualitatif (pengamatan, wawancara, atau studi dokumen), untuk menjaring data, menganalisis data secara induktif, menyusun teori dari bawah ke atas(grounded theory), menganalisis data secara deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi masalah penelitian berdasarkan fokus, menggunakan kriteria tersendiri seperti triangulasi, pengecekan sejawat, uraian rinci, dan lain sebagainya, untuk memvalidasi data, menggunakan desain sementara (yang dapat disesuaikan dengan kenyataan di lapangan), dan hasil penelitian dirundingkan dan di sepakati bersama oleh manusia yang di jadikan sumber data (Moleng, 2004: 10-13).

Sedangkan dalam pendekatan Kuantitatif, merupakan sebuah pendekatan penelitian dengan mendasarkan diri pada paradigma positivistik dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya. Pendekatan ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya adalah bersandar pada pengumpulan dan analisis data kuantitatif atau numeric, menggunakan strategi seperti survei dan eksperimen, mengadakan pengukuran dan observasi, serta melaksanakan pengujian teori dengan menggunakan uji statistika.

Perbedaan pendekatan antara subjektif dan objektif ini adalah perbedaan dalam memandang aspek ontologi, epistemologi, aksiologi dari realitas yang di riset :

  1. Ontologi

Berkaitan dengan pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan realitas itu, apa yang dicari, apa yang ingin diketahui.  Kata ontologi sendiri berakar dari bahasa Yunani. Onto berarti ada dan logos berarti ilmu. Dengan demikian, ontologi dimaknai sebagai ilmu yang membahas tentang keberadaan. Atau dengan kata lain, ontologi berarti cara untuk memahami hakikat dari jenis ilmu komunikasi. Ontologi sendiri merupakan cabang ilmu filsafat mengenai sifat (wujud) atau fenomena yang ingin diketahui manusia. Actional Theory atau Rules Theory : Individu menciptakan makna, mempunyai maksud dan mempunyai atau menentukan pilihan nyata. Orang-orang berperilaku berbeda dalam situasi berbeda karena aturan berubah dari satu situasi ke situasi lainnya. Perilaku manusia merupakan hasil atau akibat dari pilihan bebas. Orang membuat aturan sosial yang mengatur interaksi mereka. Bukan “covering laws” karena mereka menilai bahwa perilaku individu tidak seluruhnya ditentukan oleh lingkungan. Disebut teori-teori yang fokus pada kepentingan praktis (practical necessity). Keberadaan manusia tidak dapat diukur dengan pendekatan ilmu eksak, karena manusia dianggap berbeda dengan fenoena alam. Hubungan manusia dan realitas lebih bersifat alami dan berdasarkan pengalaman subjektif individu sehingga persepsi individu yang khas dan berbeda-beda perlu dikaji.

  1. Epistemologi

Berkaitan dengan bagaimana cara seseorang mendapatkan pengetahuan, bagaimana metodenya. Beberapa filosof percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui sesuatu kecuali kita menyatakannya dengan jelas. Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi sendiri dinamakan sebagai teori pengetahuan. Kata epistemologi berakar dari bahasa Yunani.  Kata ini terdiri dari dua gabungan kata yaitu episteme yang artinya cara dan logos yang artinya ilmu. Jika diartikan secara keseluruhan, epistemologi adalah  ilmu tentang bagaimana seorang ilmuwan membangun ilmunya. Pengetahuan dengan demikian dilihat sebagai sesuatu yang eksplisit. Beberapa yang lain mengklaim bahwa pengetahuan adalah tersembunyi, bahwa orangorang mengoperasikan pengetahuan pada sensibilitas dasar yang tidak disadari dan mereka mungkin tidak dapat mengeskpresikannya. Pengetahuan yg demikian dikatakan sebagai tacit (bawah sadar).

  1. Aksiologi

Berkaitan dengan tujuan atau untuk apa seseorang mempelajari realitas dan apakah manfaatnya. Dalam aksiologi ilmu pengetahuan, pertanyaan yang masih diperdebatkan adalah bukan mengenai apakah, nilai harus mempengaruhi teori dan penelitian, menailnkan bagaimana nilai harus mempengaruhi keduanya. Epistemologi pada akhirnya menghasilkan metodologi yaitu kajian yang mempelajari teknik-teknik menemukan pengetahuan. Ilmuwan klasik menganggap bahwa teori-teori dan riset adalah bebas nilai, ilmu pengetahuan bersifat netral, berupaya mendapat fakta sebagaimana tampak dalam dunia nyata. Jika pandangan pribadi ilmuwan tercampur, maka menghasilkan ilmu yg bias. Para ilmuwan tradisional menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab terhadap caracara penggunaan pengetahuan ilmiah. Sementara yang lain menganggap bahwa pengetahuan ilmiah sangat bersifat instrumentalis atau mempunyai tujuan. Pengetahuan dapat dikendalikan dan menguatkan penyusunan kekuatan dan kuasa di masyarakat. Karena itu ilmuwan bertanggung jawab membantu perubahan di masyarakat.

Jika dikaitkan dengan pernyataan pada paragraf sebelumnya bahwa riset merupakan sarana inovasi untuk mengembangkan suatu ilmu pengetahuan, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga pertanyaan dalam aspek ontology, epistemology, dan aksiologi ini adalah dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga pertanyaan ini selalu dipertanyakan dalam aktivitas mencari ilmu pengetahuan yang akhirnya membentuk proses sirkuler yang berkelanjutan.

Dikutip dari Kriyantono, 2006 berikut perbedaan masing-masing paradigma.

  1. Perbedaan Ontologis
Classical (Positive/objective) Subjective-Critical Subjective-Constructivism
Critical realism:

Ada realitas yang “real” yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal; walaupun kebenaran pengetahuan tsb. mungkin hanya bisa diperoleh secara probabilistik.

Out there (diluar dunia subjektif peneliti)

Dapat diukur dengan standar tertentu, digeneralisasi dan bebas dari konteks dan waktu.

Historical realism:

Realitas yang teramati merupakan realitas “semu” (virtual reality) yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi-politik

 

Relativism:

Realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.

 

  1. Perbedaan Epistemologi
Classical (Positive/objective) Subjective-Critical Subjective-Constructivis
Dualist/objectivist:

Ada realitas objektif, sebagai suatu realitas yg external di luar diri peneliti. Peneliti harus sejauh mungkin membuat jarak dengan objek penelitian.

 

Jangan ada penilaian yang subjektif atau bias pribadi.

Transactionalist/subjectivist:

Hubungan peneliti dengan yang diteliti selalu dijembatani nilai-nilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value mediated findings.

Transactionalist/subjectivist:

Hubungan peneliti dengan yang diteliti selalu dijembatani nilai-nilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value mediated findings.

 

  1. Perbedaan Aksiologi
Positivistik Kritis Konstruktivistik
Observer

– Nilai, etika dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian

 

-Peneliti berperan sebagai disinterested scientist

 

– Tujuan penelitian: Eksplanasi, prediksi dan kontrol realitas sosial

Activist

– Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisah-kan dari penelitian

 

– Peneliti menempatkan diri sebagai transfor-mative intellectual, advokat dan aktivis

 

– Tujuan penelitian: kritik sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment

Facilitator

– Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisah-kan dari penelitian

 

– Peneliti sebagai passion-ate participant, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial

– Tujuan penelitian:

rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dan yang diteliti.

Paradigma Komunikasi

Paradigma penelitian adalah sistem kepercayaan dasar atau pandangan dunia yang membimbing seorang peneliti. Fungsi paradigma dalam penelitian tidak hanya dalam hal memilih metode, namun juga dalam menentukan cara-cara fundamental secara ontologis dan epistemologis. Guba dan Lincoln membagi empat kategori paradigma penelitian sosial (terutama penelitian kualitatif), yakni, positivisme, post-positivisme, teori kritis, dan konstruktivisme (naturalistik) (Denzin dan Lincoln, dalam Halik, 2018). Keempat paradigma tersebut mewarnai teori dan penelitian ilmu-ilmu sosial yang berkembang hingga saat ini. Perbandingan dan perbedaan di antara paradigma tersebut mendorong dinamika kemajuan ilmu sosial secara khusus, terutama dalam menjawab perkembangan ilmu-ilmu eksakta dengan kemajuan teknologinya.

Arti penting perspektif teoretis, lebih besar dalam ilmu sosial daripada ilmu fisika. Setidak-tidaknya, perbedaan yang terdapat diantara perspektif teoretis lebih nyata dlam ilmu sosial. Misalnya, sebagian orang beranggapan bahwa adanya keanekaragaman ini merupakan suatu gejala dari karakteristik fenomena yang berlinan dan merupakan ciri khas bagi ilmu sosial dan fisika. Sebagian orang lainny beranggapan bahwa adanya keragamana ini merupakan kelemahan ilmu sosial dan beberapa orang lainnya melihat seabagai kekuatan ilmu sosial itu. Perspektif di bidang ilmu apapun (namun khususnya ilmu sosial) berisi sifat tertentu yang terkandung di dalamnya. Sifat itu timbul kapanpun perspektif itu dipakai, tidak peduli apakah bidang kajian itu adalah komunikasi, psikologi, sosioogi, antropologi, sejarah, ilmu politik.

Lebih tegas Fisher menekankan bahwa perspektif dalam arti pandangan yang realistis, tidak mungkin lengkap, sebab pasti sebagian dari suatu fenomena yang sedang dilihat itu hilang dan lainnya mengalami distorsi. Itulah hakikatperspektif menurut Fisher. Dengan demikian, perspektif dapat diartikan sebagai pendekatan strategi intelektual. Sejalan dengan pikiran Fisher, maka, paradigma kerangka konseptual komunikasi dibagi menjadi empat perspektif :

  1. Mekanistis

Perspektif mekanistik adalah perspektif paling lama, paling banyak, dan paling luas dianut sampai saat ini. Menurut Trenholm dalam Ardial (2014), perspektif mekanistik mengandung tiga asumsi, yaitu: pertama, fungsi mekanistik berjalan linier dan satu arah yaitu berbagai subbagian dari suatu system mekanis mengalihkan fungsinya secara linear dalam suatu rangkaian. Kedua, perspektif ini mengandung arti unsur-unsur dari sistem mekanistik adalah unsur-unsur material yang terdapat dalam waktu dan ruang.

  1. Psikologis

Asumsi perspektif psikologis yang pertama adalah manusia bergerak bebas dalam medan stimulus yang mereka serapdan hasilkan.

  1. Iteraksional

Ardial (2014) menjelaskan bahwa asumsi dari perspektif interaksionis adalah komunikasi berlangsung melalui penciptaan simbol-simbol bersama. Komunikasi dipahami sebagai suatu sistem perilaku. Fokus kajiannya berupa perilaku interaktif, sistem, eksistensi, struktur, dan fungsi.

  1. Pragmatis

Perspektif pragmatis memberikan fokus pada pola komunikasi yang digunakan oleh individu untuk saling berinteraksi dan mempengaruhi (Moris dalam Ardial, 2014).

Keempat perspektif itu telah menunjukkan bahwa komunikasi sebagai suatu kajian diwarnai oleh multiparadigma. Hal in membawa konsekuensi yang multiragam pula pada metode penelitian  pengkajian (penelitian) bagi komunikasi. Artinya, metode penelitian komunikasi tidak hanya eksperimental saja tetapi juga boleh historis., konsteektual, eksploratif, fenomenologis, diskriptif  ddan demikian pula boleh kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini tergantung pada perspektif yang dipakai. Oleh karena itu mengkaji komunikasi harus knsisten antara perspektif yang dianut dengan metode penelitian yang dipakai. Dengan demikian, perspektif atau paradigma yang ada dalam komunikasi itu perlu dipahami dengan baik.

Simpulan

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian terdapat beberapa macam paradigma yang dapat digunakan sebagai petunjuk dalam penelitian. Di dalam penelitian komunikasi ada tiga macam paradigma yaitu paradigma positivistik, paradigma konstruktivistik dan paradigma kritis yang mamiliki karakteristik masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Gunter, Barrie. 2000. Media Research Methods. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Kriyantono, R. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Grup.

Kriyantono, Rachmat. 2012. Etika & Filsafat Ilmu Komunikasi. Malang : UB Press.

Kriyantono, Rachmat. 2015. Public Relations, Issue, & Crisis Management. Jakarta: Prenadamedia Group.

Ardial, H. 2014. Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nasrullah, Rulli. 2014. Teori dan Riset Media Siber. Jakarta: Prenada Media Grup.