Sejarah Upacara Kasada

Upacara Kasada atau Hari Raya Radya Kasada merupakan upacara penyucian alam yang dipersembahkan kepada para leluhur. Upacara Kasada berawal dari kawasan Gunung Bromo, Ngadisari, Jawa Timur. Penerapannya dilakukan oleh Suku Tengger yang menganut agama Hindu. Upacara ini rutin dilakukan setahun sekali. Tepatnya berada di Pura Luhur Poten di lereng Gunung Bromo. Poten sendiri merupakan sebidang tanah di lautan pasir yang terdiri dari 3 bangunan, seperti pura untuk pemujaan.

Baca: Upacara Kasada: Tata Cara, Sejarah, dan Makna

Tujuan diadakannya upacara ini adalah sebagai persembahan kepada para leluhur atau Hyang Widhi, agar terhindar dari bencana, berkah dan keselamatan. Pelaksanaannya dilakukan dengan berjalan bersama menuju kawah gunung, diiringi dengan membawa sesaji untuk dilempar ke kawah gunung bromo.

Dalam artikel ini, Munus juga akan merangkum lebih detail tanggal pelaksanaan, makna, sejarah, dan proses pelaksanaan Upacara Kasada.

Sejarah Upacara Kasada

Konon, sejarah Upacara Kasada, bermula ketika pada zaman dahulu terdapat sepasang suami istri bernama Jaka Seger (Putra Brahmana) dan Rara Anteng (Putra Raja Majapahit). Mereka bersatu dari latar belakang status sosial yang berbeda. Jaka Seger adalah seorang pemuda dari Tengger, dan Rara Anteng adalah keluarga Majapahit.

Setelah bertahun-tahun menikah, mereka tidak pernah punya anak. Keduanya bersemedi bertanya kepada keturunan Sang Hyang Widhi, penjaga Gunung Bromo. Mereka berjanji, jika doanya terkabul, mereka akan mengorbankan anak bungsu mereka ke kawah Gunung Bromo.

Hingga akhirnya doa mereka terkabul dan mereka dikaruniai keturunan. Namun Jaka Seger dan Rara Anteng mengingkari janjinya, hingga Hyang Widhi marah, seluruh kawasan Bromo menjadi gelap.

Saat itu juga Kawah Bromo menjilat api merahnya, seketika anak bungsu mereka, Kusuma, menghilang ke dalam Kawah Api. Tiba-tiba ada suara yang tidak terlihat, yang berbunyi, “Brother, saya telah dikorbankan untuk Hyang Widhi dan orang tua kami untuk menyelamatkan Anda. Hidup dalam damai dan damai, sembahlah Hyang Widhi. Dan saya ingatkan bahwa setiap tanggal 14 bulan kasada, berikan sesaji untuk kawah gunung bromo. Cerita ini merupakan awal dari pelaksanaan tahunan Upacara Kasada oleh Suku Tengger.

Versi lain dari sejarah penyelenggaraan Upacara Kasada berbeda pada saat pengorbanan anak bungsu. Dalam versi cerita ini, saat pasangan Jaka Seger dan Rara Anteng memiliki dua puluh lima anak, mereka berjanji pada Hyang Widhi bahwa mereka akan mengorbankan salah satu anak mereka untuknya. Mereka dengan senang hati menikmati proses membesarkan anak mereka.

Waktu terus berjalan hingga semua anak telah beranjak dewasa dan sepertinya suami istri tersebut telah melupakan janji mereka kepada Hyang Widhi. Suatu saat mereka langsung teringat dan mengumpulkan semua anak mereka. Kemudian mereka memberi tahu anak-anak mereka tentang kesepakatan yang mereka buat dengan penjaga Gunung Bromo.

Setelah memberi tahu semua anak mereka, mereka bertanya apakah ada yang mau mengorbankan diri. Namun, tidak ada yang mau kecuali satu orang, yaitu anak bungsu bernama Kusuma. Sebagai orang tua, Jaka Seger dan Rara Anteng sebenarnya tidak tega mengorbankan anak-anaknya, apalagi si bungsu yang menjadi favorit mereka berdua.

Akhirnya persembahan kepada Hyang Widhi dilakukan oleh si bungsu. Pada saat si bungsu mempersiapkan diri, kata-kata yang diucapkan kurang lebih sama dengan versi pertama cerita itu. Ia mengimbau seluruh masyarakat Tengger untuk hidup bersama.