MENGAJAR TIDAK HARUS PAKAI MEDIA

Pembelajaran memiliki banyak sekali komponen; guru, siswa, bahan ajar, fasilitas, media, dan lain-lain. Tapi yang paling sering diperhatika oleh para pengajar adalah guru, siswa, bahan ajar dan media. Nah, sebagai alumni FKIP, penulis berani mengatakan bahwa media pembelajaran bukanlah komponen yang wajib ada dalam setiap proses pembelajaran. Mengapa? Berikut ulasannya.

Media berasal dari kata medium, yang artinya perantara. Contoh, Andi ingin berbicara dengan Budi. Andi berada di Jogja, Budi berada di Surabaya. Untuk memudahkan pembicaraan mereka, maka mereka menggunakan telepon sebagai perantara pembicaraan mereka. Nah, dari sini sudah semakin jelas konsep tentang madia. Secara harfiah, media pembelajaran adalah perantara untuk menyampaikan pesan atau informasi tertentu, dari komunikator (guru) kepada komunikan (siswa). Pada umumnya dalam aktivitas pembelajaran, yang menjadi media pembelajaran adalah buku, papan tulis, proyektor/LCD, dan gambar dua dimensi dan alat peraga atau media tiga dimensi. Jika dilihat sekilas, memang hal-hal semacam papan tulis, gambar dan alat peraga atau media tiga dimensi lainnya merupakan komponen pokok dalam pembelajaran yang tidak mungkin untuk ditinggalkan. Lalu, mengapa penulis di awal artikel ini mengatakan bahwa media pembelajaran tidak wajin ada dalam pembelajaran? Jawabnnya adalah karena media “hanya” sebatas perantara. Jika suatu informasi sudah dapat disampaikan tanpa menggunakan perantara apakah media itu masih bisa dikatakan perlu? Jika Andi sudah bisa bertemu dengan Budi untuk melakukan pembicaraan langsung, apakah telepon masih diperlukan untuk kepentingan mereka? Jelas tidak. Demikianlah dengan pembelajaran, jika materi yang akan disampaikan oleh guru sudah bisa tersampaikan kepada siswa tanpa menggunakan papan tulis, gambar dan media tiga dimensi maka tujuan pembelajaran sudah bisa tercapai. Kemudian muncul sebuah pertanyaan, seperti apakah pembelajaran yang tidak memerlukan media pembelajaran? Pembelajaran yang tidak memerlukan media adalah pembelajaan yang dijalankan dengan metode ceramah. Ya, hanya ini pembelajaran yang tidak memerlukan media pembelajaran karena penyampaian informasi terjadi secara lisan di dalam komunikasi langsung di kelas. Para praktisi pendidikan memandang metode ini adalah metode yang paling tidak efektif dalam dunia pendidikan. Namun demikian, ada beberapa materi pembelajaran yang sangat efektif ketika diajarkan dengan metode ceramah. Filsafat misalnya. Di beberapa universitas, filsafat jarang diajarkan dengan bantuan media. Dosen menjelaskan dengan contoh verbal, analogi, dan permainan diksi yang baik sehingga mahasiswanya menjadi paham akan materi yang disampaikan. Kasus ini pernah terjadi pada salah seorang dosen penulis yang pernah mengikuti kuliah filsafat di UGM, dimana dalam pembelajrannya dosen menyampaikan secara lisan tanpa menulis di papan tulis dan tanpa mengeluarkan alat peraga selama lebih dari 2 jam. Setelah dievaluasi ternyata tujuan pembelajaran benar-benar tercapai. Di sekolah pun, penulis pernah mengajar siswa kelas 5 SD materi sejarah dan penulis menerapkan metode ceramah, full lisan. Setelah di test dengan instrumen yang telah disusun, ternyata mereka memahami apa yang sudah disampaikan dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa media pembelajaran dalam suatu kegiatan belajar mengajar hukumnya sunnah. Tinggal bagaimana gurunya berimprovisasi.

Oleh sebab itu, bagi tenaga pengajar sekalian, jangan putus asa dan pasrah manakala menemukan suatu kelas tidak menyediakan media pembelajaran sebagaimana diharapkan oleh guru. Bahkan, ketiadaan media pembelaran di dalam kelas bisa membuat anda untuk tetap mengajarkan anda membuat media realistis. Contoh anda ingin mengajarkan tentang jenis-jenis akar tumbuhan. Ketika dikelas tidak ada gambar akar sebagai media, anda bisa keluar kelas dan mencabut beberapa rumput atau tanaman lainnya sebagai media pembelajaran. Jadi, guru memang harus kreatif dan mampu berimprovisasi. Sekian dulu artikel tentang media pembelajaran kali ini. semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi para pengajar seklian. Terima kasih.