BANGUNAN HEMAT ENERGI DI IKLIM TROPIS

Peningkatan suhu di permukaan bumi, berdampak pada peningkatan beban energi listrik pada bangunan. Krisis sumber energi tak terbaharui mendorong arsitek semakin peduli akan energi. Merancang bangunan hemat energi merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh para arsitek yaitu memanfaatkan kondisi iklim dalam menciptakan bangunan hemat energi. Dengan maraknya isu global warming, diharapkan konsep perancangan memperhatikan keseimbangan alam sehingga bumi tetap terjaga, hal ini merupakan konsep penekanan desain ekologi arsitektur dimana dalam merancang bangunan tidak hanya mementingkan keberhasilan dalam mendesain keindahan bentuk bangunan tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan dalam perspektif yang lebih luas, lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan global alami yang meliputi unsur bumi, udara, air dan energi yang perlu dilestarikan.

Penggunaan energi pada bangunan gedung adalah untuk pengkondisian udara, penerangan dan perlengkapan bangunan. Pemakaian energi sebagai sumber pencahayaan buatan adalah lebih rendah dibandingkan dengan pengkondisian udara, namun dengan menurunkan penggunaan energi pada bangunan gedung, maka konsumsi energi dapat berkurang dan dapat mendesain bangunan dapat menciptakan bangunan hemat energi. Desain pencahayaan perlu mendapat perhatian khusus dalam mendesain bangunan dan pada umumnya perencana mendesain sistim tata cahaya berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh SNI tahun 2001. Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengguna ruang masih dapat beraktifitas dengan baik, walaupun tingkat iluminasi pada ruang tersebut tidak memenuhi standar yang direkomendasikan. Rekomendasi standar iluminasi pada ruang kerja kantor, berdasarkan penelitian tentang visual performance yang terkait dengan beberapa variabel antara lain : nilai iluminasi (level illuminance), latar belakang iluminasi (background illuminance), kontras (contrast), kesilauan (glare), tingkat kecemerlangan (brightness), umur (age), dan sudut pandang (visual angle). Variabel tersebut diatas perlu dianalisis dan merupakan guidelines dalam merumuskan rekomendasi standar iluminasi, khususnya pada ruang kerja kantor.

Bangunan gedung seperti perkantoran, apartemen, pusat perbelanja dan lainnya menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Berdasarkan riset sebuah lembaga di Amerika Serikat bahwa 68% total emisi CO2 di bumi dihasilkan oleh bangunan gedung bertingkat dan data ASEAN Center for Energi (ACE) menyatakan 48% pemanasan global dihasilkan oleh bangunan. Hasil studi konsultan energi Inggris (Max Fordam) menyatakan bangunan mengonsumsi 50% total konsumsi minyak nasional di Negara-negara maju, sementara bangunan di Indonesia konsumsinya berkisar antara 36-45%. Saat ini dunia sedang menggalakkan pembangunan yang hemat energi, bahkan di Amerika Serikat, para Arsitek yang merancang bangunan harus melalui uji kelayakan hemat energi untuk setiap karyanya, bahkan untuk karya arsitektur tertentu harus memenuhi kriteria arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture). Distribusi pemakaian energi pada bangunan gedung digunakan untuk pengkondisian udara yaitu 50-70 %, untuk penerangan 10-25% dan elevator 2-10% (Sugijanto, 1998)meskipun penggunaan energi sebagai sumber pencahayaan buatan lebih sedikit dibandingkan dengan pengkondisian udara, namun dengan meminimalkan penggunaan energi untuk pencahayaan, maka konsumsi energi dalam bangunan dapat berkurang sehingga perencanaan sistem tata cahaya harus menjadi perhatian khusus pada tahap awal perencanaan disain untuk menciptakan bangunan hemat energi.

Dengan meningkatan listrik tampaknya tidak dapat dielakan lagi dalam masa mendatang. Hal ini disebabkan oleh semakin menipisnya cadangan minyakbumi di Indonesia. Konsekuensinya, sejumlah besar bangunan tinggi dan bangunan lainnyadi kota besar akan kesulitan menutup beaya operasional gedung untuk suplai listrik. Sekitar30% pasokan energi nasional dikonsumsi oleh sektor bangunan. Jumlah ini cukup berartiuntuk diperhitungkan dalam upaya penghematan energi nasional. Akibat keterbatasan pengetahuan dan kekeliruan dalam mengadopsi rancangan arsitektur dari negara-negarabarat, cukup banyak bangunan di kota besar di Indonesia dirancang tanpa pertimbangan energi. Akibatnya menjadi boros energi.

 

Bangunan berperan sebagai alat pencapaian kenyamanan fisik manusia, dengan cara memodifikasi lingkungan alamiah yang tidak diinginkan menjadi lingkunganbuatan yang nyaman. Bangunan merupakan ‘filter’ (penyaring) faktor-faktor alamiah yang menyebabkan ketidak nyamanan: hujan, terik matahari, angin kencang, udara panas tropisagar tidak masuk ke dalam bangunan. Untuk memfilter faktor iklim yang tidak dikehendaki,tidak jarang bangunan dilengkapi dengan peralatan mekanis. Udara luar yang panas dimodifikasi oleh bangunan-dengan bantuan mesin AC menjadi udara dingin. Dalam hal inidibutuhkan energi listrik untuk menggerakkan mesin AC. Demikian juga halnya bagi penerangan malam hari atau ketika langit mendung, diperlukan energi listrik untuk lampu penerang.

Pengertian bangunan adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang didirikan secara permanen di suatu tempat. Bangunan juga biasa disebut dengan rumah dan gedung, yaitu segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya. Bangunan memiliki beragam bentuk, ukuran, dan fungsi, serta telah mengalami penyesuaian sepanjang sejarah yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti bahan bangunan, kondisi cuaca, harga, kondisi tanah, dan alasan estetika.

Penghematan energi atau konservasi energi adalah tindakan mengurangi jumlah penggunaan energi. Penghematan energi dapat dicapai dengan penggunaan energi secara efisien dimana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi lebih sedikit, ataupun dengan mengurangi konsumsi dan kegiatan yang menggunakan energi. Penghematan energi dapat menyebabkan berkurangnya biaya, serta meningkatnya nilai lingkungan, keamanan negara, keamanan pribadi, serta kenyamanan. Organisasi-organisasi serta perseorangan dapat menghemat biaya dengan melakukan penghematan energi, sedangkan pengguna komersial dan industri dapat meningkatkan efisiensi dan keuntungan dengan melakukan penghemaan energi.

Sehingga, Bangunan Hemat Energi adalah bangunan yang tidak terlalu banyak menggunakan energi dari bumi, dan tidak mencemarkan lingkungan seperti air, udara, dan tanah. karena jaman sekarang sudah terjadinya pemanasan global seperti, atmosfer yang bolong, naiknya permukaan air laut di karenakan panasnya permukaan bumi ini. bukan hanya itu, energi energi di bumi seperti minyak bumi, pohon, air di bumi sudah banyak sekali pengurangan. maka dari itu arsitektur sekarang menggunakan konsep Bangunan Hemat Energi untuk mengurangi globalisasi

  • Penerapan Bangunan Hemat Energi

1 Bentuk dari bangunan

Bentuk dari bangunan hemat energi terdiri dari komponen tidak tembus cahaya (misalnya dinding) dan sistem fenestrasi atau komponen tembus cahaya (misalnya jendela) yang memisahkan interior bangunan dari lingkungan luar. Selubung bangunan memberikan perlindungan terhadap pengaruh lingkungan luar yang tidak dikehendaki seperti panas, radiasi, angin, hujan, kebisingan, polusi, dll. Bentuk bangunan bangunan memiliki peran penting dalam mengurangikonsumsi energi untuk pendinginan dan pencahayaan. Pada bangunangedung bertingkat menengah dan tinggi, luas dinding jauh lebih besar daripadaluas atap. Oleh karena itu, perancangan selubung bangunan vertikal, terutama jendela, harus dilakukan secara hatihati untuk menghindari masuknya panas kedalam bangunan secara berlebihan. Pada bangunan bertingkat rendah dimana atapmemiliki bidang yang lebih luas daripada dinding, panas yang masuk dari atapmungin menjadi faktor penentu beban pendinginan secara keseluruhan.Selainitu, jendela dan skylight akan menentukan besarnya cahayayang dapat masuk kedalam bangunan. Dengan mengoptimalkan desain komponen tembus cahaya , konsumsi energiuntuk pencahayaan buatan dapat dikurangi secara signifikan dengan tetapmenghindari masuknya panas yang berlebih ke dalam bangunan.

2 AC

Kebanyakan bangunan modern dirancang untuk sepenuhnya atau sebagian besar tertutup, melindungi penghuninya dari kontak langsung dengan lingkungan luar. Sistem pengkondisian udara digunakan untuk mengatur suhu  udara dan kelembaban yang nyaman di dalam ruangan. Hal ini kontras dengan arsitektur tradisional Indonesia, yang sangat bergantung pada sistem peneduhyang melindungi ruangan dari terik sinar matahari, serta adanya hembusan anginyang bebas melalui bangunan. Dalam iklim tropis, kenyamanan termal terutama disediakanoleh pendinginan suhu ruangan, penurunan kadar kelembaban udara yang dipasok kedalam ruangan, dan memastikan pasokan udara bersih. Kondisi “nyaman” seperti yang didefinisikan oleh standar bagi negara tropis meliputi suhu ruangan 25°C dan 54% sampai 66% kelembaban relatif.

3 Sistem pencahayaan

Cahaya merupakan suatu keharusan agar dapat melakukan aktivitasdengan baik serta untuk menciptakan kenyamanan visual. Cahaya mataharimenjadi sumber utama cahaya hingga saat ini. Ssebagian besar kebutuhan kitaakan pencahayaan, sampai saat ini sebenarnya dapat dipenuhi oleh pencahayaanalami, jika bangunan dirancang dengan tepat. Namun, pencahayaan buatan denganlistrik tidak dapat dihindari pada saat cahaya alami tidak tersedia, atau di dalamruangan tanpa akses ke pencahayaan alami.

Desain sistem pencahayaan yang cermat, perlengkapan yang efisien dankontrol yang baik memiliki potensi untuk mengurangi total konsumsi energi pada bangunan – bangunan hingga 15%.

Penerapan peraturan bangunan gedung hijau diharapkan mendorong penghematan energi pencahayaan dan pendinginan serta sekaligus meningkatkan kenyamanan visual dalam bangunan.

4 Sistem Pengkondisian Udara & Ventilasi

Sistem tenaga listrik menyalurkan listrik yang dihasilkan dari sumber(biasanya pembangkit listrik) dan memasoknya untuk bangunan dan sistem didalamnya, seperti pencahayaan, pengkondisian udara, peralatan dan ventilasi. Kehilangan energi (energy losses) terjadi pada semua segmen dari sistemkelistrikan termasuk ketika menghasilkan, mengangkut, menyalurkan, danmengkonsumsi listrik. Sementara ketiga segmen pertama berada di luar lingkup pedoman ini, kehilangan energi selama proses konsumsi listrik dalam bangunansangat menguras sumber daya dan biaya operasional.

Kebanyakan bangunan modern dirancang untuk sepenuhnya atau sebagian besar tertutup, melindungi penghuninya dari kontak langsung dengan lingkungan luar. Sistem pengkondisian udara digunakan untuk mengatur suhu udara dankelembaban yang nyaman di dalam ruangan. Hal ini kontras dengan arsitekturtradisional Indonesia, yang sangat bergantung pada sistem peneduh yangmelindungi ruangan dari terik sinar matahari, serta adanya hembusan angin yang bebas melalui bangunan.

5 Efisiensi air

Air adalah sumber daya yang sangat penting untuk kehidupan dankesehatan yang baik, tetapi sekitar sepertiga dari populasi global tidak memilikiakses keair bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun sebagian besar dari planet kita mengandung air, sebagian besar adalah air asin dan dengandemikian tidak dapat dikonsumsi.Volume Air tawar hanya 2.5% dari total air di bumi, dimana 70% nya terkunci dalam gletser dan tertutup salju permanen.Sumber air yang terbatas digabungkan dengan kebutuhan air bersih yang besarsecara global telah menyebabkan kelangkaan air di seluruh dunia.

Meskipun Malang terletak di dataran tinggi ±506 m di atas permukaan laut rata-rata (dpl) (mean sea level), kawasan Malang selatan yang relatif lebih rendah dan dikelilingi pengunungan menyebabkan Malang terletak pada area yang berbentuk seperti cekungan . Hal ini menyebabkan kawasan Malang selatan menjadi langganan Banjir setiap musim hujan. Dengan asumsi kebutuhan air bersih = 125 l/hari/jiwa, diperkirakan kebutuhan 875.771 penduduk di Malang dan sekitarnya pada tahun 2005 sebanyak 357.49 juta m/tahun. Disisi lain, kemampuan PDAM dalam memasokair bersihdi Kota dan Kabupaten Malang hanya 36.98 juta m3/tahun, atau 10.34% dari total kebutuhan. Kekurangan kebutuhan air dipenuhi dari air tanah dangkal,tengah dan dalam.

Sudah barang tentu penggunaan air tanah di Malang saat ini jauh lebih besar akibat pertumbuhan penduduk yang pesat karena urbanisasi, intensitas penggunaan air tanah yang semakin besar akibat perkembangan Kawasan komersial dan industri, serta pengembangan infrastruktur PDAM yang tidak setaradengan pesatnya laju pertumbuhan kota.

Pasokan air pipa perkotaan (PDAM) di Malang, seperti halnya kota lain di Indonesia, ditandai dengan tingkat akses dan kualitas yang buruk. Kendala, jangkauan yang terbatas dari jaringan pipa, biaya rendah air tanah, dan kualitas airmerupakan faktor penting yang menyebabkan kosumen lebih suka menggunakan air tanah. Kecenderungan ini telah menyebabkan penggunaan air tanah yang berlebihan dan pencurian air tanah, yang menyebabkan penurunan kualitas, kuantitas dan salinasi akuifer serta intensitas banjir yang meningkat.

6 Pengolahan Lahan

Pengelolaan lahan merupakan bagian yang tidak berkaitan langsungdengan kinerja bangunan gedung, namun menjadi salah satu faktor yang sangatterlihat dan mendapatkan perhatian utama. Mengapa demikian karenapersyaratan pengelolaan lahan menjelaskan bagaimana korelasi antar bangunan dengan kaveling/persil bangunan itu berdiri, bangunan ke bangunan sekitarnya, dansecara luas, bangunan terhadap lingkungan perkotaan. Misalnya pesyaratan yang berkaitan dengan penyediaan RTH, secara kasat mata akan mudah diamati apakahsuatu bangunan tersebut memiliki dan menerapkan penyediaanRTHdengan benar, berupa alokasi hijau bangunan pada kaveling, maupun hijau pada bagian- bagian bangunan.

Contoh lainnya, adalah penyediaan fasilitas pendukung, yang difokuskan pada bagaimana prinsip-prinsip aksesibilitas ke dan dari bangunansebanyak mungkin mampu meresapkan air ke dalam tanah, danmendorong pengurangan penggunaan moda transportasi bermotor gunamengurangi emisi CO2 dengan memberikan peluang lebih banyak penggunaan sepeda dan fasilitasnya, berupa rak sepeda dan kamar mandi. Untuk pengelolaan limbah padat dan sampah, saat ini difokuskan untuk melakukan pengelolaannya, berupa penerapan regulasi baku limbah padat dan upaya pemisahan sampah dalamkontainer-kontainer terpisah.Penyediaan RTH saat ini merupakan indikator utama dari kualitaskehidupan perkotaan yang semakin baik. Banyak kota-kota di dunia memandangisu RTH ini adalah komponen krusial dalam memberikan pelayanan dasarkepada penduduknya. Bentuknya bisa bermacammacam, umumnya berupa taman yangdigunakan untuk rekreasi (park) atau area yang digunakan untuk ditanami varian pepohonan (garden). Di bawah ini adalah data besaran RTH di kota-kota di dunia,dibandingkan dengan Vienna, Austria, yang disebut sebagai barometer penyediaan RTH.

7 Penerapan bangunan hemat energi

  1. Pearl River Tower (China)

Gedung ini mengonsumsi energi 60% lebih sedikit dari bangunan denganukuran serupa. Pearl River Tower memanfaatkan angin untuk memenuhib kebutuhan energinya, yang mengarahkan angin ke empat bukaan di lantaimekanik bangunan tersebut.Gedung ini memanfaatkan turbin besar untuk menarik angin dari arahtimur dan merubahnya menjadi energi listrik. Turbin menghasilkan hampir 15 kalilebih tenaga listrik daripada generator biasa. Serta penggunakan panel surya yangdipasang pada gedung tersebut, yang hal tersebut merupakan salah satu energiyang dihasilkan matahari dan disimpan dalam paanel tersebut. Dalam pencahayaannya juga masih menggunakan sinar matahari, jadi penerangannya sangat memberikan kehangatan dengan menggunakan matahari bukan denganenergi listrik saja.

 

7.1. Micro Eission Sun-Moon Mansion (China)

Dibangun dengan desain menyerupai matahari merupakan Gedung dengan tenaga surya terbesar di dunia. Digunakan sebagai hotel, perkantoran dan pusat konferensi Gedung ini dilengkapi dengan 50.000 panel surya untuk mendukung semua bagian Gedung ini. Selain itu dilengkapi juga dengankaca berukuran besar untuk menghemat penggunaan lampu.

 

7.2. Mode Gakuen Spiral Tower (Japan)

Gakuen Spiral Towers adalah gedung kampus yang berada di kota Nagoya, Jepang dengan bentuk spiral dan dibuat oleh Nikken Sekkei. Gedung yang terdiri dari 36 lantai dengan tinggi sekitar 170 m ini merupakan kampus Untuk 3 jurusan disana yaitu fashion design, komputer serta kedokteran.Teknologi ramah lingkungan yang diterapkan pada gedung ini adalah penggunaankaca jendela sistem Double-Glazed Air Flow yang bertujuanmenyerap panas yang masuk ke dalam gedung serta penggunaan ventilasi udara secaraalami. Teknologi ini digunakan untuk mengurangi pemakaian AC di dalam ruangan.

  • Prinsip Bagunan Hemat Energi
  1. Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).
  2. Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
  3. Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang /Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.
  4. Tidak berdampak negatif bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
  5. Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan: Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita.

 Manfaat dari Bangunan Hemat Energi

Penghematan energi dapat menyebabkan berkurangnya biaya, serta meningkatnya nilai lingkungan, keamanan negara, keamanan pribadi, serta kenyamanan.Penghematan energi adalah unsur yang penting dari sebuah kebijakan energi. Penghematan energi menurunkan konsumsi energi dan permintaan energi per kapita, sehingga dapat menutup meningkatnya kebutuhan energi akibat pertumbuhan populasi.

Kesimpulan

Pembangunan Bangunan Hemat energi sangat efisien untuk lingkungan di masa sekarang dan masa yang akan datang, supaya bumi ini tetep terjaga sampai anak cucu kita kelak. kontruksi hemat energi merupakan salah satu kegiatan Green Contruction. Konsep hemat energi ini menghematkan Air, energi listrik, material bangunan.. Apalagi kita bisa membuat taman yang akan membuat rumah kita berasa nyaman pada siang hari dikarenakan cukup banyak memiliki tumbuhan sebagai tanda peduli akan lingkungan. Bangunan hemat energi sangat membantu kita untuk mengurangi biaya, meningkatkan kepedulian atas lingkungan, kemaanan negara atas globlaisasi, keamanan dan kenyamanan kita dalam menghuni suatu bangunan yang akan kita huni.

 

Link PPT

https://drive.google.com/file/d/1rd0j2zc1F-O-fLIrrO5kFVZs5ChpDNA-/view?usp=sharing

Posted in Uncategorized | Comments Off on BANGUNAN HEMAT ENERGI DI IKLIM TROPIS

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Posted in Uncategorized | 1 Comment