RSS
 

Kepemimpinan Dalam Sektor Publik

14 Apr

Kepemimpinan Dalam Sektor Publik

Oleh : Dinda Galuh S. Putri (185030100111081/08)

Kepemimpinan dalam sektor publik sering dipandang sebagai kepemimpinan yang dapat mengenali secara tepat terkait dengan hal pemberian layanan, penampungan aspirasi yang diberikan masyarakat dan perkembangan lingkungan strategik yang dihadapi dalam bidangnya. Sehingga dengan adanya kepemimpinan yang baik akan berpengaruh pada kemajuan organisasi. Setiap pemimpin membutuhkan kompetensi dan kualifikasi tertentu, karena seorang pemimpin akan menentukan arah organisasi melalui visi dan tujuan organisasi yang telah diciptakan, pemilihan sumber daya manusia yang kompeten dan mengalokasikannya dengan tepat dan pengkoordinasian setiap perubahan yang terjadi. Van Wart (2003) mengemukakan beberapa tipe kepemimpinan sektor publik, yaitu, kepemimpinan organisasi, kepemimpinan politik dan kepemimpinan hak sipil.

Kepemimpinan Sektor Publik

Kepemimpinan dapat diidentifikasi menjadi beberapa perspektif, yaitu, kepemimpinan sebagai sebuah proses, kepemimpinan memiliki pengaruh, kepemimpinan terjadi dalam kelompok dan kepemimpinan melibatkan tujuan bersama. Leadership dapat dikonsepkan sebagai suatu proses atau sebagai suatu penentu perilaku yang mengarah pada tujuan (Karmel,1978). Kepemimpinan sebagai suatu proses menunjukkan bahwa kepemimpinan bersifat tidak linear atau satu arah melainkan bersifat interaktif. Van Wart (2003) menjelaskan beberapa karakteristik leadership yang terangkum dalam skill, sifat dan gaya kepemimpinan. Skill yang dimaksud meliputi ketrampilan teknis, komunikasi, pengaruh, negosiasi dan analitik.

Ada dua arus besar dalam mendefinisikan kepemimpinan dalam literatur administrasi publik (Ketll,2000). Pertama, kepemimpinan politk, dimana dianggap sebagai pendekatan tradisional dalam bidang ilmu politik yang memisahkan dimensi politik dan administrasi sektor publik. kepemimpinan tipe ini memiliki hak prerogratif dalam memilih pejabat. Pendekatan jenis ini merupakan pendekatan dominan dalam kepmimpinan sektor publik. kedua, kepemimpinan administratif, dimana pendekatan ini tidak hanya melihat administrasi publik terbatas pada peran sebagai pelaksana tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun lembaga-lembaga publik.

 

Permasalahan Kepemimpinan Pada Sektor Publik

Secara umum masih banyak dijumpai berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan kepemimpinan di sektor publik. Beberapa alasan yang mungkin menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya permasalahan-permasalahan tersebut antara lain : adanya rutinitas tugas dan penekanan berlebihan pada pertanggungjawaban formal sehingga mempengaruhi prosedur kerja menjadi kaku dan lamban, etos kerja yang cenderung mempertahankan status-quo dan tidak mau menerima adanya perubahan.

Permasalahan yang terjadi pada proses kepemimpinan di sebuah organisasi publik akan berakibat pada kualitas pelayanan publik yang dijalankan. Hal ini dapat ditandai dengan, pertama, bentuk pelayanan yang kurang responsif. Kondisi ini bisa terjadi pada seluruh level unsur pelayanan. Pemberi layanan akan cenderung kambat atau bahkan mengabaikan bentuk keluhan, aspirasi maupun masukan yang diberikan masyarakat. Kedua, kurang informatif., penyampaian informasi yang diterima masyarakat menjadi lamban. Ketiga, kurang aksesibel, lokasi pelayanan yang jauh dari jangkauan masyarakat. Keempat, kurang koordinasi, kurangnya koordinasi antara unsur pelayanan yang menyebabkan adanya overlapping. Kelima, prosedur yang rumit, karena pelayanan dilakukan melewati berbagai level jabatan, maka penyelesaian layanan membutuhkan waktu yang lama. Keenam, inefisiensi, persyaratan yang dibutuhkan untuk memenuhi prosedur pelayanan terkaang tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan.

Gaya Kepemimpinan Organisasi Sektor Publik

Gaya kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu, Kepemimpinan Transformasional, Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan Terintegrasi. Kepemimpinan Transforamsional, merupakan bentuk kepemimpinan yang mengasumsikan bentuk dari gaya relationship-oriented yang disebut sebagai visioner, karismatik dan inspirasional dan perilaku tertentu yang ditunjukkan oleh pemimpin transformasional, seperti : mengartikulasikan visi yang menarik, menyediakan makna dan rasa mengenai tujuan, menyelaraskan nilai-nilai karyawan dan ideologi organisasi, atau motivasi inspirasional; menulis tantangan emosional dan meningkatkan kebanggaan dan loyalitas pengikut atau pengaruh ideal; melihat dunia dari perspektif baru dan menciptakan struktur kerja yang mendorong partisipasi karyawan atau stimulasi intelektual; model perilaku prososial. Pemimpin transformasional dianggap kurang efektif untuk diterapkan di organisasi sektor publik karena kurangnya etika dalam menerapkan kewirausahaan ke dalam sektor publik.

Kepemimpinan Transaksional, merupakan pendekatan dengan cara pemantauan kinerja pengikut, intervensi ketika standar tidak dipatuhi dan akan mengambil tindakan korektif ketika penyimpangan terjadi, memberikan pelayanan memuaskan dan mendiagnosis kebutuhan setiap pengikut (Trottier et al, 2008). Kepemimpinan Terintegrasi, merupakan penggunaan kombinasi antara pendekatan transformasional dan pendekatan transaksional dengan cara memastikan kejelasan yang diinginkan, meningkatkan motivasi intrinsik pengikut, mengakui prestasi, penghargaan prestasi tertinggi dan pada saat yang sama mengadopsi berbagai tingkat interaksi transaksional dengan bawahan (Van Wart, 2003).

Salah satu perspektif tentang kepemimpinan terintegrasi berasal dari Fernandex et al. (2010) yang mendefinisikan adanya 5 gaya kepemimpinan yang dapat mempengaruhi kinerja, yaitu :

  • Kepemimpinan Berorientasi pada Tugas :

Menetapkan dan mengkomunikasikan tujuan, perencanaan, mengkoordinasikan kegiatan bawahan, memberikan umpan balik.

  • Kepemimpinan Berorientasi pada Hubungan :

Memperlakukan bawahan dengan sama, menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka, menghargai pekerjaan mereka, melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.

  • Kepemimpinan Berorientasi pada Perubahan :

Membuat organisasi lebih adaptif dan responsif terhadap lingkungan eksternal, mengidentifikasi inisiatif strategis yang paling menjanjikan bagi organisasi, menggembirakan karyawan untuk mencari solusi kreatif untuk masalah yang dihadapi organisasi.

  • Kepemimpinan Berorientasi pada Keanekaragaman :

Mengambil keuntungan dari sudut pandang yang berbeda untuk memastikan peningkatan kualitas dalam pengambilan keputusan, jumlah ide yang lebih besar dan konsensus keputusan.

  • Kepemimpinan Berorientasi pada Integritas :

Jaminan legalitas, keadilan dan perlakuan yang adil pada karyawan dan penerima layanan.

 

 

 

 

REFERENSI :

 

Albrecht S. 2005. Leadership Climate in the Public Sector : Feelings Matter Too!. International Journal of Public Administration 28 : 397-416.

Aziz, Fardaniah Abdul, dkk. 2012. Leadership Practices in Public Sector in Selected Countries : An Integrative Literature Review. Journal of Management Policy and Practice. Vol. 8 No. 1

Muallidin, Isnaini. Kepemimpinan Sektor Publik Dalam Perspektif New Public Leadership.

Ulum, M. Chazienul. 2012. Leadership : Dinamika Teori Pendekatan dan Isu Strategis Kepemimpinan di Sektor Publik. Malang : UB Press

Wiwaha, Widya. 2017. Karakteristik dan Gaya Kepemimpinan Organisasi Sektor Publik. Jurnal Kajian Bisnis. Vol. 25, No.1, 2017, 1-12.

 
Comments Off on Kepemimpinan Dalam Sektor Publik

Posted in Uncategorized

 

KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL

12 Dec

KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL

 
Comments Off on KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL

Posted in Uncategorized

 

Hello world!

12 Dec

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!