Adu Motherboard

April 12th, 2010

DAFTAR PESERTA: KATEGORI SLI

Dukungan terhadap teknologi multigraphics SLI masih menjadi salah satu feature yang ditonjolkan pada chipset nForce 590 SLI dan nForce 570 SLI. Berikut ini adalah ulasan lengkap motherboard-motherboard yang sudah mendukung SLI:

ASUS M2N32 SLI Deluxe WIFI-AP
Sama seperti saudaranya yang bergelar CrossHair, board ini diperkuat oleh chipset nForce 590 SLI. Sebagai solusi pendinginan untuk chipset tersebut, ASUS menggunakan heatsink pasif yang dilengkapi dengan heatpipe. Selain mendinginkan chipset, heatpipe tersebut juga turut mendinginkan mosfet yang terletak di sekitar soket prosesor. Jika Anda merasa kinerja heatpipe belum optimal, Anda dapat menggunakan optional fan yang disertakan dalam paket penjualan board ini. Optional fan tersebut dapat diletakkan di atas sirip-sirip heatsink.

Karena board ini merupakan ‘Wireless Edition’, ASUS melengkapi board ini dengan bundel WIFI card. Dengan software yang diberikan, Anda dapat menjalankan PC ini sebagai Acess Point ataupun client tanpa harus merogoh kocek lagi untuk membeli modul WIFI tambahan. Kenikmatan menikmati tata suara PC juga menjadi perhatian ASUS dengan menggunakan sound chip onboard ADI 1988-8 Channel. Secara keseluruhan, perlengkapan yang diberikan memang tidak selengkap Asus CrossHair. Namun dibandingkan dengan peserta lain, perlengkapan yang disediakan board ini membukukan nilai yang cukup tinggi.

Biostar Tforce 590 SLI Deluxe
Board ini merupakan seri teratas dari board keluaran Biostar yang ikut serta dalam tes perbandingan motherboard kali ini. Hal ini turut dikukuhkan dengan digunakannya chipset nForce 590 SLI buatan NVIDIA. Chipset tersebut menduduki kasta yang paling tinggi dari keluarga nForce 500 Series.

PAKET PENJUALAN YANG TIDAK BIASA : Pemberian bundel yang sedikit ‘tidak biasa’ berupa earphone dan universal charger untuk handphone merupakan salah satu kreasi Biostar untuk menarik perhatian konsumen. Bundel ini bisa Anda dapatkan di dalam paket penjualan motherboard Tforce 590 SLI Deluxe.
Biostar yang selama ini lebih dikenal sebagai pemain di kelas value tampaknya mulai melebarkan sayapnya di kelas power user dan overclocker. Produk-produknya yang ditujukan untuk kelas tersebut bergelar T-series. Pada Tforce 590 SLI Deluxe, Anda dapat menemukan beberapa feature khusus yang biasanya hanya ditemui pada board-board yang didedikasikan khusus untuk overclocker, seperti POST Code LED onboard serta tombol ‘Power On’ dan ‘Reset’ onboard.

Untuk menambah reliabilitas board ini, Biostar menggunakan kapasitor berjenis solid state di beberapa tempat, paling jelas terlihat di sekitar socket prosesor. Selain itu, Biostar juga melengkapi mosfet di sekitar soket prosesor dengan heatsink pasif.

Biostar melengkapi paket penjualan produk ini dengan bundel yang unik, yaitu: Earphone dan charger handphone universal yang menggunakan port USB. Kedua bundel tersebut memang tidak lazim ditemui pada paket penjualan motherboard.

GIGABYTE GA-M59SLI-S5
Membaca namanya saja Anda pasti sudah dapat mengetahui jenis chipset yang digunakan oleh produk ini. Ya benar, angka 59 merepresentasikan chipset NVIDIA nForce 590 SLI. Board yang menjadi produk andalan GIGABYTE ini tampil prima dilihat dari sisi mana pun. Kinerja dan perlengkapan yang ditawarkannya sangat baik dan benar-benar bermanfaat, terlepas apakah Anda akan bermain maupun bekerja.

MASIH Merasa KURANG ? Jika Produsen lain hanya menyediakan 2 buah slot PCIe x16, GIGABYTE GA-M59SLI-S5 menyediakan tiga buah slot PCIe x16.
Dibandingkan dengan peserta tes perbandingan lainnya, board ini sangat eye catching. Hal itu tidak lain karena pada board ini tertanam tiga slot PCI-express berukuran besar yang biasanya digunakan untuk graphics card. Jadi, GIGABYTE menjalankan konfigurasi 16,16,8,1,1 untuk jalur PCI-Express-nya. Secara teoritis, dengan konfigurasi ini, Anda bisa menjalankan tiga buah graphics card secara simultan. Contohnya, tiga buah graphics card ini digunakan untuk mode SLI (dua graphics card) dan satu card lainnya untuk tugas rendering lainnya seperti physix.

Dari segi feature, board ini mengadopsi semua feature yang dimiliki oleh NVIDA nForce 590 SLI ditambah beberapa feature menarik. Feature-feature itu adalah teknologi Dual BIOS khas GIGABYTE yang menyediakan BIOS cadangan sebagai backup apabila terjadi masalah pada BIOS utama, tambahan SATA controller buatan GIGABYTE, dan yang paling menarik adalah penggunaan chip audio REALTEK AL888DD yang sudah mendukung DTS dan Dolby Digital Live sebagai codec audio-nya.Tidak lupa dalam paket penjualannya disediakan konektor eSATA untuk peripheral SATA eksternal.

ASUS M2 Republic of Gamers: CrossHair
Dari Gamer untuk Gamer
Tidak mau ketinggalan dengan ABIT Fatality, ASUS meluncurkan seri motherboard yang menggunakan ikon gamer dengan nama Republic of Gamer. Salah satu variannya adalah CrossHair. Board ini mengususung chipset Nforce 590SLI sebagai motornya dan sudah mengadopsi teknologi heatpipe untuk mendinginkan chipset dan mosfet.

Sebagai board yang didedikasikan untuk gamer dan power user, ASUS memberikan sederet feature yang menarik. ASUS menyertakan 3 buah thermal sensor yang dapat digunakan untuk 3 buah device. Dengan thermal sensor tersebut, Anda dapat memantau suhu pada BIOS. Untuk memudahkan troubleshooting saat sistem gagal booting, Asus mengintegrasikan feature LCD Poster. Fungsi LCD Poster sama seperti POST Code LED, bedanya asus menggunakan LCD yang diletakkan pada bagian belakang board dalam menampilkan informasi seputar POST. Selain itu, bagi para gamer yang ingin mengetahui seberapa cepat PCnya dalam menjalankan game-game 3D terbaru, ASUS menyertakan bundel 3Dmark 06 Advanced Edition untuk benchmarking.

ASUS LCD Poster : Fungsinya mirip dengan POST Code LED. Sayangnya ASUS menempatkan LCD Poster pada bagian belakang board sehingga sulit untuk dipantau.
Penggemar tata suara surround juga turut dimanjakan dengan disertakannya modul audio terpisah yang memanfaatkan interface PCIe x1. Modul tersebut dimotori oleh audio processor ADI 1988 yang mendukung tata suara 8 channel

ABIT AN9 32X
Duet chipset NVIDIA nForce 590 SLI kembali dipercayakan oleh ABIT sebagai jantung kehidupan board ini. Sesuai dengan ciri khas ABIT, chipset dan mosfet yang digunakan pada board ini didinginkan oleh solusi pendinginan yang diberi nama Silent OTES. Silent OTES sendiri terdiri atas heatsink alumunium yang dilengkapi dengan heatpipe untuk mengalirkan panas. Untuk menambah daya tahan board ini, beberapa kapasitor yang terletak di sekitar soket processor juga dipilih yang berjenis solid state.

ABIT melengkapi board ini dengan modul audio terpisah yang mendukung tata suara surround 8 channel. Tidak seperti tawaran ASUS yang menggunakan sound chip buatan Analog Devices (ADI), produk ABIT ini menggunakan sound chip buatan Realtek dengan kode Audio-MAX ALC882D.

Pada AN9 32X, menu BIOS yang diberikan sedikit berbeda dibandingkan dengan menu BIOS pada board ABIT KN9 Series. Perbedaan lainnya juga terlihat pada posisi peletakan beberapa konektor dan feature khusus. Pada seri AN9 32X, ABIT menyertakan sebuah POST Code LED yang cukup umum ditemui pada board-board kelas atas.

ABIT Fatality AN9 32X
Seri Fatality merupakan board jajaran teratas dari produk ABIT. Tidak seperti board-board ABIT lain yang menggunakan PCB berwarna coklat, board Fatality lebih didominasi warna merah dan hitam yang menciptakan kesan garang. Kesan garang tersebut diperjelas dengan penggunaan LED merah terang di sekeliling board.

OTES GT : Dua buah kipas ini berfungsi membuang udara panas dari heatpipe. Feature OTES GT ini terdapat pada ABIT Falality.
Sebagai board termewah dari ABIT, Fatality ditemani oleh chipset nForce 590 SLI yang juga merupakan chipset teratas bagi platform AMD dari NVIDIA. Sama seperti board ABIT lain yang ikut dalam tes perbandingan kali ini, Fatality juga sudah mengadopsi teknologi heatpipe sebagai sarana untuk mendinginkan chipset. Sedikit perbedaan, pada seri Fatality, ABIT menggunakan 2 buah kipas yang terletak di bagian belakang untuk membantu mengeluarkan panas yang menumpuk pada heatpipe.

Meskipun memiliki segudang feature yang menarik, Fatality juga tidak lepas dari kekurangan, yaitu hanya memiliki sebuah slot PCI.

FOXCONN C51XEM2AA
Board dari Foxconn ini dipersenjatai oleh chipset NVIDIA nForce 590 SLI. Produk yang menggunakan konfigurasi 16,16,4,1 pada jalur PCI-Express ini cukup mengejutkan CHIP. Produk papan atas dari Foxconn ini tidak disangka berbeda jauh dari “image” board keluaran foxconn yang biasanya sederhana dan miskin feature. Switch on-off untuk menggantikan power dan reset button, Debug POST Code LED, dan port USB sebanyak delapan buah merupakan beberapa keunggulan yang ditawarkan board ini. Board ini memang sangat menarik, tidak salah apabila NVIDIA memilih board dari Foxconn ini sebagai NVIDIA reference board untuk chipset NVIDIA nForce 590 SLI.

Selain beberapa keunggulan tadi, pada panel belakang board ini terdapat juga dua konektor Gigabit LAN, lima konektor audio, dua konektor SPDIF out optical, dan dua port Firewire IEEE 1394 (a dan b). Board ini sendiri menggunakan chip audio buatan Realtek ALC882D yang mendukung sampai 10 channel untuk codec audionya.

ECS KN3 SLI2


Geliat ECS di Kelas Atas

Seri Extreme merupakan produk unggulan dari ECS. Meskipun demikian, ECS tetap menawarkan harga yang terjangkau. Salah satu board seri Extreme dari ECS adalah KN3 SLI2 yang menggunakan chipset nForce 590 SLI. Dari segi tampilan, seri Extreme dari ECS memang memiliki ciri khas yaitu kipas pendingin MOSFET yang ‘rumah’-nya berukuran cukup besar dan berwarna hijau. Solusi pendinginan yang ditawarkan ECS ini memang cukup menarik karena selain berfungsi untuk mendinginkan mosfet, kipasnya juga berguna untuk membantu sirkulasi keluar (outake) udara panas yang dihasilkan oleh prosesor dan komponen-komponen lain di sekitarnya. Pada akhirnya, panas berlebihan tidak akan menumpuk di dalam casing.

Beberapa feature menarik yang dimiliki oleh board ini antara lain tersedianya konektor e-SATA pada panel belakang boardnya  (tidak lupa ECS juga menyertakan kabel e-SATA dalam paket perlengkapannya) dan tersedianya feature Top-Hat Flash. Top- Hat Flash adalah chip BIOS cadangan yang berfungsi untuk menyelamatkan BIOS utama apabila terjadi masalah. Cara kerjanya
mirip dengan DualBIOS dari GIGABYTE, bedanya BIOS kedua pada DualBIOS ditanam dalam motherboard, sedangkan BIOS cadangan pada ECS merupakan chip terpisah yang diberi dudukan khusus.

ABIT KN9 SLI
Board ini menggunakan chipset nForce 570 SLI sebagai motor penggeraknya. Sama seperti chip nForce 550 dan nForce 570 Ultra, Chip nForce 570 SLI juga ditanamkan dengan konfgurasi single chip. Dengan menggunakan chip nForce 570 SLI, board ini sudah mendukung penggunaan modus multigraphics SLI (Scalable Link Interface) lansiran NVIDIA. Bagi konsumen yang membutuhkan board SLI namun tidak mau membayar lebih mahal untuk feature lebih yang dimiliki chipset nForce 590 SLI, chipset nForce 570 SLI adalah salah satu solusi alternatifnya. Salah satu Perbedaan yang cukup mendasar antara chipset nForce 570 SLI dengan nForce 590 SLI terletak pada besarnya bandwidth PCIe x16 yang diberikan. Chipset nForce 590 SLI mampu mengoperasikan dua buah graphics card dengan bandwidth masing-masing x16 sedangkan chipset nForce 570 SLI hanya mampu memberikan bandwidth sebesar x8.

Feature-feature yang ditanamkan ABIT pada board ini sebagian besar serupa dengan feature yang terdapat pada board ABIT KN9 Ultra, bedanya hanya terletak pada dukungan SLI yang dimiliki KN9 SLI. Dengan demikian, board ini dilengkapi dua buah slot PCIe x16 untuk mengakomodasi penggunaan 2 buah graphics cards secara bersamaan. Bagusnya, jarak kedua slot tersebut berjauhan sehingga memudahkan dalam penggunaan graphics card berukuran besar.

DFI LanParty UT NF590 SLI-M2R/G
Meneruskan tradisi panjang LanParty yang sudah hadir sejak zaman chipset nForce 2, DFI kembali meluncurkan seri LanParty terbaru untuk AMD yang sudah mengemas chipset nForce 590 SLI. Board ini hadir dengan laburan warna hitam-kuning dan Karajan Audio Module khas DFI.

DFI melengkapi board ini dengan POST Code LED onboard yang berguna untuk memudahkan troubleshooting pada saat sistem mengalami masalah dengan booting. Selain itu, board ini juga memiliki tombol ‘Power On’ dan ‘Reset’ onboard. Jika kedua tombol tersebut ditekan secara bersamaan, Anda dapat melakukan ‘Clear CMOS’ dengan mudah.

Manjakan telinga Anda : Kualitas tata suara onboard menjadi perhatian serius para produsen motherboard. Lihat saja tawaran audio onboard dari ASUS (kiri), DFI (tengah), dan ABIT (kanan). Namun, hanya board-board papan atas saja yang menyediakan modul audio seperti di atas.
Ditinjau dari hasil benchmark yang diperoleh, kinerja board ini memang ‘hanya’ berada di golongan ‘rata-rata’. Namun, Anda dapat dengan mudah mendongkrak kinerja sistem Anda karena DFI sudah menyiapkan semua yang Anda butuhkan untuk memudahkan praktek overclocking. Bahkan, DFI menyediakan pilihan tegangan memori yang sangat ekstrim bagi memori berjenis DDR2-SDRAM, yaitu sampai dengan 3,00 Volt.

ASUS M2N32 WS Professional
Workstation Berkinerja Penuh
Pada tes perbandingan motherboard kali ini, semua board yang dikirimkan oleh ASUS dilengkapi dengan chipset kelas teratas nForce 590 SLI. Dengan menggunakan chipset tersebut, jalur PCIe x16 yang digunakan ketika menjalankan modul multigraphics SLI akan berjalan dengan bandwidth penuh (masing-masing x16). Dengan demikian, tidak akan terjadi kekurangan bandwidth saat Anda menggunakan dua buah graphics card high-end seperti GeForce 7950GX2 misalnya.

Agar tidak menimbulkan kebisingan sekaligus mengurangi waktu untuk perawatan kipas, board ini sudah mengadopsi heatpipe sebagai solusi pendinginan untuk chipset dan mosfet. Saat ini, penggunaan heatpipe tampaknya menjadi ‘favorit’ bagi produsen board-board papan atas.

Board ini merupakan seri WorkStation dari Asus, salah satu contoh yang menguatkan image tersebut adalah tersedianya 2 buah slot PCI-X yang terletak di antara slot PCIe x16. Perangkat PCI juga masih didukung oleh board ini. Sayangnya, board ini hanya menyediakan sebuah slot PCI. Meskipun semua perangkat yang biasa menggunakan slot PCI (LAN, Sound) sudah disediakan alternatif onboardnya, namun jumlah slot yang hanya sebuah masih dirasakan kurang, terutama bagi Anda yang mempunyai banyak periferal PCI.

WinFast N570SM2AA
Meskipun menggunakan merek WinFast, produk ini diproduksi oleh Foxconn. Ini karena merek dagang WinFast sudah dibeli oleh Foxconn. Tidak heran apabila feature, perlengkapan tambahan, software, dan buku manual yang disediakan oleh produk ini mirip dengan board Foxconn C51XEM2AA.

Berbeda dengan saudaranya, Foxconn C51XEM2AA yang menyediakan paket penjualan melimpah, board yang berbasiskan chipset NVIDIA nForce 570 SLI ini tampil minimalis. Tidak ada round cable, USB bracket, atau pun Firewire bracket dalam paket penjualannya. Selain itu, board ini juga satu-satunya peserta dalam tes perbandingan kategori chipset NVIDIA nForce 5 SLI yang tidak menyediakan ruang dua-slot antara kedua slot PCIe x16-nya. Hal ini cukup mengganggu terutama apabila Anda menggunakan graphics card kelas atas yang biasanya menggunakan desain HSF dua-slot. Namun, kekurangannya tersebut dapat dibayar dengan bayaknya konektor yang dimilikinya. Pada backpanelnya Anda dapat menemukan konektor e-SATA, Firewire, dual Gigabit LAN, dan SPDIF out (optical dan coaxial).

MSI K9N SLI Platinum
MSI mengeluarkan seri K9N SLI Platinum untuk board berbasiskan nForce 570 SLI. Tambahan kata ‘SLI’ dan ‘Platinum’ menandakan bahwa motherboard ini merupakan seri atas dari MSI yang mendukung teknologi multigraphics SLI. Jadi wajar jika MSI menyertakan cukup banyak perlengkapan ekstra pada board ini. Feature seperti Firewire dan SPDIF output baik optical maupun coaxial adalah feature-feature standarnya. Untuk membedakan motherboard ini dari para pesaingnya, MSI kembali menyertakan sebuah switch push button untuk mengclear CMOS K9N SLI Platinum. Suatu langkah yang sudah menjadi tradisi MSI sejak nForce 4. Nilai tambah yang juga ditawarkan oleh produk ini adalah disediakannya 2 buah round cable untuk peripheral IDE dan Floppy.

Heatsink pasif Berlapis : MSI menggunakan heatsink pasif berbahan aluminum dan tembaga. Permukaan heatsink tersebuat dari aluminium sedangkan bagian dasarnya terbuat dari tembaga.
Kemampuan yang ditawarkan oleh produk ini cukup tinggi, baik untuk aplikasi office maupun gaming. Dari hasil pengujian, produk ini berada di urutan kedua pada sisi kinerja untuk motherboard berbasiskan chipset nForce 5 series yang mendukung SLI. Yang menarik dari produk ini, MSI menggunakan heatsink yang dasarnya terbuat dari bahan tembaga dan bagian atasnya berbahan aluminium. Selain itu, pada board ini juga terdapat satu slot PCI khusus yang berwarna orange. Slot PCI ini berguna untuk mendukung special function card dari MSI, seperti wireless LAN dan Bluetooth combo card.

GIGABYTE GA-M57SLI-S4
Bila GIGABYTE GA-M59SLI-S5 ditujukan untuk kelas atas, produk ini tampaknya ditujukan untuk konsumen kelas menengah yang mencari board dengan performa tinggi dengan dukungan SLI. Motherboard dengan faktor bentuk ATX ini hadir dengan menyediakan semua feature-feature standar dari chipset NVIDIA nForce 570 SLI. Hanya satu feature tambahan saja yang ada pada produk ini, yaitu digunakannya chip T.I. TSB43AB23 sebagai controller Firewire(IEEE 1394).

KHAS GIGABYTE : Tidak ada jumper yang disediakan. Untuk menghapus CMOS, Anda harus men-short kedua pin CLR_CMOS.
Produk buatan GIGABYTE seringkali tampil berbeda dalam teknik meng-clear CMOS. Anda tentu masih ingat bagaimana dahulu motherboard dari GIGABYTE tidak menyediakan konektor untuk clear CMOS dan hanya menyediakan dua buah kontak terbuka. Ketika itu, ada cukup banyak konsumen yang komplain dengan cara clear CMOS tersebut karena cukup menyulitkan. Sekarang, GIGABYTE tidak mau salah langkah lagi dengan menyediakan konektor (pin) untuk clear CMOS pada produknya. Namun GIGABYTE tetap ingin tampil beda, tidak seperti produsen lainnya yang menyediakan tiga pin, GIGABYTE hanya menyediakan dua pin. Dengan hanya dua pin berarti tidak ada jumper yang ‘disediakan’. Ini juga berarti Anda yang ingin meng-clear CMOS harus meng-short kedua pin dengan menggunakan alat tambahan yang dapat menghantarkan listrik (konduktor) seperti obeng, peniti, atau tools lainnya.

Konvensional : Metode clear CMOS konvensional adalah dengan memindahkan posisi jumper.
EPOX MF70SLI
Board yang berbasiskan chipset NVIDIA nForce 570 SLI ini tampaknya diciptakan oleh EPOX untuk para hardcore hardware. Hal ini dapat dilihat dari tersedianya berbagai macam special feature, seperti Ghost BIOS, Thunder Probe, Thunder Flash, Magic Health, PowerBIOS, Post Port, EZ-Button, dan LEDION.

Dari segi feature, selain berisi feature standar dari chipset NVIDIA nForce 570, produk ini juga menyediakan dua buah port IDE untuk mendukung penggunaan empat peripheral IDE dan tambahan dua port SATA yang sudah mendukung e-SATA sehingga memudahkan Anda menggunakan eksternal SATA drives.

Untuk memanjakan para overclocker, board ini menyediakan EZ-Button yang akan memudahkan Anda menyala-matikan sistem, Post Port Debug LED yang menyediakan dua digit informasi kode POST, LEDION yang berupa indikator LED untuk prosesor, memori, dan chipset yang memudahkan Anda menemukan kesalahan apabila sistem mengalami kegagalan, serta tentu saja PowerBIOS yang memudahkan Anda untuk mengatur konfigurasi setting di BIOS. Enaknya lagi, board ini juga menyediakan feature Ghost BIOS yang dapat memulihkan BIOS dari masalah corrupted BIOS apabila Anda melakukan kesalahan pengaturan konfigurasi BIOS.

Yang menarik dari produk EPOX ini adalah tersedianya banyak aksesoris tambahan seperti thermal probe sensor, dan heatsink serta fan untuk MOSFET. Dengan begitu, board ini cocok untuk Anda yang gemar meng-custom board.

PESERTA: KATEGORI non-SLI

Setelah membandingkan board-board di kategori SLI, berikutnya CHIP akan menyajikan hasil pengujian board-board di kategori NON-SLI. Jumlah peserta yang masuk ke dalam kategori ini lebih sedikit dibandingkan peserta yang masuk ke dalam kategori non-SLI.

Makin Meriah : Seiring semakin menipisnya perbedaan kinerja antara satu board dan yang lainnya. Sekarang aksesoris menjadi cara produsen untuk menjual produknya.

Meskipun demikian, CHIP tetap melangsungkan pengujian di kategori ini. Berikut ini adalah board-board yang masuk ke dalam kategori NON-SLI:

ABIT KN9 ULTRA
Board ABIT ini menggunakan layout PCB yang sama dengan ABIT KN9S. Perbedaan mendasar dari keduanya terletak pada jenis chipset yang digunakan. ABIT KN9 Ultra menggunakan chipset nForce 570 Ultra. Chipset ini berada satu tingkat di atas chipset nForce 550 yang digunakan pada ABIT KN9S. Perbedaan lainnya terletak pada tersedianya feature NVIDIA Active Armor, jumlah konektor SATA(6 buah), port Firewire(IEEE 1394), Gigabit LAN, dan konektor SPDIF Out pada board ABIT KN9 Ultra.

Selain perbedaan-perbedaan di atas, KN9 Ultra dan KN9S juga memiliki kesamaan pada software BIOS yang digunakannya. Contohnya pada interval FSB, PCIe, tegangan prosesor(VCore), dan tegangan memori yang masih diperbolehkan.

Dalam hal pendinginan untuk chipset dan mosfet, ABIT tampaknya sudah menggunakan teknologi heatpipe pada semua jajaran produknya yang menggunakan chipset nForce 500 Series. Penggunaan heatpipe yang diberi nama Silent OTES tersebut akhir-akhir ini banyak ditempuh oleh para produsen motherboard mengingat semakin tingginya permintaan konsumen akan PC yang tidak bising.

Switch Internal : Untuk memudahkan penggunaan, sekarang ini beberapa board sudah menyediakan switch power on/off dan reset internal.
GIGABYTE GA-M55S-S3
Anda pasti menebak bahwa produk ini dimotori oleh chipset NVIDIA nForce 550 karena terdapat angka 55 pada nama modelnya. Ya, Anda memang benar. Namun, perlu Anda ketahui ada juga produk dari GIGABYTE yang nama modelnya mirip dengan produk ini, tetapi menggunakan chipset NVDIA nForce 4 SLI. Nama produk tersebut adalah GIGABYTE GA-M55SLI-S4. Jadi apabila Anda tertarik untuk membeli produk ini, CHIP mengingatkan jangan sampai keliru membedakannya dengan GIGABYTE GA-M55SLI-S4 tadi.

GA-M55S-S3 dibekali dengan paket penjualan yang tergolong sederhana. Hal ini wajar karena produk ini ditujukan untuk kelas menengah. Board ini memang tidak mengadopsikan teknologi SLI, hanya memiliki satu Gigabit LAN, dan tidak dapat dikonfigurasikan RAID 5. Namun, bagi Anda yang ingin bermigrasi ke soket AM2 dengan dana terbatas dan ingin tetap merasakan kehebatan chipset nForce 500 series, board ini adalah salah satu pilihan yang cukup baik. Selain memiliki nilai tambah berkat digunakannya heatsink aluminium berwarna emas yang berukuran cukup panjang.

Board ini juga memberikan keleluasaan bagi Anda untuk bereksperimen dalam melakukan overclocking pada prosesor melalui konfigurasi BIOS secara manual. Sayangnya, banyak pengguna yang tidak mengetahui bahwa board ini dibekali kemampuan tersebut. Hal ini karena dalam keadaan standar, pilihan menu tersebut disembunyikan oleh GIGABYTE. Mungkin karena alasan keamanan. Anda yang ingin menampilkan setting tersebut harus menekan kombinasi tombol [CTRL] + [F1] di BIOS.

JETWAY JHA01-SDGE
Ancaman Sang Veteran
Ketika Pentium 3 masih menjadi tren di Indonesia, motherboard buatan JETWAY sering kali ikut serta dalam tes perbandingan CHIP. Lama tidak terdengar, akhirnya JETWAY kembali ikut serta dalam tes perbandingan kali ini dengan produknya, yaitu JETWAY JHA01-SDGE.

Pertama kali melihat board ini, CHIP senang dengan disediakannya dua buah slot PCIe x16. Padahal, board ini menggunakan chipset NVIDIA nForce 550 yang hanya mendukung satu jalur PCIe x16 dan tidak dapat dikonfigurasikan untuk SLI. Dengan disediakannya dua slot ini berarti ada kemungkinan board ini bisa dimodifikasi sehingga dapat diaktifkan SLI-nya. Berarti board ini dapat menjadi kabar gembira bagi para hardware freak yang menginginkan board terjangkau tetapi berpotensi menarik.

Selain itu, board buatan Jetway ini juga membidik pasar hardcore user dengan memberikan BIOS yang sangat menarik. Melalui BIOS-nya, jetway memberikan Anda keleluasaan untuk mengatur FSB CPU-nya (200 MHz-400 MHz), mengubah konfigurasi memori serta tegangan memorinya (1,9v – 2,45v), mengganti tegangan CPU (7 shift 0,8v-1,55v plus tambahan over voltage), dan pilihan untuk mengubah tegangan lainnya seperti tegangan LDT dan tegangan chipset.

ABIT KN9S
Board yang hadir dengan PCB berwarna coklat khas ABIT ini diperkuat oleh chipset nForce 550. Dengan menggunakan chipset tersebut, tampaknya board ini ditujukan bagi pengguna di kelas value. Meskipun demikian, board ini tetap memiliki desain yang baik dan tidak terkesan ‘murahan’.

ABIT tampaknya cukup konservatif dalam feature overclocking yang dikandung pada board ini. Namun, dalam kondisi normal (tidak ekstrem), feature overclockingnya dirasakan sudah sangat memadai bagi sebagian besar pengguna. Misalnya saja, dalam hal pengaturan tegangan memori, ABIT memberikan toleransi tegangan maksimal sampai 2.3 Volt. Bandingkan dengan DFI atau ASUS yang memungkinkan penggunaan tegangan di atas 3 Volt.

Pada tes perbandingan kali ini, board ini menduduki posisi papan tengah dengan nilai yang cukup tinggi untuk kategori kinerja dan desain/ergonomi. Board ini juga dilengkapi dengan buku manual yang sangat informatif yang menjadikannya meraih nilai sempurna untuk penilaian dokumentasi. Sayangnya, nilai perlengkapan yang diperolehnya membuat board ini harus merelakan posisi papan atas kepada peserta yang lain.

BioStar TForce 550

Racikan Hemat untuk AM2
Board ini merupakan salah satu board paling ekonomis yang ikut serta dalam tes perbandingan kali ini. Untuk mengakomodasi penggunaan prosesor AMD socket AM2, board ini dilengkapi dengan chipset paling bungsu dari keluarga nForce 5 Series, yaitu Nforce 550. Tidak seperti chipset Nforce 590 yang terdiri atas 2 chip (northbridge + southbridge), chipser Nforce 550 hadir dengan jenis single chip solution. Hal ini turut membantu menekan harga jual chipset nForce 550 sehingga produsen motherboard dapat menjual dengan harga yang lebih rendah.

Meskipun harganya cukup ekonomis, Biostar Tforce 550 dilengkapi dengan feature overclocking yang cukup menarik di kelasnya. Hal ini tercermin dari tersedianya berbagai pengaturan untuk mendongkrak kinerja pada BIOS board ini. Selain itu, layaknya board-board yang berharga lebih mahal, Biostar juga menyediakan tombol ‘Power On’ dan ‘Reset’ onboard sebagai salah satu feature andalannya.

Board yang dilabur dengan warna-warni cerah ini tampaknya cocok bagi konsumen yang menginginkan harga ekonomis dan tidak memerlukan feature SLI. Featurefeature standar yang dikandungnya dirasakan sudah mencukupi kebutuhan sebagian besar konsumen.

Switch Internal : Untuk memudahkan penggunaan, sekarang ini beberapa board sudah menyediakan switch clear CMOS internal, seperti pada board MSI misalnya.
MSI K9N Neo-F
Selain menguji board MSI K9N SLI Platinum dan MSI K9N Ultra-2F, CHIP juga menguji board MSI K9N Neo yang menggunakan chipset NVIDIA nForce 550. Chipset nForce 550 sendiri ditujukan oleh NVIDIA untuk kelas value sehingga tidak heran ada beberapa feature yang tidak dapat ditemukan pada chipset ini seperti, RAID 5, NVIDIA DualNet, NVIDIA FirstPacket, Teaming, dan TCP/IP Acceleration. Namun, kehilangan beberapa feature tersebut tidak lantas menjadikan produk ini tidak layak untuk dilirik.

Sebagian besar feature yang hilang adalah feature yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja ketika tergabung dalam jaringan. Oleh sebab itu, apabila produk ini digunakan sebagai PC stand-alone tentu saja kinerjanya tidak akan berbeda jauh dibandingkan chipset nForce 570 atau nForce 590 SLI sekalipun. Paling-paling Anda hanya ‘merasa kehilangan’ tidak dapat menggunakan konfigurasi RAID 5.

Ditinjau dari segi feature yang ditawarkan, board ini mengusung semua feature standar NVIDIA nForce 550, seperti empat konektor SATA, dua konektor PATA, 20 jalur PCI-Express, Gigabit LAN, dan High Definition Audio. Sayangnya, board ini tidak memiliki switch push button untuk meng-clear CMOS. Padahal switch tersebut merupakan salah satu feature menarik khas MSI.

MSI K9N Ultra -2F
Pesona Sang Bintang Kecil
Bila Anda tidak membutuhkan feature SLI yang disediakan oleh MSI K9N SLI Platinum, MSI K9N Ultra-2F adalah solusinya. Motherboard ini mempunyai banyak kemiripan dengan MSI K9N SLI Platinum karena sama-sama menggunakan chipset NVIDIA nForce 570, tetapi board ini menggunakan nForce 570 versi ultra.

Anda tetap mendapatkan berbagai feature seperti Dual Gigabit LAN dan SPDIF output baik optical maupun coaxial. Perlengkapan lain, seperti enam port Serial ATA, slot PCI khusus dan switch untuk clear CMOS juga tetap disertakan bersama produk ini. Namun, tidak seperti seri Platinum yang menyediakan aksesoris tambahan seperti round cable, produk ini hanya menyediakan kabel standar untuk IDE dan Floppy. Dari segi fungsionalitas, produk ini hanya kehilangan feature SLI dan secara keseluruhan hal tersebut tidak mempengaruhi kinerjanya.

Seperti biasa, MSI selalu menyertakan buku manual yang menarik. Buku manual yang lengkap, jelas, dan mudah dipahami bagi orang awam sekalipun menjadi nilai tambah produk ini. Dalam buku manualnya, dapat ditemukan penjelasan mulai dari spesifikasi hardware, cara instalasi hardware dan software, cara setting BIOS, serta cara penggunaan software-software yang disediakan.

Multigraphics Card
Saat ini teknologi multigraphics yang dipopulerkan oleh kehadiran Scalable Link Interface (SLI) berkembang semakin pesat. Dahulu dalam sebuah motherboard paling banyak hanya ada dua slot PCIe untuk graphics card. Namun sekarang sudah tersedia motherboard dengan tiga slot PCIe untuk graphics card. Lalu untuk apa jumlah slot sebanyak itu? Untuk menjawabnya, CHIP akan membahas secara singkat teknologi multigraphics card yang ada pada chipset NVIDIA nForce.

Ketiga slot tersebut memang semuanya disediakan untuk graphics card, tetapi bukan berarti kita dapat merender graphic dengan menggunakan ketiga graphics card yang terpasang tersebut. Apabila lebih dari satu graphics card terpasang, hanya ada “satu” yang dapat digunakan untuk merender graphics card. Satu di sini dapat berupa single graphics card atau dua graphics card yang dijalankan dalam mode SLI atau CrossFire. Sedangkan sisanya digunakan sebagai secondary display yang berguna untuk menambah tampilan output di monitor (multimonitor). Total dengan konfigurasi 1+1 (dua buah graphics card dipasang tanpa mengkonfigurasikan mode SLI) atau 2+1 (dua buah graphics card dengan konfigurasi SLI ditambah satu graphics card yang dipasang pada slot ketiga), Anda dapat menampilkan ouput sampai empat monitor sekaligus. Selain itu, di masa depan prosesor graphics card (GPU) dapat digunakan untuk proses komputasi lain selain merender graphics, seperti rendering physics, large data analysis, dan banyak lainnya. Di sinilah secondary graphics card tadi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Sekilas Soket-Soket AMD
Awalnya, prosesor keluaran AMD menggunakan dudukan prosesor (dikenal dengan sebutan soket) buatan Intel. Namun sewaktu Intel pindah ke dudukan prosesor Slot 1, Intel tidak lagi memberikan hak penggunaan soket prosesornya untuk produsen lain. Inilah yang mendasari AMD untuk mengembangkan soket prosesor buatan sendiri.

AM2 sendiri merupakan soket prosesor keluaran AMD generasi keenam. Keenam soket-soket keluaran AMD tersebut adalah Super Soket 7, Slot A, Soket A, Soket 754, Soket 939, dan yang paling baru, Soket AM2. Soket pertama yang dikeluarkan oleh AMD adalah Super Soket 7. Soket ini merupakan hasil modifikasi dari Soket 7 buatan Intel. AMD mengeluarkan soket ini karena pada saat itu mereka terdesak, masih menggunakan soket prosesor yang sudah ketinggalan jaman, sehingga mereka terpaksa memodifikasi Soket 7 dan menamakannya Super Soket 7. Dudukan prosesor kedua yang dikeluarkan oleh AMD adalah Slot A. AMD menamakannya demikian karena bentuk dudukannya yang berupa Slot, mengikuti desain Slot 1 yang dikeluarkan oleh Intel. Pada waktu menggunakan Slot A inilah AMD berhasil mengungguli rival beratnya, Intel dalam race to 1GHz.

Soket generasi ketiga AMD adalah Soket A. Soket inilah yang sempat menjadi trademark AMD karena digunakan selama mulai awal tahun 2000 dan baru dihentikan penggunaannya pada akhir tahun lalu. Hebatnya lagi soket ini dapat digunakan untuk AMD Athlon Thunderbird 650 MHz sampai AMD Athlon XP Barton 3200+. Beberapa generasi prosesor AMD yang dapat digunakan bersama soket ini adalah Thunderbird, Spitfire, Morgan, Palomino, Throughbred, Applebred, dan Barton.

Pengganti Soket A adalah Soket 754. Pada awalnya, soket ini ditujukan untuk prosesor AMD yang sudah memiliki intruksi 64-bit. Namun seiring berjalannya waktu, AMD menyadari soket 754 memiliki beberapa kelemahan mendasar, seperti tidak mendukung penggunaan dual-channel memory controller yang ditanam di dalam prosesor. Oleh sebab itu, AMD kemudian mengeluarkan soket baru yang dinamakan Soket 939. Pada dasarnya, soket baru inilah yang diprioritaskan oleh AMD untuk digunakan bersama jajaran prosesor dekstop-nya. Namun karena soket 754 sudah terlanjur beredar, AMD lalu membagi segmen pasarnya menjadi dua, soket 754 ditujukan untuk konsumen kelas bawah dan soket 939 ditujukan untuk kelas menengah-atas.

Dua tahun setelah keluarnya soket 939, AMD kembali mengeluarkan dudukan prosesor baru yang dinamakan AM2. Perbedaan mendasar antara soket 939 dan AM2 terletak pada penggunaan memori-nya. Apabila soket 939 masih menggunakan memori berjenis DDR-SDRAM, soket AM2 sudah menggunakan jenis memori terbaru yaitu, DDR2-SDRAM. Saat ini, soket yang memiliki lubang kontak sebanyak 940-pin ini mendukung prosesor AMD Sempron 64, Athlon 64, Athlon 64 X2, dan Athlon 64 FX.

Chipset Untuk AM2
NVIDIA nForce 500 series bukanlah satusatunya chipset yang mendukung prosesor AMD soket AM2. Ada beberapa chipset lain yang juga kompatibel, yaitu NVIDIA nForce 6100, NVIDIA nForce MCP61, NVIDIA nForce 4, NVIDIA nForce 680a, ATI Radeon Xpress 1100, ATI Radeon Xpress 3200 CrossFire, dan VIA K8M890.

Yang terakhir adalah NVIDIA nForce 680a yang baru saja diluncurkan pada saat artikel ini dibuat. Chipset ini didesain secara khusus untuk platform Quad FX terbaru dari AMD dengan Dual Socket Direct Connect Architecture. Chipset nForce 680a SLI ini sendiri mampu menghadirkan sampai dengan 4 GPU, 8 display, 12 SATA hard disk, dan 4 koneksi Gigabit Ethernet.

Meskipun chipset yang lebih baru dari nForce 500 series sudah ada, bukan berarti board-board nForce 500 Series sudah tidak menarik lagi. Untuk kelas menengah dan bawah, chipset nForce 500 series tetap menjadi pilihan karena NVIDIA belum mengeluarkan chipset dengan arsitektur nForce 6 untuk kelas ini. Di kelas atas pun, nForce 590 SLI tetap dapat menjadi pilihan karena pastinya lebih terjangkau dibandingkan chipset nForce 680a SLI. Akan tetapi, perlu diingat board-board yang menggunakan chipset lain juga tetap patut dilirik.

Page 8 of 10

Konektor Daya pada Motherboard

Semakin tinggi spesifikasi komputer, semakin besar daya yang dibutuhkan. Board-board yang berbasiskan chipset nForce 500 series terutama nForce 590 SLI diperuntukkan bagi PC yang menggunakan spesifikasi termutakhir. Oleh sebab itu, tidak heran jika board-board tersebut membutuhkan daya yang cukup besar.

Kompatibel : PSU lama masih bisa digunakan pada board baru.
Ada tiga konektor PSU 12v yang biasanya terdapat pada board-board ini. Pertama adalah konektor ATX 20-pin/24-pin, konektor ini bertujuan untuk memasok daya kepada keseluruhan komponen motherboard. Kedua adalah konektor ATX 12v 4-pin/8-pin, konektor ini memasok daya langsung ke prosesor. Dan yang ketiga adalah konektor PCIe 12v, konektor ini gunanya menyediakan daya ekstra untuk graphics card.

Sebagai catatan, board-board yang menggunakan chipset nForce 500 series membutuhkan daya minimum sebesar 400 watt. Satu hal lagi yang perlu diketahui adalah jika Anda hanya memiliki PSU ATX model lama yang tidak memiliki konektor daya 24-pin dan 8-pin, Anda masih tetap dapat menggunakannya untuk board ini. Karena konektor ATX versi baru (ATX 12v 2.0 dan ATX 12v 2.2) juga kompatibel dengan ATX 12v versi lama.

Selamat Tinggal AC97
Apabila Anda memperhatikan semua board yang ikut serta dalam tes perbandingan kali ini dengan teliti, Anda akan menemukan bahwa tidak ada satu pun board yang menggunakan audio codec AC97. Sekarang semua board sudah berpaling ke audio codec Intel High Definition Audio atau yang dikenal dengan sebutan Azalia. NVIDIA sekarang memang menetapkan standar audio codec Azalia untuk chipset nForce 5 series.

HD AUDIO : Ready Chip kecil ini sudah mendukung standar High Definition Audio.
Lalu apa yang dimaksud dengan AC97 dan Azalia? Singkatnya, AC97 adalah standar audio codec yang diciptakan oleh Intel pada tahun 1997. Standar audio yang diciptakan Intel ini lalu diimplementasikan pada hampir semua motherboard yang beredar sampai saat ini. Anda mungkin masih asing dengan sebutan AC97. Namun, mungkin Anda lebih cepat mengenalinya apabila CHIP menyebut AC97 dengan audio onboard. Memang tidak semua audio onboard yang beredar menggunakan standar AC97, tetapi populasi audio onboard yang menggunakan AC97 mungkin sekitar 80% dari seluruh board yang ada di Indonesia.

Intel High Definiton Audio sendiri adalah standar audio codec yang diciptakan Intel pada tahun 2004. Standar ini diciptakan dengan tujuan untuk menggantikan AC97 yang dirasa telah ketinggalan jaman. Perbedaan antara AC97 dengan Azalia terletak pada spesifikasi hardware. Hardware dari AC97 hanya mampu menyediakan suara dengan kualitas resolusi 96 KHz/20-bit untuk stereo dan 48KHz/20-bit untuk multichannel. Sedangkan hardware dari Azalia mampu hingga 192KHz/32-bit untuk stereo dan 96KHz/32-bit untuk multichannel sampai dengan 8-channel.

Sekarang ini AC97 memang masih diimplementasikan pada banyak board terutama board-board yang dijual dengan harga terjangkau. Ini karena biaya pembuatan audio onboard yang menggunakan standar AC97 tergolong sangat murah. Namun, ke depannya Azalia dipastikan akan menggantikan AC97. Faktanya sudah dapat dilihat dari saat ini dimana ATI, Intel, dan NVIDIA sebagai produsen chipset mayoritas sudah mulai menerapkan Azalia sebagai standar audio codec-nya untuk chipset terbaru buatan mereka.

Beberapa chip audio codec yang digunakan oleh board-board yang ikut serta dalam tes perbandingan kali ini adalah Realtek ALC882, ALC882D, ALC882H, ALC883, ALC885, ALC888DD, dan SoundMAX ADI1988D. Yang paling menarik dari semuanya adalah Realtek ALC888DD yang digunakan oleh board Gigabyte GA-M59SLI-S4. Chip ini sudah mendukung Digital Theatre Systems (DTS) connect dan Dolby Digital Live.

Cara CHIP Menguji
Chipset nForce 500 Series diluncurkan dalam beberapa versi. Pengelompokan tersebut berfungsi untuk membagi pangsa pasar yang dibidik. Pada pengujian motherboard kali ini, CHIP mengelompokkan chipset nForce 500 Series secara garis besar menjadi dua: Kategori SLI dan non-SLI.

Untuk menguji board-board yang dipersenjatai oleh chipset nForce 500 Series, CHIP melakukan serangkaian pengujian untuk mencari kandidat yang pantas menerima CHIP Tip Choice, CHIP Tip Value, dan CHIP Best Performer. Berikut ini adalah faktor-faktor yang menjadi bahan penilaian CHIP:

Kinerja (40%)
Untuk menguji kinerja motherboard, CHIP menggunakan beberapa aplikasi benchmark sebagai berikut:

SYSMark 2004
Seperti biasa, CHIP menggunakan aplikasi ini untuk mendapatkan gambaran kinerja sebuah sistem dalam menjalankan aplikasi sehari-hari. Program ini sangat sensitif terhadap kestabilan sistem maupun bandwidth memori. Jadi, benchmark ini sangat cocok untuk pengujian motherboard yang menggunakan chipset sejenis.

Multimedia Content Creation
Pada tes perbandingan kali ini, CHIP menambahkan satu program aplikasi benchmark. Aplikasi ini digunakan untuk mengetahui kinerja sistem dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan multimedia, contohnya mengedit file suara dan video.

Serious Sam II
Game ini merupakan aplikasi game yang menggunakan instruksi Direct3D dalam menghasilkan grafis 3D. Serious Sam II dipilih karena game ini memberikan hasil benchmarking yang stabil dan sudah mendukung HDR. Hasil benchmark tersebut dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan sistem dalam mengolah game yang berbasiskan instruksi Direct3D.

3DMark2001SE
Aplikasi benchmark ini memberikan gambaran kemampuan sistem dalam menjalankan game 3D berbasis DirectX 8. Hasil yang didapat sangat bergantung pada sistem secara keseluruhan sehingga cocok digunakan untuk melihat kinerja motherboard.
3DMark06
3DMark06 adalah versi terakhir dari 3DMark. Benchmark sintetis ini merupakan pengembangan dari versi sebelumnya. Perbedaan paling utama dari versi sebelumnya adalah dimasukkannya pengujian terhadap CPU ke dalam penilaian keseluruhan.

Perlengkapan (25%)
Board dengan tata letak yang baik akan memudahkan proses instalasi, baik saat pemasangan maupun saat pelepasan periferal.
Desain & Ergonomi (15%)
CHIP menilai kestabilan board saat pengujian berlangsung. Instalasi sistem operasi Windows dan aplikasi-aplikasi tambahan harus berjalan mulus, demikian pula pengujian menggunakan masing-masing benchmark.

Kestabilan (10%)
Penilaian perlengkapan memiliki peranan dan bobot yang signifikan. Semakin banyak aksesori yang diberikan oleh produk, semakin tinggi pula nilainya. Tentunya, nilai setiap aksesori yang diberikan juga bergantung pada fungsi aksesori tersebut.
Dokumentasi (10%)
Jika motherboard yang dipakai mengalami masalah, dokumentasi menjadi hal yang penting karena dapat membantu Anda menyelesaikan masalah tersebut. Dokumentasi yang lengkap dan mudah dipahami lebih berguna daripada hanya sekadar catatan dan spesifikasi teknis.

Platform yang digunakan:
Prosesor : AMD Athlon X2 4200+ Soket AM2

VGA Card : GeCube Radeon X1800XT 512MB

RAM : Corsair CM2X512-8500 2 x 512 MB

Hard Disk : Western Digital Raptor 74 GB 10.000 rpm

PSU : Antec Neo HE 550

OS : Windows XP SP2+DirectX 9

ODD : NEC ND-3540A

Mouse : RAZER Copperhead

Kesimpulan CHIP

Perlahan tapi pasti, chipset nForce 500 Series yang ditujukan untuk mengakomodasi prosesor AMD soket AM2 mulai menggantikan chipset nForce 4 series yang sudah cukup lama diluncurkan. Fenomena ini dapat dilihat dari ketersediaan prosesor AMD di pasaran, khususnya di pasar Indonesia. Prosesor-prosesor kelas atas AMD seperti Athlon X2 4200+ keatas lebih banyak dijumpai berjenis socket AM2 dibandingkan soket 939. Sekalipun ada prosesor kelas atas AMD soket 939, harganya pun lebih mahal dibandingkan prosesor AMD soket AM2 dengan performance rating yang sama. Hal ini disebabkan oleh lebih sedikitnya pasokan prosesor AMD soket 939 dibandingkan prosesor AMD soket AM2.

Firtz Edison, – Redaktur Hardware
Chipset nForce 500 Series sendiri tidak membawa banyak peningkatan kinerja dibandingkan pendahulunya. Chipset ini hanya menawarkan beberapa feature baru untuk pengguna prosesor AMD. Sebenarnya hal ini bukan hanya masalah NVIDIA sebagai pembuat chipset, melainkan juga karena keterbatasan arsitektur K8 AMD yang tidak dapat memanfaatkan bandwidth ekstra berkat penggunaan memori DDR2-SDRAM, sehingga peningkatan kinerja yang diperoleh tidak signifikan.

Tjiara William, – Redaktur Hardware
CHIP memberikan Award berupa CHIP Tip Choice, CHIP Tip Value, dan CHIP Best Performer pada produk-produk yang memperoleh nilai total terbaik, perbandingan nilai total dan harga terbaik, dan kinerja terbaik. Namun, CHIP mengingatkan bahwa motherboard yang memenangkan award tersebut belum tentu yang terbaik untuk Anda. Pilihlah motherboard sesuai dengan kebutuhan dan jangan lupa perhatikan dengan seksama hasil pengujian produk satu per satu pada tabel hasil pengujian untuk menentukan motherboard mana yang paling sesuai untuk Anda.

Kategori SLI:

CHIP Tip Chioce: ASUS Republic of Gamers: CrossHair
Tampil dengan desain menawan dan perlengkapan berlimpah. Board ini didedikasikan untuk gamer dan penggemar PC-Modding. Namun, untuk menikmati semua feature dan kinerja yang diberikan board ini, Anda harus membayar dengan harga ‘ekstra.’

CHIP Tip Value: ECS KN3 SLI2
ECS memang terkenal sebagai pembuat board ekonomis. Bahkan board ini memiliki harga yang lebih rendah dari beberapa board yang menggunakan chipset nForce 570 SLI. Bagi Anda yang mencari board AM2 dengan chipset nForce 590 SLI yang memiliki perbandingan kinerja dengan harga terbaik, board ini adalah pemenangnya.

CHIP Best Performer: ASUS M2N32 WS Professional

Pertama kali melihat board ini, CHIP sempat ragu untuk mengikutsertakannya dalam tes perbandingan kali ini, mengingat board ini tampaknya ditujukan untuk membangun sebuah workstation rumahan. Namun, setelah diuji ternyata board ini mampu memberikan kinerja yang sangat baik. Buktinya, board ini mampu meraih CHIP Best Performer. Sedikit kelemahan baord ini adalah hanya memiliki 1 buah slot PCI.

Kategori non-SLI:

CHIP Tip Choice: JETWAY JHA01-SDGE
Dengan board ini, JETWAY berhasil melakukan aksi comeback dengan baik. Board yang dilengkapi chipset nForce 550 ini memiliki dua buah slot PCIe x16 sehingga tidak menutup kemungkinan untuk memodifikasi board ini untuk mendukung multigraphics.

CHIP Tip Value: Biostar Tforce 550
Sejak awal, Board Biostar ini sudah menarik perhatian CHIP dengan feature-feature yang diberikan. Misalnya saja penyertaan feature tombol ‘Power On’ dan ‘Reset’ onboard. Selain itu, board ini juga ditawarkan dengan harga yang cukup terjangkau.

CHIP Best Performer: MSI K9N Ultra-2F
Dengan kinerjanya yang tinggi, board yang dimotori oleh chipset nForce 570 Ultra ini berhasil meraih gelar CHIP Best Performer. Salah satu feature menarik khas MSI yang dimiliki board ini adalah switch push button khusus untuk clear CMOS.

Berikut ini adalah board-board yang tampil menonjol dalam tes perbandingan motherboard kali ini:

DFI LanParty UT NF590 SLI-M2R/G
Tidak salah lagi, board ini merupakan salah satu board yang paling ideal bagi para overclocker. Segudang feature yang memudahkan praktek overcloking ditambah dengan penggunaan komponen berkualitas baik menjadikan board ini sangat menarik. Sayangnya, kinerja standar board ini kurang menonjol sehingga nilai kinerja yang diraihnya tidak terlalu baik. Namun, bagi power user dan overclocker hal ini tentunya bukan masalah mengingat overclockability yang dimilikinya.

ABIT Fatality AN9 32X
Seri Fatality dari ABIT selalu menarik untuk direview. Board yang dirancang oleh gamer dan ditujukan untuk gamer ini juga dilengkapi segudang feature menarik. Tidak hanya itu, penampilannya yang cantik dan kaya warna juga menjadikan board ini cocok untuk PC-Modding. Untuk meningkatkan kinerja, board ini juga menyediakan feature overclocking yang cukup menarik, meskipun tidak selengkap board tawaran DFI.

Source : CHIP 12 2006
Author : Firtz Edison & Tjiara William

DB Synchro

April 6th, 2010

DB SynchroComp compares two SQL Server databases, determining differences between them, and generates scripts that will change the target database structure to match the source database structure. After you execute the synchronization script, the two databases will have the same structure, and existing data in the target database will remain intact.

download here

Edit photomu sendiri

April 6th, 2010

Mengedit foto tidak lagi mahal dan susah , cukup beberapa inspirasi dari kepalamu dan komputermu tentunya di bantu dengan Microsoft photo editor mimpimu menjadi editor foto menjadi kenyataan , download disini

Ukuran: 825KB    Lisensi: Freeware    Harga: Free    By: Microsoft Corporation

Driver ATI FirePro

April 6th, 2010

Update driver terbaru khusus Windows7 64Bit dan berplatform ATI Radeon,lebih cepat lebih bertenaga , download here..

Office gratis vs Microsoft office

April 6th, 2010

Program office yang lengkap dan free termasuk didalamnya word,spreadsheet,presentation dan lainnya,kompatibel di semua platform OS  ,download di sini

Mainkan PS2 di komputermu

April 6th, 2010

Bagi kalian yang mempunyai komputer tapi tidak mempunyai ps2 dan ingin memainkan game ps2 seperti WE atau Drift,jangan khawatir dengan emulator ps2 di komputermu kamu bisa memainkannya di komputermu tanpa harus keluar biaya karena disini kamu bisa dapatkan free.Download emulator ps2

spesifikasi :

  • CPU: Emotion Engine 300MHz, 128-bit INT, 128-bit FP, 24KB L1, 16KB Scratch, 8KB VU0, 32KB VU1, 450 MIPS, 6.2 GFLOPS, 66M Vertices/Sec, 2.4 GB/s Internal, 1.2 GB/s Graphics, 3.2 GB/s Memory
  • Graphics: Sony GS 150MHz, 1.2G Texels/Sec, 32-bit Color, 4MB (48 GB/s), 1.2 GB/sec Bus
  • Sound: SPU2, 48 2D Voices, ADPCM, 2MB
  • Data: 24MB (2.6 GB/s), 16MB (81 MB/s), 4.7GB Discs, Expansion 56K Modem Ethernet

KERNEL

March 29th, 2010

Kernel (ilmu komputer)


Dalam ilmu komputer, kernel adalah suatu perangkat lunak yang menjadi bagian utama dari sebuah sistem operasi. Tugasnya melayani bermacam program aplikasi untuk mengakses perangkat keras komputer secara aman.

Karena akses terhadap perangkat keras terbatas, sedangkan ada lebih dari satu program yang harus dilayani dalam waktu yang bersamaan, maka kernel juga bertugas untuk mengatur kapan dan berapa lama suatu program dapat menggunakan satu bagian perangkat keras tersebut. Hal tersebut dinamakan sebagai multiplexing.

Akses kepada perangkat keras secara langsung merupakan masalah yang kompleks, oleh karena itu kernel biasanya mengimplementasikan sekumpulan abstraksi hardware. Abstraksi-abstraksi tersebut merupakan sebuah cara untuk menyembunyikan kompleksitas, dan memungkinkan akses kepada perangkat keras menjadi mudah dan seragam. Sehingga abstraksi pada akhirnya memudahkan pekerjaan programer.

Untuk menjalankan sebuah komputer kita tidak harus menggunakan kernel sistem operasi. Sebuah program dapat saja langsung diloadload kembali program-program tersebut. dan dijalankan diatas mesin ‘telanjang’ komputer, yaitu bilamana pembuat program ingin melakukan pekerjaannya tanpa bantuan abstraksi perangkat keras atau bantuan sistem operasi. Teknik ini digunakan oleh komputer generasi awal, sehingga bila kita ingin berpindah dari satu program ke program lain, kita harus mereset dan me

//

Beberapa desain Kernel

Beberapa desain kernel sistem operasi

Sebuah kernel sistem operasi tidak harus ada dan dibutuhkan untuk menjalankan sebuah komputer. Program dapat langsung dijalankan secara langsung di dalam sebuah mesin (contohnya adalah CMOS Setup) sehingga para pembuat program tersebut membuat program tanpa adanya dukungan dari sistem operasi atau hardware abstraction. Cara kerja seperti ini, adalah cara kerja yang digunakan pada zaman awal-awal dikembangkannya komputer (pada sekitar tahun 1950). Kerugian dari diterapkannya metode ini adalah pengguna harus melakukan reset ulang komputer tersebut dan memuatkan program lainnya untuk berpindah program, dari satu program ke program lainnya. Selanjutnya, para pembuat program tersebut membuat beberapa komponen program yang sengaja ditinggalkan di dalam komputer, seperti halnya loader atau debugger, atau dimuat dari dalam ROM (Read-Only Memory). Seiring dengan perkembangan zaman komputer yang mengalami akselerasi yang signifikan, metode ini selanjutnya membentuk apa yang disebut dengan kernel sistem operasi.

Selanjutnya, para arsitek sistem operasi mengembangkan kernel sistem operasi yang pada akhirnya terbagi menjadi empat bagian yang secara desain berbeda, sebagai berikut:

  • Kernel monolitik. Kernel monolitik mengintegrasikan banyak fungsi di dalam kernel dan menyediakan lapisan abstraksi perangkat keras secara penuh terhadap perangkat keras yang berada di bawah sistem operasi.
  • Mikrokernel. Mikrokernel menyediakan sedikit saja dari abstraksi perangkat keras dan menggunakan aplikasi yang berjalan di atasnya—yang disebut dengan server—untuk melakukan beberapa fungsionalitas lainnya.
  • Kernel hibrida. Kernel hibrida adalah pendekatan desain microkernel yang dimodifikasi. Pada hybrid kernel, terdapat beberapa tambahan kode di dalam ruangan kernel untuk meningkatkan performanya.
  • Exokernel. Exokernel menyediakan hardware abstraction secara minimal, sehingga program dapat mengakses hardware secara langsung. Dalam pendekatan desain exokernel, library yang dimiliki oleh sistem operasi dapat melakukan abstraksi yang mirip dengan abstraksi yang dilakukan dalam desain monolithic kernel.

Kernel monolitik

Pendekatan kernel monolitik didefinisikan sebagai sebuah antarmuka virtual yang berada pada tingkat tinggi di atas perangkat keras, dengan sekumpulan primitif atau system call untuk mengimplementasikan layanan-layanan sistem operasi, seperti halnya manajemen proses, konkurensi (concurrency), dan manajemen memori pada modul-modul kernel yang berjalan di dalam mode supervisor.

Meskipun jika setiap modul memiliki layanan operasi-operasi tersebut terpisah dari modul utama, integrasi kode yang terjadi di dalam monolithic kernel sangatlah kuat, dan karena semua modul berjalan di dalam address space yang sama, sebuah bug dalam salah satu modul dapat merusak keseluruhan sistem. Akan tetapi, ketika implementasi dilakukan dengan benar, integrasi komponen internal yang sangat kuat tersebut justru akan mengizinkan fitur-fitur yang dimiliki oleh sistem yang berada di bawahnya dieksploitasi secara efektif, sehingga membuat sistem operasi dengan monolithic kernel sangatlah efisien—meskipun sangat sulit dalam pembuatannya.

Pada sistem operasi modern yang menggunakan monolithic kernel, seperti halnya Linux, FreeBSD, Solaris, dan Microsoft Windows, dapat memuat modul-modul yang dapat dieksekusi pada saat kernel tersebut dijalankan sehingga mengizinkan ekstensi terhadap kemampuan kernel sesuai kebutuhan, dan tentu saja dapat membantu menjaga agar kode yang berjalan di dalam ruangan kernel (kernel-space) seminim mungkin.

Di bawah ini ada beberapa sistem operasi yang menggunakan Monolithic kernel:

Mikrokernel

Pendekatan mikrokernel berisi sebuah abstraksi yang sederhana terhadap hardware, dengan sekumpulan primitif atau system call yang dapat digunakan untuk membuat sebuah sistem operasi agar dapat berjalan, dengan layanan-layanan seperti manajemen thread, komunikasi antar address space, dan komunikasi antar proses. Layanan-layanan lainnya, yang biasanya disediakan oleh kernel, seperti halnya dukungan jaringan, pada pendekatan microkernel justru diimplementasikan di dalam ruangan pengguna (user-space), dan disebut dengan server.

Server atau disebut sebagai peladen adalah sebuah program, seperti halnya program lainnya. Server dapat mengizinkan sistem operasi agar dapat dimodifikasi hanya dengan menjalankan program atau menghentikannya. Sebagai contoh, untuk sebuah mesin yang kecil tanpa dukungan jaringan, server jaringan (istilah server di sini tidak dimaksudkan sebagai komputer pusat pengatur jaringan) tidak perlu dijalankan. Pada sistem operasi tradisional yang menggunakan monolithic kernel, hal ini dapat mengakibatkan pengguna harus melakukan rekompilasi terhadap kernel, yang tentu saja sulit untuk dilakukan oleh pengguna biasa yang awam.

Dalam teorinya, sistem operasi yang menggunakan microkernel disebut jauh lebih stabil dibandingkan dengan monolithic kernel, karena sebuah server yang gagal bekerja, tidak akan menyebabkan kernel menjadi tidak dapat berjalan, dan server tersebut akan dihentikan oleh kernel utama. Akan tetapi, dalam prakteknya, bagian dari system state dapat hilang oleh server yang gagal bekerja tersebut, dan biasanya untuk melakukan proses eksekusi aplikasi pun menjadi sulit, atau bahkan untuk menjalankan server-server lainnya.

Sistem operasi yang menggunakan microkernel umumnya secara dramatis memiliki kinerja di bawah kinerja sistem operasi yang menggunakan monolithic kernel. Hal ini disebabkan oleh adanya overhead yang terjadi akibat proses input/output dalam kernel yang ditujukan untuk mengganti konteks (context switch) untuk memindahkan data antara aplikasi dan server.

Beberapa sistem operasi yang menggunakan microkernel:

Kernel hibrida

Kernel hibrida aslinya adalah mikrokernel yang memiliki kode yang tidak menunjukkan bahwa kernel tersebut adalah mikrokernel di dalam ruangan kernel-nya. Kode-kode tersebut ditaruh di dalam ruangan kernel agar dapat dieksekusi lebih cepat dibandingkan jika ditaruh di dalam ruangan user. Hal ini dilakukan oleh para arsitek sistem operasi sebagai solusi awal terhadap masalah yang terjadi di dalam mikrokernel: kinerja.

Beberapa orang banyak yang bingung dalam membedakan antara kernel hibrida dan kernel monolitik yang dapat memuat modul kernel setelah proses booting, dan cenderung menyamakannya. Antara kernel hibrida dan kernel monolitik jelas berbeda. Kernel hibrida berarti bahwa konsep yang digunakannya diturunkan dari konsep desain kernel monolitik dan mikrokernel. Kernel hibrida juga memiliki secara spesifik memiliki teknologi pertukaran pesan (message passing) yang digunakan dalam mikrokernel, dan juga dapat memindahkan beberapa kode yang seharusnya bukan kode kernel ke dalam ruangan kode kernel karena alasan kinerja.

Di bawah ini adalah beberapa sistem operasi yang menggunakan kernel hibrida:

Exokernel

Sebenarnya, Exokernel bukanlah pendekatan kernel sistem operasi yang umum—seperti halnya microkernel atau monolithic kernel yang populer, melainkan sebuah struktur sistem operasi yang disusun secara vertikal.

Ide di balik exokernel adalah untuk memaksa abstraksi yang dilakukan oleh developer sesedikit mungkin, sehingga membuat mereka dapat memiliki banyak keputusan tentang abstraksi hardware. Exokernel biasanya berbentuk sangat kecil, karena fungsionalitas yang dimilikinya hanya terbatas pada proteksi dan penggandaan sumber daya.

Kernel-kernel klasik yang populer seperti halnya monolithic dan microkernel melakukan abstraksi terhadap hardware dengan menyembunyikan semua sumber daya yang berada di bawah hardware abstraction layer atau di balik driver untuk hardware. Sebagai contoh, jika sistem operasi klasik yang berbasis kedua kernel telah mengalokasikan sebuah lokasi memori untuk sebuah hardware tertentu, maka hardware lainnya tidak akan dapat menggunakan lokasi memori tersebut kembali.

Exokernel mengizinkan akses terhadap hardware secara langsung pada tingkat yang rendah: aplikasi dan abstraksi dapat melakukan request sebuah alamat memori spesifik baik itu berupa lokasi alamat physical memory dan blok di dalam hard disk. Tugas kernel hanya memastikan bahwa sumber daya yang diminta itu sedang berada dalam keadaan kosong—belum digunakan oleh yang lainnya—dan tentu saja mengizinkan aplikasi untuk mengakses sumber daya tersebut. Akses hardware pada tingkat rendah ini mengizinkan para programmer untuk mengimplementasikan sebuah abstraksi yang dikhususkan untuk sebuah aplikasi tertentu, dan tentu saja mengeluarkan sesuatu yang tidak perlu dari kernel agar membuat kernel lebih kecil, dan tentu saja meningkatkan performa.

Exokernel biasanya menggunakan library yang disebut dengan libOS untuk melakukan abstraksi. libOS memungkinkan para pembuat aplikasi untuk menulis abstraksi yang berada pada level yang lebih tinggi, seperti halnya abstraksi yang dilakukan pada sistem operasi tradisional, dengan menggunakan cara-cara yang lebih fleksibel, karena aplikasi mungkin memiliki abstraksinya masing-masing. Secara teori, sebuah sistem operasi berbasis Exokernel dapat membuat sistem operasi yang berbeda seperti halnya Linux, UNIX, dan Windows dapat berjalan di atas sistem operasi tersebut.

Contoh implementasi kernel

Windows

Pada sistem operasi Windows, kernel ditangani oleh file kernel32.dll. Kernel ini menangani manajemen memori, operasi masukan / keluaran dan interrupt. Ketika boot Windows, kernel32.dll di-load ke dalam spasi protected memory sehingga spasi memorinya tidak digunakan oleh aplikasi lain. Apabila ada aplikasi yang mencoba mengambil spasi memori kernel32.dll, akan muncul pesan kesalahan “invalid page fault“.

Hello world!

March 18th, 2010

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!