RSS
 

TUGAS TERSTRUKTUR 5

30 May

Nama : Christian Martha Fanni

NIM : 0910220071

Dosen : Nanang Suryadi

Mata Kuliah : Consumer Behavior

 

1. Pengaruh Kelompok Acuan Terhadap Minat Pembeli

Seperti dikemukakan oleh Bilson Simamora (2002:6) bahwa teori sosiologis menyatakan perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, seperti keluarga dan kelompok-kelompok sosial di mana seseorang itu menjadi anggota. Pada dasarnya, seseorang akan berusaha mengharmonisasikan perilakunya dengan apa yang dianggap pantas oleh lingkungan sosialnya. Dengan demikian, seseorang akan membeli produk kalau produk tersebut diterima oleh kelompoknya.

Kelompok adalah sekumpulan individu-individu yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya selama periode waktu tertentu dan membagi kebutuhan atau tujuan bersama. Para sosiologis telah mengembangkan sejumlah istilah untuk menggambarkan berbagai jenis kelompok di mana seseorang termasuk menjadi anggotanya, bercita-cita untuk bergabung, atau menghindarinya, berikut adalah beberapa jenis kelompok dan definisi singkatnya:

  1. Kelompok acuan : sekelompok nilai, norma, sikap atau kepercayaan yang digunakan sebagai acuan terhadap perilaku perorangan. Menurut Kotler (2004:187), kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung atau pengaruh tidak langsung terhadap pendirian atau perilaku seseorang.
    Menurut Stanton (1996:140), kelompok referensi dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang mempengaruhi perilaku, nilai, dan sikap seseorang.
    Sedangkan menurut Swastha dan Handoko (1997:68), kelompok referensi (reference group) adalah kelompok sosial yang menjadi ukuran seseorang (bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk kepribadian dan perilakunya.
  2. Kelompok aspirasi: kelompok individu yang senang menyendiri. Jika anggota dalam kelompok ini tidak memungkinkan, maka akan menjadi kelompok simbol perorangan.
  3. Kelompok dissosiatif: kelompok yang menghindari hubungan.
  4. Kelompok primer: kelompok yang anggotanya berinteraksi dengan dasar saling bertemu muka untuk membahas berbagai topik.
  5. Kelompok formal: kelompok yang struktur organisasinya tertulis. Seperti organisasi kampus, kelompok kelas, dsb.
  6. Kelompok informal: kelompok yang struktur organisasinya tidak tertulis. Kelompok ini seringkali didasarkan secara sosial, seperti sekelompok teman yang sering bertemu di tempat nongkrong, bermain game, atau tempat pesta.

Kelompok mempengaruhi minat konsumen melalui lima cara dasar :

1. Kelompok mempengaruhi proses.

Kelompok acuan mempengaruhi orang melalui norma, informasi, dan melalui kebutuhan nilai ekspresif konsumen. Pengaruh normatif (normatif influence) terjadi apabila norma-norma bertindak untuk mempengaruhi perilaku individual. Pengaruh informasi (informational influence) dirasakan apabila kelompok memberi informasi yang sangat dapat dipercaya dan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Sedangkan pengaruh nilai ekspresif (value-expressive influence) mempengaruhi konsumen apabila mereka merasa bahwa suatu kelompok acuan mempunyai nilai dan sikap tertentu yang berhubungan dengan proses konsumsi.

2. Dibentuknya peran dalam kelompok.

Peran terdiri dari perilaku khusus yang diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu. Peran penting dalam perilaku konsumen adalah pembuat keputusan (decider). Orang ini membuat keputusan akhir mengenai merek mana yang akan dipilih.

3. Pengembangan tekanan penyesuaian.

Penyesuaian (conformity) dapat didefinisikan sebagai perubahan perilaku atau kepercayaan terhadap kelompok sebagai akibat dari tekanan kelompok yang nyata atau yang dibayangkan. Terdapat dua jenis penyesuaian yang dapat diidentifikasi, yaitu: (1) Kepatuhan biasa (compliance), yaitu di mana orang hanya menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok tanpa menerima perintah dari kelompok, dan  (2) Penerimaan pribadi (private acceptance), yaitu di mana orang benar-benar mengubah kepercayaannya ke arah kelompok.

Terdapat 4 faktor dalam kelompok yang menciptakan penyesuaian, yaitu keterpaduan/kebersamaan hubungan dalam kelompok, ukuran/jumlah kelompok, keahlian, dan pandangan kelompok mengenai kepentingan produk. Sedangkan faktor perorangan yang menciptakan penyesuaian ialah tersedianya informasi bagi perorangan, daya tarik suatu kelompok terhadap perorangan, kebutuhan seseorang untuk disukai, dan jenis keputusan yang dihadapi perorangan.

4. Proses perbandingan sosial.

Perbandingan sosial (social comparison) adalah proses di mana orang mengevaluasi “kebenaran” pendapat mereka, luas kemampuan mereka, dan kebenaran pemilikan mereka serta membandingkannya dengan orang lain yang berada pada level yang sama.

5. Pengembangan polarisasi kelompok.

Fenomena polarisasi kelompok (grup polarization phenomenon) adalah kecenderungan kelompok yang menyebabkan orang mengubah keputusan mereka, baik ke arah yang lebih teliti atau lebih mengandung resiko. Faktor yang mengubah kelompok adalah informasi yang disampaikan selama diskusi kelompok tentang masalah. Alternatif keputusan yang menerima jumlah argumen yang paling besar adalah yang terpilih.

Referensi:

Kotler, Philip. 2004. Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT. Prenhallindo.

Mowen, John C. Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen Jilid 2. Edisi 5 Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Penerbit Erlangga.

Simamora, Bilson. 2002. Perilaku Konsumen. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Stanton, William J. 1996. Prinsip Pemasaran (terjemahan) Jilid 1. Edisi 7. Jakarta: Erlangga.

Swastha, DH Basu., dan Handoko. 1997. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.

 

2. Memetakan Kelas Sosial Di Indonesia Untuk Menjadi Target Pasar

Sebelum memetakan kelas sosial di Indonesia, perlu dipahami dulu definisi dari kelas sosial. Berikut adalah definisi kelas sosial menurut para ahli:

  1. Menurut Kotler (1997:155) kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hirarkis dan memiliki anggota dengan nilai-nilai, minat dan perilaku yang serupa.
  2. Engel, Blackwell dan Miniard (1994:121) berpendapat bahwa kelas sosial mengacu pada pengelompokan orang yang sama dalam perilaku mereka berdasarkan posisi ekonomi mereka di dalam pasar. Keanggotaan kelas ada dan dapat dideskripsikan sebagai kategori statistik entah individu-individunya sadar atau tidak akan situasi mereka yang sama.
  3. Sedangkan Pride dan Ferrell (1995:207) kelas sosial adalah sebuah kelompok yang terbuka untuk para individu yang memiliki tingkat sosial yang serupa. Kriteria untuk mengelompokkan orang-orang ke dalam kelas-kelas beragam dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain

Dari ketiga pendapat tersebut mempunyai kesamaan bahwa kelas sosial merupakan pembagian/pengelompokan individu pada suatu masyarakat tertentu yang mempunyai perilaku yang serupa.

Kelas sosial memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  • Orang-orang dalam masing-masing kelas cenderung untuk berperilaku yang lebih mirip daripada orang-orang dari dua kelas sosial berbeda.
  • Orang-orang dipandang mempunyai posisi yang lebih tinggi atau rendah menurut kelas sosial mereka.
  • Kelas sosial seseorang ditandakan oleh sejumlah variabel, seperti pekerjaan, penghasilan, kekayaan, pendidikan, dan orientasi nilai, bukan oleh salah satu variabel tunggal tertentu.
  • Individu-individu dapat bergerak dari satu kelas sosial ke yang lain naik atau turun selama hidup mereka.

Menurut Mangkunegara (2002:43) kelas sosial dalam hubungan dengan perilaku konsumen dapat dikarakteristikkan antara lain:

  1. Kelas sosial golongan atas memiliki kecenderungan membeli barang-barang mahal, membeli di toko yang berkualitas dan lengkap, konservatif dalam konsumsinya, barang-barang yang dibeli cenderung untuk dapat menjadi warisan bagi keluarganya.
  2. Kelas sosial golongan menengah cenderung membeli barang untuk menampakkan kekayaannya, membeli barang dengan jumlah banyak dan kualitasnya cukup memadai, mereka berkeinginan membeli barang yang mahal dengan sistem kredit, misalnya kendaraan, rumah mewah dan lain-lain.
  3. Kelas sosial golongan rendah cenderung membeli barang dengan mementingkan kuantitas daripada kualitasnya. Pada umumnya mereka membeli barang untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan penjualan barang-barang yang diobral atau penjualan dengan harga promosi

Menurut Boyd, Walker dan Larreche (2000:143) setiap masyarakat memiliki pengelompokan status terutama berdasarkan kesamaan dalam pendapatan, pendidikan dan pekerjaan. Dari kesamaan-kesamaan inilah muncul sikap sosial yang mencirikan kelas tertentu. Jadi mengetahui kelas sosial pembeli dapat membantu penjual membedakan perilaku tertentu yang relevan terhadap pemasaran dari produk tertentu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelas sosial terdiri atas tiga variabel antara lain: (1) pekerjaan (2) penghasilan dan (3) pendidikan.

  • Variabel: Pekerjaan. Indikator: Jenis pekerjaan. 1. PNS. 2. Swasta. 3. Wiraswasta
  • Variabel: Penghasilan. Indikator: Besar Penghasilan. 1. Penghasilan rendah (<Rp1.000.000), 2. Penghasilan sedang (Rp1.000.000-Rp3.500.000), 3. Penghasilan tinggi (>Rp3.500.000)
  • Variabel: Pendidikan. Indikator: Jenis Pendidikan. 1. Formal, 2. Non Formal.

Sedangkan Berdasarkan total score Index of Status Characteristic (ISC) Warner yang menggunakan 4 variabel sebagai indikator golongan sosial (pekerjaan, sumber pendapatan, jenis rumah, dan daerah tempat tinggal), suatu individu diklasifikasikan ke dalam satu dari 6 kategori berikut:

  1. Kelas atas yang tertinggi
    Dunia orang yang mewarisi kekayaan dan nama keluarga. Bukan segmen pasar utama karena ukurannya yang kecil.
  2. Kelas atas yang terbawah
    Golongan elit kelas atas baru. Kelompok yang mengejar kekayaan dan mereka menghabiskan uang untuk menunjukkan kekayaannya. Ini merupakan pasar utama untuk barang mewah yang terspesialisasi.
  3. Kelas menengah ke atas
    Kehormatan, standar moral/etika yang tinggi, dan berfokus pada keluarga yang ideal merupakan hal yang penting dari kelompok ini. Mereka cenderung berpendidikan sekolah atau perguruan tinggi tetapi tidak mencari jabatan yang tinggi dalam organisasi mereka. Pasar yang cukup besar untuk barang bermerek dan mementingkan kualitas.
  4. Kelas menengah ke bawah
    Mewakili pasar yang besar untuk barang konsumen massal. Tidak terlalu mementingkan merek, lebih mementingkan kuantitas, namun kadang juga mempertimbangkan kualitas.
  5. Kelas bawah paling tinggi
    Bekerja, mereka tidak kaya, dan standar kehidupan hanya di atas tingkat kemiskinan. Kelas yang besar dan merupakan target pasar dari produk kebutuhan sehari-hari. Mementingkan kuantitas daripada kualitas. Sensitif terhadap harga.
  6. Kelas bawah paling bawah
    Mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Bukan merupakan target pasar.

Selain Index Warner, terdapat berbagai macam index lainnya yang dibedakan berdasarkan variabel yang digunakan, seperti: Index of Social Position Hollingshead/ISP (pekerjaan, pendidikan), census Bureau Index of Socioeconometric Status/SES (pekerjaan, pendidikan, perumahan sekitar), dan Index of Urban Status Coleman/IUS (pekerjaan, jenis rumah, perumahan sekitar, pekerjaan isteri, pendidikan isteri, afiliasi agama, organisasi).

Alasan untuk berbelanja berbeda di antara kelas-kelas sosial. Misalnya, Kelas atas cenderung berbelanja bukan karena kebutuhan tetapi juga untuk kesenangan. Kelas sosial juga berbeda dalam perilaku pencarian informasi sebelum dan selama berbelanja. Konsumen kelas menengah dan atas cenderung terlibat dalam pencarian informasi sebelum mereka membeli. Sedangkan konsumen kelas bawah cenderung berpegang pada penataan di toko dan nasehat dari para penjual.

Hubungan antara kelas sosial dan gaya hidup

  1. Kelas sosial mempengaruhi gaya hidup konsumen. Tingkat pendidikan cenderung mempengaruhi kegiatan seseorang, kepentingan, pendapat, nilai dan kepercayaan. Pendapatan rumah tangga menentukan kapasitas untuk membeli barang konsumen. Pekerjaan mempengaruhi jenis orang dengan siapa dia bergaul.
  2. Kelas sosial adalah prediktif bagi sumber-sumber yang dimiliki. (1) mereka yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi cenderung mempunyai sumber keuangan yang lebih besar karena pekerjaan atau kekayaan yang mereka warisi; (2) ketika kita bergerak lebih tinggi dalam tingkat kelas sosial, maka kesempatan untuk peran serta sosial meningkat; (3) mereka yang berada dalam kelas sosial yang lebih tinggi cenderung mengenal masalah kebudayaan; (4) mereka yang berada dalam kelas sosial yang lebih tinggi cenderung mempunyai horison waktu yang lebih luas daripada kelas sosial yang lebih rendah.
  3. Barang mungkin dibeli sebagai simbol status. Produk dan jasa seringkali dibeli untuk menunjukkan keanggotaan seseorang dalam kelas sosial tertentu.
  4. Konsumsi simbol status merupakan suatu keahlian. Pembelian yang lihai atas barang dan jasa dapat digunakan untuk memperkuat atau membantu meningkatkan kedudukan kelas sosial individual.


Referensi:

Boyd, Walker dan Larreche. 2000. Manajemen Pemasaran : Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global, Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga.

Engel, James F. Roger D. Blackwell. Paul W. Miniard. 1994. Perilaku Konsumen. Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara

Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Edisi Bahasa Indonesia, Jilid 1. Jakarta: PT Prenhallindo.

Mangkunegara, A. Anwar Prabu. 2002. Perilaku Konsumen. Edisi Revisi. Bandung: PT Refika Aditama.

Mowen, John C. Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen Jilid 2. Edisi 5 Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Penerbit Erlangga.

Pride, William M. Ferrell. OC. 1995. Pemasaran : Teori dan Praktek Sehari – hari. Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.

 

3. Perbedaan Budaya Indonesia Dulu & Sekarang serta Pandangan Saya Sebagai Orang Indonesia

Menurut definisi klasik, kebudayaan adalah seperangkat pola perilaku yang diperoleh secara sosial dan disalurkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain kepada anggota masyarakat tertentu.

Ki Hajar Dewantara mendefinisikan kebudayaan sebagai kemenangan atau hasil perjuangan hidup, yakni perjuangannya terhadap 2 kekuatan yang kuat dan abadi, alam dan zaman. Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus menerus berganti-gantinya alam dan zaman. (Dewantara; 1994).

Kebudayaan Nasional Indonesia adalah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang bernilai di seluruh kepulauan, baik yang lama maupun yang ciptaan baru, yang berjiwa nasional (Dewantara; 1994).

Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak berarti Kebudayaan Nasional sekadar penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara. Kebudayan Nasional merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas. Kebudayaan Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992).

Secara garis besar kebudayaan Indonesia dapat kita klasifikasikan dalam dua kelompok besar. Yaitu Kebudayaan Indonesia Klasik dan Kebudayaan Indonesia Modern. Para ahli kebudayaan telah mengkaji dengan sangat cermat akan kebudayaan klasik ini. Mereka memulai dengan pengkajian kebudayaan yang telah ditelurkan oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sebagai layaknya seorang pengkaji yang obyektif, mereka mengkaji dengan tanpa melihat dimensi-dimensi yang ada dalam kerajaan tersebut. Mereka mempelajari semua dimensi tanpa ada yang dikesampingkan. Adapun dimensi yang sering ada adalah seperti agama, tarian, nyanyian, wayang kulit, lukisan, patung, seni ukir, dan hasil cipta lainnya.

Kebudayaan Indonesia yang multikultur seperti itu, ketika dikaji dari sisi dimensi waktu, dapat dibagi pula pengertiannya :

Pertama, kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang sudah terbentuk. Definisi ini mengarah kepada pengertian bahwa kebudayaan Indonesia adalah keseluruhan pengetahuan yang tersosialisasi/internalisasi dari generasi-generasi sebelumnya, yang kemudian digunakan oleh umumnya masyarakat Indonesia sebagai pedoman hidup. Jika dilacak, kebudayaan ini terdokumentasi dalam artefak/atau teks.

Kedua, kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang sedang membentuk. Pada definisi kedua ini menjelaskan adanya kesadaran bahwa sebetulnya, hampir tidak pernah ada masyarakat manapun di dunia ini yang tidak bersentuhan dengan kebudayaan dan peradaban lain, termasuk kebudayaan Indonesia atau kebudayaan Jawa. Hanya saja ada pertanyaan serius untuk memilih definisi kedua ini, yaitu bagaimana lalu kebudayaan kita berdiri tegak untuk mampu menyortir berbagai elemen kebudayaan asing yang cenderung kapitalis yang notabene, dalam batas-batas tertentu, tidak cocok. Pada saat yang sama, kebudayaan global yang kapitalistik itu, telah masuk ke berbagai relung-relung kehidupan masyarakat “tanpa” bisa dicegah.

Ketiga, adalah kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang direncanakan untuk dibentuk. Ini adalah definisi yang futuristik, yang perlu hadir dan dihadirkan oleh warga bangsa yang menginginkan Indonesia ke depan harus lebih baik.

Kondisi sosial budaya Indonesia saat ini adalah sebagai berikut :

1. Bahasa, sampai saat Indonesia masih konsisten dalam bahasa yaitu bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa-bahasa daerah merupakan kekayaan plural yang dimiliki bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang kita. Bahasa asing (Inggris) belum terlihat popular dalam penggunaan sehari-hari, hanya pada saat seminar, atau kegiatan ceramah formal yang diselingi dengan bahasa Inggris.

2. Sistem teknologi, perkembangan yang sangat menyolok adalah teknologi informatika. Dengan perkembangan teknologi ini tidak ada lagi batas waktu dan negara pada saat ini, apapun kejadiannya di satu negara dapat langsung dilihat di negara lain melalui televisi, internet atau sarana lain dalam bidang informatika.

3. Sistem mata pencarian hidup/ekonomi. Kondisi pereko-nomian Indonesia saat ini masih dalam situasi krisis, yang diakibatkan oleh tidak kuatnya fundamental ekonomi pada era orde baru. Kemajuan perekonomian pada waktu itu hanya merupakan fatamorgana, karena adanya utang jangka pendek dari investor asing yang menopang perekonomian Indonesia.

4. Organisasi Sosial. Bermunculannya organisasi sosial agama (FPI, JI, MMI, Organisasi Aliran Islam/Mahdi), Etnis (FBR, Laskar Melayu) dan Ras.

5. Sistem Pengetahuan. Dengan adanya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) diharapkan perkembangan pengetahuan Indonesia akan terus berkembang sejalan dengan era globalisasi.

6. Religi. Munculnya aliran-aliran lain dari satu agama yang menurut pandangan umum bertentangan dengan agama aslinya. Misalnya : aliran Ahmadiyah, aliran yang berkembang di Sulawesi Tengah (Mahdi), NTB dan lain-lain.

7. Kesenian. Dominasi kesenian saat ini adalah seni suara dan seni akting (film, sinetron). Seni tari yang dulu hampir setiap hari dapat kita saksikan sekarang sudah mulai pudar, apalagi seni yang berbau kedaerahan. Kejayaan kembali wayang kulit pada tahun 1995 – 1996 yang dapat kita nikmati setiap malam minggu, sekarang sudah tidak ada lagi. Seni lawak model Srimulat sudah tergeser dengan model Extravaganza. Untuk kesenian nampaknya paling dinamis perkembangannya.

Pendapat Saya:

Saat ini, Indonesia sedang menghadapi suatu pergeseran-pergeseran budaya. Hal ini mungkin dapat difahami mengingat derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai budaya baru serta ketidak mampuan kita dalam membendung serangan itu dan mempertahankan budaya dasar kita.

Budaya-budaya yang masuk dapat berdampak negatif bagi kita, misalnya menimbulkan perubahan gaya hidup yang konsumtif komersial, adanya imperialisme budaya serta adanya kecenderungan melecehkan budaya-budaya tradisional, dan adanya kesenjangan antara kelompok yang mempertahankan tradisi dan sejarah dengan kelompok yang melihat tradisi dan sejarah tersebut hanya layak disimpan dan dikenang.

Meskipun kebudayaan yang masuk ke Indonesia cenderung kapitalis dan tidak sesuai dengan budaya dasar kita, namun dari budaya-budaya tersebut masih terdapat budaya yang dapat memberikan dampak positif bagi kita. Misalnya berdampak pada peningkatan dalam bidang sistem teknologi, ilmu pengetahuan, dan ekonomi.

Artinya, sebagai masyarakat Indonesia, kita harus mampu menyaring budaya-budaya barat yang masuk ke dalam masyarakat, yang sejalan atau tidak bertentangan dengan budaya dasar kita, yang dapat memberikan dampak positif bagi Indonesia, dan tetap mempertahankan tradisi dan budaya yang telah diturunkan dan dipelihara oleh para pendahulu kita. Karena kebudayaan nasional adalah jati diri suatu bangsa, sehingga sudah selayaknya kita bangga akan budaya nasional Indonesia.

Referensi:

Dewantara, Ki Hajar. 1994. ”Kebudayaan”. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa; Yogyakarta.

Mowen, John C. Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen Jilid 2. Edisi 5 Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Penerbit Erlangga.

Suseno, Franz Magnis. 1992. ”Filsafat Kebudayaan Politik”. Penerbit Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.

http://debyadjjah.wordpress.com/2010/03/01/perkembangan-budaya-di-indonesia-saat-ini/

http://grelovejogja.wordpress.com/2007/04/17/fenomena-konsep-kebudayaan-indonesia/

 

MARKETING PLAN STRUCTURE BANK SYARIAH MANDIRI

23 Apr

Nama                     : Christian Martha Fanni

NIM                         : (0910220071)

Mata Kuliah      : Marketing Strategic Planning

Dosen                     : Dr. Christin Susilowati

Asisten Dosen : Nadiyah Hirfiyana Rosita

 

MARKETING PLAN STRUCTURE BANK SYARIAH MANDIRI

1. Executive Summary

Bank Syariah Mandiri merupakan Bank syariah yang dibentuk oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada tahun 1999, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).

Terdapat perbedaan karakteristik antara produk jasa perbankan konvensional dengan bank syariah, di mana bank syariah lebih menekankan moral force, bagi hasil (profit sharing) secara dinamis, dan progresif, maka penempatan dana pihak ketiga tersebut yang dapat memberikan keuntungan finansial secara kompetitif serta ‘halal hukumnya,’ yaitu model syariah untuk menghindarkan pemberian bunga bank (riba) yang dilarang keras oleh syariat Islam, berdasarkan pedoman dari kitab suci Al-Quran dan Hadis Rasullah serta Ijma para ulama.

2. Situation analysis

a.      Analysis of the internal environment

Beberapa aspek lingkungan internal Bank Syariah Mandiri (BSM) adalah sebagai berikut:

Struktur Organisasi:

Dewan Perusahaan terdiri dari dewan komisaris dan dewan pengawas. Adapun fungsi dari dewan pengawas yaitu: Mengawasi kegiatan usaha bank agar sesuai dengan ketentuan syariah,  penasehat dan pemberi saran mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syariah. Mediator antara bank dengan Dewan Syariah Nasional (DSN), terutama dalam hal kajian produk yang memerlukan kajian dan fatwa DSN, dengan adanya dewan pengawas maka dapat menjamin bahwa Bank Syariah ini tidak akan melenceng dari konsep ekonomi syariah.

Manajemen perusahaan, terdiri dari presiden direktur yang membawahi 4 direktur. Dengan adanya manajemen perusahaan yang terpisah dari dewan pengawas maka tidak ada intervensi antara dewan pengawas dengan manajemen dan sebaliknya. Adanya direktur yang memegang jabatan rangkap yang berbeda bidangnya. Misal direktur HRD & TI.

SDM:

Dalam bidang SDM, BSM masih kesulitan mendapatkan SDM yang berkompeten dalam bidang perbankan syariah. Selain itu juga masih dibutuhkan penyesuaian dan pelatihan bagi karyawan baru terhadap sistem ekonomi syariah.

Untuk itu, BSM mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan BSM (Training Centre BSM) dengan tujuan agar dapat lebih leluasa merencanakan berbagai program pendidikan dan pelatihan perbankan syariah sesuai dengan kebutuhan dan prioritas usaha dari waktu ke waktu.

Modal:

Dengan dukungan modal dari PT.Bank Mandiri (bank terbesar di indonesia) maka bank syariah mandiri tidak mengalami kesulitan dibidang permodalan. Modal ini terdiri dari 2 macam, yaitu modal dasar dan modal disetor. Modal dasar sebesar Rp 1.000.000.000.000,00 dan modal disetor sebesar Rp 358.372.565.000,-.

Rasio Keuangan:

ROE sebesar 15.10%. Ini menunjukkan bahwa laba bersih diukur dari modal pemilik cukup baik.

ROA menujukkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan, semakin besar semakin baik, aktiva dapat lebih cepat berputar meraih laba. ROA yang didapat sebesar 2.15% >0.

ROI sebesar 0.98%, menujukkan bahwa besarnya laba bersih diukur dari total aktiva

Dari analisis rasio keuangan dapat disimpulkan bahwa secara garis besar kinerja keuangan dari bank syariah mandiri ini sudah cukup bagus.

b.      Analysis of the customer environment

Ketika masyarakat mendengar kata bank mandiri syariah maka persepsi yang terbentuk adalah bank yang menganut prinsip ekonomi syariah yang terdiri dari : Mudharabah (pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil), Musyarakah  (pembiayaan berdasarkan prinsip usaha patungan), Murabahah (jual beli barang dengan memperoleh keuntungan), dan Ijarah (pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa).

Bank syariah merupakan konsep perbankan yang masih baru dan mengikuti syariah Islam sehingga image awal yang terbentuk di masyarakat adalah bank yang diperuntukkan hanya untuk orang islam.

c.       Analysis of the external environment

Pertumbuhan Perbankan Syariah :  Pertumbuhan yang sangat pesat dibuktikan dengan pembangunan bank syariah di daerah-daerah yang tidak lagi bermayoritas agama islam, misal Manado dan Bali.

Teknologi  :  Pertumbuhan teknologi yang sangat pesat dalam bidang IT membuka peluang yang besar untuk penerapan teknologi-teknologi baru pada bidang perbankan. Namun dalam hal ini muncul tantangan dari pesaing yang mempunyai teknologi yang lebih canggih.

Pendatang Baru  :  Kebijakan Bank Indonesia terbaru belum akan memicu bank konvensional melepas unit usaha syariah menjadi bank umum syariah tersendiri.

Produk Pengganti : Produk pengganti pada bank konvensional cenderung lebih memberikan keuntungan pada pihak bank namun pada bank syariah mandiri memikirkan keuntungan kedua belah pihak.  Namun banyak produk sejenis yang menawarkan banyak keunggulan, misalnya dengan penawaran hadiah yang lebih menarik.

Nasabah : Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam (80% dari 250 juta) merupakan pasar potensial yang sangat besar. Selain itu nasabah tidak lagi melihat bank syariah sebagai bank yang dikhususkan untuk Orang Islam.

Pesaing : Pesaing dalam negeri yang terdiri dari bank-bank konvensional dan bank syariah yang lain.

3. SWOT Analysis

a. Strengths

1. Dewan Perusahaan, terdiri dari dewan komisaris dan dewan pengawas

2. Sumber Daya Manusia BSM profesional dan sepenuhnya mengerti operasional perbankan syariah

3. Jaringan Pemasaran tersebar di 20 provinsi di tanah air

4. Produk dan jasa yang ditawarkan sangat bervariasi

5. Identitas Merek BSM melekat sebagai bank syariah yang adil dan menentramkan

6. Dukungan modal dari PT. Bank Mandiri yang besar

b. Weaknesses

1. Adanya direktur yang memegang jabatan rangkap yang berbeda bidangnya

2. Sulit mendapatkan SDM yang berkompeten dalam bidang perbankan syariah

3. Belum meratanya penyebaran kantor bank syariah mandiri di seluruh provinsi

4. Belum adanya pelayanan produk (ATM) bersama secara menyeluruh dengan bank-bank lain di Indonesia

5. Image di masyarakat BSM sebagai bank yang diperuntukkan hanya untuk orang islam

c. Opportunities

1. Pertumbuhan Perbankan Syariah

2. Pertumbuhan teknologi yang sangat pesat dalam bidang IT

3. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam

4. Masih sedikit pesaing

5. Citra BSM yang baik di mata nasabah

d. Threats

1. Pesaing mempunyai teknologi yang lebih canggih

2. Banyaknya produk yang sejenis yang menawarkan banyak keunggulan

3. Banyaknya pilihan produk dari perbankan lain

4. Kekuatan nasabah untuk memilih bank lain cukup tinggi

5. Pesaing dari dalam negri tidak hanya terdiri dari bank-bank konvensional tapi juga bank syariah yang lain

e. Analysis of the SWOT matrix

MATRIKS SWOT BANK SYARIAH MANDIRI

f. Developing competitive advantages

Dalam menghadapi era kompetisi dewasa ini maka yang pertama harus dihindari adalah persaingan antar Bank Syariah. Persaingan perlu dieliminasi dalam memperebutkan nasabah dengan jalan pemberian pelayanan yang terbaik dalam menarik nasabah muslim maupun non-muslim. Pemberian return atas dasar bagi hasil baik deposan maupun pembiayaan perlu ada margin tertentu yang tidak saling mematikan.

Menghadapi bank konvensional, kinerja bank syariah yang telah ditunjukkan menghadapi krisis merupakan modal dasar dalam persaingan peran secara nasional. Sistem pembiayaan berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang menunjukkan kekuatannya dalam masa krisis, dan memiliki kinerja yang lebih baik dibanding sistem perbankan konvensional yang terlihat pada non performing financing (NPF) yang lebih rendah, tidak adanya negative spread dan konsisten dalam menjalankan fungsi intermediasi harus dipertahankan bila perlu ditingkatkan.

Dalam mengembangkan strategi kebijakan, tentu yang memegang peran penting adalah Bank Indonesia sendiri sebagai pengendali kehidupan perbankan nasional baik dari segi market driven yang mengarahkan pertumbuhan berdasarkan kebutuhan dan kondisi pasar, maupun dari segi fair treatment untuk membangun persaingan industri perbankan yang sehat berdasarkan keunikan dan karakteristik masing-masing sebagai aset nasional. Selain itu pendekatan hendaknya berdasarkan situasi dan kondisi, secara bertahap dan berkesinambungan (gradual and sustainable approach) di samping pengembangan infra struktur sesuai dengan prinsip syariah.

Secara internal selain mengeliminasi persaingan antar bank syariah, maka pelayanan bank syariah terhadap nasabah (muslim dan non muslim) perlu terus ditingkatkan sekurang-kurangnya sama bahkan harus lebih baik dari bentuk pelayanan dari bank konvensional terutama pada penggunaan information and communication technology (ICT). Para nasabah harus tahu membedakan dan mengetahui kelebihan dari bank syariah terhadap bank konvensional terutama dari produk yang ditawarkan seperti sistem mudharabah, musyarakah, murabahah, hawalah, ijarah,  istishna, kafalah, dan lain-lain. Petugas bank jangan hanya pandai memberikan pengertian seolah-olah berfatwa dengan ayat dan hadits, tetapi bagaimana secara inovatif menerangkan aplikasi dan prosedur sehingga mereka tertarik untuk memilih menggunakan produk tersebut. Karena faktor kepercayaan (trust) merupakan indikator utama suatu bank maka sebagai staf harus memiliki kemampuan mengkaji tentang manajemen risiko, prinsip kehati-hatian (prudential) menjaga CAR, mengetahui SUKUK dan lain-lain.

Salah satu peran yang sangat menentukan dalam mengembangkan Bank Syariah Mandiri adalah fatwa ulama dari MUI, terutama yang bertugas sebagai anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Di samping keahliannya sebagai ahli syariah mereka harus tahu dan perlu mengikuti perkembangan dan praktik produk yang ditawarkan apakah sesuai syariah atau tidak sebagai hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan perbankan (bank habitness) seperti denda (ta’wida) fee dan lain-lain.

Akhirnya untuk mengatasi dan membuat kebijakan yang sesuai situasi perlu penelitian yang teratur dan berkesinambungan untuk mengkaji penyebab timbulnya masalah, menganalisis dan mencoba mencari pemecahan dari monitoring dan evaluasi instansi terkait dan informasi dari masyarakat.

g. Developing a strategic focus

Berdasarkan perhitungan IFAS dan EFAS, diperoleh total nilai Strenght = 2,2; Weakness = 0,8; Opportunity = 1,7; dan Threat = 1,85. Karena S>W dan O<T, maka Strategi yang dilakukan adalah Kompetitif (ST), yaitu:

1. Pengembangan teknologi.

Dengan dukungan modal yang kuat dari PT. Bank Mandiri, dapat dialokasikan pada pengembangan teknologi secara tepat dan seoptimal mungkin.

2. Mempertahankan image.

Mempertahankan identitas merek BSM yang telah melekat sebagai ciri khas produk berbasis ekonomi perbankan syariah, dengan didukung oleh SDM yang professional dan menguasai operasional perbankan syariah.

3. Inovasi Produk.

Mengembangkan variasi produk dengan melakukan benchmarking pada produk pesaing yang lebih kuat dan lebih unggul.

4. Marketing Goals and Objectives

a. Marketing Goals. 

Pelaksanaan sosialisasi, promosi dan publikasi mengenai perbankan syariah, yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat, bahwa pengelolaan perbankan syariah tersebut berbeda dengan bank-bank konvensional (bank umum), yaitu lebih menekankan ‘keunggulan komparatif’ atau selling point dari konsep bank syariah melalui bagi hasil (profit sharing), ‘hubungan kemitraan’, dan tanpa pemberian bunga, serta penghasilan yang halal, baik ditinjau secara ‘ukhrawi maupun akhirati’ sesuai dengan syariah Islam.

b. Marketing Objectives.

Upaya promosi, pemasaran, publikasi dan sosialisasi mengenai strategi pengembangan bank syariah dapat dilakukan secara terpadu (integrated marketing communication), melalui kerja sama dengan lembaga atau asosiasi keorganisasian Islam, para ulama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Dakwah Islam (DDI), Dewan Pengawasan Syariah (DPS), Dewan Syariah Nasional (DSN), peranan perguruan tinggi formal Islam atau lembaga pendidikkan tradisional pondok pesantren, majelis-majelis tak’lim dan termasuk kampanye memanfaatkan publisitas yang berkerja sama dengan media massa (media elektronik dan media cetak) untuk perluasan informasi kepada masyarakat.

 

 

TUGAS TERSTRUKTUR 4: HUMAN PERSONALITY

28 Mar

Dikerjakan Oleh : Christian Martha Fanni (0910220071)

Mata Kuliah        : Consumen Behavior

Dosen                : Nanang Suryadi

 

1. Tipe-tipe Kepribadian Manusia.

Pada dasarnya setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Penelitian tentang kepribadian manusia dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya.

1. Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga.

2. Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan bersikap optimistis.

3. Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang-orang seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.

4. Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.

sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/05/15/kepribadian/

Sedangkan menurut John L Holland, seorang praktisi yang mempelajari hubungan antara kepribadian dan minat pekerjaan, mengemukakan bahwa ada enam tipe atau orientasi kepribadian pada manusia.

1. Tipe realistik .

Menyukai pekerjaan yang sifatnya konkret, yang melibatkan kegiatan sistematis, seperti mengoperasikan mesin, peralatan. Tipe seperti ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, komunikasi, atau hubungan dengan orang lain, tetapi dia memiliki fisik yang kuat. Bidang karier yang cocok, yaitu perburuhan, pertanian, barber shop, dan konstruski.

2. Tipe intelektual/investigative .

Menyukai hal-hal yang teoritis dan konseptual, cenderung pemikir daripada pelaku tindakan, senang menganalis, dan memahami sesuatu. Biasanya menghindari hubungan sosial yang akrab. Tipe ini cocok bekerja di laboratorium penelitian, seperti peneliti, ilmuwan, ahli matematika.

3. Tipe sosial.

Senang membantu atau bekerja dengan orang lain. Dia menyenangi kegiatan yang melibatkan kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain, tetapi umumnya kurang dalam kemampuan mekanikal dan sains. Pekerjaan yang sesuai, yaitu guru/pengajar, konselor, pekerja sosial, guide, dan bartender.

4. Tipe konvensional.

Menyukai pekerjaan yang terstruktur atau jelas urutannya, mengolah data dengan aturan tertentu. Pekerjaan yang sesuai, yaitu sekretaris, teller, filing, serta akuntan.

5. Tipe usaha/enterprising.

Cenderung mempunyai kemampuan verbal atau komunikasi yang baik dan menggunakannya untuk memimpin orang lain, mengatur, mengarahkan, dan mempromosikan produk atau gagasan. Tipe ini sesuai bekerja sebagai sales, politikus, manajer, pengacara atau agensi iklan.

6. Tipe artistik .

Cenderung ingin mengekspresikan dirinya, tidak menyukai struktur atau aturan, lebih menyukai tugas-tugas yang memungkinkan dia mengekspresikan diri. Karier yang sesuai, yaitu sebagai musisi, seniman, dekorator, penari, dan penulis.

sumber: http://aliasabena.wordpress.com/2011/04/09/mari-mengenal-beberapa-tipe-kepribadian-manusia/

 

2. Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian.

Ada 2 faktor utama yang mempengaruhi kepribadian seseorang, yaitu hereditas (genetika) dan lingkungan (environment).

a.      Faktor Hereditas (genetika)

Dalam hal ini dijelaskan bahwa seorang pribadi terbentuk dari kromosom orang tua yang didalamnya terdapat gen yang membawa sifat-sifat fisik dan psikis seseorang yang menentukan potensi hereditasnya. Hal itu secara tidak langsung akan membentuk kepribadian seseorang, karena pengaruh langsung gen terhadap kepribadian seseorang adalah :

  • Kualitas system syaraf
  • Keseimbangan biokimia tubuh
  • Struktur tubuh

Sedangkan pengaruh tidak langsung hereditas terhadap kepribadian adalah :

  • Sebagai sumber bahan mentah kepribadian yaitu :
  1. fisik, hal ini meliputi susunan alat-alat perlengkapan badan yang bercirikan individual, daya tahan tubuh, juga habitus individu atau diartikan sebagai bentuk badan yang khas pada setiap manusia (Winkel, 2010:215),
  2. Intelegensi, diartikan sebagai kemampuan untuk mencapai sebuah prestasi yang didalamnya berpikir memegang peranan (winkel, 2010:216) dan
  3. Temperamen, diartikan sebagai sifat umum alam perasaan seseorang (winkel, 2010:215).
  • Membatasi perkembangan kepribadian, sehingga mempengaruhi keunikan pribadi. Hal ini berkaitan erat dari bagaimana seorang individu mau menerima dengan tulus dan mampu menghargai segala yang ada dalam dirinya, baik secara fisik, intelegensi maupun psikis. Ada individu yang secara fisik gemuk atau kurus, atau berkulit gelap atau cerah dan sebagainya, ada individu yang cenderung tertutup dan mudah pesimis, ada yang trebuka, ceria dan selalu gembira, dan banyak lagi. Ketika seorang individu mengalami ketidaknyamanan dengan apa adanya dirinya, maka itu akan menghambat dirinya untuk mengembangkan dirinya secara lebih optimal, sedangkan apa adanya dirinya tersebut yang mampu dikembangkan secara baik, itulah keunikan sebagai pribadi yang berkualitas.

 

Pada intinya faktor hereditas ini dapat mempengaruhi konsep diri seseorang sebagai keunikannya, sehingga antara satu individu dengan individu lainnya akan berbeda dan tidak ada yang memiliki kepribadian yang sama persis dengan yang lainnya bahkan kembar sekalipun.

b.      Faktor Lingkungan (environment)

a)      Keluarga

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian seseorang, karena : 1). Keluarga adalah kelompok sosial pertama bagi seorang anak, yang akan menjadi pusat identifikasi anak, 2). Anak banyak menghabiskan waktu di lingkungan keluarga, 3). Anggota keluarga adalah “significant people” bagi pembentukan kepribadian anak, 4) keluarga juga sebagai lembaga yang “selayaknya” memenuhi kebutuhan manusiawinya.

Menurut penelitian yang dilakukan Baldwin dkk (1945) tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak, ditemukan bahwa pola asuh orang tua itu ada yang demokratis dan authoritarian. Orang tua demokratis ditandai dengan perilaku :

  • Menciptakan iklim kebebasan
  • Respek terhadap anak
  • Objektif
  • Mengambil keputusan secara rasional

Dan anak yang berkembang dalam lingkungan keluarga yang demokratis cenderung akan lebih aktif, lebih bersikap sosial, percaya diri, orisinil, lebih memiliki keinginan di bidang intelektual, dan lebih konstruktif dibandingkan anak yang berkembang di lingkungan keluarga authoritarian.

Sedangkan orang tua autoritarian, ditandai dengan perilaku sewenang-wenang dan dictator dalam mengasuh anak.

b)     Kebudayaan

Kebudayaan juga mempengaruhi perkembangan kepribadian seorang individu, secara sadar atau tidak, kebudayaan sekitar kita tinggal ternyata juga berpengaruh terhadap kepribadian kita. Pola yang terjadi hampir sama dengan keluarga hanya saja ini sudah melibatkan orang lain diluar keluarga pokok dan juga meninjau adat istiadat setempat, norma aturan budaya, kebiasaan dan sebagainya. Seperti contoh : di Manado, orang makan dengan kaki diangkat ke atas kursi adalah sopan, namun sangat tidak sopan bagi orang jawa. Seseorang harus mau dan mampu belajar membuka diri untuk mempelajari semua itu sehingga tidak merasa terbeban ketika harus tinggal dilingkungan yang berbeda dengan lingkungan tinggal sebelumnya, yang akan berpengaruh bagi kepribadiannya.

c)      Sekolah

1)      Iklim emosional kelas, adalah sikap guru terhadap siswanya, bila guru bersikap otoriter dan tidak bisa menghargai siswa makan siswa akan menjadi tegang, mudah marah, malas belajar dan mungkin saja melakukan sesuatu yang mengganggu ketertiban umum. Namun bila guru bersika ramah, terbuka dan respek terhadap setiap siswanya, maka siswa pun akan merasa nyaman di sekolah, bahagia, mau belajar, termotivasi dan mau menaati peraturan.

2)      Sikap dan perilaku guru, yang tercermin dalam hubungannya dengan siswa yang dipengaruhi oleh factor berikut : sterotype  budaya terhadap guru, sikap guru terhadap siswa, metode mengajar, penegakan disiplin dalam kelas, penyesuaian pribadi guru. Sikap dan perilaku guru secara langsung mempengaruhi konsep diri siswa, seperti pepatah jawa bahwa GURU adalah orang yang di GUgu(disegani, panutan) dan ditiRU (contoh), jangan sampai seorang guru melarang muridnya (SMA) merokok, kalau guru tersebut perokok berat bahkan merokok di sekolah, semacam itulah contoh konkretnya.

3)      Disiplin atau tata tertib sekolah, ditujukan untuk membentuk sikap dan tingkah laku siswa untuk menjadi lebih disiplin. Disiplin otoriter cenderung mengembangkan sifat pribadi yang tegang,, cemas, antagonistic, sehingga siswa memiliki kedisiplinan bukan karena kesadaran dirinya sendiri namun karena ketakutan akan hukuman. Disiplin yang permisif cenderung mengembangkan sifat pribadi yang kurang bertanggungjawab, kurang mebghargai otoritas dan egosentris. Disiplin yang demokratis cenderung mengembangkan perasaan bahagia, tenang, berharga dan sikap bekerja sama.

4)      Prestasi belajar, dapat mempengaruhi kepribadian yang memiliki harga diri, sikap percaya diri atau sebaliknya.

5)      Penerimaan teman sebaya. Siswa yang diterima secara positif oleh teman-temannya, cenderung akan menjadi pribadi yang mampu lebih menghargai diri dan percaya diri, karena merasa dirinya berharga.

sumber: http://bkpemula.wordpress.com/2012/02/01/teori-kepribadian/

 

3. Abstract Dari Jurnal International Mengenai Kepribadian Yang Berpengaruh Terhadap Konsumen

 

Jurnal 1       : INVESTIGATING THE ROLE OF PERSONALITY IN (SPORT) CONSUMER BEHAVIOR

Joseph Edward Mahan III, Doctor of Philosophy, 2008

Directed By : Associate Professor Stephen McDaniel, Department of Kinesiology

Abstract :

This dissertation is presented as three empirical investigations examining the state of personality research in consumer behavior (CB). Each study supports the notion that the use of established personality theory can serve to better inform CB research (e.g., Baumgartner, 2002). Study one builds upon previous research in evaluating and comparing the validity and reliability of the Impulsive Sensation Seeking (ImpSS) scale with the more established Sensation Seeking Scale, Form V (SSS-V) and a third measure of Optimum Stimulation Level (OSL) in both homogenous and heterogeneous samples. Findings suggest ImpSS to be a valid and reliable alternative to SSS-V. Structural Equation Modeling (SEM) results point to concurrent validity of ImpSS and SSS-V. In addition, the predictive validity of ImpSS compares favorably to both SSS-V and CSI in the context of high-risk behavioral correlates (i.e., gambling, smoking, and drinking).

Consumer use of imagery to process advertising messages has received much attention in the literature (e.g., Thompson and Hamilton 2006) yet little is known about its underlying structure. Study two adopts a hierarchical personality approach (cf. Mowen and Spears 1999) in examining the influence of certain traits on an individual’s processing style. Results suggest that variance in preferences for a visual processing style may be explained by interplay among some higher-order personality traits (i.e., Openness to Experience and fantasy-proneness) but not others (i.e., ImpSS). The findings of study two also provide a platform for the third investigation by demonstrating that a theoretically-grounded personality trait (i.e., fantasy proneness) appears to play a role in mode of processing.

The third study examines the role of personality in the imagery processing of sport marketing stimuli. Specifically, this investigation explores the effects of fantasy proneness on processing and response to print ads containing varying levels of sport-related imagery. While the research hypotheses are not supported, this study follows existing imagery-processing literature (e.g., Petrova & Cialdini, 2005) in that manipulation of imagery-eliciting ad elements (i.e., ad copy) can lead to increased processing and more favorable ad response. Results of post hoc regression analyses also imply that fantasy proneness may, in fact, play a small role in consumer processing.

Jurnal 2 : THE MODERATING EFFECT OF PERSONALITY TRAITS ON ATTITUDES TOWARD ADVERTISEMENTS: A CONTINGENCY FRAMEWORK

By            : Susan D. MYERS (University of Central Arkansas, USA), Sandipan SEN (Southeast Missouri State University, USA), Aliosha ALEXANDROV (University of Wisconsin Oshkosh, USA )

Abstract :

Because the meaning of an ad can be created in the person who receives the message, it is logical to suggest that different people may have unique preferences for different types of ads according to their characteristics, and that customers may react most positively when exposed to an advertising stream that matches their personality. The purpose of this research is to introduce the advertising literature to the use of the Big Five personality traits and to develop a contingency framework to study the moderating effects of personality traits on attitudes toward advertising messages. We also developed a set of empirically testable research propositions based on our extensive literature review. Finally, we discuss the advertising implications and future research opportunities of our propositions.

Jurnal 3 : Influence of personality on ecological consumer behaviour 

By           : Elena Fraj and Eva Martinez, have co-written a book on Ecological Consumer Behaviour

We have recently seen the appearance of many studies which attempt to discover the behaviour patterns of ecological consumers. For that reason, it seems necessary to analyse the variables that shape this consumer profile. In this study, we have focused on psychographic variables and, in particular, on personality features. Following a survey with a random sample of 573 individuals, we designed a theoretical model which included the Big-Five Factor Structure scale and the environmental attitude dimension referred to as “actual commitment” to measure personality and ecological behaviour, respectively. We carried out several principal factor analyses in order to validate these scales and afterwards, we performed a structural equation analysis and a logit analysis. Findings support our hypotheses since they reveal that personality is a multifaceted concept, which is positively related to ecological behaviour. Firms should focus on those people who are characterised by personality features such as extroversion, agreeableness and conscientiousness in order to persuade them to demand their products.:

 

Jurnal 4 : Cross-Cultural Consumer Behavior: A Review of Research Findings

By            : Marieke de Mooij Geert Hofstede

Abstract :

Most aspects of consumer behavior are culture-bound. This article reviews the cultural relationships with the self, personality, and attitude, which are the basis of consumer behavior models and branding and advertising strategies. TheHofstede model is used to explain variance. Other consumer behavior aspects reviewed are motivation and emotions, cognitive processes such as abstract versus concrete thinking, categorization and information processing, as well as consumer behavior domains

as product ownership, decision making, and adoption and diffusion of innovations. Implications for global branding and advertising are included.

Jurnal 5 : Computational Modeling of Uncertainty Avoidance in Consumer Behavior

By            : Omid Roozmand et al

Abstract :

Human purchasing behavior is affected by many influential factors. Culture at macro-level and personality at micro-level influence consumer purchasing behavior. People of different cultures tend to accept the values of their own group and consequently have different purchasing behavior. Also, people in the same culture have some differences in their purchases which can be described by their personal characteristics. Therefore, this paper studies Uncertainty Avoidance dimension of Hofstede culture model in consumer behavior as well as four personality traits. The consumer model includes three important module including perception, evaluation of the alternatives and post-purchase. Our experimental results show that people of high uncertainty avoidance tend to purchase the high quality products as well as famous brands to reduce the risk of their purchases. On the other hand, people in high uncertainty tolerant culture tend to purchase the new products. The paper discusses about the validity of the proposed model based on empirical data.

 

TUGAS TERSTRUKTUR 3: Motivasi Konsumen

20 Mar

Oleh: Christian Martha Fanni (0910220071)

Dosen: Nanang Suryadi

IKLAN 1 :

 Iklan Kartu AS versi “Aku ga punya pulsaaa”

Masalah yang timbul dalam iklan ini adalah ketika si cewek merasa cowoknya tidak perhatian karena si cowok tidak pernah sms maupun menelepon si cewek. Akibatnya si cewek marah-marah dan ingin putus. Si cowok pun berusaha membujuk si cewek agar mau mengerti dan mendengarkan alasannya.

Kemudian si cowok mengatakan alasannya.

 

Dengan sedikit mendramatisir, si cowok pun menjawab : “AKU GAK PUNYA PULSAAAA!!!!”

Iklan ini telah menyedot perhatian begitu banyak pemirsa karena konsepnya yang lucu dan menarik.

Selain itu, dengan bintang iklan SULE semakin menambah unsur komedi dalam iklan ini.

Pesan yang coba disampaikan dalam iklan ini adalah bahwa Kartu AS memberikan kemudahan dengan berbagai promo gratisnya. Dan bahkan konsumen tidak akan kehabisan pulsa seperti yang dialami oleh si tokoh cowok.

Dalam iklan ini, motivasi yang ingin ditumbuhkan adalah agar konsumen ingin membeli produk ini dengan harapan mendapatkan berbagai keuntungan sebagaimana yang telah disampaikan dalam iklan.

Teori yang Melandasi: Teori Harapan (Victor H. Vroom)

Teori ini menyatakan bahwa kekuatan yang memotivasi seseorang untuk bekerja giat dalam mengerjakan pekerjaannya tergantung dari hubungan timbal balik antara apa yang diinginkan dan dibutuhkan dari hasil pekerjaan itu. Kaitannya dengan teori ini adalah dengan membeli kartu AS, konsumen mengharapkan adanya timbal balik berupa gratis telpon, sms, dsb seperti dalam iklan.

IKLAN 2:

Iklan Teh Botol Sosro

Dengan Mottonya yang unik, yaitu “apapun makanannya, minumnya teh botol sosro”, iklan ini mencoba memberikan pesan bahwa teh botol sosro adalah minuman yang tepat untuk menemani apapun hidangan makan kita.

Motivasi yang ingin dibangkitkan adalah motivasi konsumen untuk memenuhi kebutuhan fisik/biologisnya yaitu kebutuhan akan minum.

Teori yang Melandasi: Teori Hirarki Kebutuhan Maslow

Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow tahun 1943. Teori ini menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasaan seseorang itu jamak yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa material dan nonmaterial.

Salah satunya adalah Physiological Needs (kebutuhan fisik = biologis) yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan,minum, udara, perumahan dan lain-lainnya.

IKLAN 3:
Iklan Tentang Keamanan Berkendara

Kepolisian Lalu lintas Bangalore mengkampanye iklan outdoor ini dengan menggunakan foto yang dramatis yang mengingatkan orang supaya tidak menelepon sambil mengemudi.

 

Iklan ini dibuat untuk Asosiasi Korban Lalu Lintas Belanda dan iklan ini mengatakan: “Setiap tahun 40 orang meninggal karena menggunakan telepon selular saat mengemudi” Perhatikan bagaimana ponsel terlihat seperti sebuah peti mati.

 

Kedua iklan di atas dibuat untuk menumbuhkan motivasi akan pentingnya keamanan dan keselamatan dengan menghindari menggunakan telepon saat berkendara.

Teori yang melandasi: Teori Hirarki Kebutuhan Maslow

Yaitu tentang Safety and Security needs (keamanan dan keselamatan) adalah kebutuhan akan keamanan dari ancaman, yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melakukan pekerjaan.

 

 

Tugas Terstruktur 2 : Segmentation

14 Mar

Consumer Behavior

Dikerjakan oleh : Christian Martha Fanni (0910220071)

Dosen                    : Bapak Nanang Suryadi, SE, MM

 

Tugas Terstruktur 1

06 Mar

1. Konsep Pemasaran

Falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan salah satu syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan

macam konsep marketing :

A. Production

Konsep produksi menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia di banyak tempat dan murah harganya. Manajer organisasi yang berorientasi produksi memusatkan perhatian pada usaha-usaha untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi dan distribusi yang luas.

B. Product
Konsep produk menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, kinerja dan pelengkap inovatif yang terbaik. Manajer dalam organisasi berorientasi produk memusatkan perhatian mereka pada usaha untuk menghasilkan produk yang unggul dan terus menyempurnakannya.

C. Selling
Konsep Produk menyatakan bahwa pengukuran keberhasilan perusahaan ditentukan oleh volume penjualan dan bukan laba perusahaan. Manajer dalam organisasi berorientasi penjualan, memusatkan perhatian mereka pada penjualan produk sebanyak-banyaknya.

D. Marketing
Konsep Marketing menyatakan bahwa konsumen, jika diabaikan, biasanya tidak akan membeli produk dalam jumlah yang cukup. Karena itu, organisasi harus melakukan usaha promosi yang agresif.

Konsep ini mengasumsikan bahwa konsumen malas atau enggan melakukan pembelian dan untuk itu harus didorong. Juga diasumsikan bahwa perusahaan memiliki cara promosi yang efektif untuk merangsang lebih banyak pembelian.

E. Social Marketing
Orientasi pada masyarakat dan faktor ekstern yang dapat mempengaruhi program Pemasaran antara lain : Lingkungan, Ekologi, Politik, Hukum dsb.
Faktor-faktor tsb. tidak dapat dikendalikan oleh manajemen perusahaan, tetapi diusahakan untuk pencapaian tujuan dalam jangka panjang. Konsep yang dianut disebut Konsep Pemasaran Masyarakat

2. Marketing Mix

Kotler (2000) mendefinisikan bahwa “bauran pemasaran adalah kelompok kiat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai sasaran pemasarannya dalam pasar sasaran“. Sedangkan Jerome Mc-Carthy dalam Fandy Tjiptono (2004) merumuskan bauran pemasaran menjadi 4 P (Product, Price, Promotion dan Place).

A. Product (produk) adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Produk dapat terdiri dari product variety, quality, design, feature, brand name, packaging, sizes, services, warranties, and returns.

B. Price (harga), yaitu sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk. Harga meliputi last price, discount, allowance, payment period, credit terms, and retail price.

C. Place (tempat), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran. Tempat meliputi antara lain channels, coverage, assortments, locations, inventory, and transport.

D. Promotion (promosi), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain sales promotion, advertising, sales force, public relation, and direct marketing.

3. Segmentation, Targeting, Positioning (STP)

Strategi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam perumusan strategic marketing.  Strategi ini dalam Legacy Marketing terdiri dari tiga elemen, yaitu Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP).

A. Segmentasi, disebut sebagai mapping strategy, karena di sini kita melakukan pemetaan pasar. Pemetaan ini merupakan proses yang kreatif, karena pasarnya sebenarnya sama, namun cara pandang kita terhadap pasar itulah yang membedakan kita dengan pesaing.

B. Targeting, didefinisikan sebagai cara mengalokasikan sumber daya perusahaan secara efektif, yaitu dengan memilih target market yang tepat. Targeting disebut sebagai fitting strategy karena kita menyamakan (fitting) sumber daya perusahaan dengan kebutuhan target pasar yang dipilih.

C. Positioning,  yaitu tepat memposisikan merek di dalam benak pelanggan, yaitu apa sesungguhnya yang kita tawarkan.

4. Konsep Kepuasan dan Loyalitas Konsumen

Kotler menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Dengan demikian dapat diartikan bahwa kepuasan konsumen merupakan perbedaan antara yang diharapkan konsumen (nilai harapan) dengan situasi yang diberikan perusahaan  di dalam usaha memenuhi harapan konsumen.

Soelasih (2004; h 86) mengemukakan bahwa :
1. nilai harapan = nilai persepsi konsumen puas
2. nilai harapan < nilai persepsi maka konsumen sangat puas
3. nilai harapan > nilai persepsi maka konsumen tidak puas
Nilai harapan dibentuk melalui pengalaman masa lalu, komentar atau saran dari pengguna dan informasi dari pesaing. Adapun nilai persepsi adalah kemampuan perusahaan di dalam melayani memuaskan konsumen.

Perusahaan banyak menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan salah satunya adalah memastikan kualitas produk dan jasa memenuhi harapan konsumen. Pemenuhan harapan akan menciptakan kepuasan bagi konsumen.
Konsumen yang terpuaskan akan menjadi pelanggan, mereka akan (Kotler,1996) :
1. melakukan pembelian ulang
2. mengatakan hal-hal yang baik tentang perusahaan kepada orang lain.
3. kurang memperhatikan merek ataupun iklan produk pesaing
4. membeli produk yang lain dari perusahaan yang sama

Jadi jika konsumen merasa sangat puas maka akan meningkatkan loyalitas konsumen terhadap produk.

5. Etika & Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan memiliki tanggungjawab untuk menghasilkan produk yang aman dan menjual produk tanpa menyesatkan pelanggan. Memastikan tanggungjawab sosial kepada pelanggan dengan menetapkan kode etik, memantau keluhan pelanggan dan meminta pelanggan dengan umpan balik atas produk yang baru mereka beli.

Perusahaan mempunyai tanggungjawab menyediakan lingkungan kerja yang aman, perlakuan wajar dan peluang yang setara untuk semua karyawan.

Perusahaan mempunyai tanggungjawab untuk memuaskan pemegang saham yang menyediakan dana dengan memastikan bahwa dana digunakan secara efisien dan proporsional sesuai peruntukannya.

Perusahaan mempunyai tanggungjawab untuk memelihara lingkungan yang bersih ketika menjalankan bisnisnya.

6. Pengaruh Teknologi Informasi Terhadap Konsumen

  • konsumen memiliki pengetahuan yang lebih, mengenai produk perusahaan di mana konsumen dapat memperoleh informasi tersebut dengan lebih mudah dan cepat. Dampaknya, konsumen akan lebih selektif dalam memilih produk.
  • Dengan sistem pembayaran yang lebih canggih, akan memudahkan konsumen dalam melakukan transaksi/jual beli.
  • Jangkauan pasar akan menjadi lebih luas sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar.
  • Konsumen akan lebih memilih produk yang mudah didapatkan/yang dipasarkan secara online. Perusahaan harus menanggapi hal ini dengan melakukan promosi secara online.

7. Perbedaan Penelitian Kualitatif Vs Penelitian Kuantitatif

a. sifat realitas

  • metode penelitian kuantitatif dapat diklasifikasikan, bersifat konkrit, dapat teramati dan terukur.
  • metode penelitian kualitatif bersifat ganda, holistik, dinamis, yang merupakan hasil konstruksi dan pemahaman.

b. hubungan peneliti dengan yang diteliti

  • metode penelitian kuantitatif bersifat independen, agar terbangun objektivitas dari peneliti.
  • metode penelitian kualitatif bersifat interaktif dengan sumber data yang valid, agar data yang dianalisis memperoleh makna.

c. hubungan variabel

  • metode penelitian kuantitatif bersifat kausal atau sebab akibat.
  • metode penelitian kualitatif bersifat timbal balik atau interaktif.

d. kemungkinan generalisasi

  • metode penelitian kuantitatif cenderung membuat generalisasi pada hasil akhirnya.
  • metode penelitian kualitatif cenderung transferability, yaitu hanya mungkin dalam ikatan konteks dan waktu.

e. peranan nilai

  • metode penelitian kuantitatif cenderung bebas nilai.
  • metode penelitian kualitatif cenderung terikat dengan nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data yang diperoleh.

8. Skala Pengukuran

Skala pengukuran adalah kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

Ada beberapa jenis skala pengukuran yang dapat digunakan, antara lain :

A. Skala Likert

Skala Likert adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang mengenai suatu gejala atau fenomena pendidikan. Dalam skala Likert terdapat dua bentuk pernyataan yaitu pernyataan positif yang berfungsi untuk mengukur sikap positif, dan pernyataan negative yang berfungsi untuk mengukur sikap negative objek sikap.

B. Skala Guttman

Yaitu skala yang menginginkan tipe jawaban tegas, seperti jawaban benar – salah, ya – tidak, pernah – tidak pernah, positif – negative, tinggi – rendah, baik – buruk, dan seterusnya. Pada skala Guttman, hanya ada dua interval, yaitu setuju dan tidak setuju.

C. Semantik Differensial

Skala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic differential adalah data interval.

D. Rating Scale

Data-data skala yang diperoleh melalui tiga macam skala yang dikemukakan di atas adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale, data yang diperoleh adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.

Dalam rating scale, yang paling penting adalah kemampuan menterjemahkan alternative jawaban yang dipilih responden. Misalnya responden memilih jawaban angka 3, tetapi angka 3 oleh orang tertentu belum tentu sama dengan angka 3 bagi orang lain yang juga memiliki jawaban angka 3.

E. Skala Thurstone

Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak diukur.

Dosen : Bapak Nanang Suryadi