Bagastyayoga Fiskal Anugraha | Blog Mahasiswa Manajemen Sumber Daya Lahan Universitas Brawijaya

Feb/18

14

Tugas Kuliah Analisis Landskap Terpadu Kelas C Kelompok 2

 KLIPING

MATA KULIAH ANALISIS LANDSKAP PERTANIAN

Studi Kasus “Banjir, Penghubung Batu-Pacet Tertutup Lumpur”

 

 

 Disusun Oleh:

Hidayah Ajeng Dwi P J Q      155040200111021

Bagastyayoga Fiskal A           155040200111100

Muhammad Firly R                 155040201111190

Felinda Mutiara Putri              155040201111104

Chosa Zahro Fatiha                 155040207111040

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

  1. Artikel Peristiwa Banjir Lumpur Di Kota Batu, Malang

Hujan deras yang melanda Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaj, Kota Batu, Malang pada  pukul 15.00 WIB pada hari sabtu (03/02/2018) membawa bencana bagi warga sekitar, karena hujan yang deras mengakibatkan banjir lumpur. Penyebab terjadinya banjir lumpur pada daerah tersebut yaitu meningkatnya debit air di lahan pertanian warga pasca hujan lebat yang mengguyur Desa Sumber Brantas selama 3 jam yang mengakibatkan plengsengan penahan lahan pertanian ambrol karena tidak kuat menahan intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga terjadi banjir lumpur yang mengalir dari lahan pertanian warga hingga ke jalan raya.

Derasnya aliran air yang mengalir dari saluran air menuju ke lahan pertanian yang lebih rendah mengakibatkan ambrolnya sebagian bahu jalan di kawasan tersebut karena tanah yang berada di bagian bawah  jalan ikut tergerus terbawa aliran air. Selain plengsengan warga setempat juga mengalami kerugian karena lahan pertanian mereka rusak, sehingga mereka tidak dapat melakukaan penanaman tanaman pada awal musim tanam, dan terganggunya aktifitas di sepanjang jalan yang menyebabkan banjir lumpur, disebabkan oleh hujan yang deras.

Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi di Desa Sumber Brantas, bencana banjir lumpur yang tidak hanya menggenangi jalan raya dan lahan pertanian milik warga saja, namun banjir lumpur ini juga menerjang hingga ke rumah-rumah warga.  Jalur penghubung Kota Batu-Pacet-Mojokerto tertutup lumpur hingga sepanjang 50 meter, sehingga pengendara yang hendakkanmelintasi jalur tersebut dihimbau untuk putar arah karena kondisi jalan yang sangat membahayakan.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Rochim menjelaskan , banjir bandang yang terjadi pada bulan November lalu terjadi karena hujan lebat, debit air di lahan pertanian warga meningkat. Akibatnya, plengsengan penahan lahan pertanian warga ambrol sehingga terjadi banjir lumpur. Hal ini menunjukkan bahwa hujan yang lebat menjadi faktor pemicu utama banjir lumpur di Desa Sumber Brantas yang terjadi pada bulan November dan 3 Februari lalu.

Oleh sebab itu dengan adanya peristiwa banjir lumpur akibat hujan yang lebat, maka diperlukan penanaman pengalihfungsian hutan kembali dari lahan hutan menjadi lahan tanaman hortikultura dan diperluakan tindakan penggunaan pohon khususnya di wilayah hutan agar akar tanaman tersebut mampu menahan permukaan tanah dari pukulan air hjan, sehingga tidak terjadi erosi yang kemudian jika tingkat erosi semakin besar makan longsor akan terjadi.

  1. Mengapa Malang Raya Banyak Dikelilingi Gunung Api ?

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan gunungapi. Tidak kurang dari 130 gunungapi aktif atau kurang lebih 17 persen dari jumlah gunungapi di dunia terdapat di Indonesia. Gunung-gunung tersebut tersebar di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Irian serta pulau-pulau kecil seperti Pulau Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa dan Flores, Kepulauan Banda, Maluku Utara, Sangihe bahkan ada yang terdapat di laut seperti Gunung Krakatau.

Ada tiga jalur sistem gunungapi di Indonesia, yaitu:

  1. Gunung api yang termasuk jalur Pegunungan Mediterania yang terbagi dalam dua rangkaian yaitu:
  2. Gunung-gunung yang terletak pada suatu jalur gunung api busur dalam (inner arc) yang merupakan jalur vulkano aktif yang melewati kepulauan Andaman, Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Alor, Wetar, Damar dan Laut Banda.
  3. Jalur gunung api busur luar (outer arc) yang melewati pulau-pulau Simeuleue, Nias, Batu. Mentawai, Enggano, selatan Pulau Jawa, kemudian muncul di Pulau Sawu, Roti, Timor, Sermata, Buru dan sekitarnya
  4. Gunung api yang termasuk jalur pegunungan (sirkum) Pasifik yakni Gunung Lompo batang di Sulawesi Selatan, terus ke Sulawesi Utara yakni Gunung Lokon, Soputan, dan Klabat, terus melewati Kepulauan Sangihe, Talaut, Tidore dan Ternate.
  5. Gunung api yang termasuk jalur pegunungan lingkar Australia yaitu yang melewati Pulau Halmahera dan Papua.

Persebaran gunung api ini tersebar merata di daerah pulau jawa, yang mana Kabupaten Malang juga dilewati oleh gunung api dengan jalur mediterania gunung-gunung yang terletak pada suatu jalur gunung api busur dalam (inner arc) maupun jalur gunung api busur luar (outer arc). Hal tersebut mengakibatkan Kabupaten Malang dikelilingi oleh gunung api. Aktifitas lava dari gunung api inilah yang nantinya akan membentuk anakan gunung dan bukit-bukit disekitarnya. Gunung api yang berada di daerah Malang antara lain : Gunung Arjuno Welirang, Gunung Bromo, Gunung Kawi, Gunung Anjasmoro dan Gunung Kelud. Gunung-gunung yang sudah lama tidak mengeluarkan lava sebenarnya lava didalamnya masih aktif namun tidak ada celah keatas untuk keluar, maka dari itu lava dari gunung api tersebut mencari jalan dan akhirnya memunculkan gunung baru. Seperti akibat dari aktivitas lava gunung Kawi yang tidak dapat keluar keatas maka lava tersebut mencari celah kesamping dan memunculkn gunung baru, yaitu gunung Wukir. Hal seperti inilah yang mengakibatkan kabupaten Malang dikelilingi oleh banyak gunung.

Gambar Sebaran Gunung Api di Jawa Timur 

  1. Deskripsi Kondisi Lansekap Pada Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu

Malang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dengan luas sekitar 3.534,86 km2 (353.486 hektar). Terdapat DAS sumber brantas, Wilayah DAS ini sebagian besar berada di Kota Madya Batu dan sebagian kecil berada di Kabupaten Malang (Kecamatan Pujon dan Karangploso). Bagian hulu termasuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura Suryo). Secara geografik terletak pada 115017‟0‟$E2 hingga118019‟0‟‟ Bujur Timur dan 7055‟30‟‟ hingga 7057‟30‟‟ Lintang Selatan. DAS Sumber Brantas ini berada di wilayah pegunungan vulkanik yang mengelilinginya, yaitu Gunung Arjuna-Welirang, Gunung Anjasmara dan Gunung Kawi-Butak.

  1. Kondisi Landform

Kondisi geologi dan proses pembentukan lahan menghasilkan bentuk lahan yang dipengaruhi oleh proses vulkanisme. Landform vulkanik yang terjadi akibat pergerakan lempeng yang terus menekan sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Gunung api terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua, busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera dan busur dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.

Gambar Macam Pergerakan Lempeng Bumi

Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunungapi berbeda :

  1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah samudera.
  2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
  3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
  4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

Berdasarkan reliefnya, bentuk lahan di wilayah Malang dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu jalur pelembahan sempit dan jalur aliran lahar, lalu dataran,  perbukitan, dan  pegunungan, dimana, berdasarkan posisinya pada suatu lereng dan kemiringan lerengnya, masih dapat dibagi lagi menjadi berbagai macam bentuk lahan. Jalur perlembahan tersebar di seluruh lokasi merupakan hasil proses denudasional/ pengikisan dari bentuk lahan asalnya. Pada beberapa jalur, ditumpuki oleh sedimentasi lahar tua atau debris. Kedalaman, lebar dan bentuknya tergantung lokasi jalur ini. Di bagian lereng atas pegunungan umumnya cukup lebar dan dalam dengan lemah bentuk V. Di bagian dataran, tidak terlalu lebar, tidak terlalu dalam dan berbentuk U.

Kondisi Lereng

Kemiringan lereng di wilayah Malang khususnya daerah DAS Brantas sangat bervariasi dari datar sampai sangat curam. Lereng datar dijumpai pada dataran antar gunung api di bagian tengah, termasuk dataran sempit antara Gunung Arjuna dan Anjasmara. Lereng terjal umumnya dijumpai pada tebing lereng hampir di semua lokasi. Lereng datar sampai agak datar (<8%) sekitar 19.18% luas areal berada pada dataran vulkanik antar pegunungan. Sebagian besar berada di Kecamatan Junrejo dan Batu dan sebagian kecil di Kecamatan Bumiaji. Di Kecamatan Bumiaji biasanya diusahakan untuk tanaman pangan (padi dan jagung), sedangkan di Kecamatan Batu dan Bumiaji untuk tanaman sayuran. Lereng landai (8-15%) sekitar 16.8% luas wilayah pada dataran berombak di kaki perbukitan yang dimanfaatkan untuk lahan budidaya (tanaman pangan di Kecamatan Bumiaji dan Batu), dan sayuran dan/ atau buah-buahan di Kecamatan Bumiaji. Lereng curam (25-40) sekitar 15.47 % luas wilayah pada kawasan kaki perbukitan atau tebing lembah yang ada di DAS Sumber Brantas. Penggunaan lahan berupa kebun campuran, tanaman pangan atau sayuran.

  1. Proses Geomorfologi

Seiring dengan keberagaman sumber daya alam di wilayah Kota Batu, prosesproses geomorfologi di setiap desanya juga sangat beragam. Dari keberagaman inilah tentunya banyak hal yang sangat perlu dikaji khususnya dalam ilmu kegeografian. Salah satu proses geomorfologi yang menjadi fenomena dan sering terjadi yaitu erosi. Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang sering terjadi di Batu. Proses ini disebabkan oleh berbagai faktor. Erosi merupakan peristiwa yang sering berdampak negatif bagi masyarakat. Seperti halnya erosi tanah akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan yang meliputi kurangnya ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran (Herlambang, 2011).

Faktor yang berpengaruh terhadap erosi tanah di Desa Tulungrejo Batu yangdiduga berperan adalah curah hujan, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan,Faktor curah hujan tidak bisa diubah sedangkanfaktor kemiringan lereng dapatdiatasi dengan teknik konservasi yaitu pembuatan teras dan juga teknik vegetatif. Faktor penggunaan lahan berperan dalam tindakan konservasi yang dilakukan di Tulungrejo. Sebagai contoh, untuk lahan tanaman ketang maka petani membuat kontur searah lereng dengan tujuan drainase pada lahan itu bagus sehingga tanaman kentang tidak busuk. Oleh karena itu, penggunaan lahan menentukan praktek konservasi yang ada pada lahan itu (Herlambang, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Angga, 2017. Banjir Jalan Penghubung Batu Pacet Tertutup Lumpur. Jati Times. Malang

Herlambang, Sudarno. 2011. Garis Besar Geomorfologi Daerah Lintang Rendah. Malang: UniversitasNegeri Malang.

No tags

<<

Theme Design by devolux.nh2.me