Foklor Dalam Kebudayaan Sumbawa

By: Zenith Tacia Ibanez

Kita mengenal Negara Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan suku bangsa. Tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas kebudayaan masing-masing. Hal ini merupakan perwujudan dari bentuk kreativitas penduduknya sendiri. Ada pun kebudayaan – kebudayaan tersebut sudah sejak lama dikenal dan dilakukan sehingga telah menjadi suatu tradisi yang dilakukan secara turun-temurun dikalangan masyarakatnya. Jejak sejarah dalam berbagai adat-istiadat tradisional inilah yang biasa kita sebut foklor.

Dalam istilah antropologi, foklor adalah sebagian kebudayaan suatu bangsa yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, secara tradisional dalam versi yang berbeda – beda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat. Folkor itu berkembang sesuai tingkat religi masyarakat itu sendiri. Hal ini karena kerja foklor tidak terlepas dari hasil pemikiran manusia. Folkor diciptakan, di sebarkan, dan diwariskan secara lisan (dari mulut ke mulut), oleh karena itu foklor tersebar hanya di daerah tertentu yang masyarakatnya masih berhubungan erat dan masih dalam satu ruang lingkup komunikasi. Foklor tersebar begitu saja sehingga tidak diketahui penciptanya. Foklor sendiri terdiri atas berbagai macam versi serta mengandung pesan moral.

Adapun foklor lisan yang bentuknya murni lisan, yaitu diciptakan, di sebar luaskan, dan di wariskan secara lisan. Contohnya: Bahasa rakyat ( Logat, Julukan ), Ungkapan tradisional ( pribahasa, Pepatah ), Pertanyaan tradisional ( teka – teki), Puisi rakyat ( pantun, Syair ), Cerita prosa rakyat ( mite, legenda, dongeng ) dan juga nyanyian rakyat ( Di sebut juga lagu – lagu di berbagai daerah ).

Sama halnya dengan daerah-daerah lain di penjuru Indonesia. Daerah Sumbawa juga memiliki kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sumbawa. Masyarakat Sumbawa biasa di sebut dengan “Tau Samawa”. Para tau Samawa pada zaman dahulu memiliki berbagai macam adat – istiadat tradisional yang bernilai seni sastra. Salah satunya yakni Lawas, Tuter, Panan, dan Ama. Semua ini merupakan bagian dari foklor atau hasil kreativitas para tau Samawa pada zaman dahulu yang disampaikan secara turun-temurun hingga ke generasinya saat ini.

Macam – macam foklor ini di buat sesuai dengan fungsi atau maksud dan cara penyampainya masing – masing. Misalnya lawas, Lawas adalah karya seni yang sangat dikenal oleh masyarakat Tana Samawa. Lawas merupakan sarana pengungkapan isi hati untuk di sampaikan kepada orang lain baik secara lisan maupun tertulis. Namun Lawas lebih sering di ungkapan secara lisan, karena dengan mengungkapannya secara lisan, seseorang tersebut akan mendapatkan kepuasan tersendiri.

Adapun Tuter, Tuter artinya bercerita. Tuter berarti menceritakan dongeng atau cerita mitos yang mempunyai latar belakang sejarah kurang jelas. Tuter disebut juga sebagai cerita rakyat yang umumnya disampaikan secara lisan oleh seseorang kepada orang lain. Tuter sering juga di sampaikan saat seorang ibu hendak menidurkan anaknya. Adapun pada saat istirahat lainnya. Fungsinya untuk menghibur juga sebagai sarana mendidik anak dengan cara menceritakan kejadian dengan peran tokoh yang dianggap baik.

Ada pula yang di sebut dengan Ama. Ama merupakan semacam pantun, maupun pribahasa ciri khas daerah Sumbawa. Ama ini dibuat oleh para tau samawa, berbentuk kata kiasan dalam bahasa sumbawa yang memiliki makna – makna tertentu, dapat berisi petuah, nasehat, dan pelajaran bagi pendengarnya. Fungsinya untuk mengajarkan moral kepada generasi – generasi muda. Proses edukasi seperti ini juga mengandung nilai seni, karena Ama merupakan hasil kreativitas atau buah pikir manusia yang di ungkapkan dengan kata – kata yang di indahkan.

Yang lainnya adalah panan, dalam makalah ini, kita akan membahas sedikit tentang panan. Panan merupakan sarana hiburan bagi masyarakat Sumbawa pada zaman dahulu. Panan atau basual artinya teka-teki. Panan adalah salah satu bentuk sastra lisan Sumbawa yang biasa dilakukan masryarakat Sumbawa pada zaman dahulu guna untuk mengisi waktu senggang, waktu beristirahat setelah bekerja dan ada pula yang di ucapakan sebagai salah satu bentuk pemikiran untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam pembicaraan biasa antara si pembicara dan si pendengar yang menjawabnya.

Panan yakni berupa pertanyaan yang mengandung unsur teka- teki , panan di sampaikan kepada orang lain untuk di cari jawabanya. Ada pun bentuk teka – tekinya berupa singkatan kata yang tidak memiliki makna yang mengharuskan si penjawab berfikir untuk mencari bentuk panjang dari sebuah singkatan itu menjadi sebuah kalimat bermakna, jadi, si penjawablah yang menentukan jawabannya sendiri.

Di zaman modern ini memang sulit untuk mengembangakan karya seni khas daerah seperti contoh-contoh diatas. Namun ada baiknya jika kita tahu sedikit banyak mengenai apa yang telah di wariskan kepada generasi kita dari nenek moyang pada zaman dahulu, kita harusnya bangga sebagai bangsa Indonesia karena telah diwariskan kekayaan alam dan budaya yang melimpah ruah, dan kebudayaan bahasa Sumbawa masih sebagian kacilnya. Untuk menghargai dan menghormati apa yang telah dilakukan nenek moyang kita semasa lampau, kita sebaiknya berusaha dan mau melestarikan kebudayaan tradisional di Indonesia yang bernilai seni tinggi seperti ini.Selalu cinta dengan indonesia ya! =)

6 thoughts on “Foklor Dalam Kebudayaan Sumbawa

  1. jika pembendaharaan anda luas saya tertarik mengetahui tentang sastra sumbawa lebih dalam terutama sastra jontalnya. mampir mampir juga ke blog kami, salam blogger

  2. Upz Sory guys, Artikel ini cuma meliputi umumx aja,untuk lebih detail akan dibuat artikel yang lebih spesifik, seperti artikel yg berjudul panan….untuk lainnya, sedang dlm proses…sabar yaa heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>