Beriman tetapi Pacaran?

Beriman Tetapi Pacaran?

Assalamu’alaikum wr wb. Om swastyastu dan salam sejahtera. Tak lupa menyambut hari imlek, maka saya haturkan selamat merayakan hari imlek bagi etnis China yang merayakannya.

Berbicara mengenai iman. Tentunya sahabat telah mengetahui bahwa orang yang percaya pada ke enam unsur keimanan adalah mereka yang disebut beriman. Sedangkan enam unsur itu sering disebut rukun iman. Diantaranya adalah percaya penuh kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, hari akhir dan kepada qodo’ dan qodar.

Sedangkan pengertian beriman sendiri adalah yang meyakini dalam hati, kemudian diucapkan melalui lisannya dan diamalkan melalui perbuatannya.

Pernah saya mempelajari iman dan dibimbing oleh guru saya ketika belajar di SMPN 7 Kota Madiun. Waktu itu guru saya yang bernama Bapak Zainuddin (panggilan Pak Zain) mengutarakan sebuah rangkaian tiga kata yang simple namun berkaitan erat : iman, islam dan ihsan.

Awalnya saya sempat bingung tentang hal itu. Namun saya tulis saja rangkaian tiga kata tersebut di buku. Akhirnya tulisan itu masih dapat saya kenang hingga sekarang.

Orang yang beriman, tentu dia meyakini penuh apa yang telah ditetapkan rukun iman. Kemudian orang beriman tentu akan melakukan syariat-syariat islam. Kemudian yang terakhir adalah timbulnya ihsan, yaitu merasa bahwa Allah selalu melihat (kita), sehingga enggan untuk berbuat yang macam-macam.

Lalu bagaimana orang yang beriman namun pacaran?

Dari pengertian iman saja sudah jelas bahwa beriman tidak hanya sekedar diucapkan dalam lisan, melainkan juga diwujudkan dalam perbuatan. Orang beriman tentu dia akan mengamalkan syariat islam. Sedang pacaran adalah hal yang dilarang, maka itu harus ditinggalkan oleh orang yang beriman.

Dari asumsi yang ada, disini rekan-rekan facebook telah memberikan kontribusinya:

1. Ririn Styarini: boleh pacaran asal sehat
Benar. Boleh pacaran asal sehat. Yaitu adalah pacaran dalam konteks hanya sekedar mengenal “kelebihan dan kekurangan” saja, dalam garis besar adalah ta’arufan. Lebih daripada itu sampai menimbulkan syahwat, hukumnya dosa.

2. Denita P N Sari: menurut ku gak boleh, namanya berpacaran kan bisa dikatakan zina, memang tidak zina secara fisik tapi zina mata,hati dan fikiran.
Benar. Saya sepakat akan hal itu. Zina selain dimaksudkan hal berhubungan seperti suami istri yang belum syah, tiga hal itu juga termasuk dalam kategori zina. Meskipun tidak ada hukuman cambuk atau dirajam seperti zina fisik.

3. Novian Wardhana: nggak papa, hak individu.
Benar. Pacaran adalah hak individu. Namun nggak papanya itu yang keliru. Hukuman Tuhan itu pasti.

4. Muhammad Munawwir: Nanti aja pacarannya habis nikah, biar barokah.
Super sekali.. Like this, bang..

5. Robi Andika Amsar: Tidak beda jauh dengan, ” Beriman tapi mencuri hak orang lain.” sama-sama melanggar larangan Nya.
Setuju..

So, sahabat. Sebagai orang yang beriman dan tahu syariat islam, sebisa mungkin hindarilah pacaran. Pacaran adalah hal zina, meski tiada hukuman cambuk dan rajam di dunia. Jikalau engkau ta’arufan, setelah engkau ketahui baik-buruknya kemudian timbul rasa suka, segeralah menikah. Karena itu lebih baik bagimu juga kehormatan calon pasanganmu.

Salam-