Mengatasi Galau Cinta dengan Menulis

Galau dapat diartikan perasaan yang sedang terombang-ambing, kacau balau sehingga menimbulkan rasa gelisah dan was-was. Dewasa ini kata galau makin tren di kalangan kaula muda. Terutama galau akibat percintaan.

Saya sendiri sering galau waktu SMA, yaitu masa putus cinta dengan seseorang yang kini sedang belajar cuek kepada orang lain, namun tak perlu disebut namanya.

Status facebook isinya lagu-lagu patah semangat semua, hancur-hancur hatiku dan kawan-kawan hilir mudik selalu saya posting setiap hari.

Rasanya bila usai menulis perasaan remuk, pikiran menjadi lebih tenang. Dan benar saja, perasaan menjadi tenang.

Sayang, rekan-rekan saya kemudian silih berganti komentar tentang status saya, “Pemuda kok statusnya galau terus.” Saya pun malu.

Dari kalimat itu pun saya bangkit, dan itulah dia guru maha dahsyat saya yang menyadarkan untuk bangkit dan tidak galau akibat putus cinta.

Masa demi masa saya lewati, hingga akhirnya pulih menjadi diri saya seperti ini. Benar bahwa menulis itu dapat mengurangi rasa galau kita, buktikan saja bila tak percaya!

Kini, hari-hari saya energik meskipun banyak sindiran karena masih menerima bantuan dana dari orang tua untuk kuliah.

Sebenarnya sebagai motivator, saya harus mampu berbisnis untuk menghidupi diri saya sendiri.

Doakan saja, semoga saya seperti kakak dan paman saya. Selama pendidikan ngatong dari nafkah orang tua, namun ketika dewasa, dapat membangun rumah sendiri dan hilir mudik ganti dapat membantu perekonomian keluarga sebagai asas timbal balik. Aamiin.