Andaikan Umurku Tak Sepanjang yang Aku Kira

Tulisan ini saya buat dengan merenung, penuh curahan batin dan berharap dapat memberikan manfaat kepada sahabat, terutama untuk mengenang kematian.

Saya hampir dua kali masuk ke dalam fase dimana nyawa hampir melayang. Satu ketika saat masih balita, yaitu menderita penyakit aneh, hingga petugas medis tidak sanggup berbuat banyak untuk menolong, namun syukurlah Tuhan memberikan kesembuhan pada saya. Kemudian yang kedua adalah saat anak-anak. Ketika itu ayah mempunyai bisnis budidaya ikan lele. Sebelum diceburi ikan, airnya biasanya buat saya renang.

Waktu itu ada banyak rekan-rekan yang atraksi di kolam ikan ayah, tak terkecuali saya. Saya pun ikut memberanikan diri masuk dalam kolam pada bagian yang paling dalam. blung, hingga lama tak keluar. Aku tak sadarkan diri ketika lama berada di kolam, nyawa seakan mau melayang, tak terasa, dan begitu bebasnya tubuh ini. Tidak merasakan sakit karena kesusahan napas. Aku hanya berpikir, aku akan mati dalam air ini. Namun begitu lama tak muncul ke permukaan, rekanku langsung menarik tubuhku dari kolam, dan selamatlah. Saya masih dapat melanjutkan kehidupan.

Kini, saya pun mulai khawatir. Ketika sudah dewasa, semakin banyak dosa dan minim menjalankan perintah Tuhan, serta selalu menyusahkan orang tua. Andaikan sejak kecil sudah meninggal, tentu orang tua tidak susah payah mencari dan menghidupi saya.

Usiaku pun semakin bertambah tua. Bertubi-tubi masalah saya hadapi. dan berbagai mukjizat telah saya lalui. Pernah saya jatuh dari ketinggian 10 meter, kemudian kaki saya terlindas kendaraan bermuatan kurang lebih 2 ton. Tetapi tidak terjadi apa-apa pada kaki saya. Aneh memang, namun ini nyata pernah saya alami. Sungguh kuasa Tuhan begitu nyata.

Saya selalu berusaha untuk mengenang kematian. Karena itu adalah guru terbaikku. Bukan professor, bukan pula doktor. Guru terbaikku adalah “mati”.

Andaikan aku mati di usiaku yang telah baligh, segala amalku akan berbicara ulah, perkataan, dan keseharianku, semua akan dimintai pertanggung jawaban. Berapa banyak orang yang akan berbicara dan menyaksikan aku dan menangisi aku. Aku khawatir ketika mereka (orang-orang yang aku kenal) berbicara “mas itu pantas di neraka, dan syukur dia mati”. Aku takut itu yang memberatkan langkahku untuk ke tempatnya Tuhan dan malah justru berteman dengan fir’aun di neraka.

Ya Tuhan, izinkan aku selalu untuk berbuat baik, dan tuntun aku ke jalan yang benar. Sehingga ketika aku meninggal, saudariku dan rekan-rekanku mengucap,”wallahi, saya yakin saudara Zainudin Fauzi tergolong hamba yang Engkau rahmati”

Aamiin..

semoga Tuhan selalu merahmati rekan-rekan. Salam, Fauzi-