Benarkah Tuhan datang di 1/3 Malam Terakhir?

Catatan Pauji Bila berbicara Tuhan. Tentu kita akan membayangkan betapa hebatnya kuasa Tuhan, yang menciptakan dunia ini serta langit ini dengan perhitungan serta lapisan-lapisan yang tidak tampak namun nyata. Seperti halnya atmosfer, anda tidak akan mampu melihat atmosfer ini seperti apa. Kecuali gejala-gejala yang timbul di antara atmosfer.

Alam semesta ini sungguh luas dan sebenarnya selain matahari, ada bintang lain yang besar di luar langit ke satu. Kurang lebih ilmuwan menyatakan bahwa kira-kira bila kita kesana (langit ke dua) dari bumi membutuhkan waktu 4,3 tahun cahaya. 1 massa cahaya adalah 3 * 10^8 meter/sekon. Anda bisa menghitung sendiri berapa lama waktu yang anda capai misalkan anda berpindah ke tata surya yang lain. 4,3 kali 3 kali 100.000.000 kali 365 kali 24 jam kali 60 menit kali 60 sekon, ya itulah jarak yang anda butuhkan untuk pindah ke langit ke dua. 

Nabi Muhammad melewati langit ke satu hingga ke tujuh tempat Tuhan bersemayam. Sungguh mustahil memang jika kita tidak beriman, sangat tidak mungkin ketika manusia dapat berpindah di tiga lokasi sekaligus hanya dalam satu malam. Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, Arsy kemudian kembali ke Masjidil Haram. Pasti kecepatan burroqnya lebih dari kecepatan cahaya, bahkan mungkin berlipat-lipat.

Nah, ingin berbagi pengetahuan pada sahabat. Beberapa waktu silam saya mempelajari ilmu tassawuf. Pemateri mengutarakan bahwa semesta ini seperti gulungan kain, dan di dalam gulungan-gulungan tersebut terdapat dimensi tiga. Artinya dalam satu wilayah, itu termasuk dalam wilayah lain, namun wilayah yang lain tersebut tidak termasuk dalam wilayah yang dimaksud. Seperti dalam semesta ini. Langit satu adalah di dalam langit ke dua, langit kedua adalah di dalam langit ke tiga, dan seterusnya hingga langit ke enam bagian di dalam ke tujuh. Artinya masih dalam satu padu, langit ke satu adalah di dalam langit ke tujuh, namun tetapi langit ke satu tidak masuk dalam lingkup langit ke tujuh. Maka dari pada ini, Tuhan yang bersemayam di langit ke tujuh itu menaungi langit ke satu.

Sebagian ulama bersepakat bahwa kita tidak boleh serta merta menjustifikasi bahwa Tuhan itu turun di 1/3 malam terakhir, sehingga kita berasumsi bahwa Tuhan tidak tinggal di singgasananya dan terus menetap di langit pertama sehingga langit ke tujuh dikosongkan Tuhan.

Ada juga yang berpendapat bahwa Tuhan itu menurunkan rahmatnya di 1/3 malam terakhir. Sedang haluan aswaja (ahlus sunnah wal jama’ah) mengungkapkan bahwa kita tidak boleh terlalu memikirkan kuasa Tuhan. Karena sebagai makhluk, tak akan sanggup untuk memikirkan penciptanya. Ya ibarat anda Tuhan, kemudian anda buat makhluk berupa robot. Robot itu anda desain sedemikian rupa, otak robotnya tidak anda lengkapi dengan skill yang mumpuni, maka tak akan mungkin robot itu akan bekerja lebih daripada yang anda berikan pada robot itu.

Namun keyakinan saya, tetap Tuhan itu turun di langit pertama dan selalu menetap di 1/3 malam terakhir, karena langit pertama adalah di dalam langit ke tujuh, sedang langit pertama tidak termasuk dalam lingkup langit ke tujuh.

Hanya Tuhan yang tahu, benar tidaknya fenomena ini. Mari mengkaji firman Tuhan, saling mengingatkan pada kebenaran, kesabaran dan mengingatkan akan kesalahan. 🙂