Klasifikasi Pembentukan Landform

March 22nd, 2018

Dalam geomorfologi dikenal istilah bentuklahan (landform) dan bentanglahan (landscape). Keduanya memang mirip dan memiliki keterkaitan tapi memiliki arti yang berbeda. Kali ini saya akan membahas mengenai bentuklahan (landform).

Bentuklahan asal structural

Bentuk lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural. Bentuklahan asal struktural adalah sebagai berikut.

 

 

 

 

 

Bentuklahan asal denudasional

Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa fragmen, kemudian oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang lebih landai menuju lereng yang kemudian terendapkan. Pada bentuk lahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah erosi atau tingkat. Derajat erosi ditentukan oleh : jenis batuannya, vegetasi, dan relief.

 

 

 

 

Bentuk lahan merupakan suatu kenampakan medan/fisik yang terbentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual yang unik dan berbeda satu sama lain. Verstappen (1983) mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya (proses terjadinya) menjadi 10 (sepuluh) macam bentuklahan, yaitu:

1. Bentuklahan asal proses volkanik (V): bentuk lahan yang berasal dari aktivitas vulkanisme. Selain itu, berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma yang bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan gunungapi atau vulkanik. contoh: kaldera, kawah, laccolith.

 

 

 

 

 

 

2. Bentuklahan asal proses struktural (S): bentuk lahan yang berasal dari proses geologi. contoh: bukit, patahan, lipatan sinkilin dan antiklin.

Lipatan Pegunungan

3. Bentuklahan asal fluvial: bentuk lahan akibat pengerjaan sungai. contoh: meander, gosong pasir, dataran banjir (flood plain), point bar. Bentuklahan asal proses fluvial terbentuk akibat aktivitas aliran sungai yang berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi) membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan dataran aluvial (Fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh material sedimen berbutir halus.

Meander

4. Bentuklahan asal solusional: bentuk lahan akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut. Bentuk lahan karst dihasilkan oleh proses pelarutan pada batuan yang mudah larut. Karst adalah suatu kawasan yang mempunyai karekteristik relief dan drainase yang khas, yang disebabkan keterlarutan batuannya yang tinggi.   contoh: bentukan di daerah karst yaitu stalagnit, stalaktit, dolina.

5. Bentuklahan asal denudasional: bentuk lahan akibat proses erosi dan degradasi. contoh: bukit sisa, lembah sungai, lahan kritis.

Bukit sisa (residual hill)

6. Bentuklahan asal aeolin: bentuk lahan akibat proses erosi angin. Gerakan udara atau angin dapat membentuk medan yang khas dan berbeda dari bentukan proses lainnya. Endapan angin terbentuk oleh pengikisan, pengangkatan, dan pengendapan material lepas oleh angin. Endapan angin secara umum dibedakan menjadi gumuk pasir dan endapan debu. contoh: gumuk pasir (sandune) dan barchan.

Gumuk pasir

7. Bentuklahan asal marine: bentuk lahan akibat aktivitas air laut. contoh: tombolo, clift, arch, stack. Selain itu terdapat kombinasi antara bentuklahan marine dengan fluvial (fluvio-marine) karena sungai bermuara ke laut, contoh: delta, estuari. Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan kilometer ke arah darat, tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya.

8. Bentuklahan asal glasial: bentuk lahan akibat pengerjaan es. Bentukan ini tidak berkembang di Indonesia yang beriklim tropis ini, kecuali sedikit di puncak Gunung Jaya Wijaya, Papua. Bentuk lahan asal glasial dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu bentang alam. Semua satuan bentuklahan tersebut memiliki karakter yang khas dan mencerminkan ciri tertentu. contoh: lembah menggantung.

Glacial-Ice-Lake-1-9WEPHMJQGR-1600x1200

9. Bentuklahan asal organik: bentuk lahan akibat pengaruh aktivitas organisme. proses atau akibat yang berkaitan dengan dengan aktivitas manusia. Sehingga bentuk lahan antropogenik dapat disebut sebagai bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Aktivitas tersebut dapat berupa aktivitas yang telah disengaja dan direncanakan untuk membuat bentuk lahan yang baru dari bentuk lahan yang telah ada maupun aktivitas oleh manusia yang secara tidak sengaja telah merubah bentuk lahan yang telah ada  contoh: mangrove, terumbu karang.

Terumbukarang

10. Bentuklahan asal antropogenik: bentuk lahan akibat aktivitas manusia. contoh: kota, pedesaan, waduk, taman.

Kota

Referensi :  Wiradisastra, U. S., B. Tjahjono, K. Gandasasmita, B. Barus, dan Khursatul Munibah.1999. Geomorfologi dan Analisis Lansekap. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Gaya Eksogen

March 6th, 2018

Gaya Eksogen (Exogene Forces) adalah gaya yang bekerja pada kulit bumi dan berasal dari luar bumi sebagai akibat adanya aktivitas atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Gaya ini mengakibatkan perusakan/perombakan muka bumi melalui proses pelapukan, erosi, tanah longsor dan sebagainya.

Erosi (Erosion)
Proses pengikisan permukaan bumi oleh tenaga luar seperti air, es, dan angin yang membentuk arus/gelombang kuat sehingga mampu menggerus, mengangkat dan memindahkan sebagian tanah/batuan.
Abrasi (Abration)
Proses pengikisan permukaan batuan oleh angin yang mengandung dan mengangkut hancuran bahan seperti pasir dengan tenaga yang sangat kuat.
Exarasi (Exaration)
Proses pengikisan permukaan batuan oleh es/gletser yang mengangkut hancuran batuan dengan tenaga dan kecepatan yang sangat besar. Proses ini disebut juga pembajakan glasial.
Denudasi (Denudation)
Proses perataan pegunungan karena pengaruh pelapukan, erosi dan transportasi (pengangkutan).

4 Jenis Tenaga Eksogen Pengubah Muka Bumi
Sponsors Link
1. Pelapukan
Pelapukan adalah sebuah peristiwa hancurnya massa batuan, baik itu secara kimiawi, fisika ataupun biologi. Pada umumnya proses pelapukan ini membutuhkan waktu yang sangat lama, dimana proses pelapukan ini bergantung pada faktor berikut :
• Cuaca atau Iklim
• Keadaan Topografi
• Vegetasi atau Organisme
• Struktur Batuan
Selain faktor penentu pelapukan, berikut adalah jenis-jenis pelapukan secara umum :
• Pelapukan Fisik – Pelapukan ini terjadi disebabkan oleh tenaga dari suhu, air yang mengalir, gletser, angin dan air hujan. Pada pelapukan fisik terjadi secara alami tanpa ada campur tangan dari manusia.
• Pelapukan Kimiawi – Pelapukan kimiawi terjadi karena proses kimiawi yang menyebabkan batuan menjadi lapuk. Contohnya adalah batuan kapur yang terkena oleh air, batuan kapur yang bercampur dengan air hujan. ( baca : Tanah Kapur )
• Pelapukan Biologis – Pelapukan biologis ini terjadi karena ulah dari makhluk hidup. Contohnya adalah akar tumbuhan yang dapat menembus batuan sehingga menyebabkan batuan tersebut retak dan lapuk.
2. Pengikisan
Pengikisan atau erosi adalah peristiwa pengikisan yang disebabkan oleh media yang bergerak seperti angin, gelombang air laut, air ataupun gletser. Berdasarkan jenis perombakannya, erosi terbagi menjadi 5, yaitu :
• Erosi oleh Air
Erosi air adalah erosi yang terjadi disebabkan oleh air atau air hujan. Dimana tingkat curah hujan yang tinggi akan mempengaruhi bentuk daerah yang dilewatinya. Erosi air ini dapat mengakibatkan tebing pada sungai menjadi semakin dalam, lembah menjadi semakin curam dan terjadi pembentukan gua. ( baca : Manfaat Curah Hujan yang Tinggi bagi Kehidupan Manusia )
Tahap terjadinya erosi air dibagi menjadi 4 tingkatan yaitu :
a) Erosi percik – adalah proses pengikisan yang disebabkan oleh percikan air hujan yang jatuh ke bumi
b) Erosi lembar – adalah proses erosi tanah bagian atas sehingga tingkat kesuburannya menjadi berkurang
c) Erosi alur – adalah proses pengikisan lanjutan dari erosi lembar, dimana ciri dari erosi alur adalah terdapat alur pada tanah sebagai tempat mengalirnya air
d) Erosi parit – adalah proses terbentuknya parit-parit atau lembah yang terjadi karena pengikisan oleh aliran air

3. Pengendapan
Pengendapan atau sedimentasi adalah peristiwa mengendapnya material batuan yang dibawa oleh tenaga angin atau air. Berdasarkan penyebabnya sedimentasi dibedakan menjadi :
• Sedimentasi Akuatis – Adalah sedimentasi yang disebabkan oleh air dimana proses pengendapannya dibawa oleh aliran air di tempat yang dilaluinya. Contoh dari hasil sedimentasi akuatis salah satunya adalah delta.
• Sedimentasi Marine – Adalah sedimentasi yang disebabkan oleh air laut dimana proses pengendapannya dibawa oleh gelombang air laut. Contoh dari hasil sedimentasi marine salah satunya adalah tumpukan karang di pantai.
• Sedimentasi Aeolis – Adalah sedimentasi yang disebabkan oleh angin dimana proses pengendapannya dibawa oleh hembusan angin. Contoh hasil dari sedimentasi aeolis salah satunya adalah gumuk pasir.
Berdasarkan tempat pengendapannya, sedimentasi dibedakan menjadi 5, yaitu :
• Sedimen fluvial – adalah sedimen yang diendapkan di dasar sungai sehingga hal ini akan mengakibatkan terjadinya pendangkalan di sungai.
• Sedimen marine – adalah sedimen yang diendapkan di daerah laut.
• Sedimen alluvial – adalah sedimen yang diendapkan di daerah darat ataupun di dataran banjir.
• Sedimen limnis – adalah sedimen yang diendapkan di daerah rawa-rawa.
• Sedimen lakustris – adalah sedimen yang diendapkan di dasar danau.
4. Pergerakan Batu atau Tanah
Pergerakan tanah atau batu adalah sebuah proses pemindahan dan penghancuran massa batuan atau tanah dalam skala yang besar ke tempat yang lebih rendah. Pada umumnya hal ini terjadi karena pengaruh dari gaya gravitasi bumi. Berdasarkan prosesnya, pergerakan tanah atau batu ini terbagi menjadi 4 jenis pergerakan material. Berikut penjelasannya :
A. Pergerakan Lambat
Rayapan adalah salah satu bentuk dari pergerakan lambat. Rayapan adalah gerakan tanah dan batuan yang menuruni lereng secara perlahan, biasanya sangat sulit untuk diamati.

B. Pergerakan Cepat
Pergerakan cepat ini terbagi menjadi:
• Aliran lumpur adalah gerakan puing batuan yang banyak mengandung air yang menuruni saluran tertentu secara pelan hingga cepat
• Aliran tanah adalah gerakan berlumpur yang banyak mengandung air yang menuruni lereng bukit dengan tingkat kemiringan yang kecil
• Gugur puing adalah puing batuan yang turun ke bawah dalam saluran yang sempit
c. Amblesan
Amblesan adalah suatu pergeseran tempat ke arah bawah tanpa adanya permukaan bebas sehingga tidak menimbulkan pergeseran secara horizontal. Pada umumnya hal ini terjadi karena adanya perpindahan material secara perlahan di daerah massa yang ambles.

Referensi : Hartono, 2007. Geografi Jelajahi Bumi dan Alam Semesta. Jakarta. Depdiknas

Vulkanisme

February 28th, 2018

Vulkanisme merupakan peristiwa yang berhubungan dengan aktivitas gunung api, yakni pergerakan magma dari dalam litosfer (baca: litosfer dan pemanfaatannya) yang menyusup ke dalam lapisan yang lebih atas atau sampai ke permukaan Bumi.
Gunung berapi merupakan bukit atau gunung yang mempunyai lubang kepundan sebagai tempat keluarnya magma atau gas ke permukaan bumi.
Bentuk dari suatu gunung api itu bermacam-macam, yaitu :

1. Bentuk kerucut
Tersusun dari batuan hasil letusan gunungapi yang menumpuk dan sumber letusannya biasanya tidak berpindah (tetap)

2. Bentuk kubah
Tersusun dari batuan aliaran lava yang menumpuk karena masih agak cair bentuknya menyerupai kubah

3. Bentuk campuran (stratovulkano)
Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilakn susunan yang berlapis-lapis dari beberapa letusan ada yang sudah beberapa kali

4. Bentuk perisai
Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masihh cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi

5. Bentuk maar
Bentuk maar adalah bentuk dari kawah yang dihasilkan dari suatu letusan yang kuat akibat letusan freatik, yaitu letusan yang disebabkan oleh uap dan gas sehingga terjadi letusan dari uap dan gas tadi yang cukup kuat membentuk suatu lubang kawah

6. Bentuk kaldera
Adalah bentuk kawah yang sangat besar terjadi akibat letusan yang sangat besar, biasanya dengan volume hasil letusan sangat besar sehingga membentuk suatu lubang raksasa dengan diameter diatas 2 km bahkan dapat mencapai puluhan kilometer

Macam letusan gunung api

1. Tipe Hawaiian, yaitu erupsi yang umumnya berupa semburan lava pijar seperti air mancur dan pada saat bersamaan diikuti leleran lava pada celah-celah gunung berapi atau kepundan. Semburan ini bisa berlangsung selama berjam-berjam hingga berhari-hari. Karena sangat cair, semburan lava ini bisa mengalir berkilometer-kilometer jauhnya dari puncak gunung.
Erupsi tipe Hawaiian merujuk pada Gunung Berapi Kilauea yang terkenal akan semburan lavanya yang spektakuler. Dua contoh erupsi jenis ini adalah letusan kawah Kilauea Iki di puncak Gunung Kilauea (1959) dan letusan Maula Ulu pada 1969-1974.

2. Tipe Merapi. Letupan tipe ini diambil dari letusan gunung Merapi. Tipe letusan ini biasanya terjadi pada gunung api tipe andesit yang berbentuk kerucut. Fragmen-fragmen guguran lava terbentuk ketika kubah lava tidak stabil pada gunung api.

3. Tipe Strombolian hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua.
Letusan tipe ini tidak terlalu kuat, tetapi bersifat terus menerus, berlangsung dalam jangka waktu yang lama, serta tak dapat diperkirakan kapan berakhir.

4. Tipe Vulkanian adalah erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltik sampai dasit, umumnya melontarkan bongkahan di sekitar kawah. Material yang dilontarkan tidak hanya berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik.

5. Letusan Tipe Pelean Letusan tipe ini dinamai sesuai dengan letusan Gunung Pelee di Pulau Martinique, kawasan Karibia, tahun 1902. Jenis erupsi ini menyerupai letusan Vulkanian, hanya saja terdapat campuran gabungan lava dan tingkat gas yang tinggi. Saat erupsi, lava tersebut cenderung encer dan mengalir dengan kecepatan tinggi sehingga sangat membahayakan.

6. Tipe Plinian, merupakan letusan paling eksplosif. Material yang dilontarkan bisa berupa gas dan abu setingi 50 kilometer dengan kecepatan beberapa ratus meter per detik. Biasanya erupsi tipe Plinian berwujud seperti jamur. Letusan jenis ini dinamai sesuai dengan sejarawan Romawi, Pliny, yang mencatat sejarah meletusnya Gunung Vesuvius pada tahun 79 Sesudah Masehi.

Referensi :

Kusumadinata, K., 1979, Data Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi, Bandung

LEMPENG TEKTONIK

February 21st, 2018

LEMPENG TEKTONIK
Teori tektonik lempeng pada dasarnya adalah suatu teori yang menjelaskan mengenai sifat-sifat bumi yang mobil/dinamis yang disebabkan oleh gaya yang berasal dari dalam bumi. Konsepdari tektonik lempeng adalah bahwasanya lapisan kerak Bumi (litosfir) terpecah-pecah dalam 13 lempeng besar dan beberapa lempeng kecil. Adapun lempeng-lempeng tersebut terlihat pada gambar sebagai berikut:
1). Lempeng Pasifik (Pasific plate)
2). Lempeng Eurasia (Eurasian plate)
3). Lempeng India-Australia (Indian-Australian plate)
4). Lempeng Afrika (African plate)
5). Lempeng Amerika Utara (North American plate)
6). Lempeng Amerika Selatan (South American plate
7). Lempeng Antartika (Antartic plate
Dan beberapa lempeng kecil seperti :
1). Lempeng Nasca (Nasca plate
2). Lempeng Arab(Arabian plate
3). Lempeng Karibia (Caribian plate
4). Lempeng Philippines (Phillippines plate),
5). Lempeng Scotia (Scotia plate),
6). Lempeng Cocos (Cocos plat)

Gambar. Lempeng-lempeng utama litosfir

Batas-batas dari ke 13 lempeng tersebut diatas dapat dibedakan berdasarkan interaksi antaralempengnya sebagai berikut

(1) Batas Konvergen:

Batas konvergen adalah batas antar lempeng yang saling bertumbukan.Batas lempeng konvergen dapat berupa batas Subduksi Batas subduksi adalah batas lempeng yang berupa tumbukan lempeng dimana salah satu lempeng menyusup ke dalam perut bumi dan lempeng lainnya terangkatke permukaan. Contoh batas lempeng konvergen dengan tipe subduksi adalah Kepulauan Indonesia sebagai bagian dari lempeng benua Asia Tenggara dengan lempeng samudra Hindia Australia di sebelah selatan Sumatra-Jawa-NTB dan NTT.

(2) Batas Divergen:

Batas divergen adalah batas antar lempeng yang saling menjauh satu danlainnya. Pemisahan ini disebabkan karena adanya gaya tarik (tensional force) yangmengakibatkan naiknya magma kepermukaan dan membentuk material baru yang kemudian berdampak pada lempeng yang saling menjauh. Contoh yang paling terkenal dari batas lempeng jenis divergen adalah Punggung Tengah Samudra yang berada di dasar samudra Atlantik, disamping itu contoh lainnya adalah riftingyang terjadi antara benua Afrika dengan Jazirah Arab yang membentuk laut merah.

(3) Batas Transform:

Batas transform adalah batas antar lempeng yang saling berpapasan dansaling bergeser satu dan lainnya menghasilkan suatu sesar mendatar jenis Contoh batas lempeng jenis transforms adalah patahan San Andreas di Amerika Serikatyang merupakan pergeseran lempeng samudra Pasifik dengan lempeng benua AmerikaUtara.Berdasarkan teori tektonik lempeng, lempeng-lempeng yang ada saling bergerak danberinteraksi satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng lempeng tersebut juga secara tidaklangsung dipengaruhi oleh rotasi bumi pada sumbunya. Sebagaimana diketahui bahwakecepatan rotasi yang terjadi bola bumi akan akan semakin cepat ke arah tekuat

Gambar  Batas-batas lempeng: Konvergen, Divergen dan Transforms.

Gambar Batas-batas lempeng: Konvergen, Divergen dan Transforms.

TATANAN TEKTONIK

Tatanan tektonik yang ada disuatu wilayah sangat dipengaruhi oleh posisi tektonik yangbekerja di wilayah tersebut. Sebagaimana sudah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, interaksiantar lempeng yang terjadi pada batas-batas lempeng konvergen, divergen dan transform akanmenghasilkan tatanan tektonik tertentu.

Tatanan tektonik yang terjadi pada batas lempeng konvergen, dimana lempeng samudradan lempeng samudra saling bertemu akan menghasilkan suatu rangkaian busur gunungapi(volcanic arc) yang arahnya sejajar / simetri dengan arah palung (trench). Cekungan Busur Belakang(Back Arc Basin) berkembang dibagian belakang busur gunungapi (gambar 5-4). Contoh kasus darimodel ini adalah rangkaian gunungapi di kepulauan Philipina yang merupakan hasil tumbukanlempeng laut Philipina dengan lempeng samudra Pasif.

Tatanan tektonik pada batas lempeng Divergen, dimana lempeng benua mengalamipemekaran (continental rifting) dengan terbentuknya laut baru dapat kita lihat terutama diPematang Tengah Samudra (Pemisahan Benua Amerika dan Afrika), Laut Merah (Benua Afrika danSemenanjung Sinai / Jazirah Arab) serta Rifting yang terjadi di Afrika Timur Bagian Utara.

Tugas Analisis Landskap

February 14th, 2018

Analisis Lanskap. kls B

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!