HALAMAN JUDUL

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Pratikum Dasar Perlindungan Tanaman.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk  menambah pengetahuan kepada pembaca tentang hama dan penyakit pada suatu tanaman beserta ciri-cirinya dan cara menaanggulanginya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Kami juga ucapkan terima kasih kepada :

  1. Prof. Dr. Ir. Abdul Latief Abadi, MS. selaku Dosen matakuliah Dasar Perlindungan Tanaman
  2. Army Dita, selaku Asisten Praktikum mata kuliah Dasar Perlindungan Tanaman
    1. Kepada para anggota kelompok

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                           1

Daftar Isi                                                                     2

Pendahuluan                                                               3

Tinjauan Pustaka                                                        5

Metodologi                                                                  13

Hasil dan Pembahasan                                               15

Penutup                                                                       23

 

 

DAFTAR GAMBAR ATAU TABEL (JIKA PERLU)

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Kabupaten Malang terkenal dengan kabupaten agraris yang terletak dipropinsi Jawa Timur. Sebagai daerah agraris maka mata pencaharian utama penduduknya adalah sektor pertanian. Pembangunan sektor pertanian terutama diarahkan untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini erat kaitannya dengan penyelesaian kendala-kendala yang dihadapi petani tersebut dalam mempertahankan produksinya.

 

Oleh karena itu Fieldwork Dasar Perlindungan Tanaman sebagai studi lapang ini membantu mahasiswa untuk memahami konsep pengolahan lahan dan perlindungan tanaman yang diterapkan petani pada daerah observasi, dengan harapan bisa mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengendalian hama dan memberi solusi-solusi Pengendalian OPT yang dapat diterapkan di lahan observasi tersebut berdasar konsep PHT sesuai dengan kondisi lahan dengan pertimbangan keadaan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi petani.

 

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum (Melakukan Fieldwork)

a. Mempelajari pengertian, komponen penyusun,   dan peran PHT dalam dunia pertanian.

b.memahami pengertian OPT dan metode pengendaliannya.

c. Memahami pengertian dan komponen ekosistem.

 

 

1.2.2 Tujuan Khusus (Berdasarkan Komoditi dan kondisi lahan yang dijadikan objek observasi)

a. Mengamati kondisi lahan dan sistem budidaya yang di jalankan petani serta kendalnya.

b.mengamati hama, penyakit dan musuh alaminya.

c. Mengamati cara pengendalian OPT dan kebutuhan pestisida yang di gunakan.

d. Mengetahui kondisi sosial ekonomi petani.

 

1.3 Manfaat

Manfaat dari fielwork ini adalah supaya Mahasiswa lebih memahami hama, penyakit dan musuh alaminya, serta cara pengendalian OPT dengan cara turun ke lahan dan bertanya langsung kepada petani.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian PHT

Konsep PHT merupakan suatu teknologi pengendalian hama yang menggunakan pendekatan komprehensif, menggunakan prinsip-prinsip ekologi, dan mengintegrasikan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel sehingga kondisi populasi hama selalu berada dalam tingkat yang tidak merugikan secara ekonomis sekaligus dapat mempertahankan kelestarian lingkungan hidup serta menguntungkan bagi petani.

(Salikin. 2003)

PHT : upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan, untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup.

(wijaya, 1993)

 

 

 

 

2.2 Pengertian OPT

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, menggangu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tumbuhan. Organisme pengganggu tanaman meliputi hama tanaman dan organisme lain yang dapat menyebabkan ataupun membawa penyakit bagi tanaman.

(Bondan. 2009)

2.3 Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya dimana manusia merupakan begian integral dari ekosistem tempat hidupnya. Adapun pengertian ekosistem menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam bentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

(Hartono.2007)

Ekosistem adalah suatu kesatuan fungsional antara komponen biotik dan abiotiknya.

(Samadi.2006)

2.4 Komponen PHT

  1. Pengendalian hama dengan kultur teknis adalah langkah–langkah yang

dilakukan berkaitan dengan produksi yang menyebabkan lingkungan yang terjadi itu tidak atau kurang cocok untuk kehidupan pertumbuhan dan perkembangan serangga hama.

  1. Pengendalian hayati

adalah pengendalian serangga hama dengan menggunakan musuh-musuh alam seperti parasit, predator dan patogen.

  1. Pengendalian secara fisis dan mekanis adalah pengendalian hama yang dilakukan secara langsung membinasakan serangga hama dengan alat-alat tertentu.
  2. Penggunaan insektisida, yakni penggunaan senyawa kimia yang dapat mematikan serangga hama. Namun, dalam pengendalian hama terpadu penggunaan insektisida merupakan alternatif yang terakhir.
  3. Pengendalian hama dengan peraturan-peraturan bertujuan untuk meningkatkan pelaksanaan pengendalian hama terpadu.

(Wayan. 1987)

2.5 Komponen Ekosistem

  1. Komponen Biotik

Faktor biotik meliputi semua makhluk hidup yang ada di bumi baik tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme. Tumbuhan memiliki peranan yang sangat penting dalam ekosistem karena tumbuhan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup yang lain, yaitu mampu menghasilkan makanan.Oleh karena itu tumbuhan berperan sebagai produsen dalam ekosistem, sedangkan hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.

(Deden. 2008)

  1. Komponen Abiotik

a.  Udara

Udara di atmosfer terdiri atas nitrogen(78%), oksigen(21%) dan karbondioksida(0,03%) dan gas lainnya. Nitrogen merupakan gas penyusun udara terbesar yang diperlukan makhluk hidup untuk membentuk protein dan persenyawaan lainnya.Makhluk hidip memerlukan oksigen untuk pernapasannya sehingga dihasilkan energi untuk beraktivitas. Karbondioksida diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis.

b.  Air

Setiap makhluk hidup memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya karena apabila kekurangan air maka semua proses dalam tubuh makhluk hidup akan terganggu.

 

 

c.  Tanah dan mineral

Tanah merupakan media tempat tumbuh tanaman. Mineral dalam tanah diperlukan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

(Tetty.2008)

2.6 Peran PHT dalam Ekosistem Pertanian

Pengendalian hama terpadu adalah penggunaan metode-metode pengendalian yang ada dalam satu kesatuan rencana sedemikian rupa, sehingga populasi hama dapat ditekan dalam jumlah yang secara ekonomis tidak merugikan, tetapi kuantitas produksi dapat dipertahankan berdasarkan perhitungan ekonomis, sekaligus mempertahankan lingkungan.

Tujuan utama pengendalian hama terpadu, bukanlah pemusnahan, pembasmian atau pemberantasan hama, melainkan mengendalikan populasi hama agar tetap berada di bawah suatu tingkatan atau batas ambang yang dapat mengakibatkan kerugian ekonomik. Jadi, strategi pengendalian hama terpadu bukanlah eradikasi atau pemusnahan hama, melainkan hanya pembatasan populasi agar tidak berbahaya bagi tanaman tanpa merusak atau mengganggu proses-proses yang terjadi dalam ekosistem.

(Wayan. 1987)

2.7 Faktor Penyebab Timbulnya Peledakan Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan organisme pengganggu tanaman. Tingkat serangan hama atau penyakit yang parah menyebabkan tanaman tidak dapat menghasilkan apa-apa karena pertumbuhannya terganggu. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Beberapa faktor yang mendukung ledakan hama dan penyakit adalah iklim, lingkungan yang lembab, teknik budidaya subsistem, penggunaan varietas yang rentan dan penggunaan bibit setek tidak sehat. Pengendalian hama dan penyakit harus diawali dengan pengawasan yang cermat terhadap setiap perubahan yang terjadi pada  tanaman sejak awal pertumbuhan hingga menjelang panen.

(Cahyono.2000)

2.8 Metode Pengendalian OPT

Untuk menangulangi hama, penakit dan gulma yang mengganggu kelestarian tanaman, secara garis besar dapat ditempuh dua cara yaitu dngan cara preventif dan kuratif.

  1. Cara preventif, yaitu suatu usaha atau tindakan yang dilakukan sebelum tanaman itu mendapat serangan hama, penyakit dan gulma. Pengendalian dengan cara preventif diantaranya :
    1. Pengolahan tanah seara intensif
    2. Menanam jenis yang resisten
    3. Mendesinfeksi  benih ke dalam larutan kimia
    4. Mengadakan rotasi (giliran) tanaman
    5. Menanam tepat pada waktunya
    6. Cara kuratif, yaitu suatu usaha atau tindakan yang dilakukan setelah tanaman mengalami gangguan serangan hama, penyakit dan gulma. Cara kuratif meliputi :
      1. Biologis, yaitu pemberantasan dengan menggunakan makhluk hidup yang merupakan predatornya. Misalnya hama ulat dimakan burung
      2. Kemis, yaitu pemberantasan hama, penyakit dan gulma dengan menggunakan pestisida
      3. Mekanis, yaitu suatu cara pemberantasan langsung dengan membunuhya
      4. Fisis, yaitu suatu cara pemberantasan dengan menggunakan faktor alam. Misal, pada areal yang terserang hama penggerek, sehabis panen arealnya digenangi  air minimal 5 hari.

(Matnawy. 1989)

2.9 Konsep Ambang Ekonomi

Pengendalian gulma dilakukan dengan pendekatan konsep ambang ekonomis, artinya selama kerugian yang ditimbulkan oeh kehadiran gulma tersebut masih lebih kecil dari biaya yang harus dikeluarkan untuk pengendaliannya maka pengendalian tidak perlu dilakukan. Untuk mendapatkan hasil pengendalian yang baik, perlu diterapkan sistem pengendalian terpadu. Hal tersebut dilakukan dengan pengelolaan populasi hama, penyakit dan gulma  yang memanfaatkan semua teknik pengendalian yang sesuai. Hal ini bertujuan untuk mengurangi populasi hama, penyakit dan gulma serta mempertahankannya di bawah ambang opulasi hama, penyakit dan gulma yang dapat menyebabkan kerusakan ekonomi.

(Pahan. 2006)

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

  • Waktu              : Minggu, 18 Desember 2011
  • Tempat            : Ngijo, Kepuh Hardjo, Kecamatan Karang Ploso

3.2 Metode Kerja

3.2.1. Alat & Bahan

  • Alat:
    • Alat tulis  : untuk mencatat hasil wawancara
    • Plastik    : untuk menyimpan spesimen yang ditemukan di lapang
    • Spidol     : untuk memberi tanda spesimen yang ditemukan
    • Bahan:
      • Pertanyaan     : untuk bahan wawancara

3.2.2 Alur Kerja

Menyiapkan alat tulis

Menyiapkan pertanyaan

Mengatur waktu dengan narasumber (membuat janji)

Wawancara

Mencatat hasil wawancara

Meneliti hama, dll

Mengidentifikasi

Menulis hasil

 

 

BAB IV

HASIL dan PEMBAHASAN

 

4.1.      Hasil

4.1.1    Kondisi Lahan

Lahan Bapak Samsul merupakan warisan dari orang tuanya. Lahan ini luasnya 2000 m2. Sejak dari neneknya lahan ini hanya ditanami dengan tanaman padi (Oryza sativa). Pengolahan tanah yang dilakukan oleh Bapak Samsul dengan cara modern yaitu dengan menggunakan traktor

4.1.2    Sistem Budidaya yang Dijalankan Petani

Bapak Samsul hanya menanami lahannya dengan 1 jenis tanaman yaitu padi (Oryza sativa) mengikuti kebiasan yang sudah dilakukan sejak jaman neneknya. Bapak Samsul menggunakan pupuk Urea, ZA, NPK dan cara pemupukannya secara bergantian pada kelipatan hari 15. Masa Panennya sekitar  120 hari. Menurut penuturan Bapak Samsul jika kondisi iklim dan tanamannya baik hasil panen bisa mencapai 15 kuintal, sedang jika sedang buruk hanya menghasilkan 12 kuintal

4.1.3    Hama yang ditemukan di lapang

Karena ketika wawancara, usia tanaman padi masih kurang 1 bulan (sedang di literature dikatakan bahwa tanaman padi mulai terserang hama pada usia lebih dari 1 bulan) kami tidak menemukan adanya hama. Sedang menurut pengalaman Bapak Samsul serangan tikus akan muncul apabila gulma sudah lebat dan frekuensi serangan akan besar bila keadaan tanah becek dan akan muncul ulat namun frekuensi serangan kecil dan cenderung tidak merusak. Serta tidak pernah ditemukan hama wereng.

4.1.4    Penyakit yang ditemukan di lapang

Bapak Samsul menceritakan apabila terserang penyakit cirinya adalah daun mengecil dan terdapat bercak putih, namun hal ini jarang terjadi karena Bapak Samsul sudah melakukan upaya pencegahan sejak dini dengan cara memilih kondisi bibit yang baik dan resistensinya terhadap penyakit tinggi

4.1.5    Musuh Alami

Bapak Samsul menceritakan bahwa apabila padi sudah menguning akan datang burung – burung yang memakan ulat disekitar lahan.

4.1.6    Kendala Budidaya Tanaman oleh Petani

Kendala yang ditemukan oleh Bapak Samsul hanya pada sektor pemilihan bibit. Pemilihan bibit ini dilakukan untuk mencegah adanya penyakit yang akan menyerang tanaman padi yang dibudidayakannya, karna, menurut beliau ada tidaknya penyakit tergantung pada kondisi bibit yang ditanam.

4.1.7    Pengendalian OPT yang dilakukan Petani

Dalam pencegahan ataupun menghadapi OPT Bapak Samsul menggunakan cara pencabutan gulma (untuk mengurangi tempat hidup/ habitat yang disukai tikus) dan pemberian pestisida yaitu Krakatau (untuk membasmi serangga-serangga yang mengganggu)

4.1.8    Kebutuhan Pestisida yang digunakan dan Teknis yang digunakan

Dosis yang diberikan adalah 2 ml dan mulai diberikan pestisida setelah umur tanaman 20 hari sampai panen dengan jangka penyemprotan 10 hari. Bapak Samsul membeli pestisida ini dengan harga 25 ribu/botol, dan itu mencukupi kebutuhan penyemprotan mulai dari awal hingga panen.

4.1.9    Kondisi Sosial Ekonomi Petani

Menurut keterangan Bapak Samsul, pendapatan utama beliau adalah dari hasil pertanian. Biaya yang dikeluarkan mulai dari awal tanam sampai panen adalah sekitar 1 juta, dan keuntungan yang beliau dapat sekitar 4 – 4,5 juta. Bapak Samsul sendiri memiliki 2 lahan pertanian. Selain itu beliau juga menyediakan jasa berupa rental traktor untuk petani lain.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Penjelasan Kondisi ekosistem yang ditemukan (baik dari unsur biotik dan abiotik) (Bandingkan dengan literatur)

Kondisi ekosistem pada lahan pertanian sawah irigasi ini, didominasi oleh tanaman padi yang memang ditanam sebagai tanaman pokok untuk produksi. Hanya sedikit ditemukan rumput-rumput yang hidup di pinggiran lahan di samping saluran irigasi yang menyuplai air dari sumbernya.

Memang, diketahui pula bahwa sistem budidayanya adalah sistem monokultur, dengan menanam padi sepanjang tahun.

Faktor biotik dalam sawah yang ditemukan meliputi padi (tanaman utama sawah), hewan, dan tanaman liar.

  • Padi

Kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.

  • Hewan

Lingkungan sawah menjadi tempat berkumpulnya banyak hewan. Hewan tersebut terhubung dalam suatu rantai makanan. Dalam hal ini, hewan pemakan padi ini di anggap sebagai hewan penggangu.

 

  • Tanaman liar

Tanaman liar umumnya adalah tanaman penggangu padi. Kebanyakan tanaman penggangu adalah tanaman yang membutuhkan banyak air. Contohnya rumput, ilalang, dan lainnya.

 

 

Di samping factor biotic, tentu saja ada factor abiotik. Padi tentu saja membutuhkan tanah dan banyak air. Air di alirkan dalam system irigasi sawah sehingga dapat mengalirinya. Di lingkungan sawah juga terdapat batu, cahaya, sinar matahari, suhu, ketinggian, dan lainnya. Yang kesemuanya dibutuhkan dalam ekosistem sawah.

Jika dalam suatu ekosistem sawah terdapat padi/tumbuhan lain sebagai produsen, dan hewan-hewan ternak ataupun liar (yang secara langsung akan menjadi konsumennya) maka antara produsen dan konsumen ini akan membentuk suatu siklus.

(Guntoro. 2011)

 
4.2.2 Analisis Penyebab timbulnya gejala serangan OPT pada lahan (Bandingkan dengan referensi).

Tikus menyerang tanaman padi pada stadium pertumbuhan, mulai dari persemaian sampai menjelang panen.  Serangan tikus biasanya terjasi pada malam hari. Pada siang hari, tikus lebih banyak bersembunyi, menyerang mulai dari bagian petak, kemdian ke arah kurang lebih satu meter dari pinggiran.

(Prasetiyo. 2002)

Selain itu, penimbunan jerami juga menyebabkan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tikus. Menyediakan sarang sebagai tempat tumbuh dan berkembang tikus.

(Sutanto.2002)

Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama tanaman padi di Indonesia dan menjadi penyebab kerusakan terbesar pada setiap musim tanam. Peningkatan populasi tikus sawah terutama disebabkan oleh perkembangbiakannya yang

cepat. Peningkatan populasi tikus juga dapat terjadi karena migrasi akibat perbedaan ketersediaan sumber pakan maupun gangguan habitat seperti banjir atau pengolahan lahan sawah.

(Sudarmaji & Anggara 2000, Sudarmaji et al. 2005).

 

Pada kondisi lingkungan yang baik dan pakan cukup tersedia, satu sarang dapat dihuni induk betina yang sedang bunting bersama dua generasi anak-anaknya.

 (Lam 1983; Murakami et al. 1992).

 

Perkembangbiakan tikus sawah erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia. Tikus bersifat omnivor, namun padi merupakan sumber utama pakan yang paling disukai tikus. Oleh karena ketersediaan pangan itulah, tikus selalu menyerang padi.

(Rahmini dan Sudarmaji 1997).

4.2.3 Analisis Kendala Pengendalian OPT dan berbudidaya petani (Bandingkan dengan Literatur)

Dalam pengendalian OPT dan budidaya yang dilakukan, petani tidak menghadapi kendala. Hal ini disebabkan oleh  faktor cuaca yang mendukung optimalisasi produksi serta pengolahan lahan sawah irigasi yang intensif. Contohnya tidak ada gangguan/serangan wereng, tingkat serangan ulat dan tikus yang relatif rendah. Dan pengendalian OPT oleh petani dilakukan dengan cara penyemprotan pestisida secara berkala, dan mencabutin gulma untuk membuat kondisi lahan yang tidak disukai tikus.

Walaupun, pada umumnya, lahan sawah irigasi mempunyai kendala-kendala utama, antara lain :

  1. Kekeringan akhir musim kemarau
  2. Serangan penyakit utama, khususnya bercak daun, karat, dan virus.
  3. Serangan tikus

(Rukmana.1998)

4.2.4 Solusi Pengendalian OPT yang dapat diterapkan di lahan observasi berdasar konsep PHT (Berdasarkan Literatur dan sesuaikan dengan kondisi lahan) dengan pertimbangan keadaan Aspek lingkungan, Sosial dan Ekonomi Petani

Tahapan pelaksanaan pengendalian OPT berdasarkan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

• Identifi kasi jenis dan penghitungan tingkat populasi hama. Dilakukan oleh petani dan atau Pengamat OPT melalui kegiatan survei dan monitoring hama-penyakit tanaman pada pagi hari.

• Menentukan tingkat kerusakan hama. Tingkat kerusakan dihitung secara ekonomi yaitu besar tingkat kerugian atau tingkat ambang tindakan. Tingkat ambang tindakan identik dengan ambang ekonomi, lebih sering digunakan sebagai dasar penentuan teknik pengendalian hama dan penyakit.

Taktik dan teknik pengendalian: