Archive for June, 2012

Vitamin C

Vitamin C

Sumber utama vitamin adalah buah-buahan segar. Terutama vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan dan membantu meningkatkan imunitas tubuh. Kebutuhan vitamin C tubuh sebesar 60-100 mg per hari. Adapun manfaat vitamin C sebagai berikut:

—  Sebagai antioksidan yang membantu kerja enzim.

—  Membantu pembentukan jaringan kolagen.

—  Membantu metabolisme protein.

—  Mempercepat penyembuhan luka.

—  Meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi.

—  Membantu penyerapan zat besi dan mencegah kanker.

Apabila tubuh kita kekurangan vitamin C akan mengakibatkan defisiensi. Gejala defisiensi vitamin C antara lain:

—  Sariawan

—  Gusi berdarah

—  Gangguan saraf

—  Anemia

—  Infeksi

—  Kulit kasar

Namun apabila terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C, tubuh juga akan mengalami diare dan bertambah beratnya kerja ginjal dan hati.

Berikut ini beberapa contoh sumber vitamin C dari buah-buahan:

—  Jambu biji    : Kandungan vitamin C sebesar 183 mg/100 gr.

—  Kelengkeng : Kandungan vitamin C sebesar 84 mg/100 gr.

—  Jeruk            : Kandungan vitamin C sebesar 53 mg/100 gr.

—  Melon          : Kandungan vitamin C sebesar 42 mg/100 gr.

—  Anggur        : Kandungan vitamin C sebesar 34 mg/100 gr.

Makalah Dasar Perlindungan Tanaman

HALAMAN JUDUL

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Pratikum Dasar Perlindungan Tanaman.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk  menambah pengetahuan kepada pembaca tentang hama dan penyakit pada suatu tanaman beserta ciri-cirinya dan cara menaanggulanginya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Kami juga ucapkan terima kasih kepada :

  1. Prof. Dr. Ir. Abdul Latief Abadi, MS. selaku Dosen matakuliah Dasar Perlindungan Tanaman
  2. Army Dita, selaku Asisten Praktikum mata kuliah Dasar Perlindungan Tanaman
    1. Kepada para anggota kelompok

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                           1

Daftar Isi                                                                     2

Pendahuluan                                                               3

Tinjauan Pustaka                                                        5

Metodologi                                                                  13

Hasil dan Pembahasan                                               15

Penutup                                                                       23

 

 

DAFTAR GAMBAR ATAU TABEL (JIKA PERLU)

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Kabupaten Malang terkenal dengan kabupaten agraris yang terletak dipropinsi Jawa Timur. Sebagai daerah agraris maka mata pencaharian utama penduduknya adalah sektor pertanian. Pembangunan sektor pertanian terutama diarahkan untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini erat kaitannya dengan penyelesaian kendala-kendala yang dihadapi petani tersebut dalam mempertahankan produksinya.

 

Oleh karena itu Fieldwork Dasar Perlindungan Tanaman sebagai studi lapang ini membantu mahasiswa untuk memahami konsep pengolahan lahan dan perlindungan tanaman yang diterapkan petani pada daerah observasi, dengan harapan bisa mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengendalian hama dan memberi solusi-solusi Pengendalian OPT yang dapat diterapkan di lahan observasi tersebut berdasar konsep PHT sesuai dengan kondisi lahan dengan pertimbangan keadaan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi petani.

 

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum (Melakukan Fieldwork)

a. Mempelajari pengertian, komponen penyusun,   dan peran PHT dalam dunia pertanian.

b.memahami pengertian OPT dan metode pengendaliannya.

c. Memahami pengertian dan komponen ekosistem.

 

 

1.2.2 Tujuan Khusus (Berdasarkan Komoditi dan kondisi lahan yang dijadikan objek observasi)

a. Mengamati kondisi lahan dan sistem budidaya yang di jalankan petani serta kendalnya.

b.mengamati hama, penyakit dan musuh alaminya.

c. Mengamati cara pengendalian OPT dan kebutuhan pestisida yang di gunakan.

d. Mengetahui kondisi sosial ekonomi petani.

 

1.3 Manfaat

Manfaat dari fielwork ini adalah supaya Mahasiswa lebih memahami hama, penyakit dan musuh alaminya, serta cara pengendalian OPT dengan cara turun ke lahan dan bertanya langsung kepada petani.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian PHT

Konsep PHT merupakan suatu teknologi pengendalian hama yang menggunakan pendekatan komprehensif, menggunakan prinsip-prinsip ekologi, dan mengintegrasikan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel sehingga kondisi populasi hama selalu berada dalam tingkat yang tidak merugikan secara ekonomis sekaligus dapat mempertahankan kelestarian lingkungan hidup serta menguntungkan bagi petani.

(Salikin. 2003)

PHT : upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan, untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup.

(wijaya, 1993)

 

 

 

 

2.2 Pengertian OPT

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, menggangu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tumbuhan. Organisme pengganggu tanaman meliputi hama tanaman dan organisme lain yang dapat menyebabkan ataupun membawa penyakit bagi tanaman.

(Bondan. 2009)

2.3 Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya dimana manusia merupakan begian integral dari ekosistem tempat hidupnya. Adapun pengertian ekosistem menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam bentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

(Hartono.2007)

Ekosistem adalah suatu kesatuan fungsional antara komponen biotik dan abiotiknya.

(Samadi.2006)

2.4 Komponen PHT

  1. Pengendalian hama dengan kultur teknis adalah langkah–langkah yang

dilakukan berkaitan dengan produksi yang menyebabkan lingkungan yang terjadi itu tidak atau kurang cocok untuk kehidupan pertumbuhan dan perkembangan serangga hama.

  1. Pengendalian hayati

adalah pengendalian serangga hama dengan menggunakan musuh-musuh alam seperti parasit, predator dan patogen.

  1. Pengendalian secara fisis dan mekanis adalah pengendalian hama yang dilakukan secara langsung membinasakan serangga hama dengan alat-alat tertentu.
  2. Penggunaan insektisida, yakni penggunaan senyawa kimia yang dapat mematikan serangga hama. Namun, dalam pengendalian hama terpadu penggunaan insektisida merupakan alternatif yang terakhir.
  3. Pengendalian hama dengan peraturan-peraturan bertujuan untuk meningkatkan pelaksanaan pengendalian hama terpadu.

(Wayan. 1987)

2.5 Komponen Ekosistem

  1. Komponen Biotik

Faktor biotik meliputi semua makhluk hidup yang ada di bumi baik tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme. Tumbuhan memiliki peranan yang sangat penting dalam ekosistem karena tumbuhan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup yang lain, yaitu mampu menghasilkan makanan.Oleh karena itu tumbuhan berperan sebagai produsen dalam ekosistem, sedangkan hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.

(Deden. 2008)

  1. Komponen Abiotik

a.  Udara

Udara di atmosfer terdiri atas nitrogen(78%), oksigen(21%) dan karbondioksida(0,03%) dan gas lainnya. Nitrogen merupakan gas penyusun udara terbesar yang diperlukan makhluk hidup untuk membentuk protein dan persenyawaan lainnya.Makhluk hidip memerlukan oksigen untuk pernapasannya sehingga dihasilkan energi untuk beraktivitas. Karbondioksida diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis.

b.  Air

Setiap makhluk hidup memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya karena apabila kekurangan air maka semua proses dalam tubuh makhluk hidup akan terganggu.

 

 

c.  Tanah dan mineral

Tanah merupakan media tempat tumbuh tanaman. Mineral dalam tanah diperlukan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

(Tetty.2008)

2.6 Peran PHT dalam Ekosistem Pertanian

Pengendalian hama terpadu adalah penggunaan metode-metode pengendalian yang ada dalam satu kesatuan rencana sedemikian rupa, sehingga populasi hama dapat ditekan dalam jumlah yang secara ekonomis tidak merugikan, tetapi kuantitas produksi dapat dipertahankan berdasarkan perhitungan ekonomis, sekaligus mempertahankan lingkungan.

Tujuan utama pengendalian hama terpadu, bukanlah pemusnahan, pembasmian atau pemberantasan hama, melainkan mengendalikan populasi hama agar tetap berada di bawah suatu tingkatan atau batas ambang yang dapat mengakibatkan kerugian ekonomik. Jadi, strategi pengendalian hama terpadu bukanlah eradikasi atau pemusnahan hama, melainkan hanya pembatasan populasi agar tidak berbahaya bagi tanaman tanpa merusak atau mengganggu proses-proses yang terjadi dalam ekosistem.

(Wayan. 1987)

2.7 Faktor Penyebab Timbulnya Peledakan Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan organisme pengganggu tanaman. Tingkat serangan hama atau penyakit yang parah menyebabkan tanaman tidak dapat menghasilkan apa-apa karena pertumbuhannya terganggu. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Beberapa faktor yang mendukung ledakan hama dan penyakit adalah iklim, lingkungan yang lembab, teknik budidaya subsistem, penggunaan varietas yang rentan dan penggunaan bibit setek tidak sehat. Pengendalian hama dan penyakit harus diawali dengan pengawasan yang cermat terhadap setiap perubahan yang terjadi pada  tanaman sejak awal pertumbuhan hingga menjelang panen.

(Cahyono.2000)

2.8 Metode Pengendalian OPT

Untuk menangulangi hama, penakit dan gulma yang mengganggu kelestarian tanaman, secara garis besar dapat ditempuh dua cara yaitu dngan cara preventif dan kuratif.

  1. Cara preventif, yaitu suatu usaha atau tindakan yang dilakukan sebelum tanaman itu mendapat serangan hama, penyakit dan gulma. Pengendalian dengan cara preventif diantaranya :
    1. Pengolahan tanah seara intensif
    2. Menanam jenis yang resisten
    3. Mendesinfeksi  benih ke dalam larutan kimia
    4. Mengadakan rotasi (giliran) tanaman
    5. Menanam tepat pada waktunya
    6. Cara kuratif, yaitu suatu usaha atau tindakan yang dilakukan setelah tanaman mengalami gangguan serangan hama, penyakit dan gulma. Cara kuratif meliputi :
      1. Biologis, yaitu pemberantasan dengan menggunakan makhluk hidup yang merupakan predatornya. Misalnya hama ulat dimakan burung
      2. Kemis, yaitu pemberantasan hama, penyakit dan gulma dengan menggunakan pestisida
      3. Mekanis, yaitu suatu cara pemberantasan langsung dengan membunuhya
      4. Fisis, yaitu suatu cara pemberantasan dengan menggunakan faktor alam. Misal, pada areal yang terserang hama penggerek, sehabis panen arealnya digenangi  air minimal 5 hari.

(Matnawy. 1989)

2.9 Konsep Ambang Ekonomi

Pengendalian gulma dilakukan dengan pendekatan konsep ambang ekonomis, artinya selama kerugian yang ditimbulkan oeh kehadiran gulma tersebut masih lebih kecil dari biaya yang harus dikeluarkan untuk pengendaliannya maka pengendalian tidak perlu dilakukan. Untuk mendapatkan hasil pengendalian yang baik, perlu diterapkan sistem pengendalian terpadu. Hal tersebut dilakukan dengan pengelolaan populasi hama, penyakit dan gulma  yang memanfaatkan semua teknik pengendalian yang sesuai. Hal ini bertujuan untuk mengurangi populasi hama, penyakit dan gulma serta mempertahankannya di bawah ambang opulasi hama, penyakit dan gulma yang dapat menyebabkan kerusakan ekonomi.

(Pahan. 2006)

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

  • Waktu              : Minggu, 18 Desember 2011
  • Tempat            : Ngijo, Kepuh Hardjo, Kecamatan Karang Ploso

3.2 Metode Kerja

3.2.1. Alat & Bahan

  • Alat:
    • Alat tulis  : untuk mencatat hasil wawancara
    • Plastik    : untuk menyimpan spesimen yang ditemukan di lapang
    • Spidol     : untuk memberi tanda spesimen yang ditemukan
    • Bahan:
      • Pertanyaan     : untuk bahan wawancara

3.2.2 Alur Kerja

Menyiapkan alat tulis

Menyiapkan pertanyaan

Mengatur waktu dengan narasumber (membuat janji)

Wawancara

Mencatat hasil wawancara

Meneliti hama, dll

Mengidentifikasi

Menulis hasil

 

 

BAB IV

HASIL dan PEMBAHASAN

 

4.1.      Hasil

4.1.1    Kondisi Lahan

Lahan Bapak Samsul merupakan warisan dari orang tuanya. Lahan ini luasnya 2000 m2. Sejak dari neneknya lahan ini hanya ditanami dengan tanaman padi (Oryza sativa). Pengolahan tanah yang dilakukan oleh Bapak Samsul dengan cara modern yaitu dengan menggunakan traktor

4.1.2    Sistem Budidaya yang Dijalankan Petani

Bapak Samsul hanya menanami lahannya dengan 1 jenis tanaman yaitu padi (Oryza sativa) mengikuti kebiasan yang sudah dilakukan sejak jaman neneknya. Bapak Samsul menggunakan pupuk Urea, ZA, NPK dan cara pemupukannya secara bergantian pada kelipatan hari 15. Masa Panennya sekitar  120 hari. Menurut penuturan Bapak Samsul jika kondisi iklim dan tanamannya baik hasil panen bisa mencapai 15 kuintal, sedang jika sedang buruk hanya menghasilkan 12 kuintal

4.1.3    Hama yang ditemukan di lapang

Karena ketika wawancara, usia tanaman padi masih kurang 1 bulan (sedang di literature dikatakan bahwa tanaman padi mulai terserang hama pada usia lebih dari 1 bulan) kami tidak menemukan adanya hama. Sedang menurut pengalaman Bapak Samsul serangan tikus akan muncul apabila gulma sudah lebat dan frekuensi serangan akan besar bila keadaan tanah becek dan akan muncul ulat namun frekuensi serangan kecil dan cenderung tidak merusak. Serta tidak pernah ditemukan hama wereng.

4.1.4    Penyakit yang ditemukan di lapang

Bapak Samsul menceritakan apabila terserang penyakit cirinya adalah daun mengecil dan terdapat bercak putih, namun hal ini jarang terjadi karena Bapak Samsul sudah melakukan upaya pencegahan sejak dini dengan cara memilih kondisi bibit yang baik dan resistensinya terhadap penyakit tinggi

4.1.5    Musuh Alami

Bapak Samsul menceritakan bahwa apabila padi sudah menguning akan datang burung – burung yang memakan ulat disekitar lahan.

4.1.6    Kendala Budidaya Tanaman oleh Petani

Kendala yang ditemukan oleh Bapak Samsul hanya pada sektor pemilihan bibit. Pemilihan bibit ini dilakukan untuk mencegah adanya penyakit yang akan menyerang tanaman padi yang dibudidayakannya, karna, menurut beliau ada tidaknya penyakit tergantung pada kondisi bibit yang ditanam.

4.1.7    Pengendalian OPT yang dilakukan Petani

Dalam pencegahan ataupun menghadapi OPT Bapak Samsul menggunakan cara pencabutan gulma (untuk mengurangi tempat hidup/ habitat yang disukai tikus) dan pemberian pestisida yaitu Krakatau (untuk membasmi serangga-serangga yang mengganggu)

4.1.8    Kebutuhan Pestisida yang digunakan dan Teknis yang digunakan

Dosis yang diberikan adalah 2 ml dan mulai diberikan pestisida setelah umur tanaman 20 hari sampai panen dengan jangka penyemprotan 10 hari. Bapak Samsul membeli pestisida ini dengan harga 25 ribu/botol, dan itu mencukupi kebutuhan penyemprotan mulai dari awal hingga panen.

4.1.9    Kondisi Sosial Ekonomi Petani

Menurut keterangan Bapak Samsul, pendapatan utama beliau adalah dari hasil pertanian. Biaya yang dikeluarkan mulai dari awal tanam sampai panen adalah sekitar 1 juta, dan keuntungan yang beliau dapat sekitar 4 – 4,5 juta. Bapak Samsul sendiri memiliki 2 lahan pertanian. Selain itu beliau juga menyediakan jasa berupa rental traktor untuk petani lain.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Penjelasan Kondisi ekosistem yang ditemukan (baik dari unsur biotik dan abiotik) (Bandingkan dengan literatur)

Kondisi ekosistem pada lahan pertanian sawah irigasi ini, didominasi oleh tanaman padi yang memang ditanam sebagai tanaman pokok untuk produksi. Hanya sedikit ditemukan rumput-rumput yang hidup di pinggiran lahan di samping saluran irigasi yang menyuplai air dari sumbernya.

Memang, diketahui pula bahwa sistem budidayanya adalah sistem monokultur, dengan menanam padi sepanjang tahun.

Faktor biotik dalam sawah yang ditemukan meliputi padi (tanaman utama sawah), hewan, dan tanaman liar.

  • Padi

Kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.

  • Hewan

Lingkungan sawah menjadi tempat berkumpulnya banyak hewan. Hewan tersebut terhubung dalam suatu rantai makanan. Dalam hal ini, hewan pemakan padi ini di anggap sebagai hewan penggangu.

 

  • Tanaman liar

Tanaman liar umumnya adalah tanaman penggangu padi. Kebanyakan tanaman penggangu adalah tanaman yang membutuhkan banyak air. Contohnya rumput, ilalang, dan lainnya.

 

 

Di samping factor biotic, tentu saja ada factor abiotik. Padi tentu saja membutuhkan tanah dan banyak air. Air di alirkan dalam system irigasi sawah sehingga dapat mengalirinya. Di lingkungan sawah juga terdapat batu, cahaya, sinar matahari, suhu, ketinggian, dan lainnya. Yang kesemuanya dibutuhkan dalam ekosistem sawah.

Jika dalam suatu ekosistem sawah terdapat padi/tumbuhan lain sebagai produsen, dan hewan-hewan ternak ataupun liar (yang secara langsung akan menjadi konsumennya) maka antara produsen dan konsumen ini akan membentuk suatu siklus.

(Guntoro. 2011)

 
4.2.2 Analisis Penyebab timbulnya gejala serangan OPT pada lahan (Bandingkan dengan referensi).

Tikus menyerang tanaman padi pada stadium pertumbuhan, mulai dari persemaian sampai menjelang panen.  Serangan tikus biasanya terjasi pada malam hari. Pada siang hari, tikus lebih banyak bersembunyi, menyerang mulai dari bagian petak, kemdian ke arah kurang lebih satu meter dari pinggiran.

(Prasetiyo. 2002)

Selain itu, penimbunan jerami juga menyebabkan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tikus. Menyediakan sarang sebagai tempat tumbuh dan berkembang tikus.

(Sutanto.2002)

Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama tanaman padi di Indonesia dan menjadi penyebab kerusakan terbesar pada setiap musim tanam. Peningkatan populasi tikus sawah terutama disebabkan oleh perkembangbiakannya yang

cepat. Peningkatan populasi tikus juga dapat terjadi karena migrasi akibat perbedaan ketersediaan sumber pakan maupun gangguan habitat seperti banjir atau pengolahan lahan sawah.

(Sudarmaji & Anggara 2000, Sudarmaji et al. 2005).

 

Pada kondisi lingkungan yang baik dan pakan cukup tersedia, satu sarang dapat dihuni induk betina yang sedang bunting bersama dua generasi anak-anaknya.

 (Lam 1983; Murakami et al. 1992).

 

Perkembangbiakan tikus sawah erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia. Tikus bersifat omnivor, namun padi merupakan sumber utama pakan yang paling disukai tikus. Oleh karena ketersediaan pangan itulah, tikus selalu menyerang padi.

(Rahmini dan Sudarmaji 1997).

4.2.3 Analisis Kendala Pengendalian OPT dan berbudidaya petani (Bandingkan dengan Literatur)

Dalam pengendalian OPT dan budidaya yang dilakukan, petani tidak menghadapi kendala. Hal ini disebabkan oleh  faktor cuaca yang mendukung optimalisasi produksi serta pengolahan lahan sawah irigasi yang intensif. Contohnya tidak ada gangguan/serangan wereng, tingkat serangan ulat dan tikus yang relatif rendah. Dan pengendalian OPT oleh petani dilakukan dengan cara penyemprotan pestisida secara berkala, dan mencabutin gulma untuk membuat kondisi lahan yang tidak disukai tikus.

Walaupun, pada umumnya, lahan sawah irigasi mempunyai kendala-kendala utama, antara lain :

  1. Kekeringan akhir musim kemarau
  2. Serangan penyakit utama, khususnya bercak daun, karat, dan virus.
  3. Serangan tikus

(Rukmana.1998)

4.2.4 Solusi Pengendalian OPT yang dapat diterapkan di lahan observasi berdasar konsep PHT (Berdasarkan Literatur dan sesuaikan dengan kondisi lahan) dengan pertimbangan keadaan Aspek lingkungan, Sosial dan Ekonomi Petani

Tahapan pelaksanaan pengendalian OPT berdasarkan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

• Identifi kasi jenis dan penghitungan tingkat populasi hama. Dilakukan oleh petani dan atau Pengamat OPT melalui kegiatan survei dan monitoring hama-penyakit tanaman pada pagi hari.

• Menentukan tingkat kerusakan hama. Tingkat kerusakan dihitung secara ekonomi yaitu besar tingkat kerugian atau tingkat ambang tindakan. Tingkat ambang tindakan identik dengan ambang ekonomi, lebih sering digunakan sebagai dasar penentuan teknik pengendalian hama dan penyakit.

Taktik dan teknik pengendalian:

Pupuk Anorganik

Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi.  Misalnya urea berkadar N 45-46% (setiap 100 kg urea terdapat 45-46 kg hara nitrogen) (Lingga dan Marsono, 2000).

Pupuk anorganik atau pupuk buatan dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk.  Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara misalnya pupuk N, pupuk P, pupuk K dan sebagainya.  Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya N + P, P + K, N + K, N + P + K dan sebagainya (Hardjowigeno, 2004).

Ada beberapa keuntungan dari pupuk anorganik, yaitu (1) Pemberiannya dapat terukur dengan tepat, (2) Kebutuhan tanaman akan hara dpat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat, (3) Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup, dan (4) Pupuk anorganik mudah diangkut karena jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik.  Pupuk anorganik mempunyai  kelemahan, yaitu selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung  unsur hara mikro (Lingga dan Marsono, 2000).

Nitrogen (N)

Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas (N2) di atmosfer, yang takarannya mencapai 78% volume, dan sumber lainnya senyawa-senyawa yang tersimpan dalam tubuh jasad.  Nitrogen sangat jarang ditemui karena sifatnya yang mudah larut dalam air (Poerwowidodo, 1992).

Nitrogen diserap oleh tanaman sebagai NO3 dan NH4+ kemudian dimasukkan ke dalam semua gas amino dan Protein (Indrana, 1994).  Ada juga bentuk pokok nitrogen dalam tanah mineral, yaitu nitrogen organik, bergabung dengan humus tanah ; nitrogen amonium dapat diikat oleh mineral lempung tertentu, dan amonium anorganik dapat larut dan senyawa nitrat (Buckman dan Brady, 1992).

Nitrogen yang tersedia tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus mengalami berbagai proses terlebih dahulu.  Pada tanah yang immobilitasnya rendah nitrogen yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses nitrogen.  Begitu pula dengan proses denitrifikasi yang pada proses ini ketersediaan nitrogen tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih menyukai senyawa dalam bentuk ion amonium daripada ion nitrat (Jumin, 1992).

Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman jagung adalah merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun.  Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan zat hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis (Lingga dan Marsono, 2000).

Kekahatan atau defisiensi nitrogen menyebabkan proses pembelahan sel terhambat dan akibatnya menyusutkan pertumbuhan.  Selain itu, kekahatan senyawa protein menyebabkan kenaikan nisbah C/N, dan kelebihan karbohidrat ini akan meningkatkan kandungan selulosa dan lignin.  Ini menyebabkan tanaman jagung yang kahat akan nitrogen tampak kecil, kering, tidak sekulen, dan sudut daun terhadap batang sangat runcing (Poerwowidodo, 1992).

Salah satu bentuk pupuk N yang banyak digunakan adalah urea (CO(NH2)2).  Urea dibuat dari gas amoniak dan gas asam arang.  Persenyawaan kedua zat ini malahirkan pupuk urea dengan kandungan N sebanyak 46% (Lingga dan Marsono, 2002).

Urea termasuk pupuk yang higroskopis (mudah menarik uap air).  Pada kelembaban 73%, pupuk ini sudah mampu menarik uap air dan udara.  Oleh karena itu urea mudah larut dan mudah diserap oleh tanaman (Lingga dan Marsono, 2002).

Urea dapat membuat tanaman hangus, terutama yang memiliki daun yang amat peka.  Untuk itu, semprotkan urea dengan bentuk tetesan yang besar.  Berdasarkan bentuk fisiknya maka urea dibagi menjadi dua jenis, yaitu urea prill dan urea non prill (Lingga dan Marsono, 2002).

Phosphor (P)

Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau, dan senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik, yang terdapat dalam tanah (Buckman dan Brady, 1992).

Unsur P diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer, H2PO4. menyusul kemudian dalam HPO42-. Species ion yang merajai tergantung dari PH sistem tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,5-7. kepekatan H2PO4 yang tinggi dalam larutan tanah memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman untuk H2PO4 dibanding untuk HPO42- (Poerwowidodo, 1992).

Bentuk P yang lain yang dapat diserap tanaman adalah pirofosfat dan metafosfat. Kedua bentuk ini misalnya terdapat dalam bentuk pupuk P dan K metafosfat. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organik, yaitu asam nukleat dan phytin. Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi dan dekomposisi bahan organik yang langsung dapat diserap oleh tanaman (Hakim, dkk.,1986).

Ketersediaan phospor di dalam tanah ditentukan oleh banyak faktor, tetapi yang paling penting adalah pH tanah. Pada tanah ber-pH rendah (masam), phospor akan bereaksi dengan ion besi (Fe)  dan aluminium (Al). reaksi ini akan membentuk besi fosfat atau aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada tanah ber-pH  tinggi (basa), phospor akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman. Dengan demikian, tanpa memperhatikan  pH tanah, pemupukan phospor tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Novizan, 2002).

Menurut Buckman dan Brady (1992), bahwa fosfor dapat berpengaruh menguntungkan pada pembelahan sel dan  pembentukan lemak serta albumin, pembungaan dan pembuahan, termasuk proses pembentukan biji, perkembangan akar, khususnya akar lateral dan akar halus berserabut, kekuatan batang, dan kekebalan tanaman terhadap penyakit tertentu.

Gejala kekurangan P pada tanaman jagung dapat menjadikan pertumbuhan terhambat (kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan juga pada jagung akan menyebabkan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan kecil-kecil (Hardjowigeno, 1993)

Kalium (K)

Menurut Buckman dan Brady (1992), berbagai bentuk kalium dalam tanah digolongkan atas dasar ketersediaannya menjadi 3 golongan besar yaitu bentuk relatif tidak tersedia, mudah tersedia, dan lambat tersedia. Senyawa yang mengandung sebagian besar bentuk kalium ini adalah feldspat dan mika, lebih lanjut dijelaskan oleh  Mulyani (1999), bahwa sumber-sumber kalium adalah beberapa jenis mineral, sisa-sisa tanaman dan jasad  renik, air irigasi serta larutan dalam tanah, dan pupuk buatan.

Unsur ini diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dan dapat dijumpai di dalam tanah dalam jumlah yang bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan tersedia bagi tanaman biasanya kecil. Kalium ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk garam-garam mudah larut seperti KC1, K2SO4, KNO3, dan K-Mg-SO4. Mekanisme penyerapan K mencakup aliran massa, konveksi, difusi, dan serapan langsung dari permukaan zarah tanah (Poerwowidodo, 1992).

Di dalam tanah, ion K bersifat sangat dinamis dan juga mudah tercuci pada tanah berpasir dan tanah dengan pH yang rendah. Sekitar 1-10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan positif. Bagi tanaman, ketersediaan kalium pada posisi ini agak lambat. Kandungan kalium sangat tergantung dari jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat. Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang oleh tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian kalium oleh air, dan erosi tanah (Novizan, 2002).

Menurut Hakim, dkk (1986), bahwa peranan kalium secara fisiologis adalah metabolisme karbohidrat, yakni pembentukan pemecahan, dan translokasi pati, metabolisme nitrogen dan sintesis protein, mengawasi dan mengatur kegiatan berbagai unsur mineral, netralisasi asam-asam organik penting secara fisiologis, mengaktifkan berbagai enzim, mempercepat proses pertumbuhan jaringan meristematik, mengatur pergerakan stomata dan hal-hal yang berhubungan dengan air.

Defisiensi kalium agak sulit diketahui gejalanya, karena gejala ini jarang ditampakkan ketika tanaman masih muda (Mulyani, 1999). Pada tanaman jagung, gejalanya daun terlihakaput lebih tua, muncul warna kuning pada pinggir dan di ujung daun yang akhirnya mengering dan rontok. Daun mengerut  (Keriting) dimulai dari daun tua. Pada buah, ukuran tongkol menjadi lebih kecil, warna buah tidak merata dan biji buah menjadi kisut (Novizan, 2002)
http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/pupuk-anorganik/

 

Menurut Sumarna (2002), kondisi kesuburan lahan juga berpengaruh terhadap perilaku fisiologis tanaman yang ditunjukan oleh perkembangan riap tumbuh (T-tinggi dan D-diameter). Sumber hara pada hutan jati alam ditentukan oleh potensi dan kapasitas bahan organik dari seresah hutan serta tingkat kecepatan fermentasi litter yang jatuh (humufikasi). Unsur hara kimia pokok (macro element) yang penting dalam mendukung pertumbuhan jati yaitu : Ca = 370 kg/ha, N = 331 kg/ha, K2O = 128 kg/ha, unsur P2O5 dan Mg masing-masing 108 kg/ha.

Cara pemupukan pada tanaman jati yaitu dilakukan pada tahap awal sebelum penanaman dan tahap lanjutan. Pada awal penanaman yaitu dengan mencampurkan pupuk dengan top soil kemudian di kembalikan lagi ke lubang tanam. Pada tahap selanjutnya pupuk diberikan di dalam larikan di bawah tajuk secara melingkar.

 

Perhitungan Kebutuhan Pupuk

Urea    = 331 kg N/ha     x 100 kg

45 % N

= 735 kg Urea/ ha

 

KCl      = 128 kg K2O/ha  x 100 kg

60 % K2O

= 213.33 kg KCl/ ha

 

SP36   = 108 kg P2O5/ha  x 100 kg

36 % P2O5

= 300 kg SP36/ha

 

Dolomit =( 370 kg Ca/ha x 100 kg)   + ( 108 kg Mg/ha x 100 kg)

30 % Ca                                  22 % Mg

= 1233,33 kg + 490.90 kg

= 1724.33 kg dolomit

1.      Diketahui :

Urea (45 % N); SP36 (36 % P2O5); KCl (60 % K2O) dan dosis pupuk anjuran untuk padi adalah 100 kg N/ha, 50 kg P2O5/ha, 50 K2O/ha. Berapa kebutuhan Urea, SP36 dan KCl untuk 1 ha?

Jawab :

Urea          = 100 kg N/ha     x 100 kg

45 % N

= 222.22 kg Urea/ha

 

SP36         = 50 kg P2O5/ ha   x 100 kg

36 % P205

= 138.88 kg SP36/ha

 

KCl            = 50 kg K2O/ha    x 100 kg

60 % K2O

= 83.33 kg KCl/ha

 

2.      Luas tanaman tomat 750 m2. Dosis 60 kg N; 100 kg P2O5; 50 kg K2O. Berapa kebutuhan Urea, SP36 dan KCl ?

Urea          = 750 m2      x  60 kg N/ ha  x 100 kg

10000 m2           45 % N

= 10 kg Urea

 

SP36         = 750 m2    x  100 kg P2O5/ha x 100 kg

10000 m2        36 % P2O5

= 20.83 SP36

 

KCl            = 750 m2    x 50 kg K2O  x 100 kg

10000 m2     60 % K2O

= 6.25 Kg KCl

 

3.      Jagung mempunyai jarak tanam 50 cm x 50 cm. Dosis pupuk 120 kg N; 90 kg P2O5 dan 60 kg K2O.

a.      Hitung kebutuhan pupuk masing-masing ?

b.      Apabila ada 2 lubang tempat pupuk pertananaman, berapa kebutuhan tiap-tiap pupuk per lubang pupuk ?

a.      Urea    = 120 kg N/ha   x 100 kg

45 % N

= 266 kg Urea/ha

SP36   = 90 kg P2O5   x 100 kg

36 % P2O5

= 250 kg SP36/ha

 

KCl      = 60 kg K2O/ha   x 100 kg

60 % K2O

= 100 kg KCl/ha

 

b.      Populasi tanaman     =       10000 m2

0,5 m x 0,5 m

= 40000 tanaman

= 80000 lubang pupuk

Urea    =          266 kg

80000 lubang pupuk

= 0,003325 kg

= 3.325 gram urea/lubang

 

SP36   =     250 kg SP36

80000 lubang pupuk

= 0,003125

= 3.125 gram SP36/lubang

 

KCl      =       100 kg KCl

8000 lubang pupuk

= 0,00125

= 1.25 gram KCl/lubang

 

4.     Buat 1 ton pupuk majemuk dengan grade 3 – 12 – 12, dari pupuk tunggal : ZA (30 % N); SP36 (36 % P2O5); KCl (60 % K2O).

ZA              : (1000 x 3) / 30           = 100 kg

SP36         : (1000 x 12) / 36         = 333.33 kg

KCl            : (1000 x 12) / 60         = 200 kg

Jumlah                                          = 633.33 kg

Untuk menjadi pupuk majemuk 1 ton, harus ditambahkan  366.67 kg bahan lain sebagai filler.
http://asgarsel.blogspot.com/2010/02/perhitungan-pupuk-anorganik.html

 

Karena tidak disertai dengan brosur yang lengkap, tekadang petani masih menemui  kesulitan  dalam menghitung  pupuk yang dibutuhkan . Berikut ini disajikan cara cara memperhitungkan itu.

Sebelum memupuk dengan NPK  terlebih dulu kita harus mengecek komposisinya supaya dapat menghitung banyaknya  pupuk yang dibutuhkan . Mungkin  juga untuk  menghitung  jumlah pupuk tunggal yang ditambahkan , bilamana  komposisi NPK yang kita punyai, tidak bias dengan tepat memenuhi dosisi pupuk.
Sebagai contoh jika kita punya NPK 15-15-15, sedang untuk memupuk  Mangga misalnya dibutuhkan 15 gr B, 15 gr P2O5 dan 20 gr K2O , Karena NPK 15-15-15 itu mengandung 15 % N, 15 % P2O5, dan 15 % K2O, maka kita harus menyediakan pupuk itu sebanyak 100 gram. Tapi itu belum cukup, sebab masih kurang  K2O lagi, sebangayk 2 gram. Kekurangan itu dapat kita penuhi dengan menambahkan  pupuk Kcl  yang harus ditambah kan  dipakai rumus 5/60 x 100 gram = 8.3 gram. Dalam rumus ini, angka 8 adalah angka  kekurangan K2O, sedangkan  angka pembagi 60 akrena kandungan K2O dalam pupuk  KCl sebesar 60 %.

Sekarang kita ambil contoh lagi . ,isal dosis  pemupukan mangga ini  berubah menjadi 20 gr N, 15 gr P2O5 dan 15 gr K2O, , sementara NPK yang kita punya tetap NP “ 15-15-15. Untuk  dapat  memenuhi dosis pemupukan , selain harus  disediakan NPK sebanyak 100 gram, masih harus  disediakan  pula urea sebanyak 5/46 x 100 gr = 10.9 gr. Dalam rumus ini angka 5 adalah angka kekurangan unsure N, sedang angka pembagi 46 adalah kandungan unsure hara N dalam pupuk urea sebesar 46 % N.

Kalau dosis pupuk Mangga itu missalnya,  menjadi 15 gr N, 20 gr P2O5 dan 15 gr K2O. Maka selain  haru disediakan  NPK 15-15-15 sebanyak 100 gr, juga masih  harus menyediakan  pupuk TSP sebanyak 4/46 x 100 gr = 10.9. Dalam rumus ini  angka 5 adalah angka kekurangan  P2O5 sedangkan angka pembagi 46 adalah kandungan P2O5 dalam pupuk TSP / SP.36 dalam pupuk TSP sebanyak 46 % atau SP. 36 %.
http://bapeluh.blogspot.com/2009/11/menghitung-pupuk-npk-untuk-tanaman.html

 

  • PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK UNTUK PEPAYA :

(A)    Kebutuhan pupuk kimia yang biasa digunakan oleh petani untuk tanaman

pepaya. Dari informasi yang didapat diketahui untuk menanam 400 pohon

pepaya membutuhkan 25 kg pupuk urea, 50 kg pupuk TSP,

dan 20 kg pupuk KCl.

(B)     Menghitung besarnya kandungan unsur hara yang diberikan pada tiap pohon,

yakni:

Urea per pohon = 25 kg / 400 pohon = 62,5 gram/pohon

TSP per pohon = 50 kg / 400 pohon = 125 gram/pohon

KCl per pohon = 20 kg / 400 pohon = 50 gram/pohon.

(C)     Menghitung besarnya unsur hara ( N, P dan K) dalam pupuk kimia.

–    Kadar N dalam urea : 46%, jadi N yang diberikan ke tanaman:

46% x 62,5 gram/pohon = 28,75 gram/pohon.

–    Kadar P dalam TSP : 48 % – 54%, jadi P yang diberikan ke tanaman:

50% x 125 gram/pohon = 62,5 gram/pohon.

–    Kadar K dalam KCl : 60 %, jadi K yang diberikan ke tanaman:

60% x 50 gr/pohon=30 gr/pohon.

(D)    Mengkonversi dan memformulasikan kandungan unsur hara dalam pupuk kimia

ke dalam pupuk organik. Setelah mengetahui kebutuhan hara (N, P dan K)

yang diperlukan pepaya, langkah selanjutnya adalah mencari besarnya

kandungan unsur hara (N, P dan K) yang terdapat pada bahan-bahan

penyusun pupuk organik

Pada dasarnya kebutuhan pupuk (NPK) untuk kecukupan perkembangan

pohon pepaya dapat disamakan dengan penggunaan Pupuk NPK (15.15.15)

dengan dosis 1,5 kg/tanaman/tahun, rincian dosis pupuk yang lazim menurut

umur tanaman muda adalah :

–          Umur 0 – 3 bulan : 20  gram/tanaman/bulan.

–          Umur 4 – 6 bulan : 50  gram/tanaman/bulan.

–          Umur > 7 bulan   : 100 gram/tanaman/bulan.

KANDUNGAN N P K YANG DIBUTUHKAN OLEH PEPAYA DEWASA

Unsur N  28,75  gram/pohon/bulan

Unsur P  62,50  gram/pohon/bulan

Unsur K  30     gram/pohon/bulan

INDOAGROW Perdagangan dan Investasi Agribisnis. PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK UNTUK PEPAYA. 10 februari 2012. Yogyakarta

Tugas Paper TIK Kelas H

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Teknologi informasi dan komunikasi saat ini merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, terutama manusia modern yang kehidupan sehari-harinya selalu bergantung pada peralatan-peralatan modern. Sebagai contoh adalah alat komunikasi handphone. Saat ini handphone merupakan benda ”must have” (yang harus dimiliki) semua orang, bahkan anak-anak sekalipun.

Salah satu manfaat teknologi informasi dan komunikasi adalah penggunaan internet. Internet tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dan sumber informasi, namun juga sebagai sarana rekreasi (hiburan). Saat ini telah berkembang begitu banyak social network (situs jejaring sosial) seperti facebook,twitter dan lain sebagainya. Situs-situs tersebut banyak digemari orang-orang di seluruh dunia, terutama kalangan remaja. Umumnya situs-situs tersebut digunakan sebagai wadah untuk mencari teman baru dan sebagai tempat untuk menunjukkan jati diri. Adapula fungsi lain sebagai tempat mengeluarkan gagasan atau opini kita mengenai suatu hal. Selain itu ada pula e-mail yang berfungsi sebagai alat komunikasi pengganti surat. Selain hal-hal di atas, internet juga merupakan salah satu sumber informasi ilmu pengetahuan yang banyak dimanfaatkan oleh kalangan pelajar sebagai referensi untuk menunjang pengetahuan yang telah mereka peroleh dari sekolah.

Namun, selain manfaat-manfaat tersebut internet juga memiliki sisi negatif yang perlu diwaspadai agar tidak menimbulkan kerugian bagi penggunanya. Salah satu kerugiannya adalah tersitanya waktu kita untuk melakukan kegiatan lain yang tidak kalah penting daripada menggunakan internet. Misalnya yang terjadi pada orang-orang penggemar berat internet yang rela berjam-jam menatap layar komputer atau handphone hanya untuk membuka facebook, twitter, atau situs-situs lain yang fungsinya hanya untuk bersenang-senang. Akibatnya, mereka lupa untuk melakukan hal-hal lain seperti belajar dan mengerjakan tugas penting lain. Selain itu, seperti yang telah kita ketahui situs jejaring sosial juga telah memunculkan banyak kasus penipuan, penculikan, bahkan tuduhan pencemaran nama baik karena terjadi kesalahpahaman antara pihak yang saling berkomunikasi dalam dunia maya, tanpa bertemu secara langsung. Hal-hal seperti inilah yang perlu diwaspadai oleh para pengguna internet.

Teknologi informasi dan komunikasi memang sangat penting manfaatnya dalam kehidupan manusia di zaman modern ini. Namun, hendaknya kita menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara bijak demi kenyamanan kita sendiri dan orang lain sesama pengguna teknologi informasi dan komunikasi.

Klasifikasi Tanaman

Klasifikasi Tanaman

Kana
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Cannaceae
Genus: Canna
Spesies: Canna indica L.

 

Bunga Sepatu
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Hibiscus
Spesies: H. rosa-sinensis

 

Pepaya

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Violales
Famili: Caricaceae
Genus: Carica
Spesies: Carica papaya L.

 

Mangga

Kerajaan: Plantae
Filum: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: M. Indica

 

Padi

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Oryza
Spesies: Oryza sativa L.

 

Bougenville

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Caryophyllales
Famili: Nyctaginaceae
Genus: Bougainvillea
Jenis: Bougenvillea spectabillis Wild

 

Mawar

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Rosales
Famili: Rosaceae
Upafamili: Rosoideae
Genus: Rosa L.

 

Krisan

Kingdom: Plantae
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Genus: Chrysanthemum
Spesies: Chrysanthemum x grandiflorum

 

Sikat botol

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Callistemon
Spesies: Callistemon viminalis G. Don

 

Putri Malu

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Genus: Mimosa
Spesies: Mimosa pudica

 

Pandan

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Pandanales
Famili: Pandanaceae
Genus: Pandanus
Spesies: Pandanus parkinson

 

Benalu

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Santalales
Famili: Loranthaceae
Genus: Loranthus
Spesies: Loranthus Jacq.

 

Kacang tanah

Kerajaan: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliophyta
Ordo: Leguminales
Famili: Papilionaceae
Genus: Arachis
Spesies: Arachis hypogeae L.

 

 

 

Lidah buaya

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Asparagales
Famili: Asphodelaceae
Genus: Aloe
Spesies: Aloe vera L.

 

 

Belimbing Wuluh

Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Geraniales
Famili: Oxalidaceae
Genus: Averrhoa
Spesies: Averrhoa bilimbi L.

 

Palem Putri

Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Genus: Veitchia
Spesies: Veitchia merillii (Becc.) H. E. Moore.

 

Laporan Praktikum Sosiologi Pertanian

1.1 Deskripsi keluarga petani

Petani yang kami wawancarai bernama pak Samar, usia 61 tahun. Pendidikan formal tertinggi sekolah dasar (SD). Pekerjaan utama pak Samar adalah petani dan beliau tidak memiliki pekerjaan sampingan. Pak Samar bekerja menjadi petani sejak beliau masih muda karena orangtuanya juga bekerja sebagai petani. Jumlah anggota keluarga pak Samar berjumlah 5 orang, terdiri dari pak Samar (kepala keluarga), istri dan 3 orang anak. Ketiga orang anak pak Samar bekerja wirausaha dengan membuka bengkel di rumahnya. Keluarga pak Samar bertempat tinggal di RT 14 Dusun Ngrangin, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Pak Samar memiliki lahan sawah sewa seluas 9 ha dengan harga sewa per tahun sebesar Rp 8.000.000,00/ha. Selain itu, pak Samar juga memiliki lahan tegal seluas 0,25 ha yang merupakan warisan dari orangtua.

 

1.2 Status sosial ekonomi keluarga petani

Keluarga pak Samar merupakan keluarga sederhana yang tinggal di sebuah rumah berukuran 6 x 13 m2. Kondisi rumah keluarga pak Samar cukup bagus dengan dinding tembok dan lantai keramik serta genteng tanah liat. Alat komunikasi yang dimiliki keluarga pak Samar adalah satu unit televisi. Status sosial keluarga pak Samar menurut Tjondronegoro (2001) termasuk status sosial yang paling bawah karena pekerjaan utama pak Samar adalah petani penggarap sawah dan buruh tani.

Menurut Sadikin dan Samandawai (2007) posisi pemilik tanah, terutama pemilik tanah luas, masih sangat berpengaruh dalam kegiatan produksi padi, karena pemilik tanah merupakan penguasa faktor produksi (tanah), tempat bergantungnya buruh tani. Namun demikian, pemilik tanah cukup sadar bahwa dia membutuhkan buruh tani, seperti halnya buruh tani memerlukan lapangan pekerjaan.

 

 

1.3 Kebudayaan petani

Pak Samar melakukan kegiatan bercocok tanam di sawah dan di ladang dengan komoditi yang ditanam antara lain padi, jagung, ubi dan singkong. Pak Samar tidak pernah bercocok tanam dengan komoditi sayur dan buah-buahan. Hal ini dikarenakan kondisi topografi di lahan pak Samar yang merupakan dataran rendah dengan suhu udara yang cukup tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk ditanami komoditi sayur dan buah-buahan. Oleh karena itu, pak Samar memilih komoditi pertanian berupa tanaman yang sesuai untuk ditanam di tempat bersuhu rendah.  Pengolahan tanah sebelum ditanami menggunakan mesin traktor dan tenaga hewan (sapi). Teknik menggunakan mesin traktor dan tenaga sapi dilakukan secara bergantian sesuai kebutuhan. Jarak tanam padi yang diterapkan pak Samar yaitu seluas 20 x 20 cm. Sedangkan jarak tanam jagung yaitu seluas 30 x 70 cm. Untuk pemupukan, pak Samar menggunakan pupuk organik berupa pupuk kandang dan pupuk anorganik kimia berupa pupuk urea dan pupuk ZA. Pupuk urea yang digunakan sebesar 40 kg, pupuk ZA sebesar 20 kg. Penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan tenaga manusia.

Cara bercocok tanam padi :

 

 

 

 

 

                                                                                          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adapun komoditi yang ditanam dalam satu tahun di lahan yang digarap pak Samar sebagai berikut.

Komoditi yang ditanam pada lahan sawah:

Bulan ke-

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Komoditas

Padi

Jagung

Padi

Jagung

 

 

Komoditi yang ditanam pada lahan tegal:

Bulan ke-

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Komoditas

Ubi

Singkong

Ubi

Singkong

 

Pak Samar memilih komoditas seperti tercantum dalam tabel di atas dengan pertimbangan lokasi lahan yang berada di daerah dataran rendah yang mendapat banyak sinar matahari.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Purwono dan Hartono (2005) yang menyatakan bahwa tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Intensitas matahari sangat penting bagi tanaman, terutama dalam masa pertumbuhan. Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan sinar matahari langsung. Dengan demikian, hasil yang diperoleh akan maksimal. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat. Produksi biji yang dihasilkan pun kurang baik, bahkan tidak dapat terbentuk buah.

Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain jenis andosol (berasal dari gunung berapi), latosol dan grumosol. Pada tanah bertekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik, tetapi perlu pengolahan secara baik serta aerasi dan drainase yang baik. Tanah bertekstur lempung atau liat berdebu (latosol) merupakan jenis tanah terbaik untuk pertumbuhan tanaman jagung. Tanaman jagung akan tumbuh dengan baik pada tanah yang subur, gembur, dan kaya humus.

Kemiringan tanah yang optimum untuk tanaman jagung maksimum 8%. Hal ini dikarenakan kemungkinan terjadi erosi tanah sangat kecil. Pada daerah dengan tingkat kemiringan 5-8% sebaiknya dilakukan pembuatan teras. Tanah dengan kemiringan lebih dari 8% kurang sesuai untuk tanaman jagung.

Begitu pula dengan tanaman ubi jalar. Menurut Rukmana (2000), syarat tumbuh ubi jalar yaitu dataran rendah hingga ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl). Di dataran tinggi (pegunungan) berketinggian 1000 m dpl, ubi jalar masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi umur panen menjadi panjang dan hasilnya rendah.

Pengandalian hama dan penyakit tanaman yang diterapkan pak Samar adalah dengan menggunakan pestisida kimia, yaitu perstisida Desis.

 

1.4 Perubahan sosial budaya petani terkait cara bercocok tanam

Pada saat awal bekerja sebagai petani yaitu sekitar tahun 1960, pak Samar mengolah lahan pertaniannya menggunakan tenaga hewan karena memang pada saat itu penggunaan alat dan mesin pertanian yang canggih belum begitu banyak diterapkan dan kebutuhan masyarakat akan komoditas pertanian juga belum terlalu tinggi. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, kini pak Samar telah menggunakan mesin-mesin canggih untuk mengolah tanah, misalnya mesin traktor untuk membajak sawah.

Menurut Anonymousa (2012), alat dan mesin pertanian memiliki berbagai peranan dalam usaha pertanian, antara lain:

  • Menyediakan tenaga untuk daerah yang kekurangan tenaga kerja
  • Antisipasi minat kerja di bidang pertanian yang terus menurun
  • Meningkatkan kapasitas kerja sehingga luas tanam dan intensitas tanam dapat meningkat
  • Meningkatkan kualitas sehingga ketepatan dan keseragaman proses dan hasil dapat diandalkan serta mutu terjamin
  • Meningkatkan kenyamanan dan keamanan sehingga menambah produktivitas kerja
  • Mengerjakan tugas khusus atau sulit dikerjakan oleh manusia
  • Memberikan peran dalam pertumbuhan di sektor non pertanian

Sebagai contoh, pekerjaan pengolahan tanah sawah bila menggunakan tenaga manusia diperlukan 50 hari kerja per hektar. Bila dibajak dengan kerbau, membutuhkan 25 hari kerja per hektar. Sedangkan jika dikerjakan dengan traktor roda dua, cukup 10 jam per hektar.

 

1.5 Lembaga yang berkaitan dengan pengadaan sarana produksi, tenaga kerja dan pemasaran hasil usaha petani sampel

Dalam melakukan kegiatan pertanian, pak Samar memperoleh bibit dari hasil panen sebelumnya. Pupuk kimia diperoleh dengan cara membeli dari lembaga pertanian yang ada di Dusun Ngrangin. Sedangkan pupuk organik diperoleh dengan cara membeli dari petani pemilik lahan. Tenaga kerja yang bekerja diperoleh secara sukarela yaitu dari tetangga sekitar rumah yang bersedia membantu melakukan kegiatan pertanian. Tenaga kerja tersebut diberi upah harian sesuai dengan tingkat kesulitan pekerjaan yang dilakukan masing-masing tenaga kerja. Hasil panen dari lahan yang digarap oleh pak Samar sebagian kecil dikonsumsi keluarga sendiri dan sebagian besar dijual. Adapun pembeli komoditi pertanian pak Samar adalah pedagang yang berjualan di pasar tradisional Pakis. Pedagang akan mendatangi pak Samar untuk membeli komoditi pertanian. Komoditi beras dijual seharga Rp 185.000,00 per kwintal.

 

Kesimpulan

Pak Samar adalah seorang petani penggarap lahan yang bekerja pada suatu lahan sewa seluas 9 hektar dan lahan tegal warisan seluas 0,25 hektar. Status sosial pak Samar tergolong kalangan bawah karena beliau merupakan petani penggarap lahan sawah dan petani buruh. Pak Samar tergolong petani maju karena beliau telah melakukan pengolahan lahan menggunakan alat dan mesin pertanian modern yang canggih dan menggunakan pestisida sintesis yang penggunannya telah disesuaikan dengan kondisi tanaman dan lingkungan sekitar. Komoditi pertanian yang ditanam pak Samar antara lain padi, jagung, ubi jalar dan singkong. Komoditas padi dan jagung ditanam di lahan sawah, sedangkan ubi jalar dan singkong ditanam di lahan tegal. Pergiliran tanaman yang dilakukan pak Samar berdasarkan musim dan kondisi cuaca pada saat itu. Hal ini dikarenakan kondisi cuaca dan lingkungan berdampak langsung pada tanaman budidaya. Alasan pemilihan komoditas padi, jagung, ubi jalar dan singkong adalah keadaan lingkungan tempat sawah dan tegal yang digarap pak Samar merupakan daerah dataran rendah yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Kondisi ini sangat sesuai untuk komoditas pertanian yang ditanam pak Samar. Hasil panen sebagian kecil dikonsumsi keluarga dan sebagian besar dijual ke pedagang di pasar tradisional Pakis.

 

 

 

Anonymous a. 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Alat_dan_mesin_pertanian
Diakses tanggal 9 Juni 2012

Purwono; Hartono, Rudi. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya: Bogor

Rukmana, Rahmat. 2000. Ubi Jalar: Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius: Yogyakarta

Sadikin; Samandawai, Sofwan. 2007. Konflik Keseharian di Pedesaan Jawa. Yayasan Akatiga: Bandung

Sediono M.P. Tjondronegoro. 2001. Jurnal Analisis Sosial: Sumber Daya Agraria

Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Perbedaan masyarakat pedesaan dan perkotaan

Perbedaan Masyarakat Pedesaan Masyarakat Perkotaan
Kehidupan keagamaan Kegiatan keagamaan antar masyarakat terjalin kuat. Contoh: sholat berjamaah, pesantren tradisional. Kegiatan keagamaan antar masyarakat kurang kuat.
Sosial Interaksi sosial masyarakat terjalin kuat. Interaksi sosial masyarakat kurang kuat.
Ekonomi Tingkat ekonomi masyarakat mayoritas tingkat menengah ke bawah. Tingkat ekonomi masyarakat mayoritas tingkat menengah ke atas.
Individualisme Sikap individualisme rendah, suka bekerjasama. Sikap individualisme tinggi, lebih suka menyelesaikan tugas secara mandiri
Pembagian kerja Pekerjaan dibagi sama rata bagi tiap-tiap anggota masyarakat. Pembagian kerja diatur sesuai tingkat pendidikan, pangkat, kekayaan tiap-tiap anggota masyarakat.
Macam pekerjaan Macam pekerjaan cenderung seragam atau hampir sama. Contoh: petani, peternak, petambak. Macam pekerjaan beragam. Contoh: pengusaha, pebisnis, karyawan, pegawai perusahaan negara, dosen,dll.
Jalan pikiran Umumnya masih terpaku pada paradigma kuno, wejangan dari tetua, atau peraturan adat. Berpandangan jauh ke depan, berorientasi pada pencapaian kesejahteraan hidup.
Jalan kehidupan Dari aspek kesejahteraan kurang Cukup
Perubahan-perubahan sosial Kecil kemungkinan. Contoh: sikap gengsi

Prinsip Umum Pemakaian Ejaan

Prinsip-prinsip umum pemakaian ejaan:

  • Tanda tanya (?), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!) ditulis rapat dengan huruf akhir dari kata yang mendahului.
  • Setelah tanda tanya (?), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!) harus ada satu spasi kosong.
  • Tanda petik ganda (“…”), petik tunggal (‘…’), kurung () diketik rapat dengan kata, frasa, kalimat yang diapit.
  • Tanda hubung (-), tanda pisah (  ̶ ), garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan yang akan mengikutinya.
  • Tanda perhitungan: sama dengan (=), tambah (+), kurang (-), kali (x), bagi (:), lebih kecil (<), lebih besar (>) ditulis dengan jarak satu spasi dengan huruf yang mendahului dan yang mengikutinya.
  • Penulisan jarak antarkata berspasi tunggal. Tepi kanan teks tidak harus rata oleh karena itu kata pada akhir baris tidak harus dipotong. Jika terpaksa harus dipotong, tanda hubungnya ditulis setelah huruf akhir, tanpa disisipi spasi, bukan diletakkan di bawahnya. Tidak boleh meletakkan spasi antarkata dalam satu baris yang bertujuan meratakan tepi kanan.

Sumber: Tim Dosen Pengampu Mata Kuliah. 2010. Modul Bahasa Indonesia dan Penulisan Ilmiah. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya: Malang

Vitamin C

Sumber utama vitamin adalah buah-buahan segar. Terutama vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan dan membantu meningkatkan imunitas tubuh. Kebutuhan vitamin C tubuh sebesar 60-100 mg per hari. Adapun manfaat vitamin C sebagai berikut:

—  Sebagai antioksidan yang membantu kerja enzim.

—  Membantu pembentukan jaringan kolagen.

—  Membantu metabolisme protein.

—  Mempercepat penyembuhan luka.

—  Meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi.

—  Membantu penyerapan zat besi dan mencegah kanker.

Apabila tubuh kita kekurangan vitamin C akan mengakibatkan defisiensi. Gejala defisiensi vitamin C antara lain:

—  Sariawan

—  Gusi berdarah

—  Gangguan saraf

—  Anemia

—  Infeksi

—  Kulit kasar

Namun apabila terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C, tubuh juga akan mengalami diare dan bertambah beratnya kerja ginjal dan hati.

Berikut ini beberapa contoh sumber vitamin C dari buah-buahan:

—  Jambu biji    : Kandungan vitamin C sebesar 183 mg/100 gr.

—  Kelengkeng : Kandungan vitamin C sebesar 84 mg/100 gr.

—  Jeruk            : Kandungan vitamin C sebesar 53 mg/100 gr.

—  Melon          : Kandungan vitamin C sebesar 42 mg/100 gr.

—  Anggur        : Kandungan vitamin C sebesar 34 mg/100 gr.