BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi bahan tanam

Bahan tanam merupakan bagian tumbuhan yang ditanam, berupa biji, potongan batang (setek), atau belahan rumpun. Bagian tanaman yang dapat dijadikan bahan tanaman tergantung pada jenis tanamannya dapat berupa daun, ranting, cabang, batang, akar, rhizome, umbi, buah dan biji. Bahkan dengan teknologi tinggi jaringan tanaman bagian manapun dapat digunakan sebagai bahan tanaman. Semua organ tanaman dapat digunakan sebagai bahan tanam, namun harus efisien, tersedia dan berpotensi produksi tinggi. Bahan Tanam sangat menentukan produktifitas tanaman (+ > 50 %) baik kuantitas/kualitas » sifat genetis dan daya tumbuh yang baik . bahan tanam dapat dibedakan menjadi dua yaitu benih dan bibit.

Media Tanam

Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembaban dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembaban daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.

2.2 Media tanam non tanah

daya pegang air (kemampuan media tanaman untuk mempertahankan air di dalam ruang porinya, sehingga media tanam tidak cepat kering); Rewetability (kemampuan media tanam untuk dapat kembali basah setelah betul-betul kering); rasio bobot dan volume (relatif lebih ringan meski volume besar); porositas (banyaknya ruang pori sebagai tempat pertukaran udara di dalam media tanam); ketersediaan unsur hara (makanan bagi tanaman); daya sanggah atau buffer Ph (potensi media tanam untuk mempertahankan Ph agar cenderung tetap atau berada pada kisaran tertentu); kapasitas tukar kation (nilai kapasitas media tanam dalam bertukar kation yang dimilikinya dengan ion H+ yang dilepaskan oleh tanaman) dan sterilitas (kualitas biologis media tanam yang menjamin bahwa media tanam yang digunakan bebas dari kandungan hama dan penyakit)

Rockwool

Rockwool atau serat batu adalah media tanam bibit buatan negeri Belanda. Menurut ing. Ronald JPJ Serhalawan dari PT Joro, distributornya di Bogor, media yang masuk ke Indonesia 3-4 tahun lalu ini terbuat dari batuan gunung berapi. Melalui proses pemanasan pada suhu 1.500-1.600 derajat celcius, batu tersebut diubah menjadi serat.

Serat batu sama sekali tidak mengandung nutrient atau unsur hara, sehingga pemakaiannya mutlak memerlukan pupuk. Di Indonesia media tanam ini banyak dipakai dalam penyemaian dan penanaman stoberi, melon, serta tomat. Bentuknya beragam, Growing plugs yang berupa silinder kecil berdiameter 5 cm tepat dipakai dalam penyemaian benih. Growing blocks berbentuk kubus dengan lubang dangkal di bagian tengah, ditujukan untuk pembesaran tanaman. Sedangkan Growing slabs khusus untuk tanaman dewasa. Tanaman yang hendak dipindahkan ke wadah/pot yang lebih besar tidak perlu dicabut akarnya, melainkan cukup dibenamkan ke dalam media baru.

Microspons ceramic

Microspons ceramic adalah media tanam yang diimpor dari Jepang. Di Indonesia ia dipasarkan dengan nama Isolite CG. Media ini dibuat dari bahan dasar tanah diatomik melalui proses pemanasan 1.000 derajat celcius. Bentuknya berupa butiran kecil berwarna kecoklatan. Di pasaran tersedia Isolite CG berdiameter 1 mm, 2 mm, 4 mm, 6 mm dan 10 mm.

Butiran Isolite CG mengandung pori-pori mikro hingga 70%, yang akan segera terisi air atau larutan hara jika dibasahi. Meskipun demikian ia tidak mengembang atau pecah setelah menyerap air. Oleh karena itu media ini bisa digunakan lagi setelah bibit dipindahkan.

Isolite CG hanya berfungsi sebagai pencampur media tanam. Kalau akan dipakai, ia harus dicampur dengan pasir atau tanah. Perbandingan Isolite CG dengan pasir atau tanah yang dianjurkan adalah 10-20 : 80-90 %. Selain popular untuk pembibitan tanaman, media ini banyak dipakai di lapangan golf.

Co-Co-Pot

Media tanam bibit buatan Denmark ini terbuat dari gambut sphagnum bercampur vermikulit. Bentuk co-co-pot keping bulat berwarna coklat. Diameternya 42 mm dan tebal 8 mm. di bagian tengah terdapat lubang dangkal sebagai tempat meletakkan benih. Media tanam bibit ini telah diarahkan untuk pembibitan missal dengan system mekanisasi.

Pemakaian co-co-pot sangat mudah. Keping media cukup dibasahi dengan air sehingga mengembang. Selanjutnya benih dimasukkan ke lubang yang tersedia. Media tanam ini sudah mengandung pupuk dan pestisida, sehingga perlakuan yang diperlukan hanyalah menjaga kelembapannya. Setelah cukup umur, bibit tanaman dipindahkan ke kebun beserta mediannya.

Zeolit

Zeolit yang ditawarkan sebagai media tanam bibit sangat beragam. Semuanya merupakan produksi dalam negeri. Sebagian diantaranya telah mengalami proses pemanasan, namun ada juga yang tidak. Media ini tidak mengandung unsur hara, sehingga saat dipakai harus ditambahkan pupuk.

Di pasaran dapat dijumpai zeolit dengan berbagai ukuran. Ukuran paling kecil tampak seperti butiran pasir. Ukuran inilah yang dianjurkan dipakai untuk membibitkan tanaman. Butiran lebih besar yang menyerupai kerikil lebih dianjurkan untuk tanaman dewasa.

Fungsi Media Tanam:

  • Tempat berkembang dan tumbuhnya akar tanaman secara sehat,
  • Penopang tanaman dan bonggol agar tumbuh secara baik
  • Pengendali dan penyedia air dan pupuk secara merata.

2.3 Fungsi Media tanam

2.4 Pengertian perkecambahan

Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.

 

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bagod Sudjadi, 2006)

 

Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji. Proses perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar. (Istamar Syamsuri, 2004)

 

Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. (Salisbury, 1985)

 

Perkecambahan biji berhubungan dengan aspek kimiawi. Proses tersebut meliputi beberapa tahapan, antara lain imbibisi, sekresi hormon dan enzim, hidrolisis cadangan makanan, pengiriman bahan makanan terlarut dan hormon ke daerah titik tumbuh atau daerah lainnya, serta asimilasi (fotosintesis). (Bagod Sudjadi, 2006)

Proses penyerapan cairan pada biji (imbibisi) terjadi melalui  mikropil. Air yang masuk ke dalam kotiledon menyebabkan volumenya bertambah, akibatnya kotiledon membengkak. Pembengkakan tersebut pada akhirnya menyebabkan pecahnya testa. (Bagod Sudjadi, 2006)

Secara fisiologi, proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting, meliputi:

  1. Absorbsi air
  2. Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
  3. Transpor materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif tumbuh.
  4. Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru.
  5. Respirasi
  6. Pertumbuhan (Mayer dan Mayber, 1975)

Banyak factor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang bersifat internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promoter dan inhibitor perkecambahan, terutama asam gliberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal yang merupakan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya, dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan. (Mayer dan Mayber, 1975)

Proses perkecambahan dipengaruhi oleh oksigen, suhu, dan cahaya. Oksigen dipakai dalam proses oksidasi sel untuk menghasilkan energi. Perkecambahan memerlukan suhu yang tepat untuk aktivasi enzim. Perkecambahan tidak dapat berlangsung pada suhu yang tinggi, karena suhu yang tinggi dapat merusak enzim. Pertumbuhan umumnya berlangsung baik dalam keadaan gelap. Perkecambahan memerlukan hormone auksin dan hormone ini mudah mengalami kerusakan pada intensitas cahay yang tinggi. Karena itu di tempat gelap kecambah tumbuh lebih panjang daripada di tempat terang. (Istamar Syamsuri, 2004)

2.5 MACAM MACAM TIPE PERKECAMBAHAN

Macam-macam Perkecambahan pada Biji

1.Perkecambahan hipogeal:
apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga tertarik keatas tanah tetapi kotiledon tetap di dalam tanah.
Contoh: perkecambahan pada biji kacang tanah dan kacang kapri…

2.Perkecambahan epigeal:
apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga
mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah.
Contoh: perkecambahan pada biji buncis dan biji jarak.

 

2.6 Pengertian Benih menurut Sadjad

benih ialah biji tanaman yang dipergunakan untuk keperluan pengembangan usaha tani, memiliki fungsi agronomis atau merupakan komponen agronomi.

 

2.8 Macam-macam Perbanyakan vegetatif alami:

1. Runner atau sulur atau stolon atau geragih

Batang yang menebal dan tumbuh secara horizontal sepanjang atau tumbuh di bawah permukaan tanah dan pada interval tertentu memunculkan tunas ke permukaan tanah. Contoh: strawberry, lili paris, arbei.

2. Corm

Pangkal batang yang membengkok dan memadat serta mengandung cadangan makanan. Pada dasarnya cormus terdapat subang tempat tumbuhnya akar sedangkan di bagian atasnya (ujung) terdapat mata tunas. Contoh: gladiol, bunga coklat.

3. Bulb (umbi lapis)

Bahan tanam yang terdiri dari suatu batang yang pipih dan pendek berbentuk cawan dikelilingi sisik yang merupakan struktur seperti daun berdaging, sisik ini menutupi tunas (titik tumbuh). Contoh: bawang, tulip.

4. Tuber (umbi batang)

Batang yang mempunyai daging tebal yang terdapat di dalam tanah dan mengandung beberapa mata tunas. Contoh: kentang, talas.

5. Rhizome

Akar rimpang yang memiliki mata tunas baru dan tiap mata tunas akan membengkok sebagai cadangan energi. Contohnya: jahe, kunyit.

6. Anakan

Hasil pembiakan vegetatif induk yang berkembang sendiri yang tumbuh di dekat tanaman induk. Contoh: sansiviera, bambu air.

Macam-macam perbanyakan vrgrtatif buatan tanpa perbaikan sifat :

  1. Cangkok
  2. Stek

Macam-macam perbanyakan vegetatif buatan dengan perbaikan sifat:

1. Okulasi

2. Grafting (penyambungan)

2.9 KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN PERBANYAKAN TANAMAN SECARA GENERATIF DAN VEGETATIF

Cara pebanyakan tanaman buah dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu perbanyakan generatif dan perbanyakan vegetatif.

Perbanyakan generatif (biji)

Keuntungan :
-. Sistem perakaran lebih kuat
-. lebih mudah diperbanyak
-. jangka waktu berbuah lebih panjang

Kelemahan :
-. waktu untuk mulai berbuah lebih lama
-. sifat turunan tidak sama dengan induk
-. ada banyak jenis tanaman produksi benihnya sedikit atau benihnya sulit untuk berkecambah

Perbanyakan Vegetatif

Keuntungan :
-. lebih cepat berbuah
-. sifat turunan sesuai dengan induk
-. dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan

Kelemahan :
-. perakaran kurang baik
-. lebih sulit dikerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu
-. jangka waktu berubah menjadi pendek

2.10  Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Alami

1. Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti

2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.

3. Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.

4. Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.

(Rochiman.1973)