TUGAS STELA M-5(YOSI CHARINASARI/ KELAS P)

TUGAS M4 (YOSI CHARINASARI/P)

TUGAS STELA MINGGU KE-4

TUGAS STELA M 3 (YOSI CHARINASARI/KELAS:P)

TUGAS STELA MINGGU 3

TUGAS STELA M:2 (YOSI CHARINASARI/KELAS:P)

TUGAS STELA MINGGU 2

TUGAS STELA MINGGU KE-3 (KELOMPOK:2 KELAS:P)

TUGAS STELA MINGGU KE-3

TUGAS STELA MINGGU KE-2 (KELOMPOK 2, KELAS P)

TUGAS STELA 2013

Laporan besar Sosiologi Pertanian 2012

LAPORAN

PRAKTIKUM SOSIOLOGI PERTANIAN

DI DUSUN JAMBON DESA PAKIS KEMBAR

Oleh

Kelompok 3 (Kelas N)

  1. Baharuddin Yusuf       (115040207111025)
  2. Aditya Affuan              (115040207111029)
  3. Yosi Charinasari          (115040201111188)
  4. Carla Leany                  (115040200111195)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji sukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “ Laporan Praktikum Sosiologi Pertanian di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar “ dengan baik dan tepat waktu.

Dalam menyusun Laporan Praktikum Sosiologi Pertanian ini berdasarkan kenyataan kegiatan yang telah di laksanakan di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar. Laporan ini memaparkan tentang  Deskripsi Petani, Status Sosial Keluarga Petani, Kebudayaan Petani, Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam, Lembaga Yang Berkaitan dengan Penyediaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Desa Pakis Kembar, Dusun Jambon.

Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan, terutama kepada :

  1. Prof.DR.Keppi Sukesi,M.S. dan Bapak Mangku Purnomo, selaku dosen mata kuliah Sosiologi Pertanian.
  2. Agus Sujiwo, selaku Asisten Praktikum mata kuliah Sosiologi Pertanian.
  3. Seluruh Asisten Praktikum mata kuliah Sosiologi Pertanian yang sudah membantu terlaksananya kegiatan Praktikum Lapang.
  4. Teman-teman kelompok praktikum Sosiologi Pertanian yang sudah bekerja sama dalam rangka penulisan laporan ini.
  5. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan laporan di masa yang akan datang. Akhir kata, penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri.

 

 

Malang, 8 Juni 2012

 

 

i

Penulis

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Tujuan. 2

BAB II ASPEK SOSIOLOGIS PETANI. 3

2.1 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani  Bapak Ngaturi (Oleh Yosi Charinasari 115040201111188. 3

2.1.1 Deskripsi Petani 3

2.1.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani 4

2.1.3 Kebudayaan Petani 5

2.1.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam.. 7

2.1.5 Lembaga Yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani 9

2.1.6 Kesimpulan. 10

2.2 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani  Bapak Ahmad (Oleh Aditya Affuan P 115040207111029) 112

2.2.1 Deskripsi Petani 12

2.2.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani 12

2.2.3 Kebudayaan petani. 13

2.2.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam.. 15

2.2.5 Lembaga Yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani 15

ii

2.2.6 Kesimpulan. 16

2.3 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani Bapak Agus Salam (Oleh Baharuddin Yusuf   115040207111025) 18

2.3.1. Deskripsi Petani 18

2.3.2. Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani 18

2.3.3 Kebudayaan Petani 19

2.3.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam.. 22

2.3.5 Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani 22

2.3.6 Kesimpulan. 22

2.4 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani Bapak Suparman (Oleh Carla Leany W.N.S  115040200111195) 24

2.4.1 Deskripsi Keluarga Petani 24

2.4.2. Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani 24

2.4.3. Kebudayaan Petani 26

2.4.4.Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam.. 29

2.4.5. Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani 31

2.4.6. Kesimpulan. 32

BAB III  PENUTUP. 34

5.1. Kesimpulan. 34

5.2. Saran. 35

LAMPIRAN.. 36

 

iii

 

 

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam meningkatkan perekonomian di negara Indonesia, hal yang paling penting adalah sektor pertaniannya, karena dari sektor pertanian, perekonomian bangsa dapat meningkat. Kegiatan pertanian sangat berpengaruh dalam meningkatkan kemajuan perekonomian, mengingat kebutuhan serta pasokan komoditas pertanian sebagai kebutuhan pokok manusia jumlahnya sangat besar dan bernilai tinggi dalam skala yang besar.

 

Kehidupan dalam masyarakat satu dengan masyarakat yang lain berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dikarenakan faktor sosial dari masyarakat itu sendiri. Misalnya adalah perbedaan dalam kebudayaan dalam masyarakat tersebut. Dalam praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 2-3 Juni 2012 di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar, kemajuan usaha pertanian yang berkaitan dengan aspek-aspek sosiologis misalnya aspek kebudayaan, stratifikasi sosial, kelembagaan, dan jaringan sosial pada umumnya adalah sama. Dari aspek kebudayaan, kemajuan usaha pertanian pada masyarakat Dusun Jambon masih bersifat tradisional dalam pengolahan lahan pertaniannya, baik itu pada lapisan masyarakat atas, menengah, dan masyarakat bawah. Stratifikasi sosial tidak mempengaruhi aspek kebudayaan dalam masyarakat tersebut, hal tersebut dikarenkan oleh aspek kebudayaan yaitu, untuk memajukan usaha pertanian pada umumnya sama yaitu bersifat tradisional dalam pengolahan lahannya.

 

Kegiatan yang kami lakukan pada praktikum lapang sosiologi pertanian yang dilaksanakan pada tamggal 2-3 Juni 2012 bertujuan untuk menggali informasi kepada petani skala kecil sebagai narasumber yang berada di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Banyak hal yang didapatkan terutama tentang pengalaman berbagi cerita mengenai kebudayaan yang ada pada daerah tersebut, stratifikasi sosial yang terjadi antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya, kelembagaan yang ada di desa mulai dari yang berada di tingkat desa hingga RT/RW dan pada masing-masing kelompok tani. Hal tersebut semakin menambah wawasan tentang sosiologi pertanian yang ada di desa dan sesuai dengan tujuan kami melakukan praktikum lapang yakni untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman aspek-aspek sosiologis pada tingkat petani dan pada tingkat desa.

 

Kegiatan praktikum ini terdiri dari tiap kelompok dalam satu kelas dan terbagi atas empat orang anggota dalam kelompok ini, sehingga laporan yang tersusun merupakan gabungan dari beberapa responden oleh tiap penggali informasi yang berbeda. Namun secara keseluruhan hampir sama dalam hal kebudayaan, stratifikasi, kelembagaan dan jaringan sosial yang ada karena kegiatan ini dalam satu tempat yang sama pada Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

 

 

1.2 Tujuan

Tujuan dilaksanakannya praktikum lapang sosiologi pertanian pada tanggal 2-3 Juni 2012 di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar adalah memperoleh pengetahuan dan pemahaman secara langsung tentang kemajuan usaha pertanian yang berkaitan dengan aspek-aspek sosiologis diantaranya adalah aspek kebudayaan, stratifikasi sosial, kelembagaan, dan jaringan sosial dalam masyarakat Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar baik pada tingkat petani dan tingkat desa.

 

 

 

BAB II
ASPEK SOSIOLOGIS PETANI

2.1 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani  Bapak Ngaturi (Oleh Yossi Charinasari 115040201111188)

 

2.1.1 Deskripsi Petani

Pada tanggal 2-3 Juni 2012, saya melakukan praktikum lapang Sosiologi Pertanian di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Petani yang saya kunjungi ini bernama Pak Ngaturi. Pada saat melakukan wawancara, saya disambut dengan senang hati oleh Pak Ngaturi dan beliau bersedia untuk diwawancarai. Pak Ngaturi adalah seorang petani berusia 32 tahun. Beliau bertempat tinggal di Desa Pakis Kembar, Dusun Jambon Rt.03 Rw.02, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang bersama seorang istri yang bernama Ibu Kinayah, dan memiliki 2 orang anak yang bernama Abdul Ghofur dan Luqman serta 2 orang saudaranya. Tingkat pendidikan Pak Ngaturi dapat dikatakan rendah karena hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar ( SD ). Petani merupakan pekerjaan sampingan yang ditekuni sejak beberapa tahun yang lalu, sedangkan pekerjaan utama Pak Ngaturi adalah  penjual tape beras ketan hitam. Beliau adalah seorang penjual tape beras ketan hitam di desa tersebut. Pak Ngaturi memiliki tegal miliknya sendiri dengan luas 1500 m2, tegal tersebut merupakan tanah warisan dari orangtuanya. Kesibukan lain yang dilakukan Pak Ngaturi bersama keluraga adalah memelihara hewan ternak ayam sebanyak 20 ekor.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga

Luas lahan pertanian yang dimiliki Pak Ngaturi sejak awal berkeluarga sampai saat ini dapat dikatakan tidak mengalami perubahan. Adapun keterangannya adalah sebagai berikut :

 

Jenis Lahan

Luas Lahan Awal (Lahan Warisan)

Luas Lahan Saat ini

2012

Tegal

1500 m2

1.500 m2

 

Dari keterangan di atas lahan milik Pak Ngaturi tidak mengalami pertambahan luas dikarenakan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor ekonomi dari bapak Ngaturi dan faktor yang kedua adalah pekerjaan utama Pak Ngaturi bukanlah seorang petani melainkan seorang penjual tape beras ketan hitam. Dan tanah yang dimiliki sejak awal merupakan warisan dari orang tua yang sampai saat ini dirawat oleh beliau. Dalam wawancara yang saya lakukan, Pak Ngaturi mengatakan bahwa tidak akan menjual tanah pemberiaan dari orang tuanya kecuali untuk disewakan secara tahunan kepada orang lain.

 

Rumah berukuran 12 m x 20 m yang ditempati Pak Ngaturi bersama keluarga merupakan rumah miliknya sendiri. Rumah Pak Ngaturi berlantai tegel/keramik, dinding tembok, dan menggunakan genteng biasa. Jadi dapat dikatakan rumahnya sekarang merupakan rumah modern dan tergolong mampu. Pak Ngaturi juga memiliki sebuah kendaraan yaitu sepeda motor, memiliki satu televisi yang berukuran 21 inch, memiliki sebuah radio, dan memiliki 2 handphone, satu milik Pak Ngaturi sendiri dan yang satu milik istrinya yaitu ibu Kinayah. Di dalam lehidupan bermasyarakat, Pak Ngaturi tidak memiliki kedudukan apa-apa, hanya sebagai petani dan penjual tape beras ketan hitam. Tetapi Pak Ngaturi ikut serta menjadi salah satu anggota dalam kelembagaan di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar tersebut.

 

 

2.1.3 Kebudayaan Petani

11

12

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

 
 

 

Pak Ngaturi menanami lahan tegalnya dengan satu jenis tanaman saja yaitu ketela pohon. Dalam satu tahun, lahan pertanian milik Pak Ngaturi hanya ditanami dua kali dalam setahun, yaitu pada pertengahan bulan Desember sampai pertengahan bulan Mei dan pada pertengahan Juni sampai pertengahan bulan November. Di sela-sela antara pertengahan bulan Desember sampai pertengahan bulan Mei dan pada pertengahan Juni sampai November, Pak Ngaturi tidak langsung mengolah lahannya, beliau menunggu waktu beberapa minggu untuk menanaminya kembali.

 

Dalam pengolahan tanah atau membajak tanahnya, Pak Ngaturi menggunakan hewan ternak yaitu sapi, cara yang digunakan untuk membajak tanah masih sangat tradisional. Setelah pembajakan tanah dilakukan, kemudian tanah digaru dalam kondisi kering. Untuk persiapan pembenihan Pak Ngaturi mendapatkan benih ketela pohon dari salah satu tengkulak yang berada di desa tersebut. Dalam hal ini benih yang didapat tidak dilakukan persemaian, jadi benih langsung ditanam di lahan yang sudah disiapkan. Benih yang digunakan oleh Pak Ngaturi ini adalah benih dengan varietas Manohara. Untuk penananamnya, Pak Ngaturi menggunakan jarak tanam 20 cm dengan jumlah bibit per lubang yaitu 1 biji. Pada waktu menanam kondisi air yang digunakan tidak terlalu banyak (kondisi air pada lahan dalam keadaan sedang).

 

 

 

 

 

Data Pupuk yang Digunakan Pak Ngaturi

Jenis Pupuk

Jumlah (Kg)

Cara Memperoleh

Beli Kontan dari :

Kredit dari:

  1. Urea

1 kwintal (100 kg)

Kelompok tani

-

  1. Ponska

1 kwintal (100 kg)

Kelompok tani

-

 

Sedangkan untuk pemupukan, Pak Ngaturi memakai pupuk kimia yaitu urea dan phonska. Pupuk tersebut digunakan dalam 1 kali tanam, masing-masing pupuk yang digunakan dalam 1 kali tanam adalah 1 kwintal pupuk urea dan 1 kwintal pupuk ponska. Harga pupuk urea adalah Rp 1.800,00 per kg sedangkan untuk ponska 2.300 per kg. Pak Ngaturi membeli pupuk tesebut di kelompok tani di desa tersebut secara kontan. Sehingga biaya keseluruhan yang dikeluarkan untuk membeli pupuk tersebut sebesar Rp 410.000,00.

 

Cara pemberian pupuk, setelah umur 7 hari setelah masa tanam dan seterusnya melakukan pemupukan dengan pupuk urea 30% dan pupuk phonska 50%, setelah berumur 20 hari dan seterunya melakukan pemupukan dengan pupuk urea 40% dan pupuk phonska 40%, setelah berumur 30 hari melakukan pemupukan dengan pupuk urea 30% dan pupuk phonska 10%.

 

Untuk kegiatan penyiangan Pak Ngaturi melakukan penyiangan dengan tangan dan cangkul untuk memudahkan dalam penyiangannya. Penyiangan dilakukan sebanyak beberapa kali sesuai dengan keadaan gulma di lahan tersebut. Penyiangan menggunakan tangan dan cangkul merupakan cara yang efektif untuk gulma –gulma yang tumbuh dekat tanaman ketela pohon. Penyiangan berfungsi untuk mengurangi persaingan antara gulma  dengan tanaman dalam hal kebutuhan hara (pupuk), sinar matahari, dan tempat serta mencegah terbentuknya tempat berkembang bagi serangga hama, penyakit, dan tikus serta mencegah tersumbatnya saluran dan aliran air irigasi.

Jenis hama yang ditemukan di lahan tegal Pak Ngaturi adalah tikus dan ulat. Beliau tidak menggunakan obat kimia pembasmi hama sama sekali dalam pengendalian hama yang menyerang tanaman ketela pohon miliknya. Karena menurut Pak Ngaturi  penggunaan obat kimia tidak perlu dilakukan karena hama yang menyerang tanaman di lahannya dapat diatasi dengan cara manual yaitu mengambil hama yang menyerang tanaman tersebut sehingga hama tidak menyebar ke tanaman yang lainnya.

 

Penentuan panen dapat dilihat langsung pada tanamannya, tetapi menurut keterangan Pak Ngaturi, umur ketela pohon kurang lebih sekitar 5-6 bulan sudah dapat dipanen. Pada saat memanen ketela pohon Pak Ngaturi menggunakan alat bantu sabit untuk memanennya. Pencabutan ketela pohon secara manual kemudian diletakkan diatas tanah sedangkan sabit digunakan untuk memisahkan ketela pohon dari batangnya agar lebih memudahkan dan cepat dalam pemanenanya. Setelah diambil ketela pohonnya, ketela pohon hasil panen langsung dimasukkan ke dalam keranjang besar untuk dimasukkan dalam mobil pick up atau truk dan selanjutnya dijual, karena sudah ada seorang tengkulak yang menunggu di lahan tersebut untuk membeli hasil panen milik Pak Ngaturi. Hasil panen kemudian diangkut dalam mobil pick up atau truk.

 

Pak Ngaturi memperoleh pengetahuan tentang cara bercocok tanam dari orangtuanya. Dengan kebiasaan melihat orangtuanya bercocok tanam di lahan, Pak Ngaturi terbiasa dan bisa dengan sendirinya untuk bercocok tanam. Dari pengetahuan dan cara budidaya Pak Ngaturi selama beberapa tahun tidak pernah mengalami perubahan. Perubahan kecil yang terjadi hanya dalam hal cara memperoleh benih dan penentuan bibit, hal ini dikarenakan adanya pengaruh permintaan pasar dan harga di pasar. Saat ini Pak Ngaturi menanam varietas Manohara dikarenakan harganya relatif tinggi. Dan dalam hal penanaman, Pak Ngaturi tidak pernah menggunakan perubahan tentang cara bercocok tanam di lahan tersebut.

 

2.1.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

            Menurut pengamatan dan pengalaman Pak Ngatur cara bercocok tanam di desa ini masih terbilang sangat tradisional. Faktor-faktor yang menyebabkan kondisi pertanian Pak Ngaturi dan pertanian di desa ini tidak mengalami peningkatan dikarenakan beberapa faktor diantaranya adalah pupuk, benih, pengalaman, penyuluhan dari pemerintah dan lain-lain. Dulu penggunaan pupuk masih mendapat subsidi dari pemerintah sedangkan untuk saat ini pembelian atau untuk mendapatkan pupuk terkadang dipersulit.

 

Sekarang pemerintah menggalakkan penggunaan pupuk organik ( pupuk kompos, kandang ) dari pada penggunaan pupuk kimia. Pak Ngaturi menanggapi hal tersebut dengan baik. Akan tetapi, penerapannya yang sulit, karena masyarakat sekarang sudah dimudahkan dengan adanya pupuk kimia. Para petani saat ini sulit untuk kembali ke pupuk organik, dikarenakan pengaruh pupuk kimia membuat tingkat kesuburan tanaman di lahan meningkat. Upaya yang dilakukan Pak Ngaturi untuk mencegah rendahnya tinggat kesuburan tanah diantaranya dengan cara mengistirahatkan tanah dan tidak ditanami selama jangka waktu kurang lebih satu bulan.

 

Penggunaan benih, pada saat ini semakin banyak berbagai macam jenis benih, baik itu benih padi dan benih ketela pohon. Varietas dari ketela pohon diantaranya adalah Majalengka, ASE, Manohara dan untuk varietas benih padi diantaranya adalah IR-64, Bramo dan lain-lain. Semakin banyak varietas benih yang digunakan, maka petani semakin bingung dalam memilih dan menggunakan benih mana yang sesuai dengan keadaan tanah dan musim pada saat itu. Seharusnya disinilah peran seorang penyuluh dari pemerintah dinas pertanian setempat untuk mengarahkan para petani tersebut, selain itu penyuluh tersebut juga dapat memberikan wawasan kepada petani di desa setempat tentang bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan benar, sehingga para petani tersebut mendapat ilmu tentang cara bercocok tanam tidak hanya dari orang tua saja. Semakin banyak wawasan yang didapatkan oleh petani maka akan semakin baik pula sistem pertanian di desa tersebut. Jadi antara penyuluh dan petani harus dapat bekerjasama dengan baik. Sehingga hal tersebut dapat meningkatkan perekonomian dalam sektor pertanian.

 

 

2.1.5 Lembaga Yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani

Dalam hal ini sebelumnya telah dijelaskan bahwa Pak Ngaturi tidak mempunyai kedudukan yang penting di dalam masyarakat desa tersebut, tetapi beliau menjadi anggota kelembagaan di desa setempat. Di Desa Pakis Kembar, Dusun Jambon, Kecamatan Pakis ini terdapat kelompok tani. Pak Ngaturi merupakan salah satu anggota kelompok tani di desa tersebut. Kegiatan kelompok tani di desa setempat antara lain adalah penyediaan serta penyaluran pupuk bagi anggotanya dan musyawarah kelompok. Menurut keterangan Pak Ngaturi, beliau mendapat banyak manfaat dengan mengikuti kelompok tani tersebut, salah satunya adalah mudah mendapatkan pupuk, karena pembelian pupuk di kelompok tani bisa secara kredit dan pelunasannya dapat dilakukan setelah panen serta adanya musyawarah tentang pertanian sehingga para petani dapat saling bertukar pikiran dengan sesama anggota kelompok tani.

 

Selain kelompok tani, di desa tersebut juga terdapat kelembagaan lain seperti Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) tetapi di desa tersebut mnyebutnya dengan waker. Pak Ngaturi juga turut berpartisipasi dalam penyediaan air tersebut yakni sebagai anggotanya. Di waker setiap anggota juga dikenai biaya atau iuran. Pak Ngaturi melakukan pengairan atau irigasi pada lahannya sebanyak 3 atau 4 kali. Untuk satu kali pengairan dikenakan biaya sebesar Rp 40.000,00. Menurut Pak Ngaturi pengairan pada lahan tergantung dari kondisi tanah di lahannya. Pak Ngaturi yang menjadi anggota di waker juga mendapat banyak manfaat yaitu mudah dalam pengairan tegalnya. Air yang digunakan untuk sistem irigasi ini berasal dari sungai dan dalam hal ini terdapat petugas pembagi air. Pak Ngaturi berusaha memenuhi sendiri modal dalam usaha pertaniannya, mengolah hasil yang diperoleh dari panen sebelumnya untuk keperluan selanjutnya sehingga perolehan dari hasil panen yang didapat selalu berputar. Dan dalam memulai usaha pertaniannya ini Pak Ngaturi tidak menggunakan modal dari Bank. Beliau menggunakan modal seadanya pada waktu itu.

 

Dalam kegiatan usahatani ketela pohon, Pak Ngaturi menggunakan tenaga dari orang lain. Beliau menggunakan sistem upah harian untuk kegiatan menanam ketela pohon dengan upah Rp 15.000 itu tidak memberi atau menyiapkan makan untuk tenaga kerjanya, sedangkan upah sebesar Rp 12.000, tenaga kerja mendapat makan.

Untuk sarana produksi usahatani seperti benih Pak Ngaturi membeli pada tengkulah yang berada di desa tersebut dan tengkulah tersebut mendapat benih dari toko pertanian, sehingga sebelum masa tanam, beliau harus terlebih dahulu memesan benih yang akan digunakan. Untuk pupuk, beliau terkadang membeli secara kredit dan terkadang secara kontan di Kelompok Tani di desa tersebut. Penyediaan pupuk dilakukan oleh kelompok tani setempat dengan sistem dapat membayar secara kredit ataupun dibayar secara tunai. Untuk hasil panen ketela pohon semuanya dijual kepada tengkulak. Menurut Pak Ngaturi, beliau tidak menyisakan sebagian hasil panennya dikarenkan ketela pohon bukan merupakan makanan pokok untuk keluarganya. Penjualan ketela pohon dijual ke tengkulak atau pedagang ataupun penebas. Pak Ngaturi lebih memilih menjual ketela pohon kepada tengkulah dengan sistem tebasan. Dan tengkulak yang dipilih oleh Pak Ngaturi adalah seorang tengkulak yang menawar dengan harga yang tinggi. Untuk hasil panen sebelumnya harga ketela pohon Rp 110.000,00 per kwintal sedangkan untuk panen berikunya mengalami penurunan harga, yaitu Rp 60.000,00 per kwintal. Untuk panen biasaya Pak Ngaturi menghasilkan panen sebanyak 24 kwintal.

2.1.6 Kesimpulan

  • Keluarga Pak Ngaturi termasuk dalam keluarga petani menengah  keatas
  • Pak Ngaturi hanya mananam satu jenis tanaman pada lahanya sendiri seluas 1,5 ha yang berasal dari warisan orangtuanya. Lahan tersebut ditanami ketela pohon
  • Dalam pengolahan lahan, Pak Ngaturi menggunakan tenaga kerja dari luar dengan menerapkan sistem upah. Upah untuk petani di desa tersebut pada umumnya Rp 15.000,00 tanpa makan dan Rp 12.000,00 buruh tani mendapat makan.
  • Dalam setahun Pak Ngaturi menanami lahannya sebanyak 2 kali dengan pemilihan benih menyesuaikan dengan permintaan pasar dan harga di pasaran. Untuk saat ini Pak Ngaturi menanam ketela pohon varietas Manohara.
  • Dalam penggunaan pupuk Pak Ngaturi menggunakan pupuk kimia yaitu urea dan ponska. Beliau mendapatkan pupuk tersebut dari kelompok tani yang terdapat di desa setempat, untuk benih beliau mendapatkannya dari seorang tengkulak yang berasal dari desa setempat juga, sedangkan untuk pengairan atau irigasi, beliau turut serta menjadi anggota waker. Waker merupakan sistem pembagian air yang terdapat di dusun Jambon, Desa Pakis Kembar tersebut.
  • Dalam penjualan hasil pertanian Pak Ngaturi lebih memilih sistem tebasan ke pedagang. Pak Ngaturi menjual semua hasil panennya tanpa menyisakannya karena menurut beliau, ketela pohon bukan merupakan tanaman pokok untuk keluarganya.
  • Dalam masyarakat Pak Ngaturi tidak memiliki kedudukan penting tetapi beliau menjadi anggota dalam kelembagaan di desanya dan Pak Ngaturi tidak memerlukan biaya dari luar seperti Bank.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani  Bapak Ahmad (Oleh Aditya Affuan P 115040207111029)

 

2.2.1 Deskripsi Petani

Pak Ahmad adalah salah seorang petani berumur 54 tahun yang tinggal di Dusun Jambon. Desa Pakis Kembar RT 3. Kab Malang. Sejak tahun 1970 beliau telah menjadi seorang petani, yang tergolong masyarakat stratifikasi menengah bawah dan hanya mengenyam pendidikan terakhir adalah SD. Pak Ahmad adalah seorang kepala keluarga yang dengan anggota keluarga yang terdiri dari seorang istri dan seorang anak.

 

Bertani merupakan pekerjaan utama beliau dan beliau memiliki pekerjaan sampingan yaitu buka warung dan dagang tempe . Beliau mulai berangkat ke sawah tepat saat matahari terbit dan saat matahari berada di ujung tombak barulah beliau pulang. Bukan hanya bertani yang merupakan pekerjaan pokok beliau, keseharian beliau selain dihabiskan di lahan beliau juga berdagang tempe dan buka warung di depan rumahnya. Dalam rumah tangga beliau, hanya Pak Ahmad yang mencari nafkah sebagai seorang buruh tani karena istrinya hanya seorang ibu rumah tangga.

 

2.2.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Pak Ahmad adalah seorang petani yang menggarap lahannya dengan luas ¼ ha dan hasil panennya beliau jual sendiri ke pasar untuk ketela sedangkan untuk padi beliau mengkonsumsinya sendiri tanpa bagi hasil. Pak Ahmad merupakan petani dengan tingkat ekonomi yang dapat digolongkan dengan tingkat ekonomi golongan menengah. Hal ini dapat dilihat dari kondisi rumah beliau dan kondisi ekonomi beliau. Pak Ahmad memiliki sebuah rumah dengan atap berupa rumbai biasa dan berdinding tembok dan berlantai plesteran biasa. Luas bangunan rumah beliau adalah 8 x 12 mkondisi rumah beliau merupakan rumah yang layak dihuni  dan beliau juga memiliki 2 ekor sapi ternak dan juga 17 ekor ayam.

 

Peralatan rumah tangga yang dimiliki oleh Pak Ahmad hanya sebuah televisi dan radio, ada sebuah alat komunikasi yang terdapat dalam rumah Pak Ahmad namun itupun Handphone milik anaknya. Oleh karena itu bila ada tetangga yang hendak memiliki keperluan dengan Pak Ahmad, tetangga beliau akan langsung mendatangi rumah beliau atau langsung mencari ke lahan karena keseharian Pak Ahmad hanya berada di lahan dan di warung depan rumah. Pak Ahmad hanya memiliki  2 alat transportasi yang berupa sepeda motor.

 

2.2.3 Kebudayaan petani.

Pola tanam yang digunakan oleh Pak Ahmad merupakan monokulture, mengapa pak Ahmad menggunakan sistem tanam ini, dikrenakan supaya menaggulangi adanya hama, dan juga pak Ahmad belum mengetahui apa tanaman yang cocok untuk digabungkan dengan tanaman padi atau ketela ini supaya menjadi tumpangsari dengan komoditi yang ditanam adalah padi dan ketela. Dalam 1 tahun padi ditanam pada bulan Desember, sedangkan ketela setelahnya. Pengolahan lahan yang dilakukan oleh Pak Ahmad sendiri dengan menggunakan tenaga hewan, yaitu sapi. Setelah dilakukan pembajakan kemudian ditanami padi dengan jarak tanam 22 cm, jumlah tanaman per lubang adalah dua tanaman untuk satu lubang. Lalu pada sistem tanam selanjutnya ditanami dengan telo dengan jarak tanam 20 cm dengan jumlah tanaman per lubang satu.

 

Dalam mengolah bibit tanaman, Pak Ahmad menempatkan 2 bibit/ lubang dengan jarak tiap lubangnya yaitu 22cm untuk padi, sedangkan untuk ketela 20 cm untuk 1 lubangnya.

 

Kondisi air pada lahan sangat tergantung pada datangnya musim penghujan karena kondisi lahan tanah yang kering sehinggah saat musim kemarau panjang lahan akan sangat kering sehingga Pak Ahmad tidak bisa menanami lahannya apabila datang musim kemarau panjang karena sistem irigasi yang digunakan adalah sistem irigasi waker, yang memanfaatkan sungai sebagai pengairan, sehingga semakin banyak hujan yang turun maka akan semakin membantu lahan yang kekeringan. Untuk menjaga kesuburan tanah dan kesuburan pertumbuhan komoditi, Pak Ahmad menggunakan pupuk Urea dan ZA yang dibelinya dari kelompok tani. Untuk pupuk Urea bapak Ahmad membutuhkan 1 kwintal sedangkan untuk ZA pak Ahmad cukup membutuhkan ½ kwintal.

 

Untuk mengatasi gulma yang tidak diinginkan, Pak Ahmad melakukan penyiangan sebanyak 2 kali sehari. Beliau mengatakan apabila penyiangan tidak dilakukan dengan rutin maka tanamannya tidak akan tumbuh subur dan tumbuh kerdil. Untuk hama yang sering beliau temui adalah tikus, beliau mengatasinya dengan menggunakan pestisida desis dalam bentuk cair yang beliau beli dari pabrik dengan dosis sebanyak 5 sendok/tanaman. Dalam sekali panen pestida biasa di semprotkan sebanyk 2 minggu sekali antara 3-4 kali. Untuk pestisida jenis ini pak Ahmad cukup menggunakan dalam bentuk botolan yang isinya 500 ml, pak Ahmad mendapat harga antara 12.500 hingga 15.000 rupiah.

 

Pemanenan yang dilakukan oleh Pak Ahmad sangat sederhana hanya dengan dipacul dengan tangan untuk tanaman padi dan ketela. Penentuan waktu panen untuk tanaman padi menurut sepengetahuan beliau ialah ketika dengan melihat kondisi padi yang telah menguning. Apabila padi telah menguning, maka beliau akan memanennya. Untuk tanaman ketela beliau memperkirakan bisa dipanen apabila telah 5 bulan. Hasil panen yang didapat untuk padi dikonsumsi sendiri oleh keluarga bapak Ahmad, namun untuk hasil ketela beliau menjualnya pada pedagang. Hasil ketela dijual dengan harga Rp. 100.000/ kwintalnya. Pemanenan beliau lakukan dengan menggunakan tenaga kerja dari tetangga sekitar rumah. Tidak ada pengolahan hasil panen, ini dikarenakan hasil panen hanya untuk konsumsi sendiri dan juga langsung dijual ke pedagang.

 

11

12

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

 

 

2.2.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Perubahan sosial yang dialami oleh Pak Ahmad terkait cara bercocok tanam adalah tidak ada. Beliau mengaku menggunakan cara bercocok tanaman tersebut sudah dari dahulu kala karena menurut beliau cara berococok tanam tersebut merupakan cara bercocok tanam yang paling baik. Beliau juga tidak pernah mendapatkan pengetahuan cara bercocok tanam dari ayah atau tetangga sebelahnya karena berdasarkan pengetahuan yang beliau punya cara bercocok tanam yang saat ini beliau lakukan adalah cara bercocok tanam yang menguntungkan dan praktis. Meskipun banyak lembaga yang mengadakan penyuluhan di Dusun Jambon, Pak Ahmad tidak pernah mendapat pengetahuan tentang cara bercocok tanam yang baru karena menurut beliau penyuluhan yang dilakukan hanya berupa ceramah dan tidak ada contoh konkret yang dilakukan oleh para penyuluh pertanian. Selain itu, ceramah yang dilakukan hanya ceramah tentang pembuatan irigasi dan pembuatan pupuk dan tidak ada ceramah tentang cara bercocok tanam yang baru. Oleh karena itu cara bercocok tanam yang diketahui oleh Pak Ahmad selama ini yang beliau anggap sangat praktis dan karena hal ini pula cara bercocok tanam beliau tidak pernah berubah walaupun hasil panen yang dihasilkan dari cara cocok tanam tersebut kurang memuaskan.

 

2.2.5 Lembaga Yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani

Lembaga produksi dan pengadaan yang digunakan oleh Pak Ahmad adalah perhutani, itu adalah lembaga yang mengajarkan pak Ahmad bagaimana bercocok tanam. Beliau juga membeli bibit yang berasal dari KUD di desa Pakis Kembar tersebut. Sedangkan untuk pupuknya beliau mendapatkannya dari kelompok tani di Desa tersebut. Untuk tenaga kerja bapak Ahmad menggunakan tenaga kerja dalam mengolah lahannya, mulai dari penanaman, pemberian irigasi ke lahan, pemupukan, dan pemanenan. Untuk mendapatkan tenaga kerja, bapak Ahmad tidak bersusah payah, karena dari tetangga desa. Upah tenaga kerja untuk penanaman, pemupukan, dan pemanenan sebesar Rp 15.000,00 untuk laki-laki, sedangkan untuk tenaga kerja perempuan sebesar Rp 10.000,00. Upah tenaga kerja di Desa Pakis Kembar bisa dikatakan masih rendah.

 

 

2.2.6 Kesimpulan.

Pertanian di Dusun Jambon sangat tergantung pada datangnya musim penghujan. Hal ini dikarenakan tanah di dusun tersebut merupakan tanah lahan yang cukup kering selain itu, irigasi yang rata-rata digunakan oleh petani di daerah tersebut merupakan irigasi waker. Yaitu sistem irigasi yang mirip dengan sistem irigasi di Bali yaitu pengaliran dari sungai-sungai. Pertanian di dusun Jambon masih sangat tradisional, Hal ini dicerminkan oleh salah seorang petani di desa tersebut yang bernama Pak Ahmad. Pak Ahmad merupakan petani yang sangat tradisional. Mulai dari cara bercocok tanam, perkiraan panen, pemupukan, pengolahan hasil panen, pengolahan lahan serta penggunaan benih yang berasal dari hasil panen sebelumnya mencerminkan bahwa praktek pertanian yang berlangsung masih tradisional. Hal ini dikarenakan penyuluhan yang ada di daerah tersebut hanya itu itu saja sehingga pengetahuan petani akan cara bercocok tanam dan cara pengolahan lahan serta hasil panen masih sangat sederhana.

 

Cara penanggulangan hama dan penyakit yang dilakukan sangat kurang tepat terhadap keadaan lingkungan sekitar. Pak Ahmad contohnya, beliau melakukan penanggulangan penyakit dan hama dengan cara penyemprotan hama dengan menggunakan pestisida cair dengan takaran yang dikira kira dan tidak memperhatikan ukuran takaran / dosis yang dianjurkan dari pabrik. Penggunaannya pun sangat tidak ramah lingkungan karena menurut Pak Ahmad, beliau melakukan pengobatan dengan pestisida apabila beliau melihat seekor hama yang hinggap karena beliau menganggap mumpung hama yang menempel belum berkembang oleh karena itu beliau segera menyemprot pestisida cair tersebut. Padahal hama tersebut belum tentu musnah dengan adanya pestisida tersebut.

 

Dari beberapa keterangan diatas dapat dikatakan bahwa minimnya penyuluhan tentang cara bercocok tanam, cara mengolah lahan, cara mengolah hasil panen, dosis untuk menggunakan pestisida serta menentukan dosis yang tepat untuk pemupukan membuat para petani membuat takaran sendiri dan perkiraan sendiri. Hal tersebut dapat mempengaruhi kerusakan tanah dan lingkungan yang ada di Dusun Jambon. Penyuluhan yang dilakukan harusnya dilakukan secara konkret karena menurut Pak Ahmad selama ini penyuluhan yang dilakukan hanya berupa ceramah dan materi penyuluhan hanya berupa cara membuat pupuk dan irigasi sehingga pengetahuan petani sangat terbatas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani Bapak Agus Salam (Oleh Baharuddin Yusuf   115040207111025)

2.3.1.Deskripsi Petani

Pada tanggal 2-3 Juni 2012, saya melakukan praktikum lapang Sosiologi Pertanian dengan mewawancarai salah satu petani di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Petani yang saya kunjungi ini bernama Pak Agus Salam. Saya mewawancarai beliau saat beliau masih berada dirumahnya sekitar pukul 07.00 WIB. Pak Agus Salam adalah seorang petani berusia 50 tahun. Beliau bertempat tinggal di Desa Pakis Kembar, Dusun Jambon Rt.04 Rw.02, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang bersama seorang istri, memiliki 2 orang anak namun sudah berkeluarga pada tahun 2008. Tingkat pendidikan Pak Agus Salam dapat dikatakan rendah karena bersekolah hanya sampai tingkat Sekolah Dasar ( SD ) saja. Berdagang dibidang hasil pertanian merupakan pekerjaan utamanya yakni sebagai importir kedelai dari Amerika yang kemudian diolah menjadi tempe atau langsung dijual kepada pelanggannya yang juga memiliki usaha pembuatan tempe, sedangkan pekerjaan petani merupkan sampingan baginya dan sebagai sarana untuk menambah penghasilan. Pekerjaanya sebagai petani tergolong baru, Pak Agus Salam baru merintis kerja sebagai petani pada tahun 2001.

 

2.3.2.      Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Pak Agus Salam dilihat dari segi status sosialnya merupakan petani yang tergolong sukses, hal ini terbukti dapat membangun rumah besar dua lantai dengan ukuran bangunan 396 m2 dan luas halaman belakang 88 m2. Lantai rumah terbuat dari keramik, dinding rumah terbuat dari tembok, dan atap rumag terbuat dari genteng.

 

Selain itu beliau juga memiliki sarana transportasi dan komunikasi yang memadai. Beliau memiliki empat jenis kendaraan, diaantaranya adalah satu buah mobil minibus Toyota Avanza, satu buah pickup L-300, dua buah sepeda motor, dan satu buah sepeda ontel. Begitu pula dengan sarana komunikasi yang beliau miliki sangat memadai, beliau memiliki empat buah telivisi, dan empat buah handphone. Beliau juga memiliki tiga ekor sapi, yang dulunya pada tahun 2008 jumlahnya masih tujuh ekor, namun beliau jual karena digunakan sebagai biaya untuk prnikahan putrinya.

Pak Agus Salam juga memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Beliau memiliki lahan sawah dengan luas 2 ha. Beliau memperoleh lahan tersebut dari hasil membeli sendiri sejak tahun 2001 dan beliau membeli lahan tersebut secara bertahap dan hasil meminjam dana dari Bank.

 

2.3.3 Kebudayaan Petani

KOMODITAS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Tebu / lahan 1,5 ha                      
Padi Lahan

0,5

ha

                     

Ketela rambat

                     

 

Tanda merah : Menandakan masa budidaya

Pak Agus Salam memiliki lahan yang berlainan tempat untuk lahan seluas  1,5 ha ditanamai komoditas tebu yang telah ditanami sejak tahun 2007 dan sampai saat ini belum mengalami pergantian komoditas. Beliau memilih tanaman tebu karena tergolong mudah dalam hal penanaman,perawatan, dan pemanenan.

 

Hal yang petama beliau lakukan untuk menanam komoditas tebu ialah mengolah lahan dengan menggunakan bajak sapi yang beliau nilai hasilnya lebih bagus dan lebih murah dibandingkan bajak mesin (traktor), kemudian setelah dibajak beliau membentuk alur-alur tanaman untuk memudahkan dalam penanaman. Pada proses ini ada dua cara untuk membentuk alur yaitu dengan mengunakan bajak sapi atau dicangkul dengan tenaga manusia. Setelah proses tersebut barulah dilakukan penanaman dengan jarak tanam sekitar 30 cm dan hal yang harus diperhatikan adlah posisi bibit tidak boleh terbalik. Setelah penanaman beliau melakukan perwatan seperti pengairan, dan pemupukan. Pengairannya cukup mendapat dari air pengairan sungai. Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur tiga bulan setelah tanam dengan pemberian pupuk Urea yang menurut beliau untuk kapasitas satu hektar dibutuhkan dua ton pupuk Urea. Kemudian dua bulan selanjutnya atau lima bulan setelah tanam dilakukan pemberian pupuk ZA dengan jumlah 2 ton/ha.

 

Sedangkan untuk lahan yang berukuran 0,5 ha atau sisa dari lahan yang digunakan tanaman tebu. Beliau menanam komoditas padi dan ketela rambat. Komoditas ini ditanam secara bergiliran dalam satu tahun. Beliau menanami lahannya dengan padi pada bulan awal-awal tahun antar bulan Januari hingga Maret. Proses budidaya padi yang dilakukan hampir sama dengan teknik budidaya yang umum dilakukan.

 

Langkah pertama adalah pengolahan tanah atau membajak, Pak Agus Salam kembali menggunakan bajak sapi. Dalam keadaan basah lahan ditraktor mengelilingi seluruh sawah sampai merata. Untuk persiapan pembenihan Pak Agus Salam menanam benih dengan usaha sendiri, bisanya dengan menggunakan benih varietas IR-64. Dalam 0,5 ha, Pak Agus Salam biasanya menghabiskan sekitar 10 kg 20 kg benih padi. Caranya yaitu sebelum benih ditanam, benih terlebih dahulu direndam di air selama kurang lebih dua hari setelah tumbuh tunas kurang lebih 0,5 cm kemudian baru benih bisa ditanam di lahan pembenihan. Benih sudah bisa ditanam dilahan setelah berumur 20 hari atau tinggi tanaman mencapai 20-25 cm. Untuk penananam Pak Agus Salam dalam satu lubang biasanya berisi 2-3 biji dengan jarak tanam biasanya sekitar satu jengkal setengah.

 

Pada waktu penanam kondisi airnya diusahakan jangan terlalu banyak. Dalam pemupukan Pak Agus memakai pupuk kimia yaitu urea, phonska,dan SP-36 dan cara pemberian dosis pupuknya yaitu ZA 100 kg/ha, urea 100 kg/ha, dan SP-36 100-150 kg/ha.

 

Ketika penyiangan Pak Agus Salam melakukan penyiangan dengan tangan atau kadang dengan garu. Penyiangan dilakukan ketika gulma dirasa telah banyak dengan digenangi air terus agar mudah dalam waktu penyiangan. Penyiangan menggunakan tangan merupakan cara yang lebih efektif dibandingkan dengan garu, karena langsung atau dapat mncabut gulma yang tumbuh di dekat tanaman padi. Menurut Pak Agus Salam penyiangan perlu dilakukan karena dapat mengganggu pertumbuhan padi dapat menyumbat saluran irigasi.

 

Menurut Pak Agus Salam Jenis hama yang ditemukan di sawah adalah tikus, wereng dan belalang. Pengendaliannya dengan dengan cara menyemprotkan pestisida kimia. Menurut beliau takarannya disesuaikan dengan dosis takaran yang tertera pada kemasan.

 

Penentuan panen dapat dilihat langsung pada tanamannya, tetapi menurut keterangan Pak Agus Salam  umur padi sekitar 120 hari atau empat bulan sudah tua dan sudah dipanen. Pada saat memanen padi biasanya menggunakan sabit lalu dirontokkan menggunakan alat sejenis banku besar, beliau tidak menggunakan mesin karena menurut beliau jika menggunakan mesin hasil gabahnya tidak bersih dari jerami. Setelah dirontokkan, padi langsung dimasukkan ke dalam karung. Kemudian sekitar ¼ hasil panen biasanya dijual ke pedagang yang sudah menunggu di lahan, dan sisanya dibawa pulang untuk diolah sendiri sebagai konsumsi selama satu tahun. Beliau juga menuturkan bahwa dalam satu tahun biasanya keluarga beliau dan pekerjanya menghabiskan beras kurang lebih 3 ton.

 

Pada bulan antara Juli hingga agustus biasanya beliau mengolah lahan dan  menanam ketela rambat. Beliau lakukan hal tersebut karena hanya untuk mengisi lahan kosong setelah padi dipanen. Selain itu di daerah tersebut hampir semua lahan pada bulan-bulan tersebut banyak yang ditanami ketela rambat. Proses budidayanya di mulai pengolahan lahan membentuk gundukan kecil, atau alur kemudian dilakukan penngairan dan lansung penanaman.

 

Pak Agus Salam memperoleh pengetahuan bercocok tanam dari orangtua, dan tetangga. Pengetahuan lain didapat Pak Agus Salam dari Penyuluh Pertanian Lapang ( PPL ) tentang sosialisasi misalnya mengenai pupuk, dan penyuluhan benih.

 

 

2.3.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Cara bercocok tanam yang dilakukan Bapak Agus Salam dari pertama beliau menjalani pekerjaan sebagai petani sejak tahun 2001 tidak sepenuhnya berubah dalam hal budidaya. Menurut beliau cara-cara budidaya yang dilakukannya sudah benar dan dapat menghasilkan hasil yang optimal. Walaupun ada beberapa hal yang berubah sepeti halnya pemilihan bibit hibrida, cara pengairan dan cara pendistribusian atau pemasaran. Namun secara umum itu masih hampir sama dengan budidaya yang beliau lakukan

 

2.3.5 Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani

Lembaga yang berperan dalam hal produksi pertanian yang Bapak Agus biasa diajak kerjasama adalah KUD Pakis kembar, kelompok tani, dan lembaga keuangan seperti Bank. KUD dan kelompok tani disana berperan dalam penyediaan pupuk dan bibit. Sedangkan untuk memperoleh tenaga kerja biasanya beliau mendapat dari para buruh tani yang berada di desanya.  Sistem upanhnya adalah perhari mulai bekerja dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB dengan biaya Lima Belas Ribu Rupiah perhari. Untuk buruh tani perempuan biasanya dipekerjakan untuk pekerjaan yang relative lebih mudah seperti penyiangan dan penanaman.

 

Sedangkan hasil pertanian untuk tanaman tebu sudah ada pembeli atau tengkulak yang langsung membeli ke lahan, begitu pula dengan hasil panen ketela rambat, sedangkan untuk tanaman padi hasilnya biasanya hanya separuh dari hasil panen yang dijual atau seperempat dari hasil panen, sisanya dikonsumsi sendiri.

 

2.3.6 Kesimpulan

  • Keluarga Bapak Agus Salam adalah petani yang tergolong sebagai petani mampu.
  • Untuk kebudayaannya relative sama dengan petani-petani lain seperti cara bercocok tanam yang masih tradisional.
  • Tingkat sosialnya tergolong golongan atas dibandingkan dengan para penduduk yang ada di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar.
  • Penghasilan Bapak Agus Salam dari pertanian tidak sebegitu besar, yang paling dominan dalam hal penghasilan bersal dari pekerjaannya sebagai pedagang.
  • Di dalam masyarakat Bapak Agus Salam kurang aktif dalam anggota kelompok tani dan kelembagaan pertanian yang lainnya. Namun, dengan adanya kelompok tani, pertanian di Dusun Jambon menjadi selangkah lebih maju dan warga pun juga dipermudah dalam menjalankan usaha taninyabaik dalam hal penyediaaan pupuk dan benih.
  • Hasil panen padi sebagian besar dikonsumsi sendiri dan sebagian kecil dijual dengan cara langsung ditebaskan atau dijual di sawah kepada pedagang.
  • Menurut beliau kondisi pertanian di desa ini sekarang dibandingkan dengan kondisi pertanian dari beliau baru menekuni usaha pertanian  sama saja tetapi juga ada beberapa hal yang berubah seperti pemakaian pupuk dan bibit atau varietas unggul, kemudian saat ini mengalami penurunan dalam segi kondisi tanah yang sudah tercemar oleh berbagai pupuk kimia dan harga pupuk zaman sekarang yang lebih mahal.
  • Menurut saya agar pertanian di dusun Jambon  maju dan berkembang adalah dengan mamaksimalkan peranan kelompok tani yang telah ada, yaitu dengan bantuan kepada para petani mengenai teknologi pasca panen dan manejemen pemasaran pasca panen, agar petani tidak langsung menebaskan di sawah hasil panennya ke pedagang. Kemudian dioptimalkanya peranan dari PPL untuk memberikan pengetahuan atau inovasi yang dapat memajukan petanian di sana.

 

 

 

 

 

 

 

2.4 Deskripsi Keluarga dan Usaha Tani Bapak Suparman (Oleh Carla Leany W.N.S  115040200111195)

2.4.1 Deskripsi Keluarga Petani

Dalam Praktikum Lapang Sosiologi Pertanian yang di lakukan di Desa Pakis Kembar, Dusun Jambon, RT 6, RW 2, No 29, Kab. Malang, Jawa Timur, pada hari Minggu tanggal 02 – 03 Juni 2012, penulis mewawancarai seorang warga yang bernama Bapak Suparman.  Saat ini beliau berusia 61 tahun.  Pendidikan terkahir beliau hanya sampai di bangku Sekolah Dasar . Saat ini pekerjaan utama beliau ialah sebagai Pedagang, dan pekerjaan sampingan nya sebagai Petani. Namun, terkadang bapak Suparman sering pergi kelahan,beliau mengerjakan dan mengelola lahannya sendiri, tetapi terkadang beliau juga memperkerjakan warga sekitar untuk mengelola lahannya. Sehingga, dalam kesehariaan nya beliau tidak hanya berdagang saja, namun juga pergi ke lahan. Beliau tidak menjajakan barang dagangan nya namun para pedagang atau warga sendiri yang datang ke rumahnya, untuk membeli beras. Beliau memulai pekerjaan nya sebagai petani sejak tahun  1963. Beliau tinggal bersama 8 anggota keluarga lainnya, yang terdiri dari Bapak Suparman dan istrinya yang bernama Ibu Diah, serta kedua anak perempuan dan kedua mantunya, Ibunda dari Bapak Suparman, dan kedua cucu perempuan Bapak Suparman. Kedua anak dan mantunya bekerja sebagai guru SD dan guru SMP. Sedangkan kedua cucu perempuannya masih duduk di bangku SD. Dan istrinya (ibu Diah) adalah seorang ibu rumah tangga. Namun terkadang, bila Pak Suparman sedang pergi ke lahan sedangkan ada pembeli yang datang ke rumahnya untuk membeli beras, maka ibu diah lah yang melayani pembeli tersebut.

 

2.4.2. Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Beliau tidak memiliki lahan pertanian sendiri, sehingga dalam usaha tani nya beliau menyewa lahan pertanian sawah di 5 lokasi yang berbeda dengan luas masing-masing lahan nya ialah seluas nya 1,5 hektar dari  Hj. Budi. Lahan tersebut di sewa  dengan kurun waktu 3 musim tanam atau sekitar satu tahun, dan akan di perpanjang lagi bila masa sewa nya telah habis. Dan berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan, dapat di ketahui bahwa Bapak Suparman tidak memiliki lahan tegal. Dan hasil panen yang di dapatkan  di jual kembali ke pedagang pasar,tengkulak, ataupun di jual eceran ke warga sekitar. Berdasarkan stratifikasi sosial dari sudut pandang sosiologis  Bapak Suparman tergolong dalam petani menengah. Hal ini di buktikan dengan, Luas banggunan yang beliau miliki kurang lebih 13m X 20m = 260m², jenis lantai yang di gunakan terbuat dari keramik, dan jenis dinding rumah nya terbuat dari tembok, adapun atap rumah yang di gunakan ialah genteng biasa . Selain itu,dalam aspek transportasi beliau 3 sepeda motor, 1 sepeda ontel . Dan mengenai sarana komunikasi yang beliau gunakan di antaranya, 1 unit radio, 1 unit Tv 21 inch, dan 3 unit telepon genggam (Hp). Berdasarkan pengamatan terhadap rumah yang di tempati oleh Pak Suparman bersama keluarga dapat di katakan bahwa rumah miliknya termasuk kedalam kategori rumah modern.Jadi dapat dikatakan rumahnya sekarang merupakan rumah modern dan tergolong mampu. Di dalam masyarakat Pak Suparman tidak memiliki kedudukan apa-apa, hanya sebagai petani dan pedagang beras. Tetapi Pak Suparman ikut serta menjadi salah satu anggota dalam kelembagaan di Dusun Jambon, Desa Pakis Kembar tersebut, dan dapat di katakan sebagai anggota yang cukup aktif.

 

Luas lahan pertanian yang dimiliki Pak Suparman sejak awal sampai saat ini dapat dikatakan tidak mengalami perubahan. Adapun keterangannya adalah sebagai berikut :

 

Jenis Lahan

Luas Lahan Awal

(sewa)

Luas Lahan Saat ini

2012

Sawah (sewa)

1,5 ha

7,5 ha

 

 

Dari keterangan di atas, lahan milik Pak Suparman mengalami pertambahan luas dikarenakan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor ekonomi dari bapak Suparman dan faktor yang kedua adalah pekerjaan utama Pak Suparman bukanlah seorang petani melainkan seorang Pedagang Beras.. Dalam wawancara yang penulis lakukan, Pak Suparman mengatakan bahwa penghasilan nya dari berdagang beras cukup menjajikan dan menguntungkan bagi beliau sekeluarga.

 

2.4.3. Kebudayaan Petani

Di lihat dari segi pengolahan lahan pertanian, Bapak Suparman termasuk petani  tradisional karena masih menggunakan cara tradisional namun apabila di lahan yang miring beliau menggunakan tenaga mesin. Tipe pola tanam yang di gunakan Bapak Suparman dalam lahan persawahan nya ialah pola tanam monokultur, namun biasanya setelah panen beliau melakukan rotasi tanaman, yang sebelumnya di tanami padi di ganti dengan tanaman ketela pohon. Hal ini di lakukan oleh beliau untuk memperbaiki struktur tanah setelah di tanami padi agar dapat di tanami padi kembali pada musin tanam berikutnya. Namun biasanya setelah panen telah di lakukan, diberikan waktu jeda kurang lebih 1 minggu, yang biasanya di sebut sebagai masa break atau masa bero oleh warga desa Dusun Jambon. Masa bero ini berguna untuk mengisistirahatkan tanah dan mengembalikan unsur serta struktur tanah seperti semula. Dan hal ini di lakukan secara terus-menerus oleh Bapak Suparman dari tahun ke tahun. Berikut ialah tabel rentan waktu budidaya tanaman ketela pohon dan bercocok tanam padi pada Bapak Suparman.

 

11

12

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

 

 

Setiap tahunnya, lahan sawah Pak Suparmann di tanami oleh padi, dengan pola tanam rotasi, yang mana pada bulan Januari-Maret di tanami oleh padi yang kemudian di lanjutkan dengan menanam ubi jalar pada bulan April . Pola tanam rotasi ini, terus di lakukan secara terus-menerus  dari tahun ke tahun  dengan tujuan memaksimalkan pendapatan.

 

Dalam bercocok tanam padi di sawah, Pak Suparman menggunakan traktor (bila tanah nya datar) dan menggunakan bajak yang di tarik oleh kerbau(bila tanah nya miring). Traktor ataupun kerbau yang di pakai oleh Pak Suparman bukanlah milik Pak Suparman pribadi, melainkan sewa. Setelah membajak sawah, di lanjutkan dengan mempersiapkan benih untuk persemaian, yaitu dengan cara benih padi di jemur terlebih dahulu, lalu di rendam selama satu malam kemudian di tiriskan selama dua hari. Setelah itu di lanjutkan dengan membuat persemaian. Benih yang biasa di gunakan adalah Varietas IR 64 dengan jumlah 12 kilogram tiap seperempat hektar. Berarti, untuk 1,5 hektar sawahnya memerlukan 72 kilogram benih padi . Berarti jumlah total benih yang di butuhkan untuk ke lima lahan nya yang mana masing-masing seluas 1,5 hektar memerlukan  360 kilogram benih padi.  Cara membuat persemaiannya adalah dengan menaburkan benih padi yang telah di persiapkan terlebih dahulu pada sepetak lahan di sawah hingga benih padi tumbuh menjadi bibit yang berusia 20 hari. Setelah itu, bibit padi yang telah siap di tanam di sawah secar abertahap dengan jarak 24 cm dan tiap lubangnya di tanami dua sampai 3 bibit dengan kondisi air penuh.

 

Jenis pupuk yang biasa di gunakan oleh Pak Suparman pada tanaman padinya adalah pupuk Kandang, Kompos, Urea, SP-36, Phonska, KCL, ZA. Pupuk tersebut di berikan sebanyak dua kali selama masa tanam yaitu setelah lahan telah selesai di kelola  dan sebelum umur padi 40 hari dengan jumlah pupuk 1,5 kwintal tiap sepertiga hektar. Berarti, beliau membutuhkan pupuk kurang lebih 7,5 kuintal pada satu kali pemberian  pupuk pada masing-masing petak sawahnya, yang mana beliau memilik 5 petak lahan yang luas masing-masing petak lahan nya ialah 1,5 hektar.  Untuk menanggulangi gulma, di lakukan penyiangan sebanyak 2 kali pada saat umur padi 17 hari dan sebelum 40 hari dengan menggunaka gasrok. Kondisi airnya sendiri terkadang sengaja di keringkan bila padi terkena penyakit. Pak Suparman mengairi sawahnya dengan memanfaatkan aliran sungai yang ada di sekitar area persawahannya.  Selama menjadi petani, jenis hama penyakit tanaman padi yang di jumpai pada usaha tani beliau adalah Wereng, belalang,  dan tikus, serta jenis penyakit yang yang menyebabkan batang padi menjadi busuk.  Dalam pengendalian hama dan penyakit yang menyerang usaha tani nya, Pak Suparman menggunakan pestisida Desis, Cabo, dan Laser. Adapun harga dari pestisida yang di gunakan oleh Pak Suparman berkisar antara Rp 12.500,00 – Rp 17.500,00 per botol besar, yang mana setiap botolnya berisi 500 ml pestisida. Dalam penggunaan nya, pestisida tersebut di encerkan terlebih dahulu sebelum di gunakan. Selain itu, campuran empat macam pupuk yang telah di berikan pada awal masa tanam dan sebelum padi berumur 40 hari dapat membantu dalam pengendaliaan hama penyakit. Jika tanaman padi sudah menguning atau telah berumur sekitar 100 hari, maka padi tersebut sudah waktunya untuk di panen. Panen di lakukan dengan menggunakan sabit, lalu di rontokkan dengan gebyok, kemudian di bersihkan. Hasil panen beliau sedikit di simpan guna untuk  pembibitan selanjutnya dan sisanya di jual kepada pedagang pasar, tengkulak ataupun di jual secara eceran ke penduduk sekitar .  Hasik panen yang di jual kepada tengkulak ataupun pedagang pasar di jual dalam bentuk beras yang telah di bersihkan dan di kemas dalam kemasan plastic seberat 25 kilogram.

 

Pak Suparman memperoleh pengetahuan meneganai cara bercocok tanam tanaman padi dari orang tuanya. Dengan cara melihat dan memperhatikan ketika orang tuanya bercocok tanam. Pengetahuan dan cara budidaya tanaman padi beliau sejak dahulu  hingga sekarang juga berubah-ubah. Hal ini di karekan pergantian musim setiap tahunnya yang semakin tidak menentu dan adanya program baru dari pemerintah di bidang pertanian, misalnya dengan mengupayakan penggunaan pupuk organik atau mengurangi penggunaaan pupuk kimia, serta danya penyuluhan tentang cara bercocok tanam yang lebih baik guma mendapatkan pendapatan dan hasil yang maksimal. Sehingga cara budidayanya juga harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saaat ini.

 

Data Pupuk Kimia yang Digunakan Pak Suparman

Jenis Pupuk

Jumlah (Kg)

Cara Memperoleh

Beli Kontan dari :

Kredit dari:

  1. Urea

1 kwintal (100 kg)

Kelompok tani

-

  1. Ponska

1 kwintal (100 kg)

Kelompok tani

-

  1. SP-36

½ kwintal (50 kg)

Kelompok tani

-

  1. ZA

1 kwintal (100 kg)

Kelompok tani

-

  1. KCL

1 kwintal (100 kg)

Kelompok tani

-

 

 

 

 

 

Data Pupuk Organik yang di gunakan Pak Suparman

Jenis Pupuk Organik

Jumlah (Kg)

Cara Memperoleh

Beli Kontan dari :

Kredit dari:

  1. Kompos

1,5 kwintal (150 kg)

Kelompok tani

-

 

 

 

Data Pestisida kimia yang di gunakan Pak Suparman

Jenis Pupuk

Jumlah (Kg)

Cara Memperoleh

Beli Kontan dari :

Kredit dari:

  1. Desis

1 botol besar (500 ml)

Kelompok tani

-

  1. Cabo

1 botol bear (500ml)

Kelompok tani

-

  1. Laser

1 botol besar (500 ml)

Kelompok tani

-

Dalam mendapatkan atau memperoleh baik pupuk kimia, pupuk organik, maupun pestisida, beliau mendapatkan nya dari kelompok tani di Desa Pakis Kembar, dusun Jambon. Dari hasil wawancara, Bapak Suparman mengatakan bahwa beliau memperoleh pupuk ataupun pestisida dengan membayar secara cash.

2.4.4.Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Pada masa orde baru, masa pemerintahyan presiden Suharto, Indonesia mampu menjadi negara swasembada berasa karena meningkatnya pertanian Indonesia akibat kebijakan pemerintaha saat itu yang mencetuskan panca usaha tani. Penggunaaan pupuk kimia sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan berhasil dengan pesat.

Menurut pengamatan dan pengalaman Pak Suparman cara bercocok tanam di desa ini masih terbilang semi tradisional. Faktor-faktor yang menyebabkan kondisi pertanian,di lahan milik Bapak Suparmanan, pertanian di desa ini tidak mengalami peningkatan secara signifikan dikarenakan beberapa faktor diantaranya adalah pupuk, benih, pengalaman, penyuluhan dari pemerintah dan lain-lain. Di masa lalu pemerintah memberikan subsidi pupuk, namun di masa sekarang pemerintah tidak memberikan subsidi sehingga biaya pembeliaan pupuk di rasa cukup memberatkan petani . Sedangkan untuk benih, terlalu banyak varietas yang di gunakan sehingga petani merasa kebingungan dalam menentukan varietas yang akan di gunakan. Dan di masa sekarang, pemerintah tidak pernah memberikan penyuluhan secara cuma-Cuma, sehingga tidak ada pembaharuan terhadapa cara bercocok tanam petani.

 

Sekarang pemerintah menggalakkan penggunaan pupuk organik ( pupuk kompos, kandang ) dari pada penggunaan pupuk kimia. Bapak Suparman menanggapi hal tersebut dengan baik. Akan tetapi, penerapannya yang sulit, karena masyarakat sekarang sudah dimudahkan dengan adanya pupuk kimia. Para petani saat ini sulit untuk kembali ke pupuk organik, dikarenakan bila di bandingkan dengan penggunaan pupuk organik, pengaruh pupuk kimia dalam meningkatkan kesuburan tanaman di lahan hanya memerlukan waktu singkat, sedangkan pupuk organik memerlukan waktu yang lebih lama. Upaya yang dilakukan Pak Suparman untuk mencegah rendahnya tinggat kesuburan tanah diantaranya dengan cara mengistirahatkan tanah dan tidak ditanami apa-apa selama jangka waktu kurang lebih satu minggu. Selain itu juga di selangi dengan penggunaan pupuk organik, yang mana tidak akan memberika dampak negatif di masa yang akan datang.

 

Menurut Bapak Suparman telah terjadi perubahan sosial dan globalisasi di desa tersebut. Berdasarkan pengalaman beliau selama ini, terdapat perubahan-perubahan yang terjadi antara masa orde baru atau masa sebelum reformasi dengan masa sekarang. Perbandingannya dapat di lihat dari table di bawah ini :

 

Ciri-ciri

Masa (Periode)

Orde Lama

Orde Baru

Reformasi (sekarang)

Pengolahan tanah

Tradisional

Contoh :

Menggunakan pacul/tenaga hewan

Modern

Contoh :

Menggunakan traktor

Semi Modern

Contoh :

Menggunakan traktor dan tenaga hewan (tergantung keadaan tanah)

Pupuk

Organnik

Kimia

Kimia dan organik

Irigasi

Kurang merata

Merata

Merata

Benih

Hanya 1 varietas

Lebih dari 1 macam varietas

Berbagai macam varietas

Membasmi Hama

Tradisional,pestisida alami

Pestisida buatan

Pestisida buatan

Waktu usaha tani

Lama

Cepat dan mudah

Cepat dan mudah

Hasil Panen

Sedikit

Meningkat drastis

Konstan

Kondisi tanah

Subur

Cenderung subur

Cenderung subur

Biodiversitas dalam tanah

Banyak

Cenderung banyak

Cenderung sedikit

 

2.4.5. Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani

Didesa yang di amati oleh penulis, tepatnya di desa Pakis Kembar, dusun jambon terdapat gabungan kelompok Tani. Salah satu kegiatan rutin yang di lakukan oleh gaboktan di dea Pakis Kembar ini adalah mebgadakan musyawarah yang di hadiri oleh seluruh anggota gaboktan dan pengurusnya untuk membicarakan masalah-masalah yang muncul dalam bidang pertanian di desa pakis kembar ini. Bapak Suparman merupakan seorang anggota yang aktif dalam mengikuti kegiatan yang di adakan oleh gaboktan “Sido Makmur” yang di ikutinya. Karena menurut Bapak Suparman, dari mengikuti kegiatan kegiatan yang di adakan oleh gaboktan”Sido Makmur” itu sangat mempunyai banyak manfaat, dan manfaat yang di rasakan oleh Bapak Suparman yaitu mendapat solusi dari masalah yang di hadapi oleh Bapak Suparman khususnya, dalam sistem pertanian yang beliau jalani.

 

Menurut Bapak Suparman, bibit yang dia gunakan merupakan bibit hasil seleksi yang beliau lakukan dari panen sebelumnya. Sedangkan untuk pupuknya’ beliau mendapatkannya dari kelompok tani di Desa itu yang bernama “Sido Makmur. Untuk tenaga kerja bapak Suparmani menggunakan 5 orang tenaga kerja untuk untuk mengolah lahannya yang berada di 5 lokasi yang berbeda, mulai dari penanaman, pemberian irigasi ke lahan, pemupukan, dan pemanenan. Upah tenaga kerja untuk penanaman, pemupukan, dan pemanenan sebesar Rp 15.000,00 + makandengan lama kerja selama setengah hari, Upah tenaga kerja di Desa Pakis Kembar bisa dikatakan masih rendah.

 

Hasil panen dari lahan beliau di berikan perlakuan pasca panen mulai dari panen, pembersihan, sortasi, greeding, penyimpanan, pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, dan yang terakhir pemasaran. Seluruh hasil panen Pak Suparman di jual ke tengkulak, pedagang pasar, ataupun di jual eceran ke warga sekitar . Harga beras yang di berikan oleh Pak Suparman tergantung kepada siapa yang membeli, bila yang membeli adalah tengkulak atau pedagang pasar maka harga yang di berikan oleh beliau sekitar Rp 7.200,00 – Rp 7.300,00 per 25 kilogram beras,sedangkan harga yang di berikan oleh Pak Suparman kepada warga sekitar yaitu sekitar Rp 7.400,00 – Rp 7.500,00 per 25 kilogram beras. Alasan beliau tidak mengganti komoditi yang ia tanam di antaranya, keuntungan yang di hasilkan oleh padi lebih besar di bandingkan dengan komoditi lain, dan yang terkahir karena beliau takut mengalami kerugian atau pun gagal panen bila mengganti atau mencoba komoditi ataupun varietas lain. Karena menurut beliau, tanah di lahan yang berada di desa Pakis Kembar ini cocok untuk di tanami oleh komoditi padi dan u ubi jalar.

 

2.4.6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani di dusun Jambon, desa Pakis Kembar yang bernama Bapak Suparman, dapat di simpulkan bahwa beliau adalah petani yang cukup sukses .  Walaupun petani tersebut merupakan pekerjaan sampingan dari beliau, namun dari hasil pertanian tersebut dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dari cara bercocok tanamnya, beliau terkadang menggunakan cara tradisonal dan juga terkadang menggunakan cara mode4rn tergantung pada kondisi lahan sawah yang akan di tanami.

 

Bapak Suparman, juga menjadi salah satu anggota dari kelompok tani. Di dalam kelembagaan tersebut, biasanya beliau dapat membeli atau mendapatkan pupuk organik ataupun anorganik serta pestisida untuk kebutuhan lahannya.

 

Bapak Suparman, berpendapat bahwa pertanian pada masa sekarang sudah lebih maju daripada masa sebelum reformasi atau orde baru. Perbedaan tersbut tampak dari sistem pertaniannya yang lebih terstruktur dan peralatan pertanian yang di gunakan jauh lebih modern, praktis dan canggih.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

            Berdasarkan data yang didapat dari wawancara di Dusun Jambon Desa Pakis Kembar dapat diketahui bahwa mayoritas petani di desa tersebut memiliki pendidikan yang rendah, memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak, namun berdasarkan penggolongon sosiologis, dalam aspek pelapisan sosial petani yang diwawancari oleh penulis termasuk kedalam petani golongan menengah ke atas dan cukup sukses.

Berdasarkan aspek kebudayaan petani, pada umumnya petani di Dusun Jambon Desa Pakis Kembar termasuk petani semi modern hal ini dikarenakan, sebagian petani di Desa tersebut terkadang mengkombinasikan antara alat-alat pertanian modern dan tradisional yang digunakan mulai dari pengolahan lahan sampai pemanenannya. Namun masih ada beberapa petani di desa tersebut yang tidak mau menerima modernisasi (menggunakan alat-alat pertanian yang modern). Dan pada umumnya petani padi di desa tersebut menggunakan varietas IR-64, dan pada umumnya petani ketela pohn di desa tersebut menggunkan varietas manohara.

Dalam aspek stratifikasi sosial petani di desa tersebut tergolong petani golongan menengah ke atas karena luas lahan yang dimiliki lebih dari 1 ha dan kondisi rumah yang dimiliki para petani di desa tersebut sederhana dan permanen serta sudah menggunakan lantai dalam bentuk keramik.

Dalam aspek kelembagaan di desa Pakis Kembar terdapat kelompok tani Sido Makmur atau Gabutan. Petani yang penulis wawancarai, turut aktif dalam kelembagaan tersebut, dan pada umumnya petani sangat diuntungkan dengan adanya kelompok sosial tersebut.

Dalam aspek perubahan sosial dan globalisasi, para petani mearsakan adanya kemajuan dalam sistem pertanian dan teknologi. Dan mereka setuju (open mind) terhadap kebijakan pemerintah yang menggalakkan penggunaan pupuk organik.

 

 

5.2. Saran

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan saran untuk ke depannya bagi para petani di desa Pakis Kembar, seharusnya petani yang belum mau membuka pikiran mereka terhadap perkembangan sistem maupun teknologi didalam dunia pertanian mulai saat ini diharapkan dapat membuka pikiran mereka terhadap suatu hal yang baru agar dapat tercipa sistem pertanian yang lebih baik, berkualitas dan menguntungkan bagi petani maupun konsumen. Supaya kesejahteraan para petani dapat meningkat dan lebih berkualitas serta pemerintah tidak perlu mengimpor bahan pangan dari negara lain karena petani Indonesia telah mampu menghasilkan produk pangan yang berkualitas dan memenuhi standart.

Saran penulis kepada pembaca yaitu diharapkan pembaca agar lebih peka dan peduli terhadap para petani disekitar kita, terutama petani yang terdapat di desa atau di daerah-daerah terpencil yang belum mengetahui dan menerapkan perkembangan teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan dalam segala aspek pada usaha taninya.

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laporan Besar Ekologi Pertanian

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Bumi ini merupakan tempat yang kaya akan makhluk hidup. Banyak sekali organisme yang sudah dikenali maupun yang belum dikenali. Lebih dari 1 juta spesies hewan hidup didalamnya. Dari jumlah tersebut, ¾ nya adalah serangga. Lebih dari 2 juta lagi adalah tumbuhan dan lebih dari ½ nya adalah tumbuhan tingkat rendah. Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara faktor biotik dan faktor abiotik. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekositem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Agar ekosistem kita dapat terjaga kelestariannya maka kita keseimbanagan antara faktor biotik dan faktor abiotik . Faktor biotik adalah faktor yang meliputi semua makhluk hidup di bumi.

Sedangkan faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Dengan terjaganya keseimbangan antar faktor biotik dan abiotik tersebut  maka keseimbangan lingkungan akan diperoleh. Dengan adanya keseimbangan tersebut maka seluruh kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan dapat berjalan dengan lancar. Dalam pengamatan ini, kita menganalisa tumbuhan dan hewan yang banyak sekali jenisnya yang mungkin terdapat dilokasi.

Ekologi pertanian merupakan ilmu yang mengaplikasikan prinsip-prinsip ekologi untuk merancang, mengelola dan mengevaluasi sistem pertanian yang produktif dan lestari. Selain itu ekologi pertanian juga mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ilmu ini bertujuan untuk mempelajari interaksi antara komponen biofisik, teknik, dan sosio ekonomi dalam satu sistem pertanian. Hal tersebut terutama berhubungan dengan skilus hara tranformasi energi, proses-proses biologi dan kondisi sosial ekonomi. Jadi ekologi pertanian lebih menekankan pada hubungan timbal balik antara komponen agroekosistem dan dinamika proses-proses ekologi.

Penggunaan lahan pertanian yang beragam berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, karena jenis tanaman berbeda dan pengaturannya pun ikut berbeda. Kondisi inilah yang akan mengubah kondisi iklim mikro, kandungan bahan organik tanah, dan kehidupan organisme dalam tanah maupun di atas tanah. Tanah akan menyediakan energi bagi organisme tersebut. Hubungan interaksi inilah yang akan dipelajari dalam ekologi.

Keanekaragaman ini terjadi karena faktor lingkungan, makhluk hidup akan cenderung mencari lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Maka dari itu keberagaman makhluk hidup disetiap tempat berbeda-beda. Pengamatan akan dilakukan di dua lokasi yang berbeda yaitu di Jatikerto dan di Cangar. Di Jatikerto umumnya mempunyai karateristik tempat seperti didaerah rendah sedangkan di Cangar mempunyai karakteristik tempat didaerah pegunungan. Dengan perbedaan seperti ini dapat dipastikan bahwa makluk hidup yang ada di tiap-tiap tempat tersebut pastilah berbeda.

 

1.2    Tujuan

Setelah melakukan praktikum lapang di Cangar dan Jatikerto diharapkan mahasiswa mampu:

  1. Untuk mengetahui Analisa Vegetasi dan Faktor Abiotik pada kebun percobaan Cangar dan Jatikerto
  2. Untuk mengetahui Biomassa Pohon dan Faktor Abiotik Tanah pada kebun percobaan Cangar dan Jatikerto
  3. Untuk mengetahui Arthropoda pada kebun percobaan Cangar dan Jatikerto
  4. Untuk mempelajari interaksi antara komponen Biotik dan Abiotik

Untuk mengetahui Biomassa Pohon pada kebun percobaan Cangar dan Jatikerto

Sehingga hasil praktikum ini dapat menunjang mata kuliah ekologi pertanian dan diharapkan mampu di aplikasikan sebagai wujud tri dharma pendidikan Universitas Brawijaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Analisa Vegetasi dan Faktor Abiotik

2.1.1  Analisis vegetasi

a)      Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit.

(anonymous1,2011)

b)      Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi lahan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.

(anonymous2,2011)

c)      Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi atau masyarakat tumbuhan. Berbeda dengan inventaris hutan titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Dari segi floristis ekologi untuk daerah yang homogen dapat digunakan random sampling, sedangkan untuk penelitian ekologi lebih tepat digunakan sistematik sampling, bahkan purposive sampling pun juga dibolehkan.

Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas. Sifat – sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar, dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan (density), atau banyaknya (abudance).

Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat sifat itu adalah :

Ukuran petak. Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komnitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian.

Bentuk petak. Bentuknya segi empat dengan ukuran yang berbeda-beda sesuai dengan vegetasi yang terdapat pada lokasi penelitian, (Biomassa tahunan atau biomassa musiman).

Jumlah petak. Petak berjumlah sebanyak 5 petakan, dengan ukuran masing-masing berbeda.

Cara meletakkan petak di lapangan. Ada dua cara, yaitu cara acak (random sampling) dan cara sistematik (systematic sampling).

( Anonymous3,2010)

 

 

 

 

 

 

2.1.2 Faktor Abiotik

Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.

a.       Suhu

Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b.      Sinar matahari

Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

(anonymous4,2011)

2.2 Biomassa dan Faktor Abiotik Tanah

2.2.1 Biomassa Pohon

Penghitungan biomassa merupakan salah satu langkah penting yang harus diketahui dan dilakukan dalam sebuah kegiatan atau proyek mitigasi perubahan iklim di sektor kehutanan. Hanya kegiatan yang bertipe substitusi karbon tidak memerlukan penghitungan biomassa. Jenis – jenis kegiatan lainnya seperti pencegahan deforestasi, pengeleolaan hutan tanaman dan agroforestri memerlukan penghitungan biomassa.

 

a)      Biomasa pohon adalah semua bahan organik dari pohon, mulai dari akar, batang, cabang, bunga, buah, biji dan daun. Biomasa yang berupa kayu merupakan sumber energi yang telah dimanfaatkan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dan masih terus dimanfaatkan hingga sekarang, khususnya di daerah pedesaan pada negara yang sedang berkembang.

(anonymous5,2011)

b)      Biomassa adalah materi yang berasal dari makhlul hidup termasuk bahan organic, baik yang hidup maupun yang mati, baik yang di atas permukaan tanah. Misalnya pohon, hasil panen, rumput, seresah, akar, hewan, dan kotoran hewan.

(Sutaryo,2009)

c)      Biomass is defend as any plant matter used directly as fuelor coverted in to fuels or electricity and or heat. (Biomassa adalah didefinisikan sebagai bahan tanaman yang digunakan secara langsung sebaagai bahan bakar, atau dikonversikan menjadi listrik atau panas.)

(Buckeridge,2011)

d)     Biomass is the name given to any recent oranic matter that has been received from plant as a result of the photosynthetic conversion process. Biomassa adalah nama yang diberikan untuk setiap bahan organic baru yang telah diperoleh dari tumbuhan sebagai hasil proses konversi fotosintesis.

(El Bassam, 2010)

2.3  Arthropoda

a.       Arthropoda adalah hewan invertebrata yang memiliki exoskeleton (kerangka eksternal), tubuh tersegmentasi, dan pelengkap. Arthropoda adalah anggota dari filum Arthropoda dan termasuk serangga, arakhnida, krustasea, dan lain-lain.

(anonymous6,2011)

b.      Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit.

(anonymous7,2011)

c.       Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki.Berikut ini akan diuraikan beberapaa diantaranya yang paling umum, yaitu Kelas Arachnidaa, Chilophoda, , Diploda ,Crustacea, Dan Insecta. Khusus untuk insecta akan dibahas lebih mendetail karena insecta merupakan antrophoda yang paling banyak.

Arachnida

Arachnida (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja.Kalajengking adalah salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies.Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm.Arachnoidea merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit.Arachnoidea yang hidup bebas bersifat karnivora.Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Arachnida, dan Acarina.Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen terakhir, contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng ( Buthus after).Pada Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat sengat), contoh hewan ini adalah Laba-laba serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan (Nephila maculata).Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, contohnya adalah caplak atau tungau (Acarina sp.).

Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan Arachnoidea yang sering kita jumpai, yaitu laba-laba.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu sefalotoraks (kepala-dada) pada bagian anterior dan abdomen pada bagian posterior.Sefalotoraks adalah penyatuan tubuh bagian sefal atau kaput (kepala) dan bagian toraks (dada).Pada sefalotoraks terdapat sepasang kalisera (alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan enam pasang kaki untuk berjalan.Kalisera dan pedipalpus merupakan alat tambahan pada mulut.

Chilopoda

Kelompok hewan ini dikenal sebagai kelabang.Tubuhnya memanjang dan agak pipih.Pada kepalanya terdapat antena dan mulut dengan sepasang mandibula dan dua pasang maksila.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat kaki dan sepasang spirakel.Pasangan pertama kaki termodifikasi menjadi alt beracun.Alat penyengat digunakan unutk menyengat musuh atau pengganggunya.Sengatannya menimbulkan bengkak dan rasa sakit.Contoh hewan ini adalah kelabang (scutigera sp.).

Diplopoda

Hewan pada ordo ini dikenal dengan kaki seribu, meskipun jumlah kakinya bukan berjumlah seribu.Ada yang menyebutkan nama lain seperti keluwing.Tubuhnya bulat panjang.Mulutnya terdiri dari dua pasang maksila dan bibir bawah.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan dua pasang spirakel.Diplopoda tidak memiliki cakar beracun karenanya hewan ini bersifat hebivora atau pemakan sisa organisme.Gerakkan hewan ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang.Bila terganggu hewan ini akan menggulungkan tubuhnya dan pura-pura mati.Contoh hewan ini adalah kaki seribu(lulus sp.).

Crustacea

Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang keras.
Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat.Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca dan Malacostraca. Contoh adalah Udang, lobster, dan kepiting.

Insecta

Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga).Banyak anggota hewan ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang,dan lebah.Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah. Karena itu pula sering juga disebut hexapoda.
Insecta dapat hidup di berbagai habitat, yaitu air tawar, laut dan darat.Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok invertebrata yang dapat terbang.Insecta ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit.

Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kaput, toraks, dan abdomen.Kaput memiliki organ yang berkembang baik, yaitu adanya sepasang antena, mata majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli).Insecta memiliki organ perasa disebut palpus.Insecta yang memiliki syap pada segmen kedua dan ketiga.Bagian abdomen Insecta tidak memiliki anggota tubuh.Pada abdomennyaterdapat spirakel, yaitu lubang pernapasan yang menuju tabung trakea.Trakea merupakan alat pernapasan pada Insecta.Pada abdomen juga terdapat tubula malpighi, yaitu alt ekskresi yang melekat pada posterior saluran pencernaan.Sistem sirkulasinya terbuka.Organ kelaminnya dioseus.

 

 

Perkembangan Insecta dibedakan menjadi tiga :

Pertama Ametabola adalah perkembangan yang hanya berupa pertambahan ukuran saja tanpa perubahan wujud.Contohnya kutu buku (lepisma saccharina)Kedua Hemimetabola adalah tahap perkembangan Insecta yang tidak sempurna, dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi ada organ yang belum muncul, misalnya sayap.Sayap itu akan muncul hingga pada saat dewasa hewan tersebut.Insecta muda disebut nimfa.Ringkasan skemanya adalah telur – nimfa (larva) – dewasa (imago). Contoh Insecta ini adalah belalang, kecoa (periplaneta americana), jangkrik (gryllus sp.), dan walang sangit (leptocorisa acuta).Ketiga Holometabola adalah perkembangan Insecta dengan setiap tahap menunjukan perubahan wujud yang sanagt berbeda (sempurna).Tahapnya adalah sebagai berikut ; telur – larva – pupa – dewasa. Larvanya berbentuk ulat tumbuh dan mengalami ekdisis beberapa kali.Setalah itu larva menghasilkan pelindung keras disekuur tubuhnya untuk membentuk pupa..Pupa berkembang menjadi bagian tubuh seperti antena, sayap, kaki, organ reproduksi, dan organ lainnya yang merupakan struktur Insecta dewasa.Selanjutnya, Insecta dewasa keluar dari pupa.Contoh Insecta ini adalah kupu-kupu, lalat, dan nyamuk.

Pengolongan insecta

Orthoptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang sempit.Misalnya kecoa, jangkrik, dan gansir

Hemiptera memiliki dua pasang sayap yang tidak sama panjang.Contohnya walang sangit (Leptocorisa acuta).

Homoptera memiliki dua pasang yang sama panjang.Contohnya wereng coklat (Nilaparvata lugens)

Odonata memiliki dua pasang sayap seperti jala.Contohnya capung (pantala).

Coleptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang keras dan tebal.Misalnya kumbang tanduk (Orycies rhinoceros) dan kutu gabah (Rhyzoperta diminica)

Hymenoptera memiliki dua pasang sayap yang seperti selaput, dengan sayap depan lebih besar daripada sayap belakang.Misalnya semut rangrang (Oecophylla saragillina)

Diptera hanya memiliki sepasang sayap.Misalnya nyamuk (Culex sp.), nyamuk malaria (Anopheles sp), nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), lalat rumah (Musca domestica), lalat buah (Drosophila melanogaster), dan lalat tse-tse (Glossina palpalis)

Lepidoptera memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus dan tipe mulut mengisap.Misalnya kupu-kupu sutera (Bombyx mori).

( Tim dosen, 2010)

 

Peran Arthropoda bagi manusia

Berbagai jenis Arthropoda memberikan keuntungan dan kerugian bagi manusia.Peran arthropoda yang menguntungkan manusia misalnya yaitu sebagai berikut :

Sumber makanan yang mengandung protein hewani tinggi.Misalnya Udang windu (Panaeus monodon), rajingan (portunus pelagicus), kepiting (scylla serrata), dan udang karang (panulirus versicolor)

Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica)

Bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori)

( Anonymous8, 2010)

 

 

Sementara yang merugikan manusia anatara lain :

Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor penyakit tifus.

Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk

Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk

Perusak makanan.Contohnya kutu gabah

Perusak produk berbahan baku alam.Contohnya rayap dan kutu buku

( Anonymous9, 2010)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1  Alat, Bahan + fungsi, Teknis Lapang

3.1.1 Analisis vegetasi dan Faktor Abiotik ( Suhu dan Radiasi )

Alat, bahan, dan fungsi :

  • Tali raffia (4 meter) untuk membatasi petak
  • Bambu, sebagai patok tempat diikatnya tali
  • Luks meter untuk mengetahui intersepsi radiasai matahari
  • Termometer hygrometer (termohigrograph) mengukur suhu pada plot
  • Kertas table sebagai tempat pengisian data
  • Alat tulis untuk mencatat

Teknis Lapang:

Pada praktikum ekologi pertanian di daerah Cangar tanaman semusim menggunakan metode survey lahan ( pengamatan lapangan)

  • Menyiapkan alat dan bahan
  • Melakukan pengamatan cepat ( tapak bersifat monokultur atau polikultur)

Untuk area monokultur ( plot utama) ditentukan petak percontohan dengan luasan 5×5 m2

Pada plot pendukung membuat petak pengamatan dengan ukuran 1×1 m2

Kotak pengamat dibuat dengan tali raffia dan kayu penahan di setiap pojokan dengan pengulangan 5x pada plot pendukung

  • Mengidentifikasi/inventarisasi vegetasi yang masuk dalam kotak pengamatan

 

Amati vegetasi berdasarkan spesies, jumlah individu, dan luas bidang dasar.

  • Menghitung besarnya kerapatan (individu/ha), frekuensi dan dominasi (m2/ha) dan indeks nilai penting (INP) dari masing-masing data vegetasi yang sudah diambil.
  • Mengukur intensitas radiasi matahari dengan luks meter ( di bawah naungan, netral, dan di luar naungan)
  • Mengukur suhu dan kelembaban dengan termohigrograh ( di bawah naungan dan tanpa naungan)
  • Membuat laporan ringkas hasil temuan di lapang dengan dilengkapi foto dan gambar pendukung

 

3.1.2     Biomassa Pohon dan Faktor Abiotik ( Tanah )

Alat, bahan, dan fungsi :

  • Pita ukur (meteran) berukuran panjang 50 m untuk mengukur keliling pohon
  • Tali raffia untuk membuat plot
  • Bamboo sepanjang 2,5 m untuk mengukur lebar SUB-PLOT ke sebelah kiri dan kanan garis tengah dan member tanda pada pohon yang akan di ukur diameternya
  • Alat tuis untuk mencatat
  • Blanko pengamatan

Pengukuran bimassa pohon dilakukan dengan cara ‘non destructive’ ( tidak merusak bagian tanaman). Tetapi untuk tanaman semusim, pengambilan contoh tanaman harus dilakukan perusakan.

Cara Pengukuran :

  • Bagilah sub plot menjadi 2 bagian, dengan memasang tali di bagian tengah sehingga ada SUB-SUB PLOT, masing-masing berukuran 2,5m x 40m
  • Catat nama setiap pohon, dan ukurlah deameter batang setinggi dada (dbh= diameter at breast height = 1,3 m dari permukaan tanah) semua pohon yang masuk dalam SUB-SUB PLOT sebelah kiri dan kanan.
  • Lakukan pengukuran dbh hanya pada pohon besar dengan lingkar lilit > 30cm. Bawalah tongkat kayu ukuran panjang 1,3 m, letakkan tegak lurus permukaan tanah di dekat pohon yang akan di ukur, berilah tanda goresan pada batang pohon. Bila permukaan tanah di lapangan dan bentuk pohon tidak rata, maka penentuan titik pengukuran dbh pohon dapat di lihat dalam box 2.
  • Lilitkan pita pengukur pada batang pohon, dengan posisisi pita harus sejajar untuk semua arah sehingga diperoleh lingkar/lilit batang , catat hasil deameter pada tiap pohon
  • Tulis semua data yang diperoleh dari pengukuran dbh (pohon hidup) dalam blanko pengamatan biomassa

 

Pengolahan data :

  • Hitung biomassa pohon menggunakan persamaan allometrik
  • Jumlahkan biomassa semua pohon yang ada pada suatu lahan sehingga diperoleh total biomassa pohon per lahan (kg/luasan lahan)

Mengukur ketebalan seresah

  • Tentukan 10 titik contoh pada SUB-PLOT
  • Tekan seresah yang ada, tancapkan ujung penggaris hingga menyentuh permukaan tanah. Catatlah ketebalan seresah, dan karakteristik seresahnya.

Mengukur Suhu Udara dan Suhu Tanah

  • Ukurlah suhu udara di bawah tanaman, ukur pula di tempat terbuka
  • Ukurlah suhu tanah di setiap lahan pada kedalaman 0-5 cm. Singkirkan seresah dari permukaan tanah, tancapkan jung thermometer perlahan-lahan ke dalam tanah ukur pula di tempat terbuka.

3.1.3   Faktor Biotik ( Keragaman Arthropoda pada Agroekosistem)

Alat, bahan, dan fungsi :

  • Swept net, berguna sebagai jarring penangkap arthropoda
  • Plastic ukuran 1kg yang diberi kloroform untuk memasukkan serangga yang terperangkap pada swept net
  • Fial film warna putih untuk memasukkan serangga yang terperangkap pada pitfall

Teknis Lapang :

  • Pemasangan pitfall traps satu hari sebelum pelaksanaaan praktikum lapang pada masing-masing lahan yang akan diamati. Pemasangan dilakukan dengan metode pengambilan contoh secara sistematis pada garis diagonal.
  • Hunting serangga dengan swept net dengan ayunan ganda.
  • Serangga yang terperangkap pada pitfall diambil dan dimasukkann pada fial film kemudian diberi alcohol 70%. Sedangkan serangga yang terperangkap pada swept net dimasukkan pada plastic dan diberi kloroform.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1.1.      Perhitungan + Tabel pengamatan (Cangar & Jatikerto) Analisa vegetasi & faktor abiotik (suhu udara, radiasi matahari dan kelembapan).

a.       Tabel Pengamatan Suhu Udara, Kelembaban dan Radiasi Matahari

No.

Lokasi

Suhu (oC)

RH (%)

RM (Lux)

1

Cangar

21,5o

62%

95 lux

2

Jatikerto

35,9o

47%

20 lux

Tabel 1. Analisa Vegetasi

 

b.      Tabel Biomassa Pohon (Cangar)

nama pohon

Bercabang

/tidak

K

D

p

biomassa

tebal seresah

Pohon Pinus 1

bercabang

60

19,11

0,7

175,14

7

Pohon Pinus 2

bercabang

75

23,8

0,7

317,25

7

Pohon Pinus 3

bercabang

64

20,28

0,7

204,64

7

Pohon Pinus 4

bercabang

12

3,82

0,7

2,758

7

Pohon Pinus 5

bercabang

68

21,6

0,7

241,41

7

Pohon Pinus 6

bercabang

35

11,14

0,7

42,59

7

Pohon Pinus 7

bercabang

7

2,22

0,7

0,622

7

Pohon Pinus 8

bercabang

12

3,82

0,7

2,57

7

Pohon Pinus 9

bercabang

24

7,64

0,7

15,85

7

Tabel 2. Biomassa pohon

 

 

 

 

 

4.1.2.      Tabel Analisis vegetasi Jatikerto

Tabel 3. Analisa Vegetasi 1 (Jatikerto)

No

Spesies

D1(Cm)

D2(Cm)

Plot

1

2

3

4

5

1

Singkong

178

109

12

6

3

1

2

2

Putri Malu

4

30

7

4

2

1

0

3

Rumput

2

45

22

15

10

3

4

4

Alang-alang

60

10

40

0

0

0

0

 

Tabel 4. Hasil Analisa Vegetasi 2

No

Spesies

Kerapatan

Frekuensi

Dominasi

LBA

INP(%)

SDR(%)

Mutlak

Nisbi (%)

Mutlak

Nisbi (%)

Mutlak

Nisbi (%)

1

Singkong

4,8

16

1

31,6

124,2

81,1

3104,3

128,7

42,9

2

Putri Malu

2,8

9,3

0,8

25,3

0,78

0,51

19,2

35,11

11,7

3

Rumput

10,8

36

1

31,6

0,58

0,38

14,4

67,98

22,66

4

Alang-alang

8

26

0,2

6,3

3,84

2,5

96

34,8

11,6

 

 

 

 

 

 

o   Faktor Biotik (Keragaman Arthropoda pada Ekosistem

Gambar literatur Arthropoda yang didapat di Cangar

 

 

 

 

                                    Jangkrik

 

 

 

 

 

 

 

 

Belalang hijau

 

 

 

 

 

 

                                                Ngengat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                            Kepik

 

 

 

 

o   Klasifikasi

Klasifikasi

Jangkrik

Belalang hijau

Ngengat

Kepik

Kingdom

Animalia

Animalia

Animalia

Animalia

Filum

Arthropoda

Arthropoda

Arthropoda

Arthropoda

Kelas

Insecta

Insecta

Insecta

Insecta

Ordo

Orthoptera

Orthoptera

lepidoptera

coleoptera

Famili

Gryllidae

pamaphogidae

Ctuidae

Coccinellidae

Genus

Gryllus

Oxya

spodoptera

epilachna

Spesies

Gryllus sp

Oxya chinensis

Spodoptera exigua

Epilachna sparsa

 

            Tabel 5. Klasifikasi arthropoda Cangar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

o      Bioekologi Arthropoda Cangar

1.         Jangkrik

  • Siklus Hidup

Cengkerik atau jangkrik (Gryllidae) adalah serangga yang berkerabat dekat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Setelah kawin, pemotongan betina celah ke dalam kulit ranting, dan ke dalam dia deposito telurnya. Dia dapat melakukannya berulang-ulang, sampai ia telah meletakkan beberapa ratus telur. Ketika telur menetas, nimfa drop baru lahir ke tanah, di mana mereka bersembunyi.Kebanyakan jangkrik pergi melalui siklus hidup yang berlangsung dari dua sampai lima tahun. Beberapa spesies memiliki siklus hidup lagi banyak, seperti genus Amerika Utara, Magicicada , yang memiliki sejumlah berbeda “merenung” yang masuk melalui sebuah sistem 17-tahun atau, di bagian selatan Amerika Serikat, tahun hidup siklus-13. Siklus ini umur yang panjang mungkin dikembangkan sebagai respon terhadap predator seperti tawon pembunuh jangkrik dan belalang sembah  Sebuah predator dengan siklus hidup lebih pendek sekurang-kurangnya 2 tahun tidak bisa diandalkan mangsa pada jangkrik

 

  • Peran

Jangkrik dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa tanaman yang dibudidayakan, semak, dan pohon, terutama dalam bentuk jaringan parut ditinggalkan di cabang-cabang pohon sedangkan betina bertelur dalam di cabang.

 

 

 

 

 

 

 

  • Habitat Dan Perilaku

Cicadas hidup di bawah tanah sebagai peri untuk sebagian besar hidup mereka, pada kedalaman berkisar dari sekitar 30 cm (1 kaki), sampai dengan 2,5 meter. jangkrik Desert juga antara beberapa serangga yang dikenal untuk mendinginkan diri dengan berkeringat, sementara jangkrik lainnya secara sukarela dapat meningkatkan suhu tubuh mereka sebanyak 22 ° C (40 F) di atas suhu lingkungan.

2.    Belalang hijau

  • Siklus hidup

Selama reproduksi, belalang jantan memperkenalkan sperma ke dalam ovipositor melalui aedeagus (organ reproduksi), dan memasukkannya spermatophore, paket berisi sperma, ke dalam betina ovipositor . Sperma memasuki sel telur melalui saluran halus yang disebut micropyles. perempuan kemudian meletakkan polong telur dibuahi, menggunakan ovipositor dan perut untuk memasukkan telur sekitar satu hingga dua inci bawah tanah. Polong telur mengandung beberapa lusin telur dikemas ketat yang terlihat seperti butir beras tipis. Telur yang tinggal di sana selama musim dingin, dan menetas ketika cuaca telah dihangatkan cukup. Dalam zona beriklim sedang, banyak belalang menghabiskan sebagian besar hidup mereka sebagai telur melalui bulan-bulan dingin (hingga 9 bulan) dan negara-negara yang aktif belalang muda dan dewasa) hidup hanya sampai tiga bulan. Nimfa pertama menetas terowongan atas melalui tanah, dan yang lainnya mengikuti. Belalang berkembang melalui tahap-tahap dan semakin mendapatkan lebih besar dalam tubuh dan ukuran sayap. Perkembangan ini disebut metamorfosis sebagai hemimetabolous atau tidak lengkap sejak muda agak mirip dengan orang dewasa.

 

  • Peran

belalang adalah beberapa jenis -bertanduk belalang singkat dari keluarga Acrididae yang besar kadang-kadang membentuk kelompok sangat (kawanan) ini dapat sangat merusak dan bermigrasi dalam kurang terkoordinasi cara atau lebih. kawanan Locust dapat menyebabkan kerusakan besar untuk tanaman.

 

  • Habitat dan perilaku

kebanyakan belalang hidup di pepohonan dan semak belukar. Belalang aktif di siang hari dan jika melompat tiba-tiba terganggu dengan bantuan hindlegs besar mereka. Mereka juga dapat merangkak perlahan-lahan dengan menggunakan kaki depan mereka

3.      Ngengat

o  Siklus hidup

Telur menetaskan ulat yang sering menyerang bawang merah, daun bawang, kucai, cabai, jagung, kapri, dan lain lain usia satu generasi lebih kursang 23 hari dan yang betina bisa bertelur kurang lebih 1000 butir.telur diletakkan dalm kelopak kelopak berbentuk lonjong yang warnanya putih dan ditutup dengan lapisan bulu bulu tipis sesudah menetas ulat segera masuk ke rongga daun bawang merah sebelah atas. Mula mula ulat berkumpul tetapi sesudah isi daun habis segera menyebar,dan apabila populasi besar ereka juga makan umbi, setelah lebih kurang 9-14 hari ulat menjadi kepompong dalam tanah.

o  Peran

Sebagian besar fase larva berperan sebagai parasit dan hama, imago juga berperan sebagai hama.

 

 

o  Habitat

Hidup pada semak dan pada perkebunan bawang merah. Ngengat keluar pada malam hari.

 

4.      Kepik

o  Siklus hidup

Kumbang kepik melakukan perkawinan agar bisa berkembang biak. Kadang-kadang ada 2 kumbang kepik yang memiliki corak warna berbeda, namun tetap bisa melakukan perkawinan dan berkembang biak secara normal karena kadang dari spesies kumbang kepik yang sama bisa memiliki corak warna (variasi sayap elitra) yang berbeda. Kumbang kepik betina dari jenis kumbang kepik karnivora selanjutnya memilih tempat yang banyak dihuni oleh serangga makananannya agar begitu menetas, larvanya mendapat persediaan makanan melimpah.Pada kumbang kepik pemakan daun, betina yang baru bertelur di suatu tanaman akan meninggalkan pola gigitan pada daun agar tidak ada betina lain yang bertelur di tanaman yang sama. Di wilayah empat musim, jika kumbang kepik betina tidak berhasil menemukan tanaman yang cocok hingga menjelang musim dingin, maka kepik betina akan menunda pelepasan telurnya hingga musim dingin usai.

o  Peran

Fase larva dan imago berperan sebagai haa dan parasit

o  Habitat

Hidup pada semak-semak yang mendukung perkembangbiakan

 

 

 

o

 

 

 

 

 

Belalang kayu

Gambar literatur Arthropoda yang didapat di Jatikerto

Belalang hijau

 

 

 

Semut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Jangkrik

Belalang hijau

Belalang kayu

Semut

Kingdom

Animalia

Animalia

Animalia

Animalia

Filum

Arthropoda

Arthropoda

Arthropoda

Arthropoda

Kelas

Insecta

Insecta

Insecta

Insecta

Ordo

Orthoptera

Orthoptera

Orthoptera

Hymenoptera

Famili

Gryllidae

pamaphogidae

Acrididaae

Apokrita

Genus

Gryllus

Oxya

Valanga

Vespoidea

Spesies

Gryllus sp

Oxya chinensis

valanga nigricornis

Formicidae

 

Tabel 6. Klasifikasi arthropoda Jatikerto

o   Bioekologi Arthropoda Jatikerto

1.      Jangkrik

  • Siklus Hidup

Cengkerik atau jangkrik (Gryllidae) adalah serangga yang berkerabat dekat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Setelah kawin, pemotongan betina celah ke dalam kulit ranting, dan ke dalam dia deposito telurnya. Dia dapat melakukannya berulang-ulang, sampai ia telah meletakkan beberapa ratus telur. Ketika telur menetas, nimfa drop baru lahir ke tanah, di mana mereka bersembunyi.Kebanyakan jangkrik pergi melalui siklus hidup yang berlangsung dari dua sampai lima tahun. Beberapa spesies memiliki siklus hidup lagi banyak, seperti genus Amerika Utara, Magicicada , yang memiliki sejumlah berbeda “merenung” yang masuk melalui sebuah sistem 17-tahun atau, di bagian selatan Amerika Serikat, tahun hidup siklus-13. Siklus ini umur yang panjang mungkin dikembangkan sebagai respon terhadap predator seperti tawon pembunuh jangkrik dan belalang sembah  Sebuah predator dengan siklus hidup lebih pendek sekurang-kurangnya 2 tahun tidak bisa diandalkan mangsa pada jangkrik

 

  • Peran

Jangkrik dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa tanaman yang dibudidayakan, semak, dan pohon, terutama dalam bentuk jaringan parut ditinggalkan di cabang-cabang pohon sedangkan betina bertelur dalam di cabang.

 

  • Habitat Dan Perilaku

Cicadas hidup di bawah tanah sebagai peri untuk sebagian besar hidup mereka, pada kedalaman berkisar dari sekitar 30 cm (1 kaki), sampai dengan 2,5 meter. jangkrik Desert juga antara beberapa serangga yang dikenal untuk mendinginkan diri dengan berkeringat, sementara jangkrik lainnya secara sukarela dapat meningkatkan suhu tubuh mereka sebanyak 22 ° C (40 F) di atas suhu lingkungan.

 

2.      Belalang Hijau

 

  • o Siklus hidup

Selama reproduksi, belalang jantan memperkenalkan sperma ke dalam ovipositor melalui aedeagus (organ reproduksi), dan memasukkannya spermatophore, paket berisi sperma, ke dalam betina ovipositor . Sperma memasuki sel telur melalui saluran halus yang disebut micropyles. perempuan kemudian meletakkan polong telur dibuahi, menggunakan ovipositor dan perut untuk memasukkan telur sekitar satu hingga dua inci bawah tanah. Polong telur mengandung beberapa lusin telur dikemas ketat yang terlihat seperti butir beras tipis. Telur yang tinggal di sana selama musim dingin, dan menetas ketika cuaca telah dihangatkan cukup. Dalam zona beriklim sedang, banyak belalang menghabiskan sebagian besar hidup mereka sebagai telur melalui bulan-bulan dingin (hingga 9 bulan) dan negara-negara yang aktif belalang muda dan dewasa) hidup hanya sampai tiga bulan. Nimfa pertama menetas terowongan atas melalui tanah, dan yang lainnya mengikuti. Belalang berkembang melalui tahap-tahap dan semakin mendapatkan lebih besar dalam tubuh dan ukuran sayap. Perkembangan ini disebut metamorfosis sebagai hemimetabolous atau tidak lengkap sejak muda agak mirip dengan orang dewasa.

 

  • o Peran

belalang adalah beberapa jenis -bertanduk belalang singkat dari keluarga Acrididae yang besar kadang-kadang membentuk kelompok sangat (kawanan) ini dapat sangat merusak dan bermigrasi dalam kurang terkoordinasi cara atau lebih. kawanan Locust dapat menyebabkan kerusakan besar untuk tanaman.

 

  • o Habitat dan perilaku

kebanyakan belalang hidup di pepohonan dan semak belukar. Belalang aktif di siang hari dan jika melompat tiba-tiba terganggu dengan bantuan hindlegs besar mereka. Mereka juga dapat merangkak perlahan-lahan dengan menggunakan kaki depan mereka

3.      Belalang Cokelat

  • Siklus hidup

Selama reproduksi, belalang jantan memperkenalkan sperma ke dalam ovipositor melalui aedeagus (organ reproduksi), dan memasukkannya spermatophore, paket berisi sperma, ke dalam betina ovipositor . Sperma memasuki sel telur melalui saluran halus yang disebut micropyles. perempuan kemudian meletakkan polong telur dibuahi, menggunakan ovipositor dan perut untuk memasukkan telur sekitar satu hingga dua inci bawah tanah. Polong telur mengandung beberapa lusin telur dikemas ketat yang terlihat seperti butir beras tipis. Telur yang tinggal di sana selama musim dingin, dan menetas ketika cuaca telah dihangatkan cukup. Dalam zona beriklim sedang, banyak belalang menghabiskan sebagian besar hidup mereka sebagai telur melalui bulan-bulan dingin (hingga 9 bulan) dan negara-negara yang aktif belalang muda dan dewasa) hidup hanya sampai tiga bulan. Nimfa pertama menetas terowongan atas melalui tanah, dan yang lainnya mengikuti. Belalang berkembang melalui tahap-tahap dan semakin mendapatkan lebih besar dalam tubuh dan ukuran sayap. Perkembangan ini disebut metamorfosis sebagai hemimetabolous atau tidak lengkap sejak muda agak mirip dengan orang dewasa.

 

 

 

 

 

  • Peran

belalang adalah beberapa jenis -bertanduk belalang singkat dari keluarga Acrididae yang besar kadang-kadang membentuk kelompok sangat (kawanan) ini dapat sangat merusak dan bermigrasi dalam kurang terkoordinasi cara atau lebih. Termasuk belalang cokelat kawanan Locust dapat menyebabkan kerusakan besar untuk tanaman.

 

  • Habitat dan perilaku

kebanyakan belalang hidup di pepohonan dan semak belukar. Belalang aktif di siang hari dan jika melompat tiba-tiba terganggu dengan bantuan hindlegs besar mereka. Mereka juga dapat merangkak perlahan-lahan dengan menggunakan kaki depan mereka

 

4.      Semut

  • Siklus hidup

Kehidupan seekor semut dimulai dari sebuah telur. Jika telur telah dibuahi, semut yang ditetaskan betina (diploid); jika tidak jantan (haploid). Semut are holometabolism, yaitu tumbuh melalui metamorfosa yang lengkap, melewati tahap larva dan pupa (dengan pupa yang exarate) sebelum mereka menjadi dewasa

  • Peran

Merupakan gangguan bagi manusia, tetapi dapat berperan sebagai detritifor bagi bangkai. Merupakan tentara pemburu di beberapa spesies.

 

  • habitat

Secara ekologi, sarang semut tersebar dari hutan bakau dan pohon-pohon di pinggir pantai hingga ketinggian 2400 m. Sarang semut paling banyak ditemukan di padang rumput dan jarang ditemukan di hutan tropis dataran rendah, namun lebih banyak ditemukan di hutan dan daerah pertanian terbuka dengan ketinggian sekitar 600 m. Ia banyak ditemukan menempel pada beberapa pohon, umumnya di pohon kayu putih, cemara gunung, kaha, dan pohon beech, tetapi jarang pada pohon-pohon dengan batang halus dan rapuh seperti Eucalyptus. Sarang semut juga tumbuh pada dataran tanpa pohon dengan nutrisi rendah dan di atas ketinggian pohon.

 

 

 

4.1.  Pembahasan (Perbandingan Agroekosistem pada Cangar dan Jatikerto + Literatur)

4.2.1.      Analisa Vegetasi dan Faktor Abiotik

Cangar dan Jatikerto merupakan daerah yang memiliki topografi berbeda. Cangar merupakan daerah dataran tinggi sedangkan Jatikerto merupakan dataran rendah. Kondisi topografi ini turut berpengaruh pada komponen iklim di wilayah tersebut, misalnya radiasi matahari, suhu dan kelembaban. Semakin tinggi suatu wilayah maka cahaya rata-rata yang sampai di wilayah itu semakin tinggi, suhu udara semakin rendah dan kelembaban yang semakin tinggi. Seperti hasil yang kita dapat, di Cangar suhu adalah 21,5oC, kelembaban 62% dan radiasi matahari 95 lux. Sedangkan di Jatikerto suhu adalah 35,9oC, kelembaban 47% dan radiasi matahari 20 lux.

Iklim dengan unsur-unsurnya, seperti suhu udara, kelambapan udara, angin dan radiasi matahari merupakan faktor utama yang mempengaruhi perseberan tumbuhan (flora) di permukaan bumi. Seperti halnya di Cangar dan di Jatikerto, terdapat perbedaan vegetasi yang terdapat di daerah tersebut. Dari percobaan kami menemukan spesies tumbuhan yaitu rata-rata pohon pinus, rumput teki, dan bangsa gramineae di Cangar, sedangkan di Jatikerto kami menemukan rumpu-rumputan, singkong, alang-alang dan tanaman yang masih belum di ketahui spesiesnya, jadi kami hanya menambahkannya.

 

4.2.2.      Biomassa Pohon dan Faktor Abiotik

 

Cangar tidak bisa dibandingkan karena tidak dilakukan perhitungan biomassa di daerah Jatikerto. Hal ini disebabkan karena perbedaan vegetasi yang ada di kedua tempat tersebut berbeda. Di Cangar di dapatkan nilai biomassa yaitu 175,14 ; 317,25 ; 204,64 ; 2,758 ; 241,41 ; 42,59 ; 0,622 ; 2,57 ; 15,85 dengan rata-rata 80,314  karena di daerah ini terdapat tanaman tahunan. Sedangkan di daerah jatikerto hanya terdapat tanaman semusim, tidak ada tanaman tahunan, sehingga kita tidak dapat mengetahui nilai biomassanya yang ada di Jatikerto.

 

4.2.3.      Faktor Biotik (Keragaman Arthropoda dalam Ekosistem)

 

Dalam praktikum lapang kali ini, kelompok kami di bagi menjadi dua kelompok kecil, yaitu praktikum ke Cangar dan Jatikerto. Untuk fieldtrip ke Cangar, pertama kali kami melakukan pengamatan keragaman arthropoda di sub plot 5×5 dengan menggunakan swept net dan pitt fall untuk menangkap keragaman jenis arthropoda. Dari hasil tangkapan kami yaitu jangkrik, kepik, belalang hijau, dan ngengat. Jadi di Cangar merupakan tempat yang tepat dan lingkungan yang mendukung bagi kehidupan keragaman berbagai jenis arthropoda.

Sedangkan di Jatikerto terdapat belalang hijau dan cokeklat, dan ada juga populasi semut. Dapat dikatakan keragaman arthropoda di Jatikerto juga beragam serta dalam segi kelengkapan juga sudah termasuk lengkap. Artinya adalah keragamn arthropoda di Cangar maupun Jatikerto memiliki berbagai arthropoda yang berperan sesuai dengan keseimbangan ekosistem, seperti arthropoda yang berperan sebagai predator; belalang hijau, kepik/ kumbang. Yang berperan sebagai pollinator yaitu ngengat, lebah dan lain-lain. Sedangkan yang berperan sebagai vektor yaitu jangkrik dan lalat. Mungkin masih banyak lagi contoh-contoh peranan arthropoda yang lain.

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1.  Kesimpulan

Dari praktikum fieldtrip yang kami lakukan di Cangar dan Jatikerto, di dapatkan kesimpulan bahwa hasil yang kita dapat, di Cangar; suhu adalah 21,5oC, kelembaban 62% dan radiasi matahari 95 lux. Sedangkan di Jatikerto; suhu adalah 35,9oC, kelembaban 47% dan radiasi matahari 20 lux. Di Cangar di dapatkan nilai biomassa dengan rata-rata 80,314  karena di daerah ini terdapat tanaman tahunan. Sedangkan di daerah jatikerto hanya terdapat tanaman semusim, jadi tidak ada perhitungan biomassa. Pada pengamatan di Cangar didapatkan beberapa arthropoda antara lain  jangkrik, kepik, belalang hijau, dan ngengat sedangkan pada Jatikerto didapatkan arthropoda yaitu belalang hijau, belalang coklat dan populasi semut. Pengamatan ini menunjukkan bahwa pada Cangar dan Jatikerto ada berbagai macam arthropoda yang berfungsi sebagai penyeimbang dalam ekosistem di 2 daerah tersebut.

 

5.2.  Saran

Untuk pratikum lapang selanjutnya sebaiknya tiap kelompok didampingi oleh masing-masing asisten atau Pembina agar masing-masing kelompok mendapatkan pelayanan yang baik dan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous1,2010,http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/analisis- 

vegetasi.html, diakses pada tanggal 30 Oktober 2011

Anonymous2,2011,http://blog.ub.ac.id/zeindiligentstudent/2011/05/09/analisis- 

vegetasi-dan-faktor-abiotik/, diakses pada tanggal 30 Oktober 2011

Anonymous3,2011,http://blog.ub.ac.id/zeindiligentstudent/2011/05/09/analisis-

vegetasi-dan-faktor-abiotik/, diakses pada tanggal 30 Oktober 2011

Anonymous4,2010,http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-

biomasa.html, diakses pada tanggal 30 Oktober 2011

Anonymous5,2011,http://en.wikipedia.org/wiki/Arthropoda, diakses pada

tanggal 30 Oktober

Anonymous6,2011,http://id.wikipedia.org/wiki/Artropoda, diakses pada tanggal

30 Oktober 2011

Anonymous7,2011, http://estiarana.blogspot.com/2011/02/klasifikasi-kumbang-

kepik-koksi.html, diakses pada tanggal 30 Oktober 2011

Pracaya, 1993. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya

Buckeridge,maicos silvera. 2011. Routes to Cellulosic. London: Spinger

El Bassam. Nasir, 2010. Hand book of Bioenergy Crops. India: Eurtscan

Hatriah. Kurniatun, 2011. Modul Ekologi. Malang: Universitas Brawijaya press

Sutaryo. Dandun, 2009. Penghitungan Biomassa Sebuah Pengantar untuk Studi  dan Perdagangan Karbon. Bogor: Waitlands International Indonesia Programme

 

Dasar Perlindungan Tanaman menurut narasumber

PENGENDALIAN OPT RAMAH LINGKUNGAN DALAM BUDIDAYA HORTIKULTURA

 

Oleh : Ir. Slamet Riyadi, MP Direktorat Perlindungan Hortikultura

Pembangunan pertanian saat ini memerlukan program nyata yang berorientasi kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Pada subsektor hortikultura, dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura telah menempatkan penyelenggaraan hortikultura berdasarkan asas kedaulatan, kemandirian, kebermanfaatan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan, keberlanjutan, efisiensi berkeadilan, kelestarian fungsi lingkungan, dan kearifan lokal.

Dalam UU Nomor 13, perencanaan usaha dan budidaya hortikultura, haruslah memperhatikan beberapa aspek, yaitu sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan. Aspek-aspek tersebut harus dikelola dengan baik dalam kerangka pengembangan kawasan untuk mencapai sasaran produksi dan konsumsi dengan dukungan pembiayaan, penjaminan, dan penanaman modal dan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain dari aspek tersebut juga harus memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi petani,

Tulisan ini menyoroti sisi pemanfaatan dan pengembangan sumber daya buatan yang menjadi perhatian/fokus bidang perlindungan tanaman. Sumber daya buatan sebagaimana dimaksud UU No 13 adalah prasarana dan sarana hortikultura yang penggunaannya haruslah dikembangkan dengan teknologi yang memperhatikan kondisi iklim, kondisi lahan dan ramah lingkungan. Tulisan ini hanya menyoroti dan mengeksplorasi sisi sarana hortikultura terkait dengan pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) yang mempersyaratkan pengendali OPT ramah lingkungan.

 

PHT dan Pengendalian Ramah Lingkungan

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management (IPM) menjadi amanat UU No. 12 Tahun (tentang Sistem Budidaya Tanaman) sebagai jiwa perlindungan tanaman, sedangkan pengendalian OPT ramah lingkungan menjadi amanah UU No. 13 tahun 2010 tentang Hortikultura. Dalam UU No. 13 ini, pengendalian OPT yang ramah lingkungan merujuk kepada penggunaan sarana hortikultura yang pengelolaannya haruslah ramah lingkungan.

Pertanyaannya akan muncul apakah PHT identik ramah lingkungan atau  sebaliknya, pengendalian OPT ramah lingkungan identik dengan PHT?, apakah ada hubungannya dengan pertanian organik? Pada bagan di atas menggambarkan secara sederhana  hubungan antara PHT, Sistem Pertanian Organik dan Sistem Pertanian  Berkelanjutan di mana di dalamnya diterapkan sistem pengendalian OPT yang ramah lingkungan.

Sistem PHT dalam UU No. 12 Tahun (Pasal 22) menetapkan larangan penggunaan sarana dan/atau cara yang dapat  mengganggu kesehatan dan/atau  mengancam keselamatan manusia, menimbulkan gangguan dan kerusakan sumber daya alam dan/atau lingkungan hidup, belum secara eksplisit menyebut ramah lingkungan, tetapi dari kalimat terakhir menimbulkan gangguan dst sudah mengandung pengertian ramah lingkungan.

Sementara dalam UU No. 13, tidak disebutkan secara eksplisit pengendalian OPT ramah lingkungan, akan tetapi pada Paragraf 2 Pasal 32 ayat (1) dideskripsikan sarana hortikultura terdiri dari a.l. ZPT dan bahan pengendali ramah lingkungan, dan ayat (2) penggunaan sarana hortikultura haruslah dikembangkan dengan teknologi yang memperhatikan kondisi iklim, kondisi lahan, dan ramah lingkungan. Dengan demikian bahwa PHT sudah pasti mengarah kepada pengendalian OPT ramah lingkungan dengan syarat-syarat tertentu, sedangkan pengendalian OPT ramah lingkungan dalam UU No. 13 merujuk kepada penggunaan sarana pengendali yang harus dikembangkan dan digunakan dengan tujuan ramah lingkungan. Di mana letak pertemuan keduanya ?.

Untuk membahas hal ini perlu dipahami maksud yang terkandung dalam Pasal 22 UU No. 12/1992 bahwa penerapan PHT haruslah dengan cara-cara yang tidak mengganggu kesehatan dan/ atau mengancam keselamatan manusia, menimbulkan gangguan dan kerusakan sumberdaya alam dan/atau lingkungan hidup. Apabila yang dipersyaratkan/ ditekankan dalam UU No. 12 adalah cara-cara pengendalian yang tidak menimbulkan gangguan kesehatan dan/ atau mengancam keselamatan manusia, menimbulkan gangguan dan kerusakan sumberdaya alam dan/atau lingkungan hidup, maka pengendalian OPT ramah lingkungan haruslah dijabarkan dari sisi pemilihan cara-cara pengendalian yang tidak menimbulkan gangguan kesehatan dan/atau ancaman keselamatan manusia, gangguan dan kerusakan sumberdaya alam dan/atau lingkungan.

Penggunaan Pestisida versus Agens Hayati dan/atau Pestisida Nabati

Dilema yang dihadapi dalam usaha budidaya tanaman saat ini adalah di satu sisi cara mengatasi masalah OPT adalah penggunaan pestisida kimia sintetis yang dapat menekan kehilangan hasil akibat OPT, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di sisi lain, tanpa pestisida kimia sintetis akan relatif lambat bahkan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT. Padahal tuntutan masyarakat dunia terhadap produk pertanian menjadi bertambah tinggi terutama masyarakat negara maju, tidak jarang hasil produk pertanian kita yang siap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang toleransi (Setyono, 2009 dan Anonim, 2009 dalam Edi Gunawan, 2010 : Pengendalian OPT secara hayati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan).

Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana seringkali menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan dan gangguan keseimbangan ekologis (mengakibatkan terjadinya resistensi hama sasaran, resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami) serta mengakibatkan peningkatan residu pada produk pertanian. Oleh karena itu perhatian pada alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan semakin besar untuk menurunkan penggunaan pestisida kimia sintetis.

Pelaksanaan program PHT pada tahun 1980-an, merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka tuntutan masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman konsumsi, menjaga kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasl (Saptana at al., 2010 dalam Edi Gunawan, 2010). Salah satu komponen pengendalian dalam sistem PHT yang sesuai dan menunjang pertanian berkelanjutan adalah cara pengendalian hayati, karena pengendalian ini lebih selektif (tidak merusak organisme

yang berguna dan manusia) dan lebih berwawasan lingkungan. Pengendalian hayati berupaya memanfaatkan pengendali hayati dan proses-proses alami. Cara pengendalian seperti ini adalah salah satu cara yang dimaksud sebagai pengendalian OPT ramah lingkungan dalam UU Hortikultura No 13/2010.

Penggunaan pestisida dalam PHT sesungguhnya bukanlah cara pilihan utama namun bukan barang haram untuk dipilih sebagai cara pengendalian. Akan tetapi apabila pestisida dipilih sebagai satu-satunya cara pengendalian (setelah dinilai cara pengendalian lain tidak/ kurang berhasil untuk mengendalikan OPT), maka penggunaannya haruslah dilakukan dengan memperhatikan cara- cara yang bijaksana (baik dan benar) dan aman konsumsi serta berdampak seminimal mungkin terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran dan musuh alami.

Pengendalian Hayati yang Ekologis (ramah lingkungan) dan Berkelanjutan

Pengendalian hayati adalah pengendalian semua makhluk hidup yang dianggap sebagai OPT dengan cara memanfaatkan musuh alami, memanipulasi inang, lingkungan atau musuh alami itu sendiri. Pengendalian hayati bersifat ekologis dan berkelanjutan. Ekologis berarti pengendalian hayati harus dilakukan melalui pengelolaan ekosistem pertanian secara efisien dengan sedikit mungkin mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan hidup. Sedangkan berkelanjutan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan dan menjaga upaya agar tidak merosot atau menjaga agar suatu upaya terus berlangsung (Basukriadi, 2003 dalam Edi Gunawan, 2010).

 

Pengendalian Hayati sebagai komponen PHT sejalan dengan definisi sebagai cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan, berkelnajutan dan mengandung arti ramah lingkungan.

Pengendalian hayati memiliki arti khusus, karena pada umumnya beresiko kecil, tidak mengakibatkan kekebalan atau resurgensi, tidak membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan dan tidak memerlukan banyak input luar. PEngendalian ini secara terpadu diharapkan dapat menciptaka kondisi yang tidak mendukung bagi kehidupan OPT atau mengganggu siklus hidupnya (Untung, 2001).

Menurut Istikorini (202, dalam Edi GUnawan, 2010), pengendalian hayati yang ekologis dan berkelanjutan mengacu pada bentuk-bentuk pembangunan pertanian melalui upaya-upaya sebagai berikut :

1. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. Misalnya keanekaragaman mikroorganisme antagonistic dalam tanah atau dirizosfir (daerah sekitar perakaran) dengan mengkombinasikan berbagai komponen system usaha tani yaitu tanaman, tanah, air, iklim dan manusia sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinerg: yang paling besar.

2. Memanfaatkan pestisida sintetis seminimal mungkin untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan.

Pemanfaatan Musuh Alami

Pemanfaatan musuh alami OPT menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekologis karena sumberdaya tersebut dikembalikan lagi ke alam sehingga kualitas lingkungan terutama tanah dapat dipertahankan. Di alam musuh alami dapat terus berkembang selama nutrisi dan faktor-faktor lain (kelembaban, suhu dan lain-lain) sesuai untuk pertumbuhannya.

Proses pengendalian hayati meniru ekologi alami sehingga untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan musuh alami tersebut bisa dilakukan dengan memanipulasi sinar matahari, unsur hara tanah dan curah hujan sehingga sistem pertanian dapat terus berlanjut. Misalnya dengan penambahan bahan organik pada tanaman yang akan dikendalikan. Bahan organik atau residu tanaman adalah media yang kondusif untuk mikroorganisme yang antagonistik terhadap OPT yang pada dasarnya beraspek majemuk, yaitu sebagai pencegah berkembangnya OPT, sebagai sumber unsur hara dan untuk perbaikan fisik dan kimia tanah pertanian.

 

Kendala Pengendalian Hayati/ Ramah Lingkungan

Berbagai kendala yang menyangkut komponen hayati antara lain adalah adanya kesan bahwa cara pengendalian hayati lambat dan kurang diminati, antara lain adalah:

a. Untuk mengetahui secara pasti peranan agens hayati tidak mudah karena terlalu banyak hal yang dianggap mendasar untuk diteliti.

b. Memerlukan fasilitas untuk mendukung rangkaian penelitian mulai dari eksplorasi, isolasi, identifikasi, pemurnian, perbanyakan inokulum, cara aplikasi sampai sumberdaya manusia peneliti yang tekun.

c. Petani sudah terbiasa dengan cara pengendalian yang memberi hasil yang cepat sehingga tidak tertarik dengan cara pengendalian hayati yang berproses lambat dalam kurun waktu yang panjang.

Sementara dalam operasional di tingkat lapang, penerapan penggunaan agens hayati masih terkendala dengan berbagai aspek, antara lain yaitu:

a.     Masih banyak kelompok tani pengguna agens hayati yang tidak/belum aktif.

b. Belum semua teknologi eksplorasi dan pemanfaatan agens hayati dikuasai baik oleh petugas (Lab. PHP/Lab. Agens Hayati) maupun petani.

c.  Ketersediaan dana yang terbatas untuk memfasilitasi kegiatan kelompok petani pengguna agens hayati.

d. Masih banyak informasi teknis jenis-jenis agens hayati yang belum diketahui.

Selain itu, pengendalian hayati memerlukan waktu yang cukup lama dan berspektrum sempit (inangnya spesifik). Walaupun demikian, banyak keuntungannya, antara lain aman, relatif permanen, dalam jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga sangat terasa pentingnya suatu komitmen untuk menentukan suatu gerak terpadu melalui konsep pengendalian hayati yang menguntungkan dan berkelanjutan dalam pemanfaatannya (Santoso, 2009 dalam Edi Gunawan, 2010).

Pengendalian hayati merupakan teknologi pengendalian OPT yang ramah lingkungan, sehingga dapat memenuhi syarat untuk berbagai program antara lain pertanian organik, penerapan PHT, sistem pertanian ramah lingkungan, sistem GAP/SOP, serta untuk menghindari residu pestisida. Umumnya agens hayati yang dikembangkan dari agens hayati lokal/setempat, sehingga lebih efektif, mudah, murah dan tidak tergantung daerah lain. Petani dapat mengembangkan dan memperbanyak sendiri karena teknologinya relatif mudah dan murah. Berbagai agens hayati yang telah dikembangkan cukup efektif mengendalikan OPT, aman terhadap pelaku, lingkungan, Hewan bukan sasaran, keamanan pangan, tidak/belum terjadi resistensi OPT maupun resurgensi OPT. Sedang dalam pelaksanaan di lapang dapat memperkuat kelembagaan kelompok tani (kebersamaan, kerjasama).

Seiring dengan perkembangan pemanfaatan agens hayati, berkembang pula pemanfaatan pupuk organik sehingga sangat baik dalam pengelolaan lahan.

Pengembangan Pengendalian Hayati/ Ramah Lingkungan

Proses pengendalian hayati harus berkelanjutan dan berkesempatan sebagai komponen yang kuat dalam konsep PHT. Hal ini akan terwujud dengan menggiatkan koordinasi untuk melakukan eksplorasi, pengadaan agensia hayati, penggunaan di lapangan dan evaluasi terus- menerus. Dalam upaya eksplorasi untuk mendapatkan agensia hayati diperlukan penelitian yang tekun dan berkelanjutan. Pengadaan agens hayati untuk dapat digunakan di lapangan pada umumnya memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Isolasi mikroorganisme atau jasad sebagai agensia hayati
  2. Penelitian dasar
  3. Perbanyakan
  4. Proses pengembangan dan optimasi dai
  5. Produksi dan aplikasi

Dalam perbanyakan agens hayati diperlukan penelitian tentang media untuk perbanyakan yang mudah didapat dan murah. Selanjutnya perlu diteliti juga faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Produksi agensia hayati selanjutnya dilakukan dalam skala luas di bawah kondisi yang dapat diatur. Untuk ini pengembangan sumberdaya manusia (terutama ilmuwan/peneliti) harus  mendapat perhatian yang cukup kuat.

Prospek Pengendalian Hayati/ Ramah Lingkungan

Prospek pengendalian hayati perlu ditinjau dari berbagai aspek, terutama aspek teknis sejak kegiatan di laboratorium dan rumah kaca. Jumlah dan jenis penelitian yang sudah diperoleh oleh ahli-ahli di bidang pengendalian hayati sangat banyak pada tingkat laboratorium dan rumah kaca, namun hanya sebagian kecil saja yang telah dimanfaatkan di tingkat lapangan dalam skala ekonomi. Hal ini tidak perlu menjadi alasan untuk menyatakan bahwa prospek pengendalian hayati dalam praktek kecil atau kurang relevan.

Keanekaragaman mikroorganisme yang antagonistik dan kekayaan sumberdaya alam yang sangat besar di Indonesia, sebenarnya menjanjikan peluang yang cukup besar untuk dimanfaatkan dalam pengendalian hayati terhadap berbagai jenis OPT.

Di kalangan peneliti, baik di lembaga-lembaga penelitian maupun perguruan tinggi, dalam maupun luar negeri, sudah sangat banyak hasil-hasil penelitian yang terrkait dengan pengendalian hayati. Sehingga sangat memungkinkan untuk diterapkan.

Dalam hal operasional di lapang, kita memiliki ketersediaan SDM dan sarana laboratorium PHP/Laboratorium Agens Hayati di berbagai daerah yang dapat manfaatkan dalam pengembangan agens ayati dan penerapan di tingkat petani. Hal tersebut juga didukung oleh antusiasme petani dalam memanfaatkan agens hayati cukup besar, ketersediaan petani alumni SLPHT yang menjadi modal dasar pengembangan pemanfaatan agens hayati cukup banyak, serta dukungan moral yang besar oleh berbagai kalangan antara lain pasar, pecinta lingkungan, aparat/ pemerintah dan kebijakan, sistem pertanian yang dikembangkan (antara lain GAP/SOP, pertanian organik, PHT, dan lain-lain).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 1995 pasal 4 tentang Perlindungan Tanaman disebutkan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan menggunakan sarana  dan cara yang tidak mengganggu kesehatan dan atau mengancam keselamatan manusia, menimbulkan ganggguan dan kerusakan sumberdaya alam atau lingkungan hidup (Suniarsyih, 2009). Untuk maksud tersebut yang paling cocok pertanian untuk masa depan adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), yaitu pengelolaan sumberdaya untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. Dalam pertanian berkelanjutan perlindungan tanaman harus dilakukan dengan prinsip- prinsip PHT (Istikorini, 2002).

Pengembangan dan Pemanfaatan di Tingkat Petani

Dari sisi ilmiah, pemanfaatan dan penggunaan agens hayati dan pestisida nabati dinilai oleh pakar dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian, memerlukan kajian yang mendalam dan berkelanjutan serta formal (memenuhi pengaturan standarnya). Sementara penggunaan di tingkat petani, tidak serumit itu. Bagaimana pemecahan masalah pemanfaatan dan penggunaannya di tingkat petani/lapangan? Undang-undang Hortikultura memberikan jawaban yang memadai.

Rumusan Pasal 35 ayat (4) dan penjelasannya UU No. 13/2010 secara jelas menyebutkan bahwa penggunaan sarana hortikultura (al. agens hayati atau pestisida nabati) pada sub sektor

hortikultura adalah pengecualian dan dibolehkannya menggunakan sarana produksi lokal (sarana yang dihasilkan oleh suatu kelompok) yang diedarkan secara terbatas dalam kelompok, dapat berjalan seperti adanya tanpa perlu didaftarkan, tetapi tetap harus memenuhi mutu yang disepakati dalam kelompok serta diawasi/ dikawal mutu dan penggunaannya secara baik. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian sudah seharusnya mengawasi/ memantau dan mengawal penggunaan di tingkat petani/lapangan, sedangkan dalam jajaran perlindungan tanaman di daerah adalah instalasi Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) – BPTPH.

Langkah-langkah Apa yang Perlu Dilakukan untuk Meningkatkan Penerapan Pengendalian Hayati di Tingkat Lapang?

Penerapan pengendalian hayati dalam pengendalian OPT di tingkat lapang masih sangat kurang. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah antara lain adalah:

  • Koordinasi serta keterlibatan setiap stakeholder terutama dalam hal wewenang dan tanggungjawab masing- masing.
  • Sosialisasi mengenai pengendalian hayati di tingkat petani, peluang-peluang serta tantangannya.
  • Khusus untuk pengendalian hayati dengan penggunaan agens hayati diperlukan langkah-langkah antara lain adalah:

-        Mengembangkan dan memfasilitasi eksplorasi berbagai agens hayati untuk pengendalian OPT antara lain oleh Laboratorium PHP/Laboratorium Agens Hayati.

-        Memfasilitasi pemanfaatan agens hayati yang telah ditemukan antara lain pemasyarakatan dan demo lapang di tingkat petani.

-        Peningkatan kemampuan petani/ kelompok tani dalam memanfaatkan agens hayati antara lain latihan-latihan, magang, penyediaan sarana, penyediaan starter/biakan murni, informasi dan lain-lain.

-        Pembentukan dan pelaksanaan kegiatan perkumpulan petani pengguna agens hayati antara lain peralatan perbanyakan agens hayati, latihan- latihan, koordinasi, dan lain-lain.

-        Memfokuskan Laboratorium PHP/ Laboratorium Agens Hayati untuk eksplorasi, efikasi, perbanyakan starter dan memasyarakatkan kepada petani. Sementara perbanyakan untuk aplikasi dilakukan oleh petani.

-        Meningkatkan pelayanan Laboratorium PHP/Laboratorium Agens Hayati/ BPTPH kepada petani dalam pemanfaatan agens hayati.

Kesimpulan

Dari tulisan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: (1) pengendalian secara hayati/ramah lingkungan berupaya untuk mempertahankan dan meningkatkan sumberdaya alam serta memanfaatkan proses-proses alami, (2) penelitian tentang pengendalian OPT secara hayati tidak bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam jangka pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi stabil dan memadai dalam jangka panjang, (3) pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap OPT dengan penyakit yang ditimbulkannya terutama kalau dikaitkan dengan tanaman inang, pola tanam, sistempertanian, daya dukung lahan, dan system pengendalian pada waktu tertentu perlu diantisipasi dengan cermat dan baik, (4) dalam menerapkan pengendalian hayati di lapangan, keperdulian unsure-unsur terkait (peneliti/pakar, penyuluh/ petugas proteksi tanaman, petani, tokoh masyarakat, pengambil keputusan perlu terpadu dengan aktif, (5) proses pengendalian hayati harus berkelanjutan dan kesempatan sebagai komponen yang kuat dalam PHT akan terwujud dengan menggiatkan koordinasi untuk melakukan eksplorasi, pengadaan agens, penggunaan di lapangan dan evaluasi terus menerus, (6) peluang dan prospek pengendalian hayati penyakit tanaman cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia.

Pengendalian hayati sebagai komponen PHT sejalan dengan definisi sebagai cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan dan mengandung arti ramah lingkungan.

Pengendalian hayati memiliki arti khusus, karena pada umumnya berisiko kecil, tidak mengakibatkan kekebalan atau resurgensi, tidak membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan dan tidak memerlukan banyak input luar. Pengendalian ini secara terpadu diharapkan dapat menciptakan kondisi yang tidak mendukung bagi kehidupan OPT atau mengganggu siklus hidupnya (Untung, 2001).

 

Enzim

Enzim

Enzim merupakan senyawa organik bermolekul besar yang berfungsi untuk mempercepat jalannya reaksi metabolisme di dalam tubuh tumbuhan, tanpa mempengaruhi keseimbangan reaksi dimana enzim tidak ikut bereaksi. Struktur enzim tetap baik sebelum maupun sesudah reaksi, atau tidak mengalami perubahan struktur.

Enzim memiliki sisi aktif yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada sisi ini terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan. Bentuk sisi aktif sangat spesifik sehingga diperlukan enzim yang spesifik pula. Hanya molekul dengan bentuk yang dapat menjadi subtrat bagi enzim. Agar dapat bereaksi enzim dan subtrat harus saling komplementar. Sisi aktif enzim merupakan bentuk yang tidak kaku (fleksibel). Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, bentuk sisi aktif berubah bentuk sesuai dengan bentuk substrat kemudian terbentuk kompleks enzim-substrat. Pada saat produk sudah terlepas dari kompleks, maka enzim lepas dan kembali bereaksi dengan substrat yang lain.

Substrat merupakan  molekul organik yang telah berada dalam kondisi siap/segera bereaksi, karena telah mengandung promoter. Keberadaan katalis akan mempercepat reaksi substrat menuju molekul produk, melalui reaksi kimiawi dengan energi aktivasi rendah yang membentuk senyawa intermediat. Walaupun demikian, tanpa katalis, sebuah substrat akan bereaksi menuju sebuah produk, segera setelah energi aktivasi reaksi kimia yang diarahkan oleh suatu promoter tercapai.

Perkembangan enzim pada awalnya dikenal pertama hanya sebagai katalis reaksi hidrolisis ikatan kovalen saja dimana enzim : subtract yang dikatalis + ase, seperti lipase untuk mengkatalis hidrolisis lemak,amylase untuk mengkatalis hidrolisis amilum. Kedua menekan tipe reaksi yang dikatalisnya seperti enzim de-hidrogenase untuk mengkatalis reaksi pelepasan hydrogen, enzim transferase untuk mengkatalis reaksi pemindahan gugus. Ketiga menurut international union of biochemistry (IUB) yang mana membagi enzim atas dasar mekanisme reaksi dengan kerangka system.

Klasifikasi enzim menurut IUB diataranya:

  1. Oksidoreduktase : mengkatalis reaksi oksidasi dan reduksi (pemindahan electron atau ion hibrida atau atom H)
  2. Transferase : mengkatalis reaksi pemindahan gugus dari suatu molekul donor ke molekul aseptor (-metil, -glikosil)
  3. Hidrolase : mengkatalis reaksi pemecahan hidrolistik C-C, C-O, C-N, P-O, ikatan lain tertentu termasuk ikatan asam anhidrida ( reaksi hidrolisis : transfer gugus fungsional ke air)
  4. Liase : mengkatalis pemecahan C-C, C-O, C-N, dan ikatan lain dengan mengeliminasi yang menghasilkan ikatan rangkap dua dan juga penambahan gugus pada ikatan rangkap .
    1. Isomerase : mengkatalis pemindahan geometric atau structural dalam suatu molekul tunggal ( pemindahan gugus dalam molekul untuk menghasilkan bentuk-bentuk isomer).
    2. Ligase : mengkatalis penggabungan bersama 2 molekul ( pembentukan ikatan C-C, C-O, C-s, C-N oleh pasangan reaksi kondensasi ke pemecahan ATP.

 

  1. Termodinamika

Termodinamika merupakan perubahan energi yang menyertai pada reaksi biokimia. Reaksi biokimia melanjutkan hambatan energi yang dibutuhkan untuk mengubah molekul subtrat kedalam transisi. Keadaan transisi harus memiliki energi bebas tertinggi dalam reaksi jalur. Termodinamika terdiri hukum pertama dan kedua termodinamika digabungkan dalam termodinamika fungsi, energi bebas.

Kaidah pertama ini merupakan hukum penyimpanan energi, yang berbunyi: energi total sebuah sistem, termasuk energi sekitarnya adalah konstan. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa suatu proses dapat terjadi spontan hanya jika jumlah dari entropi dari sistem dan sekitarnya
meningkat.

Enzim bekerja dengan menstabilkan keadaan transisi reaksi kimia dan penurunan G. Enzim tidak mengubah tingkat energi dari substrat atau produk.
Dengan demikian enzim yang meningkatkan tingkat di mana terjadi reaksi, tetapi tidak berpengaruh pada perubahan keseluruhan dalam energi reaksi.

 

  1. Enzim Inhibitor

 

Enzim inhibitor adalah zat yang menghambat atau menurunkan laju reaksi kimia. Enzim inhibitor merupakan kebalikan dari enzim. Contoh dari enzim inhibitor itu sendiri misalnya Metotreksat adalah inhibitor enzim dihidrofolat reduktase. Enzim inhibitor dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu irreversible dan reversible. Dan enzim inhibitor yang reversible ini dibedakan lagi menjadi dua yaitu competitive dan noncompetitive. Contoh dari irreversible enzim adalah di isopro pylphospho flouridate (DIPF), Iodocetamide dan penicill.