RSS
 

Wisata Museum Negeri Mpu Tantular

22 Jun

Tanggal 25 Maret 2015 lalu saya dan adik pergi ke Sidoarjo. Kami naik angkot MM dari Jalan Kawi dan turun di Stasiun Malang Kota Baru. Kami segera masuk ke peron untuk menunggu kedatangan kereta api Penataran yang tiba di pukul 06.25. Tidak lama kemudian, terdengar semboyan 35 (peluit panjang yang menandakan bahwa kereta api siap melanjutkan perjalanan kembali). Pukul 06.30 tepat, kereta api Penataran meninggalkan Stasiun Malang Kota Baru.

malang

Suasana peron Stasiun Kota Malang, Rabu pagi, 25 Maret 2015 (gambar menghadap arah utara)

“Naik kereta api… tut.. tut… tut…

Siapa hendak turut…

Ke Bangil…. Sidoarjo….”

Pukul 08.52, persis seperti yang tertera di tiket, kami tiba di Stasiun Sidoarjo. Dari stasiun kami naik angkot berwarna kuning jurusan Porong – Sidoarjo – Purabaya. Sampai di fly over Jenggolo, Sidoarjo kami turun. Kami pulang ke Malang hari itu juga. Bedanya, kami pulang dengan naik kereta api di Stasiun Gedangan. Kereta yang akan ke Malang baru berangkat pukul 11.45 nanti. Sambil menunggu jadwal kereta api, kami berjalan – jalan di tengah teriknya matahari yang menyengat saat itu. Ada papan pengumuman yang menginformasikan keberadaan Museum Mpu Tantular. Kami segera menyusuri trotoar di dekat fly over. Akhirnya, kami sampai di sebuah pintu gerbang dengan arsitektur bergaya Majapahit. Untuk berkunjung ke dalam stasiun, kami membayar tiket masuk museum sebesar Rp4.000,00 per orang untuk pengunjung dewasa.

denah

Denah lokasi Museum Mpu Tantular

Informasi yang diperoleh dari website museum, Museum Mpu Tantular terletak di Jalan Raya Buduran – Jembatan Layang, Sidoarjo. Jadi dari arah Stasiun Sidoarjo ke utara melewati Jalan Jenggolo. Sampai di fly over (jembatan layang) depan Stadion Jenggolo, berjalan mengikuti jalan di bawah fly over. Museum ini diresmikan pada tanggal 14 Mei 2004 oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur saat itu, Dr. H. Rasiyo, M. Si. Bangunan museum terdiri dari 11 buah yang berdiri di atas lahan dengan luas 3,28 hektar. Di bagian depan terdapat joglo. Lalu ada Gedung Tata Usaha dan Ruang Kepala Museum, Gedung Perpustakaan, Gedung Pameran Tetap (Gedung Majapahit), Galeri Von Faber, Gedung Pameran Tuna Netra, Ruang Kerja Koleksi, Storage, Gedung Preparasi, Laboratorium Konservasi, Gedung Bimbingan Edukasi, Kantin, Pusat Souvenir, dan Mushola.

plakat

Halaman Museum Mpu Tantular

Harga tiket masuk telah diatur oleh Perda Provinsi Jawa Timur nomor 9 tahun 2009, yaitu untuk perorangan, dewasa Rp4.000,00, anak – anak Rp3.000,00. Untuk pengunjung rombongan (minimal 10 orang), dewasa Rp3.000,00, anak – anak Rp2.000,00. Jadwal kunjungan museum yaitu hari Selasa – Kamis pukul 08.00 – 15.00, Jumat pukul 08.00 – 14.00, Sabtu – Minggu pukul 08.00 – 12.30. Sementara itu, untuk hari Senin pameran museum tutup tetapi kantor museum tetap buka.

Secara umum koleksi museum dibagi menjadi dua, yaitu koleksi indoor dan outdoor. Ini sejumlah hasil jepretan dari museum:

1. Koleksi Indoor

Koleksi indoor Museum Mpu Tantular masih dibagi ke dalam beberapa zona.

a. Zona Zaman Purba

Koleksi zona zaman purba dapat dibagi menjadi dua, yaitu koleksi geologika dan koleksi biologika. Koleksi geologika terdiri dari batuan maupun mineral yang biasanya dimanfaatkan manusia sebagai perhiasan atau keperluan industri (senjata). Koleksi batuan ini dibagi menjadi batuan beku, sedimen, dan metamorf. Sebagai contoh adalah koleksi batu hati ayam (jasper), batu kaca (obsidian), kalsedon, jasper, dan lain – lain. Sementara itu, koleksi biologika berupa fosil tanaman dan hewan. Fosil yang dipamerkan antara lain duplikat fosil manusia mulai dari yang berusia 3,5 juta hingga 20.000 tahun lalu, fosil gading gajah purba asal Bojonegoro, fosil kepala kerbau dan tengkorak buaya*) berumur 800.000 tahun asal Porong, fragmen fosil gigi geraham gajah purba asal Bojonegoro, fosil kulit penyu asal Pacitan duplikat fosil Bofidae, fosil kayu, dan fosil moluska. Selain itu juga terdapay hasil teknologi manusia prasejarah, seperti kapak genggam (Paleolitikum), kapak persegi, kapak lonjong, dan manik – manik (Neolitikum), serta kapak corong, mata tombak, nekara, moko, dan surya stambha (Perundagian).

batu

fosil

Sebagian koleksi museum dalam Zona Zaman Purba: kalsedon (kiri atas), kuarsa (kanan atas), fosil tengkorak kerbau (kiri bawah), fosil tengkorak buaya (kanan bawah)

*) Tidak disangka bahwa Sungai Porong sudah didiami oleh buaya pada 800.000 tahun lalu. Pada awal Juni kemarin warga Krembung, Sidoarjo dihebohkan dengan kemunculan sejumlah buaya muara di Sungai Porong yang mengalir di desa mereka.

b. Zona Peninggalan Hindu – Budha

Koleksi yang dipamerkan pada zona ini berasal dari abad 8 – 14 M, misalnya, 68 buah arca perunggu asal Bungkal, Ponorogo. Ada juga prasasti yang terbuat dari lempengan logam mulia yang berisi mantera bagi dewa. Selain itu juga terdapat berbagai prasasti, seperti Prasasti Adan – adan, Prasasti Ukir Negara, Prasasti Kalimusan, dan lain – lain. Salah satu koleksi unggulan museum pada zona ini adalah patung Durgamahesasuramardhini, Ganesa, dan Nandi yang terbuat dari batu andesit. Hiasan Garudeya merupakan perhiasan yang terbuat dari emas 22 karat dengan berat total 1.163,09 gram merupakan peninggalan abad ke – 12 – 13 M. Benda ini ditemukan tahun 1989 di Desa Plaosan, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Benda ini merupakan cindera mata dari Raja Siam untuk Raja Airlangga. Perhiasan Garudeya ini disimpan dalam ruang khusus. Ada pula alat – alat keagamaan yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan dewa. Alat ini dilengkapi dengan motif hias tertentu yang mengandung makna simbolis berkaitan dengan kegiatan pemujaan yang dilakukan. Beberapa di antaranya adalah trisula, cakra, pedupaan, genta pendeta, dan sebagainya.

garudeya

Salah satu koleksi unggulan Museum Mpu Tantular: Perhiasan Garudeya

c. Zona Zaman Islam

Koleksi yang dijumpai pada zona ini berupa koleksi naskah Islam yang ditulis di atas daun lontar maupun daluwang, serta mimbar bergaya pesisiran. Serat Yusuf, asal Sumenep ditulis dalam huruf dan bahasa Jawa yang berbentuk tembang. Serat ini menceritakan kisah Nabi Yusuf sebagai contoh yang baik di masyarakat. Serat Mi’raj Nabi juga berasal dari Madura ditulis dalam huruf Arab dan berbahasa Jawa. Serat ini berbentuk tembang yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad menuju langit lapis ketujuh (mi’raj).

mimbar

Replika mimbar Masjid Jami Sunan Giri

Ada juga sebuah replika mimbar. Mimbar yang asli terdapat di Masjid Jami Sunan Giri, Kebomas, Gresik. Mimbar ini memiliki dimensi 1,3 x 0,8 x 3,5 m. Tangga mimbar terbuat dari kayu dengan empat buah anak tangga. Pada mimbar bagian atas terdapat tiang segiempat yang menopang puncak mihrab.

d. Zona Zaman Kolonial

Koleksi yang terdapat pada zona ini berupa koleksi peninggalan Belanda serta berbagai macam senjata api, baik senjata laras panjang (senapan) maupun laras pendek (pistol). Ada senapan Musket Brown, senapan Granadier (pelontar granat), pistol Flintlock Tower, pistol Tabur Ketuk, pistol Revolver Colt, dan lain-lain. Topi ini berasal dari Inggris dan pada abad ke – 18 dipakai oleh pasukan infanteri dan pasukan berkuda Inggris. Pedang bayonet sisip dirancang untuk disisipkan pada senjata laras panjang. Apabila senapan tidak berfungsi maka bayonet dapat digunakan untuk menusuk musuh. Senjata ini sering digunakan oleh tentara Eropa dan Amerika.

senjata

Koleksi senjata api, topi perang, dan bayonet

e. Zona Teknologi Modern dan Peraga IPTEK

Zona ini terletak di lantai 2 Gedung Pameran Tetap. Sayangnya saya tidak sempat pergi ke zona ini. Zona ini dibagi menjadi dua, yaitu teknologi modern dan peraga IPTEK. Ada motor uap Draimler buatan Jerman, sepeda kayu, dan sepeda tinggi. Sepeda motor di Indonesia pertama kali dimiliki oleh seorang masinis di Probolinggo tahun 1893. Sepeda kayu merupakan bentuk sepeda paling tua yang diciptakan oleh Michael Kesler pada tahun 1766. Sepeda ini tidak memiliki pedal dan rantai. Sepeda ini hanya bisa dipakai pada jalan menurun atau mendatar!  Sepeda tinggi diciptakan oleh James Starley dan William Hilman berkebangsaan Inggris tahun 1870. Roda depannya sudah beruji dan memiliki diameter sekitar 48 inchi.

f. Zona Koleksi Kesenian

Zona ini memamerkan berbagai koleksi kesenian dari Jawa Timur. Ada Turangga Yaksa asal Trenggalek yang biasanya digelar sebagai rasa syukur atas panen yang melimpah, Jaranan Sentherewe (Tulungagung), Singo Ulung (Bondowoso), Bodhag (Probolinggo), Reog (Ponorogo), dan lain – lain. Koleksi keramik yang dibuat dari bahan tanah liat yang dibakar juga dipamerkan. Keramik ini ada yang berasal dari Eropa dan Cina yang berfungsi sepagai alat rumah tangga. Sejumlah replika kesenian juga terdapat di zona ini. Ada replika karapan sapi, pembuatan batik dan kain tenun, keris, tombak, dan lain – lain. Koleksi numimistik juga dipamerkan. Numimistik berkaitan dengan koleksi berupa mata uang atau alat tukar (token) yang sah, baik dari zaman Kerajaan Hindu – Budha dan Islam hingga Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) tahun 1945 – 1950. Ada juga koleksi heraldika berupa bintang tanda jasa dan medali. Selain itu juga terdapat lukisan perjuangan karya pelukis Sochib, yang merupakan pelukis naturalis asal Surabaya. Lukisannya menggambarkan tentang peristiwa 10 November.

potclay

Koleksi keramik

uganda

Salah satu koleksi uang kertas asal Republik Uganda

seni

Replika kesenian pembuatan batik tulis (kiri) dan pembuatan keris (kanan)

2. Koleksi Outdoor

Koleksi yang dipamerkan di luar ruang (outdoor) adalah koleksi yang berukuran besar berbahan batu, logam, dan kayu. Ada jangkar yang berasal dari Desa Bancar, Kabupaten Tuban dan diduga berasal dari kapal Belanda. Selain itu terdapat sejumlah meriam peninggalan Portugis dan Belanda. Koleksi outdoor lainnya yaitu jam matahari yang berfungsi untuk mengetahui waktu dengan memanfaatkan sinar matahari untuk menandai waktu tertentu.

purba

Papan informasi mengenai manusia prasejarah

Ada juga replika gua yang biasanya didiami oleh manusia prasejarah. Pada awalnya manusia prasejarah belum mengenal api. Namun, seiring dengan perkembangannya manusia prasejarah menggunakan gua sebagai tempat tinggal dan memanfaatkan api untuk mengolah makanan dan melakukan ritual pemujaan.

menhir

Patung (benar – benar) primitif

Patung primitif setinggi dua meter juga merupakan bagian dari koleksi outdoor. Patung yang berasal dari Bondowoso ini merupakan patung tipe Polinesia (mungkin seperti di Pulau Paskah, Cile) dan gambaran dari nenek moyang. Patung ini merupakan peninggalan zaman Megalitikum. Salah satu peninggalan tradisi Megalitikum yang lain adalah pandhusa yang juga ditemukan di Bondowoso. Pandhusa adalah batu besar yang disangga oleh 4 batu kecil dan digunakan sebagai kuburan.

arca

Salah satu koleksi arca (yang sebelah kanan, bukan yang kiri -_-) *salah fokus*

rusatimor

Kawanan rusa timor yang dipelihara di Museum Mpu Tantular

Patung bercorak Hindu dan Budha serta prasasti yang terbuat dari batu juga ditata di luar ruang museum. Di sebelah selatan museum terdapat lahan yang dipagari. Di dalam pagar terdapat kawanan rusa timor (Rusa timorensis) yang dipelihara di sana.

Siapakah Mpu Tantular Sebenarnya?

Mpu Tantular, yang namanya diabadikan sebagai museum ini merupakan seorang pujangga yang hidup pada abad ke – 14 di Majapahit. Dia hidup pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Karya ternamanya adalah kitab Arjunawiwaha dan kitab Sutasoma. Dalam kitab Sutasoma ini terdapat sebuah bait yang diadopsi menjadi motto atau semboyan Republik Indonesia, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pukul 10.45 kami menuju Stasiun Gedangan dengan naik angkot jurusan Porong – Sidoarjo – Purabaya kembali. Kami turun di Jalan Ahmad Yani. Lalu ke Alf*m*rt yang kebetulan berada di dekat stasiun untuk mengisi perbekalan. Pukul 11.45 kereta kami, Penataran datang dari arah utara. Stasiun Gedangan merupakan stasiun kecil yang terletak di dekat jalan raya. Jadi, ketika kereta api berhenti di stasiun ini maka pengguna jalan raya harus menunggu pintu perlintasan kereta api dibuka kembali. Kami tiba di Stasiun Malang Kota Baru kembali pukul 14.39.

Rincian Biaya

Rumah – Stasiun Malang Kota Baru (PP):
Angkot MM: Rp4.000,00×2 = Rp8.000,00

Stasiun Malang Kota Baru – Stasiun Sidoarjo:
Kereta Api Penataran: Rp6.000,00**)

Stasiun Sidoarjo – Museum Negeri Mpu Tantular:
Angkot Porong – Sidoarjo – Purabaya: Rp4.000,00

Museum Negeri Mpu Tantular:
Tiket Masuk: Rp4.000,00

Museum Negeri Mpu Tantular – Stasiun Gedangan:
Angkot Porong – Sidoarjo – Purabaya: Rp4.000,00

Stasiun Gedangan – Stasiun Malang Kota Baru:
Kereta Api Penataran: Rp6.000,00**)

Total: Rp32.000,00.

**)Harga tiket per tanggal 25 Maret 2015

REFERENSI:

Amirudin, A. 2009. Potensi Museum Negeri Mpu Tantular Sebagai Daya Tarik Wisata di Jawa Timur. Surakarta: Program Diploma III Usaha Perjalanan Wisata Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret.

http: www.mputantularsidoarjo.blogspot.com diakses tanggal 12 Mei 2015 pukul 12.50

 
1 Comment

Posted in Perjalanan