Benarkah Uang Elektronik Itu Riba? – Belum lama ini publik ramai membahas terkait uang digital atau uang elektronik. Bahkan heboh di media sosial dan dunia maya soal hukum keberadaanya, apakah haram, halal, riba, atau lainnya. Lalu, seperti apa sebenarnya?

Pengamat Ekonomi Syariah dari United Nations Development Programme (UNDP), Greget Kalla Buana, mengatakan, sejatinya uang elektronik sudah berlaku di Indonesia sejak beberapa waktu lalu. Kehadirannya tentu sudah melalui mekanisme yang sesuai dan diatur oleh institusi terkait di Indonesia.

“Kalau kita ngomong uang elektronik, selama itu sudah ada di Indonesia dan sudah dipergunakan secara luas, artinya itu sudah pasti memenuhi kaidah syariah dari DSN MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia),” kata Greget.

Greget mengatakan, selain dari DSN MUI, aturan tentang uang elektronik itu sudah mengikuti aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut dia, selama ini uang elektronik yang dihadirkan perusahaan-perusahaan tersebut sudah masuk kategori halal. Terkait apakah ada unsur riba di dalamnya, sebenarnya sudah disiasati dengan baik oleh setiap penyedia layanan.

Baca juga: Sukses Membangun Bisnis Bersama Pasangan Secara Profesional

“Kalau dibilang riba, sebenarnya sudah disiasati dengan penggunaannya. Misalnya saya beli Rp 30.000, yang masuk ke dompet digital juga Rp 30.000. Enggak ada penambahan atau pengurangan,” jelasnya.

“Jadi itu enggak ada riba di situ. Karena apa yang kita bayarkan, itu yang kita terima,” lanjutnya.

Dia menilai, sejauh ini dari sisi praktinya keberadaan UE sudah sebagaimana mestinya atau sudah halal dipergunakan. Namun, yang patut dan mungki njadi kekhawatiran publik ialah terkait kontraknya. Sehingga, belakangan ini ada isu uang digital itu riba, dan lainnya.

“Katakanlah 10.000 orang menggunakan uang elektonik, uang mereka yang dijadikan deposit di dalam elektronik itu masuk dalam rekening. Itu rekening apa (syariah atau konvensional)? Itu diputar oleh providernya, di mana kontrak itu, isinya seperti apa?. Mungkin barangkali orang-0rang yang masih menganggap riba karena akadnya tidak berdasarkan syariah, sehingga tidak dalam akad syariah nanti akan keluar riba,” jelasnya.

Baca juga: Alasan Apa Yang Membuat Anda Takut Punya Kartu Kredit?

Diperlukan kecermatan dan kehati-hatian untuk dapat melihat unsur riba di dalam penggunaan UE. Selain praktiknya juga perlu melihat lebih detail dalam akad atau kontraknya. Seperti apa mekanisme penyimpanan uang itu di bank, apakah di bank konvensional atau syariah.

“Ada suatu mekanisme kontrak dalam penyimpanan uang yang disimpan di bank itu. Dari situnya mungkin orang menganggap masih riba,” imbuhnya.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, semakin banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya ialah tentang penggunaan uang kertas sebagai alat pembayaran yang sah keitka bertransaksi maupun membeli sesuatu.

Pemberlakuan dan penerapan UE di Indonesia, sudah sah setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan peraturan. Yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik.

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.