Shortlink

Analisis Peran dan Strategi Public Relations dalam Penanganan Krisis : Studi Kasus PT.Arla Foods

Pendahuluan

Pada era modern seperti saat ini, untuk tetap dapat bersaing dalam dunia bisnis diperlukan berbagai macam strategi, salah satunya adalah dengan memelihara hubungan baik dengan berbagai stakeholder atau pemangku kepentingan. Jika organisasi tidak dapat mengelola pihak – pihak yang memiliki kepentingan dengan organisasinya, maka akan mulai timbul rasa ketidakpercayaan yang akan terus berlanjut menjadi putusnya hubungan kerjasama yang tentunya akan merugikan organisasi. Jika organisasi tidak mampu mengelola komunikasi yang baik dengan stakeholder maka citra organisasi akan menjadi buruk dan sangat berpengaruh terhadap reputasi dari organisasi itu sendiri. Sebaliknya, jika organisasi mampu mengelola hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan, maka tentunya akan berdampak positif terhadap citra organisasi dan akan membuat organisasi semakin maju dan dikenal sebagai organisasi yang memilik reputasi yang baik.

Setiap organisasi tidak akan terlepas dari adanya krisis. Hal ini dikarenakan setiap organisasi yang ingin bertahan dalam persaingan harus tetap memiliki sifat terbuka dan memiliki kerjasama dengan publik. Namun ketika harapan dan permintaan publik tidak dapat dipenuhi atau tidak sesuai ekspektasi dengan aktivitas yang dilakukan organisasi, maka akan timbul yang dimaksud dengan isu (Larkin, 2005). Menurut (Larkin, 2005), isu dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi atau peristiwa, baik internal dan eksternal organisasi, yang jika berlanjut akan mempunyai efek signifikan pada berfungsinya atau performa organisasi atau kepentingan organisasi di masa yang akan datang. Adalah hal yang wajar jika publik memilik harapan terhadap aktivitas organisasi, misalnya publik berharap dengan adanya organisasi maka akan dapat memperbaiki perekonomian dan infrastruktur yang ada di sekitar wilayahnya. Dan pada dasarnya, organisasi memiliki kesadaran yang tinggi tentang peristiwa – peristiwa yang berpotensi memengaruhi aktivitasnya. Hal ini tergantung pada kemampuan praktisi public relations  untuk dapat memonitor lingkungan sekitar organisasinya.

Isu yang ada di dalam organisasi merupakan salah satu tolak ukur peran dan fungsi public relations  dalam organisasi tersebut, Apakah praktisi public relations dalam organisasi tersebut dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik atau tidak. Hal ini dikarenakan, setiap penanganan isu yang ada di dalam organisasi dapat menjadi sebuah momentum bagi organisasi, apakah akan semakin sukses atau menjadi bangkrut. Selain itu, isu yang tidak dikelola dengan baik maka akan memiliki potensi untuk menjadi krisis yang dapat mengancam reputasi dari organisasi.

Studi kasus yang diangkat oleh penulis adalah tentang peran public relations PT.Arla Foods dalam penanganan krisis yang menimpa perusahaan mereka. PT.Arla Foods merupakan sebuah perusahaan atau koperasi yang berpusat di Arhus, Denmark, dan merupakan produsen terbesar produk peternakan di Skandinavia. Arla dibentuk sebagai hasil dari penggabungan antara koperasi peternakan Swedia Arla dan perusahaan peternakan Denmark MD Foods pada tanggal 17 April 2000 . Arla Foods dimiliki oleh sekitar 11.000 produsen susu di Denmark dan Swedia. Namun pada tanggal 30 September 2005, ada sebuah peristiwa yang mengancam perusahaan tersebut.

Dari kasus yang dialami oleh PT.Arla Foods nantinya pembaca akan dapat memahami bagaimana cara yang tepat untuk melakukan penanganan sebuah krisis yang sedang menimpa perusahaan. Selain itu, dari analisis kasus PT.Arla Foods ini, maka pembaca akan dapat melihat penerapan berbagai teori manajemen krisis yang diterapkan dalam kasus yang benar – benar terjadi. Sehingga pembaca akan dapat mengambil pelajaran dari kasus – kasus yang terjadi untuk menjadi bahan evaluasi dalam penerapan strategi – strategi manajemen isu di waktu yang akan datang.

 

Deskripsi kasus

Krisis yang menimpa PT.Arla Foods dimulai saat sebuah koran denmark yang bernama Jyllans – Posten merilis 12 karikatur editorial yang menggambarkan nabi Muhammad SAW. Selain karikatur – karikatur tersebut, tulisan – tulisan dari koran Jyllans – Posten cenderung memberikan pesan tentang islamopobhia dan menuliskan hal – hal yang rasis. Kasus ini berlanjut antara bulan oktober 2005 dan februari 2006, karikatur – karikatur tersebut telah dicetak ulang di berbagai koran di negara – negara eropa, seperti norwegia, belanda, jerman, belgia dan prancis. Kasus ini memicu protes dari muslim di seluruh dunia, bahkan aksi protes dari warga muslim berlanjut hingga terjadi kasus penembakan di berbagai belahan dunia.

Perwakilan dari negara – negara muslim  tidak tinggal diam , mereka meminta perdana menteri dari Denmark untuk bertemu dan melakukan pertemuan untuk membahas kasus ini, Namun perdana menteri Denmark, Anders Fogh Rasmussen memilih untuk menolak pertemuan tersebut dan mengatakan dalam pidatonya beberapa waktu setelahnya bahwa ia atas nama pemerintah menolak untuk meminta maaf untuk kasus yang terjadi. Hal ini dikarenakan pemerintah Denmark tidak dapat membatasi media independen dalam melakukan penerbitan karena merupakan aturan dari negara Denmark.

Hal ini memicu reaksi dari negara – negara islam yaitu dengan melakukan boikot terhadap produk – produk asal Denmark, termasuk produk dari PT.Arla Foods. PT.Arla Foods kemudian segera merespon dengan menerbitkan press release melalui koran -  koran di arab saudi. Namun pada akhirnya PT.Arla Foods mengakui bahwa usahanya untuk memperbaiki keadaan adalah sia – sia.

Pada tanggal 27 Januari, konfederasi industri Denmark menuntut Jyllands – Posten untuk melakukan permintaan maaf secara tertulis yang akhirnya dilakukan pada tanggal 31 Januari. Kasus ini telah membuat PT.Arla Foods mengalami kerugian hingga 64 juta dollar.

 

Analisis Kasus

Pada kasus yang dialami PT.Arla Foods , peran dari seorang public relations sangat penting. public relations harus dapat menentukan strategi – strategi yang tepat karena akan berpengaruh terhadap masa depan perusahaan. Dari linimasa yang sudah dijelaskan diatas, PT.Arla Foods terlambat dalam mengambil keputusan dan kurang cermat dalam melihat isu yang berkembang. Dari kasus diatas kita dapat melihat, pada saat karikatur tentang nabi Muhammad SAW tersebut memicu kontroversi, PT.Arla Foods menganggap bahwa hal tersebut tidak akan berdampak pada perusahaan mereka. Namun hal inilah awal mula kesalahan yang dilakukan oleh PT.Arla Foods. Public Relations dari PT.Arla Foods gagal dalam mengidentifikasi karakteristik krisis yang ada. Menurut (Kriyantono, 2015), terdapat lima karakteristik dari krisis, antara lain ;

1. Specific Event

Perusahaan harus mampu mengidentifikasi apa sebenarnya krisis yang sedang atau akan dialami oleh perusahaan. Dengan melakukan identifikasi yang tepat, maka perusahaan diramalkan akan dapat dengan tepat menyelesaikan krisis dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat perencanaan terlebih dahulu, sehingga penyelesaian krisis dapat diatasi dengan baik.

2. Inevitable

Krisis bersifat tidak diharapkan , dapat terjadi setiap saat, tidak dapat dihindari, dan tidak dapat dipastikan kapan terjadi. Krisis cenderung mengancam kehidupan organisasi atau publiknya, sehingga tidak ada seorang pun yang mengharapkan terjadinya krisis. Krisis bersifat tidak dapat dihindari dapat diartikan bahwa perusahaan dimungkinkan mengalami krisis, sifat inevitable ini makin tampak saat isu sudah diketahui oleh publik dan media. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu mengantisipasi isu apapun yang potensial menyebabkan krisis. Namun PT.Arla Foods kurang memberikan perhatian terhadap isu potensial yang mengancam perusahaan mereka saat karikatur dari Jyllands – Posten terbit.

3.  Krisis Menciptakan Ketidakpastian Informasi

Pada awal krisis, biasanya akan muncul rumor. Menurut (Kriyantono, 2015) rumor adalah informasi yang tidak jelas darimana asalnya, siapa yang membawanya, dan kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pada kasus PT.Arla Foods, kesalahan mereka adalah mereka membiarkan publik mereka untuk membentuk berbagai opini yang pada akhirnya merugikan mereka. Dan ketika publik melakukan protes terhadap produk Denmark , barulah PT.Arla Foods melakukan tindakan. Hal ini adalah keputusan yang terlambat.

4. Menimbulkan Kepanikan dan Keterkejutan

Kepanikan ini dapat dirasakan oleh organisasi sendiri maupun publik. Organisasi yang tidak memiliki kesiapan (yaitu tidak mempunyai strategi crisis plan atau manajemen isu), belum terlatih untuk kemungkinan terburuk yang terkait operasional organisasi. Pada PT.Arla Foods, karakteristik ini terlihat ketika perusahaan mereka segera melakukan upaya – upaya dalam menyelamatkan perusahaan mereka, seperti melakukan rilis di berbagai koran arab saudi yang terbukti tidak efektif. Hal ini karena strategi tersebut kurang dipikirkan matang – matang oleh public relations.

5. Menimbulkan Dampak Positif atau Negatif bagi Operasional Organisasi

Dampak yang ditimbulkan oleh krisis dapat menjadi dampak yang positif ataupun negatif terhadap operasional organisasi. Dari kasus diatas dapat kita lihat bahwa PT.Arla Foods melakukan strategi yang salah sehingga menyebabkan mereka ikut terlibat dalam krisis yang dialami oleh koran Jyllands – Posten. Hal ini berdampak kerugian sebesar 64 juta Dollar.

 

Daftar Pustaka

Kriyantono, R. (2015). Public Relations, Issues, & Crisis Management. Jakarta: PrenadaMedia Group.

Regester and Larkin (2005). Risk Issues and Crisis Management in Public Relations. London: Kogan Page.

 

 

Shortlink

Definisi Stakeholder & Publik menurut Ahli

Wiyadi Kautsar Ayodya Aji

145120200111021

Ilmu Komunikasi

Dasar-Dasar Public Relations

 

Tulisan ini ditujukan untuk melengkapi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah dasar-dasar Public relations, Rachmat kriyantono,Ph.D. Diharapkan dengan mencari definisi-definisi Stakeholder dan Publik dapat  semakin memperkaya konsep dalam menganalisis kasus-kasus Public Relations

Stakeholder

  1. Freeman, (2008,h.6) mendefinisikan Stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh sesuatu pencapaian tujuan.
  2. Biset,(1999,h.101) stakeholder adalah orang  dengan suatu kepentingan atau perhatian pada suatu permasalahan.
  3.  Bevir (2007, h.917), a stakeholder can be defined as any individual, social group, or actor who possesses a stake.
  4.  Clegg dan Bailey (2008, h.1452), stakeholder is any person who has an interest in the activity of an organization, although it is normally considered to be a person who is actually affected by that activity. So owners, investors, employees, customers, and suppliers are all stakeholders
  1. Menurut Darity (2008, h.85), stakeholders are constituencies who are affected, voluntarily or involuntarily, by the actions taken by an organization, such as a corporation.

 

 

Publik

 

  1. Van Den End, . (End dalam Oxley h..71) public adalah sekelompok orang aau seseorang saja yang  jelas, yang menjalin atau harus menjalin hubungan istimewa dengan perusahaan. Namun perusahaan tersebut tidak harus menjalin hubungan yang sama dengan masing-masing  public
  1. Publik merupakan sekumpulan orang/kelompok dalam masyarakat yang memiliki kepentingan atau perhatian yang sama terhadap suatu hal. (Kriyanotono :2012)
  2. Publik adalah kelompok atau orang-orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara internal maupun eksternal. (Frank Jefkins)
  3. The publics are the targets of public relations action and the source of feedback for evaluation. (Baskin & Lattimore, 1997 : 5)
  4. Group of individuals that are interested and share towards issue, organization or idea(seitel,2011)

 

 

Kesimpulan

 

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa publik adalah kumpulan orang yang memiliki kepentingan yang sama. Sedangkan stakeholder adalah kelompok-kelompok yang memiliki peran penting guna untuk mencapai tujuan perusahaan. Publik berbeda sekali dengan stakeholder. Publik hanya sesorang/kelompok yang mengamati/melihat saja. Publik sering disebut dengan stakeholder,tapi publik disini harus memiliki hubungan dengan perusahaan.

 

Daftar Pustaka

 

Baskin, Otis & Lattimore, Dan.(1997).Public Relations The Profession and the Practice (4thed.).United States of America: McGraw.Hill

 

Buckles,D.1999.Cultivating Peace:Conflict and Collaboration in Natural Resource Management.Canada:International Development Research centre)

 

Clegg, SR., & Bailey, JR. (2008). International Encyclopedia of Organizational Studies. California: SAGE Reference.)

Darity, WA. (2008). International Encyclopedia of the Social Sciences. Detroit: Macmillan Reference USA.

Gregor,G.2008.A Stakeholder Rationale for Risk Management:Implication for Corporate Finance Decisions.Franfurt:Gabler Edition Wissenschaft.

Jefkins, F.Disempurnakan oleh Daniel Yadin. (2003). Public Relations. Terjemahan Haris Munandar. M.A. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Kriyantono, Rachmat. (2012). Public Relations Writing : Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat, Cetakan Ketiga.  Jakarta : Kencana Prenada Media.

Oxley,H.1993.Public Relations:prinsip,persiapan, dan pengembangannya.Jakarta:Gunung Mulia.

Seitel, F. (2011). The Practice of PR. NJ: Prentice Hall.

Shortlink

Analisis Kasus dalam Jurnal The Dow Corning Crisis: A Benchmark

Denny Firdiansyah      145120201111037

Iqbal Rifqi H                  145120207111017

Joseph Adi                     145120201111038

Wiyadi Kautsar              145120200111021

 

Analisis Kasus dalam Jurnal The Dow Corning Crisis: A Benchmark

Pada tulisan ini kami mencoba menganalisis sebuah jurnal karya Katie LaPlant mengenai krisis yang dialami perusahaan implant payudara yang bernama Dow Corning. Adapun kasus yang dialami adalah banyaknya tuntutan yang ditujukan pada perusahaan tersebut, hal ini dikarenakan Dow Corning dituduh memproduksi dan memasarkan produk implant silicon yang tidak aman bagi konsumen.

Reputasi dan nama baik perusahaan Dow Corning mengalami penurunan drastis. Publik menuntut perusaahn itu meninggalkan bisnis implant payudara. Dalam analisis kali ini, kelompok kami berusaha mengungkapkan fakta-fakta apa saja dan apa kaitannya kasus tersebut dengan prinsip-prinsip Public Relations. Hal ini ada kaitannya dengan yang disampaikan oleh Kriyantono (2012, h. 9) menuliskan tujuan public relation untuk membangun citra korporat (corporate image). Oleh karena itu, pada saat seperti ini peran public relation sangat dibutuhkan dalam rangka mengembalikan citra perusahaan.

Berbagai penelitian gagal membuktikan hubungan implant silicon dengan penyakit yang menjadi penyebab masalah kesehatan sehingga Dow Corning memiliki alibi berupa bukti ilmiah dari penelitian. Manajemen PR diperlukan untuk mengatur strategi berdasarkan alibi yang dimiliki oleh Dow Corning, namun pada kenyataannya manajemen PR Dow Corning tidak dapat menangani krisis dikarenakan beberapa hal berikut:

1. Hubungan dengan media yang kurang baik

Perusahaan Dow Corning memilih bersikap tertutup terahdap media dengan menolak untuk memberikan informasi-informasi mengenai krisis yang terjadi untuk memperbaiki citra perusahaan di mata publik. Hal ini menyebabkan media hanya memberitakan berita-berita yang negatif terkait dengan krisis yang dialami oleh perusahaan Dow Corning. Dari analisis kelompok kami, PR perusahaan harusnya membangun hubungan baik dengan media, sebagaimana yang disampaikan oleh Elizabeth Neuman melalui teorinya yaitu Spiral of Silence yang menjelaskan bahwa media berperan untuk membangun opini publik. Pada krisis yang terjadi, pandangan public terhadap Dow Corning buruk karena sikap tertutup Dow Corning terhadap media.

2. Salah fokus

Menurut salah satu prinsip proses komunikasi, dalam menangani krisis suatu perusahaan haruslah tetap calm dan mampu menempatkan diri dalam situasi krisis dan mampu menciptakan strategi-strategi yang tepat untuk menemukan solusi atas krisis tersebut. Dalam kasus yang dialami Dow Corning, mereka justru fokus dalam menuntut balik FDA (Food and Drug Administration) dan media daripada memperbaiki citra yang terlanjur buruk. Seharusnya, Dow Corning lebih memfokuskan kepada perbaikan citra perusahaan terhadap publik sehingga kepercayaan publik membaik. Tetapi yang terjadi, Dow Corning justru sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati terhadap korban sebagai bentuk pertanggungjawaban dan sebagai salah satu upaya memperbaiki citra perusahaan di mata publik.

Namun penyelesaian krisis yang dilakukan oleh Dow Corning tidaklah gagal sepenuhnya. Ada beberapa strategi yang menurut kami cukup untuk dijadikan alibi. Dow Corning melakukan sejumlah penelitian yang mewakili prinsip proses komunikasi yaitu Tell The Truth dan Prove it With Act. Dow Corning membuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian bahwa penyakit yang dialami konsumen tidak ada hubungannya dengan implant silicon payudara yang mereka produksi. Mereka tetap berpegang pada hasil penelitian tersebut dan mengabaikan prinsip proses komunikasi Listening To The Public karena mereka mengabaikan fakta yang terjadi pada publik.

Kesimpulannya adalah, kesalahan yang dilakukan oleh perusahaan Dow Corning memang sudah salah dari awal. Hal ini dibuktikan dengan tuntutan balik mereka atas FDA agar menarik balik tuntutannya dengan melakukan berbagai penelitian. Seharusnya, Dow Corning terlebih dahulu memperbaiki citra perusahaan melalui media untuk membangun persepsi publik yang baik terhadap perusahaan serta menunjukkan simpati terhadap korban yang juga dapat memperbaiki citra perusahaan, barulah mereka melakukan penelitian mengenai tidak adanya hubungan antara penyakit anti-imun dengan produk implant payudara sehingga produksi masih bisa dilanjutkan.

 

Daftar Pustaka

LaPlant, Katie. (1999). The Dow Corning crisis: A benchmark, 44 (2), 32.

Kriyantono, Rachmat. (2012). Public Relation Writing. Jakarta: Kencana.

Shortlink

4 Model public relations & PR as never ending process and research

Wiyadi Kautsar Ayodya Aji
145120200111021

TUGAS

  1. 1.     Jelaskan mengapa PR disebut sebagai never ending process dan continuing process !
  2. 2.     Jelaskan 4 model PR !

Salah satu cara paling bermanfaat dalam membicarakan Public relations adalah dengan melalui penjelasan model public relations yang dengan ini kita dapat mengidentifikasi ide sentral dari public relations dan bagaimana mereka saling terkait satu sama lain. Dan empat model itu ialah ;

  1. Agen pemberitaan ( press agentry )
    Adalah sebuah model dimana informasi bergerak satu arah, dari organisasi menuju public. Dapat dikatakan sebagai model yang paling tua dari public relations dan model ini bermakna sama dengan promosi dan publisitas. Praktisi public relations yang mempraktikkan model ini selalu mecari kesempatan dan peluang bagaimana nama baik organisasi mereka muncul di media.Dan mereka tidak banyak melakukan riset tentang public mereka.Contoh dari model ini adalah propaganda. Jika kita ingin memberikan contoh tentang model press agentry saya dapat mencontohkan sebuah tayangan pada masa orde baru , pada tanggal tertentu akan diputarkan film yang menceritakan tentang peristiwa G30S/PKI sebagai sebuah upaya propaganda pada public.
  2. Informasi Publik ( Public info )
    Memiliki alur komunikasi yang sama dengan press agentry, yaitu satu arah yang maksudnya adalah informasi berasal dari organisasi menuju public. Pada dewasa ini, model ini mewakili praktik public relations dalam sector pemerintahan , lembaga pendidikan , organisasi nirlaba, dan bahkan beberapa korporasi. Praktisi yang bekerja dengan model ini sedikit sekali melakukan risetnya terhadap audiensi mereka dalam rangka menguji pesan , apakah tersampaikan dengan baik atau tidak.. Contoh model informasi public dapat saya contohkan seperti pemberitahuan akan peraturan baru atau kebijakan baru dari pemerintah yang memanfaatkan media sebagai alat untuk menyebarluaskan informasi yang perlu diketahui oleh publiknya.
  3. Model asimetris dua arah
    Model ini memandang public relations sebagai kerja persuasi ilmiah. Model ini menerapkan metode riset ilmu social untuk meningkatkan efektivitas persuasi dari pesan yang disampaikan.Praktisi dari model ini menggunakan survey,wawancara, dan focus grup untuk mengukur serta menilai public, sehingga mereka bisa merancang program public relatiobs yang bisa mendapat dukungan dari public. Organisasi dengan model ini lebih tertarik dengan bagaimana public menyesuaikan diri dengan mereka daripada organisasi yang menyesuaikan dengan kepentingan public.
  4. Model simetris dua arah
    Model ini menunjukkan sebuah orientasi public relations dimana organisasi dan public saling menyesuaikan diri. Model ini berfokus pada penggunaan metode riset ilmu social untuk memperoleh rasa saling pengertian serta komunikasi dua arah antara public dan organisasi ketimbang persuasi satu arah.

Mengapa Public relations dianggap sebagai never ending process dan juga selalu diawali dan diakhiri dengan riset ?

PR merupakan fungsi manajemen dari sikap budi yang direncanakan dan dijalankan secara berkesinambungan oleh organisasi-organisasi, lembaga-lembaga umum dan pribadi dipergunakan untuk memperoleh dan membina saling pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang ada hubungan dan diduga akan ada kaitannya, dengan cara menilai opini publik mereka, dengan tujuan sedapat mungkin menghubungkan kebijaksanaan dan ketatalaksanaan, guna mencapai kerja sama yang lebih produktif, dan untuk memenuhi kepentingan bersama yang lebih efisien, dengan kegiatan penerangan yang terencana dan tersebar luas.( International Public Relations Association (IPRA) dalam Rumanti (2005:11)
Dari definisi Public relations diatas yang dikemukakan oleh international Public relations association dapat saya analisis bahwa di dalamnya terdapat alasan mengapa Public relations dianggap sebagai never ending process dan diawali dan diakhiri oleh riset.Public relation dapat dikatakan never ending process karena terdapat kalimat “PR merupakan fungsi manajemen dari sikap budi yang direncanakan dan dijalankan secara berkesinambungan.” Maksudnya Public relations merupakan sebuah proses yang saling terhubung, saling berkelanjutan dimana menungkinkan terjadinya timbal balik antara organisasi dengan publiknya sebagai upaya sebesar mungkin untuk menyampaikan atau membentuk opini public yang diinginkan oleh perusahaan.

Selaras dengan Public relations as never ending process, riset dalam public relations dapat dikatakan merupakan proses yang sangat penting, dalam definisi international public relations association jelas dikatakan bahwa public relation merupakan sebuah fungsi manajemen. Hal ini dikarenakan karna public relation merupakan proses kegiatan yang berkesinambungan dan terencana dengan menggunakan pendekatan RACE ( research, action, communication, evaluation) (Seitel,1995,7).Dapat dikatakan riset merupakan aspek terbesar dalam sebuah usaha public relations karna hanya melalui riset. Sebagai sebuah organisasi, perusahaan diarahkan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu, disinilah peran riset untuk menjadi sebuah alat ukur yang berfungsi untuk mengidentifikasi apakah sasaran atau tujuan tersebut sudah tercapai atau belum.

Daftar pustaka :

Lspr.2010.beyond borders: Communication modernity &history.jakarta:London school
Rumanti,Sr.M.A.2002.Dasar-dasar public relations teori dan praktik.jakarta:PT.Gramedia widiasarana indonesia

Shortlink

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!