Marketing Communication

PERSONAL SELLING

Personal selling adalah interaksi antar individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai, atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan pihak lain. (Swastha, 1998:226)

Personal selling sendiri menurut Sameto adalah menjual produk atau sekelompok produk dengan cara mengandalkan tenaga penjual terlatih yang mendatangi semua pembeli potensial untuk secara pribadi menerangkan kelebihan dan kegunaan produk tersebut sehingga mereka bisa diyakinkan. (2004:50-52)

Tahap-tahap personal selling :

  1. Persiapan sebelum penjualan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mempersiapkan tenaga penjual dengan memberikan pengertian tentang barang yang dijual, pasar yang dituju, serta teknik penjualannya.
  2. Penentuan lokasi pembeli potensial. Tahap kedua ini menentukan lokasi dari segmen pasar yang menjadi sasaran.
  3. Pendekatan pendahuluan. Sebelum melakukan penjualan, penjual harus mempelajari semua masalah tentang calon pembeli. Selain itu juga perlu mengetahui tentang produk atau merek apa yang sedang digunakan dan bagaimana reaksinya.
  4. Melakukan penjualan. Penjualan yang dilakukan bermula dari suatu usaha untuk memikat perhatian calon konsumen, kemudian diusahakan untuk mengetahui daya tarik mereka.
  5. Pelayanan sesuadah penjualan. Kegiatan penjualan perlu dilanjutkan dengan memberikan pelayanan atau service kepada pembeli seperti garansi atau reparasi.

Sifat-sifat personal selling :

  1. Personal confrontation, yaitu adanya hubungan yang hidup, langsung, dan interaktif antara 2 orang atau lebih.
  2. Cultivation, yaitu sifat yang memungkinkan berkembangnya segala macam hubungan, mulai dari sekedar hubungan jual beli sampai dengan suatu hubungan yang lebih akrab.
  3. Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan pelanggan untuk mendengar, memperhatikan, dan menanggapi.

Aktivitas personal selling memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut :

  1. Prospecting, yaitu mencari pembeli dan menjalin hubungan dengan mereka.
  2. Targeting, yaitu mengalokasikan kelangkaan waktu penjual demi pembeli.
  3. Communicating, yaitu memberi informasi mengenai produk perusahaan kepada pelanggan.
  4. Selling, yakni mendekati, mempresentasikan dan mendemonstrasikan, mengatasi penolakan, serta menjual produk kepada pelanggan.
  5. Servicing, yakni memberikan berbagai jasa dan pelayanan kepada pelanggan.
  6. Information gathering, yakni melakukan riset dan intelijen pasar.
  7. Allocating, yaitu menentukan pelanggan yang akan dituju.

Penjual yang ditugaskan untuk melakukan personal selling harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

  1. Salesmanship. Penjual harus memiliki pengetahuan tentang produk dan menguasai seni menjual, seperti cara mendekati pelanggan, memberikan presentasi dan demonstrasi, mengatasi penolakan pelanggan, dan mendorong pembelian.
  2. Negotiating. Penjual harus mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi tentang syarat-syarat penjualan.
  3. Relationship marketing. Penjual harus tahu cara membina dan memelihara hubungan baik dengan para pelanggan.

 

 

Sumber :

http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1991536-personal-selling/#ixzz1u4YnJCqx

http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1/eman/2010/jiunkpe-ns-s1-2010-3140612-14748-strategi_penjualan-chapter2.pdf

 

Nama : Wignyu Negoro

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

UTS MARKETING COMMUNICATION

Nama            :           Wignyu Negoro

NIM               :           0910220188

Mata Kuliah  :           Marketing Communication (UTS)

SOAL

  1. Jelaskan pengertian marketing communication dan arti penting marketing communication bagi sebuah produk!
  2. Jelaskan arti penting pemilihan media dalam marketing communication!
  3. Jelaskan arti penting green marketing dalam marketing communication! Carilah contoh marketing communication yang bertema green marketing di media cetak dan Anda analisis iklan tersebut. (lampirkan iklan tersebut dalam lembar jawaban Anda)
  4. Mengapa budaya menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam marketing communication? Jelaskan!
  5. Sebut dan jelaskan apa saja yang menjadikan sebuah iklan tersebut efektif!
  6. Sejauhmana etika menjadi hal yang harus diperhatikan dalam marketing communication? Jelaskan! Carilah contoh iklan yang menurut Anda melanggar sebuah etika dan analisis iklan tersebut. (lampirkan iklan dalam lembar jawaban Anda)

JAWAB

  1. Komunikasi Pemasaran (Marketing Communication) adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi dan membujuk atau mengingatkan pasan kepada sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. (Djasmin Saladin, 2001 : 123). Arti penting dari komunikasi pemasaran (marketing communication) bagi suatu produk adalah sebagai media / alat menginformasikan kepada konsumen tentang segala keunggulan produk tersebut dibandingkan dengan produk lain yang sejenis serta info tentang cara penggunaan, produsen, dll.
  2. Memilih media komunikasi pemasaran (marketing communication) yang sesuai dengan produk, jenis pesan, pasar sasaran, luas dan jenis distribusi, anggaran, dan tujuan pengiklanan yang dilakukan untuk menciptakan kampanye iklan yang membuat pelanggan tahu, paham, menentukan sikap, dan membeli produk yang dihasilkan perusahaan.
  3. Dengan menerapkan Green Marketing, dapat digambarkan bahwa perusahaan tidak melihat profit sebagai satu-satunya tujuan perusahaan, tetapi ada kepedulian terhadap lingkungan hidup. Tujuannya adalah mengkomunikasikan bahwa produk yang dihasilkan serta perusahaan tersebut peduli terhadap lingkungan dan mengubah gaya konsumen dalam mengkonsumsi suatu produk demi menciptakan budaya konsumen yang peduli lingkungan.

Contoh :

GWalk, Merasakan Singapura di Kota Surabaya

MATAHARI perlahan mulai tenggelam, warna langit pun beranjak memerah jingga. Di saat sejumlah warga kota mulai kembali pulang ke rumah, tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk berhenti sejenak melepas lelah.

Pusat perbelanjaan yang menawarkan sejumlah kafe memang kerap menjadi pilihan utama para eksekutif muda untuk sekadar menyeruput secangkir dua cangkir espresso hitam.

Namun, pusat perbelanjaan tidak lagi menjadi satu-satunya alternatif bagi mereka. Tengoklah Taman Gapura Walkway atau biasa disebut Gwalk yang kini menjadi tempat alternatif melepas kepenatan dari keseharian bekerja.

Lokasinya yang berada di dalam lingkungan perumahan Citraland menghadirkan suasana aman dan nyaman bagi pengunjung. “Konsep yang dikembangkan di Gwalk adalah clean, green, dan modern. Orang sekarang lebih suka berada di luar ruangan daripada berada di ruang ber-AC”, kata Marketing Manager Citraland D Agung Krisprimandoyo, Kamis (29/1).

Meski berada di luar ruangan, kenyamanan dan kebersihan Gwalk diutamakan. Memasuki Gwalk, pengunjung bebas memilih tempat parkir gratis persis di dekat mereka bersantap. Saat menikmati hidangan, mereka tak perlu khawatir terusik lalu lalang pengamen seperti di tempat lain.

Sekilas, kompleks Gwalk disulap layaknya pusat makanan outdoor sekaligus modern khas gaya hidup Singapura. Tema menjajakan makanan ala Clarke Quay, pusat makanan (food court) paling terkenal di Singapura, begitu kental terasa di Gwalk.

Jalan sepanjang satu kilometer di kompleks perumahan Citraland ini dipenuhi dengan kafe-kafe mulai dari makanan ringan, makanan utama, hingga sekadar es krim sebagai makanan penutup. Puluhan penjaja makanan dan minuman membuka gerai di jalan ini.

Pengunjung dapat memilih berbagai jenis makanan tanpa harus berpindah tempat duduk. Jarak tempuh satu kilometer tidak akan membuat pegal pengunjung lantaran Gwalk menyediakan jalan khusus pedestrian.

Satu hal yang menarik adalah, dari sekitar 86 gerai yang tersebar di Gwalk, tak satu pun terlihat gerai bermerek luar negeri. “Kami sengaja menampilkan gerai-gerai yang menampilkan masakan dalam negeri, khususnya masakan khas Surabaya. Kalau gerai-gerai branded yang ditawarkan nuansanya akan lain,” tutur Agung.

Di hari biasa, pengunjung Gwalk didominasi penghuni kompleks perumahan Citraland yang berjumlah sekitar 4.500 warga. Namun, pada saat akhir pekan, pengunjung berdatangan dari seluruh Surabaya hingga luar kota.

(Kompas.com)

 

Analisis : Dari penjelasan diatas, digambarkan bahwa Citraland membangun sebuah pusat makanan outdoor dimana secara otomatis telah mengurangi penggunaan AC untuk mengurangi pemanasan global. Hal tersebut merupakan suatu langkah manajemen yang bersifat green marketing seperti konsep yang  telah direncanakan, yaitu clean, green, dan modern. Lokasi tersebut juga difasilitasi dengan kawasan pedestrian sehingga menambah kenyamanan berkunjung untuk pejalan kaki sebagai konsep hidup sehat dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.

4. Budaya merupakan suatu kebiasaan atau nilai yang dianggap baik yang dianut oleh suatu bagian masyarakat. Pengiklan harus menyesuaikan komponen-komponen iklan yang dipubikasikan dengan budaya target pemasarannya agar dapat diterima dengan persepsi positif sehingga berpotensi menciptakan perilaku pembelian.

5. Indikator iklan yang efektif :

  • Perhatian. Iklan yang efektif mampu menarik perhatian konsumen dari tidak tahu menjadi tahu.
  • Minat. Iklan yang efektif mampu menciptakan minat dalam diri konsumen untuk membeli produk.
  • Keinginan. Iklan yang efektif mampu membuat konsumen dari sekedar mencoba / minat menjadi suatu keinginan dalam pembelian.
  • Tindakan. Iklan yang efektif mampu membuat konsumen langsung melakukan pembelian terhadap suatu produk.

6. Etika dalam periklanan diterapkan sebagai batasan-batasan tertentu pada pihak pengiklan untuk membangun suatu kompetisi yang sehat antara pengiklan atau perusahaan.

Contoh :

Analisis : Dapat dilihat bahwa salah satu provider telah merendahkan provider lain dengan mengatakan “Tetangga sebelah … ngomongnya paling murah. Ternyata tarifnya ribet banget dan jaringannya terbatas.” meskipun dengan tidak langsung menyebutkan namanya. Dalam etika periklanan, seorang pengiklan tidak boleh menjatuhkan atau merendahkan pengiklan yang lain meskipun tidak secara frontal.

 

Oleh : Wignyu Negoro

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

MARKETING COMMUNICATION

PENELITIAN TENTANG IKLAN

Dunia ini menjadi tempat pasar yang umum di mana orang-orang, di mana pun mereka hidup, menginginkan produk dan gaya hidup yang sama, seperti dikemukakan oleh Levitt (1983). Hal ini menyebabkan untuk berpikir mengubah dunia menjadi tempat pasar homo-cultural. Pelanggan dapat dibujuk oleh iklan yang menarik dengan nilai yang sama, terlepas dari budaya mereka milik. Merek dan citra merek bisa menjadi standar tanpa masalah di seluruh negara. Hal ini bisa mengakibatkan penghematan yang signifikan dalam memproduksi iklan. Menurut Dahl (2005), hal tersenut juga dapat menyebabkan penghematan waktu dan uang dalam hal biaya desain. Sebagian besar perusahaan multinasional merasa bahwa merek internasional harus menciptakan citra global. Konsumen dalam posisi budaya global (melalui serangkaian simbol yang diakui) dapat meningkatkan iklan yang bermakna (Alden dkk., 1999). Standar iklan dengan berdasarkan segmen multi-budaya dapat diimplementasikan (Gram, 2007). Iklan global terutama ditemukan dalam produk mewah, kosmetik, parfum dan jam tangan (Belche dan Belche, 1998).

Tren terbaru dalam ekonomi global telah mengubah isi budaya kampanye iklan. Oleh karena itu, multikulturalisme dapat menjadi pendekatan yang baik untuk periklanan global. Memahami perbedaan budaya dapat menyebabkan iklan akan berhasil (Keegan, 2008). Namun, pengiklan harus memilih sejauh mana untuk mengglobalisasikan atau melokalisasi pesan mereka. Menyeimbangkan standardisasi dan adaptasi budaya bisa menjadi faktor kunci bagi keberhasilan periklanan global. Dengan memahami setiap variasi etnis dan budaya dapat membantu untuk memiliki efektivitas iklan yang baik.

Hindu dan Kristen adalah relatif lebih cenderung untuk iklan global dibandingkan dengan Muslim. Agama memainkan peran dalam penerimaan iklan global. Kristen (52 persen) lebih cenderung terhadap iklan global ketika dibandingkan dengan Hindu (42 persen) dan Muslim (45 persen). Ini adalah sebuah kejutan dimana Muslim yang dianggap lebih konservatif. Umur juga mempengaruhi persepsi. Kelompok usia yang lebih tua tidak memiliki tingkat persepsi yang tinggi terhadap iklan global. Budaya individualis dan kolektivis memang memiliki respon yang sama terhadap iklan global dan tidak ada perbedaan yang signifikan. Pendidikan tinggi dapat menyebabkan penerimaan yang lebih baik dari produk dalam negeri. Dengan demikian, pendidikan dapat mempengaruhi persepsi seseorang.

Seruan emosional adalah efektif bila layanan iklan dan yang lainnya lebih spesifik, efektif ketika layanan iklan mengandung layanan eksperimental dan utilitarian. Hal ini akan menunjukkan bahwa konsumen tidak perlu alasan rasional atau logis untuk memilih layanan pembelian. Sebaliknya mereka sedang dipengaruhi oleh seruan seperti tradisi, afiliasi dan kekhasan. Iklan yang efektif umumnya mengandung dokumentasi yang sangat sedikit. Hal ini dicapai dengan :

  1. Menghadirkan representasi fisik seperti buku, cek atau kendaraan perusahaan.
  2. Memperlihatkan pertemuan layanan atau penyedia layanan tersebut, terutama di mana pertemuan itu bersifat pribadi. Tangibilisation layanan jelas membutuhkan pengolahan dari potongan dokumentasi dan sejalan dengan pendekatan emosional yang diadopsi.

Iklan hanya akan bertahan dan berkembang menjadi efektif jika fokus. Semua pengiklan mengharapkan hasil tertentu berdasarkan tujuannya masing-masing. Klien mengharapkan bukti dan untuk sebagian besar bukti yang harus menyebabkan atau benar-benar menghasilkan penjualan (Richard Vaughan, 1986). Iklan harus efektif dan mencapai tujuannya. Setiap iklan bisa dibuat efektif hanya dengan tujuan yang jelas yang mendorong perencanaan, penciptaan, dan eksekusi. Iklan harus bekerja dengan bentuk-bentuk komunikasi pemasaran untuk menjangkau pelanggan. Hanya pengiklan dan biro iklan yang mendukung dan tahu apakah kampanye iklan mencapai tujuannya, dan apakah iklan benar-benar bernilai untuk uang yang diinvestasikan. Iklan yang efektif adalah iklan yang membantu pengiklan untuk mencapai tujuannya (Doyle & Saunders, 1990).

Hubungan antara biro iklan dan perusahaan melibatkan tingkat interaktivitas yang tinggi. Karena iklan termasuk kategori layanan profesional, kedua pasangan perlu melakukan upaya untuk memperluas hubungan dan memastikan kepuasan. Jasa profesional ditandai oleh celah antara klien dan penyedia mengenai karakteristik layanan dan harapan klien. Dalam sebuah hubungan interaktif di mana dua aktor beroperasi di layanan aktivitas yang berbeda, di mana badan tersebut dipanggil untuk mengelola pengembangan dari relasi, perlu untuk menentukan peran masing-masing aktor sehingga untuk mengurangi risiko kegagalan. Putus hubungan selalu dapat menjadi kenyataan setiap saat dan hampir tidak pernah ada salah satu faktor tunggal yang bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.

Sumber :

Kathleen Mortimer, (2008), “Identifying the components of effective service advertisements”, Journal of Services Marketing, Vol. 22 Iss : 2 pp. 104 – 113

Rajesh Kumar Srivastava, (2010), “Effectiveness of global advertisement on culture of India: an emerging market”, International Journal of Emerging Markets, Vol. 5 Iss : 1 pp. 102 – 113

Lefa Teng, Michel Laroche, Huihuang Zhu, (2007), “The effects of multiple-ads and multiple-brands on consumer attitude and purchase behavior”, Journal of Consumer Marketing, Vol. 24 Iss : 1 pp. 27 – 35

Abdelfattah Triki, Nejla Redjeb, Istabrak Kamoun, (2007), “Exploring the determinants of success/failure of the advertising agency-firm relationship”, Qualitative Market Research: An International Journal, Vol. 10 Iss : 1 pp. 10 – 27

Helen Gabriel, Rita Kottasz, Roger Bennett, (2006), “Advertising planning, ad-agency use of advertising models, and the academic practitioner divide”, Marketing Intelligence & Planning, Vol. 24 Iss: 5 pp. 505 – 527

W. Wossen Kassaye, 1997, “Global advertising and the world wide web”, Business Horizons  Volume 40 Issue 3 Pages 33-42

B.J. Moon, S.C. Jain, 2001, “Consumer processing of foreign advertisements : roles of country-of-origin perceptions, consumer ethnocentrism, and country attitude”, International Business Review 11 page 117–138

Andrey Mikhailitchenko, Rajshekhar (Raj) G. Javalgi, Galina Mikhailitchenko, Michel Laroche, 2007, “Cross-cultural advertising communication: Visual imagery, brand familiarity, and brand recall”, Journal of Business Research 62 page 931–938

V. Ramalingam, B. Palaniappan, N. Panchanatham, S. Palanivel, 2006, “Measuring advertisement effectiveness—a neural network approach”, Expert Systems with Applications 31 page 159–163

Fernando Fastoso, Jeryl Whitelock, 2009, “Regionalization vs. globalization in advertising research: Insights from five decades of academic study”, Journal of International Management 16 page 32–42

 

Nama : Wignyu Negoro

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

ETIKA PERIKLANAN (MARKETING COMMUNICATION)

ANALISIS PERIKLANAN YANG MELANGGAR ETIKA DI INDONESIA

  • Objek Iklan

Susu WRP Body Shape

  • Target Pasar

Kaum wanita khususnya yang ingin memiliki tubuh yang ideal atau langsing.

  • Brand Positioning

Produk susu WRP Body Shape ini diposisikan sebagai minuman susu kesehatan untuk mempercantik tubuh khususnya untuk kaum wanita.

  • Deskripsi

Didalam iklan susu ini banyak mengandung unsur-unsur yang kurang baik. Karena menggunakan model seorang perempuan yang memperlihatkan anggota badan yang seharusnya di tutup. Seperti bagian atas dada dan perut dan juga menggunakan kata-kata yang kurang tepat. Iklan ini mengiklankan produk susu untuk mempercantik diri.

  • Analisis

Berdasarkan deskripsi iklan produk susu WRP Body Shape di atas, dapat ditemukan beberapa point yang melanggar etika periklanan di Indonesia, antara lain :

  1. Iklan susu “WRP Body Shape” melanggar etika yang berkaitan dengan pornografi. Sesuai dengan UU Pornografi No. 44 Tahun 2008 Pasal yang menyatakan bahwa “Setiap orang dilarang menjadikan orang lain sebagi objek atau model yang mengandung muatan pornografi”.
  2. Dalam EPI juga tertuliskan “Iklan tidak boleh mengekploitasi erotisme atau seksualitas dengan cara apapun dan untuk tujuan atau alasan apapun. Dalam iklan perempuan tidak boleh melecehkan, mengeksploitasi, mengobyekan atau mengornamenkan perempuan sehingga memberi kesan merendahkan kodrat, harkat dan martabat mereka.
  3. Iklan susu “WRP Body Shape” melanggar etika yang berkaitan dengan perlindungan konsumen. Termuat dalam UU Perlindungan Konsumen no. 8 tahun 1999 Pasal 9 ayat 1:j menyatakan “Pelaku usaha dilarang menawarkan, memproduksikan, mengiklankan suatu barang dan atau jasa secara tidak benar dan menggunakan kata-kata yang berlebihan seperti sexy atau efek tanpa keterangan yang lengkap serta menggunakan kata-kata perbandingan”.

Video Iklan Susu WRP Body Shape

Sumber :

Faisal Fahmi, Mohammad. 2010. Analisis Etis Iklan Cetak, http://www.scribd.com/doc/74281627/Is-All, diakses tanggal 25 Maret 2012

http://www.youtube.com/watch?v=ehBO5xqhSMk

 

Nama : Wignyu Negoro

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

MARKETING COMMUNICATION

CARA MENGUKUR EFEKTIVITAS MARKETING COMMUNICATION

Efektivitas IMC ini sangat penting terutama bagi manajemen karena dalam prosesnya IMC banyak menguras biaya yang tidak sedikit.  Efektifitas IMC  bisa dilihat dari business outcomes (1) dan communication outcomes (2).

Business outcomes dilihat melalui proses valuasi konsumen dalam pasar yang telah diidentifikasi berdasarkan estimasi terhadap investasi konsumen (ROCI – Return on Customer Investment).  Estimasi financial atau business outcomes prediction tersebut kemudian diverifikasi dan dievaluasi atas beberapa point sepanjang waktu untuk melihat efektivitas program IMC.  ROCI seringkali disamakan dengan persentase loyalitas customer yang melakukan re-consumption atau kalkulasi continuous buying atas produk dari customer.

ROCI merupakan kalkulasi dari hasil financial atas program IMC yang berfokus pada loyalitas pelanggan.  ROCI dapat dihitung berdasarkan continuous buying yang dilakukan oleh pelanggan berdasarkan metode customer profit dan sales growth. Jadi misalnya, seperti contoh Rinso di atas. Misalnya, business outcomes nya adalah 8 dari 10 dari ibu Indonesia menggunakan Rinso. Dari kedelapan ibu Indonesia ditargetkan berapa customer profit dan sales growth yang diharapkan, yang ujung-ujungnya merefleksikan  pola continuous buying customer.  Pola continuous buying ini yang bisa menunjukan loyalitas customer akibat melihat IMC Rinso yang dilanjutkan menjadi attitude customer untuk membeli dan terus membeli Rinso. Karena bagi kedelapan ibu Indonesia tadi, Rinso adalah satu-satunya sabun cuci yang mendukung kreativitas anak-anaknya (walaupun mungkin banyak sabun cuci merek lain yang kualitasnya tidak kalah bagus daripada Rinso).

Itu ROCI yang merupakan kategori business outcomes yang TANGIBLE.  Lalu ada juga yang disebut communication outcomes yang INTANGIBLE, melalui pengukuran brand equity.  Brand Equity pada dasarnya adalah ukuran untuk mengetahui brand performance.  Intinya adalah customer impact dan asset related (Reid, Luxton, Mavodo, 2005).  Brand Equity pada dasarnya meliputi pengukuran atas perubahan kesadaran (awareness) pelanggan, asosiasi pelanggan, sikap pelanggan, perasaan pelanggan dan pengalaman pelanggan.  Buat mudahnya, jika kita sudah punya komunitas untuk pelanggan atas produk kita, kita bisa melakukan survey pelanggan untuk mengukur elemen-elemen di atas.

CARA MENGUKUR EKUITAS MEREK

Pitta and Katsanis (1995; Rangkuti 2004) mengatakan bahwa brand equity diukur berdasarkan kemampuan merek tersebut mendukung perluasan merek yang dilakukan.

Sedikitnya ada lima pendekatan lain (Aaker, 1996) untuk mengukur nilai ekuitas suatu merek, yaitu :

  1. Pengukuran dengan harga optimum

Pendekatan ini juga dikenal dengan dollarmatric, di dapat dari pengamatan tingkat harga suatu merek di pasar, sangat dipengaruhi oleh selisih harga yang dikeluarkan oleh kompetitornya, tingkat depresiasi dalam setahun, elastisitas harga yang direspon oleh konsumen. Adanya kenyataan bahwa harga optimum aset tahun bisa diperoleh dari rata-rata setahun dikalikan volume unit penjualan setahun, dengan mengabaikan arca kas jangka waktu yang sama.

2.  Pengukuran dengan merek dan preferensi konsumen

Untuk kelas produk dan jasa tertentu pengukuran harga optimum tidak bisa menjadi cara yang jitu, sehingga perlu digunakan pendekatan lain yang lebih objektif, salah satunya dengan menghitung dampak merek terhadap evaluasi konsumen atas merek yang diukur dari referensi konsumen, menyangkut sikap, tujuan membeli dan menggunakan suatu merek.

3.  Pengukuran dengan penggantian biaya

Perspektif yang digunakan adalah berapa jumlah biaya yang sudah dikeluarkan untuk suatu produk atau merek dengan tingkat kemungkinan sukses ditentukan lebih dahulu, biaya yang sudah dikeluarkan dan mencapai kemungkinan sukses tersebut sebagai nilai dari ekuitas merek.

4.  Pengukuran pada nilai harga saham

Penggunaan harga saham sebagai dasar untuk mengevaluasi nilai ekuitas merek,asumsinya pasar modal akan menyesuaikan harga perusahaan untuk proyeksi prospek masa depan atas merek tersebut. Pendekatan dimulai dengan nilai pasar sebuah perusahaan yang merupakan fungsi dari harga saham dan jumlah saham yang beredar danmodel ini beroperasi pada perusahaan publik dengan merek dominan.

5.  Pengukuran perolehan laba bersih masa depan

Pendekatan ini menggunakan estimasi laba bersih lancar (current earnings) dan menerapkan, multiplier laba bersih (earning multiplier) keduanya kemudian diestimasikan pada penilaian laba bersih masa depan, dengan mencari nilai multiplier actual dalam suatu periode tertentu dan dibandingkan, industri dikelasnya, dengan mengabaikan hutang-hutang yang sangat besar.

Dimensi ekuitas merek terdiri dari beberapa hal yaitu :

  1. Kesadaran merek
  2. Kesan merek
  3. Loyalitas merek
  4. Kepercayaan
  5. Kepuasan konsumen

 

Sumber :

Aaker, A. 1997. Manajemen Ekuitas Merek, Memanfaatkan Nilai dari Suatu Merek : Terjemahan Edisi Pertama. Jakarta : Mitra Utama

Rangkuti, Freddy. 2004. The power of Brands Teknik Mengelola Brand Equity dan Strategi Pengembangan Merek, Plus Analisis Kasus dengan SPSS. Jakarta : PT. Gramedia Utama.

Wibisono, Afril. 2010. IMC dan Bagaimana Mengukur Keberhasilannya, Melalui http://afrilwibisono.wordpress.com/2010/11/21/imc-dan-bagaimana-mengukur-keberhasilannya/ , diakses tanggal 17 Maret 2012

 

(Resume Jurnal Tentang Marketing Communication)

POTENSI KOMUNIKASI PEMASARAN ONLINE

PRIORITAS DI PERUSAHAAN-PERUSAHAAN DENMARK DAN BIRO IKLAN

Pendahuluan

Internet telah membawa dampak luar biasa pada banyak proses di perusahaan. Pemasaran merupakan salah satu daerah yang paling terpengaruh karena kemungkinan yang ditawarkan dalam komunikasi online (Krishnamurthy, 2006; Krishnamurthy dan Singh, 2005; Sheth dan Arma, 2005). Dengan demikian, komunikasi pemasaran online (OMC) telah berkembang menjadi bagian penting dari bauran promosi perusahaan (Adegoke, 2004). Sedangkan OMC di awal hari sebagian besar terbatas pada pelaksanaan website perusahaan, kemungkinan besar ada saat ini. Sebagai literatur menunjukkan, hari ini OMC terdiri dari beberapa kegiatan (Jensen dan Jepsen, 2006; Jensen dan Fischer, 2004; Strauss et al, 2003;. Roberts, 2003). Dalam tulisan ini, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Bagaimana keragaman adopsi OMC?
  2. Apakah beberapa disiplin diprioritaskan lebih dari yang lain?
  3. Apa saja indikator utama potensi masa depan?
  4. Di mana sebaiknya sumber daya diarahkan untuk memanfaatkan OMC lebih lanjut?

Dalam menjawab pertanyaan, ada kebutuhan untuk memperkirakan konstruksi endogen secara bersamaan dalam sistem yang sama, masing-masing konstruk dengan beberapa indikator, karena itu, pendekatan struktural equation modeling digunakan (Bagozzi, 1980; Fornell, 1982) dalam mengembangkan model konseptual. Selanjutnya, kotak terkecil parsial (Wold, 1974) digunakan untuk memperkirakan model. Dibandingkan dengan LISREL (kovarians pemodelan struktural), PLS menawarkan persyaratan minimal ukuran sampel dan distribusi sisa (Chin, 1998b). Model ini berusaha untuk mengkaji bagaimana prioritas keseluruhan OMC dipengaruhi oleh disiplin OMC berbeda. Selain itu, model ini mencakup komunikasi pemasaran offline (Marcom), karena diyakini untuk mempengaruhi prioritas OMC. Selanjutnya, penggunaan metode untuk prioritas OMC disertakan sebagai konstruksi seperti yang diyakini memiliki dampak positif pada kedua prioritas saat ini serta kepercayaan pada potensi masa depan. Dikatakan bahwa masalah itu bisa dijawab dari data pengukuran kedua dimana kebutuhan OMC dan di mana itu sebenarnya digunakan. Oleh karena itu Dua model diperkirakan dengan menggunakan data penelitian yang dikumpulkan dari kedua perusahaan besar Denmark dan biro iklan Denmark. Pendekatan penelitian ganda diterapkan untuk menunjukkan apakah ada perbedaan besar dalam alokasi sumber daya perusahaan ‘dibandingkan dengan permintaan di antara biro iklan, dan akhirnya menjawab apakah perusahaan dapat mengandalkan lembaga mendorong pendekatan holistik OMC atau apakah perusahaan itu sendiri harus bertanggung jawab untuk pemanfaatan holistik OMC. Data penelitian dari Denmark digunakan untuk mencapai hasil setidaknya dibatasi oleh kendala teknologi.

Penyusunan Model dan Konstruksi

  • Konstruksi eksogen
  1. Komunikasi Pemasaran Online

Disiplin pertama, iklan online, terdiri dari tiga indikator utama yaitu tampilan iklan, optimisasi mesin pencari, dan program afiliasi. Hubungan komunikasi online, disiplin kedua, juga berkaitan dengan tiga indikator yaitu e-mail langsung, layanan berbasis konteks, dan e-learning. Tiga indikator dikategorikan sebagai komunikasi interaktif online yang ditemukan yaitu Kompetisi online, kupon, sampel, kontes dan undian, dan microsites.

2.  Komunikasi Pemasaran Offline

Semua disiplin ilmu yang disebutkan komunikasi offline telah ditinjau. Sejalan dengan gagasan yang diterima umum, semua disiplin ilmu dikelompokkan menjadi dua konstruksi utama, masing-masing akhirnya diukur dengan menggunakan indikator komunikasi offline personal dan komunikasi offline massa.

  • Konstruksi Endogen
  1. Prioritas dari OMC. Prioritas OMC dibangun dari empat pertanyaan dalam kasus
    perusahaan dan tiga pertanyaan dalam kasus biro iklan.
  2. Masa Depan potensi OMC. Hanya dua indikator mengukur potensi masa depan OMC:
    satu terkait dengan pertanyaan tentang anggaran OMC dalam prioritas sekarang dari OMC, dan salah satu karakter yang lebih umum terkait dengan pengembangan diharapkan dari OMC dalam lima tahun ke depan.
  3. Metode untuk prioritas OMC. Tidak ada perangkat perencanaan perak metrik atau holistik kuantitatif untuk prioritas komunikasi pemasaran terpadu ada (Ambler, 2003), baik secara online maupun offline.

Hasil

Efek total pada metode untuk prioritas OMC serupa dengan efek langsung
bahwa komunikasi massa offline memiliki dampak yang tampak jelas, karena media ini muncul dari perencanaan. Selanjutnya, baik iklan online dan hubungan komunikasi online adalah bidang yang menyerupai disiplin online dan sekarang banyak pada saat yang sama ada metrik pengukuran dan perencanaan. Namun, terutama perusahaan perlu menggunakan OMC, dan disiplin lebih perifer serta penggunaan metode yang penting untuk perkembangan ini. Oleh karena itu, seperti disebutkan sebelumnya, perusahaan harus menekankan pengembangan metode yang lebih holistik prioritas untuk OMC.

Kesimpulan, Keterbatasan dan Implikasi Manajerial

Prioritas online MarCom ditentukan oleh beberapa disiplin OMC, namun yang lebih beragam disiplin ilmu diadopsi oleh perusahaan. Penggunaan MarCom offline akan berhubungan negatif dengan prioritas MarCom online, dan komunikasi offline dan online karenanya kompensasi: kecenderungan adalah jauh terkuat untuk lembaga. Mungkin lebih mengejutkan adalah bahwa dalam komunikasi biro iklan model ponsel tidak dilihat sebagai bagian dari OMC, melainkan sebagai kompensasi untuk prioritas OMC secara keseluruhan. Penggunaan metode sistematis untuk prioritas memiliki efek positif pada prioritas OMC, tetapi hanya di perusahaan. Komunikasi massa Offline memiliki dampak positif pada penggunaan metode sistematis untuk prioritas OMC, baik terkait dengan warisan menggunakan metode sistematis dalam komunikasi massa offline. Seperti yang diharapkan, prioritas sekarang OMC positif mempengaruhi kepercayaan terhadap potensi OMC masa depan. Dan juga metode untuk prioritas OMC positif mempengaruhi kepercayaan pada potensi OMC masa depan; mengherankan, namun, dalam model perusahaan ‘hanya efek tidak langsung ditemukan.

Dimana perusahaan memprioritaskan array kegiatan, yang lebih luas badan-badan tampaknya tidak memberikan paket OMC penuh, tetapi terutama menjaga disiplin hubungan pemasaran dan untuk beberapa iklan luasnya. Perusahaan karenanya harus mengambil tanggung jawab memanfaatkan potensi penuh dan holistik OMC. Mereka tidak bisa berharap bahwa biro iklan memiliki kompetensi holistik. Selain itu pendekatan lembaga-lembaga terhadap prioritas online versus online mengejutkan sangat banyak kompensasi dan disintegrasi.

Dengan pengecualian komunikasi interaktif online, perusahaan memprioritaskan semua disiplin OMC hampir sama. Masih dengan dampak yang relatif tinggi pada prioritas OMC, tampaknya sebagai komunikasi interaktif online akan menjadi disiplin untuk lebih memprioritaskan, untuk elemen misalnya seperti game online, microsites, lomba, kupon, sampel, kontes dan undian.

Dalam model biro iklan kepercayaan pada potensi masa depan OMC mengikuti pola yang sama dengan prioritas yang ada OMC. Perusahaan, bagaimanapun, membuat pergeseran jelas dari iklan online menjadi sopir utama prioritas yang ada untuk komunikasi hubungan online yang dominan di masa depan. Dengan kinerja agak lemah komunikasi hubungan online, harus ada ruang untuk perbaikan.

Komunikasi massa Offline memiliki dampak yang kuat pada metode untuk penentuan prioritas OMC. Hal ini tampak jelas karena ini adalah dimana media perencanaan berasal. Juga iklan online dan komunikasi hubungan online adalah bidang yang banyak menyerupai disiplin offline dan pada saat yang sama memiliki metrik yang ada untuk pengukuran dan perencanaan. Namun, seperti dibahas di atas, perusahaan perlu mengambil tanggung jawab dan memanfaatkan potensi holistik OMC, dan karena itu pada prospek untuk metode yang lebih holistik prioritas.

 

Sumber :

Morten Bach Jensen. 2007. “Online Marketing Communication Potential : Priorities in Danish Firms and Advertising Agencies”, European Journal of Marketing Vol. 42 No. 3/4, 2008 pp. 502-525

 

Ditulis oleh : Wignyu Negoro

Dosen : Nanang Suryadi, SE., MM.

PERKEMBANGAN MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN

Perkembangan teknologi berdampak besar pada bentuk dan jenis media yang bisa diakses audiens. Namun, ketersediaan media tidak sama antar negara dan rentang serta tipe media juga bervariasi antar negara. Perkembangan media dipengaruhi oleh perubahan struktural dan regulasi menyangkut industri media di setiap negara. Banyak organisasi (media dan agen) berusaha tumbuh melalui deversifikasi dan pengembangan jaringan internasional (pertumbuhan organik dan aliansi). Ada kecenderungan terjadi peningkatan konsentrasi kepemilikan dan pengendalian terhadap sebagian besar industry media oleh sejumlah kecil organisasi atau individu. Contohnya Rupert Murdoch, Ted Turner, Time-Warner, Bertelsmann, dan Silvio Berlusconi kini memiliki saham yang sangat besar pada media internasional. Salah satu penyebab terjadinya konsentrasi kepemilikan ini adalah keputusan pemerintah di berbagai negara untuk menderegulasi media dan menjalin relasi dagang baru. Implikasinya, jaringan media seperti ini (televisi, koran, majalah, TV kabel, satelit, film, penerbitan, periklanan, bioskop, ritel dan rekaman) menciptakan peluang bagi para pemasang iklan untuk memakai jasa satu penyedia media saja yang kemudian akan menyediakan akses ke jaringan media globalnya. Fasilitas yang di kenal pula dengan istilah ‘one-stop-shopping’ kini telah berkembang pesat ke seluruh dunia.

Beberapa trend yang dijumpai dalam perkembangan media global antara lain meliputi:

  1. Belanja iklan untuk media elektronik berkembang pesat dan bahkan ‘menyedot’ sebagian anggaran belanja media cetak.
  2. Belanja iklan untuk surat kabar di seluruh dunia mengalami penurunan signifikan.
  3. Jumlah majalah umum (general interest magazines) berkurang dan sebaliknya jumlah majalah spesifik  (specialist interest magazines) berkembang pesat.
  4. Pertumbuhan fasilitas satelit memfasilitasi perkembangan jaringan televisi dan TV kabel.
  5. Pemprograman dan distribusi televisi semakin hari semakin penting.
  6. Media di luar rumah (out-of-home media), khususnya media di luar gedung dan media alternatif baru mengalami pertumbuhan signifikan.
  7. Webvertising  (iklan di internet, baik di portal, fasilitas email, chatting, maupun situs spesifik) mengalami perkembangan dramatis, terutama dalam beberapa tahun terakhir.

INTERNET SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN

Pada umumnya, suatu organisasi atau perusahaan memiliki komunikasi pemasaran yang berbeda-beda dalam prakteknya. Secara teori, bauran komunikasi pemasaran tradisional meliputi: (1) periklanan, (2) promosi penjualan, (3) hubungan masyarakat dan (4) pemasaran langsung (Bennett, 1995).

Iklan memainkan peran on-line yang sama di pasar fisik, yaitu untuk menciptakan kesadaran, menyampaikan manfaat, mempromosikan percobaan dan mendesak pelanggan bertindak (Gardener dan Trivedi, 1998; van Waterschoot dan, Van den Botte 1992).

Iklan merupakan strategi penting sebagai promosi penjualan. Pengusaha sering menggunakan berbagai jenis promosi penjualan di pasar fisik dan promosi penjualan tersebut telah diberi suatu peningkatan porsi dalam anggaran total (Gardener dan Trivedi, 1998). Alat promosi penjualan utama yang relevan untuk pengusaha kecil yaitu web site yang meliputi restitusi / potongan harga, penawaran premium dan penawaran khusus, sampling, demonstrasi on-line, serta kontes dan undian.

Alat promosi yang ketiga, hubungan masyarakat, termasuk berita (misalnya, siaran pers), pidato, program pendidikan, dan kegiatan pelayanan publik. Jenis terakhir dari komunikasi pemasaran adalah pemasaran langsung. Pemasaran langsung mengambil dua bentuk, menjual on-line dan layanan konsumen. Layanan konsumen melibatkan layanan tambahan, seperti memeriksa order / ketersediaan produk, pembelian / aktivitas akun, penagihan dan pengembalian, penggunaan produk, pengiriman atau permasalahan (Innis dan Lalonde, 1994). Apakah on-line atau off-line, layanan konsumen seringkali merupakan pengaruh yang paling penting dalam evaluasi pelanggan kepada penjual (Perrault dan Russ, 1976; Sheth, 1973).

Pengusaha harus memahami dan dapat menggunakan karakteristik unik dari situs web sebagai saluran komunikasi. Sifat yang sangat interaktif dari web site berarti bahwa pengguna web site memiliki potensi untuk menjadi pengakuisisi informasi yang lebih aktif (Ghose dan Dou, 1998). Jadi kita dapat mengkategorikan web site perusahaan berdasarkan pada penggunaan elemen tertentu, seperti kebijakan privasi on-line, email, menyesuaikan proses akuisisi informasi, dan spesialisasi layar dan kemampuan multimedia.

PERBANDINGAN PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN DI INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT

Saat ini semakin banyak orang Indonesia yang sudah paham tentang Online marketing. Menjamurnya bisnis online di Indonesia membuat dinamika dunia maya semakin menggeliat, sehingga online marketing berkembang pesat di Indonesia, dan semakin banyak saingan tentunya.Hal ini tidak terlepas dari efek turunnya biaya akses internet di Indonesia, inilah yang mendorong para pelaku bisnis, UKM dan Koperasi untuk memasarkan barang dan jasanya melalui internet. Jelas ini mendorong ilmu internet marketing di Indonesia akan semakin dibutuhkan.

Mayoritas pengakses Internet adalah orang terpelajar. Semakin banyaknya pengakses inilah yang membuat Internet menjadi pasar yang sangat menjanjikan saat ini. Dan seperti halnya di dunia nyata, perlu ada strategi-strategi agar perusahaan bisa menarik hati konsumen pengguna internet. Internet paling bermanfaat bagi produk dan jasa ketika pembelanja mencari kenyamanan pemesanan yang lebih besar (misalnya buku dan musik) atau biaya lebih rendah misalnya (perdagangan saham atau bacaan berita).

Khusus online store, di Indonesia kasusnya memang beda. Sedikitnya ada tiga alasan, pertama jumlah online store di Indonesia masih sedikit sehingga pilihan perbandingan harganya juga tidak banyak. Kedua, budaya membeli barang online masih rendah. Bandingkan dengan di AS, yang punya kebiasaan belanja online (hampir 50% pengguna Internetnya pernah belanja online). Ketiga, harga barang di online store Indonesia seringkali masih sama dengan di offline. Sepanjang tidak ada perbedaan harga antara di online dengan di offline, maka penjualan online akan sulit.kalau toko online di Indonesia sekarang ini laku adalah yang barangnya unik atau memang pembeli yang susah mendapatkan secara offline (salah satunya misal karena faktor geografi). Walaupun memang kalau lebih murah sudah pasti banyak yang beli juga. Transaksi online di Indonesia dinilai terus memperlihatkan perkembangan signifikan, terutama pada usaha-usaha kecil. NukmanLuthfie, CEO PT Virtual Media Nusantara, mengatakan bahwa:

”Pemasaran dengan memanfaatkan media online memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan transaksi konvensional. Sisi investasi merupakan faktor utama yang mendorong usaha kecil melirik media online dalam memasarkan produknya. Dengan pemasaran melalui media online, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya investasi yang terlalu besar”.

Sumber :

IMI. 2009. ATM Internet Marketing Indonesia. Blog Internet MarketingIndonesia – Belajar Internet Marketing Untuk Mendukung Gerakan Revolusi eBisnis Indonesia. Melalui http://internet marketingmu.com/atm-internet-marketing-indonesia.html

Kotler, Philip. 2005. Manajamen Pemasaran. Sumber penerbit Indeks. Melalui http://www.virtual.co.id/blog/internet-marketing/transaksi-online-tumbuh-pesat/+pemasaran+on+line+di+indonesia&cd=10&hl=en&ct=clnk&lr=lang_id&client=firefox-a.html

Lutfie, Nukman. 2009a. Online Strategist: Trend Online Marketing. Artikel Entrepreneurship

Lutfie, Nukman. 2009b. Perkembangan Internet Marketing. Artikel online.

SDA Asia. 2009. Situs E-Commerce Bakal Bangkrut Jika Sekadar Punya Situs Web. SDA Asia – PT. Media Teknologi Informasi 28.10.2005.

Detik.com. 2008. Sekilas Online Marketing. Digital Life Detikcom – InfoIklan. Melalui http://infoiklan.detik.com/?fuseaction=home.marketing.html

Morissan. 2007. Periklanan dan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Tangerang : Ramdina Prakarsa

Charles D. Bodkin, Monica Perry, 2004, “Goods retailers and service providers: comparative analysis of web site marketing communications”, Journal of Retailing and Consumer Services 11 (2004) 19–29

Scribd.com. Komunikasi Pemasaran Direct Marketing dan Online Marketing. Melalui http://www.scribd.com/doc/17233902/Komunikasi-Pemasaran-Direct-Marketing-Online-Marketing. Diakses 11 Maret 2012

Scribd.com. Komunikasi Pemasaran Global. Melalui http://www.scribd.com/doc/43024179/Komunikasi-Pemasran-Global. Diakses 11 Maret 2012

 

Ditulis oleh : Wignyu Negoro

Dosen : Nanang Suryadi, SE.,MM.

Pada umumnya, suatu organisasi atau retailer memiliki komunikasi pemasaran yang berbeda-beda dalam prakteknya. Secara teori, bauran komunikasi pemasaran tradisional meliputi: (1) periklanan, (2) promosi penjualan, (3) hubungan masyarakat dan (4) pemasaran langsung (Bennett, 1995).

Iklan memainkan peran on-line yang sama di pasar fisik, yaitu untuk menciptakan kesadaran, menyampaikan manfaat, mempromosikan percobaan dan mendesak pelanggan bertindak (Gardener dan Trivedi, 1998; van Waterschoot dan, Van den Botte 1992). Iklan dapat mengkomunikasikan informasi perusahaan serta informasi tentang bauran pengecer seperti produk, harga, dan lokasi.

Iklan merupakan strategi penting untuk pengecer, sebagai promosi penjualan. Pengecer sering menggunakan berbagai jenis promosi penjualan di pasar fisik dan promosi penjualan tersebut telah diberi suatu peningkatan porsi dalam anggaran total (Gardener dan Trivedi, 1998). Alat promosi penjualan utama yang relevan untuk pengecer yaitu web site yang meliputi restitusi / potongan harga, penawaran premium dan penawaran khusus, sampling, demonstrasi on-line, serta kontes dan undian.

Alat promosi yang ketiga, hubungan masyarakat, termasuk berita (misalnya, siaran pers), pidato, program pendidikan, dan kegiatan pelayanan publik. Jenis terakhir dari komunikasi pemasaran adalah pemasaran langsung. Pemasaran langsung mengambil dua bentuk, menjual on-line dan layanan konsumen. Layanan konsumen melibatkan layanan tambahan, seperti memeriksa order / ketersediaan produk, pembelian / aktivitas akun, penagihan dan pengembalian, penggunaan produk, pengiriman atau permasalahan (Innis dan Lalonde, 1994). Apakah on-line atau off-line, layanan konsumen seringkali merupakan pengaruh yang paling penting dalam evaluasi pelanggan kepada penjual (Perrault dan Russ, 1976; Sheth, 1973).

Pengecer harus memahami dan dapat menggunakan karakteristik unik dari situs web sebagai saluran komunikasi. Sifat yang sangat interaktif dari web site berarti bahwa pengguna web site memiliki potensi untuk menjadi pengakuisisi informasi yang lebih aktif (Ghose dan Dou, 1998). Jadi kita dapat mengkategorikan web site perusahaan berdasarkan pada penggunaan elemen tertentu, seperti kebijakan privasi on-line, email, menyesuaikan proses akuisisi informasi, dan spesialisasi layar dan kemampuan multimedia.

Sumber :

Charles D. Bodkin, Monica Perry, 2004, “Goods retailers and service providers: comparative analysis of web site marketing communications”, Journal of Retailing and Consumer Services 11 (2004) 19–29

Marketing Strategic for Small Firms

MARKETING STRATEGIC FOR SMALL FIRMS

Inovasi pada perusahaan kecil

Inovasi merupakan salah satu aspek penting bagi perusahaan kecil maupun besar dalam berkompetisi ditengah persaingan pasar yang ketat. Beberapa karakteristik usaha kecil menunjukkan peningkatan kemampuan untuk merespon perubahan kebutuhan di lingkungan sekitar. Kedekatan antara pelanggan bisnis kecil dan manajer dapat memberikan dorongan untuk inovasi karena kemudahan para manajer untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan pelanggan (Olson, Walker, & Reukert, 1995; Sivades & Dwyer, 2000).

Sifat agak “sempit” dari usaha kecil menyebabkan lebih sedikit kontak eksternal yang mungkin meningkatkan kemampuan perusahaan mencari dan merespon (Srinivasan, Lilian, & Rangaswamy, 2002). Akibatnya, usaha kecil menjadi kurang inovatif dari waktu ke waktu karena mereka kurang menyadari perubahan lingkungan atau solusi inovatif.

Fitur lain dari perusahaan kecil adalah mendukung anggapan bahwa mereka memiliki waktu yang sulit beradaptasi dengan perubahan dalam ekonomi, teknologi, atau kompetitif pasar (Drozdow & Carroll, 1997; Gallo & Sween, 1991). Sebagai contoh, manajer bisnis kecil sering kekurangan jenis pendidikan dan pelatihan yang telah dikaitkan dengan inovasi (Romano, 1990).

Usaha kecil juga dipegang, dengan kekuasaan dan pengambilan keputusan terkonsentrasi pada pemilik / manajer (Dyer & Handler, 1994). Jadi, inovasi preusahaan kecil dapat diterjemahkan dengan inovasi dari pemilik / pengelola daripada inovasi perusahaan (Verhees & Meulenberg, 2004). Umumnya para pemilik menolak nasihat dari orang lain dan enggan untuk mendelegasikan wewenang atau pengambilan keputusan kepada orang lain (Dyer & Handler, 1994).

Manajer / pemilik juga menginginkan adanya resiko dan konservatif (Donckels & Fro ¨ hlich, 1991; File & Prince, 1996). Dari praktek perspektif, perusahaan kecil memiliki keterbatasan kemampuan keuangan, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka kekurangan sumber daya keuangan untuk memanfaatkan peluang inovatif yang bisa sangat berisiko dan mahal (Davis et al, 1985;. Sivades & Dwyer, 2000).

Pemasaran Elektronik pada Organisasi Pariwisata Kecil

Penerapan teknologi informasi (TI), teknologi baru dan internet telah memperoleh banyak minat dari peneliti, para pengambil kebijakan dan praktisi selama dua dekade terakhir. Sebagai hasilnya, ada sejumlah kerangka teoretis yang diterima yang telah digunakan oleh peneliti untuk menyelidiki adopsi dan difusi TI dan teknologi baru oleh komunitas bisnis. Selain itu, penelitian terbaru pada adopsi dan penggunaan TI telah termotivasi oleh keinginan untuk memprediksi faktor-faktor yang dapat menyebabkan keberhasilan aplikasi di konteks pemasaran (El-Gohary, 2010; Lynn, Lipp, Akgun, & Cortez, 2002: 35; Rose & Straub, 1998: 39). Namun, Pemasaran Elektronik (E-Marketing) masih merupakan konsep yang relatif baru, khususnya untuk organisasi yang beroperasi di negara-negara berkembang yang terbatas dalam sumber daya, infrastruktur yang buruk, dan kompetisi yang kuat. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang masalah marketing serta peluang untuk organisasi tersebut dan bagaimana teknologi ini dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan pemasaran organisasi dan proses yang lebih efektif dan efisien daripada ketergantungan pada praktik pemasaran tradisional.

Dalam suatu penelitian, ditemukan bahwa faktor internal dan eksternal orgnisasi pariwisata kecil (seperti : kemampuan pemilik, sumber daya organisasi yang tersedia, budaya organisasi, biaya adopsi E-Marketing, ukuran organisasi, kemudahan penggunaan, kompatibilitas, tekanan kompetitif, pengaruh pemerintah, tren pasar, infrastruktur nasional, dan budaya orientasi terhadap E-Marketing oleh pelanggan) memiliki dampak positif yang signifikan dalam adopsi E-Marketing. Sehingga dengan mempertimbangkan factor-faktor tersebut maka organisasi tersebut akan mampu melakukan pemasaran elektronik dengan efektif dan efisien.

Model Pemilihan Memasuki Pasar Internasional

  • Langkah 0 : Pilih Negara untuk analisis

Hal ini adalah langkah awal yang cukup terbuka untuk membuat keputusan preferensi. Langkah ini hanya untuk mengidentifikasi dari suatu negara untuk analisis.

  • Langkah 1 : Stabilitas pemerintah

Stabilitas negara lebih penting daripada politik negara yang akan di analisis. Langkah pertama dari negara tersebut adalah cukup analisis secara sederhana. Informasi ini mudah tersedia melalui pencarian artikel surat kabar, The Wall Street Journal, atau bisnis lainnya yang berorientasi publikasi.

  • Langkah 2 : Kerjasama pemerintah

Sebuah kerjasama pemerintah yang rendah didefinisikan sebagai sebuah negara yang mempertahankan posisi yang cukup netral untuk bisnis. Sebuah kerjasama pemerintah yang tinggi ditandai oleh pemerintah yang mendukung bisnis di negara mereka sendiri. Hukum dan peraturan pemerintah diadakan untuk mendukung bisnis nasional.

  • Langkah 3 : Aksesibilitas budaya

Langkah berikutnya untuk model ini adalah mengevaluasi aksesibilitas budaya dari suatu negara, yaitu menganalisis orang-orang tentang hal-hal yang mempengaruhi kehidupan organisasi.

  • Langkah 4 : Peluang pasar

Tiga faktor yang mempengaruhi daya tarik sebagai sebuah pasar potensial :

  1. Standar hidup. Penilaian kesejahteraan ekonomi umumnya diukur oleh Gross Domestic Product (GDP) dan Disposable Personal Income (DPI). GDP didefinisikan sebagai jumlah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh sebuah bangsa selama tahun tertentu, sedangkan DPI adalah sisa-sisa pendapatan masyarakat setelah mereka membayar pajak.
  2. Tahapan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi adalah suatu proses di mana suatu negara bergerak dari belum berkembang untuk dikembangkan.
  3. Distribusi Pendapatan. Hal tersebut sangat bervariasi tergantung pada tahap perkembangan ekonomi suatu negara.

Komunikasi Pemasaran pada Perusahaan Kecil

Perusahaan yang berhasil mengembangkan program komunikasi pemasaran yang menekankan pameran perdagangan sehingga menunjukkan penjualan. Perusahaan menciptakan keunggulan kompetitif melalui beberapa cara. Pertama, pertunjukan tentang pemaparan perdagangan, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari peningkatan penjualan. Kedua, menurunkan biaya per penjualan. Namun dalam kenyataannya, tampak ada sedikit perbedaan dalam cara mereka mencapai keuntungan kompetitif.

Selain pameran perdagangan, situs web juga menjadi salah satu alternative yang baik bagi perusahaan kecil. Terdapat dua fokus isu utama yang menyebabkan perbedaan dalam strategi pemasaran situs web. Pertama, ditemukannya beberapa dukungan untuk adanya hubungan antara profitabilitas pengecer dan strategi pemasaran situs web. Pengecer lebih menguntungkan dengan menggunakan halaman web sebagai sumber informasi bagi perusahaan dan informasi pemegang saham serta untuk meningkatkan hubungan dengan konsumen melalui teknologi. Isu kedua adalah mengatasi hubungan antara affiliati industri pada situs web dan strategi pemasaran.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengecer di sektor industri tertentu menetapkan norma-norma strategi tentang situs web mereka. Hal tersebut menimbulkan adanya beberapa dukungan untuk penggunaan diferensial strategi promosi, informasi, dan teknologi.

 

Sumber :

Angela Hausman, 2004, “Innovativeness among small businesses: Theory and propositions for future research”, Industrial Marketing Management 34 (2005) 773– 782.

Jaider Vega-Jurado, Antonio Gutierrez-Gracia, Ignacio Fernandez-de Lucio, Liney Manjarres-Henrıquez, 2008, The effect of external and internal factors on firms product innovation”, Research Policy 37 (2008) 616–632

Alessandro Sterlacchini, 1999, “Do innovative activities matter to small firms in non-R&D-intensive industries? An application to export performance”, Research Policy 28 _1999. 819–832

Hatem El-Gohary, 2011, “Factors affecting E-Marketing adoption and implementation in tourism firms: An empirical investigation of Egyptian small tourism organizations”, Tourism Management xxx (2011) 1-14

Ka-Young Oh, Doug Cruickshank, Alistair R. Anderson, 2009, “The adoption of e-trade innovations by Korean small and medium sized firms”, Technovation 29 (2009) 110–121

J. Roberta Minifie, Vicki West, 1998, “A small business international market selection model”, Int. J. Production Economics 56-57 (1998) 451-462

Anne Marie Doherty, 2008, “Market and partner selection processes in international retail franchising”, Journal of Business Research 62 (2009) 528–534

John F. Tanner Jr., 2000, “Leveling the playing field: factors influencing trade show success for small companies”, Industrial Marketing Management 31 (2002) 229– 239

Charles D. Bodkin, Monica Perry, 2004, “Goods retailers and service providers: comparative analysis of web site marketing communications”, Journal of Retailing and Consumer Services 11 (2004) 19–29

Timothy M. Smith, Srinath Gopalakrishna, Paul M. Smith, 2003, “The complementary effect of trade shows on personal selling”, Intern. J. of Research in Marketing 21 (2004) 61– 76

JEJARING SOSIAL SEBAGAI MEDIA ONLINE MARKETING

JEJARING SOSIAL SEBAGAI MEDIA ONLINE MARKETING

Online marketing merupakan bagian sub isi dari unsur-unsur bauran dalam komunikasi pemasaran. Untuk mencapai tujuan suatu promosi, maka diperlukan beberapa instrument dasar yang disebut bauran pemasaran. Secara tradisional, bauran promosi terdiri dari empat elemen (produk, harga, saluran distribusi, dan promosi), namun dalam perkembangannya George dan Michael Belch dalam Morrisan (2007:13) menambahkan 2 elemen tambahan yaitu direct marketing dan interactive media.

Berikut adalah beberapa definisi Online Marketing :

  1. Menurut SDA Asia (2009), secara sederhana definisi online marketing adalah segala aktivitas yang tujuannya adalah untuk memasarkan / mempromosikan dan membangun branding melalui media online khususnya yang dimaksud adalah lewat dunia internet yang berorientasi pada keuangan.
  2. Menurut Detik.com (2008), definisi online marketing pada dasarnya adalah kegiatan komunikasi pemasaran dengan menggunakan media internet.

Akun Facebook dan Twitter merupakan beberapa jejaring social yang digunakan sebagai media pemasaran di internet (online marketing) karena pengguna akun tersebut yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Penggunaan media tersebut memberikan dampak positif bagi perusahaan untuk dapat menekan biaya pemasaran karena biaya dari media-media tersebut relative lebih murah dengan pertimbangan jangkauan yang mampu dicapai.

 

Sumber :

SDA Asia. 2009. Situs E-Commerce Bakal Bangkrut Jika Sekedar Punya Situs Web. SDA Asia – PT. Media Teknologi Informasi 28.10.2005. Melalui http://www.sda-indo.com/sda/interview/psecom.id.17._page.2.nodeid.27._language.Indonesia.html [06/14/2009]

Direct Marketing dan Online Marketing. 2009. Melalui www.scrib.com

Detik.com

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!