Comments Off on Pertanian Organik, Teknologi Ramah Lingkungan :)

Pertanian Organik, Teknologi Ramah Lingkungan :)

2010
05.29

Pertanian organik yang semakin berkembang belakangan ini menunjukkan adanya kesadaran petani dan berbagai pihak yang bergelut dalam sektor pertanian akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Revolusi hijau dengan input bahan kimia memberi bukti bahwa lingkungan pertanian menjadi hancur dan tidak lestari. Pertanian organik kemudian dipercaya menjadi salah satu solusi alternatifnya.

Pertanian organik memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling bergantung dan menghidupi, dan manusia adalah bagian di dalamnya. Prinsip ekologi dalam pertanian organik didasarkan pada hubungan antara organisme dengan alam sekitarnya dan antarorganisme itu sendiri secara seimbang. Pola hubungan antara organisme dan alamnya dipandang sebagai satu – kesatuan yang tidak terpisahkan, sekaligus sebagai pedoman atau hukum dasar dalam pengelolaan alam, termasuk pertanian.

Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian organik sangat memperhatikan kondisi lingkungan dengan mengembangkan metode budi daya dan pengolahan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sistem pertanian organik diterapkan berdasarkan atas interaksi tanah, tanaman, hewan, manusia, mikroorganisme, ekosistem, dan lingkungan dengan memperhatikan keseimbangan dan keanekaragaman hayati. Sistem ini secara langsung diarahkan pada usaha meningkatkan proses daur ulang alami daripada usaha merusak ekosistem pertanian (agroekosistem).

Pertanian organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan lingkungan dan masa depan kehidupan manusia. Pertanian organik juga menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsur hara, bimassa, dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran.

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=_dJWgnSHS90[/youtube]

Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal di sekitar lokasi pertanian seperti limbah produk pertanian sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik seperti kompos sangat efektif mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Demikian juga dengan pemanfaatan bahan alami seperti tanaman obat yang ada untuk dibuat racun hama akan mengurangi penggunaan bahan pencemar bahaya yang diakibatkan pestisida, fungisida, dan insektisida kimia. Dengan kemajuan teknologi, pertanian organik adalah pertanian ramah lingkungan yang murah dan berteknologi sederhana (tepat guna) dan dapat dijangkau semua petani di Indonesia.

Pertanian organik bukan hanya baik bagi kesehatan, tetapi juga bagi lingkungan bumi. Beberapa ahli pertanian Amerika Serikat yakin pertanian organik merupakan cara baru mengurangi gas-gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan global. Laurie Drinkwater, ahli manajemen tanah dan ekologi Rodale Institute di Kutztown, Pennsylvania, AS bersama koleganya membandingkan pertanian organik dengan metode sebelumnya yang menggunakan pupuk kimia selama 15 tahun. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature (Desember 1998) jika pupuk organik digunakan dalam kawasan pertanian kedelai utama di AS, setiap tahun, karbon dioksida di atmosfer dapat berkurang 1-2%.

Drinkwater mengatakan, pengurangan ini merupakan kontribusi yang sangat berarti. Selain itu negara-negara industri sepakat dalam pertemuan Bumi di Kyoto Jepang untuk mengurangi emisi karbondioksida sampai 5,2% dari tahun 1990 hingga tahun 2008-2012. Dalam penelitian ini juga ditemukan, pertanian organik menggunakan energi 50% lebih kecil dibandingkan dengan metode pertanian konvensional.

Demikianlah, fakta mengungkapkan bahwa sistem pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan. Artinya, pelaku sistem pertanian organik telah berusaha tidak merusak dan menganggu keberlanjutan komponen-komponen lingkungan yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, mikroorganisme, dan tentunya manusia. Bila kita sudah melakukan ini, termasuk mengonsumsi produk pertanian organik, sejatinya cerminan pribadi Anda yang ramah lingkungan.***

Comments Off on hhm about.. my(halah..) piano prince.. ^^

hhm about.. my(halah..) piano prince.. ^^

2010
05.29

kevin aprilio  ^^  is a young pianist who succeed make me admire……  his
action when playing piano is really amazing and also his charming
make kevin aprilio is deserved as piano prince…   hhaha.. 🙂

i really like kevin aprilio..

I started being a fans of  him a few times ago then I saw his action in YouTube…
Hhhmmm…It was very cool… And his harajuku style is very awesome..

Check this video to see kevin aprilio’s charm…

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=E63t1mqHkA0[/youtube]

hoho..

like this.. 🙂

very  coooollll….. ^^

Comments Off on Pasar Tanaman Hias Dunia Capai 90 Miliar Dollar

Pasar Tanaman Hias Dunia Capai 90 Miliar Dollar

2010
05.29

Ekspor tanaman hias Indonesia masih belum bisa bersaing di pasar internasional. Menurut catatan Departemen Pertanian (Deptan), pada tahun 2008 lalu, nilai ekspor tanaman hias dari Indonesia cuma 15 juta dollar AS.

Ekspor tanaman hias Indonesia masih belum bisa bersaing di pasar internasional. Menurut catatan Departemen Pertanian (Deptan), pada tahun 2008 lalu, nilai ekspor tanaman hias dari Indonesia cuma 15 juta dollar AS.

Padahal, saat ini, total nilai perdagangan tanaman hias dunia mencapai 90 miliar dollar AS. Penyebabnya, “Eksportir tanaman hias Indonesia terbatas dan belum berpengalaman,” kata Ahmad Dimyati, Direktur Jenderal Holtikultura Deptan, kemarin (12/10).

Dimyati menuturkan, saat ini nilai ekspor tanaman hias Indonesia berada di bawah Thailand, Vietnam, Malaysia dan Singapura. Padahal, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam.

Karena itu, Pemerintah akan mendorong ekspor tanaman hias Indonesia, terutama jenis tanaman tropis. Salah satu tanaman unggulan dari Indonesia adalah polyscias yang banyak diminati di Korea Selatan.

Namun, ekspor tanaman ini terkendala karena produksinya terbatas. Pasalnya, eksportir masih mengandalkan tanaman yang dikumpulkan dari kebun di sekitar pemukiman penduduk yang pemeliharaannya tidak intensif. Dus, jumlah yang bisa diekspor pun terbatas.

Deptan kini mengembangkan polyscias secara intensif di beberapa lokasi. Di antaranya di Batam dan Sukabumi. Luas lahannya mencapai sekitar 55 hektare. “Targetnya ekspor polyscias naik dari 30 kontainer jadi 50 kontainer tahun ini,” kata Dimyati.

Tanaman lain yang juga jadi unggulan adalah jenis pakis atau leather leaf. Pasar tanaman ini adalah Jepang, dengan jumlah permintaan mencapai 150 juta tangkai per tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, Pemerintah menggalakkan budidaya leather leaf di beberapa daerah, antara lain Magelang dan Cianjur. Luas lahannya mencapai sekitar 9 hektare. “Targetnya ekspor leather leaf berbasis kebun mencapai 3 juta tangkai di 2010,” jelas Dimyati.

Ekspor tanaman hias Indonesia memang terus naik. “Pertumbuhannya mencapai 13,6 persen per tahun,” beber Dimyati. Tapi, di 2000, kontribusi ekspor tanaman hias pada domestik bruto (PDB) Indonesia baru Rp 4,6 triliun. Di 2008, kontribusi tersebut naik jadi sebesar Rp 7,7 triliun.

Comments Off on Budi Daya Lidah Buaya Menjanjikan

Budi Daya Lidah Buaya Menjanjikan

2010
05.29

Budi daya lidah buaya atau Aloevera sangat menjanjikan. Karena lidah buaya bukan semata tanaman hias, tapi menjadi bahan dasar minuman yang menyehatkan.

Budi daya lidah buaya atau Aloevera sangat menjanjikan. Karena lidah buaya bukan semata tanaman hias, tapi menjadi bahan dasar minuman yang menyehatkan. Bahkan bisa dijadikan tepung untuk bahan dasar kosmetika.

”Lidah buaya yang dapat menambah nilai ekonomis dan jenis unggulan adalah barbadencise dan sinencise. Karena pelepahnya besar dan tebal,” kata Syamsuri Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Tani Aloevera di Kampus UI Depok, Rabu (29/4).

Selama ini, KSU Tani Aloevera bekerja sama dengan Pusat Sinergi Riset dan Bisnis Fakultas MIPA UI yang dipimpin Erlin Nurtiyani. Menurut Erlin, pihaknya sudah memiliki lima paten produk lidah buaya dalam bentuk minuman, kapsul, tepung, dan evervesant.

Dengan mendirikan PT Kavera Biotech, Erlin memproduksi semua itu dengan bahan baku yang dipasok dari KSU Tani Aloevera. Namun, kata Erlin, produknya hanya menggunakan lidah buaya organik.

”Dari uji coba laboratorium, aloevera yang menggunakan pupuk kimia hasilnya tidak bagus,” katanya yang meneliti pengolahan lidah buaya sejak 1998 dan baru mempatenkannya tahun 2001.

Menurut Erlin, sambutan pasar sangat bagus atas minuman lidah buaya. Petinggi di Mabes Polri menjadi salah satu pelanggannya. Bahkan pernah dikirim ke Abu Dhabi. ”Namun kami belum siap memenuhi permintaan pasar karena kekurangan bahan baku,” kata Erlin yang berharap minuman lidah buaya bisa menjadi ”Coca-Cola”-nya Indonesia. ”Bulan depan kami sudah ada investor yang sanggup menyediakan mesin untuk pabrik pembuatan minuman dalam kemasan sachet di Sawangan, Depok,” kata Erlin.

Minuman lidah buaya Kavera dikemas dalam botol kaca ukuran 300 ml dijual Rp 7.500 dan untuk ukuran gelas Rp 3.000. Minuman Kavera bisa bertahan sampai satu tahun, meskipun tanpa bahan pengawet. ”Namun Kavera tidak dipasarkan ke pasar modern,” kata Erlin.
Rp 1.000/kg

Sementara itu, Syamsuri mengatakan, KSU Tani Aloevera sudah membina petani-petani di Depok untuk bercocok tanam lidah buaya yang hasilnya mencapai 5 ton sekali panen. Panen lidah buaya rutin dilakukan setiap bulan dengan memetik dua pelepah dari setiap pohon. ”Padahal, kebutuhan lidah buaya dalam satu hari minimal 1 ton,” katanya.

Karena itu, KSU Tani Aloevera mengajak masyarakat menjadi petani lidah buaya dan hasil panennya nanti akan dibeli koperasi dengan harga Rp 1.000/kg. ”Semua lidah buaya hasil dari petani yang kami bina, pasti dibeli oleh koperasi,” ujar Syamsuri.

Syarat untuk mendapat jaminan hasil lidah buaya di beli koperasi antara lain wajib menjadi kelompok tani binaan KSU Tani Aloevera, membeli bibit dari koperasi, serta kualitas tanaman standar koperasi, seperti pelepah tidak luka dan cara pemetikan dilakukan dengan benar.

Harga bibit lidah buaya Rp 2.000/batang umur dua bulan, untuk pupuk organik dan pupuk kandang kambing dipasok koperasi. ”Karena pupuk organik dan pupuk kotoran kambing sangat baik untuk pertumbuhan lidah buaya. Jika menggunakan pupuk kotoran ayam hasilnya tidak bagus. Kalau menggunakan kotoran sapi harus direbus dulu,” kata Syamsuri sambil menambahkan petani bisa menjual bibit anakan lidah buaya ke koperasi Rp 1.000/batang. (Mirmo Saptono)

Comments Off on Indonesia Terkaya Varietas Jeruk, Tapi Juga Pengimpor Terbesar

Indonesia Terkaya Varietas Jeruk, Tapi Juga Pengimpor Terbesar

2010
05.29

Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia dengan berbagai macam produk dan jenis buah-buahan, khususnya varietas jeruk.

Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia dengan berbagai macam produk dan jenis buah-buahan, khususnya varietas jeruk.

Kepala Divisi Proyek-proyek Tanaman Buah PT Mekarsari Bogor, Dr Muhammad Reza Kirtawinata mengatakan, Indonesia memiliki ratusan varietas jeruk unggul namun hanya beberapa yang memiliki kualitas ekspor, demikian dijelaskan di Bogor, Minggu (21/6).

Menurut Reza, kegiatan festival jeruk yang pertama dilaksanakan sepanjang lima tahun terakhir di taman wisata Mekarsari itu adalah bertujuan untuk melakukan seleksi produk buah jeruk, yang dianggap memiliki nilai jual yang tinggi.

“Kita sengaja melakukan festival buah jeruk seperti ini, agar buah jeruk yang ada di seluruh daerah di tanah air bisa diseleksi, mana yang terbaik dari sekian yang ikut dikonteskan,” katanya.

Festival ini juga sekaligus dalam rangkaian libur sekolah dengan maksud agar anak-anak Indonesia bisa berkesempatan mengetahui bahwa Indonesia ternyata kaya dengan produk buah.

Sebagai contoh, jeruk unggulan yang berkualitas saat ini adalah jeruk soke, yang hanya ada di Nusa Tenggara Timur (NTT), jeruk Selayar dari Sulsel, selain jeruk yang sudah lama terkenal seperti jeruk Siam, Keprok, dan jeruk besar, yang cukup banyak di pulau Jawa.

“Memang ironis, buah produk lokal kita cukup banyak namun justru lebih besar impor ketimbang dengan yang diekspor,” katanya seraya menambahkan sekitar 75 persen dari total jeruk yang dijual di pasaran dan tempat swalayan adalah buah jeruk impor dari China, Thailand dan Australia.

Ia mengatakan, kecilnya ekspor buah jeruk selama ini karena kualitas buah yang dihasilkan petani belum memenuhi standar kualitas yang diminta negara tujuan.

Jeruk-jeruk yang ditanam petani di daerah, belum dikembangkan secara komersial sehingga produksinya sangat kecil menyebabkan para eksportir ragu membeli dalam jumlah tertentu.

Untuk menghasilkan buah jeruk dalam jumlah banyak dan berkualitas, petani harus mengikuti pola dan anjuran yang ada.

Taman Wisata Mekarsari, kini telah menyediakan berbagai bibit jeruk dan bibit buah lainnya yang berkualitas untuk dikembangkan sesuai dengan wilayah tropis di daerah.

Koleksi buah di taman wisata Mekarsari terdapat 1500 varietas dengan lebih 400 jenis famili yang dikembangkan di lahan 80 hektare dari luas keseluruhan 260 hektare.

Comments Off on Indonesia Pasar Buah Murah Bermutu Rendah

Indonesia Pasar Buah Murah Bermutu Rendah

2010
05.29

Upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dari konsumsi produk buah murah, berkualitas rendah, dan membahayakan kesehatan mendapat tantangan keras dari negara-negara pengekspor buah.

Upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dari konsumsi produk buah murah, berkualitas rendah, dan membahayakan kesehatan mendapat tantangan keras dari negara-negara pengekspor buah.

Direktur Mutu dan Standardisasi Departemen Pertanian Nyoman Oka Tridjaja, Sabtu (10/10) di Yogyakarta, mengungkapkan, negara-negara eksportir itu meminta Indonesia menunda kebijakan impor produk pangan segar asal tumbuhan (PSAT).

Mereka khawatir penerapan PSAT akan mengganggu kinerja ekspor buah dari negaranya. Permintaan penundaan pemberlakuan PSAT muncul dari negara-negara maju yang selama ini mengklaim memiliki kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan pangan konsumen.

Negara pengekspor buah ke Indonesia antara lain Amerika Serikat, Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Thailand.

Namun, ujar Oka, Pemerintah Indonesia akan tetap memberlakukan PSAT pada 19 November 2009. Semula kebijakan ini akan diberlakukan pada 19 Agustus 2009, tetapi ditunda karena permintaan dari negara-negara importir itu.

Setiap tahun Indonesia kebanjiran buah impor, seperti apel, anggur, jeruk, dan pir. Ekspor buah Indonesia terus menurun, sedangkan impor meningkat.

Pemerintah akan memverifikasi PSAT yang masuk Indonesia. Verifikasi mengacu tingkat perlindungan pangan yang memadai (appropriate level of protection/ALOP).

Dengan begitu, Indonesia hanya akan menerima PSAT dari negara yang sudah diregistrasi dan diakreditasi lembaga berkompeten di negara pengekspor yang setara dengan ALOP.

Hal ini untuk mencegah produk PSAT yang tidak sehat, atau kandungan residu biologi dan kimia melebihi ambang batas yang ditetapkan FAO, masuk ke Indonesia.

Daya saing rendah

Rendahnya daya saing ekspor buah Indonesia bukan karena kualitas buah yang diekspor rendah, melainkan karena pemerintah menerapkan standar kualitas dan keamanan pangan produk buah yang rendah bagi konsumen di negara sendiri.

Pemerintah membiarkan konsumen Indonesia mengonsumsi buah impor yang murah, berkualitas rendah, dan yang kemungkinan dapat membahayakan kesehatan konsumen.

Oka menyatakan, apel dari AS yang diekspor ke Indonesia, misalnya, terindikasi bukan jenis buah segar karena sudah disimpan dalam waktu lama.

Selama ini, produk buah segar yang masuk ke Indonesia, terutama dari negara-negara subtropis, kualitasnya menurun. Apalagi, yang lepas dari rantai pendingin. Karena itu, produk buah segara itu kandungan vitaminnya banyak berkurang.

Perlu ada penataan untuk melindungi konsumen domestik. Saat ini, ujar Oka, banyak dijumpai produk buah segar asal negara-negara tropis dijual di pasar tradisional, yang tidak dilengkapi sarana pendingin. ”Pemerintah akan menata sistem distribusi dan perdagangan produk buah impor agar buah subtropis jangan dijual sembarangan tanpa mempertimbangkan aspek keamanan pangan. Kalau terus dibiarkan, konsumen hanya akan memakan sampah buah dari negara lain,” katanya.

Direktur Jenderal Hortikultura Ahmad Dimyati menyatakan, kebijakan PSAT bertujuan mencegah organisme pengganggu tanaman supaya tidak masuk ke Indonesia. Selain itu juga untuk melindungi konsumen agar jangan sampai mereka mengonsumsi buah tidak berkualitas dan tidak bermutu, serta tidak aman bagi kesehatan.

Kepala Subbidang Karantina Tumbuhan, Ekspor, dan Antararea Badan Karantina Pertanian Turhadi Noerachman mengungkapkan, selain adanya desakan dari negara-negara eksportir, penundaan pelaksanaan PSAT juga untuk memberikan kesiapan bagi sinkronisasi dokumen ekspor.

Hello world!

2010
05.26

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!