STRATEGI PENGEMBANGAN MANAJEMEN SISTEM INFORMASI PUBLIK

2017
12.27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Informasi, dan Komunikasi telah memaksa dunia khususnya kepada negara-negara maupun masyarakat di dalamnya untuk ikut serta terlibat dalam partisipasi berkembangnya aspek-aspek di seluruh kehidupan manusia. Ruang lingkup, dan batasan-batasan antar negara di dunia ini semakin sempit bahkan tidak ada batasan. Globalisasi telah mendunia, memaksa dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan secara mengglobal.

Dengan berjalan dan berkembangnya dinamika-dinamika kehidupan secara mengglobal menyebabkan banyak sekali dampak yang melingkupinya. Baik dampak positif maupun negative, baik dalam skala kecil maupun besar. Proses-proses akulturasi memaksa kita agar memfilterisasi segala sesuatu agar tidak terjadi mengilangnya jati diri (Asimilasi).

Sejalan dengan mengglobalnya dinamika perkembangan kehidupan masyarakat, timbulya hasrat masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Terpenuhinya seluruh kebutuhan baik premier, sekunder, maupun tersier tidak lepas dari ikut serta peran Pemerintah di dalamnya karena sebagai pemegang kendali dalam scope negara.

Perkembangan kondisi stabilitas negara setelah perang dunia ke 2 banyak menunjukan perubahan-perubahannya. Negara-negara maju seperti di benua Eropa dan Amerika berkembang pesat khususnya dalam bidang Ekonomi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sedangkan di negara-negara berkembang berusaha meningkatkan taraf kondisi ekonomi dan stabilitas di dalam negaranya.

Dampak mengglobalnya Globalisasi di Negara Berkembang khususnya di Indonesia, membuka cakrawala akan dahsyatnya pengaruh yang dirasakan baik dari sisi ideology, ekonomi, politik, hukum, kebudayaan, dan lain-lain. Kita sekarang hidup dalam dunia tanpa batas, dimana negara-bangsa telah menjadi rekaan dan dimana para politikus telah kehilangan semua kekuatan efektif mereka, ( menurut Harper Collins dalam Anthony Giddens,1995 ).

Pengembangan Sistem Infomormasi berkaitan dengan perkembangan teknologi. Dalam hal ini, bagaimana sistem informasi (SI) dapat memanfaatkan teknologi-teknologi yang semakin berkembang ini agar lebih efisien dan efektif dalam pemanfaatannya. Penggabungan teknologi dengan sistem informasi terutama dalam informasi publik menggunakan metode sehingga terciptalah sistem informasi yang berbasis teknologi informasi. Dalam pengembangan sistem informasi berbasis teknologi memerlukan langkah-langkah yang harus ditempuh dengan menyesuaikan dengan kebutuhan informasi dan teknologi komunikasi serta pengguanaan internet.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas,maka masalah yang akan dibahas pada penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.2.1 Apa Yang Dimaksud Dengan Konsep Startegi Pengembangan Sistem?

1.2.2 Apa Saja Pendekatan Sistem Yang Digunakan?

1.2.3 Apa Saja Metodelogi Pengembangan Sistem?

1.2.4 Apa Saja Langkah-Langkah Strategi Pengembangan Sistem?

1.2.5 Bagaimana Strategi Pengembangan Sistem E-Government Di Indonesia?

1.3 Tujuan

Mengacu pada permasalahan penelitian yang telah dijabarkan diatas, maka penulisan ini bertujuan untuk memahami, mendeskripsikan, mengevaluasi hal-hal sebagai berikut :

1.3.1 Untuk Mengetahui Konsep Startegi Pengembangan Sistem.

1.3.2 Untuk Mengetahui Pendekatan Sistem Yang Digunakan.

1.3.3 Untuk Mengetahui Metodelogi Pengembangan Sistem.

1.3.4 Untuk Mengetahui Langkah-Langkah Strategi Pengembangan Sistem.

1.3.5 Untuk Mengetahui Strategi Pengembangan Sistem E-Government Di Indonesia.

1.3 Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai berikut :

1.4.1 Manfaat Teoritis

  1. Sebagai instrument kajian teoritis yang bermakna terkait dengan Strategi Pengembangan Sistem Informasi Publik.
  2. Dengan adannya penelitian ini, sebagai bahan referensi peneliti lain yang akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai, Strategi Pengembangan Sistem Informasi Publik.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Strategi Pengembangan Sistem

1) Pengertian Strategi

Strategi adalah seni memadukan atau menginteraksikan antara faktor kunci keberhasilan antar faktor kunci keberhasilan agar terjadi sinergi dalam mencapai tujuan. Strategi merpakan sarana untuk mencapai tujuan. Manfaat strategi adalah untuk mengoptimalkan sumberdaya unggulan dalam memaksimalkan pencapaian sasaran kinerja. Dalam konsep manajemen cara terbaik untuk mencapai tujuan, sasaran dan kinerja adalah dengan strategi memberdayakan sumber daya secara efektif dan efesien (LAN-RI,2008).

Barney, Jay B (1977) dalam LAN-RI (2008) mengemukakan definisi kerja strategi adalah suatu pola alokasi sumberdaya yang memampukan norganisasi memlihara bahkan meningkatkan kinerjanya. Strategi yang baik adalah suatu strategi yang menetralisir ancaman/tantangan, dan merebut peluang-peluang yang ada dengan memanfaatkn kekuatan yang tersedia serta meniadakan atau memperbaiki kelemahan-kelemahan yang masih ada.

Glueek, dkk, dalam LAN-RI (2008) mengemukakan ada empat strategi utama, yaitu langkah yang dilakukan setelah menganalisa proses kondisi lingkungan internal dan eksternal adalah menetapkan strategi yang sesuai, antara lain:

  1. Stability Strategy

Industri yang menggunakan strategi stabilitas dapat melanjutkan strategi yang sebelumnya dapat dikerjakan. Keputusan strategi utama difokuskan pada penambahan perbaikan terhadap pelaksanaan fungsinya, alasannya karena industri atau perusahaan telah berhasil dalam taraf kedewasaan, lingkungan relative stabil, tidak terlalu berisiko.

  1. Retrenchment Strategy

Strategi penciutan pada umumnya digunakan untuk mengurangi produk pasar, alasannya karena industri atau perusahaan tidak berjalan dengan baik, lingkungan semakin mengancam, mendapat tekanan dari konsumen sehingga peluang tidak dimanfaatkan dengan baik.

  1. Growth Strategy

Strategi pertumbuhan banyak dipertimbangkan untuk dapat diterapkan pada industry dengan petimbangan bahwa keberhasilan industry adalah industry yang selalu terus berkembang. Strategi pertumbuhan melalui ekspansi dengan memperluas daerah pemasaran dan penjualan produk atau dapr berupa diversifikasi produk.

  1. Combination Strategy

Strategi ini tepat digunakan bila industry banyak menghadapi perubahan lingkungan dengan kecepatan yang tidak sama, tidak mempunyai potensi masa depan yang sama serta mempunyai arus kas negative.

2) Sistem Informasi Strategis

Sistem Informasi Strategis adalah dukungan terhadap sistem informasi komputer yang digunakan pada tinggat organisasi yang mengubah tujuan operasional,produk jasa,dan hubungan lingkungan untuk membantu organisasi.

Menurut Laudon(1997), Sistem Informasi Strategis adalah sistem komputer yang digunakan pada setiap tingkatan organisasi yang mengubah tujuan operasional,produk jasa dan hubungan lingkungan untuk membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif.

3) Pengembangan Sistem

Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada.

Prinsip pengembangan sistem informasi yaitu:

  1. Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen.
  2. Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar.
  3. Sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik.
  4. Tahapan kerja dan tugas yang harus dilakukan dalam pengembangan sistem.
  5. Proses pengembangan sistem tidak harus urut.
  6. Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem.

B. Pendekatan Sistem

Terdapat beberapa pendekatan untuk mengembangkan sistem, yaitu Pendekatan Klasik, Pendekatan Terstruktur, Pendekatan Dari Bawah Ke Atas, Pendekatan Dari Atas Ke Bawah.

1) Pendekatan Klasik

Pendekatan Klasik (classical approach) disebut juga dengan Pendekatan Tradisional (traditional approach) atau Pendekatan Konvensional (conventional approach). Metodologi Pendekatan Klasik mengembangkan sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan pada System Life Cycle. Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan akan berhasil bila mengikuti tahapan pada System Life Cycle:

2) Pendekatan Terstruktur

Mulai awal tahun 1970 muncul suatu pendekatan baru disebut dengan Pendekatan Terstruktur. Pendekatan ini pada dasarnya mencoba menyediakan kepada analis sistem dengan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan sistem disamping tetap mengikuti ide dari system life cycle.

Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknikteknik yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur telah banyak yang diperkenalkan baik dalam bukubuku, maupun oleh perusahaan-perusahaan konsultan pengembang sistem.

Keuntungan pendekatan terstruktur :

  • Mengurangi kerumitan masalah (reduction of complexity).
  • Konsep mengarah pada sistem yang ideal (focus on ideal).
  • Standarisasi (standardization).
  • Orientasi ke masa datang (future orientation).
  • Mengurangi ketergantungan pada disainer (less reliance on artistry). Metodologi Pengembangan Sistem

3) Pendekatan Dari Bawah Ke Atas (Bottom-up Approach)

            Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini ciri-ciri dari pendekatan klasik.

Pendekatan dari bawah ke atas bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah data analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan diolah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya.

4) Pendekatan Dari Atas Ke Bawah  (Top-down Approach)

Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah dilakukannya analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output, input, basis data, prosedur-prosedur operasi dan control.           

            Pendekatan ini juga merupakan ciri-ciri pendekatan terstruktur. Pendekatan atas-turun bila digunakan pada tahap analis sistem disebut juga dengan istilah decision analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahulu, kemudian data yang perlu diolah didefinisikan menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.

5) Pendekatan Sepotong (piecemeal approach)

Pengembangan yang menekankan pada suatu kegiatan/aplikasi tertentu tanpa memperhatikan posisinya di sistem informasi atau tidak memperhatikan sasaran organisasi secara global (memperhatikan sasaran dari kegiatan atau aplikasi itu saja).

6) Pendekatan Sistem menyeluruh (total-system approach)

Pendekatan pengembangan sistem serentak secara menyeluruh, sehingga menjadi sulit untuk dikembangkan (ciri klasik).

7)  Pendekatan Moduler (modular approach)

Pendekatan dengan memecah sistem komplek menjadi modul yang sederhana, sehingga sistem lebih mudah dipahami dan dikembangkan, tepat waktu, mudah dipelihara (ciri terstruktur)

8) Lompatan jauh (great loop approach)

Pendekatan yang menerapkan perubahan menyeluruh secara serentak menggunakan teknologi canggih, sehingga mengandung resiko tinggi, terlalu mahal, sulit dikembangkan karena terlalu komplek.

9) Pendekatan Berkembang (evolutionary approach)

Pendekatan yang menerapkan teknologi canggih hanya untuk aplikasiaplikasi yang memerlukan saja dan terus dikembangkan untuk periode berikutnya mengikuti kebutuhan dan teknologi yang ada.

C. Metodologi Pengembangan Sistem

Metodologi adalah kesatuan metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan, postulat-postulat yang digunakan oleh suatu ilmu pengetahuan, seni atau disiplin lainnya.  Metode adalah suatu cara, teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu.

Metodologi pengembangan sistem berarti metode-metode, prosedurprosedur, konsep konsep pekerjaan, aturan-aturan untuk mengembangkan suatu sistem informasi. Berikut beberapa metode pengembangan sistem:

1) Metode System Development Life Cycle (SDLC)

Model SDLC atau Sekuensial Linier sering disebut juga Model Air Terjun. Model ini mengusulkan sebuah pendekatan perkembangan perangkat lunak yang sistematik dan sekunsial yang dimulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan.

Tahapan-tahapan (SDLC):

  1. a) Fase Perencanaan Sistem

Dalam tahapan ini dibentuk suatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pemakai informasi. Proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan. Penyediaan sumber daya baru dan penyediaan dana untuk pengembangan sistem.

  1. b) Fase Analisis Sistem

Dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan system.

  1. c) Fase Perancangan

Perancangan Sistem secara Umum Dibentuk alternatif-alternatif perancangan konseptual untuk pandangan pemakai. Alternatif ini merupakan perluasan kebutuhan pemakai.

  1. d) Fase Implementasi Sistem

Sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi. Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru.

2) Model Prototyping

Prototyping adalah proses iterative dalam pengembangan sistem dimana requirement diubah ke dalam sistem yang bekerja (working system) yang secara terus menerus diperbaiki melalui kerjasama antara user dan analis.

Tahapan-tahapan Model Prototyping:

  • Pengumpulan Kebutuhan
  • Membangun Prototyping
  • Menggunakan Sistem
  • Mengkodekan Sistem
  • Menguji Sistem
  • Evaluasi Sistem
  • Evaluasi Protoptyping

3) Model RAD (Rapid Application Development)

RAD adalah metodologi untuk mengurangi desain dan implementasi, penggabungan beberapa metode atau teknik terstruktur. RAD menggunakan metode prototyping dan teknik terstruktur lainnya untuk menentukan kebutuhan user dan perancangan sistem informasi selain itu RAD menekankan siklus perkembangan dalam waktu yang singkat (60 sampai 90 hari) dengan pendekatan konstruksi berbasis komponen.

Tahapan-tahapan Model RAD:

  • Bussiness Modelling
  • Testing and Turnover
  • Aplication Generation
  • Process Modelling
  • Data Modelling

4)  Data Oriented Methodologies

Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan diproses. Dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu :

  • Data Flow Oriental Methodologies
  • Data Structured Oriented Methodologies

5) JAD (Joint Appplication Development/Design).

JAD merupakan suatu kerjasama yang terstruktur antara pemakai atau pengguna sistem informasi, manajer dan ahli analisis sistem informasi, yang membutuhkan beberapa hari sesi workgroup secara intensif, dengan tujuan untuk menentukan dan menjabarkan atau menjabarkan persyaratan sistem, permintaan pemakai, dan teknik yang dibuthkan dan unsur rancangan eksternal.

Kelebihan:

  • Penerapan JAD jika pengembang dan user bekerjasama dalam satu tim akan sangat mendukung penerapan prototyping.
  • Penentuan keperluan oleh sekumpulan pemegang saham.
  • Melibatkan kerjasama tim proyek, pengguna dan pengurusan.

Kekurangan:

  • Dana yang diperlukan untuk membangun sistem lebih mahal
  • Dalam analisa sistem akan memakan waktu yang lebih lama
  • Pendekatan JAD memiliki banyak masalah yang disebabkan oleh proses kelompok membuat seseorang yang mendominasi forum

6) Agile Methodologies

Agile Model adalah suatu metode konvensional untuk membangun berbagai jenis perangkat lunak dan berbagai macam tipe proyek pengembangan perangkat lunak, yang dapat melakukan pengiriman atau penyampaian hasil dari implementasi sistem melalui perangkat lunak dengan cepat.

Kelebihan:

  • Meningkatkan rasio kepuasan pelanggan.
  • Bisa melakukan review pelanggan mengenai software yang dibuat lebih awal.
  • Mengurangi resiko kegagalan implementasi software dari non-teknis.
  • Besar kerugian baik secara material atau imaterial tidak terlalu besar jiak terjadi kegagalan.

Kekurangan:

  • Dokumentasi harus cukup detail agar fase selanjutnya dapat berjalan dengan baik.

7) Metode Outsoucing

Outsourcing merupakan salah satu metode pengelolaan teknologi informasi dengan cara memindahkan pengelolaannya pada pihak lain, yang tujuan akhirnya adalah efektivitas dan efisiensi kerja.

Kelebihan:

  • Manajemen TI yang lebih baik,
  • Fleksibiltas untuk meresponse perubahan TI yang cepat,
  • Akses pada pakar TI yang lebih baik.
  • Fokus pada inti bisnis, perusahaan tidak perlu memikirkan bagaimana sistem TI-nya bekerja

Kekurangan

  • Terdapat kekhawatiran tentang keamanan sistem informasi
  • Ada peluang sistem informasi yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan
  • Dapat terjadi ketergantungan kepada konsultan.
  • Resiko tidak kembalinya investasi yang telah dikeluarkan apabila terjadi ketidakcocokan sistem informasi yang dikembangkan.

D. Langkah-langkah Strategi Pengembangan Sistem

Siklus hidup pengembangan sistem informasi saat ini terbagi atas enam fase yaitu :

  • Perencanaan sistem
  • Analisis sistem
  • Perancangan sistem secara umum / konseptual
  • Evaluasi dan seleksi sistem
  • Perancangan sistem secara detail
  • Pengembangan Perangkat Lunak dan Implementasi sistem
  • Pemeliharaan / Perawatan Sistem

Suatu sistem yang diusulkan harus layak, yaitu sistem ini harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

  • Kelayakan teknis
  • Kelayakan ekonomis
  • Kelayakan operasional
  • Kelayakan rencana

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  • Strategi pertama adalah mengembangkan sistem pelayanan yang andal, terpercaya serta terjangkau masyarakat luas.
  • Strategi kedua adalah menata sistem dan proses kerja pemerintah dan pemerintah daerah otonom secara holistik. Dengan strategi ini pemerintah ingin menata sistem manajemen dan prosedur kerja pemerintah agar dapat mengadopsi kemajuan teknologi informasi secara cepat.
  • Strategi ketiga adalah memanfaatkan teknologi informasi secara optimal. Sasaran yang ingin dicapai adalah standardisasi yang berkaitan dengan interoperabilitas pertukaran dan transaksi informasi antarportal pemerintah. Standardisasi dan prosedur yang berkaitan dengan manajemen dokumen.
  • Strategi keempat adalah meningkatkan peran serta dunia usaha dan mengembangkan industri telekomunikasi dan teknologi informasi. Sasaran yang ingin dicapai adalah adanya partisipasi dunia usaha dalam mempercepat pencapaian tujuan strategis e-government.
  • Strategi kelima adalah mengembangkan kapasitas sumber daya manusia, baik pada pemerintah maupun pemerintah daerah otonom disertai dengan meningkatkan e-literacy masyarakat.
  • Strategi keenam adalah melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan yang realistik dan terukur. Dalam pengembangan e-government, dapat dilaksanakan dengan empat tingkatan yaitu, persiapan, pematangan, pemantapan dan pemanfaatan.

DAFTAR PUSTAKA

Febriani, Dewi. 2012. Strategi Nasional Pengembangan E-Government di Indonesia. Melalui file:///D:/Semester%203/5.%20SISTEM%20INFORMASI/MSIP%20Pengembangan%20Sistem/1.%20MATERI%20DAN%20PPT%20MSIP/5.%20MATERI%205%20INPRES/ICT%20%20STRATEGI%20NASIONAL%20PENGEMBANGAN%20E-GOVERNMENT%20DI%20INDONESIA%20_%20DEUSASTORY.htm. Diakses [19/12/2014].
http://santirianingrum.dosen.narotama.ac.id/bahan-ajar/sistem-informasi/
Iiriadi, Fajar. 2011. Pendekatan Pengembangan Sistem. Melalui file:///D:/Semester%203/5.%20SISTEM%20INFORMASI/MSIP%20Pengembangan%20Sistem/Bahan%20MSIP/Fajar%20Iriadi%20%28%20Aloth%20%29%20%20Pendekatan%20Pengembangan%20Sistem.htm. Diakses [18/12/2017].

Usniatun, Siti. 2012. Strategi Pengembangan Sistem Informasi Untuk Mendorong Peningkatan Keunggulan Bersaing Pada Perusahaan Dan Organisasi Modern. Melalui file:///D:/Semester%203/5.%20SISTEM%20INFORMASI/MSIP%20Pengembangan%20Sistem/1.%20MATERI%20DAN%20PPT%20MSIP/1.%20MATERI%20KONSEP/Usni_blog%20%20Makalah%20Strategi%20Pengembangan%20Sistem%20Informasi%20Untuk%20Keunggulan%20Bersaing%20Pada%20Perusahaan%20dan%20Organisasi%20Modern.htm. Diakses [19/12/2017].

Zakiyudin, Ais. 2012. Sistem Infomasi Stategis. Melalui file:///D:/Semester%203/5.%20SISTEM%20INFORMASI/MSIP%20Pengembangan%20Sistem/1.%20MATERI%20DAN%20PPT%20MSIP/1.%20MATERI%20KONSEP/Ais%20Zakiyudin%20%20Sistem%20Informasi%20Strategis.htm. Diakses [21/12/2017].

SISTEM INFORMASI DAN ORGANISASI

2017
12.27

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Perkembangan yang mencolok selama beberapa dasa warsa menjelang dimulainya abad ke-21 ditandai dengan semakin pentingnya informasi dan pengolahan data di dalam banyak aspek kehidupan manusia. Seiring dengan lajunya gerak pembangunan, organisasi-organisasi publik maupun swasta semakin banyak yang mampu memanfaatkan teknologi informasi baru yang dapat menunjang efektifitas, produktifitas, dan efisiensi mereka. Perkembangan teknologi informasi dalam hal ini teknologi komputer dapat menunjang pengambilan keputusan di dalam organisasi-organisasi modern yang memungkinkan pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dapat diselasaikan secara tepat, akurat, dan efisien. Perkembangan sistem informasi manajemen telah menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen baik pada tingkat operasional (pelaksana teknis) maupun pimpinan pada semua jenjang. Perkembangan ini juga telah menyebabkan perubahan-perubahan peran dari para manajer dalam pengambilan keputusan, mereka dituntut untuk selalu dapat memperoleh informasi yang paling akurat dan terkini yang dapat digunakannya dalam proses pengambilan keputusan. Meningkatnya penggunaan teknologi informasi, khususnya internet, telah membawa setiap orang dapat melaksanakan berbagai aktivitas dengan lebih akurat, berkualitas, dan tepat waktu. Setiap organisasi dapat memanfaatkan internet dan jaringan teknologi informasi untuk menjalankan berbagai aktivitasnya secara elektronis. Para manajer sekarang ini dituntut kemampuan mereka untuk dapat memanfaatkan informasi yang membanjiri organisasi dan membuat keputusan secara tepat berdasarkan informasi tersebut. Termasuk juga dalam organisasi publik, permasalahan utama dalam organisasi publik adalah masalah pelayanan publik.

Pelayanan publik menurut Thaha (1994:14) merupakan suatu kegiatan yang harus mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan publik, mempersingkat waktu pelayanan, dan memberikan kepuasan kepada publik. Seiring dengan diberlakukannnya otonomi daerah sejak dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 UU No. 32 Tahun 2004 yang memberi 2 hak dan kewenangan pada pemerintah daerah untuk mengukur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatnya serta dalam menghadapi era perdagangan bebas, peranan administrasi pemerintahan dan perijinan perkotaan menjadi sangat penting.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang akan kami ambil, sebagai berikut

  • Bagaimana Perbedaan Organisasi Publik dan Organisasi Swasta Ditinjau dari Sistem Informasi?
  • Bagaimana Kerangka Sistem Informasi pada Organisasi Publik?
  • Bagaimana hubungan antara organisasi dengan manajemen sistem informasi?
  • Bagaimana Sistem Informasi mempengaruhi Organisasi?
  • Bagaimana kerangka arsitektur e-government di Indonesia?

1.3 Tujuan Makalah

 Tujuan dari makalah ini adalah:

  • Mendeskripsikan Perbedaan Organisasi Publik dan Organisasi Swasta Ditinjau dari Sistem Informasi.
  • Mendeskripsikan Bagaimana Kerangka Sistem Informasi pada Organisasi Publik.
  • Mendeskripsikan Bagaimana hubungan antara organisasi dengan manajemen sistem informasi.
  • Mendeskripsikan Bagaimana Sistem Informasi mempengaruhi Organisasi.
  • Mendeskripsikan Bagaimana kerangka arsitektur e-government di Indonesia.

1.4Manfaat Makalah

Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan, menjadi tambahan referensi, serta sebagai bahan pertimbangan untuk sistem informasi dan organisasi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Perbedaan Organisasi Publik dan Organisasi Swasta Ditinjau dari Sistem Informasi

    Pada dasarnya antara manajemen publik dan manajemen swasta ada beberapa persamaan dalam pengelolaan sistem informasinya. Tetapi disamping persamaan-persamaan yang ada, diantara manajemen publik dan manajemen swasta ada juga perbedaan yang cukup besar dalam konteks, orientasi nilai, sasaran pelayanan. Persamaan-persamaan yang anda antara sektor publik dan sektor swasta adalah pada peran dan fungsi manajemen. Sementara itu perbedaannya cukup besar, antara lain sistem nilai dan landasan ideologinya berbeda. Dunia bisnis merupakan produk dari ideologi kapitalistik: yang mengurus soal : pemasukan, biaya, keuntungan, dan pengembangan investasi dengan aplikasi sistem informasi sebagai berikut :

 

  1. Sistem informasi akuntansi (accounting information systems), menyediakan informasi dan transaksi
  2. Sistem informasi pemasaran (marketing information systems), menyediakan informasi untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan
  3. Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information systems).
  4. Sistem informasi personalia (personal information systems).
  5. Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems).
  6. Sistem informasi teknik (engineering information systems).

Sedangkan manjemen publik, yang terkait erat dengan adminsitrasi publik, landasan ideologinya muncul dari konstitusi, seperti: kedaulatan rakyat, pembagian wewenang, hak-hak asasi, pluralisme, keuntungan publik, barang-barang publik (public goods), kebebasan mengakses informasi, perwakilan (representativeness), persamaan kesempatan, dan persaan dalam perlakuan.

Organisasi Publik Organisasi Swasta
•      Merupakan produk dari ideologi kapitalistik

 

•      Merupakan landasan ideologi dari institusi.

 

•      Sistem komputer yang digunakan level organisasi .

 

•      Sistem dirancang untuk menyediakan informasi.

 

 

Dilihat dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi privat adalah sistem komputer yang digunakan level organisasi untuk mengubah sasaran, pengoperasian, produk, jasa, atau relasi lingkungan untuk membantu organisai meraih keunggulan kompetitif. Berbeda dengan sektor public yang berorientasi pada pelayanan. Secara lebih jauh dijelaskan manajemen sistem informasi publik adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen yang berhubungan dengan kebutuhan pemerintahan maupun masyarakat (perencanaan, penggerakan, pengorganisasian, dan pengendalian) dalam organisasi publik. Contoh aplikasi penerapan manajemen sistem informasi di sektor publikantara lain :

  1. E-Government adalah contoh aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam administrasi publik, sebagai upaya untuk merevitalisasi organisasi dan manajemen pemerintahan agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara prima, baik dalam pengelolaan kebijakan, pelayanan informasi, maupun dalam pengelolaan pelayanan publik.
  2. Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan/Decision-Support Systems (DSS)
  3. Sistem Kelompok Pendukung Pengambilan Keputusan/Group Decision- Support Systems (GDSS)
  4. Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan Eksekutif/Executive- Support Systems (ESS)
  5. Sistem Pakar/Expert System

 

2.2 Kerangka Sistem Informasi pada Organisasi Publik

        Ada beberapa hal yang menjadi pedoman dalam pelaksaan SIM dalam administrasi public seperti yang dijelaskan dalam Pasal 14 UU NO.14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik bahwa syarat-syaratnya antara lain :

  1. transparansi adalah keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai
  2. kemandirian adalah suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak mana pun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip korporasi yang sehat.
  3. akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif;
  4. pertanggungjawaban adalah kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip korporasi yang sehat;
  5. kewajaran adalah keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan(stakeholder) yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang- undangan.

Sistem informasi mengandung tiga aktivitas dasar di dalamnya, yaitu: aktivitas masukan (input), pemrosesan (processing), dan keluaran (output). Tiga aktivitas dasar ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan organisasi untuk pengambilan keputusan, pengendalian operasi, analisis permasalahan, dan menciptakan produk atau jasa baru. Masukan berperan di dalam pengumpulan bahan mentah (raw data), baik yang diperoleh dari dalam maupun dari lingkungan sekitar organisasi. Pemrosesan berperan untuk mengkonversi bahan mentah menjadi bentuk yang lebih memiliki arti. Sedangkan, keluaran dimaksudkan untuk mentransfer informasi yang diproses kepada pihak-pihak atau aktivitasaktivitas yang akan menggunakan. Sistem informasi juga membutuhkan umpan balik (feedback), yaitu untuk dasar evaluasi dan perbaikan di tahap input berikutnya. Berikut ini pengaplikasian Manajemen Sistem Informasi yang dimanfaatkan oleh insttitusi Negara sebagai bentuk proses pelayanan administrasi publik, antara lain :

2.3 Hubungan Antara Organisasi dan Manajemen Sistem Informasi

Manajemen tidak dapat mengabaikan sistem informasi karena sistem informasi memainkan peran yang kritikal di dalam organisasi. Sistem informasi ini sangat mempengaruhi secara langsung bagaimana manajemen mengambil keputusan, membuat rencana, dan mengelolapara pegawainya, serta meningkatkan sasaran kinerja yang hendakdicapai, yaitu bagaimana menetapkan ukuran atau bobot setiaptujuan/kegiatan, menetapkan standar pelayanan minimum, dan bagaimana menetapkan standar dan prosedur pelayanan baku kepadamasyarakat. Oleh karenanya, tanggung jawab terhadap sistem informasi tidak dapat didelegasikan begitu saja kepada sembarang pengambil keputusan.

Semakin meningkat saling ketergantungan antara rencana strategis instansi, peraturan dan prosedur di satu sisi dengan sistem informasi (software, hardware, database, dan telekomunikasi) di sisi lain. Perubahan di satu komponen akan mempengaruhi komponen lainnya. Hubungan ini menjadi sangat kritikal manakala manajemen inginmembuat rencana ke depan. Aktivitas apa yang akan dilakukan lima tahun ke depan biasanya juga sangat tergantung kepada sistem apa yang tersedia untuk dapat melaksanakannya. Sebagai contoh, peningkatan produktivitas kerja para pegawai sangat tergantung pada jenis dankualitas dari sistem informasi organisasi. Perubahan lain dalam hubungan sistem informasi dengan organisasi yaitu semakin meningkatnya cakupan dan ruang lingkup dari sistem informasi dan aplikasinya. Pengembangan dan pengelolaan sistem  dewasaini membutuhkan keterlibatan banyak pihak di dalam organisasi, jika dibandingkan peran dan keterlibatanya pada periode-periode yang lalu.

Sebagaimana sudah disampaikan dengan meningkatnya kecenderungan organisasi berteknologi digital, maka sistem informasi di dalam organisasi dapat meliputi jangkauan yang semakin luas hingga kepada masyarakat, instansi pemerintahan lainnya, dan bahkan informasi mengenai perkembangan politik terakhir. Satu alasan mengapa sistem informasi memainkan peran yang sangat besar dan berpengaruh di dalam organisasi adalah karena semakin tingginya kemampuan teknologi komputer dan semakin murahnya biaya pemanfaatan teknologi komputer tersebut. Semakin baiknya kemampuankomputer telah menghasilkan jaringan komunikasi yang kuat yang dapat digunakan organisasi untuk melakukan akses informasi dengan cepat dari berbagai penjuru dunia serta untuk mengendalikan aktivitas yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Jaringan-jaringan ini telah mentransformasikan ketajaman dan bentuk aktivitas organisasi, menciptakan fondasi untuk memasuki era digital. Jaringan yang terluas dan terbesar yang digunakan adalah internet.

Hampir setiap orang di seluruh dunia ini, baik yang bekerja di dunia sains, pendidikan, pemerintah, maupun kalangan pebisnis menggunakan jaringan internet untuk bertukar informasi atau melakukan transaksi bisnis dengan orang atau organisasi lain di seluruh dunia. Internet menciptakan platform teknologi baru yang universal. Teknologi internet ini mampu mempertajam cara bagaimana sistem informasi digunakandalam bisnis dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan penggunaan internet, di antaranya adalah untuk :

  • Komunikasi dan kolaborasi.
  • Akses data dan informasi.
  • Partisipasi dalam diskusi.
  • Supply informasi.
  • Hobi atau bersenang-senang (entertainment).
  • Pertukaran transaksi bisnis

2.4 Bagaimana Sistem Informasi mempengaruhi Organisasi

          Manajemen tidak dapat mengabaikan sistem informasi karena sistem informasi memainkan peran yang kritikal di dalam organisasi. Sistem informasi ini sangat mempengaruhi secara langsung bagaimana manajemen mengambil keputusan, membuat rencana, dan mengelola para pegawainya, serta meningkatkan sasaran kinerja yang hendak dicapai, yaitu bagaimana menetapkan ukuran atau bobot setiap tujuan/kegiatan, menetapkan standar pelayanan minimum, dan bagaimana menetapkan standar dan prosedur pelayanan baku kepada masyarakat. Oleh karenanya, tanggung jawab terhadap sistem informasi tidak dapat didelegasikan begitu saja kepada sembarang pengambilkeputusan. Semakin meningkat saling ketergantungan antara rencana strategis instansi, peraturan dan prosedur di satu sisi dengan sistem informasi (software, hardware, database, dan telekomunikasi) di sisi yang lainnya. Perubahan di satu komponen akan mempengaruhi komponen lainnya.

Hubungan ini menjadi sangat kritikal manakala manajemen ingin membuat rencana ke depan. Aktivitas apa yang akan dilakukan lima tahun ke depan biasanya juga sangat tergantung kepada sistem apa yang Sistem Informasi Manajemen Pusdiklatwas BPKP- 2007 16 tersedia untuk dapat melaksanakannya. Sebagai contoh, peningkatan produktivitas kerja para pegawai sangat tergantung pada jenis dan kualitas dari sistem informasi organisasi. Perubahan lain dalam hubungan sistem informasi dengan organisasi adalah semakin meningkatnya cakupan dan ruang lingkup dari sistem informasi dan aplikasinya. Pengembangan dan pengelolaan sistem dewasa ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak di dalam organisasi, jika dibandingkan peran dan keterlibatanya pada periode-periode yang lalu.

Sebagaimana sudah disampaikan dengan meningkatnya kecenderungan organisasi berteknologi digital, maka sistem informasi di dalam organisasi dapat meliputi jangkauan yang semakin luas hingga kepada masyarakat, instansi pemerintahan lainnya, dan bahkan informasi mengenai perkembangan politik terakhir. Satu alasan mengapa sistem informasi memainkan peran yang sangat besar dan berpengaruh di dalam organisasi adalah karena semakin tingginya kemampuan teknologi komputer dan semakin murahnya biaya pemanfaatan teknologi komputer tersebut. Semakin baiknya kemampuan komputer telah menghasilkan jaringan komunikasi yang kuat yang dapat digunakan organisasi untuk melakukan akses informasi dengan cepat dari berbagai penjuru dunia serta untuk mengendalikan aktivitas yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Jaringan-jaringan ini telah mentransformasikan ketajaman dan bentuk aktivitas organisasi, menciptakan fondasi untuk memasuki era digital.

Pertumbuhan yang pesat di teknologi komputer dan jaringan, termasuk teknologi internet telah mengubah struktur organisasi yang memungkinkan secara instan informasi didistribusi di dalam dan di luar organisasi. Kemampuan ini dapat digunakan untuk mendesain ulang dan mempertajam organisasi, mentransfer struktur organisasi, ruang lingkup organisasi, melaporkan dan mengendalikan mekanisme, praktik-praktik kerja, arus kerja, serta produk dan jasa. Pada akhirnya, proses bisnis yang dilakukan secara elektronis membawa organisasi lebih dikelola secara digital, yang membawa dampak pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Organisasi semakin ramping. Organisasi yang gemuk dan birokratis lebih sulit untuk mengikuti perubahan yang pesat dewasa ini, kurang efisien, dan tidak dapat kompetitif. Oleh karenanya, banyak model organisasi ini sekarang dirampingkan, termasuk jumlah pegawainya dan tingkatan hirarkis
  1. Pemisahan pekerjaan dari lokasi. Teknologi komunikasi telah mengeliminasi jarak sebagai satu factor yang harus dipertimbangkan dalam pekerjaan. F. Konsep Subsistem Informasi Organisasi SIM merupakan upaya organisasi pertama yang tujuan utamanya adalah menyediakan informasi bagi manajemen (karena itu dinamakan sistem informasi manajemen). Ternyata dalam praktiknya SIM pada suatu organisasi menyediakan juga informasi bagi orang-orang selain para manajer. Ketika suatu organisasi semakin memiliki pengalaman dalam menerapkan rancangan SIM yang mencakup kebutuhan seluruh organisasi, para manajer di wilayah-wilayah tertentu, baik ditingkat pusat maupun daerah, mulai menerapkan konsep sesuai kebutuhan yang mereka

Sistem informasi mulai akan memasuki wilayah yang sudah tersegmentasi, yang dapat disebut sebagai sub-sub sistem SIM yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Sebagai contoh pada tataran organisasi pemerintah pusat sudah mengimplementasikan beberapa aplikasi sistem informasi antara lain: Sistem akuntansi keuangan negara (SKAN), Sistem akuntansi barang milik negara (SABMN), Sistem akuntansi keuangan daerah (SAKD) Sistem Informasi Kependudukan, Sistem Informasi Kepegawaian dan pengembangan-pengembangan subsub sistem tata kelola pemerintahan lainnya.

2.5 E-GOVERNMENT

Untuk menjamin keterpaduan sistem pengelolaan dan pengolahan dokumen dan informasi elektronik dalam mengembangkan pelayanan publik yang transparan, pengembangan egovernment pada setiap instansi harus berorientasi pada kerangka arsitektur di bawah ini.

Untuk menjamin keterpaduan sistem pengelolaan dan pengolahan dokumen dan informasi elektronik dalam mengembangkan pelayanan publik yang transparan, pengembangan egovernment pada setiap instansi harus berorientasi pada kerangka arsitektur di bawah ini. Kerangka arsitektur itu terdiri dari empat lapis struktur, yakni:

  1. Akses — yaitu jaringan telekomunikasi, jaringan internet, dan media komunikasi lain yang dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk mengakses portal pelayanan
  2. Portal Pelayanan Publik — yaitu situs-situs internet penyedia layanan publik tertentu yang mengintegrasikan proses pengolahan dan pengelolaan informasi dan dukumen elektronik di sejumlah instansi yang
  3. Organisasi Pengelolaan & Pengolahan Informasi — yaitu organisasi pendukung (back- office ) yang mengelola, menyediakan dan mengolah transaksi informasi dan dokumen elektronik.
  4. Infrastruktur dan aplikasi dasar — yaitu semua prasarana baik berbentuk perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan, pengolahan, transaksi, dan penyaluran informasi. baik antar back-office, antar Portal Pelayanan Publik dengan backoffice, maupun antara Portal Pelayanan Publik dengan jaringan internet, secara andal, aman, dan terpercaya. Struktur tersebut ditunjang oleh 4 (empat) pilar, yakni penataan sistem manajemen dan proses kerja, pemahaman tentang kebutuhan publik, penguatan kerangka kebijakan, dan pemapanan peraturan dan perundang- undangan.

 

Pengembangan e-government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Melalui pengembangan e-government dilakukan penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dengan mengoptimasikan pemanfaatan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi tersebut mencakup 2 (dua) aktivitas yang berkaitan yaitu : (1) pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara elektronis; (2) pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar  pelayanan publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.

Pada saat ini telah banyak instansi pemerintah pusat dan daerah berinisiatif mengembangkan pelayanan publik melalui jaringan komunikasi dan informasi. Namun kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, mayoritas situs pemerintah dan pemerintah daerah otonom berada pada tingkat pertama (persiapan), dan hanya sebagian kecil yang telah mencapai tingkat dua (pematangan). Sedangkan tingkat tiga (pemantapan) dan tingkat empat (pemanfaatan) belum tercapai.  Observasi secara lebih mendalam menunjukkan bahwa inisiatif tersebut di atas belum menunjukan arah pembentukan e-government yang baik. Beberapa kelemahan yang menonjol adalah :

  1. pelayanan yang diberikan melalui situs pemerintah tersebut, belum ditunjang oleh sistem manajeman dan proses kerja yang efektif karena kesiapan peraturan, prosedur dan keterbatasan sumber daya manusia sangat membatasi penetrasi komputerisasi ke dalam sistem manajemen dan proses kerja pemerintah;
  2. belum mapannya strategi serta tidak memadainya anggaran yang dialokasikan untuk pengembangan e-government pada masing-masing instansi;
  3. Inisiatif-inisiatif tersebut merupakan upaya instansi secara sendirisendiri; dengan demikian sejumlah faktor seperti standardisasi, keamanan informasi, otentikasi, dan berbagai aplikasi dasar yang memungkinkan interoperabilitas antar situs secara andal, aman, dan terpercaya untuk mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja pada instansi pemerintah ke dalam pelayanan publik yang terpadu, kurang mendapatkan perhatian.
  4. pendekatan yang dilakukan secara sendiri-sendiri tersebut tidak cukup kuat untuk mengatasi kesenjangan kemampuan masyarakat untuk mengakses jaringan internet, sehingga jangkauan dari layanan publik yang dikembangkan menjadi terbatas

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perkembangan sistem informasi manajemen dalam administrasi publik memang belum sempurna apalagi dikaitkan dengan pemerintahan daerah. Banyak kendala yang dihadapi dan belum terlesaikan hingga saat ini. Salah satu permasalahan penerapan sistem informasi manajemen yang ideal adalah kurangnya pemahaman mengenai konsep ini terlebih pada sumber daya manusia yang belum cukup mampu menerapkan konsep ini disetiap sisi pemerintahan. Hingga saat ini Indonesia masih dalam proses mengembangkan SIM nya dalam rangka mewujudkan pelayanan yang lebih baik untuk masyarakat luas.

Hello world!

2017
11.09

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!