GEOMORFOLOGI KABUPATEN PASURUAN

 

Kabupaten Pasuruan merupakan sebuah kawasan yang terletak antara 112,300-113,300 Bujur Timur dan antara 7,300-8,300  Lintang Selatan. Luas Wilayah Kabupaten Pasuruan seluruhnya sejumlah + 147.401,50 Ha atau 1.474,02 km2 yang terdiri dari daerah pegunungan, perbukitan, dataran rendah, dan pantai.

  1. 1.      LETAK GEOGRAFIS PASURUAN

Letak geografi kabupaten Pasuruan antara 112 0 33` 55” hingga 113 30` 37”Bujur Timur dan antara 70 32` 34” hingga 80 30` 20” Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah:

Utara         : Kabupaten Sidoarjo dan Selat Madura

Selatan       : Kabupaten Malang

Timur         : Kabupaten Probolinggo

Barat         : Kabupaten Mojokerto

 

  1. 2.      KEADAAN GEOLOGIS

Daratan Pemerintah Kabupaten terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :

  1. Daerah Pegunungan dan Berbukit, dengan ketinggian antara 180m s/d 3000m. Daerah ini membentang dibagian Selatan dan Barat meliputi: Kec. Lumbang, Kec Puspo, Kec. Tosari, Kec. Tutur, Kec. Purwodadi, Kec. Prigen dan Kec. Gempol.
  2. Daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 6m sampai 91m, dataran rendah ini berada dibagian tengah, merupakan daerah yang subur.
  3. Daerah Pantai, dengan ketinggian antara 2m sampai 8m diatas permukaan laut. Daerah ini membentang dibagian Utara meliputi Kec. Nguling, Kec. Rejoso, Kec. Kraton dan Kec. Bangil

 

  1. 3.      KEADAAN HIDROGRAFI

Secara Hidrografis wilayah Kab. Pasuruan terdapat beberapa sungai yang cukup besar yaitu sungai Laweyan, Rejoso, Gembong, Welang, Petung, Masangan, Kedunglarangan, serta terbagi dalam 5 (lima) Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara di Selat Madura, yaitu :

a)      DAS Laweyan                 : bermuara di Desa Penunggul Kec. Nguling.

b)      DAS Rejoso                     : bermuara di wilayah Kec. Rejoso.

c)      DAS Welang                    : bermuara di Desa Pulokerto Kec. Kraton.

d)     DAS Petung                     : bermuara di Desa Karangpandan Kec. Rejoso.

e)      DAS Kedunglarangan    : bermuara di Kelurahan Kalianyar Kec. Bangil.

Ditinjau dari kondisi Hidrogeologi, Kabupaten Pasuruan mempunyai potensi air cukup berupa air permukaan dan air tanah. Selain potensi sungai terdapat danau dan sejumlah mata air. Danau Ranu Grati dengan volume efektif sebesar 5.013 m3 dan volume maksimum 5.217 m3 mampu mengeluarkan debit maksimum 463 liter/detik. Selain itu terdapat 471 sumber mata air yang tersebar di 24 kecamatan dengan debit air sampai 5.650 liter/detik. Di Kecamatan Winongan terdapat dua sumber air yaitu sumber air Umbulan dan Banyu Biru. Sumber air Umbulan merupakan sumber air terbesar dengan debit maksimum 5.650 liter/ detik, sedangkan sumber air Banyu Biru dengan debit maksimum 225 liter/detik. Di lereng perbukitan juga terdapat sumur bor tertekan (artesis) dan non tertekan dengan debit sekitar 5 – 10 liter/ detik.

 

  1. 4.      URAIAN

Secara geologis daerah Kabupaten Pasuruan masuh dalam pertemuan tiga lempeng tektonik (Indo Australia, Eurasia, dan lempeng Pasific). Proses terbentuknya wilayah Pasuruan diduga terjadi karena proses tektonik yang disebabkan oleh pertemuan ke tiga lempeng yaitu Indo Australia, Eurasia, dan lempeng Pasific. Sehingga ada kemungkinan terjadinya bencana gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, serta tanah longsor.

Untuk pengaruh vulkanismenya, kabupaten Pasuruan dikeliling beberapa gunung aktif, seperti salah satunya ialah gunung Bromo. Aktivitas Gunung Bromo telah berlangsung sejak 1,4 + 0,2 juta tahun silam dengan terbentuknya Gunung Nongkojajar yang besar. Gunung ini diperkirakan sempat tumbuh berkembang hingga ketinggian 3.000 meter lebih atau hampir menyamai Gunung Semeru yang ada di sebelah selatannya. Namun pertumbuhan Gunung Nongkojajar berakhir ketika letusan paroksismal yang dahsyat (dalam skala VEI 6 atau 7) menghancurkan sebagian besar tubuh gunung sehingga membentuk kawah raksasa (kaldera) yang dikenal sebagai kaldera Nongkojajar. Setelah peristiwa ini, di tengah kaldera Nongkojajar lahirlah gunung berapi Anak Nongkojajar atau lebih dikenal dengan Gunung Ngadisari. Kenudian terjadi letusan besar yang sama, sehingga menghancurkan anak-anak gunung yang terbentuk, sehingga membentuk kaldera yang amat luas yang dikenal sebagai Lautan pasir. Pegunungan Tengger yang mengelilingi Gunung Bromo saat ini pada hakikatnya merupakan sisa lereng dari gunung-gunung berapi generasi sebelumnya yang telah hancur akibat letusan-letusan paroksismal teramat dahsyat di masa silam. Akibat dari aktivitas vulkanik inilah gunung Bromo terbentuk yang berada di wilayah Pasuruan.

Karena wilayah Pasuruan banyak dilalui beberapa sungai, diduga pembentukan beberapa daerah di Pasuruan dipengaruhi oleh sedimentasi material  yang dibawa oleh sungai-sungai yang ada di Pasuruan ke muara. Endapan ini lama kelamaan akan membentuk daratan atau yang disebut daerah alluvial.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous. 2010. Sekilas Dan Sejarah Gunung Bromo. (online). http://eastjavaecotourism.wordpress.com/2010/12/09/sekilas-dan-sejarah-gunung-bromo/. Diakses tanggal 7 maret 2013.

Musyawir. 2011. Kabupeten Pasuruan Rawan Bencana. (online). http://www.antarajatim.com/lihat/berita/75640/sekda-kabupaten-pasuruan-rawan-bencana. Diakses tanggan 7 Maret 2013.