Hello world!

November 9th, 2017

USAHA KERAS HASIL MELUAS

Waktu menunjukan hari mulai petang, aku masih belum menyelesaikan pekerjaanku. Maklumlah, seorang buruh sepertiku harus banyak menerima pekerjaan untuk mampu memperoleh uang agar dapat membeli kebutuhan. Aku hanyalah seorang laki-laki yang hanya lulusan sekolah dasar. Aku biasa dipanggil Jono oleh teman-temanku, yang sebenarnya adalah Sujono nama lengkap pemberian almarhum Bapakku. Bapakku sudah meninggal ketika aku masih duduk dibangku kelas enam sekolah dasar. Sedangkan ibuku, Alhamdulillah masih menemaniku hingga sekarang. Tapi, kini raganya tak mampu untuk bekerja, sehingga aku menjadi tulang punggung keluarga.

Kehidupan yang serba kekurangan ini telah memberi banyak kenagan pahit dalam usahaku mencari sesuap nasi. Setiap hari aku harus mendapat cemoohan orang, penolakan kasar juga aku terima setiap saat, apalagi kalau pekerjaanku tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. “Dasar lemot!! Kolot!! Bodoh kamu ini!!” Sudah biasa. Aku bisa saja tidak menerima penghasilan seharian gara-gara itu. Aku sering termenung dan memikirkan sesuatu. Bahkan, aku memiliki angan-angan yang igin aku raih yaitu menjadi seorang pengusaha yang sukses. Suatu hari aku bertanya pada Ibuku, “Buk apa hidup kita ini begini-gini saja.” Aku bertanya pada Ibu. “Mau gimana lagi to nak, Ibu juga sudah tidak bisa membantumu, kalaupun bisa Ibu hanya bisa membantumu dari hasil mencuci baju tetangga yang penghasilannya sedikit.” Mendengar jawaban Ibu yang seperti itu, aku hanya bisa diam dan menahan kesedihan karena keadaan ini.

Keesokan harinya aku bekerja seperti biasanya. Ditempat kerja aku dan teman-teman didatangi oleh seorang laki-laki, tetangga yang sudah sukses di negri Jiran. Pak Yana namanya. Dia bermaksud mengajak kami ikut bekerja disana. “Kalau kalian minat silahkan bilang kesaya, karena disana membutuhkan banyak tenaga kerja, yang insyaallah saya bisa membantu kalian berangkat dan bekerja disana,” katanya. Kelihatanya teman-temanku juga banyak yang tergiur dengan bayaranya yang lebih besar dari seorang buruh seperti kami.

Setelah pulang, aku menceritakan kepada ibuku tentang orang yang tadi. Lalu aku bertanya pada ibuku. “Buk, aku tertarik sama orang yang tadi, gimana kalau aku ikut ke Malaysia bersama teman-temanku.” Akupun bertanya pada ibu dengan kata yang halus. “Gimana to nak, kalau kamu pergi lalu ibu dirumah sama siapa? Kamu tega meninggalkan ibumu sendirian.” Ibu menjawab dengan nada yang sedih, aku merasa tidak enak. “Bagaimana kalau Ibu tinggal dirumah Bude untuk sementara?” Jawabku. ”Lalu, uang sakumu untuk berangkat dari mana, kamu pikir biayanya murah?” Kata ibu dengan nada lebih tinggi. “Aku bisa meminjamnya dari teman, setelah bekerja dan mendapatkan hasil, aku akan membayarnya. Doakan disana aku bisa  sukses ya buk dan apabila aku sudah cukup modal aku akan cepat pulang bersama ibu lagi. Setiap bulan pasti aku juga akan mengirim uang untuk ibu disini.” Jawabku dengan gugup dan berusaha menenangkan ibu. ”Jangan nak, kamu jangan meminjam temanmu, belum tentu temanmu itu uangnya tidak dipakai.” Ibu seolah-olah tetap menahanku untuk tidak pergi kesana. Aku pun terdiam dan merenung, ibu  pun juga.

Malam harinya, tiba-tiba ibu memanggilku, “Jon, Jono, kemarilah!”  perintahnya. “Apa Buk?” aku pun mengahampirinya. “Kamu jangan meminjam uang temanmu, ibu masih punya tabungan cincin dan kalung emas, jual saja ini dan gunakan uangnya untuk berangkat kesana dan jika masih sisa gunakan uangnya dengan sebaik-baiknya.” Tiba-tiba ibu berubah pikiran. “Beneran Buk, apa Ibuk tidak keberatan.” Aku pun menjawab dengan terkejut, perasaanku campur aduk antara senang jadi pergi kesana dan merasa sedih meninggalkan Ibu disini.

Akhirnya aku menjual cincin dan kalung Ibuku keesokan harinya. Setelah menjual kalung dan cincin ibu, aku pergi kerumah Pak Yana untuk mendaftarkan diri. Pak Yana pun senang aku jadi ikut kesana. Dirumah Pak Yana aku dan kesepuluh temanku diberi pengarahan, kami akan berangkat dua minggu setelah pendaftaran. Karena di Malaysia menggunakan Bahasa Melayu, kami pun tidak memalui PT resmi atau bisa dikatakan ilegal, juga Pak Yana merasa kalau kami sudah bisa memahami bahasannya. “Cuma beda sedikit kok logatnya sama kita.” Katanya.

Setelah hari H, sebelum berangkat  aku sungkem kepada Ibuku, Ibu berpesan bahwa, “Nak, kamu hati-hati disana, jangan melanggar aturan disana, selalu ingat sama Yang Maha Kuasa.” “Iya Buk, pasti.” Aku berangkat  diantar Ibuku  sampai kerumah Pak Yana, yang disana sudah ada angkutan umum yang dipesan untuk mengantarkan kami ke Pelabuhan. Angkutanya kecil, sehingga kami harus duduk dengan himpit-himpitan. Angkutan berangkat menuju pelabuhan dengan berjalan pelan, tanganku pun melambai kearah ibuku, kulihat dari kejauhan mata ibuku berbinar-binar seakan mau meneteskan air mata. Setelah lima jam perjalanan, kami pun sampai dipelabuhan. Kami beranjak pindah dari angkutan keperahu. Perjalanan laut pun berakhir setelah keesokan harinya.  Sampai di Malaysia kami tidak langsung bekerja karena masih menunggu aba-aba dari Pak Yana. Sudah dua hari disana kami baru memulai bekerja. Pekerjaan kami disana hanyalah menjadi seorang kuli bangunan. Tetapi, disana kuli bangunan bayaranya lebih besar dibanding bayaran kuli bangunan di Indonesia. Setiap bulan aku mengirim uang untuk ibuku yang ada dirumah, tetapi aku juga menyimpannya sebagian untuk keperluanku dan untuk kutabung disini.

Setahun sudah aku menjadi kuli bangunan di Negri orang, aku mendapat surat dari  Bude yang ada dirumah “Assalamualaikum, Jon ibumu disini sudah seminggu  sakit, setiap malam ibumu selalu memanggil-manggil namamu. Aku kasihan kepada ibumu Jon, jika kamu mau pulanglah. Bude.” Setelah membaca surat itu aku pun langsung bicara pada Pak Yana, “Pak aku mendapat surat dari Bude, katannya ibuku sakit disana dan memanggil-manggil namaku. Jika tidak keberatan aku besok ingin pulang Pak, tidak apa-apa jika aku harus pulang sedirian.” Kataku. “Apa kamu yakin mau pulang sendirian?” tanya Pak Yana. “Iya Pak, saya yakin.” Jawabku dengan penuh keyakinan. “Ya sudah jika itu keputusanmu, ini gaji terakhir untukmu. Dan ini juga ada sedikit uang dariku, gunakan untuk pulang. Sampaikan salamku kepada Ibumu.” “Terima kasih Pak, akan saya sampaikan.”

Aku pulang melalui jalur yang sama dengan jalur keberangkatanku. Ditengah perjalanan aku tetap memikirkan bagaimana keadaan ibu di rumah. Juga aku memikirkan bahwa aku tidak sempat membelikan oleh-oleh untuk saudara-saudara dirumah. Aku merasa sangat tidak tenang dan gelisah. Turun dari perahu aku langsung bergegas mencari angkutan umum. Karena waktu sudah sore, angkutan sudah jarang yang beroperasi, akhirnya aku naik ojek. Sesampainya dirumah, aku pun langsung bergegas menuju rumah Bude untuk menjemput Ibuku. Ketika aku datang Ibu langsung beranjak dari tempat tidur, ibu memeluku dengan erat sambil menangis. “Ibu kenapa?” tanyaku. “I..ibuk kangenn banget sama kamu nak. Kamu nggak papa, kamu baik-baik saja kan? Ibu selalu kepikiran kamu terus nak,” Jawab ibu dengan kata yang patah-patah. “Nggak papa buk, Jono baik-baik saja.” Kataku sambil menenangkan ibu. Sesudah Ibu tenang, bude menarik tanganku, aku dibawa kedapur. “Ada apa bude?” tanyaku dengan penasaran. “Kamu jangan pergi jauh dari ibumu, lihat masih kamu tinggal satu tahun saja ibumu sudah sakit. Jika kamu ingin pekerjaan, toh kamu bisa usaha dirumah. Kasian ibumu setiap hari dia selalu memikirkanmu, ada orang ngomong A jadinya kamu, ada orang ngomong B, jadinya kamu, kan kasian.” Pesan Bude untukku. “Iya Bude maafkan Jono yang tidak berfikir sampai segitu, terima kasih loh Bude sudah mau menemani Ibu selama ini.” Jawabku dengan perasaan yang sangat bersalah. “Iya, sudah sudah” Bude menenangkan. Kemudian aku langsung mengajak ibu pulang. Aku memeriksakan ibu ke Puskesmas, “Ibumu nggak papa cuma kecapekan aja kok.” Kata dokter. “O iya dok, terima kasih.” Aku menjawabnya sambil menghembuskan nafas lega. Beberapa hari kemudian, keadaan Ibuku semakin membaik. Dirumah aku kembali bekerja dengan menjadi buruh seperti sebelum pergi ke Malaysia.

Kehidupan berjalan seperti orang pada umumnya, aku menikahi seorang gadis dari desa sebelah. Dia cantik, dia berasal dari keluarga yang sama sederhananya denganku. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Katy biasanya dia dipanggil, Katiyah nama lengkapnya.

Setelah menikah aku dan istriku membeli limapuluh ekor bibit anak ayam petelur yang rencananya akanku ternakan sebagai awal aku menjadi pengusaha. Aku terinspirasi dengan tetanggaku yang sudah sukses beternak ayam petelur. Uang untuk mebeli bibit ayam, berasal dari tabunganku sejak aku di Malaysia. Setiap hari aku dibantu oleh istriku memberi makan anak ayam tersebut, memberi makannya seperti makhluk hidup pada umumnya, tiga kali sehari. Ketika ayam mulai besar aku memindahkan ayam ke kandang yang lebih besar. Setelah itu, ayam mulai bertelur, setiap pagi aku selalu mengambil telur-telur ayam dengan menaruh pada wadahnya. Setelah tiga hari telur terkumpul aku menjualnya kepada pengepul, hasilnya akan kubelikan pakan ayam lagi dan jika sisa akan ku tabung. Ketika usia ayam sudah tidak lagi produktif, aku menjual ayamnya kepada pembeli ayam afkir. Uangnya akan ku belikan bibit ayam petelur lagi. Usahaku berkembang dengan baik.  Setiap hari itulah yang aku kerjakan dengan istriku. Tetapi tidak setiap hari pengahsilanku dari beternak ayam itu menghasilkan uang yang cukup. Apalagi ketika krisis melanda.  Pasang surut harga telur setiap hari sudah aku hadapi, sehingga aku harus berusaha keras untuk mempertahankan usahaku, dalam menjauhi kebangkrutan. Sedikit demi sedikit aku kumpulkan laba dari usahaku, Alhamdulillah hingga sekarang ketika membeli bibit ayam selalu bertambah. Aku pun sekarang juga sudah mempunyai lima orang pekerja, yang tugasnya memberi makan ayam-ayamku. Sehingga aku dan istriku tinggal mengolah keuangan, dan kini aku pun bisa  menghidupi ibu dan istriku dengan layak.