Skip to content

Gunung Api : Manfaat dan Akibat

2013 November 7
by Vani Novita

A. Gunung Api

Volcano4

Istilah vulkanisme berasal dari kata latin vulkanismus nama dari sebuah pulau yang legendaris di Yunani. Tidak ada yang lebih menakjubkan diatas muka bumi ini dibandingkan dengan gejala vulkanisme dan produknya, yang pemunculannya kerapkali menimbulkan kesan-kesan religiuos. Letusannya yang dahsyat dengan semburan bara dan debu yang menjulang tinggi, atau keluar dan mengalirnya bahan pijar dari lubang dipermukaan, kemudian bentuk kerucutnya yang sangat mempesona, tidak mengherankan apabila dimasa lampau dan mungkin juga sekarang masih ada sekelompok masyarakat yang memuja atau mengkeramatkannya seperti halnya di pegunungan Tengger (Gn.berapi Bromo) di Jawa Timur. Vulkanisme dapat didefinisikan sebagai tempat atau lubang diatas muka Bumi dimana daripadanya dikeluarkan bahan atau bebatuan yang pijar atau gas yang berasal dari bagian dalam bumi ke permukaan, yang kemudian produknya akan disusun dan membentuk sebuah kerucut atau gunung. (Noor, 2009)

Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Material yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. (ESDM,2013) Pada umumnya gunung api terdapat pada jalur-jalur tertentu di muka bumi misalnya pada jalur punggungan tengah samudra, pada jalur pertemuan dua buah lempeng kulit bumi, pada titik-titik panas di muka bumi tempat keluarnya magma di benua maupun di samudra. Berdasarkan pengukuran Very-long Baseline Interferometry atau VLBI diketahui saat ini lempeng Samudera Indo-Australia bergerak ke utara dengan kecepatan rata-rata 5,5-7 sentimeter per tahun, lempeng samudera pasifik bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan rata-rata lebih dari7 sentimeter per tahun dan Eurasia bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan rata-rata 2,6-4,1 sentimeter per tahun. (Nandi,2006)

Akibat tumbukan lempeng tersebut maka Indonesia mempunyai 129 buah gunung api aktif atau sekitar 13 % dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatera, Jawa sampai laut banda. Bukit Barisan (30 buah), pulau Jawa (35 buah), Bali-Nusa Tenggara (30 buah), Kepulauan Maluku (16 buah) dan Sulawesi (18 buah) yang dikategorikan aktif. Gunungapi terdapat di seluruh dunia tetapi lokasi gunung berapi yang berada di sepanjang busur cincin api pasifik. (Nandi, 2006)

Jika kita mengingat kembali teori tektonik lempeng, menurut teori ini bahwa kerak bumi adalah suatu lempeng yang kaku dan bergerak satu terhadap yang lainnya diatas suatu cairan plastik (astenosfer) seperti ban berjalan atau conveyor belt. Lempeng-lempeng tersebut bergerak relatif 5-10 cm per tahun yang masing-masing bergerak saling menjauh yang disebut divergen, saling bertubrukan yaitu konvergen dan saling berpapasan. Dari proses tersebut maka terbentuklah pegunungan berapi atau pegunungan tengah samudera. (Nandi, 2006)

Selain karena pergerakan lempeng, pembentukan gunung api juga terjadi karena adanya gaya endogen. Ketika magma yang bersifat asam akan bergerak ke atas karena lebih ringan sedangkan yang bersifat basa di bagian bawah. Gerakan pemisahan magma di dalam dapur magma tersebut akan menimbulkan gaya keatas mendobrak batuan penyusun kerak bumi dan apabila ada kesempatan akan muncul ke permukaan lewat celah-celah retakan atau lewat pipa gunung api. Magma yang keluar ke permukaan bumi dari proses ekstrusi dinamakan lava. (Nandi, 2006)

Proses ekstrusi atau erupsi berdasarkan lubang keluarnya magma dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu :

  1. Erupsi linier atau erupsi belahan yaitu magma keluar melalui retakan dan celah-celah yang ada di bumi. Magma yang keluar pada umumnya berupa lava cair yang sedikit mengandung material-material lepas.
  2. Erupsi sentral yaitu magma yang keluar melalui diatrema dan kepundan. Diaterma merupakan lubang berupa pipa pada gunung api yang menghubungkan dapur magma dengan kepundan atau dasar kawah gunungapi.  Erupsi sentral terdiri atas tiga macam seri tergantung pada tekanan yang terdapat dalam magma, yaitu :

–          Erupsi efusif atau lelehan karena magma bersifat encer dengan tekanan lemah sehingga hanya menimbulkan lelehan lava melalui retakan yang terdapat pada tubuh gunung api.

–          Erupsi eksplosif yaitu keluarnya magma ke permukaan bumi dengan cara ledakan akibat magma memiliki tekanan yang tinggi. Erupsi ini dikenal dengan letusan gunungapi atau menyemburnya material vulkanik yang berupa padat dan cair.

–          Erupsi campuran yaitu perselingan antara seri lava dan eksplosif, membentuk strato yang terdiri atas pelapisan lava dan bahan-bahan lepas. (Nandi, 2006)

Gunung berapi disamping merupakan gejala geologi yang berupa keluarnya bahan-bahan yang bersumber dari magma, baik itu yang berwujud sebagai gas, lelehan maupun benda padat berupa fragmen-fragmen batuan ke permukaan Bumi, dinamakan erupsi atau erupsi gunung-berapi. Erupsi dapat dikelompokan berdasarkan :

1.         Jenis bahan yang dikeluarkan melalui lubang kepundan, atau lokasi dari tempat keluarnya bahan-bahan dari magma. Berdasarkan jenis bahan yang dikeluarkan, kita mengenal sebutan erupsi efusip apabila bahan yang dikeluarkan hampir seluruhnya terdiri dari lelehan magma yang disebut lava. Sedangkan sebutan erupsi piroklastik, apabila bahan yang dikeluarkan sebagian besar terdiri dari fragmen-fragmen batuan, abu dan gas.

2.         Erupsi juga dapat dikelompokan berdasarkan lokasi atau letak serta bentuk dari tempat keluarnya bahan-bahan magma dari dalam Bumi. Keluarnya bahan-bahan tersebut dapat melalui suatu lubang dipermukaan Bumi yang dihubungkan dengan pipa kedalam magma, atau suatu rekahan yang mencapai tempat berhimpunnya magma.

Untuk ini dikenali adanya 2 (dua) tipe erupsi, yaitu: (1). Erupsi sentral, apabila tempat keluarnya bahan-bahan itu berupa lubang yang yang dihubungkan dengan pipa, atau kepundan, dan berada di bagian tengah dari tubuh gunung-berapi; (2). Erupsi rekahan, apabila bahan-bahan berasal dari magma dikeluarkan melalui rekahan dalam kerak bumi yang bentuknya memanjang. (Noor, 2009)

Rekahan seperti itu terjadi sebagai akibat dari gejala regangan pada kerak yang sedang memisah diri. Bahan yang dikeluarkan melalui erupsi seperti ini umumnya berupa lelehan pijar dari magma atau lava. Meskipun pada umumnya bentuk erupsi sentral yang terdapat pada gunung-berapi terutama didarat berbentuk lubang yang dihubungkan dengan pipa, namun tidak tertutup kemungkinan juga dapat berupa rekahan. Umumnya lokasi erupsi berlangsung pada bagian tengah puncak gunung-berapi, tetapi kadang-kadang juga terjadi pada bagian lereng. Dan apabila ini yang terjadi, maka gejala tersebut dinamakan .flank. atau .lateral eruption. (Noor, 2009)

Adapula erupsi gunung-berapi terjadi pada pada bagian kaki gunung-berapi, maka erupsi seperti itu dinamakan erupsi eksentrik atau erupsi parasitik. Erupsi yang berlangsung pada bagian puncak dinamakan juga erupsi terminal, sedangkan yang terjadi pada bagian lereng disebut sub-terminal. Keduanya selalu dianggap sebagai erupsi puncak, dimana yang sub-terminal merupakan pemisahan saja dari erupsi terminal. Erupsi puncak tidak akan menyebabkan penurunan terhadap kedudukan dari dapur magma, sedangkan erupsi eksentrik justru akan menyebabkan peningkatan kegiatan gas dibagian puncaknya. (Noor, 2009)

Dari letusan gunung api maka akan dihasilkan material-material sebagai berikut :

  1.         Lava. Merupakan cairan larutan silika pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui kawah gunungapi atau melalui celah patahan yang sumbernya membentuk aliran seperti sungai melalui lembah dan membeku menjadi batuan. (Nandi, 2006)

Berdasarkan komposisi dan sifat fisik dari magma asalnya, sifat-sifat ekternal dari lava seperti cara-cara bergerak (mengalir), sebaran dan sifat internalnya seperti bentuk dan strukturnya setelah membeku, tipe lava dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :

a.      Lava basaltis Merupakan lava yang paling banyak dikeluarkan berasal dari magma yang bersusunan mafis, bersuhu tinggi dan mempunyai viskositas yang rendah. Lava ini akan mudah mengalir mengikuti lembah yang ada dan mampu menyebar hingga mencapai jarak yang sangat jauh dari sumbernya apabila lerengnya cukup besar, tipis dan magma yang keluar cukup banyak. Di Hawaii lava basaltis mampu menempuh jarak ± 50 Km dari sumbernya dengan ketebalan rata-rata 5 meter. Di Iceland bahkan jaraknya dapat mencapai 100 Km lebih, dan di dataran Columbia lebih dari 150 Km. Lava basaltis akan membeku menghasilkan 2 macam bentuk yang khas, yaitu bentuk Aa dan Pahoehoe (istilah Polynesia di Hawaii, dilafalkan : pa-hoy-hoy , yang artinya “tali”).

Gambar 2 Lava berbentuk tali

Lava yang encer akan bergerak mengalir dengan kecepatan 30 Km/jam, menyebar sehingga mampu mencapai ketebalan 1 meter, dan membeku dengan permukaan yang masih elastis sehingga akan terseret dan membentuk lipatan-lipatan melingkar seperti tali. Semakin jauh dari pusatnya kekentalannya akan meningkat dan membeku dengan permukaan yang rapuh namun bagian dalamnya yang masih panas dan encer tetap bergerak dan menyeret bagian permukaannya yang membeku. Karena bagian dalamnya bergerak lebih cepat dari permukaannya, maka akibatnya akan membentuk permukaan lava yang kasar, dengan ujung-ujungnya yang runcing-runcing.

b.      Lava andesitis. Lava ini mempunyai susunan antara basaltis dan rhyolitis, atau intermediate. Lava andesitis yang mempunyai sifat fisik kental, tidak mampu mengalir jauh dari pusatnya. Pada saat membeku, seperti halnya lava basalti juga dapat membentuk struktur Aa, kekar tiang dan struktur bantal. Tetapi jarang sekali kembentuk struktur Pahoe-hoe.

c.       Lava rhyolitis. Karena magma jenis ini sifatnya sangat kental, jarang sekali dijumpai sebagai lava, karena sudah membeku dibawah permukaan sebelum terjadi erupsi. (Noor, 2009)

2.      Awan panas. Terdiri dari batuan yang pijar bersuhu tinggi lebih dari 600 C. Awan panas ini dapat dihasilkan dari percikan lava yang mengalir bergulung-gulung seperti awan padahal didalamnya batuan pijar dan material vulkanik yang padat bercampur gas yang suhunya tinggi. (Nandi, 2006) Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah. Aliran piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran dapat mencapai 150-250 km/jam dan jangkauan aliran dapat mencapai puluhan kilometer walaupun bergerak diatas air. (ESDM,2013)

Gambar 3 Awan panas Merapi (merapi.vsi.esdm.go.id)

3.      Abu Vulkanik. Abu vulkanik atau jatuhan piroklastik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan kawah sampai radius 5-7 kilometer dari kawah dan yang berukuran halus dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan hingga ribuan kilometer.

 4.      Gas vulkanik. Adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung api, umumnya dikeluarkan saat terjadi letusan freatik. Contoh gas vulkanik adalah SO2, N2 dan NO2.

 5.      Hujan Lumpur terjadi untuk gunung api yang memiliki danau kawah maka bila terjadi letusan dapat menghasilkan hujan lumpur.

 6.      Aliran lahar terjadi pada suatu gunung api yang baru meletus sehingga banyak materi yang lepas di sekitar puncak terhanyutkan dan bercampur dengan batuan lama disekitar lembah dan mengalir serta merusak apapun yang dilewatinya kemudian mengendap. (Nandi, 2006)

B. Manfaat Gunung Api

Sudah dijelaskan bahwa gunungapi membentuk suatu kerucut raksasa yang mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim sekitarnya, sehingga membuat tanah akan menjadi sangan subur karena batuan dan mineral yang membentuk komposisi tanah gunungapi sangan dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan selain itu air adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup yang ada di permukaan bumi. Bila air meresap dan mengalir kedalam tanah bersentuhan dengan sumber panas dari magma maka akan terbentuklah suatu sumber mata air panas, sedangkan pada bagian tanah yang lebih rendah sebagai mata air biasa.

Maka dengan keberadaan suatu gunungapi itu akan menghasilkan hutan alam sehingga menghasilkan hasil hua yang melimpah, serta dengan segala isinya berupa makhluk hidup sebagai sumber daya flora dan fauna serta bahan galian yang membentuk gunung api tersebut. Selain itu pemanfaatan sumberdaya gunungapi secara langsung maupun tidak langsung sudah dilakukan diantaranya adalah

–            Pemanfaatan sumberdaya hutan industri dan perkebunan tanaman keras dan dapat menghasilkan bahan hasil bumi.

–            Letusan gunung berapi menghasilkan lahan baru yang luas seperti akibat letusan gunung Diamond Head di Hawaii.

–            Pemanfaatan bahan galian batuan dan mineral untuk bahan bangunan atau untuk industri. Pasir, kerikil, dan batu yang sikeluarkan pada saat erupsi dapat digunakan untuk bahan bangunan. Abu hasil letusan juga bisa digunakan sebagai bahan baku semen, batuan apung sebagai sabun gosok.

–            Pemanfaatan sumberdaya panas bumi untuk energi listrik yang ramah lingkungan, keperluan rumah tangga, industri pariwisata. Biasanya pemanfaatn panas bumi secara langsung adalah sebagai daerah pemandian air panas, pemanasan tanah pertanian, pengeringan hasil pertanian dan peternakan, pengeringan kayu dan kertas. Sedangkan pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung adalah sebagai pemanas ruangan, pemanas rumah kaca dan pembangkit listrik. Energi panas bumi ini memiliki dampak postif diantaranya adalah mengurangi keberlanjutan global warming, tidak membutuhkan pasokan bahan bakar, lebih efisien dan ridak akan pernah ada habisnya selama inti bumi panas, geothermal merupakan energi yang ramah lingkungan serta yang terakhir adalah geothermal termasuk pembangkit yang bisa beroperasi tanpa pengaruh waktu dan iklim.

–            Pemanfaatan komoditi gunung api sebagai objek wisata. (Nandi, 2006)

 

C. Akibat Gunung Api

Selain memberikan pengaruh positif, letusan gunung api juga dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan dan lingkungan. Beribu orang banyak yang meninggal dan beberapa ternak mati serta beribu hektar kebun dan sawah ladang hancur akibat letusan gunungapi. Bencana dan bahaya letusan gunungapi berpengaruh secara langsung dan tidak langsung serta dapat merusak bagi kehidupan. Bahaya langsung adalah bahaya yang diakibatkan oleh material yang dikeluarkan secara langsung oleh gunung api itu. Daerah rawan bencana yang akan terlanda oleh pengaruh langsung ini mencakup daerah sekitar puncak (dalam kawah) dan berkembang ke daerah lainnya disekitar kawah, dengan jangkauan yang dilanda dapat mencapai lebih dari 10 km.

Bila kawah berisi air akan membentuk danau kawah dan airnya ada yang netral dengan derajat keasaman 7 atau bersifat asam dengan derajat keasaman kurang dari 7 dan bercampur dengan air sungai maka air sungai tidak dapat dipergunakan untuk keperluan irigasi, minuman ternak, terlebih lagi untuk diminum oleh manusia karena dapat merusak gigi sehingga gigi para oenduduk berwarna hitam dan patah. Hal ini disebabkan karena mengkonsumsi air yang mengandung Fluor (F) sangat tinggi dan bila kekurangan yodium akan menyebabkan penyakit gondok. Lontaran abu gunungapi pada saat letusan juga mengancam keselamatan penerbangan karena abu letusan itu mengganggu penglihatan pada pesawat. Sebaran letusan gunungapi ini akan sangat luas dari beberapa meter sampai ratusan kilometer serta tidak mengenal batas-batas pemerintahan. (Nandi, 2006)

Akibat atau bahaya letusan gunung api dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Bahaya primer atau langsung dapat terjadi karena lemparan bom, aliran lava, dan hembusan letusan seperti hembusan awan pijar, gas beracun, dan pekatnya hujan abu. Sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang timbul karena aliran lumpur yang tercampur dengan batuan. (ESDM, 2013)

 

Bahaya primer atau langsung dari letusan gunung api diantaranya adalah :

a. Lava adalah aliran batuan cair yang meleleh karena suhunya tinggi (sampai 12000 C). Lava mengalir melalui lereng dan dapat mencapai beberapa kilometer. Semua benda yang di lalui hancur terbakar. Lava dapat melongsor dan menimbulkan awan pijar serta letusan gas (degasing).

b. Bom gunung api dapat terlempar dari pusat letusan sejauh radius 10 Km. Bom ini berukuran dari 100C lebih sampai ukuran 1/2 atau 2 sampai 3 m, biasanya panas atau pijar dan dapat menimbulkan kebakaran, baik pada rumah maupun hutan.

c. Pasir dan lapili adalah lemparan material letusan yang lebih kecil dari bom. Pasir berukuran lebih kecil dari 2 mm sedangkan lapili lebih besar dari pasir sampai berukuran beberapa cm. Selain menghancurkan atap rumah karena bebannya, juga pasir dan lapili dapat menghancurkan hutan dan pepohonan.

d. Awan pijar ini adalah suspensi dari material yang halus yang dihembuskan oleh suatu gunung api dan merupakan campuran yang pekat dari gas uap dan materi yang halus tadi. Di Gunung Merapi, Jawa Tengah awan pijar disebut juga “wedus gembel” terjadi karena keluarnya gas dan lemparan material halus dari longsoran kubah yang membara. Awan panas ini mencapai jarak sampai 10 km dari pusat longsoran.

e. Abu gunung api dan gas beracun yang merupakan lemparan material yang paling halus dari suatu letusan gunung api. Pada umumnya suhunya tidak panas lagi. Kadar gas yang keluar terlampau tinggi dari letusan suatu gunung api dapat pula menyebabkan kematian. (ESDM, 2013)

Selain bahaya primer yang diakibatkan oleh letusan gunung api, terdapat bahaya sekunder juga. Bahaya sekunder dari letusan gunung api diantaranya adalah :

  • Lahar Hujan

Lahar hujan terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunung api yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan.  Aliran lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat.             Lahar juga dapat merubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.

  • Banjir bandang

            Banjir bandang terjadi akibat longsoran material vulkanik lama pada lereng gunung api karena jenuh air atau curah hujan cukup tinggi. Aliran Lumpur disini tidak begitu pekat seperti lahar, tapi cukup membahayakan bagi penduduk yang bekerja di sungai dengan tiba-tiba terjadi aliran lumpur.

  • Longsoran vulkanik

Longsoran vulkanik dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunungapi sehingga menjadi rapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat. Longsoran vulkanik ini jarang terjadi di gunung api secara umum sehingga dalampeta kawasan rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat Longsoran vulkanik.   (ESDM< 2013)

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

CAPTCHA Image
*