Makalah Sosper: Repong Damar

Posted: 15th June 2012 by vaan in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Saat ini kerusakan lingkungan hidup terjadi di mana–mana. Kerusakan lingkungan hidup merupakan salah satu masalah krisis global yang dihadapi manusia. Salah satu contoh yang dihadapi sekarang adalah berkurangnya lahan untuk lahan pertanian yang dirubah menjadi lahan pemukiman. Pembukaan lahan dengan penebangan hutan juga menimbulkan masalah baru tentang ketidak seimbangan ekologi di muka bumi. Akan tetapi  masyarakat mulai menyadari akan pentingnya lingkungan untuk masa depan. Sehingga kerusakan lingkungan yang marak saat ini, mulai berkurang. Progam-progam penghijauan mulai digalangkan diberbagai tempat.

Contoh yang real adalah pengelolaan repong damar di daerah pesisir Krui Lampung Barat, Propinsi Lampung. Repong adalah istilah masyarakat Krui untuk menyebut kebun milik mereka yang berisi aneka tanaman. Seperti lada, kopi, petai, durian, nangka, cempedak, duku, juga tumbuhan kayu hutan. Karena pohon damar mendominasi, maka kebun yang menyerupai hutan alam itu disebut Repong Damar. Banyak ahli berpendapat, repong damar merupakan konfigurasi tanaman yang membentuk sistem ekologi sempurna. Proses masyarakat Pesisir Krui membuka lahan sampai dengan membentuk repong damar memang mirip urutan suksesi ekologi hutan.

Getah damar yang dikristalkan merupakan bahan baku berbagai macam industri, seperti permen, cat, vernis, tinta, dan kosmetik, selain itu getah damar digunakan pabrik mebel untuk mengkilapakan kayu. Damar mata kucing yang dihasilkan petani Krui merupakan yang paling banyak dicari pengekspor, sebab berkualitas tinggi. Disebut mata kucing karena kristal getahnya berwarna kuning bening dan berkilau laksana mata kucing.

 

 

 

 

1.2  Rumusan Masalah

  • Apa itu struktur biofisik komunitas desa?
  • Apa faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan?
  • Apa faktor yang dapat menurunkan kualitas biofisik desa?
  • Apa peranan faktor ekonomi, ekologi dan social budaya dalam proses pengambilan keputusan petani dalam kontek pengelolaan hutan atau usahatani?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Defini Struktur Biofisik Komunitas Desa

Struktur biofisik suatu komunitas desa dibagi menjadi dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur biososial, yang mana kedua struktur tersebut memiliki hubungan erat antar satu dengan yang lainnya, dan tidak dapat berdiri sendiri.

Struktur fisik berkaitan erat dengan lingkungan fisik suatu desa dalam berbagai aspek, secara khusus berkaitan dengan lingkungan geografis, seperti  iklim, curah hujan, ketinggian tempat, kelembaban udara, topografi dan lain sebagainya. Sedangkan struktur biososial adalah suatu struktur sosial yang berkaitan dengan faktor-faktor biologis seperti, umur, jenis kelamin, suku bangsa, dan lainnya.

 

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Faktor faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan menurut Nasution (1989) antara lain:

1. Faktor pribadi

- Kontak dengan sumber sumber informasi di luar masyarakatnya.

- Keaktifan mencari sumber informasi.

- Pengetahuan tentang keuntungan relatif dari praktek yang diberikan.

- Kepuasan pada cara cara lama.

2. Faktor lingkungan

- Tersedianya media komunikasi.

- Adanya sumber informasi secara rinci.

- Pengaruh pengalaman dari petani lain.

- Faktor faktor alam.

- Tujuan dan minat keluarga.

Pengambilan keputusan di dalam rumah tangga petani meliputi faktor faktor yang kompleks, termasuk ciri ciri biofisik usahatani, ketersedian dan kualitas input luar dan jasa serta proses sosial ekonomi dan budaya di dalam masyarakat. Di samping itu, selama terjadi perubahan lingkungan ekologis, sosial ekonomi, dan budaya maka sistem usahatani harus pula disesuaikan. Dengan demikian, pertanian mencakup suatu proses pengambilan keputusan tanpa akhir, baik itu untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Proses pengambilan keputusan juga berubah dari waktu ke waktu (Reijntjes, dkk. 1999).

Salah satu variabel utama dalam sistem usahatani adalah pengambilan keputusan di dalam rumah tangga petani tentang tujuan dan cara mencapainya dengan sumber daya yang ada yaitu jenis dan kuantitas tanaman yang dibudidayakan dan ternak yang dipelihara serta teknik dan strategi yang diterapkan. Cara yang ditempuh suatu rumah tangga petani dalam pengambilan keputusan pengelolaan usahatani tergantung pada ciri ciri rumah tangga yang bersangkutan, misalnya jumlah laki laki, perempuan (jumlah anggota keluarganya), usia, kondisi kesehatan, keinginan, kebutuhan, pengalaman bertani, pengetahuan, dan keterampilan serta hubungan antar anggota rumah tangga

2.3 Kualitas Biofisik

Kualitas lingkungan hidup dibedakan berdasarkan biofisik, sosial ekonomi, dan budaya yaitu :

  • Lingkungan biofisik adalah lingkungan yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Komponen biotik merupakan makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan dan manusia, sedangkan komponen abiotik terdiri dari benda-benda mati seperti tanah, air, udara, cahaya matahari. Kualitas lingkungan biofisik dikatakan baik jika interaksi antar komponen berlangsung seimbang.
  • Lingkungan sosial ekonomi, adalah lingkungan manusia dalam hubungan dengan sesamanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Standar kualitas lingkungan sosial ekonomi dikatakan baik jika kehidupan manusia cukup sandang, pangan, papan, pendidikan dan kebutuhan lainnya.
    • Lingkungan budaya adalah segala kondisi, baik berupa materi (benda) maupun nonmateri yang dihasilkan oleh manusia melalui aktifitas dan kreatifitasnya. Lingkungan budaya dapat berupa bangunan, peralatan, pakaian, senjata. Dan juga termasuk non materi seperti tata nilai, norma, adat istiadat, kesenian, sistem politik dan sebagainya. Standar kualitas lingkungan diartikan baik jika di lingkungan tersebut dapat memberikan rasa aman, sejahtera bagi semua anggota masyarakatnya dalam menjalankan dan mengembangkan sistem budayanya. (Anonymous, 2012)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 Sepintas tentang Pesisir Krui

Pesisir Krui adalah daerah di tepi barat Propinsi Lampung. Daerah yang terletak di ujung selatan sisi barat pegunungan Bukit Barisan ini terbagi ke dalam tiga kecamatan yaitu Pesisir Selatan, Pesisir Tengah, dan Pesisir Utara. Luas daerah Pesisir Krui sekitar 300.000 ha dengan dataran pantai yang melebar dari utara ke selatan, dan daerah terjal, berbukit, dan bergunung yang mencapai ketinggian sampai 2.000 meter dpl. Sampai dengan tahun 1983, ketika mulai ada pembalakan kayu oleh perusahaan pemegang HPH (hak pengusahaan hutan), Pesisir Krui masih didominasi oleh tutupan hutan. Dewasa ini luas hutan di Pesisir Krui masih cukup luas yaitu di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang meliputi luas 263.000 ha yang membentang di antara tiga propinsi Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Topografi yang sulit dan kesuburan tanah yang relatif rendah menjadi faktor pembatas dalam melakukan intensifikasi pertanian. Di sepanjang dataran pantai banyak sawah yang dicetak, sedangkan daerah perbukitan didominasi oleh agroforest damar. Kebun damar tersebut awalnya berupa ladang padi, kebun kopi rakyat, dan vegetasi sekunder yang secara bertahap berubah menjadi agroforest kompleks yang mirip hutan alam, didominasi pohon penghasil getah damar.

 

3.2 Pengaruh Yang Mendasari Pengambilan Keputusan Petani Krui

 

3.2.1 Pengaruh Ekonomi

Alasan pertama yang mendorong seseorang memutuskan untuk pergi membuka hutan tidak lain adalah pengaruh ekonomi. Pengambilan keputusan dalam memilih jenis tanaman yang akan dibudidayakan di lahan darak, kebun dan repong didasari oleh pengaruh ekonomi. Terutama permintaan pasar yang sangat tinggi. Pusat produksi damar adalah di sekitar pusat pasar kota Krui di Kecamatan Pesisir Tengah dengan tingkat produksi 56% dari seluruh produksi agroforest damar di Pesisir Krui. Kebanyakan desa di sekitar Pasar Krui memproduksi damar. Kecamatan Pesisir Selatan menyusul dengan tingkat produksi 24%, yang berpusat di ujung selatan kecamatan di sekitar Bengkunat. Peran damar dalam ekonomi rumah tangga bervariasi dari desa ke desa, tetapi umumnya kebun-kebun damar mempunyai beberapa fungsi pokok. Fungsi yang utama adalah sebagai sumber pemasukan uang. Damar disadap secara teratur; sebatang pohon biasanya disadap sebulan sekali, tetapi kebun dikunjungi lebih dari satu kali sebulan. Produksi damar merupakan sumber uang untuk keperluan sehari-hari, misalnya pembelian makanan tambahan dan uang saku anak-anak. Di sebelas desa yang tidak terlibat penuh dalam produksi damar, ternyata damar masih memasok 45% dari rata-rata pemasukan uang keluarga. Dalam 46 desa penghasil damar lainnya pemasukan dari damar berkisar antara 70% sampai 100%. Kegiatan berkebun damar menciptakan rangkaian kegiatan ekonomi yang lain yaitu pemanenan, pengangkutan dari kebun ke desa, penyimpanan, sortasi, dan pengangkutan ke para pedagang besar di pasar Krui. Kegiatan-kegiatan itu dilakukan oleh pemilik kebun dan keluarga (pemanenan dan pengangkutan), pekerja upahan (pengangkutan dan sortasi), dan oleh pedagang pengumpul (penyimpanan di desa, atau di jalan antara kebun dan desa). Selain damar, buah-buahan menghasilkan pemasukan musiman yang cukup lumayan. Saat musim buah, dalam satu hari setiap desa dapat memberangkatkan dua atau tiga truk berkapasitas 6 ton, bermuatan durian atau duku, menuju ke Bandar Lampung atau bahkan ke Jakarta. Penghasilan dari buah-buahan dapat dipakai untuk pengeluaran tahunan, ditabung, untuk hajatan atau untuk keperluan ‘mewah’.

Ada banyak faktor yang menyebabkan pudarnya kejayaan damar Krui. Harga getah damar memang terus merosot. Sebab, lewat perkembangan teknologi, saat ini telah ditemukan bahan sintetis pengganti resin. Akibatnya, posisi tawar komoditas damar di pasar global menjadi melemas. Bekas repong yang mungkin segera menjadi kebun sawit. Itulah yang mendorong belakangan ini banyak pemilik repong tega menebangi pohon-pohon damar milik mereka. Maklum saja, harga sebatang pohon damar bisa mencapai Rp650 ribu. Sedangkan getahnya cuma Rp5 ribu per kilo. Petani agaknya mulai cari cara mudah mendapatkan uang. Untuk memanen getah damar prosesnya memang panjang. Pohon damar yang akan disadap getahnya terlebih dulu dibuat takik. Walau dapat dipanen sepanjang tahun, jangka waktu antara pengambilan getah damar dalam satu pohon berkisar 30 hari. Sementara, satu lubang takik hanya menghasilkan sekitar 0,5 kg kristal getah damar. Penebangan pohon damar yang terus berlanjut itu, tentu saja mengkhawatirkan. Sebab, ia bukan saja menghilangkan tradisi kearifan lokal, juga mengancam kelestarian lingkungan hidup. Selama ini repong-repong damar telah menjadi benteng bagi TNBBS. Warga tidak tertarik merambah kawasan karena mereka punya hutan sendiri. Ketika benteng ini jebol, maka kawasan konservasi yang menjadi warisan dunia itu akan terdesak. Warga yang tidak lagi punya kebun, pasti segera merangsek hutan dan melakukan kerusakan. Oleh sebab itu, pemerintah dan masyarakat wajib mencari jalan agar repong damar dapat diselamatkan.

 

 

3.2.2 Pengaruh Ekologis

Hal kedua yang mendasari keputuan petani Krui dalam mengelola lahan hutan adalah pengaruh ekologis. Pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai karakteristik ekologis daerah Krui sangat menentukan dalam membuat keputusan untuk mengelola lahan hutan dengan sistem repong. Penilaian terhadap keadaan tanah dan iklim menjadi acuan bagi petani dalam menentukan jenis tanaman apa yang akan dibudidayakan.

Pengetahuan petani mengenai sifat-sifat tanaman juga sangat menentukan dalam proses pengambilan keputusan memilih jenis tanaman. Ada tiga jenis tanaman kebun yang popular bagi orang Krui yaitu kopi, lada dan cengkeh. Kopi dan lada bisa dikombinasikan tapi salah satu harus ditanam dalam jumlah lebih sedikit; sedangkan cengkeh biasanya ditanggapi sebagai tanaman yang kurang toleran dengan kehadiran tanaman-tanaman lain di lahan yang sama. Berbeda dengan fase kebun, faktor toleransi tanaman tidak menjadi pertimbangan yang penting bagi petani dalam menentukan pilihan kombinasi jenis tanaman untuk ditanam pada fase repong damar. Hal itu berkaitan dengan pemahaman mereka bahwa repong adalah kebun campuran yang bisa ditumbuhi beranekaragam jenis tanaman sekaligus.

 

3.2.3 Pengaruh Sosial

Pengaruh ketiga yang mendasari keputusan petani Krui dalam mengelola lahan hutan dengan sistem repong damar adalah pengaruh sosial. Pembukaan hutan dilakukan oleh seorang individu, tapi tentu seorang tidak akan mampu mengolah lahan itu seorang diri. Mereka membutuhkan orang lain untuk mengolah lahan tersebut, baik itu keluarga maupun kerabat. Orang Krui mengenal tradisi pengerahan tenaga kerja yang disebut ketulungan dan bebelinan. Yang pertama identik dengan gotong royong berdasarkan sukarela dan tanpa imbalan; sedangkan yang kedua sama dengan arisan tenaga.

Proses duplikasi sistem pengelolaan yang bermula dari ladang, kebun hingga repong damar biasanya berlangsung dengan kehadiran aktor dari dua generasi sekaligus, yaitu orang tua (generasi pertama) dan anak laki-laki (generasi kedua). Ketika aktor generasi kedua ini sudah berangkat tua, ia akan membimbing anak-anaknya lagi (generasi ketiga) membuka hutan seperti yang ia terima dari orang tuanya. Demikian seterusnya ke generasi-generasi berikutnya.

Hal lain yang berkaitan dengan pengaruh social untuk mengelola lahan hutan dengan sistem repong damar adalah terbukanya peluang bagi seseorang atau sebuah keluarga untuk naik kelas sosial di lingkunngan komunitas desanya. Satu lagi adat dari orang Krui, yaitu harta mereka akan diwariskan kepada anak sulung, sehinggan anak-anak selanjutnya tidak akan mendapat bagian. Menumpuknya sumberdaya di tangan seseorang sudah tentu membawa implikasi pada munculnya sikap elitis yang akan menempatkan seseorang tersebut dalam posisi yang lebih tinggi pada jenjang struktur sosial. Pada gilirannya, pemilikan repong damar menjadi simbol status sosial.

 

3.2.4 Pengaruh Kultural

Petani Krui menempatkan fase-fase pengelolaan lahan hutan mulai dari ladang, kebun, hingga repong damar pada tataran yang berbeda. Ladang ditanggapi sebagai fase yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan subsistensi. Dengan hasil kebun seseorang bisa mewujudkan banyak hal yang bersifat monumental dalam kehidupannya, misalnya membangun rumah, menerima gadaian atau membeli sawah dan repong damar, modal untuk berdagang, naik haji, membiayai pendidikan anak, dan lain sebagainya. Bagi petani Krui, membangun repong damar juga merupakan perwujudan amanah mereka untuk mewariskan sesuatu yang bermanfaat secara kongkrit bagi keturunannya. pengetahuan mereka mengenai tahapan-tahapan pengelolaan hutan dijadikan sebagai acuan dalam tindakan pengelolaan lahan hutan. Tapi hal itu bukanlah suatu keadaan yang tanpa gangguan. Paling tidak pengalaman mereka pada tahun 1970-an mencuatkan fakta bahwa sebagian petani justru menghentikan pengelolaan lahan pertaniannya sampai pada fase kebun dan tidak dilanjutkan ke fase repong. Namun ketika tanaman cengkeh mereka musnah diserang hama pada tahun 1980-an sehingga mengguncang ekonomi rumah. Karena hal itulah petani Krui telah kembali ke format awal model pengelolaan lahan hutan, yaitu mulai dari ladang, kebun, dan berakhir pada fase repong damar.

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

 

4.1 Kesimpulan

Dari hasil makalah yang telahkami buat ada empat pengaruh yang mendasari keputusan petani dalam pengelolaan lahan hutan yaitu: (a) pengaruh ekonomi, (b) pengaruh ekologis, (c) pengaruh sosial dan (d) pengaruh kultural. Pengaruh ekonomis mencakup rangsangan yang hadir dalam wujud variabel-variabel ekonomi, seperti fluktuasi harga, akses pasar, modal (material, tenaga kerja dan waktu), dan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Pengaruh ekologis meliputi kualitas tanah, topografi lahan, dan perilaku tanaman. Pengaruh sosial meliputi status sosial dan hubungan-hubungan sosial. Pengaruh kultural mencakup pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai budaya yang terkait dalam pengelolaan lahan hutan. Pengaruh EkonomisAdanya hubungan yang simbiosis antara keempat pengaruh tersebut membawa petani pada pandangan bahwa pengelolaan lahan hutan dengan sistem repong damar adalah pilihan yang paling menguntungkan. Karena setiap fase pengelolaan lahan hutan (darak, kebun dan repong) memberikan kontribusi yang saling mendukung satu sama lain sehingga meminimalkan resiko kegagalan dalam aktivitas pertanian.

 

4.2 Saran

Saran terhadap permasalah repong damar di pesisir Krui Lampung Barat, Propinsi Lampung. Dalam mengambil suatu keputusan harus mementingkan segala aspek supaya tidak ada yang dirugikan. Pengambilan keputusan di  tidak hanya untuk kepentingan ekonomi saja akan tetapi juga mementingkan faktor lingkungan, sehingga tidak berdampak buruk yang berkepanjangan terhadap lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*