TUGAS DISKUSI ANALISIS LANDSKAP TERPADU KELAS A

February 14th, 2018

TUGAS DISKUSI

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

 

Disusun Oleh:

Tya Lestari                          155040201111155

Meka Lianasari                   155040201111247

Achmad Azhari Sidik         155040207111090

Muzna Aqila                       155040207111149

Kelas: A

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018


 

Mengapa Malang Dikelilingi oleh Banyak Gunung ?

Matahemual (1982) menyebutkan bahwa gunung api (vulkan) adalah suatu bentuk timbulan di muka bumi yang pada umumnya berupa suatu kerucut raksasa, kerucut terpacung, kubah ataupun bukit yang diakibatkan oleh penerobosan magma ke permukaan bumi. Pada umumnya terdapat beberapa jalur tertentu di muka bumi, yakni pada jalur punggung tengah samudra, jalur pertemuan dua buah lempeng kulit bumi dan pada titik-titik panas dimuka bumi tempat keluarnya magma pada benua maupun samudra.

Malang raya merupakan salah satu daerah yang dikelilingi banyak gunung berapi. Sebelum berfokus kepada daerah Malang, maka telebih dahulu mengetahui proses pembentukan gunung berapi pada Indonesia. Menurut Waluyo (2010) menjelaskan bahwa proses pembentukan gunung berapi dapat terbentuk karena adanya jalur aktif yang ditandai dengan seismisitas atau bisa disebut dengan kegempaan yang tinggi dan merupakan batas antar lempeng. Sedangkan di Indonesia sendiri merupakan daerah yang terletak pada tiga lempeng utama bumi yaitu meliputi Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (Pratama dkk, 2014). Ketika mempunyai tiga lempeng utama maka yang akan terjadi adalah peristiwa subduksi antar kedua lempeng lempeng atau lebih berimbas pada melelehnya material batuan kerak bumi sehingga bergerak ke permukaan karena berat jenih batuan pada kerak bumi yang lebih rendah (Proses Undasi) (Asriningrum dkk, 2004).

Secara keseluruhan maka Indonesia merupakan negara yang disebut dengan “Cincin Api Pasifik” atau Ring of Fire on Pacific Rims. Artinya adalah rangkaian jalur gunung api yang statusnya tergolong aktif tersebar di atas lempeng bumi (Bronto, 2006). Daerah Jawa sendiri termasuk zona pertemuan antar kedua lempeng tektonik dan merupakan jalur vulkan aktif. Lempeng tersebut mempertemukan antara Lempeng Indo Australia yang menumbuk di bawah Lempeg Australia. Akibat tumbukan lempeng tersebut maka Indonesia mempunyai 129 buah gunung api aktif atau sekitar 13% dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatra, Jawa hingga laut Banda. Pulau Jawa sendiri memiliki total 35 gunung yang hingga kini masih aktif. Kantili (1979) menyebutkan bahwa di Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera, pembentukan gunung api terjadi akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan kerak Benua Asia. Di Sumatera penunjaman lebih kuat dan dalam sehingga bagian akresi muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, dll. Tumbukan antara lempeng-lempeng tersebut dimungkinkan juga banyak terjadi di Malang sehingga terbentuk berbagai gunung berapi dengan jumlah yang cukup banyak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Malang Raya yang termasuk dalam daerah Jawa akan mempunyai gunung api aktif ataupun tidak dalam jumlah cukup banyak seperti: gunung semeru dan gunung tengger.

Gambar 1. Proses Pembentukan Gunung Api 

Bentang Lahan dan Proses Geomorfologi Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta

A. Posisi Geografis

Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis, Kabupaten Gunungkidul terletak di 110 ̊21′ – 110 ̊50′ Bujur Timur dan 7 ̊46′ – 8 ̊09′ Lintang Selatan. Kabupaten Gunungkidul terletak di bagian selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas  wilayah Provinsi DIY. Ibukota Kabupaten Gunungkidul yaitu Kota Wonosari. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta dengan jarak ±39 km.

Gambar 2. Peta Geografi Kabupaten Gunung Kidul

B. Topografi

Kabupaten Gunung Kidul memiliki topografi karst yang terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Bentang alam pegunungan menyebabkan lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan yang bervariasi.

Gambar 3. Peta Topografi Kabupaten Gunung Kidul

C. Bentang Lahan dan Proses Geomorfologi Zona Karst Gunung Sewu Kabupaten Gunung Kidul

Daerah Gunung Sewu merupakan perbukitan kerucut karst yang berada di zona fisiografik Pegunungan Selatan Jawa Tengah – Jawa Timur, dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini seringkali mengalami kekeringan di musim kemarau, karena air permukaan yang langka. Diperkirakan terdapat cukup banyak air di bawah tanah, terbukti dari banyak dijumpainya sungai-sungai bawah permukaan. Geomorfologi Daerah Gunung Sewu, berdasarkan morfogenetik dan morfometriknya dapat dikelompokkan menjadi tiga satuan, yaitu Satuan Geomorfologi Dataran Karst, Satuan Geomorfologi Perbukitan Kerucut Karst, dan Satuan Geomorfologi Teras Pantai. Secara umum karstifikasi di daerah ini sudah mencapai tahapan dewasa.

Lapisan paling bawah stratigafi Daerah Gunungsewu berupa endapan vulkanik yang terdiri dari batupasir tufaan, lava, dan breksi, yang dikenal sebagai Kelompok Besole. Di atas batuan basal tersebut, secara setempat-setempat didapatkan napal Formasi Sambipitu, serta batu gamping tufaan dan batu gamping lempungan Formasi Oyo. Di atasnya lagi dijumpai batu gamping Gunung Sewu Formasi Wonosari yang dianggap merupakan lapisan pembawa air. Di bagian paling atas, berturut-turut terdapat napal Formasi Kepek, endapan aluvial dan endapan vulkanik Merapi.

Daerah Panggang Gunung Sewu ini terletak di kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta yang merupakan bentukan asal solusional berupa polye. Daerah ini memiliki relief yang berbukit dengan kandungan batu gamping yang tebal dengan struktur berlapis dengan batuan dasar (basement) berupa batu breksi dan bagian atas berupa batu gamping. Proses pembentukan daerah ini adalah melalui pengangkatan dasar laut dangkal (zona litoral) karena adanya pengaruh tenaga endogen atau tektonik. Polye ini sendiri terbentuk karena adanya gua bawah tanah yang runtuh atau ambles karena tidak mampu menahan bebannya sendiri.

Proses geomorfologi yang terjadi di daerah ini adalah berupa erosi dan pelapukan pada batugamping sehingga lapies lapuk dan berubah menjadi tanah mediteran atau terrarosa. Tanah didaerah ini berupa tanah terrarosa atau mediteran yang bercampur dengan robakan batu gamping kasar, perkembangan tanah tidak terlalu dominan karena didaerah ini jarang terjadi hujan.  Tanah ini sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur dan memiliki  kejenuhan basa lebih dari 50 %, bertekstur lempung debuan namun kondisi tanahnya masih dapat diusahakan untuk kepentingan pertanian lahan kering.

Batuan-batuan karbonat Formasi Wonosari yang berumur Mio-Pliosen mendominasi bagian selatan Pegunungan Selatan, membentuk topografi kars yang dikenal dengan nama  Gunung Sewu. Secara umum, perbukitan kars Gunung Sewu melampar dengan arah TTg-BBL. Bagian selatan Gunung Sewu merupakan pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudera India oleh gawir-gawir erosi. Bagian utara Gunung Sewu memiliki batas yang  bervariasi dengan fisiografi di sekitarnya. Gunung Sewu dibatasi oleh kelurusan semi-sirkuler dengan arah umum TTg-BBL dengan Cekungan Wonosari dan Cekungan Baturetno.

Selain itu, perbukitan kars tersebut menumpang secara tidak selaras terhadap  batuan beku dan volkaniklastik Oligo-Miosen yang telah tererosi pada ujung baratdaya  Lajur Baturagung, pada ujung selatan Masif Panggung, dan pada bagian timur Cekungan Baturetno. Bidang ketidakselarasan tersebut sering disebut sebagai bidang peneplain Pegunungan Selatan level pertama (Pannekoek, 1949). Penumpangan batugamping Gunung Sewu tersebut menghasilkan suatu transisi morfologi yang bersifat gradual dari  perbukitan volkanik struktural di sebelah utara menjadi perbukitan kars di sebelah selatan. Puncak-puncak perbukitan kerucut kars yang relatif horisontal sering disebut sebagai bidang peneplain Pegunungan Selatan level kedua (Pannekoek, 1949).

Di Pantai Wediombo batuan karbonat Formasi Wonosari menumpang secara tidak selaras diatas batuan beku Miosen. Selaras dengan konsep peneplainisasi pertama dari Pannekoek (1949), selanjutnya Hartono (2000) menginterpretasikan batuan beku tersebut sebagai sisa erosi dari  tubuh gunungapi. Orientasi perbukitan dan lembah lembah kars di Gunung Sewu bervariasi secara geografis. Bagian utara didominasi oleh kelurusan berarah BL-Tg, sedangkan bagian selatan  didominasi oleh kelurusan berarah TTg-BBL yang relatif sejajar dengan garis pantai saat  ini. Pola kelurusan pertama dapat dengan jelas dilihat di selatan Masif Panggung dan selatan Giritontro. Beberapa penelitian menunjukkan pola kelurusan yang kedua tersebut dibentuk oleh undak-undak pantai purba yang kemungkinan disebabkan oleh pengangkatan episodik Pegunungan Selatan (Sartono, 1964; Surono, 2005). Bila interpretasi ini diterapkan pada pola kelurusan pertama di sebelah utara, maka implikasinya adalah adanya perubahan pola pengangkatan Pegunungan Selatan. Bukti pengangkatan Pegunungan Selatan yang bersifat episodik juga datang dari endapan teras sungai di utara Teluk Pacitan (Harloff, 1933; Movius, 1944).

Kliping Studi Kasus Kebencaan

  1. Bencana Banjir di Banyuwangi

2. Bencana Banjir di Wonogiri

3. Bencana Tanah Longsor di Wonogiri

4. Bencana Banjir dan Longsor Di Pacitan

DAFTAR PUSTAKA

Harloff, Ch.E.A. 1933. Geologische kaart van Java. Toelichting bij blad 24.

Hartono, G. 2000. Studi gunung api Tersier: Sebaran pusat erupsi dan petrologi di Pegunungan Selatan, Yogyakarta. Thesis Magister Teknik, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 168 p (tidak diterbitkan).

Movius, H.L. 1944. Early Man and Pleistocene Stratigraphy in Southern and Eastern Asia. Mus. Am. Arch. & Ethn. Harv. Univ. XIX, no. 3.

Pannekoek, A.J. (1949) Outline of the Geomorphology of Java. Reprint from Tijdschrift van Het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, vol. LXVI part 3, E.J. Brill, Leiden, pp. 270-325.

Sartono, S. 1964. Stratigraphy and Sedimentation of the Easternmost Part of Gunung Sewu (East Djawa). Publikasi Teknik Seri Geologi Umum, no. 1, Direktorat Geologi, Bandung, 95 p.

Surono, B. Toha, dan Ign. Sudarno. 1992. Peta Geologi Lembar Surakarta-Giritontro, Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!