TUGAS ANLAN PROSES EKSOGEN

March 25th, 2018

TUGAS ANALISIS LANDSKAP

“Proses Eksogen”

Disusun Oleh:

Nama          : Tri Mutieq Arrohma

NIM       : 155040201111013

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

Eksogen, atau tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifatnya merusak atau merombak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen juga mengakibatkan bentuk-bentuk muka bumi. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga air, angin, dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi. Contoh seperti bukit atau tebing yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin, sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi.

Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya grafitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus.

Contoh lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut menerjang pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin. Proses eksogen terbentu mlaui beberapa cara, anatara lain :

  • Atmosfer, yaitu eksogen yang terbentuk , yaitu perubahan suhu dan angin
  • Air, yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dll
  • yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Pengerusakan bentuk muka bumi oleh tenaga eksogen dapat terjadi dalam beberapa cara berupa pelapukan, pengikisan (erosi) dan pengendapan.

  1. Pelapukan, Pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Proses pelapukan dapat dikatakan sebagai proses penghancuran massa batuan melalui media penghancuran, berupa sinar matahari, air, gletser, reaksi kimia, kegiatan makhluk hidup. Pelapuka dapat digolongkan menjadi beberapa bagian :
  • pelapukan fisik mekanik, Pelapukan mekanik (fisik) adalah proses pengkikisan dan penghancuran bongkahan batu jadi bongkahan yang lebih kecil,tetapi tidak mengubah unsur kimianya. Proses ini disebabkan oleh sinar matahari, perubahan suhu tiba-tiba, dan pembekuan air pada celah batu. Proses terjadinya pelapukan fisik dan mekanik yaitu :
  1. topografi, Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun, di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
  2. Pembekuan air pda batuan Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
  3. Perubahan air garam menjadi kristal Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.
  • Pelapukan organic, merupakan Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan danmanusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akarakar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun
  • Pelapukan kimiawi Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO3). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.

Selain itu proses juga terjadi pada daerah Kasrt. Gejala atau bentuk – bentuk alam yang terjadi di daerah karst diantaranya:

  1. Dolina, Dolina adalah lubang yang berbentuk corong yang terjadi karena erosi (pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir di semua bagian pegunungan kapur di Jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan seribu.
  2. Goa dan sungai dalam tanah, Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan. Retakan akan semakin besar dan membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena pengaruh larutan. Jika lubang-lubang itu berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah.
  3. Stlaktik dan slatakmit, adalah kerucut kerucut kapur yang bergantungan pada atap gua. Terbentuk dari kapur yang tebal akibat udara masuk dalam gua. Stalakmit adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua. Contohnnya stalaktit dan stalakmit di Gua tabuhan dan gua Gong di Pacitan, jawa Timur serta Gua Jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah.
    1. Erosi, Erosi oleh air adalah  erosi yang di sebabkan oleh air atau air hujan.Jika tingkat curah hujan berlebihan sedemikian rupa sehingga tanah tidak dapat menyerap air hujan maka terjadilah genangan air yang mengalir kencang.Aliran air ini sering menyebabkan terjadinya erosi yang parah karena dapat mengikis lapisan permukaan tanah yang dilewatinya, terutama pada tanah yang gundul. Akibat adanya erosi, bentuk dari permukaan bumi akan berbeda. Pengikisan permukaan bumi akan mengakibatkan tebing sungai dalam, lembah semakin curam, dan membentuk gua.

    Berikut ini beberapa macam erosi dan akibat dari adanya erosi yang dapat mengubah beberapa bentuk muka bumi.

    1. Erosi oleh angin, Erosi oleh angin adalah pengikisan yang disebabkan oleh angin. Hembusan angin kencang yang terus menerus di daerah yang tandus dapat memindahkan partikel-partikel halus batuan di daerah tersebut sehingga membentuk suatu formasi, misalnya bukit-bukit pasir di gurun atau pantai.
    2. Erosi oleh gletser, Merupakan pengikisan yang dilakukan oleh gletser (lapisan es) di daerah pegunungan. Pengikisan ini terjadi di daerah yang memiliki empat musim. Pada saat musim semi, terjadi erosi oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Akkibatnya lereng menjadi lebih terjal. Contoh bentang alam yang terjadi akibat erosi gletser adalah pantai fyord, yaitu pantai dengan dinding yang berkelok kelok.
    3. Erosi akibat gletser, Batuan atau sedimen yang bergerak terhadap kemiringannya merupakan proses erosi yang disebabkan oleh gaya berat .Erosi  ini akan berlangsung sangat cepat sehingga dapat menimbulkan  bencana longsor.
    4. Sedimentasi (Pengendapan)

    Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin. Proses sedimentasi atau pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya :

    • Meander, Meander merupakan sungai yang berkelok – kelok yang terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai dimulai dari sungai bagian hulu.Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk juga kecil.  Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan. Pada bagian tengah, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungi, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepi sungai yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan. Apabila hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander. Meander biasanya terbentuk pada sungai bagian hilir, dimana pengikisan dan Pengendapan terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan terpisah dari aliran sungai.

Tugas anlan Denudasi

March 6th, 2018

TUGAS ANALISIS LANDSKAP

“Proses Dunudasi”

Dosen Pengampu : Dr. Ir Sudarto, MS

 

 

 

Disusun Oleh:

Nama             : Tri Mutieq Arrohma

NIM              : 155040201111013

Kelas                         : E

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi yang berpengaruh terhadap permukaan bumi. Tenaga eksogen dapat menyebabkan relief permukaan bumi berubah. Proses perubahan muka bumi dapat berlangsung secara mekanis, biologis, maupun secara kimiawi. Tenaga eksogen ini menyebabkan terjadinya pelapukan, erosi, gerak massa batuan, dan sedimentasi yang bersifat merusak bentuk permukaan bumi. Proses dari tenaga eksogen ada 2, yaitu denudasi dan deposisi. Denudasi adalah proses pengelupasan batuan induk yang telah mengalami proses pelapukan atau akibat pengaruh air sungai, panas matahari, angin, hujan , embun beku dan es yang bergerak ke laut. Sedangkan deposisi atau disebut juga pengendapan dan apabila terjadi kenaikan dataran disebut agradasi.

Denudasi berasal dari kata nude yang berarti telanjang yang berarti denudasi merupakan suatu proses penelanjangan permukaan bumi. Denudasi akan menurunkan bagian dari permukaan bumi hingga mencapaimencapai permukaan bumi yang hamper datar memebentuk dataran. Selain itu Denudasi merupakan proses terjadinya pelapukan, pemindahan masa karena gaya gravitasi, erasi dan agen trasnportasi (Herlambang, Sudarno (2014).

Proses terjadinya denudasi di tropika basah dipengaruhi oleh karakteristik lahan dan peranan vegetasi. Ada beberapa proses terjadinya denudasi yakni proses denudasi kimia, eluviasi mekanik dan proses pemindahan secara fisik. Namun ketiganya hanya dikelompokkan dalam dua kategori antara lain proses denudasi kimia dan proses mekanik dibawah pengaruh gaya berat dan aliran air saja. Proses-proses tersebut dipengaruhi oleh iklim, vegetasi dan lingkungan geokimia. Menurut Paryono (1994) proses denudasi memiliki beberapa ciri – ciri yang dapat dilihat dari bentuk lahannya, anatara lain :

  1. Relief sangat jelas.
  2. Tidak ada gejala structural, batuan massif, strike tertutup.
  3. Dapat dibedakan melalui bentuk.
  4. Relief local, pola alirandan kerapatan alira menjadi dasar utama untuk merinci satuan bentuk lahan.
  5. Litologi yang menjadi pembeda untuk mencirikan satuan bentuk lahan. Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran dan tipe proses.

Denugasi dapat mempengaruhi adanya bentuk lahan. Proses terbentuknya bentuk lahan oleh dunidasional meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan dan proses pengendapan. Berikut ini penjelasan mengenai proses terbentuknya lahan oleh denudasi menurut (Herlambang, Sudarno (2014).

  1. Pelapukan, merupakan suatu proses yang berhubungan dengan perubahan sifat baik sifat fisik maupun kimia batuan dipermukaan bumi yang dipengaruhi oleh suatu cuaca. Selain itu pelapukan suatu proses penghancuran massa batuan oleh tenga eksogen. Jenis – jenis pelapukan dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, seperti pelapukan fisik yang ditimbulkan oleh perubahan lingkungan atau karena interupsi kedalam pori – pori atay patahan, pelapukan kimiawi yang disebabkan oleh reaksi kimia yang akan berpengaruh terhadap massa batuan (batuan akan mengalami pecah dalam waktu yang cepat),pelapukan biologi yang diakibatkan oleh aktivitas makhluk hidup yang bersifat mekanikmaupuk kimiawi.
  2. Gerakan massa batuan, merupakan suatu perpindahan atau pergerakan massa dari batuan atau tanah yang ada dilereng oleh pengaruh gaya berat atau gravitasi maupun tingak kejenuhan dari massa air.
  3. Erosi, merupakan uatu proses geomorfologi dimana material permukaan bumi mengalami pelepasan maupun pengangkatan oleh tenaga geomorfologis seperti angina, air, gletser ataupun gravitasi. Proses erosi biaanya dipengarungi oleh curah hujan, kemiringan dari suatu lereng, aliran air maupun vegetasi tutupan lahan.
  4. Sedimentasi atau pengendapan, merupakan suatu proses penimbunan suatu bahan oleh hasil erosi yang terbawa oleh limpasan permukaan, angina, maupun gletser. Proses sedimentasi sebagian besar diakibatkan oleh proses erosi. Sedimentasi dapat dibagi menurut tenaga alamnya dalam beberapa kelompok, seperti sedimentasi air sungai, air laut, angina dan gletser.

Denugasi juga memiliki bentuk yang berbeda – beda. Bentukan denudasi dapat dibedakan antara lain :

  1. pegunungan denugasi
  2. perbukitan denudasi
  3. perbukitan terolisasi
  4. lereng kaki
  5. gabungan kipas kolluvial
  6. dinding terjal
  7. lahan rusak
  8. keruvut talus
  9. daerah dengan gerak massa
  10. rombakan kaki lereng.

Dengan adanya masalah tersebut dibutuhkan beberapa solusi untuk mengatasi dampak dari proses denudasi tersebut. hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi adanya denudasi yaitu , pegolahan tanah seperti penataan tanaman yang teratur, pembuatan tembok besi ditepi sungai, reboisasi, penempatan batu disepanjang pesisir pantai, pembuatan pemecah ombak air laut, pembuatan teras pada lereng serta melakukan pengerukan pada muara sungai yang mengalami pendangkalan karena sedimentasi

DAFTAR PUSTAKA

Herlambang sudarno. 2014. Geomorfologi Dasar. Universitas Malang. Malang

Paryono, P. 1994. Sistem Informasi Geografis. Andi Offset. Yogyakarta.

TUGAS ANLAN TEKTONIK

March 3rd, 2018

TUGAS ANALISIS LANDSKAP

“Proses Tektonik”

 

 

 

Disusun Oleh:

Nama          : Tri Mutieq Arrohma

NIM                       : 155040201111013

Kelas           : C

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018


Geomorfologi adalah mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yangmenyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera. Geografi fisik mempelajari bentang lahan (landscape), yaitu bagian ruang dari permukaan bumi yang dibentuk oleh adanya interaksi dan interdependensi bentuk lahan.Geografi fisik mempelajari bentang lahan (landscape), yaitu bagian ruang dari permukaan bumi yang dibentuk oleh adanya interaksi dan interdependensi bentuk lahan. Perhatian utama geografi fisik adalah lapisan hidup (life layer) dari lingkungan fisik, yaitu zona tipis dari daratan dan lautan yang di dalamnya terdapat sebagian besar fenomena kehidupan (Sutikno,1990).

Berdasarkan uraian tentang pengertian geografi fisik seperti di atas,maka dapat disebutkan bahwa geomorfologi merupakan unsur geografi fisik dengan penekanan nya pada bentuk lahan beserta karakteristiknya. Oleh karena itu geomorfologi memiliki keterkaitan yang erat.Dalam studi geomorfologi dapat memberikan informasi yang berharga bagi geografi fisik. Miller (1961) dalam verstappen (1983 :30) mengungkapkan peranan geomorfologi adalah sebagai berikut :

  1. Geomorfologi elementer, yang memanfaatkan bentuk lahan untuk identifikasi batuan kerucut gunung api dan lain sebagainya
  2. geomorfologi suplemen: memanfaatkan kejadian atau gejala geomorfologi untuk memecahkan masalah geologi misalnya erosi selektif untuk mengetahui jenis batuan dan struktur.
  3. Geomorfologi komplementer: memanfaatkan gejala geomorfologi untuk melacak fenomena geologi yang tidak jelas seperti penyimpangan arah aliransungai untuk melacak sesar.
  4. Geomorfologi independen: menerapkan geomorfologi untuk studi geologi pada daerah yang miskin singkapan , dengan kajian geomorfologi yang mendalam dapat memberikan informasi yang bermanfaat.

Faktor geomorfologi yang terdiri atas bentuk lahan, proses, material penyusun, dan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembagian tanah dari suatu daerah dan tingkat perkembangan tanah. Factor pembentuk tanah seperti batuan induk,iklim, relief, vegetasi, waktu, dan organisme sebagian merupakan aspek geomorfologi.satuan bentuk lahan yang menjadi sasaran utama dalam geomorfologi banyak digunakan untuk satuan pemetaan tanah. Jadi ada hubungan logis antara bentuk lahan dengan satuan peta tanah. Pada aspek fisik geomorfologi dapat memberikan informasi melalui kajian dengan pendekatan geomorfologi. Pendekatan geomorfologi digunakan dalam melakakukan analisis dan klasifikasi medan (terrain analysis and classification) dengan beberapa parameter seperti yang dikemukakan oleh Zuidam, et al (1978 : 9 – 22), dimana pada intinya dalam analisis dan klasifikasi medan dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Relief/morfologi meliputi bagian lereng, ketinggian, kemiringan lereng, panjang lereng, bentuk lereng, bentuk lembah, dan aspek relief yang lain.
  2. Proses geomorfologi meliputi erosi dan tipe erosi, kecepatan dan daerah yang terpengaruh; banjir yang meliputi tipe, frekuensi, durasi, kedalaman, dan daerah yang terpengaruh; gerakan massa yang meliputi tipe, kecepatan, daerah yang terpengaruh.
  3. Tipe material batuan meliputi batuan induk, material permukaan, kedalaman pelapukan.
  4. Vegetasi dan penggunaan lahan meliputi tipe vegetasi, kepadatan, tipe penggunaan lahan, periode, durasi, dan konservasi.
  5. Air tanah mencakup kelembaban permukaan, kedalaman air tanah, fluktuasi air tanah, dan kualitas air tanah.
  6. Tanah mencakup kedalaman, kandungan humus, tekstur, drainase, dan daerah berbatu.

Struktur dan Lapisan Bumi

Ketebalan kulit bumi berbeda pada setiap wilayah tergantung ketinggian wilayah tersebut. Menurut Novitayani (2012) Struktur dan lapisan bumi dapat diurakan sebagai berikut :

  1. Menurut komposisi (jenis dari materialnya), bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut :
  • Kerak Bumi (crust), merupakan kulit bumi bagian luar (permukaan bumi) dengan massa 0,3% dari massa keseluruhan bumi. Tebal lapisan kerak bumi mencapai 70 km dan merupakan lapisan batuan yang terdiri dari batu-batuan basa dan masam. Lapisan ini menjadi tempat tinggal bagi seluruh mahluk hidup. Suhu di bagian bawah kerak bumi mencapai 1.100°C. Lapisan kerak bumi yang paling atas disebut litosfer. Kerak bumi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu :
  • Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri dari batuan granit di bagian atasnya dan batuan beku basalt di bagian bawahnya. Kerak ini yang merupakan benua. Kerak benua memiliki kedalaman 40-200 km.
  • Kerak samudera, merupakan benda padat yang terdiri dari endapan di laut pada bagian atas, kemudian di bawahnya batuan batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan peridolit. Kerak ini menempati dasar samudra. Kerak samudra memiliki ketebalan 50-100 km.
  • Selimut atau Selubung (mantle), merupakan lapisan yang terletak di bawah lapisan kerak bumi atau lapisan yang terdapat di atas lapisan nife. Selimut/selubung (mantle) disebut juga lapisan pengantara atau astenosfer dan merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan berpijar. Tebal selimut bumi mencapai 2.900 km dan berat jenisnya rata-rata 5 gr/cm3. Suhu di bagian bawah selimut bumi mencapai 3.000°C.

Inti Bumi (barisfer atau core), merupakan bahan padat yang tersusun dari lapisan nife (niccolum = nikel dan ferrum = besi). Disebut barisfer karena inti bumi mempunyai massa jenis yang besar yaitu 10,7 gram/cc dibandingkan dengan kulit bumi (litosfer). Jari-jari ± 3.470 km dan batas luarnya ± 2.900 km di bawah permukaan bumi. Temperatur di inti bumi diperkirakan tidak lebih dari 30000C. Adanya bahan nikel dan besi ini yang menyebabkan bumi mempunyai sifat kemagnetan yang luar biasa. Lapisan inti dibedakan menjadi inti luar dan inti dalam. Inti luar tebalnya sekitar 2.000 km dan terdiri atas besi cair yang suhunya mencapai 2.200°C. Inti dalam merupakan pusat bumi berbentuk bola dengan diameter sekitar 2.700 km. Inti dalam ini terdiri dari nikel dan besi yang suhunya mencapai 4.500°C.

  • Menurut sifat mekanik (sifat dari materialnya), bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut :
  • Litosfer : Lapisan ini pada kedalaman 50-200 km, tebalnya sekitar 50-100 km, dengan masa jenis rata-rata 2,9 gram/cc. Lapisan ini merupakan lapisan bebatuan yang mengapung diatas astenosfer.
  • Astenosfer : Astenosfer merupakan lapisan di bawah lempeng tektonik, yang menjadi tempat bergeraknya lempeng benua. Lapisan ini di kedalaman 700 km, wujudnya agak kental tebalnya 100-400 km.
  • Mesosfer : Lapisan ini di kedalaman sekitar 2900 km, wujudnya padat, terletak di bawah astenosfer dengan ketebalan 2400-2750 km.

 

  1. Menurut susunan kimianya

Menurut susunan kimianya bumi dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni bagian padat (litosfer) yang terdiri dari tanah dan batuan, bagian cair (hidrosfer) yang terdiri dari berbagai bentuk ekosistem perairan seperti laut, danau dan sungai, bagian udara (atmosfer) yang menyelimuti seluruh permukaan bumi serta bagian yang ditempati oleh berbagai jenis organisme (biosfer).

Bagian permuakaan bumi yang saling medekat dan saling menjauh, dapat juga saling bergeser karena magma (cairan panas dalam bumi) selalu bergerak sehingga mengakibatkan mantel pecah dan menjadikan permukaan bumi memiliki ketinggian yang berbeda (menghasilkan retakan). Dapat juga lempengan permukaan saling bertabrakan sehingga salah satu lempengan akan naik dan membentuk topografi yang berbeda.

 

 

TUGAS ANLAN VULKANIK

March 3rd, 2018

TUGAS ANALISIS LANDSKAP

“Proses Vulkanisme”

Dosen Pengampu : Dr. Ir. Sudarto, MS.

 

 

 

Disusun Oleh:

          Nama     : Tri Mutieq Arrohma

     NIM         : 155040201111013

                                  Kelas        : C

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

Vulkanisme merupakan segala gejala yang berhubungan dengan gunung berapi, dimana gunung api tersebut sebgagai akibat adanya aktivitas magma dar dalam bumi. Menurut Saizwar, dkk (1998) vulkanisme merupakan suatu fenomenayang berkaitan dnegan gerakan magma yang naik ke permukaan bumi. Vulkanisme memiliki beberapa modifikasi seperti, mrupaka bentu timbul dipermukaan yang diakibatkan oleh timbunan material gunung berapi, merupakan gerakan magma yang sedang berlangsung dan tempat munculnya lava dan material lepas gunung berapi. Lava memiliki suhu yang cukup tinggi dan mengandung gas – gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong batuan di atasnya. Didalam litosfer magma menempati suatu kantong yang disebut dapur magma. kedalaman dapur magma merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang terjadi. Semakin dalam dalam dapur magma dari permukaan, maka akan menguatnya letusan yang akan ditimbulkan. Dan lamanya suatu letusan dari gunung berapi ditentukan oleh besar atau kecilna volume dapur magma.

Magma adalah batuan cair pijar dengan temperatur tinggi yang terdapat di dalam kulit bumi, terjadi dari berbagai mineral dan gas yang terlarut di dalamnya. Magma terjadi akibat adanya tekanan di dalam bumi yang amat besar, walaupun suhunya cukup tinggi, tetapi batuan tetap padat. Jika terjadi pengurangan tekanan, misalnya adanya retakan, tekanannya pun akan menurun sehingga batuan tadi menjadi cair pijar atau disebut magma. Magma bisa bergerak ke segala arah, bahkan bisa sampai kepermukaan bumi. Jika gerakan magma tetap di bawah permukaan bumi disebutintrusi magma. Sedangkan magma yang bergerak dan mencapai ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma. Ekstrusimagma inilah yang menyebabkan gunung api atau disebut juga vulkan. Entrusi magma tidak mencapai ke permukaan bumi. Mungkin hanya sebagian kecil intrusi magma yang bisa mencapai ke permukaan bumi. Namun Entrusi magma bisa mengangkat lapisan kulit bumi menjadi cembung hingga membentuk tonjolan berupa pegunungan. Secara rinci, adanya intrusi magma (atau disebut plutonisme) menghasilkan bermacam – macam bentuk.

  1. Batolit, meruoakan batuan beku yang terbentuk didalam dapur magma yang diakibatkan oleh penuruna suhu.
  2. Lakolit, merupakan magma yang menyusup dibatuan yang mengakibatkan terangkatnya batuan diatasnya sehingga menyerupai lensa cembung dengan permukaan atas yang tetap.
  3. Keping instrusi, merupakan lampisan magma tipis yang menyusup diantara lapisan batuan.
  4. Instruksi gang, merupakan batuan hasil intruksi magma yang memotong lapisan litosfer sehingga berbentuk pipih tetapi lebih kecil.
  5. Apolisa, merupakan cabang dari intrusi gang tetapi memiliki ukuran lebih kecil.
  6. Diatrema, merupakan batuan yang mengisi pipa letusan berbentuk silinder mulai dari dapur magma sampai kepermukaan.

Erupsi atau letusan gunung api terjadi apabila tenaga gas dari dapur magma mampu mendobrak batuan penyusun kerak bumi. Biasanya setelah letusan akan meninggalkan lubang berbentuk mangkok di tempat keluarnya magma yang disebut kawah (crater).Ukurannya bermacam-macam dan dapat meluas karena tepinya mengalami longsor atau terkikis. Istilah kaldera digunakan untuk depresi yang luas di puncak gunung api, dikelilingi dinding terjal. Terbentuknya kaldera karena letusan hebat yang menghempaskan sebagian tubuh gunung api, dapur magma bagian atas kosong sehingga ambles membentuk depresi yang luas. Berikut adalah ilustrasi Pembentukan Kaldera Maninjau. Secara umum ekstrusi magma dibagi dalam tiga macam, sebagai berikut.

  1. Ekstrusi linear

Ekstrusi linier terjadi tidak melalui lubang kepundan gunung api. Jadi, ekstrusi linier terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi.Letusannya bersifat effusif.Lebih banyak magma yang sampai di permukaan bumi melalui retakan-retakan batuan dibanding melalui pipa kepunden gunung api. Misalnya Gunung Api Laki di Islandia, serta deretan gunung  api di Jawa Tengah dan Timur.

  1. Ektrusi areal

Ekstrusi areal terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu.Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km2.

  1. Ekstrusi sentral

Ekstrusi sentral terjadi karena magma keluar melalui pipa kepundan gunung api. Ekstrusi sentral membentuk gunung-gunung yang terpisah.Tidak seperti erupsi celah yang berlangsung lama, erupsi puncak berlangsung dalam waktu yang pendek.Bila magmanya bersifat asam, kadang-kadang pipa kepundan tersumbat oleh magma yang membeku. Sumbat tersebut dikenal dengan nama sumbat lava (lava plug), menjadi penghalang keluarnya magma. Sering pula sumbat tersebut terlalu kuat sehingga magma mencari jalan lain, menerobos batuan yang lebih lemah dan terbentuklah kawah baru. Misalnya Gunung Krakatau.

February 14th, 2018

TUGAS ANLAN KELOMPOK 1

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!