Archive for March, 2012

TUGAS PERILAKU KONSUMEN 21 MARET 2012 KELAS BB


2012
03.27

Dikerjakan oleh : Tony Hermawan Limbang / 0910223105

Dosen Pengampu : Nanang Suryadi

Literatur : Consumer Behavior 

1. Penjelasan mengenai beberapa jenis kepribadian manusia menurut penjelasan Renee Baron dan Elizabeth Wagele yang berdasarkan metode Enneagram/sebuah gambar bertitik sembilan, dimana metode ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah, hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Berikut adalah 9 tipe kepribadian manusia menurut Enneagram :

  • Tipe 1 perfeksionis : Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.
  • Tipe 2 penolong : Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.
  • Tipe 3 pengejar prestasi : Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.
  • Tipe 4 romantis : Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.
  • Tipe 5 pengamat : Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.
  • Tipe 6 pencemas : Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.
  • Tipe 7 petualang : Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.
  • Tipe 8 pejuang : Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.
  • Tipe 9 pendamai : Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.

Berikut adalah Model Enneagram tersebut :

panah dan sayap dalam enneagram

Setiap tipe pada enneagram berhubungan langsung dengan 2 tipe lainnya yang disebut sebagai panah. Tipe 1 berhubungan dengan tipe 7 dan 4, tipe 2 dengan tipe 8 dan 4, dst (lihat gambar). Dinamika hubungan antar tipe ini terjadi sebagai berikut : jika dalam keadaan rileks tipe 1 akan mengambil karakter positif dari tipe 7, dan jika dalam keadaan tertekan akan mengambil karakter negatif dari panah sebaliknya, yaitu tipe 4. Sebagai contoh, tipe 1 yang mengambil sisi positif tipe 7 tidak akan terlalu mengkritik diri serta lebih menerima diri, lebih antusias dan optimis, bertindak lebih alami dan spontan. Sedangkan jika sedang tertekan akan mengarahkan kemarahan ke dalam diri sendiri lalu menjadi depresi, hilang kepercayaan diri, dan menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Contoh lain, tipe 2 yang sedang rileks, akan mengambil karakter positif dari tipe 4, dan jika sedang tertekan akan mengambil karakter tipe 8. Dan begitu seterusnya dinamika hubungan pada tipe-tipe lainnya. Selain panah, kepribadian kita dapat tercampur atau terpengaruhi oleh tipe di kanan dan kiri kita. Tipe di kanan dan kiri kita ini disebut dengan sayap. Contohnya, tipe 1 dengan sayap 2 yang lebih kuat, cenderung hangat, lebih suka menolong, mengkritik dan menguasai. Sedangkan tipe 1 dengan sayap 9 lebih kuat, cenderung lebih tenang, lebih santai, objektif dan menjaga jarak.

2. Kepribadian terbentuk selain karena faktor bawaan sejak lahir (menurut Taylor Hartman dalam bukunya “The Color Code” yang menyebutkan bahwa kepribadian itu bawaan sejak lahir bersama faktor genetika yang lain, walaupun kepribadian itu sendiri tidak diwarisi dari orangtua seseorang), tetapi juga dipengaruhi interaksi dengan individu di lingkungan sosial.  Dalam interaksi tersebut individu mengalami pengenalan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dimana individu hidup. Masyarakat mengharapkan perilaku individu sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Proses penanaman nilai dan norma pada warga masyarakat disebut sosialisasi. Sosialisasi dialami individu sejak lahir sampai dewasa. Mari kita perhatikan lebih lanjut apa pendapat ahli mengenai pengertian sosialisasi ini. Menurut Peter L. Berger, sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Hal yang dipelajari dalam sosialisasi adalah peranan, nilai dan norma sosial. Sedangkan Koentjaraningrat mengatakan sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal dan menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitarnya. Bruce J. Cohen mengatakan sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. Nilai dan norma yang ada di masyarakat serta pemahaman akan peran sosial sesuai dengan status sosial yang dimiliki individu akan mempengaruhi pembentukan kepribadian. Sosialisasi dapat dilakukan tanpa sengaja atau dengan sengaja.

3. 5 artikel jurnal (in english) mengenai pengaruh kepribadian terhadap perilaku konsumen

JURNAL 1

Link : http://www.emeraldinsight.com/journals.htm?articleid=853320

Title : Personality and Consumer Behaviour: An Operational Approach

Author : Paul J. Albanese

Citation : Paul J. Albanese, (1993) “Personality and Consumer Behaviour: An Operational Approach”, European Journal of Marketing, Vol. 27 Iss: 8, pp.28 – 37

Abstract :

Presents a report on the promising preliminary results of the Q project at Kent State University to operationalize the personality organization from psychoanalytic object relations theory for empirical research on consumer behaviour using the California Q Sort. The validation process is well under way. As a future extension of this research, presents the template matching technique for relating the personality to a general pattern of behaviour by relating these patterns of behaviour to variations in the level of personality development, thereby paving the way for an application to the critical social issues of addictive and compulsive behaviour.

JURNAL 2

Link : http://www.acrwebsite.org/volumes/display.asp?id=6294

Title : A BLUEPRINT FOR CONSUMER BEHAVIOR RESEARCH ON PERSONALITY

Author : Lawrence A. Crosby, Arizona State University and Sanford L. Grossbart, University of Nebraska

Citation : Advances in Consumer Research Volume 11, 1984, Pages 447-452

Abstract :

Controversy surrounds the concept of personality and its a plication to consumer behavior research. Our field needs better grasp of the barriers that exist to a fruitful theory of consumer-in-situation. Overcoming these barriers will require particular attention to the strategy or process of theory formulation. Both inductive and deductive approaches will be required. Guidance in terms of process rather than content is available from psychology.

JURNAL 3

Link : http://www.irma-international.org/viewtitle/59964/

Title : Personality Traits and Consumer Behavior in the Mobile Context: A Critical Review and Research Agenda

Author : Kaan Varnali, Istanbul Bilgi University, Turkey

Citation : International Journal of E-Services and Mobile Applications, 3(4), 1-20, October-December 2011

Abstract :

Research focusing on consumer behavior in the mobile context is rapidly accumulating. However, the role of personality traits in explaining and predicting users’perceptions regarding mobile services and behavior within the mobile context is conspicuously under-researched. If consumers are considered as dispositional entities, this lack of researcher interest on the role of personality traits on the value creation processes of mobile consumers should be scrutinized. Striving to provide guidance as to why and how to incorporate personality-based variables within prospective research models attempting to explain and predict consumer behaviorin the mobile context, thisresearch critically assessesthe-state-of-the-art and presents a conceptual discussion regarding related future research avenues.

JURNAL 4

Link : http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/cb.169/abstract

Title : Influence of personality on ecological consumer behaviour

Author : Elena Fraj and Eva Martinez

Citation : Journal of Consumer Behaviour volume 5, issue 3 pages 167–181, May/June 2006

Abstract :

We have recently seen the appearance of many studies which attempt to discover the behaviour patterns of ecological consumers. For that reason, it seems necessary to analyse the variables that shape this consumer profile. In this study, we have focused on psychographic variables and, in particular, on personality features. Following a survey with a random sample of 573 individuals, we designed a theoretical model which included the Big-Five Factor Structure scale and the environmental attitude dimension referred to as “actual commitment” to measure personality and ecological behaviour, respectively. We carried out several principal factor analyses in order to validate these scales and afterwards, we performed a structural equation analysis and a logit analysis. Findings support our hypotheses since they reveal that personality is a multifaceted concept, which is positively related to ecological behaviour. Firms should focus on those people who are characterised by personality features such as extroversion, agreeableness and conscientiousness in order to persuade them to demand their products.

JURNAL 5

Link : http://www.sbp-journal.com/index.php/sbp/article/view/1793

Title : The role of personality traits in online consumer complaint behavior and service recovery expectation

Author :  Jen-Hung Huang (National Chiao-Tung University, Hsinchu, Taiwan, ROC) and Chiao-Chen Chang ( National Chiao-  Tung University, Hsinchu, Taiwan, ROC )

Citation : Social Behavior and Personality, an International Journal, volume 36, 2008, issue 9

Abstract :

To date, the literature on service failure and recovery has tended to be focused on bricks-and-mortar stores. In this study the relationships among service failures, consumer complaint behaviors, and service recovery expectations in an online setting were investigated. Data were collected from 252 respondents in a questionnaire survey. Results of multiple regression analysis show that personality traits in terms of Type A and locus of control may moderate the relationships among e-service failures, consumer complaint behaviors, and service recovery expectations. When e-service failures occur, Type A and internally oriented consumers engage in aggressive complaint behaviors and expect high service recovery efforts. Conversely, Type B and externally oriented consumers tend to tolerate e-service failures and refrain from complaining. Finally, theoretical and managerial implications are discussed.

 

 

TUGAS PERILAKU KONSUMEN KELAS BB 14 MARET 2012


2012
03.19

Dikerjakan oleh : Tony Hermawan Limbang

Dosen Pengampu : Nanang Suryadi

Literatur : Consumer Behavior

IKLAN I “SOSIS SO NICE”

YouTube Preview Image
  • Menurut saya, motivasi yang ingin dibangkitkan oleh produsen dalam iklan ini, ialah memotivasi para generasi muda di Indonesia untuk memacu prestasinya baik dalam bidang akademik maupun non-akademik dengan mengkonsumsi sosis so nice dan belajar serta berlatih lebih giat agar dapat menjadi juara seperti para bintang iklan dalam iklan tersebut yang semuanya adalah para juara di masing-masing bidang yang mereka tekuni.
  • Sehubungan dengan motivasi dalam iklan yang telah saya kemukakan di atas, teori yang mendasari pendapat saya tersebut adalah teori motivasi kontemporer menurut McClelland (Teori Kebutuhan), yang mana disebutkan salah satunya mengenai kebutuhan berprestasi / need for achievement ; bahwa manusia itu memiliki dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil dalam melakukan suatu hal. Oleh karena itu, sosis so nice membantu memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh para generasi muda kita dalam meraih prestasi.

IKLAN II “SUSU ANLENE ACTIFIT

YouTube Preview Image
  • Menurut saya, untuk iklan yang kedua ini, produsen selaku pihak pengiklan, ingin memotivasi para generasi muda dan tua (19-50 tahun) untuk melawan penyakit osteoporosis dengan rajin berolahraga dan berjalan 10.000 langkah setiap hari yang disertai mengkonsumsi susu Anlene Actifit dengan kalsium yang tinggi sehari 2x. Hal ini sebagai bentuk investasi untuk masa tua agar tetap hidup sehat dan energik.
  • Teori yang berkaitan dengan motivasi ini, ialah teori hierarki kebutuhan milik Abraham Maslow, yang menyebutkan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang dalam kasus ini, ialah kebutuhan akan rasa aman, karena manusia membutuhkan asupan kalsium yang sesuai dan cukup serta terus menerus untuk menghindari bahaya osteoporosis atau dengan kata lain memberikan rasa aman dari ancaman penyakit osteoporosis. Kebutuhan ini merupakan tahap kedua dari piramida hierarki kebutuhan setelah kebutuhan fisiologis/dasar yang merupakan tahap pertama. Yang menjadi alasan mengapa iklan ini termasuk motivasi untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman dan bukan kebutuhan fisiologis adalah bahwa kebutuhan fisiologis ialah kebutuhan ketika telah terpenuhi maka rasa butuh itu akan hilang dengan sendirinya, akan tetapi dalam masalah asupan kalsium, seorang manusia tidak bisa menghentikan kebutuhan akan gizi tersebut, malah ketika usia bertambah, maka akan semakin membutuhkan kalsium, maka dari itu ini termasuk dalam kebutuhan akan rasa aman.

IKLAN III “HANDPHONE LG TYPE GW300 dan GW525″ (dari Jawa Pos 28 Desember 2009)

  • Menurut saya, motivasi yang ingin dibangkitkan adalah motivasi untuk semakin menjalin komunikasi dan sosialisasi dengan sesama melalui fitur-fitur dengan teknologi canggih yang disajikan dalam handphone ini. Contohnya dalam hal messaging, handphone ini dilengkapi dengan fitur Threaded View yang membuat sms seperti chatting serta dibantu juga dengan teknologi T9 untuk teks prediktif yang membantu dalam kegiatan messaging, dan didukung juga dengan jaringan HSDPA yang memudahkan dalam menggunakan layanan internet.
  • Teori yang mendukung pendapat saya adalah, teori kebutuhan McClelland yaitu mengenai kebutuhan berafiliasi, dimana dalam teori tersebut manusia akan termotivasi untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab. Dalam kaitannya dengan iklan di atas, kebutuhan berafiliasi akan terdukung oleh kecanggihan teknologi dari Handphone LG tersebut, yang memudahkan proses komunikasi dan sosialisasi dengan sesama sehingga kebutuhan berafiliasi akan terpenuhi.

TUGAS PERILAKU KONSUMEN KELAS BB 7 MARET 2012


2012
03.14

Dikerjakan oleh : Tony Hermawan Limbang / 0910223105

Dosen : Nanang Suryadi

Literatur : Consumer behaviour

DATA STATISTIK PENDUDUK JAWA TIMUR BERDASARKAN WILAYAH, USIA DAN JENIS KELAMIN

Presentase Jumlah dari data statistik di atas:

Perkotaan: Laki-laki 23,59%    Wanita 24,00%

Pedesaan: Laki-laki 25,79%     Wanita 26,63%

SEGMENTASI PRODUK SUSU BEBELAC

Segmentasi ini ditujukan pada orangtua para balita yang akan mengkonsumsi produk Bebelac ini

PERKOTAAN

PEDESAAN

SUAMI-ISTRI usia 15-19

SUAMI-ISTRI usia 20-24

SUAMI-ISTRI usia 25-29

SUAMI-ISTRI usia 30-34

SUAMI-ISTRI usia 35-39

SUAMI-ISTRI usia 40-44

SUAMI-ISTRI usia 45-49

KARAKTERISTIK MASING_MASING SEGMEN

SUAMI-ISTRI usia 15-19, usia 20-24 : Pada umumnya pernikahan pada usia ini terjadi pada penduduk di wilayah pedesaan, pasangan ini memiliki karakter kurang dewasa dengan emosi masih labil. ketika mereka memiliki buah hati tentu akan banyak mencari informasi mengenai susu formula yang cocok, karena itu produk bebelac sangat tepat bagi segmen suami istri pada usia ini.

SUAMI-ISTRI usia 25-29, usia 30-34, usia 35-39 : pernikahan pada usia ini sering terjadi pada masyarakat daerah perkotaan, akan tetapi di wilayah pedesaan juga ada. Pada usia ini, pasangan suami istri tergolong cukup mapan dalam hal ekonomi maupun emosi yang cukup stabil, mereka sudah dapat menentukan pilihan khususnya untuk kebutuhan buah hati mereka, salah satunya adalah susu formula. Segmen ini menjadi target utama bagi produsen Bebelac untuk menciptakan Loyal customer, hal ini dikarenakan karakteristik usia dari pasangan suami istri tersebut.

SUAMI-ISTRI usia 40-44, usia 45-49 : segmen pada pasangan suami-istri usia ini, umumnya sudah sangat mantap dalam hal karakteristik, emosi, bahkan mereka telah memiliki produk favorit sendiri. Bagi produsen bebelac, mengincar segmen ini, tentunya akan memiliki presentase keberhasilan 50:50, apabila berhasil tentunya akan besar peluangnya untuk memperoleh konsumen yang loyal atau bahkan lebih dari itu, memperoleh Advocator Customer, yaitu konsumen yang tak hanya setia, namun juga bersedia membela produk itu ketika produk tersebut mendapat isu negatif dari masyarakat.

RINGKASAN JURNAL ILMIAH

Analisis Segmentasi Pasar dan Pasar Potensial Pada PT. Perkasa Mostindo Utama

Oleh : Suniati dan Muis Fauzi Rambe

Vol. 04 No. 01 April 2004

Situs : http://www.manbisnis2.tripod.com/4_1_5.pdf

            Suatu perusahaan yang beroperasi  dalam suatu pasar, baik pasar kosumsi, pasar penyalur ataupun pasar pemerintah, selalu menyadari bahwa pada hakekatnya ia tidak dapat melayani seluruh pelanggan dalam pasar tersebut. Pasar terdiri dari para pembeli dan setiap pembeli berbeda dalam satu atau banyak hal. Perbedaan itu dapat berupa keinginan, sumber daya, lokasi, perilaku maupun praktek-praktek membelinya.

Segmentasi Pasar

            Pasar yang terdiri dari pembeli-pembeli yang mempunyai kesamaan dalam keinginan, kebutuhan dan tanggapan terhadap pengaruh pemasaran. Pasar semacam ini disebut pasar homogen. Menurut Radissunu (1993) dalam pasar yang bersifat heterogen penjual menghadapi tiga alternative sasaran pemasaran antara lain:

  1. Hanya menjual satu produk kepada sebanyak mungkin pembeli.
  2. Memilih segmen pasar tertentu dan menjual produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan segmen pasar tersebut.
  3. Menjual berbagai versi produk, masing-masing versi produk disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan kelompok pembeli.

Menurut Kotler & Amstrong (1997) segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang terbedakan dengan kebutuhan karakteristik atau tingkah laku berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran terpisah. Untuk memilih sasaranpenjualannya pengusaha harus mengsegmentasikan pasarnya yakni menggolong-golongkan pasar yang bersifat heterogin kedalam kelompok – kelompok pembeli yang homogin..

Segmen pasar dapat diidentifikasi dengan membagi-bagi pasar menurut variabel yang banyak sekali jenisnya. Menurut Kotler (1997, hal 227) membagi segmentasi pasar atas beberapa segmentasi yaitu :

  • Ø Segementasi Geografis

Segmentasi geografis mengharuskan pembagian pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda seperti negara, negara bagian, wilayah, propinsi, kota atau lingkungan.

  • Ø Segmentasi Demografi

Pasar dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan variabel demografis, usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pendidikan, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan kelas sosial.

Menurut Lupiyoadi (2001) dalam melakukan segmentasi ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh yaitu :

ü  Mendesai produk-produk yang lebih resporse terhadap kebutuhan pasar.

ü  Menganalisis pasar.

ü  Menemukan peluang.

ü  Menguasai posisi yang unggul dan kompetitif.

ü  Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien.

Menurut Tjiptono (1997) ada lima level definisi pasar yaitu :

  • Pasar potensial yaitu sekumpulan konsumen yang memiliki tingkat minat tertentu terhadap penawaran pasar tertentu.
  • Pasar yang tersedia yaitu sekumpulan konsumen yang memiliki minat, penghasilan dan akses pada penawaran pasar tertentu.
  • Pasar tersedia memenuhi syarat yaitu sekumpulan konsumen memiliki minat, penghasilan, akses, dan kualifikasi motor kepada orang yang belum berusia tujuh belas tahun.
  • Pasar yang dilayani yaitu bagian dari pasar tersedia yang memenuhi syarat yang ingin dimasukkan perusahaan.
  • Pasar penetrasi yaitu sekumpulan konsumen yang benar-benar telah membeli produk.

Analisis Peluang Pasar

       Untuk dapat melakukan analisis peluang pasar tersebut ada empat langkah yang dapat dilakukan yaitu :

  1. Menguraikan struktur produk pasar : manajer dapat menguraikan struktur produk pasar yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dasar dan kemudia menganalisis tingkat substitabilitas diantara produk-produk ini.
  2. Mendefinisikan batas pasar yang relevan : dalam hal ini perusahaan mendefinisikan batas pasarnya apabila perusahaan merasa bahwa persaingan bentuk atau kelas produk lebih dominan dan perubahan lingkunngan tidak akan terjadi.
  3. Mendefinisikan kebutuhan primer untuk pasar yang relevan : menganalisa kebutuhan primer untuk pasar yang relevan kebutuhan-kebuthan primer adalah kebuthan akan bentuk atau kelas produk yang didefinisikan sebagai pasar yang relevan.
  4. Menganalisa pasar target potensial : kebutuhan selektif adalah kebutuhan akan merek atau pembekalan yang tertentu dan menganalisa kebutuhan seleksi ini manajer harus memahami bagaimana pembeli menentukan pilihan dari merek-merek atau alternatif dalam pasar yang relevan.

Metodologi Penelitian

            Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data-data yang berhubungan dengan objek penelitian dari perusahaan PT. Perkasa Mostindo Utama. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah Interview  yaitu wawancara langsung dengan pihak yangberwenag dalam perusahaan tersebut yang berhubungan dengan data penelitian, Studi dokumen yaitu mempelajari data-data yang ada dalam perusahaan baik data yang sudah jadi atau data mentah.

Metode analisa yang digunakan dalm penelitian ini adalah Metode Deskriptif yaitu merumuskan dan menfsirkan data yang diperoleh, Analisa SWOT yaitu metode yang memepelajari tentang kekuatan internal perusahaan, kelemahan yang ada dalam internal perusahaan, serta menganalisa kesempata yang ada diluar perusahaan dan tantangan yang akan dihadapi diluar perusahaan.

Hasil Penelitian 

            Adapun analisa tentang segmentasi pasar yang digunakan pada PT. Perkasa Mostindo Utama menggunakan langkah-lagkah berikut :

  1. Tahap survey. Perusahaan mengadakan survey, survey dilakukan oleh perusahaan untuk menegetahui apa kebutuhan para konsumen.
  2. Tahap analisa.  Perusahaan dalam menetapkan segmentasi pasar harus mengadakan analisa yang tepat untuk setiap produk yang akan dipasarkan sesuai dengan kebuthan para konsumen.
  3. Tahap pembentukan. Perusahaan menentukan jumlah kelompok untuk masing-masing produk yang tepat untuk segmen tersebut.

Berdasarkan segmen pasar yang telah digunakan oleh PT.Perkasa Mostindo, maka perusahaan dapat menganalisa kekuatan internal yang potensial terdapat dalam perusahaan antar lain : kemampuan perusahaan yang khas terutam dalam menetapkan harga jual produk Tiga Roda yang dihasilkan, adanya sumber keuangan yang cukup, image yang kuat dari pelanggan, kemampuan sebagai market leader, dapat bersaing dengan produk lain, unggul dalam biaya, mampu mempergunakan alat-alat promosi, terampil dalam inovasi produk.

ANALISA SEGMENTASI DAN POSITIONING IKLAN BEBELAC BEBEBOLA 2010

YouTube Preview Image

Setelah menganalisis iklan yang saya tampilkan di blog saya ini, saya mengambil kesimpulan bahwa Segmentasi pada iklan tersebut ditujukan kepada para orangtua yang memiliki buah hati berusia di bawah 5 tahun (balita) yang menginginkan anaknya tumbuh cerdas, aktif dan kreatif dengan asupan gizi dan nutrisi yang cukup serta sesuai dengan usianya . Lalu, hal lain yang saya dapat dari menganalisis iklan tersebut adalah topik dari iklan itu sendiri, mengenai pertandingan sepak bola yang diselenggarakan di stadion yang cukup besar dengan suasana layaknya pertandingan Piala Dunia, disini saya menarik kesimpulan bahwa pihak produsen bebelac memanfaatkan suasana Piala Dunia 2010 untuk mengiklankan produknya, dengan bantuan teknik dan efek komputer yang canggih, serta penyutradaraan yang sangat tepat, iklan ini, saya nilai cukup mampu menarik perhatian para konsumen. Model iklan yang terdapat pada iklan tersebut telah diseleksi, sehingga terpilihlah para balita yang tampaknya berasal dari berbagai ras, ada ras kulit putih (kaukasoid), kulit hitam (negroid), bahkan ada juga ras orang asia (mongoloid) dan tentunya tingkah mereka yang sangat menggemaskan khas seorang balita tetapi tetap teratur .

Berikutnya, dalam hal positioning produk tersebut, menurut saya sangat tepat untuk masyarakat Indonesia karena seperti yang kita ketahui bahwa penduduk indonesia merupakan penduduk dengan tingkat natalitas yang tinggi, yang tentunya, kebutuhan akan susu formula yang tepat bagi sang buah hati pun sangat diperlukan, di samping itu, antusiasme masyarakat indonesia terhadap olaharaga sepakbola juga sangat besar, sehingga momen yang dipilih untuk mengiklankan produk bebelac pada tahun ketika event piala dunia berlangsung juga turut serta memaksimalkan pemasaran produk tersebut yang nantinya akan menarik minat dan menjadi produk pilihan no 1 di hati para konsumen.

 

TUGAS PERILAKU KONSUMEN KELAS BB


2012
03.06

nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id

1.     Perkembangan konsep evolusi pemikiran pemasaran

Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam buku Manajemen Pemasaran edisi ke 12 jilid 1 halaman 18, Perkembangan konsep evolusi ini mencakup :

  • Konsep produksi : Konsep ini menegaskan bahwa konsumen akan memilih produk yang tersedia secara luas di berbagai tempat dan murah.
  • Konsep produk : menyatakan bahwa konsumen akan lebih menyukai produk dengan fitur yang paling bermutu, berprestasi dan inovatif.
  • Konsep penjualan : menegaskan bahwa konsumen dan bisnis apabila ditinggalkan sendiri, biasanya tidak akan membeli cukup banyak produk-produk organisasi, sehingga membutuhkan semacam rangsangan, oleh karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.
  • Konsep pemasaran : menegaskan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan adalah perusahaan tersebut harus menjadi lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan dan mengkomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang terpilih.
  • Konsep pemasaran sosial : anggapan pemasar bahwa konsumen hanya akan membeli produk-produk yang mampu memenuhi kebutuhan serta kesejahteraan lingkungan sosial konsumen. Tujuan kegiatan perusahaan adalah, disamping berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat, juga memperbaiki relasi antara produsen dan masyarakat untuk peningkatan kesejahteraannya.
  • Konsep Pasar : adalah anggapan pemasar yang berorientasi kepada pelanggan dan pesaing-pesaing perusahaan, bahwa produsen perlu mempunyai keunggulan pasar yang bersaing (kompetitif), untuk dapat memenuhi kebutuhan dan memuaskan pelanggan. Fokus kegiatan perusahaan adalah di samping berusaha memahami perilaku konsumen, perusahaan  juga harus memahami perilaku pesaing untuk dapat mengatasi persaingan.

2.     Marketing mix / bauran pemasaran

Menurut Kotler (1997:92) , bauran pemasaran adalah sejumlah alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk meyakinkan obyek pemasaran atau target pasar yang dituju, sejumlah bauran pemasaran tersebut dijelaskan sebagai berikut :

  • Product (produk); adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi.
  • Price (harga); yaitu sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk.
  • Place (tempat); yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran.
  • Promotion (promosi), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran.

3.     Konsep STP

Menurut Philip Kotler dan Armstrong, konsep ini terdiri dari Segmenting, Targeting, dan Positioning, sebagaimana yang dijelaskan di bawah ini :

  • Segmentasi; kegiatan yang dilakukan oleh pemasar untuk membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok kecil, yang memiliki karakteristik dan kebutuhan produk yang sama.
  • Targeting; merupakan proses evaluasi daya tarik masing-masing segmen pasar dan pemilihan satu atau lebih segmen pasar untuk digarap.
  • Positioning; perumusan pemosisian bersaing produk dan menciptakan bauran pemasaran yang lebih rinci.

4.     Konsep kepuasan dan loyalitas

Kepuasan pelanggan merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut (Band, 1991). Faktor yang paling penting untuk menciptakan kepuasan konsumen adalah kinerja dari agen yang biasanya diartikan dengan kualitas dari agen tersebut (Mowen, 1995). Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong (2002:13) kepuasan adalah sejauhmana suatu tingkatan produk dipersepsikan sesuai dengan harapan pembeli.

Sedangkan konsep loyalitas menurut Olson, 1993, adalah dorongan perilaku untuk melakukan pembelian secara berulang-ulang dan unutk membangun kesetiaan pelanggan terhadap suatu produk/jasa yang dihailkan oleh badab usaha tersebut membutuhkan waktu yang lama melalui suatu  proses pembelian yang berulang-ulang tersebut.

5.     Etika dan tanggung jawab sosial

Fungsi pemasaran adalah fungsi yang paling mendominasi perhatian terhadap etika bisnis. Hal ini dikarenakan, aktivitas pemasaran adalah aktivitas yang lebih banyak berhubungan dengan konsumen langsung. Menurut Kotler dan Keller, adapun beberapa kekuatan yang mendorong perusahaan mempraktikkan level tanggung jawab sosial korporat yang lebih tinggi adalah: menimbulkan harapan pelanggan, mengubah harapan karyawan, legislasi dan tekanan pemerintah, minat investor terhadap kriteria sosial, dan mengubah praktik untuk mendapatkan pasokan bisnis. Dengan meningkatnya level pemasaran yang bertanggung jawab sosial, menimbulkan serangan bercabang terhadap tiga hal yaitu perilaku tanggung jawab legal, etis, dan sosial, dimana maksud dari ketiga perilaku tersebut ialah :

  • Perilaku legal; masyarakat harus menggunakan undang-undang untuk mendefinisikan sejelas mungkin praktik ilegal atau antikompetitif.
  • Perilaku etis atau beretika; perusahaan harus menganut dan menyebarkan suatu kode etik tertulis, membangun sebuah tradisi perilaku etis perusahaan dan mendorong orang-orangnya bertanggungjawab penuh untuk memperhatikan pedoman etis dan legal.
  • Perilaku yang bertanggunag jawab sosial; para pemasar individu harus mempraktikkan sebuah kesadaran sosial dalam perjanjian khusus dengan pelanggan dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Adapun prinsip-prinsip pemasaran yang bertanggung jawab sosial adalah :

ü  Prinsip kebebasan konsumen dan produsen

ü  Prinsip mengendalikan bahaya potensial.

ü  Prinsip memenuhi kebutuhan dasar.

ü  Prinsip efisiensi ekonomi.

ü  Prinsip inovasi.

ü  Prinsip pendidikan dan informasi konsumen.

ü  Prinsip perlindungan konsumen.

6.     Pengaruh teknologi informasi terhadap konsumen

Keunggulan dan kecanggihan teknologi informasi saat ini secara langsung mampu menggeser bahkan merubah sistem pola hidup manusia. Dalam perkembangannya teknologi informasi mampu memicu gejala-gejala sosial yang dapat diktakan baru, antara lain; jarak dan waktu bukan lagi kendala yang utama, munculnya sistem pembelian dengan cara on-line, dan gejala yang sering terjadi adalah perubahan dalam bidang hukum, perundangan dan nilai-nilai budaya.

7.     Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif

Menurut Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif ialah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif dan holistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan.

Sedangkan penelitian kuantitatif, adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model sistematis, teori dan hipotesis yang dikaitkan dengan fenomena alam. Penelitian ini banyak digunakan untuk menguji suatu teori, untuk menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan statistik, untuk menunjukkan hubungan antarvariabel dan ada pula yang bersifat mengembangkan konsep, mengembangkan pemahaman atau mendeskripsikan banyak hal, baik itu dalam ilmu alam maupun ilmu sosial.

Menurut Ronny Kountur, dalam buku “Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis”, perbedaan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut :

DASAR PERBEDAAN

PENELITIAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUALITATIF

Jenis Data Kualitatif Kuantitatif
Proses Penelitian Deduktif-induktif Induktif
Responden/obyek penelitian Banyak Hanya satu yang dijadikan obyek
instrumen Kuesioner dan instrumen lainnya Peneliti itu sendiri
Tujuan penelitian Konfirmasi Eksplorasi

 

8.     Skala pengukuran dalam penelitian

Pengukuran adalah proses dimana suatu angka atau simbol dilekatkan pada karakteristik atau properti suatu stimuli sesuai dengan aturan/prosedur yang ditetapkan(Imam Ghozali, 2005).

Terdapat 4 skala pengukuran:

ü  Skala nominal; merupakan skala yang merupakan kategori atau kelompok dari suatu subyek. Lambang tersebut tidak memilki sifat sebagaimana bilangan pada umumnya, sehingga pada variabel dengan skala nominal tidak dapat diterapkan operasi matematika standar: pengurangan, penjumlahan, perkalian, dll. Uji statistik yang sesuai dengan skala nominal adalah uji yang mendasarkan pada jumlah seperti modus dan distribusi frekuensi.

ü  Skala ordinal; lambang bilangan hasil pengukuran menunjukkan urutan atau tingkatan obyek yang diukur menurut karakteristik yang dipelajari. Walaupun perbedaan angka antara preferensi satu dengan lainnya sama, namun kita tidak dapat menentukan besarnya nilai preferensi dari suatu merek terhadap merek lainnya. Uji statistik yang sesuai adalah modus, median, distribusi frekuensi dan statistik non-parametrik seperti rank order correlation.

ü  Skala interval; skala pengukuran yang mempunyai sifat seperti skala ordinal(memiliki ururtan tertentu), ditambah satu sifatkhas, yaitu adanya satuan skala(scale unit). Artinya, perbedaan karakteristik antara obyek yang berpasangan dengan lambang bilangan satu dengan lambang bilangan berikutnya selalu tetap. Uji statistik yang sesuai adalah semua uji statistik kecuali uji yang mendasarkan pada rasio seperti koefisien variasi.

ü  Skala rasio; adalah skala yang menghasilkan data dengan mutu yang paling tinggi. Perbedaan skala rasio dengan skala interval terletak pada keberadaan nilai nol (based value). Pada skala rasio, nilai nol bersifat mutlak, tidak seperti pada skala interval. Data yang dihasilkan oleh skala rasio adalah data rasio. Tidak ada pembatasan terhadap alat uji statistik yang sesuai.

Sumber dari internet:

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/konsep-bauran-pemasaran-marketing-mix.html

http://aisyahpurnamasari.blogspot.com/2011/04/konsep-kepuasan-pelanggan.html

www.rajapresentasi.com

www.perpus.wima.ac.id/web/downlot.php?file=Bab_1.pdf

http://materi-statistik.blogspot.com/2010/05/skala-pengukuran-statistik.html

 

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2023657-pengertian-penelitian-kuantitatif/#ixzz1nsjFQBmf