0

Example of a Short Speech

Disclaimer: This speech had been used by the author for FORCE 2017; DO NOT COPY, CITE, OR DISTRIBUTE WITHOUT PERMISSION OF THE AUTHOR

Topic: How Do You Conquer Your Biggest Fear?

By Tiffana Masida Nasution, Vocational Education Program – Applied Accounting

Attention Graber (story):

When I first heard about Force (Formasi Internal Competitions), I was so excited. I regularly check the Formasi official line account for updates on Force. After the registration was opened, I quickly fill in the online application form and got notified to attend the technical meeting about one or two weeks later. It was on Friday. The weather was very cold that day. The technical meeting was held near the Formasi headquarters. I still remember very clearly when the committee said that only the judges who are going to see our speech. Immediately, I felt like I was losing my breath. My excitement turns into anxiety in a blink of an eye. I was like, Oh my goodness! What should I do now? I could imagine myself there, standing in front of the judges, being a little shaky, mumbling some alien’s words, and going blank during the speech. My heart beats a little bit faster whenever I thought about it even though I was not doing the real thing.

Introduction (state your opinion):

Speaking in public is a fear for a lot of people, including me. It is not an easy job to deliver a speech. You are going to face a group of people and they might stare at you for so long as if they could see right deep into your soul. The attention cannot be avoided. It might wear you out. But it will not make you lose yourself in the ocean of nervousness. Every person has different ways of dealing with fear of public speaking. Some people will go ask someone who is more experienced, some people will surf the internet looking for an answer, some people do not want to deal with it at all, and there is people like me who is scared about the ide of being a center of attention but apply for a speech competition.

The Body (give 3 reasons for your opinion):

I will never be free from fears, and so do you. Fears are not real. They are nothing more than a state of mind, that is what Napoleon Hill said. I usually tell myself that everything is going to be okay. It is okay not to be okay. It is completely fine to make mistakes because that is the part of the process. It will shape me and I am positive that I will be better than I ever was. We have to accept the risk. I keep telling myself I should go out of the comfort zone. I have to speak out.  If I do not, fear will take its toll on me.

Conclusion:

So, here I am today. I am just beginning to conquer one of my biggest fears in life. I still have many doubts about setting my foot on the stage, to let my voice out, but I will keep trying. It is going to be a long journey. At the end of the day, when take a good look at what I just did, I feel proud of myself.

0

For Sale!

Ingin membelikan rumah-rumahan yang unik dan bagus untuk anak atau adik anda dengan harga miring? Kini telah hadir, rumah-rumahan untuk boneka kesayangan mereka! Produk ini dibuat secara khusus oleh pemilik blog dan terbuat dari kardus-kardus bekas. Bentuknya yang unik serta harganya yang lebih murah dibanding rumah-rumahan lainnya menjadi keistimewaan produk kami.

Harga: Rp 55.000,-

Dimensi: 20 cm x 30 cm x 20 cm

Jenis Pembayaran: Hanya menerima uang tunai

Pengiriman Barang: Ketemuan langsung

Tunggu apa lagi? Segera pesan sekarang sebelum kehabisan! Pemesanan bisa dilakukan melalu whatsapp di nomor 4444-4444-4444 atau melalui email di tugas.e-commerce@tugasmatkul.com.

 

 

 

 

 

Catatan: Postingan ini merupakan fiktif belaka semata-mata untuk menunaikan kewajiban mengerjakan tugas mata kuliah Dasar Teknologi Informasi. Jika anda benar-benar berminat untuk memesan rumah-rumahan tersebut (dalam desain yang sama seperti di atas atau berbeda) bisa menghubungi email di masida.tiffana@hotmail.com. Harga dan ongkir tergantung desain yang diminta. 

0

Ada Apa Dengan Pendidikan Karakter Kita?

Pendidikan karakter adalah salah satu sarana untuk mewujudnya visi dan misi yang dimiliki oleh suatu bangsa. Karakter yang melekat pada diri seseorang akan menjadi gambaran singkat mengenai kepribadian bangsa tersebut. Baik-buruknya perilaku seseorang akan sangat berkaitan dengan pendidikan karakter yang diterimanya.

Beberapa orang beranggapan bahwa pendidikan karakter yang diberikan di lembaga pendidikan hanya sebagai omong kosong belaka—hanya sebatas formalitas yang tidak dijiwai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuat pendidikan karakter yang seharusnya membentuk kepribadian seseorang agar sesuai dengan cita-cita bangsa menjadi tidak efektif. Pendidikan karakter hanya dipandang sebagai penghias rapor yang nantinya akan diambil saat akhir semester nanti. Pemahaman seperti ini sungguhlah sangat menyesatkan. Pendidikan karakter yang sediakalanya direncanakan untuk membentuk seseorang agar sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila malah diterima sebagai ‘angin lewat’ saja. Apabila keadaan seperti ini berlanjut secara terus menerus maka tujuan dari Pancasila tidak akan pernah terealisasikan.

Pendidikan karaker seharusnya menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Orang-orang seperti Setya Novanto dan Gayus Tambunan tentu akan berkurang populasinya jika pendidikan karakter diterima dengan sepenuh hati. Budaya-budaya yang bersifat degradatif seperti suap, korupsi, kolusi, dan nepotisme juga tidak akan merajalarela seperti sekarang. Bangsa Indonesia tidak kekurangan orang yang berotak cerdas, tetapi bangsa ini kekurang orang dengan karakter-karakter yang bernafaskan Pancasila.

Oleh karena itu dibutuhkan bukan hanya pendidikan karakter yang dilakukan oleh lembaga pendidikan, tetapi juga pendidikan karakter yang dilakukan oleh lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan dan media massa. Pendidikan karakter tersebut haruslah bisa menanamkan pemahaman bahwa budaya-budaya seperti korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya bukan memberikan ‘keuntungan instan’ bagi diri sendiri melainkan mendatangkan petaka bagi pelaku perbuatan tersebut. Juga pendidikan karakter tersebut harus bisa membentuk seseorang menjadi sesuai dengan cita-cita luhur Pancasila.

 

 

 

0

Terancamnya Eksistensi Pencak Silat

Pencak silat merupakan suatu seni bela diri tradisional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Seni bela diri ini tidak hanya populer di dalam negeri saja, melainkan juga dikenal baik oleh negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia sendiri, setiap daerah memiliki aliran pencak silat yang berbeda-beda. Misalnya di daerah Jawa Tengah dikenal aliran Merpati Putih sedangkan di daerah Jawa Timur dikenal aliran Perisai Diri. Adanya pengaruh budaya Tionghoa, agama Hindu, Buddha, dan Islam menimbulkan keunikan tersendiri bagi pencak silat. Hal tersebut membuat pencak silat berbeda dengan seni bela diri lainnya seperti karate dan taekwondo.

Banyak manfaat yang dapat diambil dengan mengikuti seni bela diri ini. Selain memperoleh keterampilan bela diri, pencak silat juga dapat mengembangkan kepribadian para pengikutnya. Keikutsertaan pencak silat dalam pendidikan karakter akan sangat membantu dalam pembentukan kader bangsa Indonesia yang berwatak luhur, berjiwa patriotik, percaya diri, disiplin, serta bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Meskipun pencak silat mempunyai segudang manfaat, keberadaannya sebagai suatu seni bela diri tradisional mulai mengalami kemunduran. Kurangnya perhatian khusus dari generasi muda (khususnya remaja) untuk pencak silat menjadi salah satu penyebabnya. Para remaja lebih suka dengan kebudayaan ‘impor’ yang terkesan lebih modern dari pada kebudayaan sendiri yang tercitra sebagai sesuatu yang ‘kuno’ dan bukan ‘zaman now’. Selain itu, kurangnya kegiatan kaderisasi dari organisasi pencak silat itu sendiri juga menjadi penyebab kemunduran olahraga ini.

Oleh karena itu, sudahlah sepatutnya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia turut membantu pelestarian pencak silat. Kita bisa mulai dari hal kecil seperti tidak mencemooh seni bela diri tersebut hingga menjadi juara dalam pertandingan silat internasional. Selain itu, diperlukan juga sistem kaderisasi yang baik agar organisasi-organisasi pencak silat berjalan dengan lancar karena pencak silat bukan hanya tentang keterampilan bertarung saja, tetapi juga merupakan sarana transfer nilai-nilai kepribadian luhur bangsa kepada para pengikutnya. Dengan demikian eksistensi pencak silat sebagai budaya nasional dapat terpulihkan.