RSS Feed

PENELITIAN KOMUNIKASI BESERTA TEKNIK PRAKTIS

18 September 2019 by Tavia Dettaharashta Saharria

Tavia Dettaharashta Saharria

185120200111038

A.KOM.3 Metode Penelitian Komunikasi

 

Resume TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI oleh Rachmat Kriyantono, Ph.D.

 

DUA PERSPEKTIF RISET MEDIA MASSA

Ada dua perspektif dalam memandang khalayak media. Yang pertama, menganggap bahwa khalayak bersifat aktif dalam menerima pesan dari media. Khalayak tidak berdiri sendiri, ada faktor lain yang memengaruhi dirinya dalam menginterpretasi dan mengelola terpaan pesan. Sehingga, pengaruh media terbatas (limited effect). Dalam teori uses and gratification, khalayak ini dianggap “a differentiated set of small groups of communities”.

Sedangkan perspektif yang kedua menganggap bahwa khalayak bersifat pasif sehingga media dapat berpengaruh besar (powerful effect) bahkan tak terbatas (unlimited effect) terhadap perilaku.

 

MODEL PELURU (KOMUNIKASI SATU LANGKAH)

Dalam model ini, komponen-komponen komunikasi yang terdiri dari komunikator, pesan, dan media, berpengaruh besar dalam mengubah sikap dan perilaku khalayak. Terutama media, pengaruhnya tidak terbatas (unlimited effect) dan kuat (powerful effect). Disebut peluru karena seakan-akan komunikasi ditembakkan kepada khalayak dan khalayak tidak bisa menghindar. Khalayak dianggap pasif karena tidak menyadari dan tidak kuasa akan terbentuknya pesan media tersebut.

Model penelitiannya dapat digambar sebagai:

Variabel Komunikasi —> Variabel Antara —> Variabel Efek

Contoh riset yang menggunakan model peluru: “Pengaruh iklan politik pemilu di TV dengan sikap pemiih”

 

MODEL USES & GRATIFICATIONS

Inti dari teori ini adalah khalayak pada dasarnya memilih dan menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu.

 

MODEL AGENDA SETTING

Model penelitian agenda setting secara kuantitatif:

Agenda Media —> Agenda Publik —> Agenda Policy

Dimensi Agenda Media:

  1. Visibialitas (visibility), yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
  2. Audience salience atau tingkat menonjol bagi khalayak. Berupa relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak.
  3. Valensi (valence), yakni menyenangkan atau tidaknya cara pemberitaan suatu peristiwa.

Dimensi Agenda Publik:

  1. Keakraban (familiarity), yakni derajat kesadaran khalayak akan topik.
  2. Penonjolan pribadi (personal salience), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi.
  3. Kesenangan (favorability), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita.

Dimensi Agenda Kebijakan:

  1. Dukungan (support), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
  2. Kemungkinan kegiatan (likelihood of action), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan
  3. Kebebasan bertindak (freedom of action), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.

 

ANALISIS ISI KUANTITATIF

Menurut Berelson dan Kerlinger dalam Wimmer dan Dominick (2000), analisis isi merupakan suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak. Sedangkan menurut Budd (1967), analisis isi adalah suatu teknik sistematis untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komuniktaor yang dipilih.

Berdasarkan kedua definisi diatas, adapun prinsip analisis isi, yakni:

  1. Prinsip sistematik. Ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis. Periset tidak dibenarkan menganalisis hanya pada isi yang sesuai dengan perhatian dan minatnya, tetapi harus pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk diriset.
  2. Prinsip objektif. Hasil analisis tergantung pada prosedur riset bukan pada orangnya. Kategori yang sama bila digunakan untuk isi yang sama dengan prosedur yang sama, maka hasilnya harus sama, walaupun risetnya berbeda.
  3. Prinsip kuantitatif. Mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan. Digunakan metode deduktif.
  4. Prinsip isi yang nyata. Yang diriset dan dianalisis adalah isi yang nampak adanya atau tersurat, bukan yang dirasakan peneliti. Sah saja bila ada hasil akhir dari analisis tersebut menunjukkan adanya sesuatu yang tersembunyi.

Ada beberapa ahli yang menyatakan beberapa tujuan dari analisis isi. McQuail (2000) dan Wimmer & Dominick (2000). Menurut McQuail dalam Mass Comunication Theory (2000) tujuan analisis isi adalah:

  • Mendeskripsikan dan membuat perbandingan terhadap isi media
  • Membuat perbandingan antara isi media dengan realitas sosial.
  • Isi media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem kepercayaan masyarakat.
  • Mengetahui fungsi dan efek media.
  • Mengevaluasi medie performance
  • Mengetahui apakah ada bias media

Adapun menurut Wimmer & Dominick (2000:136-138):

  • Menggambarkan isi komunikasi. Mengungkap kecenderungan yang ada pada isi komunikasi, baik melalui media cetak maupun elektronika.
  • Menguji hipotesis tentang karakteristik pesan. Sejumlah peneliti berusaha menghubungkan karakteristik tertentu dari komunikator (sumber) dengan karakteristik pesan yang dihasilkan.
  • Membandingkan isi media dengan dunia nyata.
  • Memperkirakan gambaran media terhadap kelompok tertentu di masyarakat
  • Mendukung studi efek media massa.

Tahapan dalam analisis isi

  1. Merumuskan masalah. Masih berupa konsep-konsep.
  2. Menyusun kerangka konseptual untuk riset deskriptif (satu konsep) atau kerangka teori untuk riset eksplanasi (lebih dari satu konsep).
  3. Menyusun perangkat Metodologi
  4. Menentukan metode pengukuran atau prosedur operasionalisasi konsep, dalam hal ini konsep dijabarkan dalam ukuran-ukuran tertentu, biasanya dalam bentuk kategori-kategori beserta indikatornya. Kategori ini dibuat berdasarkan unit analisis, yaitu satuan yang akan dianalisis.
  5. Menentukan unit analisis atau sesuatu yang akan dianalisis, kategorisasi dan uji reliabilitas. Dalam analisis isi, unit analisis berupa teks, pesan, atau medianya sendiri. Ada beberapa unit analisis dalam analisis isi.

– Unit tematik. Berupa satuan berita, hitungannya berdasarkan tema peristiwa yang diberitakan.

– Unit fisik. Hitungannya berdasarkan satuan panjang, kolom, inci, waktu dari pesan yang disampaikan.

– Unit referens. Rangkaian kata atau kalimat yang menunjukkan sesuatu yang mempunyai arti sesuai kategori.

– Unit sintaksis. Berupa kata atau simbol, hitungannya adalah frekuensi kata atau simbol tersebut.

  1. Menentukan universe atau populasi dan sampel. Ada dua dimensi yang digunakan untuk menentukan populasi, yaitu topik dan periode waktu.

d.Menentukan metode pengumpulan data. Dalam analisis isi berupa dokumentasi isi komunikasi yang akan diriset, seperti kliping berita, merekam film, dan sebagainya.

  1. Menentukan metode analisis. Bisa menggunakan tabel frekuensi, tabel silang, atau rumus statistik tertentu.
  2. Analisis dan interpretasi data.

 

ANALISIS ISI KUALITATIF

Analisis isi kualitatif memfokuskan penelitiannya pada isi komunikasi yang manifest (nampak atau tersurat). Tidak dapat digunakan untuk mengetahui isi komunikasi yang tersirat. Altheide (1996:2) mengatakan bahwa analisis isi kualitatif disebut juga sebagai Ethnographic Content Analysis (ECA), yaitu perpaduan analisis isi objektif dengan observasi partisipan. Peneliti berinteraksi dengan material-material dokumentasi atau bahkan melakukan wawancara mendalam sehingga pernyataan-pernyataan yang spesifik dapat diletakkan pada konteks yang tepat untuk dianalisis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti:

  1. Isi atau konten, situasi sosial seputar dokumen (pesan atau teks) yang diteliti.
  2. Bagaimana proses suatu produk media/isi pesannya dikreasi secara aktual dan diorganisasikan secara bersama.
  3. Emergence, yakni pembentukan secara gradual atau bertahap dari makna sebuah pesan melalui pemahaman dan interpretasi. Peneliti menggunakan dokumen atau teks untuk membntu memahami proses dan makna dari aktivitas-aktivitas sosial. Peneliti pun akan mengetahui apa dan bagaimana si pembuat pesan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya atau bagaimana si pembuat pesan mendefinisikan sebuah situasi. (Ida, 2001:148)

Analisis isi kualitatif bersifat sistematis, analitis, tapi tidak kaku. Kategorisasi hanya dipakai sebagai petunjuk, diperbolehkan konsep-konsep atau kategorisasi yang lain muncul selama proses penelitian. Peneliti dalam melakukan analisis bersikap kritis terhadap realitas yang ada dalam teks analisis. Kritis dalam hal ini dipengaruhi oleh pandangan Marxis yang melihat media bukanlah kesatuan yang netral, tetapi media dipandang sebagai alat kelompok dominan untuk memanipulasi dan mengukuhkan kekuasaan dengan memarjinalkan kelompok yang tidak dominan. Pada dasarnya analisis isi kulitatif ini memandang bahwa segala macam produksi pesan adalah teks, seperti berita, iklan, lagu, dan simbol-simbol lainnya yang tidak bisa lepas dari kepentingan-kepentingan sang pembuat pesan.

Ida (2001:163) memberikan gambaran tentang tahapan dalam riset analisis kualitatif, yaitu:

  1. Identifikasi masalah.
  2. Mulai mengenal atau terlibat dengan proses dan konteks dari sumber informasi.
  3. Mulai terlibat dengan beberapa (6-10) contoh dari dokumen yang relevan. Menyeleksi unit analisis atau fokus riset.
  4. Membuat protokol (semacam koding form) dan membuat daftar beberapa item atau kategori untuk menunjukkan pengumpulan data dan draft protokol (collection sheet).
  5. Melakukan pengujian protokol dengan mengoleksi data dari beberapa dokumen.
  6. Melakukan revisi terhadap protokol yang ada dan menyeleksi beberapa kasus tambahan untuk membuat protokol selanjutnya yang lebih halus. Hal yang penting dalam perevisian ini yaitu menetapkan kategorisasi yang telah dibuat.
  7. Penentuan sampel atau korpus. Biasanya bersifat theoretical sampling. Penekanan utama dalam analisis isi kualitatif yaitu untuk memperoleh pemahaman maka-makna, penonjolan, dan tema-tema dari pesan dan untuk memahami organisasi dan proses bagaimana pesan-pesan direpresentasikan dalam media.
  8. Koleksi data berupa pengumpulan informasi dan banyak contoh-contoh deskriptif.
  9. Melakukan analisis data termasuk penghalusan konsep dan koding data yang sudah dilakukan. Membaca semua catatan yang dibuat selama proses riset dan mengulang data-data yang diperoleh selama proses berlangsung.
  10. Melakukan komparasi dan kontras hal-hal yang ekstrim dan pemilihan kunci-kunci perbedaan yang muncul dalam setiap kategori atau item teks. Membuat catatan tekstual berupa rangkuman singkat atau melakukan overview terhadap kata yang telah terkumpul untuk setiap kategori.
  11. Melakukan kombinasi antarsemua data dan contoh-contoh kasus yang ada. Dalam presentasi data ini sangat dimungkinkan mencantumkan kutipan-kutipan hasil wawancara atau narasi-narasi observasi yang dilakukan serta membuat ilustrasi-ilustrasi berdasarkan rangkuman protokol informasi untuk setiap kasus yang dianalisis.
  12. Mengintegrasikan semua temuan data dengan interpretasi peneliti dan konsep-konsep kunci dalam draft atau format yang berbeda atau lain.

 

ANALISIS FRAMING

            Analisis framing adalah salah satu metode analisis media, seperti halnya analisis isi dan analisis semiotik. Framing dalam hal ini berarti membingkai sebuah peristiwa. Sobur (2001:162) mengatakan bahwa analisis framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang dan perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan serta hendak dibawa kemana berita tersebut.

Dalam Sudibyo (2001:186), framing merupakan metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan terhadap aspek-aspek tertentu, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.

Hal yang penting dalam melakukan framing adalah ketika sesuatu diletakkan dalam bingkai, maka ada bagian yang terbuang dan ada juga bagian yang terlihat dalam frame. Framing digunakan media untuk menonjolkan atau memberi penekanan pada aspek tertentu sesuai dengan kepentingan media. Biasanya digunakan dalam surat kabar.

Ada banyak model dalam analisis framing, namun di buku ini hanya disampaikan metode framing  dari Robert Entman dan William Gamson dari Eriyanto (2002).

  1. Model analisis framing Robert Entman

Bentuk model framing:

  • Definisi masalah
  • Memperkirakan sumber masalah
  • Membuat keputusan moral
  • Menekankan penyelesaian
  1. Model analisis framing William Gamson dan Andre Modigliani

Frame sebagai cara bercerita atau gugusan ide-ide yang tersusun sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna dari peristiwa yang berkaitam dengan suatu wacana. Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang diguanakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang itu akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan dan ke amana arah berita tersebut. Cara pandang inilah yang disebut Gamson dan Modigliani sebagai kemasan atau package.

ANALISIS WACANA  (DISCOURSE ANALYSIS)

Foucault dalam Mills (1997:8) mengatakan bahwa wacana sebagai bidang dari semua pernyataan atau statement, kadang sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan. Sedangkan Eriyanto (2005:5) mendefinisikan analisis wacana sebagai suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Wacana merupakan praktik sosial (mengkonstruksi realitas) yang menyebabkan sebuah hubungan dialektis antara peristiwa yang diwacanakan dengan konteks sosial, budaya, ideologi tertentu.

Model analisis wacana

  1. Model Analisis Halliday

Dalam model ini mencakup tiga unsur:

  1. Medan wacana (field of discourse) yaitu tindak sosial yang sedang terjadi atau dibicarakan, aktivitas dimana para perlaku terlibat di dalamnya, serta praktik-praktik yang terlihat dalam teks.
  2. Pelibat wacana (tenor of discourse): pihak-pihak yang terlibat dalam pembicaraan serta kedudukan dan hubungan di antara mereka.
  3. Mode wacana (mode of discourse): pilihan bahasa masing-masing media, termasuk gaya bahasa yang digunakan bersifat eksplanatif, deskriptif, persuasif, hiperbolis, dan lainnya serta bagaimana pengaruhnya.
  4. Model Analisis Norman Fairclough

Dalam model ini menjelaskan wacana sebagai perpaduan linguistik dan pemikiran-pemikiran sosial dan politik yang memusatkan perhatian pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial atau merefleksikan sesuatu.

  1. Dilakukan analisis linguistik pada struktur teks untuk menjelaskan teks tersebut, yang meliputi kosa kata, kalimat, proposisi, makna kalimat dan lainnya.
  2. Praktik wacana. Dimensi yang berkaitan dengan proses produksi dan konsumsi teks. Sebuah teks pada dasarnya dihasilkan lewat proses produksi, seperti pola kerja, bagan kerja, dan rutinitas dalam menghasilkan teks. Demikian pula konsumsi teks dapat berbeda dalam konteks yang berbeda.
  3. Praktik sosial budaya. Dimensi ini melihat konteks di luar teks, antara lan sosial, budaya, atau situasi saat wacana itu dibuat.

 

SEMIOTIK

Menurut Preminger (2001), ilmu semiotik menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Jadi, semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya.

Peirce dalam Fiske (1990) membedakan tanda atas:

  1. Lambang: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional. Lambang ini adalah tanda yang dibentuk karena adanya consensus dari pada pengguna tanda.
  2. Ikon: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya berupa hubungan berupa kemiripan. Ikon merupakan bentuk tanda yang dalam berbagai bentuk menyerupai objek dari tanda tersebut.
  3. Indeks: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya timbul karena ada kedekatan eksistensi. Tanda yang mempunyai hubungan langsung (kausalitas) dengan objeknya.

 

Adapun model analisis semiotik menurut Charles S. Peirce. Dalam Fiske (1990) dan Littlejohn (1998), semiotika berangkat darir tiga elemen utama. Piere menyebutnya teori segitiga maakna atau triangle meaning.

  1. Sesuatu yng berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Acuan tanda tersebut disebut objek.
  2. Acuan tanda atau objek. Konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
  3. Pengguna tanda (interpretant). Konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

Model analisis semiotik Ferdinand Saussure

Saussure mengatakan tanda terbuat atau terdiri dari:

  1. Signifier, berupa bunyi bunyi dan gambar.
  2. Signified, konsep-konsep dari bunyi bunyian dan gambar. Berasal dari kesepakatan.

Tanda atau sign  merupakan sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat dilihat dan didengar yang biasanya merujuk kepada sebuah objek atau aspek(referent) dari realitas yang ingin dikomunikasikan.

Kode merupakan sistem pengorganisasian tanda yang mempunyai sejumlah unit. Bagaimana menginterpretasi pesan-pesan yang tertulis yang tidak mudah di pahami. Dalam semiotik, kode dipakai untuk merujuk pada struktur perilaku manusia.

Ada dua cara pengorganisasian tanda ke dalam kode menurut Saussure, yaitu:

  1. Sekumpulan tanda yang dari dalamnya dipilih satu untuk digunakan. Contohnya, kumpulan bentuk dari rambu lalu lintas yang dimana ada persegi, lingkaran, dan segitiga. Itu merupakan bentuk bentuk paradigma, dengan paradigma itu sekumpulan simbol dapat bekerja di dalamnya.
  2. Pesan yang dibangun dari paduan tanda-tanda yang dipilih. Contohnya rambu lalu lintas adalah sintagma, yakni paduan dari bentuk-bentuk pilihan dengan simbol pilihan. Dalam semiotik, sintagma digunakan untuk menginterpretasikan teks (tanda) berdasarkan urutan kejadian atau peristiwa yang memberikan makna atau bagaimana urutan kejadian atau peristiwa menggeneralisasi makna.

 

Model semiotik Roland Barthes

Tatanan pertandaan atau order of signification menurut Barthes:

  1. Makna kamus dari sebuah kata atau terminologi atau objek (literal meaning of a term or object), sebuah deskripsi dasar.
  2. Makna kultural yang melekat pada sebuah terminologi.
  3. Mengomunikasikan dengan analogi.
  4. Subkategori metafor dengan menggunakan kata-kata “seperti”.
  5. Mengomunikasikan dengan asosisasi dengan cara menghubungkan sesuatu yang kita ketahui dengan sesuatu yang lain.
  6. Subkategori metonimi yang memberikan makna “keseluruhan” atau “sebaliknya”. Sebuah bagian digunakan untuk mengasosiasikan keseluruhan bagian tersebut.
  7. Hubungan antarteks (tanda) dan dipakai untuk memperlihatkan bagaimana teks saling bertukar satu dengan yang lain, sadar ataupun tidak.

 

Tahapan Penelitian Semiotik

Christomy dalam Sobur (2001) memberi tahapan-tahapan penelitian semiotik:

  1. Cari topik yang menarik perhatian
  2. Buat pertanyaan riset yang menarik (mengapa, bagaimana, di mana, apa)
  3. Tentukan alasan atau rasionalitas penelitian
  4. Tentukan metode pengolahan data (model semiotiknya)
  5. Klasifikasi data:
  6. Identifikasi teks (tanda)
  7. Berikan alasan mengapa teks (tanda) tersebut dipilih dan perlu diidentifikasi
  8. Tentukan pola semiosis yang umum dengan mempertimbangkan hierarki maupun sekuennya atau pola sintagmatis dan paradigmatis.
  9. Tentukan kekhasan wacananya dengan mempertimbangkan elemen semiotika yang ada.
  10. Analisis data berdasarkan:
  11. Ideologi, interpretan kelompok, ­framework budaya
  12. Pragmatik, aspek sosial, komunikatif
  13. Lapis makna, intertekstualitas, kaitan dengan tanda lain, hukum yang mengaturnya
  14. Kamus vs ensiklopedia.
  15. Kesimpulan

 

APLIKASI TEORI NICHE (EKOLOGI MEDIA) UNTUK MENGUKUR PERSAINGAN MEDIA

Teori ini dapat digunakan untuk penelitian tingkat kompetisi antar media massa dan untuk mengukur persaingan antarprogram PR beberapa perusahaan. Menurut teori ini, untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya setiap makhluk hidup memerlukan sumber penunjang yang ada di alam sekitarnya.

Secara ekologis ruang kehidupan dan tingkat persaingan media dapat diriset secara kuantitatif dengan menghitung besaran niche-nya. Dalam Dimmick (1984) niche adalah semua komponen dari lingkungan di mana organisasi atau populasi berinteraksi. Menurut Levin dalam Sendjaya (1997) sifat interaksi tersebut tergantung pada tiga faktor:

  1. Niche Breadth, daerah atau ruang sumber penunjang kehidupan yang ditempati oleh masing-masing individu atau tingkat hubungan antara populasi dengan sumber penunjang.
  2. Niche Overlap, penggunaan sumber penunjang kehidupan yang sama dan terbatas oleh dua makhluk hidup atau lebih sehingga terjadi tumpang tindih atau derajat persamaan ekologis atau kompetisi antarpopulasi dalam memperebutkan sumber penunjang.
  3. Jumlah seluruh sumber daya yang dapat digunakan oleh seluruh populasi.

 

READERSHIP STUDIES

Secara umum ada beberapa jenis penelitian yang bisa dimasukkan dalam penelitian-penelitian readership, yaitu:

  1. Item-Selection Studies (Tracking Media). Bermaksud mengetahui penerimaan khalayak terhadap isi media. Unit analisis dalam riset tracking media adalah artikel berita yang spesifik serta semua isi media.
  2. Audience Profile (Profil Khalayak). Penelitian ini untuk memahami karakteristik-karakteristik konsumen media, yang mencakup demografis, gaya hidup, psikografis, dengan metode survei. Termasuk kategori penelitian perilaku konsumen.

 

READER-NONREADER STUDIES

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kelompok masyarakat mana yang termasuk pembaca dan kelompok masyarakat mana yang bukan. Digali juga alasan mengapa mereka membaca atau mengapa mereka tidak membaca.

  • Studi perbandingan pembaca dan editor. Mempertemukan persepsi atau selera antara editor dengan pembaca
  • Program testing. Ada tiga tahap program testing:
  1. Tahap perencanaan atau ide, program yang diuji masih dalam bentuk naskah acara siaran.
  2. Tahap produksi prototipe, sudah dalam bentuk “rough package
  3. Tahap produksi final paket acara, sudah berbentuk paket acara.
  • Music call-ou research.
  • Station image

 

RISET OBSERVASI PARTISIPAN (KONSTRUKTIVIS) PADA MEDIA

  1. Studi tentang organisasi berita
  2. Studi tentang reporter dan sumber berita atau yang biasa disebut para ideologi pekerja media.
  3. Implikasi berita: efek sebagai proses
  4. Kreatifitas dan otonomi pembuat program TV

RISET KULTIVASI  (CULTIVATION)

Kultivasi artinya penguatan, pengembangan, perkembangan, penanaman, atau pereratan. Riset kultivasi adalah riset tentang efek sosial terpaan media massa. Analisis riset ini berhubungan dengan totalitas pola yang dikomunikasikan secara kumulatif oleh televisi terhadap lamanya terpaan daripada isi tertentu atau pengaruh tertentu. Riset ini bisa dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen.

Ada tahapan dalam analisis kultivasi:

  1. Mendeskripsikan tayangan yang disampaikan media (media-world) melalui analisis si secara periodik terhadap tayangan pada periode waktu tertentu.
  2. Melakukan studi survei kepada khalayak tentang terpaan TV yang menerpanya. Responden dibagi dalam “heavy-viewers” dab “light-viewers” berdasarkan frekuensi menonton termasuk durasinya.

 

READABILITY STUDIES

Metode ini berupaya menguji tingkat keterbacaan isi media oleh pembacanya. Readability memiliki tiga dimensi dari proses membaca, yakni:

  1. Pemahaman terhadap kata, frasa, dan keterkaitan ide dalam bacaan dengan pengalaman dan pengetahuan pembaca.
  2. Bagaimana pembaca dapat membaca teks dalam kecepatan maksimal.
  3. Faktor motivasi yang memengaruhi ketertarikan pembaca terhadap teks.

 

RISET KOMUNIKASI: PUBLIC RELATIONS, ORGANISASI, DAN KOMUNIKASI PEMASARAN

Cara sekorang praktisi PR membangun citra positif terhadap organisasi:

  1. Mempertahankan komunikasi yang harmonis
  2. Meningkatkan saling pengertian antara perusahaan dengan publiknya
  3. Menjaga sikap dan perilaku dirinya dan anggota organisasi

 

SIFAT RISET PUBLIC RELATIONS

Riset Informal

  1. Record Keeping. Membuat pencatatan atau perekaman terhadap segala aktivitas dalam perusahaan yang ditata dan disimpan secara rapi.
  2. Managing By Walking Around (MBWA), PR secara aktif dan berkala melakukan kunjungan ke divisi-divisi kerja dalam perusahaan dan melakukan komunikasi personal dengan para karyawan. Kemudian PR akan megetahui keluhan, keinginan, dan kebutuhan karyawan.
  3. Kotak Opini atau Opinion Box. Karyawan menulis surat yang berisi fakta-fakta, opini-opini, keluhan-keluhan, saran, dan kritik dan dikumpulkan oleh PR.
  4. Unobstrusive Measurement. Menganalisis seseorang atau sesuatu (objek) yang lain tanpa mengganggu aktivitas yang diriset atau tanpa menginterupsi (menghentikan) kegiatan yang diriset.
  5. Publicity Analysis. Menganalisis isi media yang berkaitan dengan publisitas oleh media.

Riset Formal

Riset formal adalah riset yang dilakukan dengan menggunakan prosedur-prosedur ilmiah, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

  1. Wawancara mendalam.
  2. Analisis isi. Baik tertulis maupun lisan.
  3. Focus Group Discussion (FGD)
  4. Eksperimen

 

MODEL KOMUNIKASI PUBLIC RELATION

  1. Model Press Agentry, yaitu model komunikasi public relations di mana informasi begerak satu arah dari organisasi kepada publiknya. PR lebih banyak melakukan propaganda atau kampanye melalui komunikasi satu arah (one way communication) dari organisasi kepada publiknya.
  2. Model Public Information. Dalam hal ini PR bertindak sebagai “journalist in resident”. Berupaya membangun kepercayaan terhadap organisasi melalui komunikasi satu arah.
  3. Model Two-Way Asymetric. Komunikasi berperan untuk pengumpulan informasi tentang publik untuk pengambilan keputusan manajemen. Melalui model ini PR dapat membantu organisasi memersuasi publikuntuk berpikir dan berperilaku seperti yang di kehendaki organisasi. Dalam model ini, PR menggunakan metode ilmiah seperti polling, interview, FGD untuk mengukur sikap publik, sehingga organisasi dapat mendesign program yang bisa mendapatkan dukungan publik.
  4. Model Two-Way Symetric. PR menerapkan komunikasi dua arah timbal balik, di mana organisasi dan publik berupaya untuk mengadaptasikan dirinya untuk kepentingan bersama. Ada proses negosiasi sehingga terjalin relasi jangka panjang.

 

KATEGORI RISET PUBLIC RELATIONS

Riset dalam public relations menjadi sarana melakukan evaluasi dan ada beberapa tahapan dalam melakukan evaluasi program PR, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan (implementasi), dan efek terhadap khalayak. Dalam tahap persiapan misalnya mengukur kualitas pesan dengan cara uji readability. Kemudian dalam pelaksanaan atau implementasi program, praktisi PR bisa melakkukan riset untuk mengukur jumlah pesan yang disampaikan, jumlah orang yang menerima pesan, atau jumlah orang yang menghadiri pesan. Setelah itu tahap selanjutnya efek terhadap khalayak misalnya mengukur jumlah orang yang berubah opininya, sikapnya, atau perilakunya kearah yang mendukung organisasi.

PUBLIC RELATIONS AUDIT

Audit PR dalam hubungannya dengan organisasi dan publiknya dapat diidentifikasi ke dalam empat kategori:

  1. Relevant Publics. PR menyusun segmen publik yang paling penting organisasi.
  2. The Organization’s Standing with Publics. Dalam Teori Situasional Crisis Communications (Coombs, 2007), ada tiga variable dalam situasi krisis yang memengaruhi reputasi perusahaan:

-Penanggungjawab krisis pertama. Tingkat tinggi rendahnya atribusi publik terhadap tanggung jawab perusahaan atau seberapa besar kepercayaan publik bahwa krisis terjadi karena perilaku perusahaan atau bukan.

– Sejarah krisis atau crisis history. Apakah perusahaan mempunyai pengalaman mengalami situasi krisis yang sama di masa lalu.

– Reputasi perusahaan sebelumnya atau prior relational reputation. Persepsi publik tentang bagaimana perlakuan perusahaan terhadap korban atau publik pada situasi situasi sebelumnya. Menurut teori Situasional Crisis Comunnication, jika perusahaan tidak memperlakukan publik dengan baik pada beberapa situasi sebelumnya, dapat dipastikan perusahaan itu mempunyai prio relational reputation yang buruk.

  1. Issues of Concern to Publics. PR disini berupaya mengetahui dan mengidentifikasi publik berdasarkan isu isu yang yang menarik perhatian meereka. Penemuan ini kemudian dikomparasikan dengan kebijakan organisasi. Ini merupakan langkah penting untuk menyusun perencanaan program kampanye humas bagi berbagai publik.
  2. Power of Publics.

AUDIT KOMUNIKASI ORGANISASI

Audit komunikasi organisasi adalah sebuah analisis yang komplet terhadap komunikasi dari sebuah organisasi dirancang unyuk memotret kebutuhan komunikasi, kebijakan, maupun praktik-praktiknya.

 

SOSIAL AUDIT

            Pada umumnya sosial audit merupakan survei sikap dan opini yang mengukur persepsi bermacam-macam publik sebagai wujud respons masyarakat terhadap perusahaan.

 

MACAM RISET PUBLIC RELATIONS

Berdasarkan beberapa kategori riset PR tersebut, berikut macam-macam riset yang biasa dilakukan dalam kegiatan PR

  1. Audit Komunikasi Organisasi.
  • Ruang lingkup audit komunikasi: Audit dapat mengukur efektivitas dari program-program komunikasi yang meliputi keseluruhan organisasi dalam sebuah divisi atau departemen atau spesifik dalam kelompok karyawan.
  • Hal yang disediakan: Informasi yang bermaksa bagi anggota manajemen yang menaruh perhatian pada efisiensi, kredibilitas dan ekonomi dalam kebijakan, praktik, maupun program komunikasinya.
  • Dilakukan pada setiap lima hingga tujuh tahun
  • Subjek yang dicover: communication philosophy, organisasi, staffing, kompensasinya, program-program komunikasi yang ada, publikasi, buletin, personal communication, meeting, kebutuhan anggota.
  • Metode pengumpulan data dapat berupa survei dengan kuesioner, wawancara tatap muka, analisis jaringan, pengalaman komunikasi, buku harian komunikasi

 

Tujuan audit komunikasi:

  • Menentukan “lokasi” di mana kelebihan atau kekurangan muatan informasi
  • Menilai kualitas informasi yang dikomunikasikan oleh dan/atau kepada sumber-sumber informasi
  • Mengukur kualitas hubungan-hubungan komunikasi
  • Mengenali jaringan-jaringan yang aktif

 

  1. Mengukur efektivitas komunikasi organisasi

Profil komunikasi organisasi memiliki beberapa variabel yang diukur:

  • Iklim komunikasi. Subvariabel yang diukur adalah kepercayaan, pembuatan keputusan bersama, pemberian dukungan, keterbukaan, serta perhatian atas tujuan berkinerja tinggi
  • Kepuasan organisasi. Subvariabel yang diukur adalah kepuasan kerja, kepuasan kepenyeliaan atau supervisi, kepuasan upah dan keuntungan, kepuasan penilaian prestasi, promosi, dan peluang kerja, kepuasan pada rekan sejawat, aksesibilitas informasi, serta kualitas media.
  • Penyebaran informasi, adalah persepsi anggota organisasi mengenai jumlah berbagai informasi dalam organisasi yang diterima.
  • Beban informasi, yaitu persepti anggota mengenai jumlah berbagai informasi dalam organisasi yang diharapkan mereka
  • Ketepatan informasi, adalah persepsi anggota organisasi mengenai jumlah bit informasi yang mereka ketahui
  • Budaya organisasi, yaitu persepsi anggota organisasi mengenai nilai kunci dan konsep bersama yang membentuk citra mereka terhadap organisasi

 

  1. Analisis jaringan komunikasi

Tujuan dari analisis jaringan komunikasi adalah untuk mengetahui bagaimana arus informasi terpolakan yang mengalir dalam individu-individu pada sebuah sistem. Konsep utama dalam analisis jaringan adalah informasi. Informasi dapat diartikan sebagai:

  1. Fakta atau data yang diperoleh selama tindakan komunikasi berlangsung yang merupakan kuantitas fisik yang dapat dipindahkan dari satu titik ke titik lainnya.
  2. Sejumlah ketidakpastian yang dapat diukur dengan cara mereduksi sejumlah alternatif pilihan yang tersedia. (Sendjaja, 1998)
  3. Sesuatu yang digunakan untuk mengurangi ketidakpastian akan sesuatu.

Adapun panduan proses riset analisis jaringan menurut Rogers & Kincaid (1980):

  1. Mengidentifikasi klik-klik dalam keseluruhan sistem dan menentukan bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku komunikasi dalam sistem.
  2. Mengidentifikasi beberapa peranan komunikasi yang terspesialisasi, seperti liason, bridges, dan
  3. Mengukur variasi struktur komunikasi (seperti hubungan komunikasi) di antara individu, diadik, jaringan interpersonal, klik-klik, atau keseluruhan sistem.

Klik adalah bagian dari suatu sistem jaringan komunikasi yang anggota-anggotanya relatif lebih sering berhubungan satu sama lain antar anggotanya. Syarat klik menurut Rogers dan Kincaid adalah:

  1. Setiap klik paling sedikit terdiri tiga anggota.
  2. Setiap anggota klik tidak mempunyai 50% hubungan.
  3. Semua anggota klik harus berhubungan satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung, artinya tidak memerhatikan arah hubungan.

Penghubung antarklik adalah individu anggota jaringan komunikasi yang menghubungkan dua klik atau lebih dalam suatu jaringan komunikasi. Penghubung ini terdiri dari bridge (individu sebagai penghubung antar dua klik atau lebih, dan individu tersebut menjadi anggota salah satu kliknya), liason (individu sebagai penghubung antarsatu klik atau lebih, namun individu tersebut tidak sebagai anggota klik manapun juga).

  1. Public relations online

Manfaat kegiatan PR jika menggunakan internet:

  • Dapat menjadi sarana komunikasi sekaligus penyedia informasi
  • Sarana mendapatkan informasi kemajuan dunia.
  • Memelihara hubungan
  • Membentuk kelompok diskusi atau bisnis bagi siapapun
  • Sarana p romosi
  • Menciptakan hubungan one to one, daripada media massa lain yang bersifat one to many
  1. Profil Khalayak atau audience profile research

Macam-acam profil khalayak:

  • Profil geografis. Berdasarkan tempat tinggal
  • Profil sosiodemografis. Meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, agama, dan faktor faktor sosial, ekonomi dan budaya lainnya.
  • Profil gaya hidup dan psikografis. Gaya hidup merupakan pola di mana orang hidup dan menghabisnya waktu serta uang, sedangkan psikografi adalah ukuran operasional dari gaya hidup
  1. Riset tentang elemen pesan

Elemen pesan terdiri dari:

  • Struktur pesan atau pengorganisasian elemen-elemen pokok

Message sidedness

Urutan penyajian atau order of presentation. Yang berupa klimaks-antiklimaks, recency-primacy, serta penarikan kesimpulan

  • Daya tarik pesan (message appeals), berupa ancaman, emotional appeals, rational appeals, serta humor.
  1. Riset motivasi dalam organisasi dan pemasaran

Teori motivasi yang sering dijadikan rujukan:

  • Teori Motivasi Maslow (Hierachi of needs)

Maslow mengatakan manusia melakukan sesuatu berdasarkan kebutuhan tertentu. Kebutuhan tersebut dapat dikategorikan sebagai:

  1. Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan fisik-biologis manusia
  2. Kebutuhan mendapatkan keamanan-keselamatan
  3. Kebutuhan sosial, meliputi kebutuhan bergabung dengan orang lain, diterima, dicintai orang lain.
  4. Kebutuhan penghargaan: bonus, promosi, pujian, hadiah.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri berupa keberhasilan
  • Teori ERG

Alderfer membagi kebutuhan menjadi tiga yaitu:

  1. Existence atau eksistensi. Berupa kebutuhan fisiologi dan kebutuhan materi
  2. Relatedness atau keterkaitan. Berupa kebutuhan berhubungan dan diterima orang lain.
  3. Growth atau pertumbuhan. Berupa keinginan untuk produktif dan kreatif.

 

  • Teori Kesehatan-Motivator

Herzberg dalam Pace & Faules (2001) mengatakan ada dua kebutuhan:

  1. Kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan kerja (motivator). Seperti prestasi, penghargaan, tanggungjawab, dan potensi bagi pertumbuhan diri.
  2. Kebutuhan yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja (kesehatan). Seperti gaji, pengawasan (supervisi), keamanan kerja, kondisi kerja, administrasi, kebijakan organisasi, dan hubungan antarpribadi dengan atasan, sesama rekan kerja atau bawahan di tempat kerja.
  • Teori Persepsi tentang Motivasi

Wayne Pace (2001) menngatakan bahwa motivasi kerja didasarkan empat asumsi:

  1. Seberapa jauh harapan karyawan dipenuhi oleh organisasi.
  2. Apa yang dipikirkan karyawan mengenai peluang mereka dalam organisasi
  3. Bagaimana karyawan mengenal seberapa banyak pemenuhan yang diperoleh dari pekerjaan dalam organisasi.
  4. Bagaimana persepsi karyawan mengenai kinerja mereka dalam organisasi.

Pada dasarnya riset ini mencoba menentukan the way of human behaviour, mengapa orang berbuat tindakan tertentu dan bukan tindakan tertentu lainnya. Dalam riset motivasi, ada tiga informasi penting yang dibutuhkan yaitu:

  1. Sikap, yaitu kecenderungan orang untuk berpikir, berperasaan, berpendapat maupun berperilaku tertentu terhadap suatu objek. Objek sikap dalam komunikasi pemasaran mencakup: kesadaran akaan kategori dan merk produk di dalam kategori produk, terminologi produk, atribut atau ciri produk, kepercayaan tentang kategori produk secara umum dan mengenai merk spesifik, strategi komunikasi yang digunakan untuk promosi prorduk.
  2. Citra, yaitu gambaran tentang objek di pikiran khalayak atau konsumen. Terbentuk karena permainin simbol dan asosiasi.
  3. Motif, yaitu penggerak untuk melakukan tindakan sesuatu. Setiap orang digerakkan atau didorong oleh kebutuhan dan keinginan tertentu.
  4. Riset advertising.

Terence A. Shimp (2003) mengkategorikan ke dalam dua bentuk:

  1. Riset pesan iklan. Dilakukan untuk menguji efektivitas pesan kreatif iklan.
  2. Riset media, bertujuan mengkaji karakteristik khalayak media periklanan serta banyaknya khalayak yang bisa dijangkau sehingga peringkat atau rating dapat ditentukan.
  3. Riset rating

Rating merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui jumlah khalayak. A.C. Nielsen mengenalkan beberapa metode pengukuran rating, yaitu:

  1. Audimeter, yaitu alat modern dalam menyurvei perilaku menonton TV dan mendengarkan radio khalayak.
  2. Channel Diaries, yaitu meminta khalayak untuk mengisi atau merekam aktivitas mengonsumsi media dalam sebuah buku harian.
  3. Phone interview. Melalui telepon, sampel diminta memberikan keterangan-keterangan apakah ada anggota rumah tangga yang melihat televisi atau mendengarkan radio.
  4. People meter, yaitu alat yang dikendalikan secara manual dan sedikit lebih besar dari selektor saluran televisi yang khas.

 

Tolok Ukur Efektivitas Kampanye Program Public Relations

Dalam marketing communication  dan public relations ada tolok ukur yang mengukur keefektivitasan dari hasil program kampanye, yaitu:

  1. Audience coverage, yaitu seberapa banyak khalayak yang diterpa atau dijangkau pesan-pesan kampanye public relations. Penting bahwa pemilihan media atau media planning untuk menjangkau khalayak sasaran dengan efektif.
  2. Audience response. Bila khalayak merespons secara positif, maka kampanye PR dapat dibilang efektif. Artinya kampanye PR bisa mendorong partisipasi aktif khalayak untuk mendukung program yang dilaksanakan. Semacam sense of belonging dari khalayak terhadap perusahaan. Kemampuan PR dalam menciptakan keterlibatan sosial (social involvement) yang tinggi.
  3. Communication impact. Sejauh mana pesan-pesan komunikasi yang menggunakan berbagai media mampu memengaruhi kognitif, afektif, dan konatif atau perilaku khalayak. Proses komunikasi harus dapat membantu menyebarkan pesan yang dapat dimengerti, dipahami, dirasakan, dan ditiru khalayak sasaran.
  4. Process of influence. Proses persuasi yang dilakukan oleh PR harus terkesan alami dan sewajarnya, tidak terlihat dipaksakan, apalagi kesan melebih-lebihkan perusahaan.