RSS Feed

BERBAGAI PERSPEKTIF DALAM METODE PENELITIAN KOMUNIKASI

12 September 2019 by Tavia Dettaharashta Saharria

PENGANTAR

Dunia pendidikan tidak akan pernah mati sampai kapanpun karena masyarakat butuh para intelektual dan kemajuan pengembangan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari dulu hingga sekarang para intelek terus menerus melakukan penelitian serta riset seiring terus berkembangnya zaman.

Begitu pula dalam dunia ilmu komunikasi. Komunikasi melekat erat dengan setiap aktivitas kehidupan sehingga penelitian serta pengembangan komunikasi pun terus menerus dikembangkan. Dalam metodologi penelitian komunikasi, ada beberapa pandangan atau paradigma yang dapat diaplikasikan dalam menilik suatu masalah atau fenomena. Tiga diantaranya yaitu positivistik, konstruktivis, dan kritis. Dalam tulisan ini penulis akan membahas tentang ketiga paradigma, perbedaannya, serta bagaimana pengaplikasian ketiga paradigma tersebut dalam melakukan penelitian dalam bidang komunikasi.

Adapun tujuan penulisan adalah untuk menjelaskan perbedaan paradigma positivistik, paradigma konstruktivis, dan paradigma kritis. Penulis juga akan menjelaskan bagaimana paradigma-paradigma itu digunakan dalam sebuah penelitian komunikasi.

 

PENGERTIAN PARADIGMA

Paradigma, perspektif, pendekatan. Ketiganya memiliki makna yang sama, yaitu bagaimana cara pandang dalam melihat suatu fenomena. Semua orang memiliki cara pandang masing-masing dan penafsirannya pun berbeda sehingga dapat membentuk persepsinya sendiri.

Kriyantono (2006) mengatakan bahwa: “Ada dua sifat perspektif atau pendekatan, yaitu bersifat membatasi pandangan kita dan selektif. Artinya, perilaku orang ditentukan oleh perspektifnya tentang realitas. Berdasarkan perspektif itu, dia memerhatikan, menginterpretasi, dan memahami stimuli dari realitas yang ditemui serta mengabaikan stimuli lainnya, lalu berperilaku berdasarkan pemahamannya lewat perspektif itu. Jadi realitas yang kita tangkap dan tafsirkan bukanlah realitas yang utuh, melainkan realitas yang telah kita pilih beberapa aspek tertentu saja yang kita anggap menarik dan penting. Perspektif merupakan dasar dari persepsi karena itu sangat memengaruhi persepsi kita akan realitas. Persepsi diartikan sebagai proses memberikan makna pada objek atau realitas.”

 

PERBEDAAN PARADIGMA POSITIVISTIK, KONSTRUKTIVIS, DAN KRITIS

Guba & Lincoln (1994:17-30) juga menyusun beberapa paradigma dalam teori ilmu komunikasi. Paradigma yang dikemukakan itu terdiri dari paradigma positivistik, paradigma pospositivistik, paradigma kritis, dan paradigma konstruktivisme. Beberapa ahli metodologi dalam bidang ilmu sosial berpendapat bahwa ada satu kesatuan diantara paradigma positivistik dengan pospositivistik, yang dimana sering disebut dengan paradigma klasik. Implikasi metodologis dan teknis dari dua paradigma tersebut, dalam prakteknya, tidak punya banyak perbedaan. Adanya konstelasi paradigma di atas maka teori dan penelitian biasa dikelompokkan dalam tiga paradigma utama, yaitu paradigma klasik atau positivistik, paradigma kritis dan paradigma konstruktivisme. Apabila terjadi tiga pembedaan paradigma dalam ilmu sosial, maka terjadi perbedaan pemahaman terhadap paradigma itu sendiri.

Perbedaan antara ketiga paradigma ini juga dapat dibahas dari 3 (tiga) dimensi. Dimensi-dimensi tersebut adalah dimensi epistemologis, dimensi ontologis, serta dimensi aksiologis.

  • Dimensi epistemologis berkaitan dengan asumsi mengenai hubungan antara peneliti dengan yang diteliti dalam proses memperoleh pengetahuan mengenai objek yang diteliti. Seluruhnya berkaitan dengan teori pengetahuan (theory of knowledge) yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi.
  • Dimensi ontologis berhubungan dengan asumsi mengenai objek atau realitas sosial yang diteliti.
  • dimensi aksiologis berkaitan dengan posisi value judgments, etika serta pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian.

Paradigma kritis pada dasarnya adalah paradigma ilmu pengetahuan yang meletakkan epistemologi kritik Marxisme dalam seluruh metodologi penelitiannya. Fakta menyatakan bahwa paradigma kritis yang diinspirasikan dari teori kritis tidak bisa melepaskan diri dari warisan Marxisme dalam seluruh filosofi pengetahuannya. Teori kritis pada satu pihak merupakan salah satu aliran ilmu sosial yang berbasis pada ide-ide Karl Marx dan Engels (Denzin, 2000: 279-280).

Menurut Kriyantono (2006), perbedaan ketiga paradigma tersebut dalam metodologi riset, metode riset, serta tataran atau cara analisisnya adalah:

 

Positivistik

Metodologi riset: kuantitatif

Metode riset: survei, analisis isi, eksperimental, sensus

Tataran analisis: deskriptif, eksplaratif (analitik), evakratif

Dalam epistemologi positivistik, pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang statis, sesuatu yang adanya bersifat tetap yang berada di luar manusia yang mengetahui (knower). Hal ini membawa dampak bahwa ilmuwan berusaha untuk menemukan suatu “kebenaran” yang ada di alam. Sampai tahun 1970, epistemologi positivistik telah mendasari metodologi pengajaran di dunia Barat. (Waston, 2014)

Konstruktivis

Metolodogi riset: kualitatif

Metode riset: observasi non-partisipan, observasi partisipan, depth-interview, focus group discussion (FGD), studi kasus, analisis isi kualitatif, etnografi

Tataran analisis: deskripsi, eksplorasi (grounded)

Dalam aspek ontologi, paradigma ini menganggap bahwa realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Sedangkan epistemologi, pemahaman terhadap suatu realitas atau temuan penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Ilmuwan dan objek atau realitas yang diteliti merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan (Kriyantono, 2012).

Kritis

Metodologi riset: kualitatif

Metode riset: Analisis wacana, framing, semiotik

Tataran analisis: deskriptif

Ada beberapa karakteristik utama dalam seluruh filsafat pengetahuan paradigma kritis yang bisa dilihat secara jelas. Yang pertama yaitu ciri pemahaman paradigma kritis tentang realitas. Realitas dalam pandangan kritis sering disebut dengan realitas semu. Realitas ini tidak alami tapi lebih karena bangun konstruk kekuatan sosial, politik dan ekonomi. Dalam pandangan paradigma kritis, realitas tidak berada dalam harmoni tapi lebih dalam situasi konflik dan pergulatan sosial (Eriyanto, 2001:3-46). Menurut Hamed (Simbolon, 2014) pun demikian. Realitas yang telah terbentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial, politik, budaya, ekonomi, etnik, nilai gender, dan sebagainya, serta telah terkristalisasi dalam waktu yang panjang.

Ciri yang kedua yaitu ciri tujuan penelitian paradigma kritis. Karakteristik menyolok dari tujuan paradigma kritis ada dan eksis adalah paradigma yang mengambil sikap untuk memberikan kritik, transformasi sosial, proses emansipasi dan penguatan sosial. Dengan demikian tujuan penelitian paradigma kritis adalah mengubah dunia yang tidak seimbang. Dengan demikian, seorang peneliti dalam paradigma kritis akan mungkin sangat terlibat dalam proses negasi relasi sosial yang nyata, membongkar mitos, menunjukkan bagaimana seharusnya dunia berada (Newman, 2000:75-87; Denzin, 2000:163-186).

Ciri ketiga adalah ciri titik perhatian penelitian paradigma kritis. Titik perhatian penelitian paradigma kritis mengandaikan realitas yang dijembatani oleh nilai-nilai tertentu. Ini berarti bahwa ada hubungan yang erat antara peneliti dengan objek yang diteliti. Setidaknya peneliti ditempatkan dalam situasi bahwa ini menjadi aktivis, pembela atau aktor intelektual di balik proses transformasi sosial. Dari proses tersebut, dapat dikatakan bahwa etika dan pilihan moral bahkan suatu keberpihakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari analisis penelitian yang dibuat.

Karakteristik keempat dari paradigma kritis adalah pendasaran diri paradigma kritis mengenai cara dan metodologi penelitiannya. Paradigma kritis dalam hal ini menekankan penafsiran peneliti pada objek penelitiannya. Hal ini berarti ada proses dialogal dalam seluruh penelitian kritis. Dialog kritis ini digunakan untuk melihat secara lebih dalam kenyataan sosial yang telah, sedang dan akan terjadi.

Dengan demikian, karakteristik keempat ini menempatkan penafsiran sosial peneliti untuk melihat bentuk representasi dalam setiap gejala, dalam hal ini media massa berikut teks yang diproduksinya. Maka, dalam paradigma kritis, penelitian yang bersangkutan tidak bisa menghindari unsur subjektivitas peneliti, dan hal ini bisa membuat perbedaan penafsiran gejala sosial dari peneliti lainnya (Newman, 2000:63-87). Dalam konteks karakteristik yang keempat ini, penelitian paradigma kritis mengutamakan juga analisis yang menyeluruh, kontekstual dan multi level. Hal ini berarti bahwa penelitian kritis menekankan soal historical situatedness dalam seluruh kejadian sosial yang ada (Denzin, 2000:170).

 

DAFTAR RUJUKAN

Wuryanta, A. E. W. (2018). Teori Kritis dan Varian Paradigmatis dalam Ilmu Komunikasi

Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Grup.

Kriyantono, Rachmat. (2012). Etika & Filsafat Ilmu Komunikasi. Malang : UB Press.

Waston, W. (2014). Epistemologi Konstruktivisme dan Pengaruhnya terhadap Proses Belajarmengajar di Perguruan Tinggi.