pengendalian hama secara biologis

2012
05.15

PENGENDALIAN HAMA SECARA BIOLOGI

Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adlah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme penggganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diidstilahkan juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen. Dalam hal penggunaan dan pengedalian mikroorganisme yang berguna diperluas yaiu meliputi makhluk hidup termasuk yang bersel tunggal, virion, dan bahan genetik. Tujuan pengendalian  adalah mengupayakan agar populasi hama tidak meni,bulkan kerugian, melalui cara-cara pengendalian yang efektif, menguntungkan, dan aman terhadap lingkungan.

Ada dua pendekatan pengendalian , yaitu proaktif dan reaktif. Proaktif adalah upaya mengekang perkembangan hama agar populasinya tetap dibawah ambang ekonominya, contohnya seperti penanaman varietas tahan, cara bercocok tanam yang baik, dan penggunaan musuh alami. Sedangkan reaktif adalah upaya menekan perkembangan hama agar populasinya kembali di bawa ambang ekonominya, umumnya berupa pengendalian kimiawi.

Cara pengendalian hama dengan bercocok tanam yaitu  yang pertama dengan pengolahan/pengerjaan tanah, hal ini ditujukan terhadap hama yang dalam siklus hidup mempunyai fase di dalam tanah. Contoh nya, larva famili Scarabaeidae (lundi), larva penggerek banatang padi putih (pada pangkal padi) yang berdiapause. Yang kedua dengan sanitasi, yaitu pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman terdahulu atau gulmanya, kemudian pencabuatan tanaman yang terserang hama. Yang ketiga adalah pemupukan, pemupukan yang berimbang dengan kebtuhan tanaman antara N, P, K dan unsur-unsur mikro, dengan tercukupinya unsur hara tersebut tanaman akan sehat dana akhirnya tanaman tersebut akan tahan dari serangan hama. Yang keempat adalah pengairan, cara pengairan ini ada pengairan irigasi yang dibagi menjadi dua cara yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung yaitu dengan Scirpophaga innotata, dan Nymphula depunctalis, dan yang secra tidak langsung dengan perubahan iklmi mikro terutama RH. Yang kelima dengan tanam serempak, yaitu penanaman harus dilaksanakan di areal yang cukup luas, minimal satu hamparan dengan golongan air yang sama, tujuannya untuk membatasi perkembangbiakan serangga hama. Contohnya, pengendalian walang sangit pada padi, pengendalian lalat kacang pada kedelai (lalat ini menyerang kotiledon kedelai). Pengendalian ini secra tidak langsung mengurangi polulasi, yaitu memeratakan serangan per petak (dikonsentrasikan pada petak yang banyak makanannya). Yang keenam yaitu dengan rotasi/pergiliran tanaman, tujuannya untuk mematikan kehidupan hama dengan menghilangkan tanaman inang. Cara ini sangat efektif pada serangga-serangga monofag. Yang ketujuh adalah penanaman tanaman perangkap atau bertani secara jalur (Strip farming), tanaman yang digunakan adalah varietas/tanaman yang paling rentan dan ditanam lebih dahulu. Menanam minimal dua jenis tanaman di lahan yang sama dalam barisan-barisan (tumpang sari), contohnya tumpang sari antara kubis dan tomat dapat mengurangi populasi Plutella xylostella.

Pengendalian hama dengan menggunakan varietas resisten, cara ini tidak termasuk cara bercocok tana, karena yang diganti bukan cara tanam tetapi varietasnya (resisten tidak sama dengan kebal/immune). Sifat resisten tanaman di dasari oleh faktor genetik. Mekanisme resisten adalah sebagai berikut : 1). non prefernce (anti xenosis), yaitu tidak dipilih sebagai tempat hidup, temapt bertelur, sebagai makanan atau sebagai tempat berlindung (sifat serangganya). 2). Antibiosis (dari segi tanamannya), yaitu terjadi pengaru buruk terhadap kehidupan serangga dalam hal mortalitas pradewasa meningkat, siklus hidup memanjang, keperidian (jumlah telur yang mapu dihasilkan imago betina) menurun, lama hidup imago menurun. 3). Toleransi (dari segi tanamannya), yaitu tanaman dapat mentolerii kerusakan akibat serangan serangga sehingga tanaman tersebut masih dapat hidup dan membentuk bagian-bagian yang baru kemudian masih bereproduksi dengan baik.

Pada umumnya usaha pengendalian seragan hama yang kerap dilakukan adalah melalui pemberian insektisida. Namun, penggunaan insektisida secara berlebihan akan berdampak terhadap keseimbangan ekosistem. Misalnya, hama menjadi lebih kebal. Artinya, penggunaan bahan kmia secra berlabihan bukan tidak mungkin menyebabkan populasi hama maupun penyakitnya akan semaki bertambah. Selain itu, musuh alami dari hama yang berada di lahan pertanian maupun perkebunan juga akan ikut mati, bahkan terancam punah.

Pengendalian kimia secara serampangan juga akan menyebabkan penurunan jasad renik. Padahal jasad renik memiliki peran besar sebagai pegurai benda mati menjadi bahan organik yang diperlukan untuk kesuburan tanah. Pengendalian kimia secra berlebihan juga menyebabkan tertinggalnya residu insektisida pada produk pertanian. Hal itu akan sangat membahayakan kesehatan manusia, misalnya menyebabkan kanker dan tumor.

Upaya mengganti insektisida bisa dilakukan dengan pengendalian hama secara biologis. Menurut Dr Rosichon Ubaidillah MPhil, taksonom serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pengendalian hama secara biologis menggunakan musuh alami hama. Metode itu diarahkan untuk mengendalikan hama secara alami dengan membiarkan musuh-musuh alami tetap hidup. Cara itu memang ramah lingkungan, tapi hasilnya tampak dalam jangka waktu lama.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, pengendalian hama secara biologi dengan menggunakan musuh alami seperti pemangsa atau disebut dengan predator, parasitoid, dan patogen. Pemangsa adalah serangga atau hewan pemakan serangga yang selama masa hidupnya banyak memakan mangsa. Secara fisiologis, ciri pemangsa adalah bentuknya lebih besar dari mangsanya. Jenis pemangsa, antara lain kumbang, lalat, laba-laba, tawon, dan seranga-serangga kecil lainnya.

Parasitoid adalah serangga yang meletakkan telurnya pada permukaan atau di dalam tubuh serangga lain yang menjadi inang atau mangsanya. Parasitoid sering juga disebut parasit. Kebanyakan serangga parasitoid hanya menyerang jenis hama secara spesifik. Salah satu contoh parasitoid ini adalah serangga yang dengan suku Eulophidae. Serangga parasitoid dewasa menyalurkan suatu cairan atau bertelur pada suatu hama sebagai inangnya. Ketika telur parasitoid menetas, larva akan memakan inang dan membunuhnya. Setelah itu keluar meninggalkan inang untuk menjadi kepompong lalu menjadi serangga lagi.

Cara pengendalian biologi lainya adalah menggunakan musuh alami patogen, yaitu makhluk hidup yang menjangkitkan penyakit pada inang. Dalam kondisi tertentu, seperti kelembapan yang tinggi secara alami, suatu organisme rawan terhadap serangan patogen. Patogen dapat dimanfaatkan untuk dijadikan musuh alami dari hama pertanian. Contoh patogen di antaranya, bakteri, virus, dan jamur.

Menurut Rosichon, pengendalian biologi memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan. Pasalnya, penggunaan insektisida dapat dikurangi bahkan tidak digunakan sama sekali. Kendati demikian, kunci dari pengendalian hama secara biologi adalah mengenal terlebih dahulu aspek biologi dari serangga itu sendiri. Aspek biologi dari serangga antara lain siklus hidup, umur, dan deskripsi masing-masing spesies. Informasi tersebut menjadi penting untuk menentukan saat yang tepat untuk pengendalian hama.

Hanya saja, kata Rosichon, kelemahan dari pengendalian biologi adalah penerapannya di level petani. Pengendalian biologi yang membutuhkan teknik khusus masih dikuasai para peneliti. Sedangkan perpanjangan tangan dari para peneliti, yaitu Penyuluh Petani Lapangan (PPL) saat ini sudah jarang sekali ditemui di lapangan.

Your Reply

CAPTCHA Image
*