makalah agama islam

2012
12.18

Reformulasi Model Aktualisasi Pendidikan Akhlak Yang Berbasis Islami

Oleh:

Andi Tanaka

Erfian Nugraha

Firmansyah Maulana

Indraswara

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada tahun 2010, penganut Islam di Indonesia sekitar 205 juta jiwa atau 88,1 persen dari jumlah penduduk.[1] Bahkan Indonesia merupakan penduduk terbesar muslim di dunia, yaitu sekitar 12,7 persen dari total muslim dunia.[2] Jika umat Islam Indonesia memiliki karakter mulia, maka Indonesia telah berhasil membangun karakter bangsanya.[3] Sebaliknya jika umat Islam Indonesia hanya bangga dalam hal kuantitas, tetapi tidak memperhatikan kualitas (terutama karakternya), maka Indonesia telah gagal membangun bangsanya. Artinya, ketika umat Islam benar-benar memahami ajaran agama Islam dengan baik lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, pastilah terwujud tatanan kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang berkarakter.

Kenyataan membuktikan bahwa Indonesia banyak bermasalah dalam hal karakter. Hal ini berarti bangsa Indonesia yang didominasi oleh umat Islam belum mengamalkan ajaran agama dengan baik. Ajaran-ajaran Islam semuanya bermuatan karakter mulia, sehingga jika semua ajaran itu dilaksanakan dengan baik sudah pasti akan terwujud insan-insan Muslim yang berkarakter mulia.

Globalisasi yang sedang terjadi di Indonesia telah menyebarkan arus informasi yang begitu banyak dan beragam. Dan arus informasi tersebut tidak hanya berupa pengetahuan tetapi juga berbagai nilai-nilai yang sepintas terasa baru dan asing. Nilai-nilai itu ada yang bersifat positif atau negatif tergantung pada nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah berlaku didalam masyarakat. Dan yang lebih penting lagi pengaruh globalisasi adalah pengaruh nilai-nilai seperti materialisme, konsumerisme, hedonisme, penggunaan kekerasan dan narkoba yang dapat merusak moral masyarakat.[4] Sehingga, apabila umat muslim tidak mempunyai akhlak yang baik dalam hidupnya, maka akan rusak juga akhlak yang dimilikinya.

Salah satu misi lahirnya agama islam di dunia adalah untuk menyempuranakan akhlak manusia. Akhlak inilah yang harus dipegang setiap muslim di dalam kehidupannya. Seseorang yang hendak memperoleh kebahagiaan sejati  (al-sa’adah al-haqqiyah), hendaknya menjadikan akhlak sebagai landasannya dalam bertindak dan berperilaku.[5] Sebaliknya, orang yang tidak memperdulikan akhlak adalah orang yang tidak memiliki arti dan tujuan hidup.

Di era globalisasi sekarang ini, setidaknya terdapat tiga fungsi akhlak dalam kehidupan manusia. Pertama, ia dapat dijadikan sebagai panduan dalam memilih apa yang boleh diubah, dan apa pula yang harus dipertahankan. Kedua, dapat dijadikan obat penawar dalam menghadapi ideology kotemporer (seperti materialisme, nihilisme, hedonisme, radikalisme, marxisme, sekulerisme, dan lain-lain. Ketiga, dapat pula dijadikan sebagai benteng dalam menghadapi perilaku menyimpang akibat pengaruh negatif globalisasi.[6]

Dalam menghadapi globalisasi tersebut sebaiknya kita tidak boleh bersikap apriori menolak apa saja yang datang bersama arus globalisasi itu, misalnya dengan dalih itu semua adalah budaya dan nilai-nilai Barat bersifat negatif. Sebaliknya kita harus bersikap selektif dan berusaha menfilter nilai-nilai dan menanamkan nilai-nilai (akhlak) pada peserta didik agar dapat mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan globalisasi yang mereka hadapi dan alami.

Dalam rangka penanaman nilai-nilai (akhlak) tersebut pendidikan menjadi kunci utama, tentu saja penanaman nilai-nilai tersebut tidak akan dapat diwujudkan bila ia hanya mengandalkan pendidikan formal semata, setiap sektor pendidikan lain baik formal, informal maupun non formal harus difungsikan secara integral. Di samping itu, pendidikan harus diarahkan secara seimbang antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pendidikan mempunyai peran penting dalam melakukan sosialisasi nilai-nilai (akhlak) kepada peserta didik, sehingga diperlukan sistem pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu diperlukan reformulasi terhadap pendidikan Islam, dimana pendidikan Islam harus bersifat seimbang antara tujuan yang bersifat duniawi dan ukhrawi serta yang tidak kalah pentingnya adalah diperlukan penanaman akhlak pada diri peserta didik. Penanaman akhlak kepada peserta didik ini harus seimbang antara akhlak yang berdimensi rasional (etika rasional) dan akhlak yang berdimensi religius murni (etika religus), sehingga hasil akhir pendidikan Islam diharapkan akan mampu mewujudkan pribadi-pribadi yang mempunyai kecerdasan tinggi dan sikap religius yang mapan atau iman, ilmu dan amalnya berjalan secara seimbang.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut dalam karya tulis yang berjudul Reformulasi Model Aktualisasi Pendidikan Akhlak Yang Berbasis Islami

2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagamanakah implementasi empat akhlak muslim yang berbasis islami ditinjau dari perpekstif islam?
  2. Bagaimanakah implementasi reformulsi model aktualisasi pendidikan akhlak dalam kehidupan muslim?

 

2.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui, mengidentifikasikan, dan menganalisis implementasi empat akhlak muslim yang berbasis islami ditinjau dari perpekstif islam.
  2. Untuk mengidentifikasikan, menemukan, dan menganalisis urgensi implementasi reformulasi model pendidikan aktualisasi akhlak dalam kehidupan muslim.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1Akhlak Muslim Yang Berbasis Islami Ditinjau dari Perpekstif Islam

Perkataan akhlak secara etimologis berasal dari bahasa Arab jama’ dari “khuluqun” yang berarti budi pekerti. Kata-kata akhlak mengandung segi-segi persesuaian dengan khalqun (ciptaan) serta erat hubungannya dengan khaliq dan makhluq.[7] Setiap perbuatan dan perilaku manusia (makhluq), baik secara individu maupun interaksi sosial tidak terlepas dari pengawasan khaliq (Tuhan).

Selanjutnya, pengertian secara istilah, menurut Ibnu Miskawih, akhlak yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[8] Sejalan dengan itu, Ibrahim Anis mengatakan: “sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan baik dan buruk tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.[9] Demikian pula, Al-Ghazali menyebutkan bahwa akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dan mudah dilakukan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan lebih lama.[10]

Definisi di atas menggambarkan bahwa akhlak secara substansial adalah sifat hatin (kondisi hati) -bisa baik bisa buruk- yang tercermin dalam perilaku. Jika sifat hatinya baik maka yang muncul adalah akhlak yang baik (al-akhlaq al-karimah) dan jika sifat hatinya busuk maka yang keluar dalam perilakunya adalah akhlak yang buruk (al-akhlaq al-mazmumah).[11]

Kemudian seorang Ulama Akhlak, Ahmad Hamin memberikan definisi tentang akhlak sebagai ilmu yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.[12]

Yusuf Qardawhi mengajukan tujuh karakter etika (moral/akhlak) islam:[13]

  1. Moral yang beralasan (argumentatif) dan dapat dipahami

Moral islam terlepas dari tabiat ritual absolut dogmatis yang dikenal oleh agama Yahudi, dan yang diasumsikan oleh sebagian peneliti tentang moral sebagai konsekuensi langsung bagi bahasa dakwah kepada moral dalam semua agama, namun mereka tidak mengetahui bahwa Islam justru kebalikan dari itu.

  1.  Moral Universal

Moral dalam islam berdasarkan karakter manusiawi yang universal, yaitu larangan bagi suatu ras manusia berlaku juga ras lain, bahkan umat Islam dan umat-umat yang lain adalah sama dihadapan moral Islam yang universal.

  1. Kesesuaian dengan Fitrah

Islam datang membawa apa yang sesuai dengan fitarah dan tabiat serta menyempurnakannya. Islam mengakui eksistensi manusia sebagaimana tyang telah diciptakan Allah dengan segala dorongan kejiwaan, kecenderungan fitrah serta segala yang telah digariskan-Nya.

  1. Memperhatikan Realita

Di antara karakteristik moral Islam merupakan akhlak realistik, tidak mengeluarkan perintah dan larangannya kepada orang-orang yang hidup di “menara gading” atau orang-orang terbang melayang di awing-awang idealisme, melainkan memerintah kepada manusia yang memiliki

  1. Moral Positif

Islam tidak merelakan orang yang telah berhias dengan moral Islam untuk berjalan mengikuti trend sosial, berjalan mengiktuti arus, atau bersikap lemah dan menyerah menghadapi peristiwa yang mengendalikan hidupnya.

  1. Komprehensifitas

Jika sebagian orang menyangka bahwa moral dalam agama berkisar pada pelaksanaan-pelaksanaan ibadah ritual, seremonial, dan sebagainya, maka hal ini tidak tepat untuk diprediksikan kepada etika/moral dalam Islam, karena etika Islam tidak membiarkan kegiatan manusia hanya dalam ibadah saja.

  1. Tawazun (keseimbangan)

Di antara karakteristik moral Islam adalah tawazun yang menggabungkan suatu dengan penuh keserasian dan keharmonisan tanpa sikap berlebihan maupun pengurangan.

Bagi Nabi Muhammad Saw., Al-Qur’an sebagai cerminan dalam berakhlak. Sehingga orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, maka sejatinya orang tersebut sudah termasuk meneladani akhlak Rasulullah. Hal ini didasarkan karana sumber akhlak adalah Al-Qur’an.

Adapun indikator akhak yang bersumber dari Al-Qur’an yaitu:[14]

  1. Kebaikannya bersifat mutlak (al-khairiyyah al-muthlaq), yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak merupakan kebaikan murni dalam lingkungan, keadan an, waktu, dan tempat apa saja;
  2. Kebaikannya bersifat menyeluruh (as-shalahiyyah al-ammah), yaitu kebaikan yang terkandung di dalamya kebaikan untuk seluruh umat manusia;
  3. Implementasinya bersifat wajib (al-izam al-mustajab), yaitu merupakan hukum tingkah laku yang harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum;
  4. Pengawasan bersifat menyeluruh (al-raqabah al-muhitah), yaitu melibatkan pengawasan Allah Swt. dan manusia lainnya, karena sumbernya dari Allah Swt.

Karakteristik Akhlak

Allah telah berkehendak bahwa akhlak (moral) dalam Islam memiliki karakteristik yang berbeda dan unik (istimewa) dari agama Yahudi, Nasrani ataupun keduanya, yaitu dengan karakteristik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu, kelas sosial, ras, lingkungan, masa, dan segala kondisi.[15]

Akhlak yang Harus  Dimiliki Umat Islam

  1. Sidiq

Dari segi bahasa, sidiq berasal dari kata shadaqa yang memiliki beberapa arti yang satusama lain saling melengkapi. Lawan kata sidiq adalah kadzib (dusta). Rikza Maulan menyatakan di antara arti sidiq adalah: benar, jujur/ dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan.[16] Sehingga Kejujuran adalah sifat yang sangat penting bagi seorang muslim. Kejujuran harus ditanamkan sejak dini ketika anak masih berada dalam lingkungan keluarga.

Sidiq merupakan hakekat kebaikan yang memiliki dimensi yang luas, karena mencakup segenap aspek keislaman. Hal ini tergambar jelas dalam firman Allah swt. Dalam surat Al-Baqarah: 177. Dalam ayat ini digambarkan sidiq yang meliputi keimanan, menginfakkan harta yang dicintai, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesulitan dst. Oleh karena itulah, dalam ayat lain, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersama-sama orang yang sidiq: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (sidiq).” (At-Taubah: 119).

Selanjutnya ada hadis lain berkaitan dengan sidiq, yaitu:

Asma binti Yazid berkata, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami mengatakan tentang sesuatu yang disenanginya, “Aku tidak menyenanginya,” maka apakah kata-kata ini termasuk kebohongan?” Rasulullah saw bersabda sesungguhnya kebohongan dituliskan kebohongan. Sesungguhnya perempuan pembohong ditulis sebagai perempuan pembohong.” (HR. Muslim)

Jadi kebohongan menurut islam tidak diperbolehkan dalam keadaan atau situasi apapun. Karena kebohongan untuk menghindari suatu masalah hanya akan memperpanjang masalah itu sendiri.

Orang yang sidiq memiliki beberapa ciri, diantara ciri-ciri mereka yang Allah gambarkan dalam al-Qur’an adalah:

  1. Teguh dan tegar terhadap apa yang dicita-citakan (diyakininya). Allah swt. mencontohkan dalam Al-Qur’an, orang-orang yang sidiq terhadap apa yang merekajanjikan (bai’atkan) kepada Allah: (Al-Ahzab: 23).
  2. Tidak ragu untuk berjihad dengan harta dan jiwa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (Al-Hujuraat: 15).
  3. Memiliki keimanan kepada Allah, Rasulullah saw., berinfaq, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar (Al-Baqarah: 177).
  4. Memiliki komitmen yang kuat terhadap Islam. Allah mengatakan dalam Al-Qur’an:

“Barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, maka sungguh dia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101)

  1. Amanah

Barnawi & Arifin dalam ruseno arjanggi menyatakan Amanah adalah tangguh, bersih dan sehat, disiplin, sportif, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria dan gigih yang diperoleh melalui olah raga.[17] Sidik yaitu jujur, beriman dan bertakwa, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkoban, dan berjiwa patriotik yang diperoleh melalui olah hati.

Abdullah ibnu Bisr mengatakan, “ibuku menyuruhku memberikan seuntai buah anggur kepada Rasulullah saw, namun aku memakan buah itu. Lantas ibuku bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah Abdullah memberi anda seuntai buah anggur?” Rasulullah menjawab, “Tidak,” Setelah itu, jika Rasulullah saw melihatku beliau mengucapkan, “khianat…khianat.” (HR. Al-Thabrani).

Dalam komentarnya seputar makna hadis ini, Ustadz Muhamad Husein mengatakan, “Dalam hadis tersebut Rasulullah saw tidak mengatakan hal lain kecualli memberikan nasihat dengan bahasa teguran yang halus. Bahkan berkesan gurauan. Pengulangan bahasa khianat sebanyak dua kali dimaksudkan agar si anak yang mendengar akan selalu mengingat dan memahami nasihat Rasulullah agar ia tidak menghianati amanah.

  1. Fathonah

Fatonah adalah cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi dan reflektif yang diperoleh melalui olah pikir.

  1. Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.

Allah berfirman dalam artinya:

“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin 28]

Strategi Pengembangan  Empat Karakter Rasullulah Dalam Pendidikan Karakter

1.         Sosialisasi: Penyadaran semua pemangku kepentingan akan pentingnya karakter bangsa.  Media cetak dan elektronik perlu berperanserta dalam sosialisasi.

2.         Pendidikan: Formal (satuan pendidikan), nonformal (kegiatan keagamaan,kursus, pramuka dll.),  informal (keluarga, masyarakat, dan tempat kerja), forum pertemuan (kepemudaan).

3.         Pemberdayaan: Memberdayakan semua pemangku kepentingan (orang tua, satuan pendidikan, ormas, dsb.) agar dapat berperan aktif dalam pendidikan karakter.

4.         Pembudayaan: Perilaku berkarakter dibina dan dikuatkan dengan penanaman nilai-nilai kehidupan agar menjadi budaya.

5.         Kerjasama: Membangun kerjasama sinergis antara semua pemangku kepentingan

Prinsip-prinsip Pelaksanaan

1.         Berkelanjutan;

2.         Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri (ekstra kurikuler), dan budaya sekolah;

3.         Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan;

4.         Proses pendidikan melibatkan peserta didik secara aktif dan menyenangkan;

Model Pendekatan:

•           Keteladanan.

•           Kegiatan.

•           Penugasan (Pendampingan).

•           Pembiasaan.

•           Ko-Kreasi (Keterlibatan Aktif Siswa).

Ciri-Cirinya:

•           Melibatkan secara aktif kepala  sekolah, guru, siswa, dan orang tua.

•           Hubungan subyek-subyek.

•           Belajar bersama.

•           Proses yang baik untuk menjamin  hasil yang baik.

 

 

2.2 Implementasi Reformulasi Model Aktualisasi Pendidikan Akhlak

Krisis akhlak juga terjadi pada kaum muslim di Indonesia. Berbagai peningkatan kriminalitas/tindak kejahatan merupakan bukti telah terjadi degradasi akhlak di kalangan muslim Indonesia. Menurut Abuddin Nata akar-akar penyebab krisis akhlak yang terpenting adalah sebagai berikut:[18]

  1. Krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap agama yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam.
  2. Krisis akhlak terjadi karena pemnbinaan moral yang dilakukan oleh orang tua, sekolah, dan masyarakat sudah kurang efektif.
  3. Krisis akhlak terjadi disebabkan karena derasnya arus budaya matrealistik, hedonistik, dan sekularistik.
  4. Krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.

Sejalan dengan sebab-sebab timbulnya krisis akhlak tersebut, maka cara untuk mengatasinya dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pendidikan Akhlak dapat dilakukan dengan menetapkan pelaksanaan pendidikan agama baik di rumah, sekolah maupun masyarakat.
  2. Dengan mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran.
  3. Pendidikan akhlak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, melainkan tangggung jawab guru bidang studi.
  4. Pendidikan akhlak harus didukung oleh kerjasama yang kompak dan usaha sungguh-sungguh dari orang tua (keluarga), sekolah, dan masyarakat.
  5. Pendidikan akhlak harus menggunakan seluruh kesempatan, berbagai sarana termasuk teknologi modern.

Berdasarkan kesimpulan diatas, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan kunci utama yang dapat ditempuh rangka penanaman nilai-nilai akhlak dalam manusia. Melalui pendidikan juga, nilai-nilai akhlak dapat disosialisasikan sekaligus diinternalisasikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sering menjadi panutan dalam berbagai hal termasuk panutan dalam mendidik karakter. Pendidikan karakter di sekolah disesuaikan dengan tingkat usia perkembangan mental peserta didik. Suyanto (2010) maupun Miftahudin (2010) sependapat bahwa pembentukan dan pengembangan karakter sudah terjadi sampai anak berusia remaja. Setelah dewasa, karakter yang dimiliki manusia relatif stabil dan permanen. Oleh sebab itu, model pendidikan karakter pada usia anak-anak, remaja dan dewasa tidak dapat disamakan. Satu model pendidikan karakter yang efektif diterapkan di SD, belum tentu efektif untuk usia remaja dan dewasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis model-model pendidikan karakter yang efektif pada usia anak-anak, remaja dan dewasa yang telah dilaksanakan di SD, SMP dan SMA melalui kajian hasil-hasil penelitian dan program sekolah yang relevan. Kajian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk mengembangkan model pendidikan karakter baru yang layak dilaksanakan untuk khalayak sasaran yang berbeda.

Namun, paradigma yang berkembang saat ini adalah bahwa penanaman nilai-nilai akhlak masih mengandalkan pendidikan formal semata. Sekolah dalam hal ini merupakan institusi formal dimana kepribadian sengaja dibentuk sesuai dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. Sekolah adalah wahana dimana manusia mulai mengenal fakta-fakta sosial yang tidak pernah ditemui dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat sekitar rumah.

Proses pembentukan dimulai dari pengenalan perilaku baik dan buruk dan pembiasaan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Piaget, manusia sejak dilahirkan mengalami tahap perkembangan kognitif dan mental. Perkembangan mental yang terjadi sampai anak memasuki usia remaja adalah sebagai berikut:

a) Perkembangan nilai dan sikap pada anak usia <5 tahun sangat dipengaruhi oleh situasi yang berlaku dalam keluarga. Nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga akan diadopsi oleh peserta didik melalui proses imitasi dan identifikasi.

b) Perkembanagan moral anak usia 6 – 12 tahun sudah mulai beralih pada tingkatan moralitas yang fleksibel, anak sudah mulai memilih kaidah moral menggunakan penalarannya sendiri. Perkembangan moral peserta didk sangat dipengaruhi oleh kematangan intelektual dan interaksi dengan lingkungannya. Dorongan untuk keluar dari lingkungan rumah dan masuk ke dalam kelompok sebaya mulai nampak dan semakin berkembang. Dorongan untuk memasuki permainan fisik yang membutuhkan kekuatan ototpun semakin kuat.

c) Remaja usia 13-15 memiliki rasa ingin tahu yang kuat, senang bertanya, memiliki imajinasi tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi resiko, bebas dalam berpikir, senang akan hal-hal baru, dsb (Direktorat SMP, Depdiknas: 2004)

Pada usia pra sekolah, pendidikan karakter efektif dilakukan oleh keluarga. Oleh sebab itu, penting sekali bagi keluarga baru yang memiliki anak usia di bawah lima tahun untuk memberi lingkungan belajar yang terbaik di rumah. Orang tua harus meluangkan waktunya untuk mendidik anak-anak. Ibu yang bekerja di luar rumah tidak disarankan mempercayakan sepenuhnya pendidikan anak-anak usia dini kepada pembantu di rumah. Anak usia sekolah (6-12 tahun) sudah mulai memasuki lingkungan di luar rumahnya. Anak akan lebih percaya dengan perkataan gurunya daripada orangtuanya sendiri. Pendidikan karakter anak usia sekolah dasar sangat efektif dilakukan di sekolah. Lingkungan sekolah (guru dan siswa) memiliki peran yang kuat dalam membentuk karakter anak.

Remaja masih berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Remaja memiliki kepribadian yang masih labil dan sedang mencari jati diri untuk membentuk karakter permanen. Pendidikan pada usia remaja menjadi momen yang penting dan menentukan karakter seseorang setelah dewasa. Lingkungan pergaulan di sekolah maupun di rumah mempunyai peluang yang sama kuatnya dalam pengembangan karakter. Oleh sebab itu, perlu ada kerjasama dan komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga dalam mengembangkan karakter anak remaja.

Tugas-tugas pendidik pada usia remaja lebih kompleks daripada tugas-tugas pada usia anak-anak. Sesuai dengan karakteristik mental usia remaja yang sedang dalam tahap pencarian jati diri, tugas pendidik adalah menciptakan lingkungan yang sebaik-baiknya dengan memberikan banyak aktivitas positif supaya remaja tidak terjerumus pada kegiatan negatif yang merugikan masa depannya. Pendidikan karakter pada remaja dilakukan untuk pengendalian diri supaya remaja tidak terjerumus ke dalam karakter negatif. Supaya karakter positif dapat diinternalisasi menjadi karakter yang permanen, sekolah bertugas menyediakan banyak pilihan yang mendukung berkembangnya karakter positif tersebut dan menekan peluang munculnya karakter negatif. Model pendidikan karakter pada usia remaja dilakukan untuk menanamkan kedisiplinan, kejujuran, rasa hormat menghormati dan saling tolong menolong dalam semua kegiatan.

Karakter pada orang dewasa seperti mahasiswa memang sudah memfosil atau sulit diubah melalui strategi pembelajaran biasa. Namun demikian, dosen tetap memiliki kewajiban untuk mengingatkan, menyuruh dan menyarankan mahasiswa supaya tidak melakukan tindakan negatif. Pemantapan karakter sebagian juga menjadi tanggung jawab dosen Penasehat Akademik

No.

Strategi  pendidikan karakter menurut usia

Karakter

Anak-anak

Remaja

Dewasa

1 Trustworthiness Melatih anak untuk menyampaikan pesan atau titipan. Memberi tugas memimpin kelompok Mendelegasikan untuk mengikuti kompetisi/lomba
2 Respect Mengucap salam, mencium tangan setiap ketemu teman atau saudara Bersikap sopan terutama kepada orang yang lebih tua Mematuhi kode etik pergaulan,
3 Responsibility Memberesi alat bekas mainannya sendiri Memberi tugas piket kelas/ pekerjaan rumah Memberi tugas dengan batas waktu tertentu
4 Fairness Membagi makanan dengan jumlah yang sama kepada saudara/teman Membagi tugas kelompok sesuai dengan kemampuan Membagi tugas kelompok sesuai dengan kemampuan
5 Caring Membolehkan alat permainannya dipinjam teman Membantu panti asuhan, menolong teman Menjadi relawan, korps sukarela
6 Citizen-ship Tidak berebut, mengalah, sabar menunggu giliran, Mengikuti upacara bendera atau pramuka Mentaati peraturan, disiplin,
7 Honesty Tidak boleh mengambil barang milik orang lain Mengembalikan barang yang dipinjam/ditemukan Tidak nyontek, menyalin pekerjaan teman
8 Courage Mencoba berbagai alat permainan yang menantang, Mencoba berbagai olah raga/kegiatan yang menantang Memimpin diskusi, memberi tugas yang menan tang
9 Diligen-ce Bermain, menari, membaca cerita bergambar dengan jadwal yang rutin, Memperbanyak aktivitas positif, kegiatan ekstrakurikuler Memberi banyak kegiatan positif, penyaluran bakat
10 Integrity Menceritakan kembali apa yang telah dialami Menjaga integritas diri sendiri Menjaga integritas diri

 

 

 

 

 

 

Spritual dan IQ

IQ

Kinestik/EQ

Kinestik/EQ

jujur, religius, adil, ikhlas, berpikr positif

Tabligh, menyampaikan

Amanah, mandiri, tangguh, percaya diri, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, pantang menyerah

cerdas, kreatif, mengendalikan diri, rendah hati, hemat

NILAI-NILAI YANG DIKEMBANGKAN

Perilaku Berkarakter

20

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

1. Model-model pendidikan karakter telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Hasil analisis meta menunjukkan bahwa model pendidikan karakter disesuaikan dengan jenjang usia yaitu pada usia anak-anak bertujuan untuk pembentukan, pada usia remaja bertujuan untuk pengembangan sedangkan pada usia dewasa bertujuan untuk pemantapan. Sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi maka model pendidikan karakter pada usia anak-anak, remaja dan dewasa adalah sebagai berikut:

a. Model pendidikan pada anak-anak bertujuan untuk membentuk karakter. Anak-anak masih dalam masa bermain, oleh sebab itu model pendidikan karakter yang efektif disampaikan melalui kegiatan bermain peran, bercerita, kantin kejujuran dan lainnya.

b. Model pendidikan karakter pada remaja bertujuan untuk mengembangkan karakter kepribadian. Pendidikan karakter dilakukan dengan tindak tutur direktif (nasehat, perintah, anjuran, dsb). Model pendidikan karakter pada remaja diintegrasikan dalam berbagai kegiatan pembelajaran, peraturan sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler atau media poster yang ditempel di dinding-dinding sekolah

c. Model pendidikan karakter pada orang dewasa bertujuan untuk pemantapan karakter yang sudah terbentuk. Model pendidikan karakter dilakukan melalui pengajian, seminar, penulisan karya ilmiah dan evaluasi diri.

2. Akhlak (moral) dalam Islam memiliki karakteristik yang berbeda dan unik (istimewa) dari agama Yahudi, Nasrani ataupun keduanya, yaitu dengan karakteristik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu, kelas sosial, ras, lingkungan, masa, dan segala kondisi. Namun, dalam implementasi akhlak, masih dirasakan sangat kurang. Oleh sebab itu, perlu adanya reformulasi implementasi reformulasi model aktualisasi pendidikan akhlak yang mengakomodir empat sifat utama rasullulah, yaitu: Sidiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Ghazali, Imam.  ihya ‘Ulum al-Din Jilid III. (Beirut: Dar al-Fikr).

Anis, Ibrahim. 1972. Al-Mu’jam al-Wasith. (Mesir: Dar Al-Ma’arif).

Arjanggi, Ruseno. Makalah. Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Pembelajaran di Perguruan Tinggi.

Image.lindafitriani.mutiply.multiplycontent.com.

Magnis Suseno, Franz. 1987. Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. (Yogyakarta : Kanasils).

Makbuloh, Deden. 2011. Pendidikan Agama Islam (Arah Baru Pengembangan Ilmu dan kepribadian di Perguruan Tinggi). Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Marzuki. Makalah. Pendidikan Al-Quran dan Dasar-Dasar Pendidikan Karakter dalam Islam.

Miskawih, Ibnu. Tahzib al-Akhlak wa Tathhit al-A’raq. Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyyah.

Nata, Abuddin.  2003. Manajemen Pendidikan Mengatasi Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta: Prenada Media.

Shindhunata. 2000. Menggagas Pendidikan Baru Pendidikan Demokratisasi, Otonomi, Civil Society Globalisasi. (Yogyakarta : Tiara Wacana).

Tim Dosen PAI, Buku Daras Pendidikan Agama Islam, (Malang: Pusat Pembinaan Agama UB, 2005)

www.anshir.com/2012/05/102159/46553/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-muslim terbesar-di-dunia diakses pada tanggal 4 Oktober 2012 pukul 05:11 WIB

 



[2] Ibid

[3] Dr. Marzuki, M.Ag. Pendidikan Al-Quran dan Dasar-Dasar Pendidikan Karakter dalam Islam. Makalah disampaikan dalam acara Seminar dalam rangka Silaturrahim Wilayah Pendidikan Al-Quran Metode Qiroati dengan tema “Penanaman dan Pengembangan Karakter Mulia pada Anakanak Melalui Pendidikan Al-Quran, Jum’at 9 Maret 2012 di PPPPTK Seni dan Budaya Jl. Kaliurang Km 12,5 Ngaglik Sleman Yogyakarta

[4] Shindhunata, Menggagas Pendidikan Baru Pendidikan Demokratisasi, Otonomi, Civil Society Globalisasi, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 2000), hlm. 106 – 107

[5] Suhar, Ibnu Maskawaih (Pendidikan Akhlak), hlm. 1

[6] Franz Magnis Suseno, Etika Dasar : Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, (Yogyakarta : Kanasils, 1987), hlm. 15

[7] Tim Dosen PAI, Buku Daras Pendidikan Agama Islam, (Malang: Pusat Pembinaan Agama UB, 2005) hlm. 127.

[8] Ibnu Miskawih, Tahzib al-Akhlak wa Tathhit al-A’raq, (Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyyah), hlm. 40.

[9] Ibrahim Anis, Al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir: Dar Al-Ma’arif, 1972), hlm. 202.

[10] Imam Al-Ghazali, ihya ‘Ulum al-Din, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t), hlm 56.

[11] Opcit., Tim Dosen PAI, hlm. 128.

[12] Ibid

[13] Ibid., hlm. 128-131

[14] Deden Makbuloh, Pendidikan Agama Islam (Arah Baru Pengembangan Ilmu dan kepribadian di Perguruan Tinggi) (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), hlm. 141.

[15] Tim Dosen PAI, Buku Daras Pendidikan Agama Islam, (Malang: Pusat Pembinaan Agama UB, 2005), hlm. 115

[16] Image.lindafitriani.mutiply.multiplycontent.com

[17] Ruseno Arjanggi, Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Pembelajaran di Perguruan Tinggi.

[18] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2003) Hlm. 222

Your Reply

*