Ranu Kumbolo surga yang (tak lagi) dirindukan.

Ada yang bilang, “Ranukumbolo adalah bagian dari surga yang terjatuh ke bumi. Indah alamnya, sebagaimana terbitnya sang mentari yang datang menyapa dari balik bukit. Kehangatannya, seperti burung belibis yang menari-nari dengan bebasnya disana. Memberikanmu cerita, dalam ketenangannya.”

Itu cerita dulu, kini telah sangat berbeda.

Semeru kini, adalah gambaran kecil dari betapa rusaknya keseimbangan ekosistem. Banyak hewan yang lebih memilih terasing, ketimbang kembali ke tempat yang pernah mereka tinggali. Tapi bukankah itu tak masalah, toh inilah resiko perkembangan dan salah sifat hakiki dasar manusia sejak dulu kala. Perampasan. Dan lagi, bukankah ini seiring sejalan dengan kemauan dari pihak taman nasional, untuk mengkomersilkan jalur pendakian gunung Semeru.

Kemarin, ketika saya sedang berkunjung ke Semeru sekitar mei 2016 tahun lalu, ada hal yang mengejutkan saya di Ranukumbolo. Banyaknya pelanggaran dan yang lebih mengejutkan lagi adalah “kesucian” Ranukumbolo yang tak lagi terjaga.

Ranukumbolo memang tidak lagi suci, teman seperjalanan saya pun sangat sangat enggan untuk meminum air dari sana,¬†“air rakum tuh udah kotor bro, aku mah mending bawa air dari bawah (dari pos pendaftaran), bawa banyak-banyak, ketimbang minum air dari sini,”¬†ujar salah seorang sobat dengan pedas.

Saya pun mengamini.

Ini adalah kunjungan saya yang kesekian kali dan memang semakin jorok saja keadaannya. Ranukumbolo adalah air diam. Apa yang kalian lakukan terhadapnya, mencuci, mengambil air, memasukkan kaki, mandi, buang air, sedikitnya akan berefek pada kata “Layak” atau “Tidak” air Rakum digunakan untuk keperluan komsumsi.

Ibaratkan saja begini, ada sebuah bak mandi besar berisikan air, kalian melakukan aktivitas mandi, mencuci, dan buang air disana. Lalu kalian gunakan air itu untuk keperluan masak + minum. .Apa air itu masih layak untuk kalian minum?

Dan apa yang terjadi di Ranukumbolo sudah terjadi selama bertahun-tahun. Dan masih, semua orang, yang ada dan terlibat dalam industri dunia outdoor tanah air, kini masih terjebak euphoria pendakian.

Pengurus, Pengusaha, Pendaki. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Belajarlah selalu, meski itu belajar dari kata salah. Lalu jangan lupa tularkan energi positif kepada orang lain. . Alam tidak pernah meminta kita untuk jadi teman yang sempurna. Alam hanya meminta kita untuk menjaganya, sekalipun salah, alam akan selalu datang, untuk memaafkan. Salam lestari.