Analisis Studi Kasus Perubahan Sosial pada Kehidupan Suku Bajo

November 26th, 2019

Perubahan kelembagaan dapat dianggap sebagai proses terus menerus yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas interkasi ekonomi antar pelakunya. Di mana dalam hal ini perubahan kelembagaan dapat menjadi faktor faktor pengaruh utama terhadap perubahan struktur dalam system sosial tertentu. Pada perubahan kelembagaa yang terjadi di masyarakat berarti terjadinya perubahan di dalam prinsip regulasi dan organisasi, perilaku dan pola – pola interaksi.

Perubahan kelembagaan memiliki kekuatan yang aktif dalam mempengaruhi aspek – aspek kehidupan sosial, hokum, ekonomi, politik dan lain lain. Jika norma yang mengatur interkasi sosial berubah, maka seluruh pola hubungan sosial dan jaringan sosial yang sudah dikembangkan oleh anggota masyarakat dapat brubah. Perubahan yang berlangsung dari adanya rintangan – rintangan informal dapat memberikan implikasi yang sama seperti perubahan dalam peraturan formal masyarakat.

Perubahaan kelembagaan bias muncul dari tuntunan pemilih (demands of constituent) atau perubahan kekuasaan pemasok kelembagaan (suppliers of institutions) yaitu aktor pemerintah di mana dalam hal ini perubahan kelembagan dari sisi bawah (demand) merupakan hasil dari pertarungan antar pelakunya sedangkan perubahan kelembagaan dari sisi atas (supply) merupakan hasil regulasi dari pihak – pihak yang memiliki otoritas (misalnya pemerintah).

Modal sosial sebagai “agregat sumber daya actual”ataupun potensial yang diikat untuk mewujudkan jaringan yang awet sehinga menginstitusionalkan hubungan persahabatan yang saling menguntungkan. Maka, dalam hal ini jaringan sosial tidaklah alami (natural given) melainkan dikontruksi melalui strategi investasi yang berorientasi kepada pelembagaan hubungan – hubungan kelompok yang bias dipakai sebagai sumber terpercaya untuk meraih keuntungan.

Pada Kepualauan Waktobi, Sulawesi Tenggara yang dihuni oleh Suku Bajo merupakan daerh yang pendudukya masih melakukan pola budaya maritime dalam kehidupannya. Yang dimaksud dengan budaya maritime adalah masyarakat Suku Bajo menggantungkan kehidupannya dari menjadi nelayan dan berlayar di perairan  . Suku Bajo sendiri biasa disebut dengan pengembara laut bebas. Suku Bajo banyak ditemukan di laut bebas  Malaysia, Filipina, dan Australia. Berdasarkan data sensus penduduk pada tahun 2000, estimasi total populasi Suku Bajo di Asia Tenggara adalah sekitar 1,077,020 jiwa, di mana 570,857 jiwa tersebar di wilayah Filipina, 347,193 jiwa tersebar di Malaysia, dan 158,970 tersebar di wilayah Indonesia.

Dari beberap sejarah dikatakan bahwa Suku Bajo merupakan salah satu suku yang sulit untuk menyatu dengan masyarakat daratan. Dikatan bahwa masyarakt Bajo hamper tidak pernah untuk singgah dan berinterkasi dengan masyarakat yag berada di daratan hal  ini dikarenakan masyarakat Suku Bajo banyak melakukan aktifitas yang berlangsung di atas laut. Perahu yang digunakan oleh Suku Bajo dianggap sebagai rumah dan merupakan kebutuhan yang sangat berharga. Di perahu yang digunakan mereka melakukan aktivitas sehari – hari.

Zaman mulai berubah banyak masyarakat Suku Bajo yang mulai membangun rumah permanen di sepanjang pantai di mana masyakarat Suku Bajo yang telah menetap di rumah permanen tinggal di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Hal ini maka membawa perubahan kelembagaan yatu perubahan sosial dan perilaku masyarakat Suku Bajo. Hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakat Suku Bajo mengalami perubahan dari menggantungkan kehidupannya dengan perahu – perhau untuk tempat tinggal berubah menjadi rumah – rumah permanen yang ada di tepian. Saat ini salah satu populasi terbesar suku Bajo yang telah menetap di Indonesia terletak di Kepulauan Wakatobi, dengan populasi penduduk diatas 10.000 jiwa. Kepulauan Wakatobi sendiri merupakan akronim dari nama 4 (empat) pulau utamanya, yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. orang Bajo yang ada di Wakatobi berasal dari Bugis, daerah Bone, Sulawesi selatan

Dalam hal ini meskipu sudah terjadi perubahan dalam perilaku dan pola kehidupan dari masing masing masyarakat Suku Bajo maka dapat dikatakan bahwa Suku Bajo masih mengeola sumber daya kelautan di mana hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bajo yaitu masyarakat Bajo menangkap ikan dengan memenaving dan hanya mengonsumsi ikan yang sudah besar atau siap di konsumsi. Ketika mendapatkan ikan yang kecil maka akan dilepaskan ke lautan.

Dalam hal ini adaya perubahan perilaku organisasi dari masyarakt yang didorong modal sosial yaitu kepercayaan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan perlkau yang dilakuka di mana masyarakat Suku Bajo melakukan perubahan perilaku organisasi dengan melkukan interkasi dengan masyarakat daratan hal ini didorong dengan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Bajo untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik ketika harus menetap dan membangun rumah rumah permanen di pesisir pantai.

Maka, dalam hal ini modal sosial mendorong dari perubahan kelembagaan, maka dapat dikatakan bahwa perubahan kelembagaan yang dimaksud adalah perubahann perlaku, interkasi yang terjadi di mana dalam hal ini ditunjukkan dengan masyarakt Suku Bajo yang awalnya merupakan Suku yang tidak pernah ke daratan dan  berinteraksi dengan masyarakat menjadi berubah dengan membangun rumah – rumah permanen di pesisir pantai dan dapat berinterkasi dengan masyarakat yang ada di daratan.

Hal ini dapat terjadi karena adanya dorongan dari modal sosial yaitu kepercayaan dan jaringan informasi. Hal ini dikarenakan masyarakat Suku Bajo tekah memili rasa kepercayaan terhadap struktur soisial dan lingkungan sosial yang ada di daratan, mereka percaya bahwa tidak harus menggantungkan hidup dan beraktivitas sehari sehari di atas perahu. Akan tetapi di pesisir pantai masyarat Suku Bajo juga dapat melakukan aktivitas seperti memancing ataupun hal lainnya. Selain itu, masyarakat juga lebih dapat berinterkasi dengan masyarakat di daerah daratan di mana dalam hal ini masyarakt Suku Bajo dapat mengetahui aktivitas yang tidak diketahui sebelumnya ataupun kebiasaan yang dilakukan.

Selain itu, modal sosial yang mndorong perubahan pada masyarakat Suku Bajo adalah jaingan informasi. hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakt Suku Bajo meksipun hanya beberapa saja bertemu dengan masyarakat daratan maka dalam hal ini masyarakat Suku Bajo sudah mendapatkan sedikit informasi yang terjadi di daratan. Hal ini akan menambah wawasan pada masyarakat Suku Bajo yang akan membuat masyarakat Suku Bajo menjadi lebih terpkir untuk melakukan perubahan dalam kehiduoannya.

Dalam hal ini sebetulnya, untuk melakukan perubahan kelembagana yaitu perubahan perilaku, organisasi dan interkasi di masyarakat Suku Bajo dapat dikatakan sebagai hal yang sulit dalam hal ini masyarakat harus meninggkalkan aktivitas yang telah dilakukan sejak lama dan turun menurun menjadi berubah drai biasanya. Akan tetapi, yang tidak dilakukan perubahan adalah norma dari masyarakat Suku Bajo hal ini terlihat dari sifat dan aktivitas yang dilakukan dan slelau taat dalam menjaga norma salah satunya adalah memancing dan mengonsumsi ikan yang sudah besar, dalam hal ini ketika ada ikan kecil masyarakat Suku Bajo tidak mau memakannya dan langsung mengembalikannya ke lautan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa adanya aktivitas perubahan kelembagaan di dalam masyarakat berarri terjadinya perubahan organisasi, perilaku, interkasi. Dalam studi kasus di atas maka dikatakan bahwa perubahan kelembagaan terjadi dengan adanya dorongan dari modal sosial. Dalam hal ini modal sosial yang dimaksud pada studi kausus di atas adalah kepercayaan dan jaringan informasi.

 

Sumber :

  • Buku Prof Dr. Ahmad Erani Yustika (2012)
  • (Ellen,dkk.Perubahan Sosial PAda Kehidupan Suku Bajo ,2004)